Membangun Budaya Penelitian
|
|
|
- Budi Sasmita
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Membangun Budaya Penelitian Slameto, PPS MP UKSW Salatiga Abstrak Masalah penelitian sering dimenjadi diskursus menarik dikalangan pemerhati pendidikan, karena produktifitas penelitian sangat rendah, hasil survey Internasional tentang jumlah publikasi penelitian menempatkan Indonesia pada urutan 62 dari 239 negara. Jika menelusuri akar masalah minimnya hasil penelitian, maka persoalan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan minimnya dana dan political will pemerintah, tetapi juga dipengaruhi: oleh mutu penelitian dosennya serta rendahnya budaya meneliti dalam masyarakat terutama kaum intelektual. Rendahnya budaya meneliti menyebabkan masyarakat akademik tidak terbiasa dan terlatih sehingga menjadi kendala ketika melakukan penelitian. Kebanyakan dosen masih belum memamahi arti penting melakukan penelitian untuk peningkatan kompetensi dan karir dirinya sebagai dosen profesional, untuk membangun reputasi akademik institusi pendidikannya, dan juga untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi. Munculnya kebijakan diharuskanya mahasiswa S-1, S- 2, dan S3 mempublikasikan karya ilmiah merupakan salah satu langkah awal menumbuhkan budaya meneliti mahasiswa dan dosen untuk menghasilkan karya tulis. Pembahasan ini diharapkan dapat mendorong para peserta baik mahasiswa maupun akademisi di perguruan tinggi maupun guru untuk menelurkan karya ilmiah yang berkualitas. Disamping itu, mengupayakan bahwa: meneliti itu sebagai profesi; Penelitian hanya dapat diharapkan memberi hasil yang bernilai tinggi, bila penelitian itu dijalankan oleh orang-orang yang memilih penelitian sebagai profesi (pekerjaan pilihan mereka). Budaya yang menunjukkan pada 3 aspek itu adalah sebagai pemrograman kolektif pikiran yang membedakan anggota satu kategori orang dari yang lain. Budaya penelitian adalah cerminan nilai-nilai, cita-cita dan keyakinan tentang penelitian dalam organisasi, pada gilirannya tercermin dalam perilaku penelitian, tindakan penelitian dan simbol penelitian organisasi. Studi pada budaya penelitian telah difokuskan pada jenis lingkungan yang mengarah ke penelitian produktivitas. Teridentifikasi 6 Temuan hasil penelitian tentang budaya penelitian terkait penelitian kelembagaan maupun individual yang bermanfaat baik untuk dosen, mahasiswa maupun alumninya. Membangun budaya meneliti termasuk revolusi mental harus menjadi tanggung jawab bersama baik lembaga/orbanisasi maupun perseorangan: dosen, mahasiswa dan alumni. Secara organisatoris, Universitas/Perguruan Tinggi semestinya memiliki LPPM dan dipimpin oleh dosen yang kompeten dan berkualitas; disamping 5 Komitmen dan dukungan organisasi, LPPM perlu memainkan 8 perannya. Terdapat 8 pra-kondisi yang diperlukan untuk penyelenggaraan penelitian, setelah terpenuhi, untuk membangun budaya meneliti selanjutnya perlu membangun 9 komitmen dosen. Pada akhirnya terdapat 15 keyakinan yang perlu dibangun oleh para peneliti baik dosen, mahasiswa maupun alumni. Kata Kunci: Penelitian, Budaya dan Budaya Penelitian, Revolusi mental, Membangun Budaya Penelitian.
