JK: Tradisi Golkar di Pemerintahan

dokumen-dokumen yang mirip
ROBBY ANDRE / / 2EA26 TUGAS III. Disini saya akan coba untuk menjelaskan dan menggambarkan bagaimana

PASKA MUNASLUB: Golkar Perlu Branding Baru? LSI DENNY JA Analis Survei Nasional, Mei 2016

I. PENDAHULUAN. Konflik internal yang terjadi pada Partai Golongan Karya ( GOLKAR) bukan

2014 : PEMERINTAHAN GOLKAR ATAU PEMERINTAHAN PDIP? Lingkaran Survei Indonesia Februari 2014

GOLKAR PASCA PUTUSAN MENKUMHAM. LSI DENNY JA Desember 2014

BEREBUT DUKUNGAN DI 5 KANTONG SUARA TERBESAR. Lingkaran Survei Indonesia Mei 2014

BAB I PENDAHULUAN. Presiden dan kepala daerah Pilihan Rakyat. Pilihan ini diambil sebagai. menunjukkan eksistensi sebagai individu yang merdeka.

HARAPAN & ANCAMAN JOKOWI - JK

PT. Universal Broker Indonesia 1 MARKET OUTLOOK MEI: PILPRES. Oleh: Satrio Utomo PT. Universal Broker Indonesia. 26 April 2014

MEDIA SURVEI NASIONAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Tiara Ayudia Virgiawati, 2014

PILKADA OLEH DPRD DINILAI PUBLIK SEBAGAI PENGHIANATAN PARTAI

Publik Menilai SBY Sebagai Aktor Utama Kemunduran Demokrasi Jika Pilkada oleh DPRD

Head to Head Jokowi-JK Versus Prabowo Hatta Dan Kampanye Negatif. Mei 2014

KRISIS CAPRES DAN CAWAPRES PARTAI ISLAM : SIAPAKAH PASANGAN CAPRES- CAWAPRES TERKUAT PEMILU 2014? Lingkaran Survei Indonesia Maret 2013

SBY-Megawati bersalaman di Istana,

TIM PENYUSUN. Pengarah. Design-Layout

13 HARI YANG MENENTUKAN HEAD TO HEAD PRABOWO HATTA VS JOKOWI - JK. Lingkaran Survei Indonesia Juni 2014

EFEKTIVITAS STRATEGI OPOSISI DALAM PEMENANGAN PEMILU SERENTAK 2019 Nona Evita

BAB I PENDAHULUAN. wakil presiden dipilih oleh MPR dan anggota-anggotanya dipilih melalui

Headline Berita Hari Ini Periode: 30/05/2014 Tanggal terbit: 30/05/2014

I. PENDAHULUAN. pengaruh yang ditimbulkan oleh media massa (Effendy, 2003: 407).

PKB 4,5%, PPP 3,4%, PAN 3,3%, NASDEM 3,3%, PERINDO

SEJARAH PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

MAYORITAS PUBLIK INGIN CAPRES SIAP TERIMA KEKALAHAN. Konpers LSI Juli 2014

2014 PEMILIHAN UMUM DAN MEDIA MASSA

Efek Jokowi: Peringatan Penting dari Survei Eksperimental

KEPERCAYAAN TERHADAP DPR DI TITIK TERENDAH. LSI DENNY JA Analis Survei Nasional, Desember 2015

KAMPANYE NEGATIF DAN PREDIKSI HASIL PILEG Lingkaran Survei Indonesia April 2014

Setelah Pesta Usai. Kubu Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono lebih memilih menyerahkan masalah DPT ini pada KPU untuk diambil langkah penyelesaiannya.

