MEMBANGUN BUDAYA BELAJAR

dokumen-dokumen yang mirip
Penelitian di Bidang Manajemen

Membangun Budaya Penelitian

Berpikir Kritis (Critical Thinking)

BAB I PENDAHULUAN. secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Vika Aprianti, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan dibutuhkan oleh semua orang. Dengan pendidikan manusia berusaha mengembangkan dirinya sehingga

BAB II KAJIAN TEORITIK

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. dan meningkatnya kemampuan siswa, kondisi lingkungan yang ada di. dan proaktif dalam melaksanakan tugas pembelajaran.

BAB I PENDAHULUAN. A. Pengertian Logika. B. Tujuan Penulisan

STUDI KASUS DALAM PSIKOLOGI

BAB I PENDAHULUAN. Dalam masa perkembangan negara Indonesia, pendidikan penting untuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dedi Abdurozak, 2013

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan budaya lokal, telah menampilkan budaya yang lebih elegan.

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI)

Hubungan Ilmu Pengetahuan dengan Penelitian Disusun oleh: Ida Yustina, Prof. Dr.

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dalam era globalisasi ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

BAB IV. PENUTUP. Universitas Indonesia. Estetika sebagai..., Wahyu Akomadin, FIB UI,

BAB I PENDAHULUAN. Kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi serta teknologi yang maju

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

METODOLOGI PENELITIAN AKSI PARTISIPATIF

BAB I PENDAHULUAN. sampai 12 atau 13 tahun. Menurut Piaget, mereka berada pada fase. operasional konkret. Kemampuan yang tampak pada fase ini adalah

BAB I PENDAHULUAN. mendapatkan ilmu pengetahuan dari guru dalam proses belajar-mengajar. membimbing dan memfasilitasi siswa dalam kegiatan belajar.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. berada. Dalam proses pendidikan banyak sekali terjadi perubahan-perubahan

MAKALAH MANAJEMEN PENGANTAR MEMAHAMI KONTEKS MANAJEMEN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. Penelitian ini mendapatkan konsep awal tentang anti-materialisme

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INIDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

MENDEFINISIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL. Oleh. Sudrajat. Mahasiswa Prodi Pendidikan IPS PPS Universitas Negeri Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. menjadi suatu kesadaran umum setiap organisasi dalam rangka menciptakan

PROGRAM DIPLOMA SATU, DIPLOMA DUA, DAN DIPLOMA TIGA DIPLOMA SATU DIPLOMA DUA DIPLOMA TIGA

Penelitian penting bagi upaya perbaikan pembelajaran dan pengembangan ilmu. Guru bertanggung jawab dalam mengembangkan keterampilan pembelajaran.

BAB I PENDAHULUAN. mempelajari IPA tidak terbatas pada pemahaman konsep-konsep IPA, tetapi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dapat ditingkatkan, baik di kalangan nasional maupun. agar mutu kehidupan masyarakat dapat meningkat. Melalui pendidikan

MENINGKATKAN PRODUKSI DENGAN 10 PRINSIP KAIZEN. Fasilitator: MASDUKI ASBARI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitiaan yang digunakan dalam penelitiaan Nasionalisme

I. PENDAHULUAN. Belajar pada hakekatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada

BAB I PENDAHULUAN. Berlakunya Kurikulum 2004 berbasis kompetensi yang telah direvisi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. mempelajari pengetahuan berdasarkan fakta, fenomena alam, hasil pemikiran

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kurikulum Nasional merupakan pengembangan dari Kurikulum 2013 yang

BAB I PENDAHULUAN. Di era global ini, tantangan dunia pendidikan begitu besar, hal ini yang

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL. contextual teaching and learning

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN

Perspektif dalam Ilmu Komunikasi

I. PENDAHULUAN. Kemajuan suatu bangsa tergantung pada kemajuan sumber daya manusianya.

MENUMBUHKEMBANGKAN DAN MENGELOLA KREATIVITAS PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah, dalam kaitannya dengan pendidikan sebaiknya dijadikan tempat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri untuk

