RANCANGAN BUKAAN TAMBANG BATUBARA PADA PIT JKG PT. BBE SITE KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, MENGGUNAKAN APLIKASI MINESCAPE 4.118

dokumen-dokumen yang mirip
Artikel Pendidikan 23

DAFTAR ISI. Halaman RINGKASAN... iv KATA PENGANTAR... v DAFTAR ISI... vi DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR TABEL... xi DAFTAR LAMPIRAN...

Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 2 Periode: Sept Feb. 2016

DAFTAR ISI... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... BAB

BAB III LANDASAN TEORI

Prodi Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung Jl. Tamansari No. 1 Bandung

DESAIN TAMBANG PERTEMUAN KE-3

PERMODELAN DAN PERHITUNGAN CADANGAN BATUBARA PADA PIT 2 BLOK 31 PT. PQRS SUMBER SUPLAI BATUBARA PLTU ASAM-ASAM KALIMANTAN SELATAN

Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 1 Periode: Maret-Agustus 2015

OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT

DAFTAR ISI. IV. HASIL PENELITIAN Batas Wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) vii

Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 2 Periode: Sept Feb. 2016

BAB I PENDAHULUAN. yang rinci dan pasti untuk mencapai tujuan atau sasaran kegiatan serta urutan

BAB III LANDASAN TEORI

PERANCANGAN SEQUENCE PENAMBANGAN BATUBARA UNTUK MEMENUHI TARGET PRODUKSI BULANAN (Studi Kasus: Bara 14 Seam C PT. Fajar Bumi Sakti, Kalimantan Timur)

USULAN JUDUL. tugas akhir yang akan saya laksanakan, maka dengan ini saya mengajukan. 1. Rancangan Jalan Tambang Pada PT INCO Tbk, Sorowako

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan pertambangan merupakan suatu aktifitas untuk mengambil

Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 2 Periode: Sept Feb. 2016

EVALUASI PENCAPAIAN TARGET PRODUKSI ALAT MEKANIS UNTUK PEMBONGKARAN OVERBURDEN DI PIT 4 PT DARMA HENWA SITE ASAM-ASAM

Aplikasi Teknologi Informasi Untuk Perencanaan Tambang Kuari Batugamping Di Gunung Sudo Kabupaten Gunung Kidul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Oleh : Sundek Hariyadi 1 dan Rahman 2 ABSTRACT SARI. Dosen Program Studi Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Kutai Kartanegara 2.

TERHADAP RANCANGAN PUSH BACK

EVALUASI PRODUKSI ALAT MEKANIS UNTUK PEMINDAHAN OVERBURDEN DI PT RIUNG MITRA LESTARI SITE RANTAU

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Metode Penambangan 5.2 Perancangan Tambang Perancangan Batas Awal Penambangan

BAB IV PENAMBANGAN 4.1 Metode Penambangan 4.2 Perancangan Tambang

PERENCANAAN PRODUKSI PENGUPASAN OVERBURDEN PADA TAMBANG BATUBARA PERIODE DI PIT INUL EAST PT KALTIM PRIMA COAL PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. bergerak di sektor pertambangan batubara dengan skala menengah - besar.

Perencanaan Sequence Penambangan Batubara pada Seam 16 Phase 2 di PT. KTC Coal Mining & Energy, Kec. Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur

BAB I PENDAHULUAN. PT. PACIFIC GLOBAL UTAMA (PT. PGU) bermaksud untuk. membuka tambang batubara baru di Desa Pulau Panggung dan Desa

BAB V PEMBAHASAN. perencanaan yang lebih muda dikelola. Unit ini umumnya menghubungkan. dibuat mengenai rancangan tambang, diantaranya yaitu :

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Dewasa ini Industri pertambangan membutuhkan suatu perencanaan

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

RENCANA TEKNIS PENIMBUNAN MINE OUT PIT C PADA TAMBANG BATUBARA DI PT. AMAN TOEBILLAH PUTRA SITE LAHAT SUMATERA SELATAN

RANCANGAN TEKNIS DESAIN PUSH BACK PADA PENAMBANGAN BATUBARA PIT 10 DAN PIT 13 PT. KAYAN PUTRA UTAMA COAL KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA KALIMANTAN TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. suatu kegiatan yang penting dilakukan oleh suatu perusahaan, karena untuk

KAJIAN TEKNIS PRODUKTIVITAS ALAT GALI MUAT LIEBHERR 9400 DALAM KEGIATAN PEMINDAHAN OVERBURDEN DI PT RAHMAN ABDIJAYA JOB SITE PT ADARO INDONESIA

BAB III LANDASAN TEORI

Desain Pit untuk Penambangan Batubara di CV Putra Parahyangan Mandri, Kecamatan Satui Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan

BAB III LANDASAN TEORI

ANALISIS GEOMETRI JALAN DI TAMBANG UTARA PADA PT. IFISHDECO KECAMATAN TINANGGEA KABUPATEN KONAWE SELATAN PROVINSI SULAWESI TENGGARA