Publik Cemas dengan Pemerintahan yang Terbelah

BAB I PENDAHULUAN. Dunia perpolitikan di Indonesia mengalami perkembangan pesat bila ditinjau dari segi

Pemilu 2014, Partai Islam Bakal 'Keok'

Kebangkitan Seminggu Terakhir. Head to Head Jokowi-JK vs Prabowo-Hatta

Legacy SBY Di Bidang Politik dan Demokrasi. LSI DENNY JA Oktober 2014

BAB I PENDAHULUAN. tak terkecuali sektor ekonomi. Berbagai sektor dalam perekonomian ini

Lembaga Survei Indonesia - IFES Indonesia. Survei Nasional Pasca Pemilihan Umum Presiden 2014 Oktober 2014

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

Pilpres Siapa yang Menang? Bisakah ada dua pemenang di Pilpres? Tidak mungkin. Pemenang Pilpres hanya satu, kalau bukan Prabowo- Hatta ya Jokowi- JK.

Analisis Isi Media Judul: MIP. No. 97 Pilpres 2014 Periode: 01/01/1970 Tanggal terbit: 05/05/2014

I. PENDAHULUAN. Ada hal yang berbeda pada pelaksanaan pilpres tahun 2014, dimana kita

INDEKS CAPRES PEMILU 2014 : CAPRES RIIL VERSUS CAPRES WACANA. Lingkaran Survei Indonesia Oktober 2013

Mayoritas Publik Ingin DPR Tandingan Segara Bubarkan Diri. LSI DENNY JA November 2014

Migrasi Aktivis ke Kekuasaan Politik. Oleh Tata Mustasya

LAPORAN SURVEI NASIONAL MEMBACA PETA DUKUNGAN & ELEKTABILITAS CAPRES-CAWAPRES 2014

DAFTAR ISI. Halaman Daftar isi... i Daftar Tabel... iv Daftar Gambar... v

BAB I PENDAHULUAN. perjalanan demokrasi di Indonesia. Berbagai kegiatan politik menarik

Dari Fadli dan Novanto: Welcome Papa Trump...

UNTUNG RUGI JOKOWI JADI PRESIDEN

BAB I PENDAHULUAN. DPR atau MPR. Karena pergantian sistem pemerintahan, banyak wajah wajah

Tiga Isu Menanti Kabinet Jokowi. LSI DENNY JA Oktober 2014

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Rosihan Arsyad dalam Sinar Harapan online pun menyatakan

BAB I PENDAHULUAN. Partai politik merupakan organisasi politik yang dapat berperan sebagai

Head to Head Dukungan Capres Pasca Penetapan Resmi KPU

BAB I PENDAHULUAN. politiknya bekerja secara efektif. Prabowo Effect atau ketokohan mantan

Presiden Seumur Hidup

BAB I PENDAHULUAN. di berbagai media massa baik elektronik maupun cetak semua menyajikan

KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN KENDAL. SALINAN KEPUTUSAN KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN KENDAL NOMOR: 11/Kpts/KPU-Kab-012.

BAB I PENDAHULUAN. memerlukan perppu (peraturan pemerintah pengganti undang-undang). 1 Karena

PROSPEK KABINET DAN KOALISI PARPOL

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal mengaku terhina andai calon presiden Indonesia wajib mendapatkan restu dari Amerika Serikat.

BAB 1 PENDAHULUAN. Partai Gerindra sebagai realitas sejarah dalam sistem perpolitikan

PILPRES & PILKADA (Pemilihan Presiden dan Pemilihan Kepala Daerah)

BAB I PENDAHULUAN. langsung oleh rakyat. Pemilihan umum adalah proses. partisipasi masyarakat sebanyak-banyaknya dan dilaksanakan

BAB I PENDAHULUAN. yang kemudian akan berkecimpung dalam dunia politik. 2 Peranan figur

Matahari Kembar Kapolri? LSI DENNY JA Januari 2015

MAYORITAS PUBLIK DUKUNG SBY KELUARKAN PERPPU PILKADA LANGSUNG. LSI DENNY JA Oktober 2014

LATIHAN SOAL TATA NEGARA ( waktu : 36 menit )

BAB 1 PENDAHULUAN. Selanjutnya pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, Kota Jambi merupakan

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA

Tentu saja bukan hanya Amerika, menurut saya banyak negara, bahkan negara sekecil Singapura saja punya kepentingan.

