BAB II KONSEP DASAR A.

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II KONSEP DASAR. staphylococcus (Charlene J. Reeves,2001). pygenes, dapat juga disebabkan oleh virus. (Mansjoer,A. 2000).

BAB I PENDAHULUAN. tahun. Data rekam medis RSUD Tugurejo semarang didapatkan penderita

BAB II TINJAUAN TEORI

LAPORAN PENDAHULUAN TONSILITIS - RUANG BAITUNNISA 1 RSI SULTAN AGUNG SEMARANG

Tonsilitis. No. Documen : No. Revisi : Tgl. Terbit :

BAB I PENDAHULUAN. (40 60%), bakteri (5 40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain. Setiap. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013).

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS


5. Pengkajian. a. Riwayat Kesehatan

BAB II KONSEP DASAR A. PENGERTIAN. Tonsilitis adalah peradangan pada tonsil palatine yang merupakan

ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TIFOID

BAB I KONSEP DASAR. Selulitis adalah infeksi streptokokus, stapilokokus akut dari kulit dan

memfasilitasi sampel dari bagian tengah telinga, sebuah otoscope, jarum tulang belakang, dan jarum suntik yang sama-sama membantu. 4.

BAB I KONSEP DASAR. Berdarah Dengue (DBD). (Aziz Alimul, 2006: 123). oleh nyamuk spesies Aedes (IKA- FKUI, 2005: 607 )

BAB II TINJUAN PUSTAKA

nukleus seperti spienomegali dan limfadenopati generalisita.

Gambar. Klasifikasi ukuran tonsil

PEDOMAN PENGOBATAN DASAR DI PUSKESMAS 2007 Oleh Departemen Kesehatan RI

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan, dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut Farokah, dkk Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran

BAB I PENDAHULUAN. biasanya didahului dengan infeksi saluran nafas bagian atas, dan sering dijumpai

Tonsilofaringitis Akut

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gangguan pada sistem pernafasan merupakan penyebab utama

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. N DENGAN POST OPERASI TONSILEKTOMI DI BANGSAL ANGGREK RSUD SUKOHARJO

Famili : Picornaviridae Genus : Rhinovirus Spesies: Human Rhinovirus A Human Rhinovirus B

Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan. Sistem Imunitas

BAB I PENDAHULUAN. 1.Latar Belakang. Anak merupakan aset masa depan yang akan melanjutkan pembangunan

BAB I KONSEP DASAR. stadium yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalensi. Morbili adalah suatu penyakit yang sangat menular karena

BAB II TINJAUAN TEORI. tonsil atau amandel ( Reeves, Roux, Lockhart, 2001 ). Gerlach s tonsil ) ( Soepardi, Effiaty Arsyad,dkk, 2007 ).

Materi Penyuluhan Konsep Tuberkulosis Paru

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095

BAB I KONSEP DASAR. sepanjang saluran usus (Price, 1997 : 502). Obstruksi usus atau illeus adalah obstruksi saluran cerna tinggi artinya

LAPORAN KASUS (CASE REPORT)

Informasi penyakit ISPA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Muti ah, 2016

KELOMPOK III. Siti Rafidah K Sri Rezkiana andi L Nadia Intan tiara D Arsini Widya Setianingsih

LAPORAN PENDAHULUAN HEPATOMEGALI

LAPORAN KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT REGULER

aureus, Stertococcus viridiansatau pneumococcus

PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA)

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR DINAS KESEHATAN PUSKESMAS LENEK Jln. Raya Mataram Lb. Lombok KM. 50 Desa Lenek Kec. Aikmel

BAB I PENDAHULUAN. Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiforis, biasanya

MONITORING DAN ASUHAN KEPERAWATANA PASIEN POST OPERASI

APPENDISITIS. Appendisitis tersumbat atau terlipat oleh: a. Fekalis/ massa keras dari feses b. Tumor, hiperplasia folikel limfoid c.

VENTRIKEL SEPTAL DEFECT

BAB V PENUTUP. Setelah menguraikan asuhan keperawatan pada Ny. W dengan post

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN DEMAM CHIKUNGUNYA Oleh DEDEH SUHARTINI

BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Amandel atau tonsil merupakan kumpulan jaringan limfoid yang

BAB I KONSEP DASAR A. PENGERTIAN

BAB III ANALISA KASUS

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

A. lisa Data B. Analisa Data. Analisa data yang dilakukan pada tanggal 18 April 2011 adalah sebagai. berikut:

BAB I PENDAHULUAN. Apendisitis paling sering terjadi pada usia remaja dan dewasa muda. Insidens

Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio

cairan berlebih (Doenges, 2001). Tujuan: kekurangan volume cairan tidak terjadi.