KAJIAN TEKNIS PRODUKTIFITAS ALAT MUAT DAN ALAT ANGKUT BATUBARA PADA PENAMBANGAN BATUBARA DI PT. BUKIT ASAM. SITE MTBU TANJUNG ENIM SUMATERA SELATAN

DAFTAR ISI. Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR GAMBAR... vi DAFTAR TABEL... vii DAFTAR LAMPIRAN... viii

ejournal Teknik sipil, 2012, 1 (1) ISSN ,ejurnal.untag-smd.ac.id Copyright 2012

BAB II TINJAUAN UMUM

TECHNICAL PLAN HOARDING IN POST-MINING AREAS WITH BACKFILLING DIGGING SYSTEM IN PIT KELUANG COAL MINE IN SOUTH SUMATRA, PT BATURONA ADIMULYA

BAB I PENDAHULUAN. yang berlimpah. Didalamnya terkandung kekayaan migas dan non-migas.

Proposal Kerja Praktek Teknik Pertambangan Universitas Halu Oleo

ANALISIS GEOMETRI JALAN DI TAMBANG UTARA PADA PT. IFISHDECO KECAMATAN TINANGGEA KABUPATEN KONAWE SELATAN PROVINSI SULAWESI TENGGARA

KAJIAN TEKNIS ALAT GALI MUAT DAN ALAT ANGKUT DALAM UPAYA MEMENUHI SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP PADA PENAMBANGAN BATUBARA DI PT

1. PERANCANGAN PIT DAN PUSHBACK

PERHITUNGAN PRODUKTIVITAS BULLDOZER PADA AKTIVITAS DOZING DI PT. PAMAPERSADA NUSANTARA TABALONG KALIMANTAN SELATAN

KAJIAN TEKNIS KERJA ALAT GALI MUAT UNTUK PENGUPASAN LAPISAN TANAH PUCUK PADA LOKASI TAMBANG BATUBARA DI PIT

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA DI BLOK SELATAN PT. DIZAMATRA POWERINDO LAHAT SUMATERA SELATAN

Kestabilan Geometri Lereng Bukaan Tambang Batubara di PT. Pasifik Global Utama Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan

EVALUASI PRODUKSI ALAT GALI MUAT DAN ALAT ANGKUT SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN TARGET PRODUKSI PADA PT PAMA PERSADA NUSANTARA DISTRIK KCMB

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

DESIGN OF DISPOSAL AREA FOR MINNING PLAN OF INUL EAST PIT DURING JULI 2013 TO DESEMBER 2014 IN HATARI DEPARTEMENT AT PT KALTIM PRIMA COAL

Metode Tambang Batubara

KAJIAN TEKNIS GEOMETRI JALAN HAULING PADA PT. GURUH PUTRA BERSAMA SITE DESA GUNUNG SARI KECAMATAN TABANG KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

PRODUKTIVITAS ALAT MUAT DAN ANGKUT PADA PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PIT 8 FLEET D PT. JHONLIN BARATAMA JOBSITE SATUI KALIMANTAN SELATAN

KAJIAN TEKNIS PRODUKSI ALAT MUAT DAN ALAT ANGKUT UNTUK MEMENUHI TARGET PRODUKSI TON/BULAN DI PT SEMEN PADANG INDARUNG SUMATERA BARAT

STANDART OPERASIONAL PROCEDURE

Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 2 Periode: Sept Feb. 2016

ANALISIS KEMAJUAN PENAMBANGAN BATUBARA MENGGUNAKAN SOFTWARE DAN PRISMOIDAL DI KALIMANTAN TIMUR

Oleh. Narendra Saputra 2) Dr.Ir.Eddy Winarno, S.Si., MT, Ir. R. Hariyanto, MT 1) Mahasiswa Teknik Pertambangan UPN Veteran Yogyakarta 2)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Akses jalan merupakan faktor penting dalam ketercapaian volume batuan

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Jl. Raya Palembang Prabumulih KM.32 Indralaya, Sumatera Selatan, Indonesia ABSTRAK ABSTRACT

Tambang Terbuka (013)

ANALISA PERHITUNGAN BIAYA PENGUPASAN OVERBURDEN PADA ALAT BULLDOZER DI PT. ALAM RAYA ABADI KABUPATEN HALMAHERA TIMUR

BAB 1 PENDAHULUAN. PT. Berau Coal merupakan salah satu tambang batubara dengan sistim penambangan

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. mengakibatkan semakin banyak berdirinya perusahaan perusahaan. pertambangan Batubara di Indonesia termasuk di Propinsi Jambi, salah

BAB V PEMBAHASAN. menentukan tingkat kemantapan suatu lereng dengan membuat model pada

RANCANGAN GEOMETRI LERENG AREA IV PIT D_51_1 DI PT. SINGLURUS PRATAMA BLOK SUNGAI MERDEKA KUTAI KARTANEGARA KALIMANTAN TIMUR

Disampaikan pada acara:

TEMPAT PENIMBUNAN STOCK PILE AND WASTE DUMP

KESERASIAN ALAT MUAT DAN ANGKUT UNTUK KECAPAIAN TARGET PRODUKSI PENGUPASAN BATUAN PENUTUP PADA PT. ADARO INDONESIA KALIMANTAN SELATAN

