BAB I PENDAHULUAN. menemukan makna dan prinsip kerja yang ditempuh serta dari data yang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Firman Allah SWT. Dalam Surat Al-Mujaadilah [58:11]:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menumbuh kembangkan

BAB I PENDAHULUAN. jati diri dan membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. 31 ayat 1 dan 3 menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam ajaran agama Islam, umat Islam diperintahkan untuk semangat

BAB I PENDAHULUAN. (jasmani). Untuk melakukan itu semua diperlukan suatu proses yang. yang diakibatkan oleh belajar tersebut. 2

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan

BAB I PENDAHULUAN. Fungsi pendidikan di Indonesia telah dijabarkan dalam Undang-Undang. Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 sebagai berikut:

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan memiliki peranan yang penting dalam meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. Islam memandang manusia sebagai makhluk yang termulia dan sempurna. Ia

PERBEDAAN STRATEGI PEMBELAJARAN LIGHTENING THE LEARNING CLIMATE DAN EKSPOSITORI TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang berfikir secara kritis dan mandiri serta menyeluruh dalam

BAB I PENDAHULUAN. Allah swt Berfirman. dalam surat Al-Mujadallah ayat 11.

BAB I PENDAHULUAN. dan Teknologi (IPTEK) merupakan salah satu faktor penunjang yang penting

ي ا أ ي ه ا ال ذ ين آم ن وا إ ذ ا ق يل ل ك م ت ف سح وا في ال م ج ال س ف اف س ح وا ي ف س ح ا ل ك م و إ ذ ا ق ي ل ان ش ز وا ف ان ش ز وا ي ر ف ع ا

BAB I PENDAHULUAN. dirumuskan itu bersifat abstrak sampai pada rumusan-rumusan yang dibentuk. khusus memudahkan pencapaian tujuan yang lebih tinggi.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa

BAB I PENDAHULUAN. Cipta, 1992), hlm Sriyono, Teknik Belajar Mengajar Dalam CBSA, (Jakarta: Rineka

BAB I PENDAHULUAN. kehidupannya, sampai kapan dan dimanapun ia berada. sebagaimana sabda

BAB I PENDAHULUAN. dikembangkan berdasarkan pada kebutuhan dan perkembangan lingkungannya,

BAB I PENDAHULUAN. suatu kelompok manusia dapat berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita)

BAB I PENDAHULUAN. UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa:

BAB I PENDAHULUAN. individu, pendidikan juga berimplikasi besar terhadap kemajuan suatu bangsa. Oleh

BAB I PENDAHULUAN. terbelakang. Pendidikan harus benar-benar diarahkan untuk menghasilkan

BAB I PENDAHULUAN. Agama Islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk selalu belajar.

BAB I PENDAHULUAN. secara eksak berbagai ide dan kesimpulan. 1 Matematika tidak lepas dari. sebagaimana yang ada dalam QS. Mujadilah ayat 11 :

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pengaruh kehidupan modern, wanita semakin hari semakin

BAB I PENDAHULUAN. digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan hidup secara tepat dimasa akan datang atau dapat juga didefinisikan

BAB I PENDAHULUAN. selesai sampai kapanpun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini, karena

BAB I PENDAHULUAN. awalnya tidak berkompeten akan menjadi manusia yang lebih berkompeten dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, persoalan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan.

BAB I PENDAHULUAN. * Seluruh Teks dan terjemah Al-Qur`ān dalam skripsi ini dikutip dari Microsoft Word Menu Add-Ins

BAB I PENDAHULUAN. ini. Kenyataan ini menunjukkan bahwa manusia memerlukan pendidikan. Akan

BAB I PENDAHULUAN. dirumuskan itu bersifat abstrak sampai pada rumusan-rumusan yang dibentuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri.

