PERENCANAAN BAHAN PEMBELAJARAN H.

dokumen-dokumen yang mirip
PERENCANAAN TEKNIK PEMBELAJARN. H. Rahman

1) Kurikulum Kurikulum, dalam hal ini GBPP (Garis-Garis Besar Program Pengajaran)

DESAIN INSTRUKSIONAL BAHASA Sebuah Penganatar

PENGEMBANGAN SISTEM DISAIN NSTRUKSIONAL

PERENCANAAN KARAKTERISTIK TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

BAB I PENDAHULUAN. pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial yang terdapat di

BAB I PENDAHULUAN. upaya lapisan masyarakat terhadap setiap gerak langkah dan perkembangan dunia

Bahasa Indonesia merupakan salah satu hasil kebudayaan yang harus. dipelajari dan diajarkan. Pengajaran bahasa Indonesia pada hakikatnya merupakan

BAB I PENDAHULUAN. khususnya bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang penting dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk

SILABUS BAHASA INDONESIA KELAS VI SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN

I. PENDAHULUAN. secara kreatif dapat memikirkan sesuatu yang baru. berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan hendaknya berupa kata-kata

KEMAMPUAN MENULIS CERPEN BERDASARKAN PENGALAMAN SISWA DI SMP NEGERI 17 KOTA JAMBI

KISI-KISI SOAL KOMPETENSI PROFESIONAL BIDANG STUDI BAHASA INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran bahasa Indonesia adalah menyimak, berbicara, membaca, dan. kesatuan dari aspek bahasa itu sendiri (Tarigan, 2008: 1).

BAB I PENDAHULUAN. orang lain, memengaruhi atau dipengaruhi orang lain. Melalui bahasa, orang dapat

BAB I PENDAHULUAN. E. Latar Belakang. Pembelajaran bahasa Indonesia adalah pembelajaran yang lebih menekankan

Sumber/Bahan/Alat (8) Tak Putus Dirundung. Alokasi (7) Waktu. Penilaian (6) Pembelajaran. Kegiatan (5) novel. Indikator (4) Mampu.

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam pengajaran bahasa dan sastra Indonesia terdapat empat keterampilan

Kisi-Kisi Uji Kompetensi Guru Tahun 2012

Gagasan yang dituangkan dalam. Selalu ada jarak antara idea dengan kata-kata. TULISAN. Masalah Anda apa?

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada dasarnya setiap orang yang belajar bahasa dituntut untuk menguasai

Kisi-Kisi Uji Kompetensi Awal Sertifikasi Guru Tahun 2012

BAB I PENDAHULUAN. komunikasi di tengah-tengah pergaulan dan interaksi sosial. Melalui penguasaan

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik

KISI UJI KOMPETENSI 2014 MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA

I. PENDAHULUAN. pidato. Ketika menulis teks pidato, banyak faktor yang perlu diperhatikan seperti kosa kata,

BAB I PENDAHULUAN. Keempat keterampilan tersebut saling berhubungan, tidak boleh dipisahpisahkan

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, manusia dapat menemukan hal-hal baru yang dapat dikembangkan dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada hakikatnya, belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi.

BAB I PENDAHULUAN. Suatu karangan terdiri dari beberapa kalimat yang kemudian disusun

BAB I PENDAHULUAN. pemersatu bangsa Indonesia. Selain itu, Bahasa Indonesia juga merupakan

SILABUS. Nama Sekolah : SMA Negeri 3 Medan Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/Semester : XII / 1 Alokasi Waktu : 4 x 45 Menit

SPESIFIKASI SOAL UASBN

BAB I PENDAHULUAN. Kemampuan menulis merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Tarigan dalam Munthe (2013:1), dalam silabus pada KD 13.1 disebutkan, bahwa salah satu kompetensi yang harus

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan

BAB II KAJIAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKAN

RELASI TEMPORAL ANTARKLAUSA DALAM KALIMAT MAJEMUK BERTINGKAT PADA WACANA KUMPULAN CERPEN DARI SITUS SKRIPSI

PROGRAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR KELAS V SEMESTER

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

BAB I PENDAHULUAN. terpisahkan dalam seluruh proses pembelajaran di sekolah. Pembelajaran menulis

