ALAT PEMERAHAN SUSU (MILKING MACHINE)

dokumen-dokumen yang mirip
DEPARTEMEN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

ANALISIS RANCANGAN A. KRITERIA RANCANGAN B. RANCANGAN FUNGSIONAL

BAB XII PEMERAHAN TERNAK RIMINANSIA

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

Alat Pemerahan Peralatan dalam pemerahan maupun alat penampungan susu harus terbuat dari bahan yang anti karat, tahan lama, dan mudah dibersihkan. Bah

SKRIPSI RANCANG BANGUN DAN UJI PERFORMANSI ALAT PEMERAH SUSU SAPI SEMI OTOMATIS. Oleh : REZA NUGRAHA F

II. TINJAUAN PUSTAKA

METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 2012). Sapi berasal dari famili Bovida, seperti halnya bison, banteng, kerbau

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Perkandangan merupakan segala aspek fisik yang berkaitan dengan

BAB III PERALATAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Produksi Susu

Mesin uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah sepeda motor 4-

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tahun 2011 sebanyak ekor yang tersebar di 35 Kabupaten/Kota.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN TUGAS AKHIR BAB II DASAR TEORI

HASIL DAN PEMBAHASAN

PERBANDINGAN KASUS MASTITIS PADA SAPI PERAH FRIESIAN HOLSTEIN YANG DIPERAH SECARA MANUAL DAN DIPERAH MENGGUNAKAN MESIN PERAH

BAB I PENDAHULUAN. dan mineral yang tinggi dan sangat penting bagi manusia, baik dalam bentuk segar

PEMBENTUKAN MODEL UNIT PELAYANAN JASA ALAT DAN MESIN SAPI PERAH

SKRIPSI RANCANG BANGUN ALAT PEMERAH SUSU SAPI SEMI OTOMATIS TIPE ENGKOL. Oleh: BUDI SETIAWAN F

BAB II LANDASAN TEORI

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. ANALISIS DAN SINTESIS

MENGENAL DAN MERAWAT MESIN PENYEMPROT

BAB IV PENGONTROLAN DAN PENGOPRASIAN AC CENTRAL

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Peternakan Sapi Perah di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. dan telah lama dimanfaatkan sebagai sumber protein yang cukup penting bagi

BAB I. PENDAHULUAN. [Januari, 2010] Jumlah Penduduk Indonesia 2009.

JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012, Halaman Online di

TEKNOLOGI PEMANFAATAN KOTORAN TERNAK MENJADI BIOGAS SKALA RUMAH TANGGA (Oleh: ERVAN TYAS WIDYANTO, SST.)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGARUH PENGGUNAAN RADIATOR PADA SISTEM PENDINGIN MOTOR DIESEL STASIONER SATU SILINDER TERHADAP LAJU KENAIKAN SUHU AIR PENDINGIN

3 KARAKTERISTIK LOKASI DAN PERALATAN YANG DIGUNAKAN UNTUK PENELITIAN

ALAT PENDETEKSI TINGGI PERMUKAAN AIR SECARA OTOMATIS PADA BAK PENAMPUNGAN AIR MENGUNAKAN SENSOR ULTRASONIK BERBASIS MIKROKONTROLER

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Sapi Friesian Holstein (FH) Produktivitas Sapi Perah

1) Pencarian dan sewa lahan yang digunakan untuk tempat penggemukan sapi. BAB V RENCANA AKSI. 5.1 Kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. para peternak saat ini. Hal tersebut disebabkan permintaan bahan pangan berupa

TINJAUAN PUSTAKA. Lemak (%)

TERNAK KAMBING 1. PENDAHULUAN 2. BIBIT

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Laju permintaan daging sapi di Indonesia terus meningkat seiring

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Usaha Peternakan Sapi Perah

Wawancara dengan Informan Kunci. 2. Bagaimana sejarah berdirinya perusahaan ini? percontohan pertanian terpadu

ALAT DAN MESIN PANEN PADI

II TINJAUAN PUSTAKA. Juni 2010] 6 Masalah Gizi, Pengetahuan Masyarakat Semakin Memprihatinkan. [10

Nama : Bekerja di bagian : Bagian di tim tanggap darurat :

PENDAHULUAN. produksi yang dihasilkan oleh peternak rakyat rendah. Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012), produksi susu dalam negeri hanya

TINJAUAN PUSTAKA. manusia sebagai sumber penghasil daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan manusia