- د ر ج ات و ا ل ل ه ب م ا ت ع م ل ىن خ ب يز -١١ BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan suatu aspek yang mendasar dalam usaha

BAB I PENDAHULUAN. derajat dan kedudukan suatu negara tersebut menjadi lebih tinggi. Sebagaimana

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan usaha manusia untuk menumbuhkan dan. mengembangkan potensi dan kemampuan anak didik sesuai dengan nilai-nilai

BAB I PENDAHULUAN. kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan. dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara 1

BAB I PENDAHULUAN. manusia melalui transfer ilmu pengetahuan, keahlian dan nilai-nilai kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat besar untuk menciptakan masa

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan dari sekolah, selain mengembangkan pribadinya. Pemberian

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan dibidang pendidikan merupakan sara dan wahana yang sangat baik

BAB 1 PENDAHULUAN. dewasa seperti sekolah, buku, putaran hidup sehari-hari, dan sebagainya) dan. ditujukan kepada orang yang belum dewasa.

BAB I PENDAHULUAN. akan pentingnya pendidikan harus dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga dapat

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dalam arti luas adalah segala pengalaman yang dilalui manusia

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan nasional merupakan pelaksanaan pendidikan suatu negara

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan masyarakat adalah orang-orang dewasa, orang-orang yang. dan para pemimpin formal maupun informal.

BAB I PENDAHULUAN. dirumuskan itu bersifat abstrak sampai pada rumusan-rumusan yang dibentuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan memiliki peran penting pada era sekarang ini. Karena tanpa

BAB I PENDAHULUAN. Kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa dapat. berbentuk uraian kita dapat melihat langkah-langkah yang dilakukan siswa

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas akhlak seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi iman dalam

PENERAPAN NILAI-NILAI AKHLAK DALAM MENUNTUT ILMU DI SMA MUHAMMADIYAH 1 PURBALINGGA TAHUN PELAJARAN 2016/2017

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

BAB I PENDAHULUAN. Untuk mengimbangi perkembangan tersebut dituntut adanya manusia-manusia

STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN MEDIA DALAM PROSES PEMBELAJARAN UNTUK ANAK DIFABEL (TUNAGRAHITA) DI SLB MARSUDI PUTRA I BANTUL

BAB I PENDAHULUAN. dalam proses pengambilan keputusan terhadap suatu masalah yang dihadapi

BAB I PENDAHULUAN. kemajuan dalam masyarakat. Aspek perubahan meliputi: sosial, politik, ekonomi,

BAB I PENDAHULUAN. mendapat perhatian dan prioritas secara optimal dari pemerintah maupun

BAB I PENDAHULUAN. secara sistematis dan terencana dalam setiap jenis dan jenjang pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. sangat dianjurkan pelaksanaannya oleh Allah SWT. Islam juga memerintah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan masalah yang sangat dominan bagi kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.

BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Mujadilah ayat 11:

BAB I PENDAHULUAN. bangsa yang maju.pada Al-qur an surah ar-ra d ayat 11 Allah SWT berfirman:

BAB I PENDAHULUAN. Di antara berbagai program kegiatan pembangunan nasional, salah satunya

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan diri tiap individu. Upaya untuk memperbaiki mutu pendidikan. kepribadian, maupun tanggung jawab sebagai warga Negara.

memberikan gairah dan motivasi kepada para siswa. Sesuai dengan Undang dengan visi misi pendidikan nasional dan reformasi pendidikan menyebutkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. diantara ajaran tersebut adalah mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan

PENGAJIAN RAMADAN 1435 H PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan adalah sesuatu yang universal dan berlangsung terus menerus

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan. Terlihat juga dalam AL-Qur an surat Al-Anfaal ayat 22.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. Undang RI No. 20 Tahun 2003 pasal 3 yang merumuskan bahwa: mempengaruhi sumber daya manusia (SDM) suatu Negara.