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Sastra merupakan tulisan yang bernilai estetik dengan kehidupan manusia sebagai

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan dan intelektual, sosial,

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Reni Febriyenti, 2015

BAB I PENDAHULUAN. budayanya dan budaya orang lain, serta mengemukakan gagasan dan

BAB I PENDAHULUAN. dalam merangkai kata. Akan tetapi, dalam penerapannya banyak orang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. realitas, dan sebagainya. Sarana yang paling vital untuk memenuhi kebutuhan

BAB 1 PENDAHULUAN. mencakup empat jenis yaitu keterampilan menyimak (listening skill),

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia mengandung keterampilan

BAB I PENDAHULUAN. mendukung, saling mengisi, dan saling melengkapi. Ketika seseorang ingin

BAB 1 PENDAHULUAN. penelitian ini, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan, manfaat dan definisi

Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. dirinya, budayanya serta budaya orang lain. Pembelajaran bahasa juga dapat

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

BAB I PENDAHULUAN. berbahasa (Indonesia) merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh

I. PENDAHULUAN. II. RUMUSAN MASALAH 1. Apa yang dimaksud dengan Topik? 2. Apa yang dimaksud dengan Tema? 3. Apa yang dimaksud dengan Judul?

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Paradigma inilah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kurikulum Nasional merupakan pengembangan dari Kurikulum 2013 yang

Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen dengan Strategi Copy The Master Melalui Media Audio Visual pada Siswa Kelas IX-C SMPN 2 ToliToli

BAB 1 PENDAHULUAN. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya anggapan bahwa keterampilan

BAB I PENDAHULUAN. senantiasa berkomunikasi di antara anggota masyarakat tidak akan dapat

BAB 1 PENDAHULUAN. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam kurikulum satuan tingkat

34. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas Luar Biasa Tunarungu (SMALB B)

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia di sekolah memegang peranan penting dalam mengupayakan dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Komunikasi dalam hidup bermasyarakat bukan hanya melalui lisan yang dilakukan

Keterampilan Dasar Menulis

KEMAMPUAN MENULIS TEKS BERITA SISWA KELAS VIII E SMP NEGERI 7 MUARO JAMBI TAHUN PELAJARAN 2017/2018 SKRIPSI OLEH HINDUN RRA1B114025

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Menulis merupakan keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang melalui proses

II. LANDASAN TEORI. dan pengenalan yang tepat, pertimbangan, penilaian dan pernyataan yang

BAB I PENDAHULUAN. menyampaikan apa yang sedang dipikirkannya. Dengan demikian manusia dapat

KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN DAN KEMAMPUAN BERCERITA SISWA KELAS VI SD 03 KALIYOSO KECAMATAN UNDAAN KABUPATEN KUDUS TAHUN AJARAN 2007/2008 SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra

SILABUS PEMBELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN. pikiran, pendapat, imajinasi, dan berhubungan dengan manusia lainnya.

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. maupun kehidupan sehari-hari. Seseorang dapat menggali, mengolah, dan

PROGRAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR KELAS V SEMESTER 2

BAB 1 PENDAHULUAN. kebahasaan dan keterampilan berbahasa. Pengetahuan kebahasaan meliputi

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas sumber manusia itu tergantung pada kualitas pendidikan. Peran

BAB 1 PENDAHULUAN. Keterampilan menyampaikan ide, pikiran, gagasan, dan perasaan secara tertulis

RAGAM TULISAN KREATIF. Muhamad Husni Mubarok, S.Pd., M.IKom

BAB I PENDAHULUAN. Keempat aspek tersebut memiliki hubungan yang erat satu sama lain.

33. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas Luar Biasa Tunanetra (SMALB A)

2015 PENERAPAN METODE IMAGE STREAMING MELALUI MEDIA GAMBAR DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI

BAB I PENDAHULUAN. Penguasaan kemampuan berbahasa Indonesia sangat penting sebagai alat

PEMANFAATAN MEDIA GAMBAR BERSERI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS NARASI SISWA KELAS V SD NEGERI I GEBANG NGUNTORONADI WONOGIRI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

KISI-KISI SOAL ULANGAN KENAIKAN KELAS Tahun 2012/2013

BAB I PENDAHULUAN. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia bukan mata pelajaran eksak, namun

Transkripsi:

PERENCANAAN BAHAN PEMBELAJARAN H. Rahman Pengantar Perencanaan pemilihan bahan pembelajaran termasuk salah satu kompetensi guru, kompetensi ini harus dikuasai oleh guru, bahkan oleh dosen apalagi. Mengapa kompetensi ini harus dikuasai guru atau dosen? Hal ini dilatarbelakangi dengan masalah yang sering timbul pada pengajar, yakni banyak materi yang harus diajarkan dalam waktu yang terbatas. Namun sebaliknya, bagi guru pemula, calon guru, atau guru yang baru membina mata pelajaran tertentu masalah yang timbul adalah kurang bahan pembelajaran ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Kasus yang pertama mengilustrasikan bahwa wawasan pengajar luas, sedangkan kasus yang kedua menggambarkan bahwa wawasan pengajar sempit. Baik pengajar yang memiliki wawasan luas, maupun pengajar yang memiliki wawasan kurang atau pas-pasan perlu menguasai kompetensi perencanaan bahan pembelajaran agar waktu yang telah dialokasikan untuk pembelajaran dapat dimanfaatkan dengan efisien. Untuk mendukung peningkatan kompetensi pengajar mengenai perencanaan bahan pembelajaran, dalam tulisan ini dikemukakan perencanaan bahan pembelajaran yang mencakup macam-macam bahan pembelajaran, isi pembelajaran, tipe pemilihan bahan pembelajaran, kriteria pemilihan dan pengembangan materi, dan rumusan pembelajaran. 1 Pengertian Perencanaan bahan pembelajaran berarti persiapan materi agar warga belajar dapat belajar. Bahan pembelajaran adalah gabungan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus dikuasai warga belajar. Pengetahuan dalam pengajaran Bahasa Indonesia mencakup pengetahuan berbahasa dan bersastra baik secara lisan, maupun secara tulis. Keterampilan dalam pengajaran Bahasa Indonesia meliputi keterampilan aspek reseptif dan aspek produktif. Sedangkan, sikap dalam pengajaran Bahasa Indonesia membawahi cara pandang, perilaku berdasarkan pendirian, dan kepedulian terhadap bahasa dan sastra Indonesia dan pengajarannya. Adapun keterampilan reseptif ialah kesanggupan seseorang pemakai bahasa dalam menyimak dan membaca dengan baik dalam rangka memperoleh berbagai informasi. Keterampilan produktif kesanggupan seseorang pemakai bahasa dalam berbicara dan menulis, yakni kesanggupan menyampaikan sesuatu ide (gagasan, keingingan, pendapat, dsb.), dan kesanggupan menuliskan sesuatu ide.

2 Macam Bahan Pembelajaran Macam bahan pembelajaran ialah pengetahuan, keterampilan, dan sikap berbahasa. a. Pengetahuan Macam bahan pengetahuan tentang kebahasaan dan kesastraan ialah hal-hal yang berhubungan dengan fakta dan informasi tentang kebahasaan dan kesastraan. 1) Fakta Kebahasaan Fakta kebahasaan, seperti mengingat perluasan makna tentang contohcontoh hiponim, homonim, sinonim, dan antonim. - Hiponim ialah hubungan antara makna spesifik dan makna generik. kambing, kelinci, kerbau, kuda, anjing, angsa disebut hiponim hewan. - Homonim ialah kata yang sama lafal dan ejaannya, tetapi berbeda maknanya karena berasal dari sumber yang berlainan. Bisa yang berarti dapat, dan bisa yang berarti racun (hak pada sepatu, dan hak pada kah azasi manusia) - Sinonim ialah bentuk bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk bahasa lain. pergi dengan berangkat meninggal dengan wafat - Antonim ialah kata yang berlawanan makna dengan kata lain. siang adalah lawan dari malam gelap adalah lawan dari terang 2) Fakta Kesastraan Fakta kesastraan, seperti mengingat unsur-unsur sastra yang terdapat pada suatu novel. Unsur yang diingat umpamanya unsur pelaku (tokoh), karakter tokoh, tempat (setting), waktu, jalan cerita (plot), tema, dan amanat. b. Keterampilan Macam bahan keterampilan tentang kebahasaan dan kesastraan ialah halhal yang berhubungan dengan fakta dan informasi tentang kebahasaan dan kesastraan. Dalam hal ini keterampilan menggunakan langkah-langkah, prosedur, dan syarat-syarat suatu aturan.