I. PENDAHULUAN. Perkembangan zaman dengan kemajuan teknologi membawa pengaruh pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. daging yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Jenis

BAB III CARA KERJA MESIN PERAKIT RADIATOR

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang dan Tujuan Permasalahan. Pada dasarnya, alat transportasi di Indonesia terbagi dua, yaitu alat

PERTUMBUHAN PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO DAN KECIL TRIWULAN II TAHUN 2017

JARINGAN IRIGASI DAN BANGUNAN AIR

SKRIPSI RANCANG BANGUN ALAT PEMERAH SUSU SAPI SEMI OTOMATIS TIPE ENGKOL. Oleh: BUDI SETIAWAN F

PEMERAHAN SUSU SECARA HIGIENIS MENGGUNAKAN ALAT PERAH SEDERHANA

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

MENYUSUI SAAT IBU BEKERJA. Dinas Kesehatan Provinsi Bali

BAB I PENDAHULUAN. Kendaraan adalah alat trasportasi yang di ciptakan oleh manusia untuk

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS. Sebelum melakukan pengujian pada sistem Bottle Filler secara keseluruhan, dilakukan beberapa tahapan antara lain :

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2010 sampai dengan

KAJIAN KEPUSTAKAAN. menghasilkan susu. Terdapat beberapa bangsa sapi perah yaitu Ayrshire,

HASIL DAN PEMBAHASAN

Elektro Hidrolik Aplikasi sitem hidraulik sangat luas diberbagai bidang indutri saat ini. Kemampuannya untuk menghasilkan gaya yang besar, keakuratan

Gambar 2. Induk Babi Bunting yang Segera Akan Beranak

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

KRITERIA PERENCANAAN BENDUNG KARET

BAB I PENDAHULUAN. yang strategis karena selain hasil daging dan bantuan tenaganya, ternyata ada

BAB I PENDAHULUAN. Ambing merupakan alat penghasil susu pada sapi yang dilengkapi suatu

III. METODOLOGI. Penelitian ini dimulai pada bulan Juni-Agustus 2014 dengan lokasi penelitian

MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTEK ANALISA PENGHEMATAN POMPA AIR DIHOTEL SANTIKA SEMARANG. Jalan Prof. Sudharto S.H Tembalang, Semarang

TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Friesian Holstein (FH)

BOILER FEED PUMP. b. Pompa air pengisi yang menggunakan turbin yaitu : - Tenaga turbin :

BAB IV PROSES PENGUJIAN

MODUL 1.04 FILTRASI LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA JURUSAN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA CILEGON BANTEN

Lampiran 1 Kuisioner Peternak Pemasok Susu Segar

PERTUMBUHAN PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR MIKRO DAN KECIL TRIWULAN I TAHUN 2016

PENDAHULUAN. Keberhasilan usaha ternak sapi bergantung pada tiga unsur yaitu bibit, pakan, dan

BAB III PERANCANGAN ALAT

III. METODE PENELITIAN

Gambar Sistem kelistrikan solenoid pengunci tutup tangki bahan bakar Gambar 4.1. Menggerinda bagian dalam pintu... 18

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Susu merupakan salah satu produk peternakan yang berperan dalam

Tabel 4.1. Zona agroklimat di Indonesia menurut Oldeman

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Ternak perah adalah ternak yang dapat memproduksi susu lebih dari yang

MODIFIKASI DAN UJI KINERJA APLIKATOR PUPUK CAIR PADA PROSES BUDIDAYA TEMBAKAU (Nicotiana tabacum L.)

Gambar 3.1 Diagram alir metodologi pengujian

BAB I PENDAHULUAN. industri, transportasi, perkapalan, maupun bidang keteknikan lainnya. Namun

PENDAHULUAN. Sapi perah merupakan sumber penghasil susu terbanyak dibandingkan

MENGELOLA KOMPOSISI AIR SUSU

Transkripsi:

MAKALAH TENTANG ALAT PEMERAHAN SUSU (MILKING MACHINE) Oleh Sohibul Himam (0710510087) FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2008 1