Ulangan Akhir Semester (UAS) Semester 1 Tahun Pelajaran

2015 MODEL REKRUTMEN PARTAI POLITIK PESERTA PEMILU 2014 (STUDI KASUS DEWAN PIMPINAN DAERAH PARTAI NASDEM KOTA BANDUNG)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pemilihan Umum (Pemilu) adalah salah satu cara dalam sistem

Transkripsi:

JK: Tradisi Golkar di Pemerintahan Daerah dan Ormas Partai Desak Munas Minggu, 24 Agustus 2014 JAKARTA, KOMPAS Ketua Umum DPP Partai Golkar periode 2004-2009 Jusuf Kalla mengatakan, tradisi Partai Golkar selama ini selalu berada di dalam pemerintahan atau mendukung pemerintah. Oleh karena itu, sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Golkar, musyawarah nasional digelar pada awal Oktober. Ini bukan pendapat saya. AD/ART Golkar yang menyatakan itu, dan tradisi Golkar sejak berdiri hingga sekarang ini, ya, memang begitu, kata JK, yang kini wakil presiden terpilih, bersama presiden terpilih Joko Widodo, kepada Kompas, Sabtu (23/8), di Jakarta. Menurut JK, di bawah kepemimpinan Aburizal Bakrie, Golkar bukannya mendukung mantan ketua umumnya yang pada Pemilu Presiden 9 Juli lalu maju sebagai calon wapres mendampingi calon presiden Jokowi, melainkan memilih mendukung pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Namun, banyak teman Golkar yang tidak suka pilihan tersebut. Jadi, kalau sekarang banyak yang mendesak Munas Partai Golkar digelar awal Oktober, ya, wajar saja. Sebab, mereka, kan, pegangannya AD/ART dan tradisi Golkar selama ini, lanjut wapres periode 2004-2009 ini. JK menyatakan, munas yang segera digelar akan dapat menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang terjadi selama ini. Munas akan mempersatukan kembali kader dan elite Golkar yang terpecah agar bisa solid dan berkarya lagi, tuturnya. Soal rekomendasi Munas Partai Golkar di Pekanbaru, Riau, tahun 2009, yang menyebutkan munas digelar pada 2015, JK mengatakan, derajat hukum rekomendasi berada di bawah AD/ART. Ditanya siapa calon ketua umum Golkar yang akan didukung, JK yang tidak ingin menjadi ketua umum Golkar lagi menyatakan terserah munas. Ironi Golkar Secara terpisah, salah seorang kader Golkar yang dipecat, Poempida Hidayatulloh, khawatir, apabila Golkar terlambat merespons perkembangan politik setelah putusan 1

sengketa perolehan suara di Mahkamah Konstitusi, yang menolak permohonan pasangan capres-cawapres Prabowo-Hatta, kerugian justru di Partai Golkar sendiri. Munas harus segera diadakan untuk menyelesaikan masalah dan mengantisipasi masa depan dan arah Golkar. Jangan kepentingan segelintir elite Golkar merugikan Golkar secara keseluruhan organisasi, ujarnya. Berdasarkan analisis Poempida, jika Golkar tetap berada di Koalisi Merah Putih, ironi politik Golkar akan terjadi. Masa Golkar harus beroposisi dengan kadernya dan mantan ketua umumnya sendiri, tuturnya. Hal senada disampaikan Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh, yang mendukung upaya elite dan kader Golkar untuk bergabung dengan Jokowi-JK. Hampir semua bupati, wali kota, dan gubernur asal Partai Golkar serta ormas partai diyakini punya aspirasi yang kuat untuk mendorong Golkar menjadi bagian dari pemerintah. Saya yakin, mayoritas kader Golkar yang duduk sebagai bupati/wali kota dan gubernur juga punya pemikiran yang sama, yakni melanjutkan sejarah dan tradisi Golkar sebagai pendukung pemerintah. Hal ini penting demi sinkronisasi program pembangunan dan pemerintahan dari tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota, ujarnya. Anwar, yang juga Gubernur Sulawesi Barat, berharap Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie segera melakukan pendekatan kepada presiden-wapres terpilih Jokowi-JK. Golkar tak perlu berlama-lama terlena dengan jargon koalisi permanen yang dideklarasikan pasangan Prabowo-Hatta. Cepat atau lambat, partai pendukung Koalisi Merah Putih dinilai akan berubah haluan untuk merapat ke pemerintahan Jokowi-JK. Ironis jika Golkar yang selama ini menjadi bagian dan pendukung pemerintah justru terlangkahi oleh manuver dari partai-partai lain. Bergabung dengan pemerintah berarti menyelamatkan Golkar dari keterpurukan yang berkepanjangan, ujarnya. Solid Dihubungi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Lalu Mara Satriawangsa mengatakan, pengurus Partai Golkar masih merasa solid untuk mendukung Koalisi Merah Putih meskipun JK berada di pemerintahan terpilih. 2