BAB I PENDAHULUAN. Matematika juga berkembang di bidang ilmu yang lain, seperti Kimia, Fisika, saat ini dengan penerapan konsep matematika tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. menjadi dasar untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan berupaya

PENDAHULUAN. mencapai tujuan pendidikan nasional. Perkembangan zaman saat ini menuntut

BAB I PENDAHULUAN. itu sendiri ada. Manusia pertama dalam pandangan Islam adalah Nabi Adam

BAB I PENDAHULUAN. manusia karena tujuan yang dicapai oleh pendidikan tersebut adalah untuk

BAB I PENDAHULUAN. potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Selain berperan penting dalam kehidupan manusia secara individu,

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia, baik di dalam maupun

BAB I PENDAHULUAN. dalam kesehariannya. Dalam al-qur an dan al-hadist telah menjelaskan bahwa Allah SWT

BAB I PENDAHULUAN. persaingan di berbagai negara. Dengan bantuan dari berbagai media, pengetahuan

BAB I PENDAHULUAN. bangsa Indonesia. Berbagai kajian dan pengalaman menunjukkan bahwa

BAB I PENDAHULUAN pasal 31 yang menyatakan bahwa (1) setiap warga negara berhak

BAB I PENDAHULUAN. simbolik dan sulit untuk dipelajari. Pandangan tersebut muncul dikarenakan untuk

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah salah satu faktor yang fundamental dalam pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia, dimana pendidikan memegang peranan penting dalam. pengembangan potensi dalam diri peserta didik.

BAB I PENDAHULUAN. bangsa yang mempunyai perbedaan berbagai macam adat istiadat, bahasa,

A. LATAR BELAKANG MASALAH

KOMPETENSI DASAR INDIKATOR:

BAB I PENDAHULUAN. agama. Sistem ekonomi Islam merupakan suatu sistem ekonomi yang

BAB 1 PENDAHULUAN. rumusan fungsi dan tujuan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER DAN THINK PAIR SHARE TERHADAP HASIL BELAJAR

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Filsafat disebut sebagai the mother of science, induk dari ilmu pengetahuan. Dalam abad ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, hubungan filsafat dengan ilmu tampaknya mengalami perubahan. Young mengatakan bahwa filsafat berupaya untuk mengintregasikan sebagai informasi yang ditemukan oleh sains. Sains memusatkan perhatiannya kepada penelitian dan penemuan data faktual, sedangkan filsafat tertarik pada usaha mencari dan menemukan makna dan prinsip kerja yang ditempuh serta dari data yang tersedia. Jadi dapat dikatakan bahwa ilmuwan yang justru sebagai penemu, sedangkan filosof adalah penafsir. 1 Sehingga ilmu pengetahuan memiliki kedudukan yang sangat tinggi, seperti yang telah dijelaskan dalam Al-quran dalam surat Al Mujaadilah ayat 11: ي ا أ ي ه ا ال ذ ين آم ن وا إ ذ ا ق يل ل ك م ت ف س ح وا ف ي ال م ج ال س ف اف س ح وا ي ف س ح للا ل ك م و إ ذ ا ق يل ان ش ز وا ف ان ش ز وا ي ر ف ع للا ال ذ ين آم ن وا م ن ك م و ال ذ ين أ وت وا ال ع ل م د ر ج ات و للا ب م ا ت ع م ل ون خ ب ير )١١( Artinya: Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa 1 Tobroni, Pendidikan Islam, (Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2008), hal. 3. 1

2 derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al Mujaadilah :11). 2 Sekarang ini, dunia kita berada di jaman globalisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang semakin canggih dan modern, khususnya dibidang teknologi komunikasi dan informasi. Teknologi komunikasi memberikan fasilitas manusia dalam melakukan komunikasi secara global, tanpa harus dibatasi oleh ruang dan waktu. Sedangkan, teknologi informasi telah memberikan sebuah kemudahan bagi manusia untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan secara cepat. Semuanya sudah tersedia dan tersaji dihadapan kita sebagai kenyataan maya. Untuk itu, dunia pendidikan yang memiliki peran utama dalam melahirkan generasi penerus perjuangan bangsa perlu adanya upaya meningkatkan mutu pendidikan di negara kita ini. Pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Oleh sebab itu, hampir semua negara menempatkan variabel pendidikan sebagai sesuatu yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. 3 Begitupun juga di Indonesia, upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan terus saja dikembangkan. Karena kehidupan bangsa sangat dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Jika kualitas pendidikan rendah, maka akan berakibat pada rendahnya kualitas kehidupan bangsa. 2 Departemen Agama RI., Al-qur an dan Terjemahnya, (Jakarta: CV Pustaka Agung Harapan, 2006), hal. 793. 3 Kunandar, Guru Profesional Implementasi Satuan pendidikan (KTSP) dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2007), hal. V