PENGARUH HASIL PELEDAKAN OVERBURDEN TERHADAP PRODUKTIVITAS ALAT GALI MUAT DI PIT INUL DAN PIT KEONG PT. KALTIM PRIMA COAL DI SANGATTA KALIMANTAN TIMUR

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENGARUH KESTABILAN LERENG TERHADAP CADANGAN ENDAPAN BAUKSIT

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. lereng, hidrologi dan hidrogeologi perlu dilakukan untuk mendapatkan desain

KAJIAN TEKNIS ALAT MUAT DAN ALAT ANGKUT DALAM UPAYA PENCAPAIAN PRODUKSI BATUBARA SEBESAR TON/BULAN PT

KAJIAN GEOTEKNIK KESTABILAN LERENG PADA PT. INDOASIA CEMERLANG SITE KINTAP KECAMATAN SUNGAI CUKA KABUPATEN TANAH LAUT PROFINSI KALIMANTAN SELATAN

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

STUDI TARGET PEMBONGKARAN OVERBURDEN BERDASARKAN KAJIAN PEMBORAN UNTUK LUBANG LEDAK DI PT BUKIT MAKMUR MANDIRI UTAMA JOBSITE

Oleh : Diyah Ayu Purwaningsih 1 dan Surya Dharma 2 ABSTRAK

PASCA TAMBANG. IZIN USAHA PERTAMBANGAN EKSPLORASI NOMOR: 545 / Kep. 417 BPMPPT / 2014

STUDI KASUS ANALISA KESTABILAN LERENG DISPOSAL DI DAERAH KARUH, KEC. KINTAP, KAB. TANAH LAUT, KALIMANTAN SELATAN

EVALUASI JALAN TAMBANG BERDASARKAN GEOMETRI DAN DAYA DUKUNG PADA LAPISAN TANAH DASAR PIT TUTUPAN AREA HIGHWALL

Rencana Penataan Lahan Bekas Kolam Pengendapan Timah Di Pit Tb 1.42 Pemali PT.Timah (Persero) Tbk, Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

PERANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUGAMPING UNTUK KEBUTUHAN PABRIK SEMEN DI PT. SINAR TAMBANG ARTHALESTARI KABUPATEN BANYUMAS PROVINSI JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. membutuhkan modal yang maksimal. Kebutuhan modal yang maksimal. menyebabkan perusahaan tambang berusaha agar kegiatan penambangan

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Oleh : Sujiman 1 dan Nuryanto 2 ABSTRAK

BAB V PEMBAHASAN. lereng tambang. Pada analisis ini, akan dipilih model lereng stabil dengan FK

DESAIN BACKFILLING BERDASARKAN RENCANA PASCATAMBANG PADA TAMBANG BATUBARA PT. KARBINDO ABESYAPRADHI COAL SITE TIANG SATU SUNGAI TAMBANG SUMATERA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. penggalian, muat dan pengangkutan material. Semua kegiatan ini selalu berkaitan

Transkripsi:

RANCANGAN BUKAAN TAMBANG BATUBARA PADA PIT JKG PT. BBE SITE KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, MENGGUNAKAN APLIKASI MINESCAPE 4.118 Asan Pasintik, Thresna Adeliana Lassa, Risanto Panjaitan Magister Pertambangan, FTM UPN Veteran Yogyakarta Jl. SWK 104 (Lingkar Utara), Condong Catur,Kec. Sleman, Yogyakarta e-mail : pasintik.unipa@gmail.com ; Adelianathresna@gmail.com ; Panjaitanrisanto@ymail.com Abstrak Pit JKG memiliki cadangan tertambang yang dibatasi oleh stripping ratio 12,27 sebanyak 1.090.041,35 MT dan volume overburden sebesar 13.369.870,11 BCM, volume penggalian coal dengan overburden berdasarklan target produksi fleet dengan total penggunaan fleet yakni 4 fleet dengan komposisi Dump Truck Hino FM 320 PD dengan Backhoe PC 400. Dari perhitungan tersebut umur tambang di pit JKG adalah 42 bulan (tujuh semester). Pada perencanaan tahap pertama batubara yang akan diproduksi sebanyak 55.720,20 MT dengan overburden sebesar 1.477.114,73 BCM. Pada tahap kedua batubara yang akan diproduksi sebanyak 145.540,12 MT dengan overburden sebesar 1.842.114,96 BCM. Pada tahap ketiga batubara yang akan diproduksi sebanyak 145.540,12 MT dengan overburden sebesar 1.839.682,57 BCM, pada tahap keempat batubara yang akan diproduksi sebanyak 166.343,65 MT dengan overburden sebesar 2.012.539,82 BCM. pada tahap kelima batubara yang akan diproduksi sebanyak 189.378,30 MT dengan overburden sebesar 2.192.106,01 BCM. Pada tahap keenam batubara yang akan diproduksi sebanyak 188.548,29 MT dengan overburden sebesar 2.213.242,27 BCM, sedangkan pada tahap terkahir batubara yang akan diproduksi sebanyak 198.970,67 MT dengan overburden sebesar 1793069.74 BCM. Sehingga total perolehan batubara adalah 1.090.041,34 MT sedangkan total overburden yang tertambang adalah 13369870.11 BCM dengan perbandingan stripping ratio adalah 12,27. Kata kunci : Rancangan Bukaan Tambang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perencanaan (planning) adalah penentuan persyaratan teknik untuk mencapai tujuan dan sasaran kegiatan yang sangat penting serta urutan teknis pelaksanaannya. Dalam tahapan ini, rancangan (design) bukaan tambang serta disposal area. PT.Bukit Baiduri Energi adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan dengan bahan galian batubara yang memiliki wilayah IUP (Izin Usaha Pertambangan) berada di Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. Dalam aktifitasnya, perusahaan ini secara berkesinambungan melakukan perancangan/desain bukaan tambang dengan rentang waktu yang bervariasi mulai dari perancangan jangka pendek sampai dengan perancangan jangka panjang dengan tujuan untuk mencegah setiap kemungkinan terburuk yang bisa terjadi seperti aspek teknis, ekonomi serta keselamatan kerja pada daerah yang dikerjakan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis akan melakukan perancangan bukaan tambang per enam bulan mulai dari awal pengerjaan dengan memperhatikan total cadangan, stripping ratio serta target produksi yang telah ditentukan. Perancangan tahapan penambangan merupakan salah satu bagian penting dalam suatu tambang, karena menyangkut aspek teknis dan ekonomis suatu proyek penambangan. Agar proses penambangan dapat mencapai tujuannya, maka perlu dirancang suatu desain pit untuk ditambang secara optimum. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dibuat suatu rancangan bukaan tambang yang didasarkan atas data-data penunjang, sehingga dapat mengetahui urutan penambangan dan dibuat berdasarkan pertimbangan akses jalan (ramp) serta rangkaian tahapan penambangan. 1.2 Masalah Penelitian Masalah yang dihadapi dalam penelitian ini adalah bagaimana cara membuat tahapan penambangan dengan batasan stripping ratio () tertentu dan alokasi fleet yang akan digunakan, geometri jalan yang akan digunakan dari setiap kemajuan tersebut, serta penanganan waste dalam setiap kurun waktu tersebut. 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan daripada penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Membuat tahapan penambangan (sequencece penambangan) setiap semester dengan menggunakan aplikasi minesccape 4.118 b. Menghitung produksi batubara dan waste tiap semester c. Menghitung geometri jalan tambang d. Membuat desain disposal

1.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Mengetahui total perolehan batubara dan waste setiap semester b. Mengetahui urutan penambangan (sequencece) dibuat berdasarkan pertimbangan akses jalan (ramp) dan rangkaian tahap penambangan. c. Mengetahui jumlah waste untuk penanganan setiap semester. d. Mengetahui cara serta urutan dalam membuat tahapan penambangan menggunakan aplikasi minescape 4.118. 1.5 Batasan Masalah Batasan masalah dalam pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Tahapan penambangan hanya difokuskan pada target produksi per semester b. Tidak membahas mengenai aspek keekonomisan bahan galian, geoteknik penambangan serta kualitas dari pada bahan galian (batubara). c. Data kemantapan lereng penambangan mengacu kepada data yang digunakan oleh perusahaan dalam membuat design. d. Penanganan air hanya dilakukan dengan membuat rencana letak drainase di area pit. e. Penentuan target produksi berdasarkan alokasi fleet yang ditentukan oleh perusahaan. II. METODE PENELITIAN Penelitian diawali dengan studi literatur dan kegiatan pengambilan data dilapangan untuk mengumpulkan beberapa data yang diperlukam. Kemudian dilakukan simulasi (permodelan dan perhitungan) dengan menggunakan Software Mincom Minescape 4.118 Adapun tahapan penelitian adalah sebagai berikut : a. Perhitungan Cadangan Pit Pada perhitungan cadangan ini menggunakan desain pit sebagai bottom surface sedangkan top surface menggunakan topografi daerah yang masih asli sehingga hitungan cadangan yang terbaca yakni memperhitungkan tinggi bench, lebar bench dengan batasan paling atas yaitu surface. Perhitungan cadangan terdiri dari empat langkah yakni : Polygon sampel, calculate reserve, accumulate samples, dan reformat block record. b. Pembuatan Sequence penambangan per semester Pembuatan sequence penambangan memperhatikan jumlah fleet yang akan digunakan dengan total produksi dari tiap tiap fleet tersebut, serta perbandingan dari tiap semester. c. Pembuatan jalan Pembuatan jalan ini mengacu kepada dimensi alat angkut yang akan digunakan dan jumlah jalur yang akan digunakan serta kemiringan maksimum dari jalan tersebut untuk mengoptimalkan pekerjaan dalam tambang. d. Perhitungan Cadangan Tertambang Perhitungan cadangan ini dimaksudkan untuk mengetahui total waste dan coal yang tertambang serta untuk mengetahui total dari sequence berjalan. e. Pembuatan Section 2 Dimensi Pembuatan section ini dimaksudkan untuk menjadi acuan dalam melakukan cutting pada semester berikutnya untuk menentukan posisi yang memiliki perbandingan yang diinginkan sehingga tetap stabil sampai umur tambang selesai. f. Penentuan posisi disposal Penentuan posisi disposal berdasarkan elevasi terendah didekat pit serta disesuaikan kapasitasnya dengan overburden yang akan dibongkar. Setelah itu ditentukan juga jalan menuju disposal, penentuan jalan disposal berdasarkan daerah landai dan diminimalisir sedikit mungkin adanya pemotongan material selama pembuatan jalan tersebut III. HASIL DAN PEMBAHASAN Rancangan penambangan merupakan langkah awal yang sangat penting sebelum melakukan penambangan bahan galian maupun pengupasan over burden serta inter burden untuk mencapai hasil yang maksimal, baik dari segi produksi batubara, keselamatan keja serta lingkungan. Rancangan teknik penambangan akan memberikan informasi pekerjaan yang telah dilakukan atau yang akan dikerjakan seperti : a. Rencana penggunaan fleet b. Produksi batubara dan waste berdasarkan alokasi fleet c. Total batubara dan waste yang tertambang dalam satuan waktu berdasarkan produksi dari fleet. 3.1 Konsep Penambangan 1) Penyebaran Batubara yang akan ditambang adalah TD7, TD6U, TD6, TD6L, TD5U, TD5, TD5L, TD4. 2) Sistem Penambangan Berdasarkan bentuk lapisan batubara, maka sistem penambangan yang akan diterapkan adalah sistem tambang terbuka dengan penempatan disposal di bekas penambangan pit senong yang letaknya di sebelah Barat dengan jarak sekitar 1000 meter ke arah Barat yang kemudian dilakukan back filling pada pertengahan penambangan berlangsung. Penambangan dilakukan secara bertahap yaitu dilakukan mulai dari pit Utara mengikuti elevasi ke