c. Sikap Macam bahan pengetahuan tentang sikap dalam pengajaran Bahasa Indonesia, seperti sikap rasa memiliki, rasa meyenangi, rasa banggsa, dan rasa memelihara bahasa dan sastra Indonesia. Langkah pemilihan dan pengembangan materi pembelajaran dalam model PPSI dilaksanakan setelah penentuan rumusan pembelajaran, setelah pengembangan alat evaluasi, dan setelah kegiatan pembelajaran. Pemilihan dan pengembangan macam bahan pembelajaran dipedomani oleh Kurilulum (GBPP). Dengan adanya kurikulum dan GBPP, guru/pengajar dipermudah untuk memilih dan mengembangkan bahan pembelajaran. Hal ini dimungkinkan karena dalam GBPP (Garis-Garis Besar Program Pengajaran) telah disediakan konsep pembelajaran secara lengkap. GBPP (Garis-Garis Besar Program Pengajaran) berfungsi di antaranya sebagai pedoman bagi pengajar dalam pemilihan dan pengembangan isi pembelajaran. GBPP memuat materi pembelajaran berupa konsep kebahasaan dan kesastraan. Materi pembelajaran tersebut harus dipilih dan dikembangkan menjadi bahan pembelajaran. 3 Isi Pembelajaran Isi pembelajaran paling tidak ada empat macam, yakni fakta, konsep, prosedur, dan prinsip. a. Fakta Fakta ialah hal (kenyataan atau peristiwa) yang benar-benar terjadi/ada. Isi pembelajaran yang berupa fakta mengarahkan dan membimbing warga belajar untuk mengingat nama obyek, mengingat simbul, dan atau mengingat peristiwa. Nama obyek yang harus diingat warga belajar bisa berupa yang terdapat dalam alam lingkungan alam (alam nyata yang sebenarnya), bisa pula berupa nama oyek yang terdapat dalam karya imajinatif. Dalam wacana, baik wacana bentuk puisi, maupun bentuk prosa sering ditemukan nama-nama obyek dan peristiwa-peristiwa yang seakan-akan dapat dilihat dan dapat dirasakan. Padahal obyek itu hanya berupa deretan kata. Deretan kata yang mendeskripsikan suatu fenomena suatu ceritra umpamanya. Fakta yang terdapat dalam wacana disuguhkan untuk diingat oleh warga belajar. Mereka dikondisikan untuk menyebutkan nama-nama tempat, namanama pelaku, nama peristwia, waktu kejadian dan yang sejenis. b. Konsep Konsep berarti ide atau pengertian yang diabtrakkan dari peristiwa konkret. Isi pembelajaran yang berupa konsep mengarahkan dan membimbing warga belajar untuk menyatakan definisi, menyebutkan ciri-ciri, atau

mengklasifikasikan. 1) Menyatakan Definisi Menyatakan definisi dapat diperoleh dengan dua cara. Cara pertama, warga belajar dihadapkan kepada definisi untuk dikaji dan diingat. Definisi yang dikaji dan diingat itu setelah proses belajar mengajar ditanyakan lagi kepada warga belajar agar warga belajar menyatakan kembali, baik dalam bentuk pernyataan lisan, maupun dalam bentuk pernyataan tulis. Cara kedua, dengan cara induktif, yakni warga belajar disuguhi beberapa contoh dalam topik yang sama. Dari contoh-contoh yang diajukan itu diarahkan untuk dibuat generalisasi yang berupa kesimpulan. Selanjutnya, dari kesimpulan itulah dibuat sebuah definisi. Dengan cara yang kedua ini, warga belajar dikondisikan untuk dapat menyatakan definisi. 2) Menyebutkan Ciri-Ciri Ciri-ciri suatu objek yang harus disebutkan warga belajar bisa diambil dari beberpa hal, seperti sebagai berikut. (a) Ciri-ciri diambil dari definisi atau pengertian (1) Komponen proses belajar mengajar ialah tujuan, murid, guru, konsep pembelajaran, pendekata/metode/teknik, media/alat peraga, dan evaluasi. (2) Paradigma kualitatif bersifat: mendukung metode kualitatif, verstehen, fenomenologisme, naturalistis dan observasi yang terkontrol, subyektif, mendekati data, grounded, eksploratori, berorientasi pada penemuan dan proses, deskriptif dan induktif, valid tidak dapat digeneralisasi pada suatu studi kasus, holistik, dan berasumsi pada pada kenyataan yang dinamis. Dari contoh (a) warga belajar dapat menyebutkan ciri-ciri proses belajar mengajar, yakni mengandung - komponen murid, - komponen guru, - komponen konsep pembelajaran - komponen pendekata/metode/teknik, - komponen media/alat peraga, dan - komponen evaluasi. Demikian juga halnya dengan ciri-ciri paradigma kualitataif. Warga belajar dapat menyebutkan ciri-cirinya. (b) Ciri diambil dari karakter suatu tokoh Selama membangun mesjid, wali tidak pernah berhenti munajat barang