3 Di dalam UU No. 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional tercantum pengertian pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 4 Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia. Manusia sebagai makhluk berbudaya dapat mengembangkan dirinya sedemikian rupa sehingga mampu membentuk norma dan tatanan kehidupan yang didasari oleh nilai-nilai luhur untuk kesejahteraan hidup, baik perorangan maupun untuk kehidupan bersama. Pendidikan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia. Artinya tidak mungkin dapat dijumpai suatu kehidupan masyarakat tanpa adanya kegiatan pendidikan. Pendidikan merupakan tahapan-tahapan kegiatan mengubah sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang melalui upaya dan pelatihan. 5 Sikap dan perilaku seseorang nantinya akan terasa perubahannya setelah melalui pendidikan formal. Lembaga pendidikan formal yang ada di wilayah kita diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional bersumber dari falsafah negara dan bangsa Indonesia. Sebagaimana dijelaskan bahwa falsafah merupakan suatu sistem nilai yang dianut suatu pandangan hidup bangsa. Apa yang dianggap benar dan diyakini sebagai suatu nilai yang dapat 4 Undang-Undang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional), (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal. 3 5 Muhibbinsyah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), hal. 32.

4 mengantarkan bangsa Indonesia menuju persatuan nasional. 6 Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tugas dan peran guru sebagai tenaga pendidik dari hari ke hari semakin berat. Seorang guru harus mampu mengelola proses pembelajaran di kelas secara aktif dan inovatif. Dengan melalui proses pembelajaran guru dituntut untuk mampu membimbing dan memfasilitasi siswa agar mereka dapat memahami kekuatan serta kemampuan yang mereka miliki. 7 Dalam pendidikan guru sangat berperan penting dalam menyampaikan ilmu dan seorang guru harus memiliki kemampuan sesuai dengan bidangnya. Seperti halnya dalam mengajarkan matematika kepada siswa, guru harus mempunyai kemampuan dalam bidang matematika. Matematika adalah salah satu bidang studi yang ada pada semua jenjang pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Bahkan matematika diajarkan di taman kanak-kanak secara informal. Belajar matematika merupakan suatu syarat untuk melanjutkan pendidikan kejenjang berikutnya. Dengan belajar matematika kita akan belajar bernalar secara kritis, kreatif dan aktif. Alasan pentingnya matematika untuk dipelajari karena begitu banyak kegunaannya. Oleh karena itu guru harus mempunyai solusi pembelajaran yang relevan dan efektif yang dapat meningkatkan hasil belajar. Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yaitu hasil dan belajar. Pengertian hasil menunjuk pada suatu perolehan akibat 6 Lukmanul Hakim, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung: CV. Wacana Prima, 2007), hal. 92. 7 Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2010), hal. 13

5 dilakukannya seuatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. Sedangkan belajar adalah aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, ketrampilan dan sikap. 8 Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan salah satu alat untuk mengetahui apakah seseorang telah melakukan proses belajar. Hasil belajar akan tampak bila individu telah mempunyai sikap dan nilai yang diinginkan, menguasai pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Farktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa adalah model pembelajaran yang diterapkan masih terpusat pada guru sehingga dalam proses pembelajaran siswa cenderung monoton dan pasif. Dalam hal ini adalah pembelajaran konvensional dimana pembelajaran dengan model ini didominasi dengan ceramah, komunikasi satu arah dan pembelajaran terfokus pada guru. Kegiatan yang banyak dilakukan oleh siswa adalah mencatat dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru. Penjelasan oleh guru seringkali tidak diperhatikan. Siswa juga tidak terbiasa untuk melakukan diskusi atau bertukar pendapat dengan temannya mengenai materi pembelajaran atau soal yang belum dimengertinya. Apabila siswa belum mengerti materi pelajaran yang didapatnya, siswa akan merasa malu dan takut untuk bertanya kembali kepada guru dan hanya berbincang-bingcang dengan temannya. Beberapa guru juga sering kali duduk diam agak lama menghabiskan waktu latihan, atau mencari jawaban pertanyaan yang ia berikan kepada siswa. 8 Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 38.