BAB I PENDAHULUAN Dengan Mesin Perah Harga Susu Jadi Tinggi. Itulah suatu judul artikel yang ada di www.agrina-online.com. Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa ada seorang peternak yang dulunya menggunakan cara tradisional dalam memerah susu ternaknya dan sekarang menggunakan mesin pemerah susu memperoleh hasil kualitas susu yang baik. Yaitu total jumlah kuman turun 75%. Total solid menjadi 12,3%, dan produktivitas meningkat 20%. Itulah hasil yang didapat Hj. Fina Rosdiana, peternak di Goalpara, Sukabumi, Jabar. Sejak 2006, Fina mengubah cara memerah tradisional dengan memanfaatkan mesin. Meskipun terbilang lumayan mahal, tapi harga jual susunya melonjak Rp200 per liter dan masuk kategori sangat baik. Hasil perahannya pun juga lebih higienis, bersih, dan tentunya cepat. Kandungan bakterinya (total plate count/tpc) pun kini hanya dalam kisaran 250 ribu/cc, jauh dari ambang batas yang diperbolehkan SNI, yaitu di bawah 1 juta. Daripada sebelumnya yang nilai TPC-nya sempat menembus angka 3 juta. Padahal TPC mempengaruhi harga jual susu. Harga mesin ini memang mahal, tetapi mesin perah merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatnya kualitas susu. Jika pemerahan dilakukan secara manual, kebersihan tangan si pemerah turut berperan pada kesterilan susu. Belum lagi mood pemerah juga mempengaruhi waktu dan produktivitas. Sekarang, sapinya sudah menghasilkan rata-rata 12 liter susu segar per ekor, atau meningkat 20% dibandingkan sebelum menggunakan mesin bertipe Work True. Mesin tipe ini mampu memerah 6 ekor secara bersamaan kurang dari 10 menit. Selain itu, karena mesin bekerja secara konstan, total solid (TS) susu terjaga di kisaran 12 13%. Mesin pemerah susu adalah suatu mesin semi otomatis untuk memerah susu pada sapi. Mesin ini tidak dibuat hanya untuk satu ekor sapi, tapi kebanyakan satu rangkaian komponen alat itu dibuat untuk memerah 200 ekor sapi per jam. Sistem dari rangkaian alat tersebut adalah terdiri dari pompa vacum, regulator (ala t pengukur), dan pulsator. Bersama-sama sistem tersebut bekerja untuk 2

mengalirkan susu ke dalam suatu saluran untuk yang selanjutnya akan diolah menjadi banyak produk. Di pasaran beragam tipe mesin pemerah beredar, mulai kategori murah sampai mewah. Menurut Fina peternak yang telah menggunakan mesin pemerah dalam artikel tersebut menyebutkan bahwa tipe mesin pemerah yang cacaok bagi peternakan di Indonesia adalah tipe portable. Karena, peternakan di Indonesia masih tergolong peternakan rakyat. Selain simpel dan bisa dibawa, harganya pun berkisar Rp 17 juta Rp25 juta. Sekarang di Sukabumi sudah ada lima peternak yang menggunakan mesin perah. 3

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Sejarah Pada tahun 1820 pertama kali ditemukan peralatan yang sangat sederhana untuk mengeluarkan susu dari ambing. Alat tersebut tampak seperti pada gambar berikut ini (Gambar. 1) Gambar 1. Peralatan Sederhana Untuk Mengeluarkan Susu Dari Ambing. Selanjutnya mesin perah yang pertama diciptakan dan dikeluarkan pada tahun 1850 oleh seorang petani dari Amerika yang bemama Anna Baldwin. Alat tersebut berbentuk sebuah pompa yang dihubungkan dengan pipa yang berujung pada sebuah mangkok yang berlubang empat untuk menyedot susu dari keempat puting. Di ujung lain digantungkan sebuah ember guna menampung susu hasil pemerahan. (Gambar. 2) Gambar 2. Mesin perah tangan buatan Anna Baldwin 4