BAB I KONSEP DASAR. dapat dilewati (Sabiston, 1997: 228). Sedangkan pengertian hernia

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASKEP AN. R DENGAN BISITOPENIA DI RUANG HCU ANAK RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG

INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan adalah modal utama bagi manusia, kesehatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Tonsilitis kronis merupakan penyakit yang paling sering dari semua

CA TONSIL 1. DEFINISI CA TONSIL

Implementasi dan Evaluasi Keperawatan No. Dx. Tindakan dan Evaluasi

Kekurangan volume cairan b.d kehilangan gaster berlebihan, diare dan penurunan masukan

BAB I KONSEP DASAR. saluran usus (Price, 1997 : 502). Obserfasi usus aiau illeus adalah obstruksi

BAB I PENDAHULUAN. yang terjadi pada usus kecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi.

SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP )

C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Penyakit demam berdarah adalah penyakit menular yang di

FARINGITIS AKUT. Finny Fitry Yani Sub Bagian Respirologi Anak Bagian IKA RS M Djamil- FK Unand

Organ yang Berperan dalam Sistem Pernapasan Manusia. Hidung. Faring. Laring. Trakea. Bronkus. Bronkiolus. Alveolus. Paru-paru

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Mengapa disebut sebagai flu babi?

Generated by Foxit PDF Creator Foxit Software For evaluation only. MORBILI

BAB I PENDAHULUAN. ini terdapat diseluruh dunia, bahkan menjadi problema utama di negara-negara

Laporan kasus. Dua hari berikutnya os batuk,dahak tidak banyak berwarna kekuningan dan suara parau

BAB 1 PENDAHULUAN. Reumatoid Arthritis (RA) merupakan suatu penyakit autoimun yang

SMP JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN VIII (DELAPAN) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) SISTEM PENCERNAAN MANUSIA

B A B 1 PENDAHULUAN. menginfeksi manusia. Menurut Tuula (2009), bakteri ini berada di kulit (lapisan

2. Pengkajian Kesehatan. a. Aktivitas. Kelemahan. Kelelahan. Malaise. b. Sirkulasi. Bradikardi (hiperbilirubin berat)

PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN POST PARTUM RETENSIO PLACENTA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

LAPORAN PENDAHULUAN Soft Tissue Tumor

BAB IV PEMBAHASAN. memberikan asuhan keperawatan terhadap Ny. A post operasi sectio caesarea

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. deformitas sendi progresif yang menyebabkan disabilitas dan kematian dini

BAB I PENDAHULUAN. siklus sel yang khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk tumbuh tidak

LAPORAN PENDAHULUAN. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PRE, INTRA, POST OPERASI HAEMOROIDEKTOMI DI RUANG DIVISI BEDAH SENTRAL RS. Dr.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ISPA

BAB I KONSEP DASAR A.

Jika tidak terjadi komplikasi, penyembuhan memakan waktu 2 5 hari dimana pasien sembuh dalam 1 minggu.

Radang liang telinga akut maupun kronis akibat infeksi jamur, bakteri, atau virus. Faktor predisposisi: trauma ringan, mengorek telinga.

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADIA PASIEN GANGGUAN KEBUTUHAN SUHU TUBUH (HIPERTERMI)

BAB I TINJAUAN TEORI. Suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah diastolic>90

BAB I PENDAHULUAN. Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm

Maria Ulfa Pjt Maria Lalo Reina Fahwid S Riza Kurnia Sari Sri Reny Hartati Yetti Vinolia R

Transkripsi:

BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian Tonsillitis merupakan inflamasi atau pembengkakan akut pada tonsil atau amandel (Reeves, 2001). Tonsilitis adalah peradangan pada tonsil yang terjadi karena virus, bakteri, atau jamur (Black, 2006). Tonsilitis adalah terdapatnya peradangan umum dan pembengkakan dari jaringan tonsil dengan pengumpulan leukosit, sel-sel epitel mati dan bakteri patogen dalam kripta (Derricson, 2009). Macam-macam tonsillitis menurut Reeves (2001) : 1. Tonsillitis Akut Dibagi menjadi 2, yaitu : a. Tonsilitis Viral Ini lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri tenggorokan Penyebab paling tersering adalah virus Epstein Barr. b. Tonsilitis Bakterial Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A stereptococcus beta hemoliticus yang dikenal sebagai strept throat,pneumococcus, streptococcus viridian dan streptococcus piogenes. Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri yang mulai mati. 2. Tonsilitis membranosa a. Tonsilitis Difteri Penyebab yaitu oleh kuman coryne bacterium diphteriae, kuman yang termasuk gram positif dan hidung disalurkan napas bagian atas yaitu hidung, faring dan laring. b. Tonsilitis Septik 5