2 PENDAHULUAN Masalah penelitian sering dimenjadi diskursus menarik dikalangan pemerhati pendidikan. Hal ini karena produktifitas penelitian sangat rendah sebagaimana hasil survey Internasional tentang jumlah publikasi penelitian menempatkan Indonesia pada urutan 62 dari 239 negara. Jepang menjadi negara Asia dengan jumlah publikasi terbanyak dan menduduki urutan ketiga dunia dengan 1,2 juta dokumen. Urutan Indonesia jauh di bawah negara-negara berkembang lainnya seperti India (9), Afrika Selatan (35), Malaysia (37), Mesir (42), Thailand (43) dan Pakistan (46). Mengapa Penelitian Sering Gagal? Frans Mardi Hartanto (2014) mengungkap beberapa alasan seperti berikut ini. Tidak ada budaya meneliti yang baik, seperti mengabaikan dokumentasi dan pencatatan, Gagal memahami perspektif historik dari penelitian terdahulu; Terbelenggu nalar linier yang bersifat analitik rasional - Mengabaikan intuisi serta nalar lateral dan sirkular (paradoksal); Gagal memahami nuansa kontekstual dari pengetahuan; Terpaku pada metoda penelitian lama yang sering kali tidak mampu lagi digunakan pada penelitian kontemporer yang memiliki sofistikasi lebih tinggi; Mengalami paralisis karena terlalu banyak analisis; Terperangkap oleh informasi berlebih; Menghadapi keterbatasan sumber pengetahuan, karena kurang investasi dalam modal sosial dan modal spiritual (lunak); Tidak mampu untuk memahami makna dari substansi dan inter-relasi pengetahuan di dalam sistem pengetahuan yang chaordic ; Terlalu tergantung pada memori Kurang menggunakan nalar; Terjebak oleh konseptualisasi pengetahuan yang kaku yang terbentuk oleh nalar linier yang deterministik dan berstruktur baku; Tidak mampu atau takut berpikir keluar dari kotak (out-of-thebox thinking); Tidak mampu mengartikulasikan hasil-hasil penelitian dengan baik, karena model penelitian yang digunakan terlalu kompleks; Gagal menghubungkan hasil penelitian dengan realitas praktikal; Instrumen penelitian sering kali tidak diuji kesahihan dan keandalannya; Terhambat oleh konsensus yang dicapai di antara para peneliti; Mencampur-adukkan asumsi dan premis dengan hasil penelitiannya; Gagal menghubungkan hasil penelitian dengan realitas praktikal; Instrumen penelitian sering kali tidak diuji kesahihan dan keandalannya; Terhambat oleh konsensus yang dicapai di antara para peneliti; Jika menelusuri akar masalah minimnya hasil penelitian, maka persoalan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan minimnya dana dan political will pemerintah namun rendahnya budaya meneliti dalam masyarakat terutama kaum intelektual. Rendahnya budaya meneliti menyebabkan masyarakat akademik tidak terbiasa dan terlatih sehingga menjadi kendala ketika melakukan penelitian.
3 Tujuan dan manfaat Rendahnya mutu penelitian mahasiswa di perguruan tinggi selain dipengaruhi faktor seperti diungkap Frans Mardi Hartanto (2014), juga dipengaruhi oleh mutu penelitian dosennya (Dinar Pratama, 2012). Kebanyakan dosen masih belum memamahi arti penting melakukan penelitian untuk peningkatan kompetensi dan karir dirinya sebagai dosen profesional, untuk membangun reputasi akademik institusi pendidikannya, dan juga untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi (Andreas Lako, 2014). Munculnya kebijakan diharuskanya mahasiswa S-1, S-2, dan S3 mempublikasikan karya ilmiah mereka ternyata dilatarbelakangi oleh masih lemahnya budaya meneliti di perguruan tinggi, baik dikalangan dosen maupun mahasiswanya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menyatakan bahwa masalah utama dalam penelitian justru karena belum tumbuhnya budaya meneliti. Untuk menghasilkan riset inovatif, terlebih dahulu harus dikembangkan budaya meneliti di perguruan tinggi. Salah satu langkah awal menumbuhkan budaya meneliti ialah mewajibkan mahasiswa dan dosen menghasilkan karya tulis. Senyampang untuk mendukung kebijakan ini, melalui pembahasan dalam seminar nasional ini diharapkan dapat mendorong para peserta baik mahasiswa maupun akademisi di perguruan tinggi maupun guru untuk menelurkan karya ilmiah yang berkualitas. Disamping itu, mengupayakan bahwa: Meneliti itu sebagai profesi Penelitian hanya dapat diharapkan memberi hasil yang bernilai tinggi, bila penelitian itu dijalankan oleh orang-orang yang memilih penelitian sebagai profesi (pekerjaan pilihan mereka); Profesi seseorang biasanya bertumbuh kembang dari pengalaman hidupnya dan budaya kerja yang terdapat di tempat kerjanya; Bekerja sesuai profesi biasanya dirasa menggairahkan; Orang yang menjadikan penelitian sebagai profesinya biasanya: a) Memiliki kebiasaan bertanya dan mempertanyakan apa yang dilihat dan didengarnya, b) Tidak pernah terikat pada fakta, tetapi berusaha mencari tahu sistem kausal yang menghasilkan fakta tersebut, c) Lebih suka mengikuti intuisinya daripada sekedar percaya pada logikanya, dan d) Selalu mencoba memahami permasalahan sampai ke akarnya (root cause of the problem); Penelitian menjadi profesi yang mampu menciptakan nilai tinggi, bila sang peneliti mampu untuk: a) Memahami dan menghargai apa yang dibutuhkan masyarakat sekaligus mengerti apa yang dapat dilakukannya untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhannya tanpa harus terikat pada cara-cara konvensional, b) Menata isyu-isyu praktikal menjadi konsep dan model penelitian yang layak untuk dikaji secara ilmiah.