Seiring dengan perkembangan teknologi mesin perah pertama ini terus dikembangkan sehingga akhirnya tercipta mesin perah modern seperti yang dijumpai sekarang. 2.2. Mesin Perah Modern Metode pemerahan dengan mesin perah modem dewasa ini menggunakan cara mekanisasi, artinya pemerahan memakai mesin sebagai pengganti tangan. Dalam peternakan sapi perah, mesin perah dibedakan menjadi 3 yaitu sistem ember (Bucket system), sistem pipa (Pipe line system) dan Sistem Bangsal Pemerahan (Milking parlor system). 2.2.1. Sistem ember (Bucket system) Sistem ember adalah salah satu sistem pemerahan yang menggunakan mesin sebagai pengganti tangan yang dapat dipindah-pindah dari tempat satu ke tempat lain. Sitem ini cocok digunakan untuk petemak kecil. Susu hasil perahan dari sistem ini ditampung di ember yang terdapat di setiap mesin. Setelah itu, susu hasil perahan setiap ekor sapi ditakar terlebih dahulu, kemudian dituang di tangki pendingin. Pemerahan dengan sisitem ini dapat diterapkan di Indonesia pada peternak sapi perah yang jumlah sapi induk kurang dari 10 ekor atau pada peternak sapi perah rakyat yang kandangnya berkelompok. Pemerahan dengan sistem ember ini perlu dirintis di Indonesia dengan harapan dapat menekan kandungan kuman dalam susu. Mesin perah sistem ember ini bagian-bagianya terdiri dari: 1) sebuah motor pembangkit vakum, 2) pipa vakum, 3) selang karet vakum, 4) pulsator, 5) ember penampung susu, 6) pengatur pulsasi, 7) tabung perah (teat cup) yang terbuat dari logam tahan karat dan karet inflasi di dalam tabung perah, 8) selang susu 5

(Gambar. 3) Gambar 3. Mesin Perah Sistem Ember (Bucket system) Mesin perah sistem ember ini bekerja atas dasar perbedaan tekanan udara yang dibangkitkan oleh motor pembangkit vakum atau pompa vakum. Perbedaan tekanan udara ini menyebabkan karet inflasi di dalam tabung perah kembang kempis memijat puting. Pada waktu udara masuk ke dalam tabung perah, yaitu diantara tabung perah dan karet inflasi, karet inflasi mengempis. Peristiwa ini disebut fase istirahal. Selanjutnya udara di dalam tabung menjadi hampa udara. Oleh karena itu di dalam tabung dan karet inflasi kompa (tidak ada tekanan) sedangkan di dalam ambing bertekanan, maka susu terdorong keluar/tersedot. Peristiwa ini disebut fase perah. Demikian seterusnya, fase perah dan fase istirahat datang silih berganti. Supaya fase perah dan fase instirahat dapat berlangsung secara bergantian, maka mesin perah dilengkapi dengan pulsator yang berfungsi mengatur tekanan udara antara keadaan bertekanan dan hampa udara. Dengan kala lain, pulsator mengatur fase istirahat dan fase perah. Bila klep atau tombol vakum ditutup maka udara dari luar masuk dan berhentilah kegiatan pemerahan dan karet inflasi kembali berbentuk semula. Kedudukan karet inflasi dalam fase perah dan fase istirahat dapat dilihat pada gambar berikut ini (Gambar. 4) dan Cara pemasangan tabung perah (teat cups) pada puting (Gambar. 5) 6

Keterangan: V = vakum U = udara. Gambar 4. Penampang Tabung Perah. Gambar 5. Urut-urutan Cara Memasang Tabung Perah (Teat Cups) pada Puting. Proses mekanik pemerahan ini adalah: perah-istirahat-perah-istirahat-perah dan seterusnya yang terus berlangsung hingga ambing kosong. Lamanya waktu fase perah dan fase istirahat tergantung dari apa yang disebut rasio pulsasi. Rasio pulsasi adalah perbandingan antara fase perah dan fase istirahat. Untuk mesin perah sistem ember/baket, rasio pulsasi 60:40 per satua waktu, artinya dalam satuan waktu-waktu fase pemerahan berlangsung 60 kali dan fase istirahat 40 kali per satuan waktu. Laju pulsasi, laju atau besar kecilnya pulsasi di atur oleh tombol pengatur pulsasi yang terletak di bawah keempat tabung perah. Laju pulsasi disetel sesuai dengan anjuran pabrik pembuat mesin, Meningkatkan laju pulsasi melebihi anjuran tidak akan mempercepat pemerahan, bahkan dapat menyebabkan lukaluka yang sering pada puting dan ambing. 7