Penyebab sterptococcus hemoliticus yang terdapat dalam susu sapi seningga menimbulkan epidemi. Oleh karena itu di Indonesia susu sapi dimasak dulu dengan cara paste urisasi sebelum di minum maka penyakit ini jarang di temukan. c. Angina plout Vincent Penyebab penayakit ini adalah bakteri spinachaeta atau triponema yang didapatkan pada penderita dengan hygiene mulut yang kurang dan difiensi vitamin C. Gejala berupa demam samapai 39 C, nyeri kepala, badan lemah dan kadang gangguan pencernaan. B. Anatomi Fisiologi Gambar 1.1 letak tonsil pada saluran pencernaan dan pernafasan Sumber : Mckesson, 2003 Tonsil terbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam yang meluas ke jaringan tonsil. Tonsil tidak mengisi seluruh fosa tonsil, daerah kosong di atasnya dikenal sebagai 6

fosa supratonsilaris. Bagian luar tonsil terikat longgar pada mushulus kontriktor faring superior, sehingga tertekan setiap kali makan. Walaupun tonsil terletak di orofaring karena perkembangan yang berlebih tonsil dapat meluas kearah nasofaring sehingga dapat menimbulkan insufiensi velofaring atau obstruksi hidung, walau jarang di temukan. Arah perkembangan tonsil tersering adalah kearah hipofaring, sehingga sering menyebabkan terganggunya saat tidur karena gangguan pada jalan nafas. Secara mikroskopik mengandung 3 unsur utama: 1. Jaringan ikat / trabekula sebagai rangka penunjang pembuluh darah saraf. 2. Jaringan interfolikuler yang terjadi jaringan limfoid dalam berbagai stadium. Abses peri tonsil terjadi setalah serangan akut tonsilitis. Kira-kira seminggu setelah permulaan sakit, penderita mulai merasa tidak sehat dan demam, serta disfagia timbul kembali. Gejala karakteristik abses peri tonsil ialah adanya trimus, tanpa gejala ini diagnosis abses peri tonsil mungkin salah. Tonsil (amandel) dan adenoid merupakan jaringan limfoid yang terdapat pada daerah faring atau tenggorokan. Keduanya sudah ada sejak lahirkan dan mulai berfungsi sebagai bagian dari sistem imunitas tubuh setelah imunitas warisan dari ibu mulai menghilang dari tubuh. Tonsil dan adenoid merupakan organ imunitas utama. Sistem imunitas ada 2 macam yaitu imunitas seluler dan humoral. Imunitas seluler bekerja dengan membuat sel (limfoid T) yang dapat memakan kuman dan virus serta membunuhnya. Sedangakan imunitas humoral bekerja karena adanya sel (limfoid B) yang dapat menghasilkan zat immunoglobulin yang dapat membunuh kuman dan virus. Kuman yang dimakan oleh imunitas seluler tonsil dan adenoid terkadang tidak mati dan tetap bersarang disana serta menyebabklan infeksi amandel yang kronis dan berulang (Tonsilitis kronis). Infeksi yang berulan ini akan menyebabkan tonsil dan adenoid bekerja terus dengan memproduksi sel-sel imun yang banyak sehingga ukuran tonsil dan adenoid akan membesar dengan cepat melebihi ukuran yang normal. Tonsil dan adenoid yang demikian sering dikenal sebagai amandel yang dapat menjadi sumber infeksi (fokal infeksi). 7