BAB I PENDAHULUAN. mutu pendidikan, karena pendidikan merupakan sarana yang sangat penting

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. yang terjadi. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik

BAB 1 PENDAHULUAN. perlu untuk ditingkatkan dan digali sebesar-besarnya karena hal tersebut

BAB I PENDAHULUAN. Matematika mempunyai peran yang sangat besar baik dalam kehidupan

Materi Minggu 3. Pengambilan Keputusan dalam Organisasi

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran berbasis masalah (Problem-based Learning), adalah model

Menurut Wina Sanjaya (2007 : ) mengemukakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi ciri utama dari metode inkuiri, yaitu :

Membangun Mind Set. Frieda NRH

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Herman S. Wattimena,2015

DESKRIPSI BUTIR INSTRUMEN 1 (BUKU SISWA) BUKU TEKS PELAJARAN SOSIOLOGI SMA/MA KELAS X

SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah

BAB II METODE PENELITIAN. dikenal dengan nama PAR atau Participatory Action Risearch. Adapun

BAB II KAJIAN TEORI. 1. Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis. suatu makna (Supardi, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. belajar dan proses pembelajaran agar siswa aktif dalam upaya mengembangkan

II. TINJAUAN PUSTAKA. pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas

I. PENDAHULUAN. timbul pada diri manusia. Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar

MANAGEMENT SUMMARY CHAPTER 7 DECISION MAKING

BAB II LANDASAN TEORI. Pengetahuan disimpan di dalam otak individu atau di-encode (diubah dalam

KEWIRAUSAHAAN. Oleh: Dr. Kasiyan, M.Hum. Universitas Negeri Yogyakarta

I. PENDAHULUAN. depan yang lebih baik. Melalui pendidikan seseorang dapat dipandang terhormat,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. modal sosial menempati posisi penting dalam upaya-upaya. pemberdayaan dan modal sosial, namun bagaimanapun unsur-unsur

TINJAUAN PUSTAKA. sendiri. Belajar dapat diukur dengan melihat perubahan prilaku atau pola pikir

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan teknis (skill) sampai pada pembentukan kepribadian yang kokoh

BAB I PENDAHULUAN. penindasan bangsa lain, pada era global ini harus mempertahankan. identitas nasional dalam lingkungan yang kolaboratif.

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari,

BAB I PENDAHULUAN. sangat penting, karena matematika merupakan ilmu dasar yang berkaitan

BAB I PENDAHULUAN. bahan ajar, media yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekolah dan

BAB I PENDAHULUAN. memiliki pengetahuan, nilai, sikap, dan kemampuan terhadap empat

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian simpulan dapat dibagi dua yaitu :

BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai mahluk yang diberikan kelebihan oleh Allah swt dengan

HOGANDEVELOP INSIGHT. Laporan untuk: John Doe ID: HC Tanggal: 4 November HOGAN ASSESSMENT SYSTEMS INC.

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan suatu bangsa tidak terlepas dari kualitas sumber daya

Transkripsi:

MEMBANGUN BUDAYA BELAJAR DI KALANGAN PENELITI fmhartanto@gmail.com Bandung

Meneliti Sebagai Vokasi 1 Penelitian hanya dapat diharapkan memberi hasil yang bernilai tinggi, bila penelitian itu dijalankan oleh orang-orang yang memilih penelitian sebagai vokasi (pekerjaan pilihan) mereka; Vokasi seseorang biasanya bertumbuh kembang dari pengalaman hidupnya dan budaya kerja yang terdapat di tempat kerjanya; Bekerja sesuai vokasi biasanya dirasa menggairahkan;

MENELITI SEBAGAI VOKASI 2 Orang yang menjadikan penelitian sebagai vokasinya biasanya: Memiliki kebiasaan bertanya dan mempertanyakan apa yang dilihat dan didengarnya, Tidak pernah terikat pada fakta, tetapi berusaha mencari tahu sistem kausal yang menghasilkan fakta tersebut, Lebih suka mengikuti intuisinya daripada sekedar percaya pada logikanya, Selalu mencoba memahami permasalahan sampai ke akarnya (root cause of the problem);