sewaktu pun agar memperoleh kelancaran, rahmat dan selamat semuanya. Wali yang bijaksana berwibawa seperti mengandung kekuatan gaib. Orang yang bekerja tanpa pambrih dan dengan berupaya bekerja sungguh-sungguh masing-masing ingin puas dengan hasil pekerjaannya. Begitu pula sikap masyarakat, seperti berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan. Orang yang memiliki makanan, menyumbangkan makanan kepada para pekerja, orang yang memiliki kayu bahan bangunan, maka menyumbangkannya, orang yang memiliki tenaga menyumbang dengan tenaga, orang yang mempunyai keahlian menerapkan keahliannya. Pendek kata, kekayaan, tenaga, dan pikiran masyarakat di tempat itu pada saat itu dipusatkan kepada pembangunan mesjid. Dari contoh di atas warga belajar dapat menyebutkan ciri kepedulian masyarat tertentu terhadap pembangunan mesjid; dapat menyebutkan ciri-ciri kesungguhan berdoa seorang wali, dan ciri-ciri lain. (c) Ciri diambil ukuran suatu benda Novel itu karangan prosa yang panjang, mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Dari contoh di atas dapat diambil salah satu ciri novel, ialah prosa yang panjang. Dalam keterangan lain dijelaskan panjang novel itu kurang lebih sekian ribu kata. Disebut panjang karena ada prosa yang pendek, seperti cerita pendek. 3) Mengklasifikasikan Variabel penelitian adalah faktor atau unsur yang ikut menentukan perubahan suatu keadaan. Variabel pengajar, teman, belajar, bahan ajar, teknik belajar, alat pelajaran, minat belajar termasuk ke dalam contoh variabel yang ikut menentukan perubahan kemampuan seorang warga belajar. Variabel itu ada yang tergolong ke dalam variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas keberadaannya bebas, karena variabel bebas adalah faktor atau unsur yang dianggap dapat menentukan variabel lainnya. Sedangkan variabel terikat, keberadaannya terikat, mempunyai sifat ketergantungan, karena varibel terikat adalah gejala yang muncul atau gejala yang berubah dalam pola yang teratur dan bisa diamati, variabel terikat bisa berubah karena berubahnya variabel lain. Dari contoh di atas dapat diklasifikasikan bentuk kata yang digunakan, bentuk kata dasar dan bentuk kata turunan. Kata yang termasuk klasifikasi bentuk kata dasar seperti variabel, penelitian, faktor, unsur dst. Kata yang termasuk klasifikasi bentuk kata turunan, seperti menentukan, perubahan, keadaan, pengajar, dsb.