C. Etiologi Penyebab utama tonsilitis adalah kuman golongan streptokokus (streptokus α streptokokus ß hemolycitus, viridians dan pyogeneses), penyebab yang lain yaitu infeksi virus influenza, serta herpes (Nanda, 2008). Infeksi ini terjadi pada hidung / faring menyebar melalui sistem limpa ke tonsil hiperthropi yang disebabkan oleh infeksi bisa menyebabkan tonsil membengkak sehingga bisa menghambat keluar masuk udara. 50% bakteri merupakan penyebabnya. Tonsil bisa dikalahkan oleh bakteri maupun virus, sehingga membengkak dan meradang, dan juga menyebabkan tonsilitis (Reeves, 2001). D. Patofisiologi Bakteri atau virus menginfeksi pada lapisan epitel. Bila epitel terkikis, maka jaringan limpofid superficial menandakan reaksi, terdapat pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonukuler. Proses ini secara klinis tampak pada kriptus tonsil yang berisi bercak kuning disebut detritus. Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri dan epitel yang terlepas. Akibat dari proses ini akan terjadi pembengkakan atau pembesaran tonsil ini, nyeri menelan, disfalgia. Kadang apabila terjadi pembesaran melebihi uvula dapat menyebabkan kesulitan bernafas. Apabila kedua tonsil bertamu pada garis tengah yang disebut kidding tonsil dapat terjadi penyumbatan pengaliran udara dan makana. Komplikasi yang sering terjadi akibat disflagia dan nyeri saat menelan, klien akan mengalami malnutrisi yang ditandai dengan gangguan tumbuh kembang, malaise, mudah mengantuk. Pembesaran adenoid mungkin dapat menghambat ruang samping belakang hidung yang membuat kerusakan lewat udara dari hidung ke tenggorokan, sehingga akan bernafas melalui mulut. Bila bernafas terus lewat mulut maka mukosa membarne dari orofaring menjadi kering dan teriritasi, adenoid yang mendekati tuba eustachus dapat meyumbat saluran mengakibatkan berkembangnya otitis media (Nanda, 2008 ). 8

E. Manifestasi Klinik 1. Gejala tonsilitis antara lain : sakit tenggorokan, demam, dan kesulitandalam menela. 2. Gejala tonsilitis akut : gejala tonsilitis akut biasanya disertai rasa gatal / kering ditenggorokan, lesu, nyeri sendi, anoreksia, suara serak, tonsil membangkak. 3. Di mulai dengan sakit tenggorokan yang ringan hingga parah, sakit menekan terkadang muntah. Pada tonsilitis dapat mengakibatkan kekambuhan sakit tenggorokan dan keluar nanah pada lekukan tonsil. 4. Gambaran tonsilitis kronis : nyeri telan, bahkan dapat menginfeksi telinga bagian tengah, misal proses berjalannya kronis, tingkat rendahnya yang pada akhirnya menyebabkan ketulian permanen (Baughman, 2002). F. Komplikasi Faringitis merupakn komplikasi tonsilitis yang paling banyak didapat. Demam rematik, nefritis dapat timbul apabila penyebab tonsilitisnya adalah kuman streptokokus. Komplikasi yang lain dapat berupa : 1. Abses pertosil 2. Mastoiditis akut 3. Otitis media akut 4. Laringitis 5. Sinusitis 6. rhinitis G. Penatalaksanaan Penatalaksanaan umum menurut Soepardi, 2001: 1. Menjaga hygiene mulut 2. Pemberian antibiotik (penicilin) 9

3. Vit. C & B kompleks 4. Obat kumur Penatalaksanaan tonsilitis akut : 1. Antibiotik golongan peneliti anti sulfanamid selama 5 hari. 2. Antibiotik yang adekuat untuk mencegah infeksi sekunder dan untuk mengurangi edema pada laring. 3. Pasien diisolasi karena menular, tirah baring untuk menghindari komplikasi kantung selama 2-3 minggu atau sampai hasil usapan tenggorok 3 x negatif. 4. Pemberian antipiretik. Penatalaksanaan tonsilitis kronis : 1. Terapi lokal untuk hygine mulut. 2. Teori radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa H. Pengkajian Fokus dan Pemeriksaan Penunjang Pengkajian fokus pada pasien tonsilitis : 1. Wawancara : a. Kaji adanya riwayat penyakit sebelumnya b. Kapan gejala itu muncul c. Apakah mempunyai kebiasaan merokok d. Bagaimana pola makan e. Apakah rajin membersihkan mulut 2. Pengkajian pola : a. Data dasar pengkajian : Intergritas ego Gejala : perasaan takut, khawatir bila pembedahan mempengaruhi kemampuan kerja. Tanda : ansietas, depresi, menolak. b. Makanan cair Gejala : kesulitan menelan. 10