Meneliti sebagai Vokasi 3 Penelitian menjadi vokasi yang mampu menciptakan nilai tinggi, bila sang peneliti mampu untuk: Memahami dan menghargai apa yang dibutuhkan masyarakat sekaligus mengerti apa yang dapat dilakukannya untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhannya tanpa harus terikat pada cara-cara konvensional, Menata isyu-isyu praktikal menjadi konsep dan model penelitian yang layak untuk dikaji secara ilmiah;

Keyakinan yang Perlu Dimiliki oleh para Peneliti 1 Kejujuran Intelektual Peneliti berani menolak untuk membuat pernyataan tentang sesuatu fenomena atau peristiwa sebelum ia mendapat kesempatan untuk meneliti fenomena atau peristiwa tersebut secara ilmiah dan seksama; Manfaat Hasil Penelitian Peneliti meyakini bahwa apa yang ditelitinya akan membawa manfaat bagi masyarakat, kini atau di masa depan;

Keyakinan yang Perlu Dimiliki oleh para Peneliti 2 Banyak Pengetahuan yang Belum Terungkapkan Peneliti meyakini bahwa masih ada banyak fakta yang masih menunggu untuk diungkapkan melalui penelitian ilmiah; Relativitas Kebenaran Peneliti meyakini bahwa sesuatu kebenaran bersifat relatif, artinya di masa depan atau dalam konteks berbeda dapat saja diperoleh pengetahuan baru yang memunculkan fakta baru yang berbeda dari kebenaran yang diyakini saat ini di tempat ini.

Ciri-ciri Peneliti yang Mumpuni 1 Terbuka Peneliti memiliki hasrat tinggi untuk berolah intelektual, berbagi pengetahuan, dan belajar dari komunitas pakar maupun komunitas praktisi pada skala lokal, nasional, maupun global dalam iklim kesetaraan; Mentalitas Berkelimpahan Peneliti dengan senang hati berbagi pengetahuan dengan orang lain, karena yakin hal itu justru akan memungkinkannya untuk memperkaya pengetahuan yang telah dimiliknya

Ciri-ciri Peneliti yang Mumpuni 2 Bebas dari Rasa Takut Peneliti bisa membebaskan diri dari rasa takut, bila ia yakin bahwa kegiatan penelitiannya sepenuhnya diabdikan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama; Bebas dari Bias Intelektual Peneliti perlu membebaskan diri dari keterkaitan yang kaku pada suatu konsep atau teori tertentu; Bebas dari Taboo Kultural Peneliti perlu berani membela temuannya yang diperoleh secara ilmiah, meskipun berbeda dengan tradisi dan kebiasaan yang ada;

Ciri-ciri Peneliti yang Mumpuni 3 Egaliter Peneliti memperlakukan semua gagasan yang masuk sama, meskipun gagasan itu berasal dari orang yang secara akademik atau intelektual berada di bawahnya, serta tidak memaksakan pendapatnya pada orang lain; Dewasa Peneliti memahami kemampuan dan keterbatasan dirinya sendiri serta mengatur dan memimpin diri mereka sendiri dengan bijak Mereka mau menerima dan menghargai kritik serta terbuka bagi semua saran perbaikan;

Ciri-ciri Peneliti yang Mumpuni 4 Inovatif Peneliti menghargai prestasi orang lain, memiliki semangat belajar inovatif, dan memiliki orientasi yang kuat ke masa depan Peneliti tidak terbuai oleh suksesnya di masa lalu atau terjebak oleh konservatisme intelektual; Toleran terhadap Kesalahan Peneliti bukanlah orang yang sempurna, sebaliknya mereka menyadari bahwa kesalahan itu manusiawi Mereka selalu menyediakan Ruang untuk Kesalahan.

Pra-kondisi yang Diperlukan untuk Penyelenggaraan Penelitian Terdapat cukup banyak isyu yang layak untuk diteliti secara ilmiah, mendasar, dan mendalam; Terjadi olah intelektual dan berbagi pengetahuan yang intensif di komunitas pakar dan komunitas praktisi yang berkaitan dengan isyu-isyu yang layak untuk diteliti; Peneliti memahami dengan baik lingkungan penelitian yang digelutinya; Tersedia infra-struktur belajar dan penelitian yang memadai.

