Tidak Menghadiri Kebatilan

dokumen-dokumen yang mirip
Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Oleh: Rokhmat S.Labib, M.E.I.

[107] Sikap Mukmin terhadap Rasulullah SAW, Istri-istri Beliau, dan Sesama Muslim Saturday, 28 September :25

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Oleh: Rokhmat S Labib, M.E.I.

Oleh: Rokhmat S Labib, MEI

Oleh: Rokhmat S Labib, MEI

Ayat ini adalah di antara yang memberitakan tuduhan palsu yang dikatakan kaum kafir terhadap Alquran dan celaan keras terhadap pelakunya.

membelanjakan dan menafkahkan harta yang dikaruniakan Allah SWT kepada mereka.

Kewajiban berdakwah. Dalil Kewajiban Dakwah

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

{mosimage} Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Oleh: Rokhmat S Labib

Di antaranya pemahaman tersebut adalah:

Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA. Urgensi Menjaga Lisan

E٤٢ J٣٣ W F : :

E٤٨٤ J٤٧٧ W F : :

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Kaum Muslim telah dilarang untuk merayakan hari raya orang-orang kafir atau musyrik.

{mosimage}oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Oleh: Rokhmat S Labib

: : :

TAFSIR AL QUR AN UL KARIM

Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan urusan kami (tidak ada contohnya) maka (amalan tersebut) tertolak (Riwayat Muslim)

Jangan Taati Ulama Dalam Hal Dosa dan Maksiat

Yang kafir. Yang dimaksud orang-orang kafir di sini adalah Yahudi dan Nashara sebagaimana yang disebutkan oleh Qatadah, As-Suddi, dan yang lainnya.

Bukti Cinta Kepada Nabi

Berani Berdusta Atas Nama Nabi? Anda Memesan Sendiri Tempat di Neraka

TAWASSUL. Penulis: Al-Ustadz Muhammad As-Sewed

*** Tunaikanlah Amanah

Oleh: Rokhmat S Labib, M.E.I.

Sifat-Sifat Ibadah Yang Benar


Adab Makan Yang Dilupakan Muhammad Abu Hamdan

Petunjuk Nabi Dalam Menyebarkan Berita

Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Alquran

Menggapai Ridha Allah dengan Birrul Wâlidain. Oleh: Muhsin Hariyanto

Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An Nawawi

SUNNAH SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM

Kewajiban Pemerintah dan Rakyat

Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian). (Al-Hijr : 99)

ISTRI-ISTRI PENGHUNI SURGA

Ditulis oleh administrator Senin, 15 Desember :29 - Terakhir Diperbaharui Rabu, 20 Mei :36

????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Beribadah Kepada Allah Dengan Mentauhidkannya

Berpegang kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan tidak bertaqlid kepada seseorang


Khutbah Jum'at. Keutamaan Muharam. Bersama Dakwah 1

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (Qaaf:18 )

Pengaruh Shalat dan Maksiat Terhadap Rezeki

Apa itu Nadzar dan Sumpah? NADZAR DAN SUMPAH

Rasulullah SAW suri teladan yang baik (ke-69) Dia lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Az-Zumar : 53]

Macam-Macam Dosa dan Maksiat

KARAKTER PEMIMPIN DALAM ISLAM. HM. Khoir Hari Moekti

LAMPIRAN TERJEMAH. No Bab Surah/Hadis Terjemah. 1 I QS. al-baqarah: 132 Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan

Dosa Bersumpah Dengan Menyebut Selain Allah

Taqlid, Do'a Iftitah dan Shalawat HUKUM TAQLID, DOA IFTITAH DAN SHALAWAT KHUTBAH JUM'AT

Serial Akhlak Muslim : Amanah

Edisi 02/ I/ Dzulhijjah/ 1425 H Januari/ 2005 M)

Cinta yang tak mungkin terbalas

FATWA-FATWA LEMBAGA TETAP UNTUK RISET ILMIAH DAN FATWA, KERAJAAN SAUDI ARABIA :