arah Selatan dengan arah kemajuan tambang mengikuti arah strike batubara yaitu ke Selatan pit. 3.2 Rencana Produksi Sesuai dengan rekomendasi perusahaan bahwa penambangan pit JKG akan dilakukan dengan menggunakan empat (4) fleet, dengan komposisi DT empat unit dan PC 400 satu unit sedangkan penempatan dari setiap fleet menyesuaikan dengan arah penggalian serta target yang direncanakan. Adapun penentuan target penggalian berdasarkan produksi dari fleet yang direncanakan yakni 367.200 tiap fleet, maka target penggalian yang direncanakan adalah : Target produksi overburden = 91.800 BCM/fleet Produksi semua Fleet = 91.800 BCM x 4 Fleet = 367.200 BCM/Bulan Total Produksi tiap = 367.200 BCM x 6 Bulan = 2.203.200 BCM/ Pada penambangan awal semester yakni bulan pertama direncanakan melakukan penambangan dengan menggunakan 3 fleet sehingga produksi di semester awal sebanyak 2.111.400 BCM, namun pada bulan kedua semester pertama dilakukan penambahan fleet sehingga total penggunaan fleet akan normal dibulan kedua. 3.3 Cadangan Tertambang Perhitungan cadangan tertambang batubara diperoleh dari desain tambang yang dibuat dan dibatasi oleh beberapa faktor, yaitu : a. Mining loses/recovery Perhitungan lapisan batubara yang ditinggalkan yaitu 10 cm pada roof dan 10 cm pada floor. Hal ini dilakukan pada interval lapisan batubara karena terkontaminasi dengan lapisan pengotor. b. Penentuan jenjang akhir penambangan Penentuan jenjang akhir penambangan sebagai faktor keamanan dibuat berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh PT. Bukit Baiduri Energi. a. Tinggi Jenjang Dalam proses penambangan, alat gali yang digunakan harus mampu mencapai puncak (crest) jenjang. Apabila tingkat produksi atau faktor lain mengharuskan ketinggian jenjang tertentu, maka alat gali yang digunakan harus disesuaikan. Dari rekomendari yang diberikan maka ketinggian jenjang untuk sequence penambangan adalah 5 meter dengan pertimbangan grade jalan tambang, serta untuk jenjang akhir penambangan adalah 10 meter. b. Lebar Berm Ada dua tujuan pembuatan berm, yaitu untuk mencapai target overall slope angle serta catch bench untuk menangkap batuan yang jatuh agar tidak sampai ke front kerja. Lebar berm aktif yang direkomendasikan adalah 5 m. c. Sudut Lereng Jenjang Dalam proses penambangan, sudut yang dibentuk ada dua jenis yakni overall slope dengan single slope er a arkan rekomen a per a aan o erall lope a ala e angkan nt k single slope a ala nt k single slope pada high wall e e ar e angkan nt k low wall ar le ke l ar a a pp t JKG rekomen a kan engan t diakibatkan pada area low wall adalah material timbunan dengan alasan pertimbangan teknis. c. Desain jalan tambang Geometri Jalan Lurus Penentuan lebar jalan angkut minimum untuk jalan l r a arkan pa a rule of thumb yang kem kakan Aasho Manual Rural Highway Design alam Yanto In one anto dengan rumus : L = n.wt + (n +1)(1/2.Wt),m L n : Lebar jalan angkut minimum, meter : Jumlah jalur = 2 Wt : Lebar alat angkut (total), meter = 2,5 m Maka diperoleh lebar minimum jalur angkut adalah : L.min = 2 x 2,5 +(2+1)(1/2 x 1,5) = 8,75 meter Dalam perancangan jalan angkut harus ditambahkan dengan tanggul pengaman sebesar 1,5 meter, serta untuk keperluan drainase sebesar 1,5 meter. Maka diperoleh geometeri jalan keseluruhan adalah sebesar 11,75 meter. Geometri Jalan Pada Tikungan Lebar jalan angkut pada tikungan selalu lebih besar dari pada lebar pada jalan lurus. Untuk jalur ganda, lebar minimum pada tikungan dihitung berdasarkan : a. Lebar jejak ban b. Lebar juntai alat angkut bagian depan dengan belakang c. Jarak antara alat angkut pada saat bersimpangan d. Jarak alat angkut terhadap tepi jalan Perhitungan terhadap lebar jalan angkut pada tikungan menggunakan rumus sebagai berikut : W = n ( U + Fa + Fb + Z ) +C C=Z = ½ ( U + Fa + Fb ) n = Jumlah jalur = 2 jalur U = Jarak jejak kendaraan = 1,860 m Fa= Lebar juntai depan = 1, 255 m Fb = Lebar juntai belakang = 1,760 m Z = Jarak antara dua truck = 1,507 m C = Jarak truk ke sisi luar = 1,507 m Diperoleh C=Z