Tekanan pada mesin perah disetel pada saat instalasi mesin perah di pasang. Tekanan yang terlalu lemah membuat tabung perah tidak dapat menempel pada puting. Sebaiknya sebelum menggunakan mesin ini dianjurkan untuk meminta bantuan teknisi untuk menyetel tekanan vakum dan pemeriksaan secara berkala. 2.2.2. Sistem Pipa (Pipe line system) Pada sistem ini, pemerahan langsung juga berada di dalam kandang dimana sapi yang yang akan diperah tetap terikat ditempatnya. Mesin perah dipindah dari sapi satu ke sapi berikutnya. Sedang susu hasil pemerahan langsung dialirkan ke dalam tangki pendingin melalui pipa tanpa berhubungan dengan udara luar. Sistem pemerahan dengan sistem pipa ini dapat dilihat pada gambar 6. Gambar 6. Pemerahan Dengan Mesin Sistem Pipa Dilakukan Di Dalam Kandang. 2.2.3. Sistem Bangsal Pemerahan (Milking parlor system) Pemerahan berlangsung di suatu bangsal atau ruang khusus yang disiapkan untuk pemerahan. Di bangsal ini ditempatkan beberapa mesin perah. Setiap satu mesin melayani seekor sapi. Sasu hasil pemerahan langsung ditampung di tangki pendingin (cooling unit) sesudah melalui tabung pengukur produksi yang terdapat pada setiap mesin. Sapi yang akan diperah digiring ke bangsal pemerah melalui suatu ternpat (holding area) yang luasnya terbatas dan sapi berdesakan. Di holding 8

area sapi dibersihkan dengan sprayer dari segala arah (Gambar 7.), selanjutnya sapi satu per satu masuk bangsal (milking parlor) Gambar 7. Sebelum Sapi Masuk ke Bangsal Pemerahan Terlebih Dahulu Sapi Antri Dibersihkan di Holding Area. Sistem bangsal perah (milking parlor system) mempeunyai bentuk yang bermacam-macam, antara lain: a. Sistem sirip ikan tunggal atau ganda (single/double heringbone milking, parlor) yang terlihat seperti pada Gambar 8. dan 9. Gambar 8. Bangsal Perah Sistem Sirip Ikan Ganda. 9

Gambar 9. Bangsal Perah Sistem Sirip Ikan Ganda Beserta Peralatannya. b. Sistem sirip ikan berbentuk wajik (heringbone diamond shaped polygon milking parlor} Gambar 10. dan 11. Gambar 10. Bangsal Perah berbentuk Wajik Gambar 11. Bangsal Perah Berbentuk Wajik Beserta Kandang Lepas Free Stall Modern. 10

c. Sistem komidi putar (rotary milking parlor) Gambar 12. dan 13 Gambar 12. Bangsal Perah Sistem Komidi Putar Gambar 13. Bangsal Perah Sistem Komidi Putar Lengkap Dengan Peralatan Gambar 18. Komponen Mesin Perah: 1) karet inflasi, 2) tabung perah (teat cup shell), 3) selang udara dari karet, 4) pulsator, 5) mangkok, 6) selang susu dari karet, 7) selang vakuni dari karet, 8) penggantimg alat pemerah. 11

2.3. Robot Pemerah Selain alat tersebut diatas, akhir-akhir ini telah ditemukan alat atau mesin untuk memerah susu terbaru, yaitu robot pemerah susu. Seperti yang terdapat pada Kompas cyber media.com Kamis, 29 Desember 2005 yaitu para peternak sapi di Australia telah menggunakan robot tersebut untuk memerah susu ternaknya. Pimpinan proyek, Bill Fulkerson, menyatakan program ini bertujuan meningkatkan produktivitas dan cara beternak yang lebih baik. "Kami mencoba mewujudkannya dan membuat sistem yang memproduksi susu lebih banyak dalam setiap hektar serta membantu menurunkan jam kerja peternak," kata Fulkerson yang juga ahli peternakan dari University of Sydney. Mesin pemerah otomatis ini mengadaptasi sistem serupa di Eropa dan disesuaikan dengan kondisi peternakan terbuka di Australia. "Pada dasarnya ia adalah robot dengan lengan yang akan meletakkan sebuah cangkir khusus ke setiap puting sehingga dapat memerah setiap sapi," katanya. Industri pemerahan modern juga menggunakan cangkir semacam itu, hanya saja tidak dipasang secara otomatis. "Para peternak masih memasangnya sendiri. Sedangkan mesin otomatis memanfaatkan laser untuk menemukan kelenjar susu sapi dan sebuah komputer akan menyimpan berbagai ukurannya untuk mempertimbangkan pemerahan berikutnya," ungkapnya. Mesin tersebut akan menggantikan pekerjaan peternak yang biasa memerah susu dua kali sehari dan berhasil memasang 200 hingga 300 cangkir setiap hari. Sedangkan sapi-sapi yang akan diperah akan mendatangi tempat pemerahan sesuai keinginannya sendiri begitu merasa tidak nyaman karena kelenjar susunya telah penuh. "Ini adalah pola hidup yang lebih baik bagi sapi maupun para peternak," kata Fulkerson. Sebuah komputer akan memantau seberapa sering sapi datang untuk diperah dalam sehari dan berapa banyak makanan yang dihabiskan sapi serta jumlah susu yang berhasil diproduksi. Sikap patuh secara alami yang diperlihatkan sapi perah semakin meyakinkan Fulkerson bahwa hewan-hewan tersebut akan mudah beradaptasi dengan sistem yang baru. "Saya kira hal tersebut termasuk ide gila pada awalnya, tapi setelah melihatnya langsung, cara tersebut sangat revolusioner," katanya. 12