c. Prosedur Isi pembelajaran yang berupa prosedur mengkondisikan warga belajar untuk menjelaskan langkah-langkah suatu kegiatan, menjelaskan prosedur secara berurutan, dan atau menjelaskan cara membuat sesuatu. Isi pembelajaran yang berupa prosesdur lebih cenderung ke dalam jenis karangan eksposisi. d. Prinsip Isi pembelajaran yang berupa prosedur mengkondisi-kan warga belajar untuk mengemukakan dalil atau rumus-rumus, mengemukakan keadaan sesuatu hubungan (hipotesis), dan atau mengemukakan kaitan suatu peristiwa. 4 Tipe Pemilihan Bahan Paling tidak ada tiga tipe pemilihan materi pembelajaran, centered teaching, tipe eclectic teaching, dan centered curriculum. tipe subject 1) Subject Centered Teaching Subject centered teaching berarti pengajaran yang dipusatkan kepada materi yang terdapat pada suatu buku. Isi (content) bukulah yang diikuti seluruhnya dengan tidak mengabaikan tuntutan kebutuhan. Tipe subject centered teaching banyak digunakan pada pengajaran tradisional. Pengajaran cara ini memberikan materi pembelajaran dengan berpola kepada segala sesuatu yang ditulis pada buku yang dijadikan rujukan, baik urutan, ruang lingkup, maupun kedalaman isi buku, itulah yang guru sampaikan kepada warga belajarnya. Hal ini identik dengan subject mater curriculum 2) Eclectic Teaching Eclectic teaching berarti pengajaran yang dilaksanakan dengan cara memilih materi pembelajaran dari berbagai sumber. Sejumlah referensi (buku, majalah, tabloid, hasil penelitian, makalah seminar, makalah konvensi) yang berhubungan dengan suatu bahan pembelajaran dijadikan rujukan. Pengajaran dengan eclectic teaching memerlukan literatur yang banyak, karena materi pembelajaran yang dipilih diambil dari buku yang berbeda. Hal ini identik dengan corelated curriculum. 3) Centered Curriculum Centered curriculum berarti pengajaran yang dilaksanakan dengan cara memilih bahan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum (berpusat pada kurikulum). Pengajaran centered curriculum boleh jadi memilih materi dari berbagai sumber, dan boleh jadi pula memilih bahan pembelajaran dari satu buku sumber. Di satu pihak, pemilihan materi dalam centered curriculum

dimungkinkan dari berbagai sumber. Keadaan ini disebabkan oleh keadaan buku, yakni belum ada satu buku yang memuat materi secara utuh yang dibutuhkan permintaan kurikulum (GBPP). Di pihak lain, pemilihan materi dari satu buku, dibenarkan kalau isi buku itu sepenuhnya telah memenuhi tuntutan kurikulum. Buku yang memenuhi tuntutan kurikulum ialah buku yang mengutamakan tuntutan tujuan pembelajaran dan ruang lingkup materi (konsep kebahasaan dan konsep kesastraan) yang telah ditentukan dalam kurikulum yang berlaku. Dengan adanya penulis/pengarang buku yang mengembangkan penulisan buku berdasarkan tuntutan GBPP, maka guru dan warga belajar terbantu dalam penerapan GBPP. Implementasi pemilihan dan pengembangan materi pembelajaran senantiasa berpedoman kepada tuntutan kurikulum. Dalam hal ini GBPP telah memuat tujuan pembelejaran, dari tujuan ini dirumuskan menjadi tujuan pembelajaran khusus (TPK/TIK/indikator). Setelah tersusun tujuan pembelajaran khusus baru digunakan kriteria pemilihan dan pengembangan materi pembelajaran. Kegiatan belajar siswa yang kita rencanakan tidak semata-mata didasarkan atas materi (bahan) pembelajaran, tetapi materi pembelajaran harus mendukung tercapainya TPK/TIK/indikator. Pemilihan bahan pembelajaran tidak dilaksanakan seperti cara tradional yang berpusat pada materi atau bahan (subject centered teaching) atau yang terdapat dalam suatu buku teks, baik urutannya maupun isinya. Penyusunan perencanaan pemebelajaran bahasa dewasa ini dapat mengambil dari berbagai buku atau masmedia. Buku teks hanya merupakan salah satu di antara sekian banyak sumber materi pembelajaran. 5 Kriteria Pemilihan dan Pengembangan Materi Kriteria pemilihan dan pengembangan materi pembelajaran adalah sebagai berikut. 01) Isi bahan pembelajaran berkaitan dengan tujuan khusus pembelajaran 02) Isi bahan pembelajaran valid dan reliabel 03) Susunan bahan pembelajaran logis 04) Isi bahan pembelajaran dapat dipertanggungjawabkan (baik secara ilmu jiwa belajar, maupun ilmu jiwa perkembangan, menarik, membangkitkan gairah belajar) 05) Bahasa bahan pembelajaran tepat dan sesuai dengan bahan yang disajikan 06) Urutan kegiatan pembelajaran tepat 07) Bahan pembelajaran mengesankan 08) Bahan pembelajaran mendorong pengembangan berpikir kritis 09) Bahan pembelajaran menggunakan pendekatan yang dapat merangsang banyak alat dria (multisensory stimulation approach), dan