= ½ ( 1,860 + 1,255 + 1,760 ) = 2,44 meter Maka diperoleh geometri jalan angkut pada tikungan adalah : W= 2 ( 1,860 + 1,255 + 1,760 + 2,44) + 2,44 = 17,07 meter Dari hasil perhitungan geometri jalan di atas maka didapatkan lebar pada jalan lurus sebesar 12 meter sedangkan pada tikungan lebar jalan adalah 17,07 meter Radius Putar Alat Jari-jari tikungan berhubungan dengan bentuk dan kontruksi alat angkut yang digunakan yakni ukuran maksimum dari alat tersebut. Perhitungan radius putar alat ini dimaksudkan untuk menentukan letak jalan serta lebar medan kerja sehingga alat yang lewat bisa dengan leluasa dalam melakukan belokan. Penentuan besarnya jari-jari tikungan menggunakan rumus sebagai berikut : R= Wb / sin α Dimana : Wb : Jarak antar poros roda depan dengan poros belakang αn: Sudut penyimpangan depan ( dari spesifikasi alat, maka didapatkan Wb = 5,465 meter Α maka total radius putar alat angkut adalah : R n = 6,42 meter Jadi total radius putar dari alat angkut HINO FM 320 PD adalah sebesar 6,42 meter. d. Stripping ratio Perbandingan stripping ratio dari setiap sequence penambangan bervariasi dari setiap sequence mengingat keekonomisan bahan galian tersebut saat dilakukan penambangan. Perbandingan dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 5.1 Perbandingan stripping ratio per sequence penambangan Perolehan Batubara Pembongkaran OB Stripping Ratio (MT) (BCM) Per 1 55,720.20 1,477,114.73 2 145,540.12 1,842,114.96 3 145,540.12 1,839,682.57 4 166,343.65 2,012,539.82 5 189,378.30 2,192,106.01 6 188,548.29 2,213,242.27 7 198,970.67 1,793,069.74 Total 1,090,041.35 13,369,870.11 1 : 12,27 3.4 Urutan dan Arah Penambangan Operasi penggalian dan pemuatan batubara maupun waste dilakukan dengan menggunakan backhoe Komatsu PC 400LC-7 dengan kapasitas bucket 1.9 m 3 dibantu dengan buldozer, untuk batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai sedang langsung digali dan dimuat ke dalam dump truck, sedangkan untuk yang keras diberaikan dulu dengan ripper pada buldozer, kemudian digali dan dimuat dengan backhoe. Gambar 5.1 Grafik produksi batubara tiap semester Gambar 5.2 Grafik produksi waste tiap semester Gambar 5.3 Grafik perbandingan stripping ratio tiap 1) Penggalian batubara semester pertama Penggalian batubara pada 6 bulan pertama dilakukan dari daerah original sampai pada elevasi terendah = 0 dengan luas 15,85 Ha, jumlah batubara yang diperoleh sebesar 55.720,20 MT dan untuk overburden sebesar 1.477.114,73 BCM, dengan perbandingan stripping ratio adalah 26,51 Penggalian tambang pada 6 bulan pertama bisa dilihat pada Tabel di bawah ini. Tabel 5.2. Penggalian semester 1 Coal(MT) 1 TD7 24,780.03 53,227.12 2 TD6U - 177,775.69 3 TD6 30,940.17 720,922.46 4 TD6L - 67,409.96 5 TD5U - 51,291.33 6 TD5-88,511.95 7 TD4-317,976.21 Slop stability Ob(BCM) 660,697.18 Total 55,720.20 1,477,114.73 1 : 26,51 2) Penggalian batubara semester kedua Penggalian batubara pada 6 bulan ke 2 dilakukan dari elevasi -5 dan sampai di elevasi +45 dengan pengerjaan memanjang ke Selatan dari kegiatan awal, luas daerah yang dikerjakan pada tahap ini