Tanda : kesulitan menelan, tersedak. c. Nyeri / keamanan Gejala : sakit tenggorokan kronis. Tanda : gelisah, perilaku berhati- hati. d. Pernafasan Gejala : riwayat merokok, bekerja dengan serbuk kayu (Charlene J. Reeves, 2001). Pemeriksaan Penunjang : 1. Usap tonsilar dikultur untuk menentukan adanya infeksi bakteri. Usapan bias teenggorokan, hidung. 2. Biopsy dilakukan pada semua kasus dengan pembesaran tonsil unuilateral. 3. Pemeriksaan darah lengkap. Leukosit : 11.20H Hemoglobin : 11.90 g/dl Trombosit : 314 4. Radiologi. 5. Thorak. 11

I. Pathways Bakteri (dlm udara & makanan) Virus (dlm udara & makanan) Streptococcus hemoliticus tipe A Virus hemoliticus influenza Reaksi antigen dan antibodi dalam tubuh Antibody dalam tubuh tidak dapat melawan antigen kuman Virus dan bakteri menginfeksi tonsil Epitel terkikis Peradangan tonsil produksi sekret berlebih Tonsilitis Bersihan jln nafas tdk efektif Pembesaran tonsil Peningkatan suhu tubuh Benda asing dijalan nafas Diprose Obst. Jalan nafas Kekurangan vol. Cairan Jalan nafas tdk efektif Obst. Mekanik Gangguan rasa nyaman nyeri Tonsilektomi Resiko kerusakan menelan Kurang pemahaman Resiko perdarahan Anoreksia Kurang pengetahuan Darah disaluran nafas Resiko perub. Nutrisi kurang dari kebutuhan Bersihan jln. nafas tdk efektif ( Reeves, 2001 ) 12

J. Diagnosa Keperawatan 1. Pre Operasi : a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi. b. Hipertemi berhubungan dengan proses penyakit. c. Gangguan menelan berhubungan dengan obstruksi mekanisme tonsilitis. d. Harga diri rendah berhubungan dengan penurunan fungsi tubuh. e. Cemas berhubungan dengan akan dilakukan tindakan tonsilektomi. 2. Post Operasi : a. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan. b. Resiko ketidak seimbangan nurisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan penurunan asupan sekunder akibat nyeri saat menelan. c. Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan tindakan pembedahan. d. Resiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi ditandai dengan luka terbuka (Carpenito, 2006). L. Intervensi dan Rasional 1. Pre Operasi : a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi(nic and Noc,2008). Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri dapat terkontrol Kriteria hasil : Nyeri dapat terkontrol, nyeri berkurang. Intervensi dan rasional : 1) I : Monitor perkembangan nyeri. R : Mengetahui tindakan dari yang dilakukan. 2) I : Monitor tanda-tanda vital darah dan nadi. R : Mengetahui keadaan pasien. 3) I : Berikan tindakan nyaman. 4) R : Meningkatkan relaksasi. 13

5) I : Cari perubahan karakteristik nyeri, periksa mulut dan tenggorokan. R : Dapat menunjukkan terjadinya komplikasi yang memerlukan evaluasi lanjutan. b. Hipertemi berhubungan dengan proses penyakit ditandai dengan suhu tubuh naik diatas rentang normal. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan suhu tubuh normal. Kriteria hasil : Pasien tidak gelisah, suhu tubuh normal {36-37 C}. Intervensi dan rasional : 1) I : Pantau suhu lingkungan. R : Suhu lingkungan harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal. 2) I : Pantau suhu pasien. R : Menunjukkan proses penyakit infeksius. 3) I : Berikan kompres hangat R : Dapat mengurangi demam c. Gangguan menelan berhubungan dengan obstruksi mekanisme tonsilitis ditandai dengan mengeluh ketika menelan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien mampu menelan dengan baik. Kriteria hasil : Reflek menelan baik, tidak tersedak saat menelan, tidak muntah, usaha menelan secara normal. Intervensi da rasional : 1) I : Berikan makanan lunak. R : Dapat membantu pasien untuk menelan. 2) I : Cek mulut adakah sisa-sisa makanan. 14