6 Permsasalah tersebut membuat siswa merasa jenuh dan bosan sehingga banyak siswa enggan untuk mengerjakan soal yang diberikan guru. Sehingga, pembelajaran di kelas tidak membekas dan tidak bermakna, pemahaman materi berkurang, dan puncaknya hasil belajar akan menurun. Keadaan tersebut tentunya merupakan tantangan bagi sekolah dan guru bidang studi pada khususnya untuk mencari solusi yang tepat untuk mengatasinya, karena kaitan guru sebagai praktisi dengan keberhasilan pembelajaran sangat erat. Berangkat dari permasalahan tersebut, perlu adanya model pembelajaran yang melibatkan partisipasi aktif siswa untuk mengoptimalkan potensi siswa dan sekaligus hasil belajar siswa. Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan hasil belajar adalah perlu dikembangkan model pembelajaran yang tepat untuk menyampaikan berbagai konsep dalam pelajaran matematika. Kegiatan pembelajaran seharusnya memberikan kesempatan bagi siswa untuk salaing bertukar pendapat, bekerja sama dengan teman, berinteraksi dengan guru, dan merespon pemikiran teman lainnya, sehingga pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa. Oleh karena itu, siswa akan lebih mengerti dan memahami secara mendalam materi yang sedang dipelajari. Selain itu, kerja sama dalam hal kebaikan sangat dianjurkan oleh Alloh SWT sebagaimana diterangkan dalam Q.S. Al-Maidah:2 sebagai berikut: و لى ا و و ب ى و ا ا و ع و و ا باى و لى ا و ب ر و ا ال ت و و ى و ا و ى و ت و ى و ا ت ع و ى وا و ا و ت و و ا ت ع و وا Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.

7 Kerja sama yang dimaksud disini adalah siswa saling membantu dalam memecahkan masalah dn bersama-sama menemukan jawaban dari masalah. Setiap kelompok harus faham dan mengerti dengan materi yang diberikan kemudian berbagi pemahaman materidengan kelompok lain sehingga saling mendorong untuk berprestasi dan menciptakan pembelajaran yang aktif dan kontruktif. 9 Model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengembangkan hasil belajar siswa salah asatunya adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif atau diskusi kelompok tipe TPS (Think Pair Share) dan NHT (Numbered Head Together). TPS atau berpikir berpasangan merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola pikir siswa. Tipe ini memungkinkan siswa untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain secara berpasangan. Sedangkan NHT atau kepala bernomor pertama kali dikembangkan oleh Spenser Kagen. Tipe ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling berbagi ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat, meningkatkan semangat kerjasama siswa dan dapat digunakan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas. Maksud dari kepala bernomor adalah setiap anak mendapat nomor tertentu, dan setiap nomor mendapat kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam menguasai materi. 10 Dengan kata lain, setelah mendapatkan nomor kemudian dibuat kelompok belajar setelah 9 Erman suherman dkk, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Universitas Pendidikan Indonesia Jurusan Penddikan Matematika 2003), hal. 76 10 Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Balai Pustaka, 2011), hal. 62

8 itu secara acak guru memanggil nomor dari siswa sehingga semua siswa harus menyiapkan dirinya masing-masing. Melalui model pembelajaran kooperatif tipe TPS dan NHT dimungkinkan untuk mengoptimalkan interaksi antar siswa dalam kegiatan pembelajaran matematika disetiap komponennya sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Hal ini didukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Dina Puspita Wijaya bahwa pembelajaran dengan tipe NHT lebih efektif daripada model konvensional terhadap meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP N 6 Sragen. 11 Selain itu, juga didukung penelitian yang dilakukan oleh Fitri Wijayanti bahwa hasil belajar matematika siswa lebih baik. Dan siswa dapat meningkatkan kemampuan dalam mengingat suatu informasi serta memperbaiki rasa percaya diri siswa. 12 Sehubung dengan hal tersebut, penulis tertarik untuk meneliti tentang Perbedaan Mode Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think Pair Share) dan NHT(Numbered Head Together) terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII MTsN Tulungagung Tahun Ajaran 2015/2016. B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah 1. Identifikasi Masalah Adapun identifikasi masalah dalam penelitian sebagai berikut: 11 Dian Puspita Wijaya, Efektifitas Metode Pembelajaran Synergetic Teaching dan Numbered Head Together terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa dalam pembelajaran Matematika Siswa SMP, (Yogyakarta, Skripsi Diterbitkan, 2012), hal. 20 12 Fitri Wijayanti, Perbedaan Hasil Belajar Matematika anatar Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pir Share (TPS) dan Pemebelajaran Ekspositori pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Sumbergempol Tulungagung, (Tulungagung. Skripsi Tidak Diterbitkan, 2013), hal. 69