4 Apa itu budaya penelitian? Ratner (M. Allyson Macdonald. 2004) menunjukkan perhatian pada tiga aspek budaya, yaitu: 1. fenomena budaya, yang dapat dilihat sebagai bangunan artefak sosial 2. lebih lanjut, bahwa ada lima jenis utama dari fenomena budaya: 1) Kegiatan budaya, termasuk cara-cara di mana individu berinteraksi dengan objek, orang dan diri sendiri, 2) Nilai budaya, skema, makna, konsep, 3) Artefak fisik, yang secara kolektif dibangun, 4) Fenomena psikologis, termasuk emosi, motivasi, imajinasi, bahasa dan kepribadian 5) Lembaga di mana fenomena yang dibangun dan direkonstruksi dan yang dipengaruhi oleh fenomena yang tercantum di atas. 3. Akhirnya, lima fenomena ini adalah saling bergantung serta saling khas. Tak satu pun dari mereka dapat direduksi menjadi orang lain, demikian juga tidak salah satu dari mereka berdiri sendiri di luar yang lain. Budaya adalah sebagai pemrograman kolektif pikiran yang membedakan anggota satu kategori orang dari yang lain. Selanjutnya penelitian adalah suatu kegiatan yang berkaitan terutama dengan akuisisi pengetahuan pada bagian dari peneliti, dan dengan penyebaran pengetahuan untuk rekan-rekan akademis dan mahasiswa (Faizah Indrus and Nik Ahmad Hisham Nik Ismail, 2014). Budaya penelitian adalah cerminan nilai-nilai, cita-cita dan keyakinan tentang penelitian dalam organisasi, pada gilirannya tercermin dalam perilaku penelitian, tindakan penelitian dan simbol penelitian organisasi. Sama seperti budaya pengajaran dari suatu lembaga akan ditemukan dalam gaya dan nilai-nilai ajaran, budaya manajemen ditemukan dalam gaya dan nilai-nilai manajerial; maka budaya penelitian akan mencerminkan gaya dan nilai-nilai penelitian (Faizah Indrus and Nik Ahmad Hisham Nik Ismail, 2014). Menurut Cheetam (Faizah Indrus and Nik Ahmad Hisham Nik Ismail, 2014), budaya penelitian perlu dimasukkan ke dalam PPM karena penelitian adalah dasar dari bagaimana pendidikan universitas bekerja, darah intelektual dosen universitas, dukungan mendasar pengajaran dan juga, dasar dukungan untuk masyarakat. Meskipun beberapa mungkin bertanya bagaimana penelitian sedang berubah menjadi sebuah budaya dan jawabannya karena perluasan pengetahuan di seluruh dunia. Ini adalah dimana pengetahuan sangat penting terutama dalam membawa kebenaran ke permukaan tanpa mengandalkan hanya pada dalil saja. Penelitian bisa membantu dalam membangun kesenjangan dalam pengetahuan. Untuk menambah itu, budaya penelitian bukanlah memulai sesuatu yang baru, itu adalah pergeseran budaya yang signifikan; dari belajar berdasarkan sebuah penelitian yang berbasis kesadaran akan pentingnya melakukan penelitian.