seluas 31,79 Ha, Jumlah batubara yang digali sebesar 145.540,12 MT dengan overburden sebesar 1.842.114,96 BCM dengan perbandingan stripping ratio adalah 12,66. Penggalian tambang pada 6 bulan kedua bisa dilihat pada tabel berikut : Tabel 5.3. Penggalian 2 1 TD7 19,741.19 140,735.71 2 TD7L - - 3 TD6U 2,913.53 35,111.77 4 TD6 99,181.41 369,883.16 5 TD6L 23,604.21 320,600.88 6 TD5U - 194,483.62 7 TD5 99.78 361,506.05 8 TD4-419,793.78 400,819.12 Total 145,540.12 1,842,114.96 1 : 12,66 3) Penggalian batubara semester ketiga Penggalian batubara pada 6 bulan ke 3 dilakukan dari elevasi -10 dan sampai di elevasi +35 dengan pengerjaan memanjang yang dikerjakan pada tahap ini seluas 31,79 Ha, Jumlah batubara yang diperoleh sebesar 145.540,12 MT dengan overburden sebesar 1.839.682,57 BCM dengan perbandingan stripping ratio adalah 12,64. Slop Stability Ob (BCM) Tabel 5.4. Penggalian semester 3 1 TD7 36,853.23 32,578.92 2 TD6U - 10,245.54 3 TD6 44,522.50 113,249.74 4 TD6L 18,323.14 336,047.88 5 TD5U - 226,493.33 6 TD5 17,235.98 673,049.55 7 TD4 28,605.27 448,017.62 Slop Stability 244,312.74 Total 145,540.12 1,839,682.57 1 : 12,64 4) Penggalian batubara semester keempat Penggalian batubara pada 6 bulan ke 4 dilakukan dari elevasi -10 dan sampai di elevasi +35 dengan pengerjaan memanjang yang dikerjakan pada tahap ini seluas 31,79 Ha, jumlah batubara yang diperoleh sebesar 166.343,65 MT dengan overburden sebesar 2.012.539,82 BCM dengan perbandingan stripping ratio adalah 12,10. Penggalian tambang pada 6 bulan keempat bisa dilihat pada table dibawah ini: Tabel 5.5. Penggalian semester 4 1 TD7 99.89 217.60 2 TD6U 264.54 1,565.66 3 TD6 9,829.72 10,708.55 4 TD6L 47,253.97 142,914.70 5 TD5U 802.62 371,392.29 6 TD5 49,650.76 837,922.96 7 TD5L 186.60 159.99 8 TD4 58,255.55 647,658.07 Total 166,343.65 2,012,539.82 1 : 12,10 5) Penggalian batubara semester kelima Penggalian batubara pada 6 bulan ke 5 dilakukan dari elevasi -55 dan sampai di elevasi +10 dengan pengerjaan memanjang yang dikerjakan pada tahap ini seluas 35,49 Ha, jumlah batubara yang diperoleh sebesar 189.378,30 MT dengan overburden sebesar 2.192.106,01 BCM dengan perbandingan stripping ratio adalah 11,58 Slop Stability Tabel 5.6. Penggalian semester 5 Total 189,361.60 2,192,106.01 1 : 11,58 6) Penggalian batubara semester keenam Penggalian batubara pada 6 bulan ke 6 dilakukan dari elevasi -70 dan sampai di elevasi +10 dengan pengerjaan memanjang yang dikerjakan pada tahap ini seluas 35,49 Ha, Jumlah batubara yang diperoleh sebesar 188.548,29 MT dengan overburden sebesar 2.213.242,27 BCM dengan perbandingan stripping ratio adalah 11,74 Tabel 5.7. Penggalian semester 6 228,094.26 1 TD7 339.46 2 TD6U - 500.40 3 TD6-203.77 4 TD6L 2,819.98 13,100.49 5 TD5U 15,850.96 572,699.52 6 TD5 48,670.33 491,825.76 7 TD5L 21,568.08 10,908.28 8 TD4 100,452.25 1,102,528.33 Slope Stability 48,483.50 1 TD7 11.69 338.40 2 TD6U - 501.14 3 TD6-203.51 4 TD6L 1,030.30 2,223.63 5 TD5U 119,719.81 6 TD5 24,962.14 649,582.93 7 TD5L 22,511.13 6,210.17 8 TD4 121,517.36 1,434,462.67 Slope Stability 75,171.30 TOTAL 170,032.62 2,213,242.27 1 : 11,74