9 a. Pemebelajaran matematika yang masih menggunakan metode konvensional, sehingga perlu penerapan model pembelajaran yang sudah maju dan membuat siswa lebih aktif salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif tipe TPS dan NHT. b. Siswa masih enggan mengajukan pertanyaan kepada guru atau teman jika mengalami kesulitan. c. Siswa masih enggan mengerjakan soal yang diberikan guru. d. Perhatian siswa terhadapad penjelasan guru masih kurang. e. Hasil belajar matematika siswa masih rendah. 2. Pembatasan Masalah Analisis masalah juga membatasi ruang lingkup masalah. Disamping itu masih perlu dinyatakan secara khusus batas-batas masalah agar penelitian lebih terarah. Lagi pula dengan demikian kita peroleh gambaran yang jelas, apabila penelitian itu dapat dianggap selesai dan berakhir. 13 Hal ini untuk menghindari kekaburan dan kesimpangsiuran dalam pembahasan, sehingga dapat mengarah kepada pokok bahasan yang ingin dicapai. Adapun ruang lingkup penelitian ini adalah: a. Penelitian ini dilakukan di semester genap tahun ajaran 2015/2016. Hal ini disesuaikan dengan masa penelitian yang disediakan oleh pihak lembaga sekolah. b. Penelitian ini hanya dilakukan untuk siswa kelas VII H dan siswa kelas VII I di MTsN Tulungagung. 13 Nasution, Metode Research: Penelitian Ilmiah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hal. 20.

10 c. Proses pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Numbered Heads Together (NHT). d. Materi yang diajarkan dalam penelitian ini adalah segiempat. e. Hasil belajar matematika dibatasi pada penilaian post test kognitif setelah peneliti menerapkan perlakuan. C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Apakah ada Perbedaan Mode Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think Pair Share) dan NHT(Numbered Head Together) terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII MTsN Tulungagung Tahun Ajaran 2015/2016? D. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada Perbedaan Mode Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think Pair Share) dan NHT(Numbered Head Together) terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII MTsN Tulungagung Trenggalek Tahun Ajaran 2015/2016. E. Hipotesis Penelitian Secara etimologi, hipotesis (hypothesis) dibentuk dari dua kata, hypo dan thesis. Hypo berarti kurang dan thesis berarti pendapat, maksudnya adalah suatu kesimpulan yang masih kurang atau kesimpulan yang masih

11 belum sempurna. 14 Setelah peneliti merumuskan dan mengadakan penelaahan yang mendalam untuk menentukan anggapan dasar kemudian peneliti merumuskan hipotesis. Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka penelitian mengajukan hipotesis sebagai berikut: 1. H 0 (hipotesis nol) Adalah hipotesis yang menyatakan tidak adanya pengaruh antara variabel bebas (x) dan variabel terikat (y). H 0 (hipotesis nol) adalah sebagai berikut: Tidak ada perbedaan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) dan NHT(Numbered Head Together) terhadap hasil belajar matematika siswa kelas MTsN Tulungagung tahun ajaran 2015/2016. 2. H 1 (hipotesis kerja) Adalah hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara variabel bebas (x) dan variabel terikat (y) yang diteliti. H 1 (hipotesis kerja) adalah sebagai berikut: Adanya perbedaan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) dan NHT(Numbered Head Together) terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VII MTsN Tulungagung tahun ajaran 2015/2016. Adapun hipotesis yang akan dibuktikan dalam penelitian ini adalah Adanya perbedaan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) dan NHT(Numbered Head Together) terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VII MTsN Tulungagung tahun ajaran 2015/2016. hal. 75 14 M. Burhan Buangin. Metode Penelitian Kuantitatif. (Jakarta: Prenada Media. 2005),