Siapa bilang ada keresahan (di pengurus Golkar)? Kalau berada di luar pemerintahan, apakah buruk? Justru pengurus Golkar di daerah yang ingin penetapan Koalisi Merah Putih di daerah, katanya. (RYO/NAR/HAR) "Tradisi Golkar adalah selalu berada dalam pemerintahan." Salim Said Begitu Kata Jusuf Kalla dan sejumlah besar petinggi Golkar sejak beberapa tahun silam. Kita harus hati-hati membaca pernyataan ini. Selama Orde Baru Golkar memang kekuatan politik yang didisain oleh Presiden Soeharto untuk menguasai DPR dan MPR. Agar kekuasaan militer kelihatan legal dan demokratis harus dibuktikan oleh dukungan mayoritas di DPR dan MPR.Jadi yang membuat Golkar selama puluhan tahun selalu menjadi pendukung pemerintah, bukan orang Golkar sendiri, melainkan rezim Soeharto. Adalah Soeharto dengan militer yang membangun Golkar sebagai kekuatan politik dengan tugas menduduki kursi-kursi DPR/MPR/DPRD lewat sejumlah pemilu Orde Baru. Secara singkat, marilah kita lihat perjalanan Golkar. Pada 24 Oktober 1964 dibawah lindungan militer --dalam rangka konflik dan pertarungan politik mereka dengan golongan Komunis -- Golkar berdiri sebagai Sekber (Sekretariat bersama Golongan Karya). Mereka yang tergolong dalam Sekber itu adalah sejumlah besar ormas yang mencari "perlindungan dari pengejaran politik PKI" Segala macam organisi yang diincer PKI bergabung dalam Sekber tersebut, termasuk Muhammadiah, PWI, Soksi, MKGR, Kosgoro, dan banyak lagi lainnya. Menjelang pemilu 1971 ABRI memerlukan kendaraan politik yang akan mereka pakai untuk menguasai DPR dan MPR. Setelah melalui "pembersihan" seperlunya, Sekber Golkar terpilih. Sejak pemilu 1971, pemilu pertama Orde baru, hingga pemilu terakkhir rezim Soeharto, 1997, Golkar selalu menduduki posisi mayoritas. Tentu tidak sulit menduduki posisi demikian jika para Gubernur hingga lurah (birokrasi) dan dari Panglima ABRI hingga Babinsa diwajibkan mendukung Golkar. Setelah reformasi, terjadi demokratisasi dan Golkar kehilangan patron dan pemakainya, Rezim Suharto dan kekuatan politik militer. Akbar Tanjung lalu mendeklarisan Golkar menjadi partai Golkar yang berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan banyak partai yang muncul di masa awal reformasi. Ini berarti posisi Partai Golkar (duduk di pemerintahan atau di luar kekuasaan) tergantung 3