Hampir seluruh peternak sangat tertarik terhadap inovasi tersebut. Menteri Pertanian New South Wales Ian MacDonald mengatakan, "Teknologi ini menawarkan proses pemerahan yang lebih alami, di mana sapi akan diperah di saat mereka menginginkan dan para peternak tidak harus tergantung waktu pemerahan yang rutin dilakukan." Program seperti ini merupakan bagian dari cara untuk mempertahankan sekitar 1.050 peternakan yang menyumbang pendapatan nasional sebesar 290 juta dollar AS. "Kerja sama ini sangat penting untuk memastikan agar industri susu memperoleh penanganan terbaik, dalam hal ini hasil riset dan inovasi terbaru agar tetap bersaing dan berkesinambungan," kata MacDonald. Selain mengembangkan robot pemerah susu, proyek FutureDairy juga menguji sebuah kendaraan otomatis yang dapat melaju di berbagai medan untuk memonitor tempat merumput ternak-ternak tersebut. "Mengukur jumlahnya sangatlah sulit sebab lahan peternakan sangat luas, berjalan kaki saja tidak cukup," kata Fulkerson. Kendaraan beroda empat itu dikembangkan oleh perusahaan dari Selandia Baru C-DAX. Beberapa sensor yang dipasang dapat memantau seberapa banyak sumber makanan tersedia di setiap area tertentu. 13

BAB III PENUTUP Kesimpulan Mesin perah terbukti dapat meningkatkan produktifitas dan higienitas susu. Ini terbukti dengan meningkatnya hasil pemerahan sebesar 20% dari pada sebelum menggunakan mesin dan menurunya TPC mikroba dari 3x10 6 menjadi 2.5x10 5. Mesin perah pertama kali ditemukan pada tahun 1850 oleh petani Amerika yang bemama Anna Baldwin setelah sebelumnya telah ditemukan alat yang lebih sederhana untuk memerah susu pada tahun 1820. Mesin perah modern dibedakan menjadi 3 yaitu sistem ember (Bucket system), sistem pipa (Pipe line system) dan Sistem Bangsal Pemerahan (Milking parlor system). Sistem ember adalah salah satu sistem pemerahan yang menggunakan mesin sebagai pengganti tangan yang dapat dipindah-pindah dari tempat satu ke tempat lain untuk memerah susu. Sistem pipa adalah sistem pemerahan langsung juga berada di dalam kandang dimana sapi yang yang akan diperah tetap terikat ditempatnya, kemudian susu hasil pemerahan dialirkan melalui pipa menuju tempat yang telah di sediakan. Sistem bangsal adalah sistem pemerahan yang berlangsung di suatu bangsal atau ruang khusus yang disiapkan untuk pemerahan, dan di bangsal ini ditempatkan beberapa mesin perah. Setiap satu mesin melayani seekor sapi. Sistem bangsal mempunyai bentuk bermacam-macam antara lain: Sistem sirip ikan tunggal atau ganda, sistem sirip ikan wajik dan sistem komidi putar. 14

REFERENSI Budi, Usman, et all. 2006. Buku Ajar Dasar Ternak Perah. http://ecourse.usu.ac.id/content/peternakan/dasar/textbook.pdf Riyanto, Selamot. 2006. Dengan Mesin Perah Harga Susu Jadi Tinggi. http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=7&aid=1256 Toeg, Peter. 2007. Milking Machine. http://www.madehow.com/ Volume -2 /Milking-Machine.html Wah. 2005. Robot Pemerah Susu. http://64.203.71.11/teknologi/news/ 0512/29/161009.htm 15