7) Penggalian batubara semester ketujuh Penggalian batubara pada 6 bulan ke 7 dilakukan sampai membentuk overall slope pit yakni akhir penambangan dengan perolehan batubara sebesar 198.970,67 MT, dan overburden sebesar 1.793.069,92 BCM dengan perbandingan stripping ratio 9,01. Penggalian tambang pada 6 bulan ketujuh bisa dilihat pada tabel Tabel 5.8. Penggalian semester 7 Coal OB 1 TD7 11.69 264.23 2 TD6U - 582.43 3 TD6-203.14 4 TD6L - 413.72 5 TD5U 114.09 1,490.90 6 TD5 36,918.25 260,154.60 7 TD5L 123.89 95.61 8 TD4 161,802.75 1,529,865.13 Slope Stability 26,785.20 TOTAL 198,970.67 1,793,069.74 1 : 9,01 5.5 Penempatan Disposal Area Rencana lokasi Disposal area yang dibuat adalah sebagai berikut : a. Jarak dari permukaan kerja (front penambangan) masih ekonomis ( ±1km) b. Tidak ada cadangan batubara di bawah lokasi yang dipilih atau cadangan batubara di daerah tersebut tidak ekonomis untuk ditambang c. Tidak mengganggu daerah yang akan ditambang, sungai atau jalan, serta topografi permukaan diusahakan berupa lembah. Di Pit JKG Pembuangan overburden dilakukan di kolam bekas tambang pit Senong yang letaknya disebelah Barat pit JKG dan back filling ke daerah pit setelah mineout. Disposal area terletak di Barat Laut pit dengan jarak maksimal 1000 meter dari lokasi penambangan. Rencana dumping area yang akan dibuat adalah sebagai berikut : a. satu tahun pertama sampai 6 bulan berikutnya penimbunan akan dilakukan di disposal area yang merupakan kolam tambang yaitu pit Senong. b. berikutnya akan ditimbun pada daerah dekat pit JKG mengingat pit senong akan penuh pada 3 semester awal, sedangkan pada semester keenam akan dilakukan in pit dump sampai mineclose yaitu pada semester 7. IV KESIMPULAN 4.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil dari pengolahan data dalam perancangan tahapan penambangan (sequence) dapat disimpulkan bahwa : a. Rancangan produksi penambangan batubara terbagi menjadi 7 tahap yaitu : Tahap 1 batubara yang akan diproduksi sebanyak 557.20,20 MT dan overburden sebanyak 1.477.114,73 BCM dengan stripping ratio 26,51. Tahap 2 batubara yang akan diproduksi sebanyak 145.540,12 MT dan overburden sebanyak 1.842.114,96 BCM dengan stripping ratio 12,66. Tahap 3 batubara yang akan diproduksi sebanyak 145.540,12 MT dan overburden sebanyak 1.839.682,57 dengan stripping ratio 12,64 Tahap 4 batubara yang akan diproduki sebanyak 166.343,65 MT dan overburden sebanyak 2.012.539,82 BCM dengan stripping ratio 12,10. Tahap 5 batubara yang akan diproduki sebanyak 189.378,30 MT dan overburden sebanyak 2.192.106,01 BCM dengan stripping ratio 11,58. Tahap 6 batubara yang akan diproduki sebanyak 188.548,29 MT dan overburden sebanyak 2.213.242,27 BCM dengan stripping ratio 11,74. Tahap 7 batubara yang akan diproduki sebanyak 198.970,67 MT dan overburden sebanyak 1.793.069,74 BCM dengan stripping ratio 9,01 b. Mining Recovery pit JKG adalah 1.090.041,34 MT dengan nisbah pengupasan () adalah 12,27 : 1. c. Dimensi jalan angkut dibuat dengan lebar pada jalan lurus 11,75 meter, pada tikungan 17,07 meter, radius putar dari alat angkut adalah 6.42 meter sedangkan derajat kemiringan jalan (grade) maksimal 9%. d. Lokasi penimbunan waste adalah bekas penambangan pit Senong yang lokasinya berada sebelah Barat pit JKG, sedangkan pada semester 4 dilakukan penimbunan di sekitar pit JKG. Pada semester 6 dengan 7 dilakukan in pit dump. 4.2 Saran Adapun saran penulis dalam penelitian ini adalah : a. Penelitian selanjutnya di pit JKG agar membahas tentang kajian hidrologi pit untuk melengkapi penelitian ini. b. Kepada perusahaan agar memperhatikan kerusakan lingkungan akibat aktifitas penambangan terutama pada akhir tambang seperti bekas pit, disarankan supaya memberi perlakuan khusus terhadap bekas pit sehingga penerapan good mining practices bisa terwujudkan.

DAFTAR PUSTAKA Anggayana K, 2005, Eksplorasi Batubara, Institut Teknologi Bandung, Bandung Indonesianto Y, 2005, Pemindahan Tanah Mekanis, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jogjakarta Nurhakim, 2008, Pemodelan Dan Perencanaan Tambang, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru Sulistyana W, 2010, Perencanaan Tambang, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jogjakarta Suharsaputra U, 2012, Metode Penelitian, Refika Aditama, Bandung Suharsaputra U, 2012, Metode Penelitian, Refika Aditama, Bandung Nurhakim, 2008, Pemodelan Dan Perencanaan Tambang, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru Sulistyana W, 2010, Perencanaan Tambang, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jogjakarta Suharsaputra U, 2012, Metode Penelitian, Refika Aditama, Bandung