pada keputusan rakyat yang memilih. Kalau rakyat memilih Golkar untuk memerintah, maka partai tersebut berada dalam kekuasaan. Kalau tidak, ya boleh saja menjadi oposisi atau penyeimbang. Berkuasa atau penyeimbang (artinya tidak bagian dari pemerintah) sama sekali tidak haram dan sangat sesuai dengan adat dan kebiasaan demokrasi. Jadi kalau sekarang muncul lagi cerita "Golkar selalu bagian dari pemerintah," maka soalnya adalah soal politik, soal kekuasaan, dan jelas bukan soal tradisi. Bagaimana akan bicara tradisi kalau usia Golkar sebagai partai tidak lebih tua dari umur Reformasi. Ini bukan untuk pertama kalinya terjadi. Sepuluh tahun silam SBY-JK memenangkan pilpres, sementara Golkar pimpinan Akbar Tanjung memilih bergabung dengan Megawati dalam koalisi kebangsaan yang berada di luar pemerintahan, Dengan alasan "Golkar selalu dalam pemerintahan," Wapres JK, lewat Munas Golkar di Bali merebut Golkar dari tangan Akbar Tanjung dan menjadikannya partai pendukung pemerintah. Dengan dukungan Golkar, posisi JK terhadap SBY menjadi menguat yang memunculkan ketegangan diam-diam SBY-JK. Akhir cerita JK tersingkir dari pemerintahan SBY jilid dua. Sekarang Golkar di bawah Ketua Umum Abu Rizal Bakri (ARB atau Ical) bergabung ke Koalisi Merah Putih pimpinan Prabowo yang berada di luar pemerintah. Mereka yang tidak mendukung ARB mulai lagi ribut bicara tentang "Golkar selalu mendukung pemerintah" Di balik ribut-ribut tersebut ada beberapa hal yang sebaiknya kita ketahui: 1. Memang ada sejumlah anggota Golkar yang sudah telanjur terlatih menjadi bagian dari pemerintah dan gamang berada di seberang pemerintah (oposisi atau penyeimbang). 2. Mantan Ketua Umum Golkar-- yang dulu merebut Golkar dari kekuasaan Akbar Tanjung di Bali-- adalah JK yang sekarang menduduki kursi Wapres untuk kedua kalinya. Banyak tokoh Golkar berharap JK merebut lagi Golkar dan menjadikan anggota-anggotanya di DPR pendukung Jokowi -JK. 3. Kelemahan ARB banyak. Tidak memenangkan posisi sebagai Presiden maupun Wapres, gagal mencapai target perolehan suara pada pileg, dan tidak memenuhi janji membangun gedung DPP Golkar setinggi 32 tingkat. Dia juga dipandang telah menjadikan dirinya hanya "pelengkap penderita di bawah sebuah partai (Gerindra) yang pendukungnya lebih kecil dari pendukung Golkar dalam pileg. Dengan kata lain, selain gagal ARB juga dianggap telah menghinakan Golkar, partai 4

terbesar kedua lewat pileg yang lalu. Ini alasan kongkrit "pemberontakan" sejumlah tokoh Golkar terhadap ARB. 4. Suara pendukung Jokowi-JK di DPR berada di bawah suara yang mendukung Koalisi Merah Putih. Untuk mengantisipasi "hambatan dan gangguan di DPR" nanti, pihak Jokowi-JK hari-hari ini dari jauh melambai-lambai kepada Golkar, mungkin juga PPP, Partai Demokrat (PD) dan PAN agar hijrah saja dari kubu Prabowo untuk bergabung ke koalisi pendukung Jokowi-JK. Hari-hari terakhir ini sejumlah elit Golkar mendesak Munas segera diadakan. Mereka berharap ARB dan kepengurusannya terpinggirkan sebelum 20 Oktober (hari pelantikan Presiden dan Wapres) agar ketika bergabung ke kubu Jokowi-JK masih ada waktu bagi sejumlah tokoh Golkar untuk masuk dalam kabinet yang segera akan diumumkan Jokowi-JK tidak berjarak lama setelah pelantikan 20 Oktober nanti. *** Bung Salim. 5