R : Agar dapat mengetahui adakah gangguan saat menelan. 3) I : Bantu pasien dengan posisi tegak sebelum makan. R : Dapat menghindari tersedak saat makan. d. Harga diri rendah berhubungan dengan fungsi tubuh. Tujuan : Tidak mengalami harga diri rendah Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman akan perubahan dan penerimaan diri pada situasi yang ada. Intervensi dan rasional : 1) I : Diskusikan situasi atau dorongan pernyataan takut, jelaskan hubungan antara gejala dengan asal penyakit. R : Pasien sangat sensitif terhadap perubahan tubuh. 2) I : Dukung dan dorong pasien, berikan perawat yang berperilaku bersahabat. R : Pemberian perawatan kadang-kadang memungkinkan penilaian perasaan pasien untuk memuat upaya untuk membantu pasien merasakan nilai pribadi. 3) I : Berkunjung atau berpartisipasi pada perawatan R : Anggota keluarga dapat merasakan bersalah tentang kondisi pasien. 4) I : Bantu dan dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan yang baik. R : Membantu peningkatan rasa harga diri dan kontrol atas salah satu bagian kehidupan. e. Cemas berhubungan dengan akan dilakukan tindakan tonsilektomi Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan cemas dapat berkurang. Kriteria hasil : Kecemasan dapat berkurang. 15

Intervensi dan rasional : 1) I : Kaji sejauh mana kecemasan pasien. R : Untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien. 2) I : Menginformasikan pasien atau orang terdekat tentang peran advokat perawat intra operasi. R : Mengembangkan rasa percaya diri. 3) I : Identifikasikan tingkat rasa cemas. R : Untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien. 4) I : Beri tahu pasien yang kemungkinan akan dilakukan tindaka operasi. R : Mengurangi rasa cemas atau takut. 2. Post Operasi : a. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan cairan terpenuhi. Kriteria hasil : Kekurangan volume cairan dapat teratasi dapat ditandai dengan tanda vital stabil, membran mukosa lembab, turgor kulit baik. Intervensi dan rasional : 1) I : Ukur dan catat jumlah darah. R : Potensial kekurangan cairan, khususnya bila tidak ada tambahan cairan. 2) I : Awasi tanda vital bandingkan dengan hasil normal R : Perubahan tanda vital dan nadi dapat digunakan untuk perkiraan kehilangan darah. 3) I : Catat respon fisiologi individual pasien terhadap pendarahan. 16

R : Memburuknya gejala dapat menunjukkan berlanjutnya perdarahan atau tidak adekuatnya penggantian cairan. 4) I : Awasi batuk karena akan mengiritasi luka dan menambah perdarahan. 5) R : Aktivitas batuk dapat meningkatkan tekanan intra abdomen b. Resiko ketidak seimbangan nurisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan penurunan asupan sekunder akibat nyeri saat menelan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan nutrisi terpenuhi dan seimbang. Kriteria hasil : Kebutuhan nutrisi pasien adekuat, tidak ada tanda-tanda malnutrisi. 1) I : Awasi masukan dan berat badan sesuai indikasi. R : Memberitahu informasi sehubung dengan kebutuhan nutrisi. 2) I : Berikan makanan sedikit dan lunak. R : Dapat membantu pasien saat menelan makanan. 3) I : Mulai makanan yang kecil dan sesuai toleransi. R : Kandungan makanan dapat mengakibatkan ketoleransian. 4) I : Auskultasi bunyi usus. R : Maka hanya dimulai setelah bunyi usus membaik. c. Ganguan rasa nyeri berhubungan dengan tindakan pembedahan Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri dapat berkurang atau hilang. Kriteria hasil : Nyeri berkurang, skala nyeri terkontrol. Intervensi dan rasional : 1) I : Tentukan karakteristik nyeri, misal : ditusuk, tajam. 17

R : Nyeri biasanya ada dalam beberapa derajat, juga dapat menimbul kan komplikasi. 2) I : Anjurkan pasien untuk mengurangi nyeri, Misal dengan minum air dingin atau air es. 3) R : Tindakan non analgetik diberikan dengan cara alternative Untuk mengurangi rasa nyeri. 4) I : Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. R : Menurunkan stress dan meningkatkan istirahat. 5) I : Pantau tanda vital. R : Perubahan tekanan darah dan jantung menandakan pasien mengalami nyeri. d. Resiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi ditandai dengan luka terbuka. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat menyatakan pemahaman tentang penyebab atau faktor resiko individu. Kriteria hasil : Menurunkan resiko infeksi, menunjukkan teknik atau pola hidup yang aman dan nyaman. Intervensi dan rasional : 1) I : Cuci tangan sebelum dan sesudah aktivitas. R : Menghindari kontaminasi silang. 2) I : Tetap ada fasilitas control infeksi steril. R : Tetapkan mekanisme yang dirancang untuk mencegah infeksi. 3) I : Siapkan lokasi operasi menurut produsen khusus. R : Minimalkan jumlah bakteri pada lokasi operasi. 18