Kekhususan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Yang Tidak Dimiliki Oleh Umatnya

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orangorang yang ruku (Al Baqarah : 43)

Istiqomah. Khutbah Pertama:

Islam Satu-Satunya Agama Yang Benar

Luasnya Rahmat (kasih sayang) Allah Subhanahu wa Ta ala

Definisi sombong. PENGERTIAN SOMBONG Definisi sombong sebagaimana disinyalir oleh Rasulullah J dalam sebuah hadits:

E٧٦ J٧٣ W F : :

Lailatul Qadar. Rasulullah SAW Mencontohkan beberapa amal khusus terkait Lailatul Qadar ini, di antaranya:

E٧٠ J٦٥ W F : :

Jika Beragama Mengikuti Kebanyakan Orang

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Adab-Adab Kepada Non muslim

Kematian Lebih Baik Bagi Seorang Mukmin

Agar Nabi Muhammad Mencintai Kita

Tafsir Surat Al-Ikhlas

Dosa Durhaka Kepada Orang Tua

Dosa Memutuskan Hubungan Kekeluargaan

Mempraktikkan Akhlak Terpuji Dalam Kehidupan

Dusta, Dosa Besar Yang Dianggap Biasa

Al-Ilmu, ILMU MENDAHULUI AMAL Pentingnya menggali ilmu sebagai awal pelaksanaan amalan Ibadah Dirangkum oleh : Yulia Dwi Indriani

Mengapa Kita Harus Berdakwah? [ Indonesia Indonesian

Rukun berarti? Kerukunan umat beragama? Agama tdk bisa dirukunkan? Kerukunan beragama hanya terbatas pada bidang kehidupan sosial kemasyarakatan

Menjual Rokok HUKUM SEORANG PEDAGANG YANG TIDAK MENGHISAP ROKOK NAMUN MENJUAL ROKOK DAN CERUTU DALAM DAGANGANNYA.

HADITS KEduapuluh tujuh Arti Hadits / :

Tuduhan Bahwa Berpegang Terhadap Agama Penyebab Kemunduran Kaum Muslimin

lalui, tapi semua itu sama sekali tidak memberikan bekas apa pun pada diri kita.

Bimbingan Islam di Musim Hujan

SERIAL BUKU ISLAM #

Transkripsi:

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu (atau menghadiri kebatilan), dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya (TQS al-furqan [25]): 72 Ayat ini masih menambahkan sifat ibâd al-rahmân. Sebagaimana digambarkan ayat-ayat sebelumnya, sifat yang dimiliki para hamba tersebut adalah sifat yang terpuji. Kali ini, sifat yang digambarkan adalah ketegasan mereka dalam perkara yang terlarang. Mereka bukan saja tidak menegerjakan, namun mereka menjauhinya dan sama sekali tidak mau terlibat. Tidak Menghadiri Kebatilan Allah SWT berfirman: Wa al-ladzîna lâ yasyhadûna. Kata al-ladzîna (orang-orang) dalam ayat ini menunjuk kepada ibâd al-ra h mân. Sehingga, sebagaimana dikatakan Abu Hayyan al-andalusi, ayat ini kembali menceritakan tentang sifat-sifat hamba tersebut. 1 / 6