12 F. Kegunaan Penelitian 1. Secara Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan bagi para guru dan institusi pendidikan yang akan memilih strategi atau model pembelajaran apa yang tepat digunakan untuk mencapai tingkatan hasil belajar yang baik serta dapat mencapai tujuan pendidikan nasional yang diharapkan. 2. Secara Praktis a. Bagi lembaga sekolah Penggunaan berbagai model pembelajaran sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran, manajemen pembelajaran melalui pimpinan sekolah akan menghasilkan guru- guru profesional dalam bidangnya dan dapat digunakan sebagai pengajaran. b. Bagi Guru MTsN Tulungagung Sebagai pertimbangan dalam pemilihan model yang tepat, guna meningkatkan hasi belajar siswa terutama pada anak kelas VII MTsN Tulungagung. Selain itu, guru juga dapat termotivasi untuk melakukan inovasi dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat tercipta suasana belajar yang lebih menyenangkan. c. Bagi siswa MTsN Tulungagung Diharapkan dapat memperkaya pemahaman pada konsep matematika dan dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar. d. Bagi Peneliti lain

13 Sebagai pendorong untuk terus berkarya dan sebagai penambah wawasan dan pemahaman terhadap objek yang diteliti guna menyempurnakan strategi pembelajaran matematika yang terus berkembang, juga sebagai bekal guna penelitian selanjutnya. G. Penegasan Istilah 1. Penegasan secara konseptual Agar tidak terjadi kesalahan dalam menafsirkan suatu istilah yang digunakan peneliti, maka perlu memperjelaskan istilah-istilah dalam judul proposal, yaitu: a. Matematika merupakan suatu ilmu yang mengkaji suatu hal yang abstrak kedalam hal-hal yang nyata dimana seseorang diajak untuk berfikir mengenai matematika yang berupa bilangan-bilangan berkaitan dengan perhitungan. b. Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagai merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang mengajak siswa aktif berfikir kelompok secara berpasangan untuk membandingkan tanya jawab kelompok secara keseluruhan. c. Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif dimana dalam tipe pembelajaran ini setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat satu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa. d. Pengertian hasil belajar merupakan salah satu alat untuk mengetahui apakah seseorang telah melakukan proses belajar.

14 2. Penegasan secara operasional Secara operasional yang dimaksud dengan perbedaan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Numbered Heads Together (NHT) terhadap hasil belajarmatematika adalah perbedaan dari penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Numbered Heads Together (NHT) dalam bidang matematika terhadap hasil belajar siswa. H. Sistematika Penulisan BAB I Pendahuluan berisi tentang;(a) latar belakang masalah, (b) identifikasi dan pembatasan masalah, (c) rumusan masalah, (d) tujuan penelitian, (e) hipotesis penelitian, (f) kegunaan penelitian, (g) penegasan istilah, (h) sistematika penulisan. BAB II landasan teori berisi tentang;(a) hakekat belajar matematika, pembelajaran model kooperatif, b) model pembelajaran kooperatif, (c)model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share),(d) model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Head Together),(e) belajar matematika, (f) segiempat, (g) hasil penelitian terdahulu, (h) kerangka berfikir. BAB III Metode penelitian berisi tentang; (a) rancangan penelitian, (b) variable penelitian, (c) populasi, sampel dan sampling, (d) instrument penelitian, (e) sumber data, (f) teknik pengumpulan data, (g) teknik analisis data. BAB IV Hasil Penelitian; (a) Deskripsi Data, (b) Pengujian Hipotesis. BAB V Pembahasan; (a) Rekapitulasi hasil penelitian, (b) pembahasan BAB VI Penutup; (a) Kesimpulan, (b) Saran.