10) Bahan pembelajaran mempunyai nilai pemindahan (transper value). Isi bahan pembelajaran berkaitan dengan tujuan khusus pembelajaran berarti pemilihannya berdasarkan tujuan. Tujuan pembelajaran diletakkan sebagai dasar pemilihan. Mengapa harus demikian? Karena bahan pembelajaran itu dipilih untuk dikuasai warga belajar. Apabila warga belajar mengusai bahan pembelajaran, maka tercapailah tujuan pembelajaran. Isi bahan pembelajaran valid dan reliabel mengandung arti, bahwa bahan pembelajaran harus benar, sahih dan dapat dipercaya atau berkeandalan tinggi. Dalam hal ini bahan pembelajaran tidak diragukan baik kebenarannya, maupun tingkat kepercayaannya. Susunan bahan pembelajaran logis mengandung arti bahwa bahan pembelajaran dapat diterima oleh akal pikiran warga belajar. Bahan pembelajaran tidak sulit dipelajari. Segala sesuatu yang disajikan dalam bahan pembelajaran berkaitan, tidak keluar dari pokok pembicaraan. Isi bahan pembelajaran dapat dipertanggungjawabkan (baik secara ilmu jiwa belajar, maupun ilmu jiwa perkembangan, menarik, membangkitkan gairah belajar), maksudnya ialah bahan pelajaran disesuaikan dengan tingkat kemampuan warga belajar. Warga belajar tingkah pemula harus diberi bahan pembelajaran untuk tingkat pemula, bahan untuk tingkat menengah, dan atau untuk tingkat mahir jangan diberikan kepada tingkat yang idak sesuai. Bahan pembelajaran yang dipilih disesuaikan dengan usia mental warga belajar, bukan didasarkan atas usia kalender. Usia mental berarti tingkat kecerdasan warga belajar, sedangkan usia kalender ialah umur warga belajar yang dihitung sejak tanggal kelahiran. Bahasa bahan pembelajaran tepat dan sesuai dengan bahan yang disajikan. Tepat berarti sesuai dengan pokok bahasan. Apabila yang bahan yang disajikan Bahasa Indonesia kepada Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia contoh-contoh wacana diupayakan lebih baik tentang kebahasaan atau tentang kesastraan, daripada membahas tentang kedokteran. Urutan kegiatan pembelajaran tepat, ini berarti penentuan kegiatan belajar mengajar tepat. Mengesankan, berarti bahan pembelajaran yang disampaikan kepada warga belajar dapat mengubah perilaku warga belajar. Warga belajar memperoleh kesan berupa pengetahuan, memperoleh kesan dalam hal keterampilan, dan memperoleh kesan dalam perubahan sikap. Mendorong pengembangan berpikir kritis berarti dengan mempelajari bahan pembelajaran, warga belajar menjadi terangsang daya pikirnya untuk melakukan sesuatu perbuatan, seperti bertanya, berbuat, mempertanyakan, mengkritik, menggunakan, dan cara berpikir lain yang positif. Menggunakan pendekatan yang dapat merangsang banyak alat dria