Dijelaskan al-syaukani, perngertian adalah al-kadzib wa al-bâthil (kedustaan dan kebatilan). Al-Qurthubi mendefinisikannya sebagai kullu bâthil zuwwira wa zukhrifa (semua kebatilan yang dipalsukan). Diterangkan Ibnu Jarir al-thabari, makna asal adalah menampakkan kebaikan sesuatu dan menggambarkannya secara bertentangan dengan sifat sebenarnya, sehingga membuat orang yang mendengar dan melihatnya memiliki gambaran yang berbeda dengan faktanya. Kemusyrikan termasuk di dalamnya. Sebab, dia ditampakkan baik kepada penganutnya, hingga disangka sebagai kebenaran, padahal itu sesuatu yang batil. Sedangkan kata yasyhadûna dalam ayat ini, terdapat perbedaan para ulama dalam memahaminya. Pertama, bermakna syahâdah (kesaksian). Ketika kata tersebut disandingkan dengan kata, maka yang dimaksudkan dengannya adalah syahâdah (kesaksian palsu). Dengan demikian, salah satu sifat ibâd al-ra h mân adalah tidak memberikan kesaksian palsu. Di antara yang berpendapat demikian adalah Abu Hayyan al-andalusi. Menurutnya, ini juga pendapat Ali ra dan al-baqir. Memberikan kesaksian palsu memang merupakan suatu perbuatan yang terlarang. Bahkan, dalam hadits Nabi SAW perbuatan tersebut dikategorikan min al-kabâir (termasuk dosa besar). Rasululllah SAW bersabda: Maukah aku beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar? Beliau kemudian bersabda: qawl (perkataan dusta, palsu) atau beliau bersabda- syahâdah (kesaksian palsu). Syu bah dan banyak lainnya menduga bahwa yang beliau katakan adalah syahâdah (kesaksian palsu). (HR al-bukhari dan Muslim). Meskipun demikian, penafsiran ini tidak banyak dipilih. Pasalnya, dari susunan kalimatnya, yang disebutkan ayat ini adalah: lâ yasyhadûna. Makna memberika 2 / 6

kesaksian palsu apabila susunannya: lâ yasyhadûna bi. Di samping itu, jika dikaitkan dengan kalimat sesudahnya kurang relevan. Kedua, bermakna al-syuhûd wa al-hudhûr (datang dan menghadiri). Sehingga ayat ini menggambarkan sifat mereka sebagai orang-orang yang tidak mau datang dan menghadiri. Menurut al-syaukani, pendapat ini dipilih oleh jumhur. Menurut Abu Aliyah, Thawus, Ibnu Sirrin, al-dhahhak, al-rabi bin Anas, dan lain-lain -sebagaimana dikutip Ibnu Katsir yang dimaksud dengan di sini adalah hari raya kaum musyrik. Penafsiran ini sejalan dengan penjelasan al-zujjaj. Sebagaimana dikutip al-syaukani, al-zujjaj mengatakan bahwa secara bahasa bermakna al-kadzib (kedustaan). Tidak ada kedustaan yang melebihi syirk (menyekutukan Allah). Ditegaskan juga oleh al-wahidi bahwa menurut sebagian besar para mufassir, pengertian di sini adalah syirk (menyekutukan Allah). Menurut Amru bin Qais, dalam ayat ini berarti majelis-majelis yang buruk dan perkataan yang kotor. Al-Zuhri menafsirkannya sebagai minum khamr. Mereka tidak menghadirinya dan mnembencinya. Menurutnya, ini seperti yang dinyatakan dalam sabda Nabi SAW: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah dia duduk di meja yang dihidangkan khamr (HR al-tirmidzi). Semua penafsiran tersebut masih dapat diterima. Sebab, sebagaimana dituturkan al-syaukani, tidak ada takhshîsh yang mengkhususkan jenis tertentu pada ayat ini. Oleh karena itu, ayat ini memberikan pengertian bahwa mereka tidak menghadiri semua majelis yang di dalamnya terdapat perkara yang termasuk dalam cakupan kata, apa pun keadaannya. 3 / 6