Penelitian yang Inovatif Riset dijalankan sendiri oleh peneliti independen; Penelitian dilakukan di alam kebebasan dan dilaksanakan secara demokratik; Penelitian dijalankan secara fleksibel, artinya para peneliti tidak terpaku pada suatu konsep atau pemikiran baku saja, tetapi bersifat adaptif; Penelitian tidak dibatasi pada pemahaman pengetahuan baru yang eksplisit, namun juga menguasai pengetahuan nirwujud (tacit) yang relevan.

Mengapa Penelitian Sering Gagal? 1 Gagal memahami perspektif historik dari penelitian terdahulu; Terbelenggu nalar linier yang bersifat analitik rasional - Mengabaikan intuisi serta nalar lateral dan sirkular (paradoksal); Gagal memahami nuansa kontekstual dari pengetahuan; Terpaku pada metoda penelitian lama yang sering kali tidak mampu lagi digunakan pada penelitian kontemporer yang memiliki sofistikasi lebih tinggi;

Mengapa Penelitian Sering Gagal? 2 Mengalami paralisis karena terlalu banyak analisis; Terperangkap oleh informasi berlebih; Menghadapi keterbatasan sumber pengetahuan, karena kurang investasi dalam modal sosial dan modal spiritual (lunak); Tidak mampu untuk memahami makna dari substansi dan inter-relasi pengetahuan di dalam sistem pengetahuan yang chaordic ;

MENGAPA PENELITIAN SERING GAGAL? 3 Terlalu tergantung pada memori - Kurang menggunakan nalar; Terjebak oleh konseptualisasi pengetahuan yang kaku yang terbentuk oleh nalar linier yang deterministik dan berstruktur baku; Tidak mampu atau takut berpikir keluar dari kotak (out-of-the-box thinking); Tidak mampu mengartikulasikan hasil-hasil penelitian dengan baik, karena model penelitian yang digunakan terlalu kompleks;

Mengapa Penelitian Sering Gagal? 4 Belum terbangun iklim ingin tahu di komunitas peneliti; Tidak mampu membina atau tidak memiliki akses ke sumber pengetahuan yang relevan; Tidak mampu memberi makna pada lingkungan penelitian yang chaordic ; Terjebak dalam zona kenikmatan yang ditimbulkan oleh keberhasilan penelitian di masa lalu; Terjebak dalam kompleksitas pengetahuan yang ada;

Mengapa Penelitian Sering Gagal? 5 Gagal menghubungkan hasil penelitian dengan realitas praktikal; Instrumen penelitian sering kali tidak diuji kesahihan dan keandalannya; Terhambat oleh konsensus yang dicapai di antara para peneliti; Mencampur-adukkan asumsi dan premis dengan hasil penelitiannya; Tidak ada budaya meneliti yang baik, seperti mengabaikan dokumentasi dan pencatatan.

Mengembangkan Budaya Penelitian 1 Kembangkan iklim ke-ingin-tahu-an ; Bina dan kembangkan akses ke sumber-sumber pengetahuan; Biasakan bekerja di dalam lingkungan yang chaordic dan menekan; Kembangkan komunitas pakar dan komunitas praktisi di mana dapat dilakukan olah intelektual yang relevan secara intensif; Biasakan bekerja dengan mentalitas berkelimpahan.

Mengembangkan Budaya Penelitian 2 Kembangkan kemampuan berkomunikasi dan keterampilan ekspresi verbal; Dorong diskursus kritikal; Hargai kebhinekaan pendapat, kepentingan, dan kebutuhan; Harga intuisi dan pengetahuan nirwujud tanpa perlu terjebak oleh pola pikir yang distortif; Kembangkan sikap peduli-mengapa (care-why) atau minimal tahu-mengapa (know-why) untuk memperkaya sikap tahu-apa (know-what) dan tahubagaimana (know-how) selama melakukan kegiatan penelitian.