(multisensory stimulation approach). Mengapa hal ini perlu? Karena warga belajar memiliki latar belakang yang berbeda. Ada kelompok warga belajar yang mudak menerima bahan pembelajaran dengan cara mendengarkan, ada kelompok warga belajar yang dapat memahami suatu bahan pembelajaran apabila mereka melihat/membaca, dan ada kelompok warga belajar yang mengerti suatu bahan pembelajaran apabika mendengar, membaca, dan melihat gerak-geriknya, bahkan ada kelompok belajar yang harus melihat benda yang diterangkan (harus memakai alat peraga), serta tidak mustahil ada kelompok warga kelajar yang luar dari kelompok tadi. Oleh karena itu, pemilihan bahan pembelajaran harus memperhatikan alat dria yang digunakan kebanyak warga belajar. Mempunyai nilai pemindahan (transper value), ini berarti sesuatu yang dipelajari warga belajar dapat digunakan, dapat dimanfaatkan warga belajar dalam kegaiatan di luar tempat belajar. Karena hakekat penyampaian bahan pembelajaran itu adalah pemindahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipindahkan kepada diri warga belajar. Pemindahan nilai-nilai yang harus diwariskan kepada warga belajar. 6 Konsep Pembelajaran Pemilihan dan pengembangan bahan pembelajaran harus berpedoman kepada rumusan pembelajaran yang tertuang dalam GBPP. Di bawah ini dipetik contoh pembelajaran dari GBPP Bahasa Indonesia SMP. o Mencatat kata-kata yang berimbuhan me-, -kan, me-kan, me-, -i, me--i, di-kan, dan di--i dan menggunakannya di dalam kalimat/paragraf. o Memeriksa dan membetulkan kesalahan pemakaian dan penulisan kata-kata yang berimbuhan me-, -kan, me-kan, me-, -i, me--i, di-kan, dan di--i dan menggunakannya di dalam kalimat/paragraf. o Mencari ungkapan atau peribahasa dari bacaan dan menjelaskan artinya. o Mencatat kata kerja dari bacaan dan menggunakannya dalam karangan. a. Rumusan Pembelajaran Bahasa Indonesia o Menyusun kalimat pertanyaan. o Menemukan kata berimbuhan per-kan, per-i, memper-, memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i dalam teks bacaan dan membahasnya. o Memeriksa ketepatan penggunaan kata berimbuhan per-kan, per-i, memper-, memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i 7 Rangkuman Perencanaan pemilihan bahan pembelajaran termasuk salah satu kompetensi guru, kompetensi yang harus dikuasai guru, bahkan dosen. Hal ini dilatarbelakangi dengan banyak materi yang harus diajarkan atau kurang bahan pembelajaran yang harus disampaikan dalam waktu tertentu. Perencanaan bahan pembelajaran berarti persiapan materi agar warga

belajar dapat belajar. Bahan pembelajaran adalah gabungan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus dikuasai warga belajar. Oleh karena itu, macam bahan pembelajaran ialah pengetahuan, keterampilan, dan sikap berbahasa dan bersastra. Isi pembelajaran ada empat macam, yakni fakta, konsep, prosedur, dan prinsip. Tipe pemilihan materi pembelajaran, tipe subject centered teaching, tipe eclectic teaching, dan centered curriculum. Kriteria pemilihan dan pengembangan materi pembelajaran adalah 01) isi bahan pembelajaran berkaitan dengan tujuan khusus pembelajaran, 02) isi bahan pembelajaran valid dan reliabel, 03) susunan bahan pembelajaran logis, 04) isi bahan pembelajaran dapat dipertanggungjawabkan (baik secara ilmu jiwa belajar, maupun secara ilmu jiwa perkembangan, menarik, dan membangkitkan gairah belajar), 05) bahasa bahan pembelajaran tepat dan sesuai dengan bahan yang disajikan 06) urutan kegiatan pembelajaran tepat 07) mengesankan 08) mendorong pengembangan berpikir kritis 09) menggunakan pendekatan yang dapat merangsang banyak alat dria (multisensory stimulation approach), dan 10) mempunyai nilai pemindahan (transper value). Pemilihan dan pengembangan bahan pembelajaran harus berpedoman kepada rumusan pembelajaran yang tertuang dalam GBPP. REFERENSI Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1994). Kurikulum: GBPP Bidang Studi Bahasa Indonesia SMP. Jakarta. Dick, Walter, dan Loa Carey. (1978). The Systematic of Instruktional Blenview: Scott Forema and Co. Ely, Donald P. (1978). Instructional Design & Development. New York: Syracuse University Publ. Hamied, Dr. Fuad Abdul. (1987). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Gafur, Drs. Abd., M.Sc. (1982). Disain Instruksional. (cetakan ke-2) Solo: Tiga Serangkai Nasution, Prf. Dr., M.A. (1988). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bina Aksara. Proyek Pengembangan Institusi Pendidikan Tinggi. (1981). Teknologi Instruksional. Dirjen Pendidikan Tinggi Depdikbud. Hidayat, Drs. Kosadi, M.Pd. & Dra. Iim Rahmina. (1991). Perencanaan Pengajaran Bahasa Indonesia. Bandung: Bina Cipta.