Mengenai terlarangnya tindakan menghadiri kebatilan, kedustaan, dan kemaksiatan, Fakhruddin al-razi memberikan penjelasan tentang alasannya. Menurutnya, barangsiapa yang bercampur baur dengan pelaku kejahatan, melihat perilaku mereka, dan hadir bersama mereka, maka mereka telah bersekutu dalam kemaksiatan tersebut. Sebab, hadir dan melihatnya merupakan bukti keridhaan terhadapnya, bahkan menjadi penyebab adanya dan semakin meningkat. Pasalnya, yang membuat mereka mengerjakan perbuatan buruk itu adalah sikap yang memandang baik terhadap perbuatan buruk itu dan rasa suka dalam melihatnya. Berpaling dari Kemaksiatan dan Melaluinya dengan Cepat Allah SWT berfirman: Wa idzâ marrû bi al-laghwi marrû kirâm[an] (dan apabila mereka bertemu dengan [orang-orang] yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui [saja] dengan menjaga kehormatan dirinya). Frasa: Wa idzâ marrû berarti apabila mereka melalui jalan yang sama dengan al-laghw. Sedan gkan a l-laghw berarti kullu sâqith min qawl aw fi l (semua ucapan dan perbuatan rendah dan hina). Demikian penjelasan al-syaukani. Menurut Fakhruddin al-razi, al-laghw berarti semua yang wajib dihilangkan dan ditinggalkan. Al-Hasan, sebagaimana dikutip al-qurthubi, menafsirkannya sebagai al-ma âshî kulluhâ (kemaksiatan secara keseluruhan). Tatkala itu terjadi, yakni mereka melewati jalan yang sama dengan tempat berlangsungnya kemaksiatan, maka: marrû kirâm[an] (mereka menjaga kehormatan diri mereka). Menurut al-razi, pengertian memuliakan diri mereka dari keadaan al-laghw tersebut adalah dengan berpaling, mengingkari, dan tidak memberikan bantuan dan dukungan. 4 / 6

Menurut al-biqa i, mereka tidak hanya berpaling. Pengertian: Marrû kirâm[an] juga berarti memerintahkan yang ma ruf dan melarang yang munkar, apabila bisa masih memungkinan diubah. Atau berpaling darinya jika tidak mampu memperbaikinya. Mereka tidak datang dan diam. Sebab, menonton semua perkara yang tidak dibenarkan syara berarti bersekutu dengan pelakunya dalam dosa. Alasannya, tindakan untuk hadir dan menonton merupakan bukti keridhaan terhadapnya dan membuat kemaksiatan itu kian meningkat. Pengertian ini kian mengukuhkan penafsiran: lâ yasyhadûna dengan lâ yahdhurûnahu (ti dak menghadirinya). Dikatakan Ibnu Katsir, apabila mereka melewati (kebatilan), maka mereka tidak melaluinya dengan menjaga kemuliaan. Namun, jika mereka melewati jalan yang sama, maka mereka melaluinya dengan sama sekali tidak bercampur aduk dengannya. Oleh karena itu dikatakan: marrû kirâ (mereka melaluiya) dengan menjaga kehormatan. Mengenai keharusan berpaling dari majelis maksiat, juga ditegaskan dalam beberapa nash lainnya. Di antaranya adalah firman Allah SWT: Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil." (TQS al-qashash [28]: 55). Demikianlah. Para hamba Dzat Yang Maha Penyayang itu bukan saja tidak menyekutukan Allah SWT namun juga tidak mau menghadiri semua kegiatan yang di dalamnya terdapat kegiatan tersebut, seperti perayaan hari raya kaum kafir. Mereka tidak hanya meninggalkan perbuatan maksiat, namun mereka juga menolak untuk datang dan menghadirinya. Tatkala mereka harus melewati majelis dan kegiatan maksiat, mereka berupaya untuk melakukan amar ma ruf nahi munkar. Jika tidak bisa mengubahnya, mereka pun berpaling darinyadan segera berlalu dengan cepat. Mereka sama sekali tidak mau terlibat dalam kegiatan maksiat tersebut. Inilah salah sifat yang dimiliki oleh ibâd al-rahmân. Semoga kita termasuk di dalamnya. Wal-L âh a lam bi al-shawâb. Ikhtsar: 5 / 6

1. 1. Sifat lain ibâd al-rahmân adalah tidak mau menghadiri majelis yang di dalamnya terdapat kekufuran, kemusyrikan, dan kemaksiatan 2. 2. Apabila mereka terpaksa menempuh jalan yang di dalamnya ada kemaksiatan, mereka melakukan amar ma ruf nahi munkar, berpaling darinya, dan segera berlalu darinya. 6 / 6