5 Studi pada budaya penelitian telah difokuskan pada jenis lingkungan yang mengarah ke penelitian produktivitas. Hambar dan Ruffin (seperti dikutip dalam Faizah Indrus and Nik Ahmad Hisham Nik Ismail, 2014) mengidentifikasi 12 faktor lingkungan penelitian yang berperforma tinggi yaitu: tujuan yang jelas untuk koordinasi, penekanan penelitian, budaya khas, iklim kelompok positif, organisasi terdesentralisasi, berpartisipasi pemerintahan, frekuensi komunikasi, sumber daya (terutama sumber daya manusia), kelompok umur, ukuran dan keragaman, imbalan yang sesuai, penekanan perekrutan, dan kepemimpinan yang baik atas keterampilan penelitian dan praktek manajemen. Budaya penelitian juga memainkan peran penting dalam pencapaian tujuan universitas/pt, serta pengelolaan staf. Penelitian adalah salah satu poros pendidikan universitas yang bisa mandiri; budaya akan menentukan pencapaian tujuan keberadaan universitas. Pada bagian manajemen SDM, relevansi yang melekat pada penelitian juga mempengaruhi manajemen SDM, di mana budaya penelitian menguntungkan semua staf, manajemen mereka akan menghasilkan luaran yang positif (Anijaobi et.al. dalam Faizah Indrus and Nik Ahmad Hisham Nik Ismail, 2014). Oleh karena itu, definisi operasional budaya penelitian dirancang bersama norma-norma, nilai-nilai, dan praktik yang terkait terutama dengan akuisisi pengetahuan sebagai bagian dari akademisi dalam suatu organisasi dan juga pengembangan pengetahuan baru dan ide-ide serta sebagai percobaan dengan teknik baru (Faizah Indrus and Nik Ahmad Hisham Nik Ismail, 2014). Budaya penelitian meliputi disiplin atau ide interdisipliner dan nilai-nilai, jenis tertentu dari pengetahuan dan produksi pengetahuan, praktek-praktek budaya dan narasi (misalnya bagaimana penelitian dilakukan, dan bagaimana peer review dilaksanakan), sosialisasi departemen, jaringan intelektual internal dan eksternal lainnya dan masyarakat belajar. Penjelasan kerja budaya penelitian institusional sebagai: nilai-nilai bersama, asumsi, keyakinan, ritual dan bentuk lain dari perilaku yang terfokus pada penerimaan dan pengakuan dari praktek penelitian dan output yang dihargai, berharga dan sebagai aktivitas unggulan (Linda Evans, 2007). Temuan Hasil Penelitian Tentang Budaya Penelitian Hanover Research (2014) mempublikasi temuan hasil penelitian tentang budaya penelitian seperti berikut ini. 1. Budaya penelitian membutuhkan baik pemimpin kelembagaan-dan unit berbasis tujuan penelitian yang jelas dan berkomunikasi secara efektif. Tujuan harus disertai dengan rencana yang ditetapkan, evaluasi keberhasilan penelitian serta karena setiap perubahan yang menyertainya ada kompensasi. Administrator juga harus menyesuaikan deskripsi pekerjaan untuk
6 menyertakan laporan penelitian dan pelajaran yang diperoleh demi membangun harapan masa depan. 2. Lembaga yang ingin mengembangkan budaya penelitian mengalokasikan sumber daya yang signifikan untuk pelatihan dan pendukungannya. Fakultas menyediakan beasiswa, Peneliti yang minim pengalaman membutuhkan pelatihan dan dukungan pribadi untuk menjadi mahir. Lembaga dapat mengembangkan pendidikan dan latihan berkelanjutan diikuti dengan dukungan layanan dalam praktek penelitian, menulis hibah, dan hibah pengelolaan. Program-program ini dapat ditempatkan di baik LPPM atau di pusat penelitian. 3. Budaya mengembangkan penelitian membutuhkan pribadi yang terbuka dan kolaboratif; Hubungan yang menyenangkan antar fakultas akan mendukung fakultas-fakultas untuk saling mentoring penelitian. Hubungan pribadi di antara fakultas juga cenderung untuk mendorong upaya penelitian kolaboratif, yang merupakan ciri khas dari keberhasilan budaya penelitian. 4. Untuk menerapkan perubahan budaya, administrator siap untuk menyesuaikan alokasi sumber daya berdasarkan motivasi anggota peneliti saat ini demi peningkatan kemampuan mereka. Mereka dengan motivasi tinggi walaupun kemampuan rendah cenderung akan membuat penggunaan sumber daya pendidikan dan pelatihan yang terbaik. Mereka dengan motivasi yang rendah adalah yang paling diuntungkan dari pengembangan hubungan pribadi baik di dalam unit mereka dan dalam komunitas akademis yang lebih besar. 5. Budaya penelitian memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkannya, setelah terbentuk, membutuhkan perawatan berkala. Kebijakan baru yang berkaitan dengan penelitian harus ditegakkan dengan keteraturan dari waktu ke waktu sebelum mereka merima. Setelah perubahan kebijakan diterima, administrator harus siap untuk memenuhi terus tantangan, seperti memelihara dana penelitian, pengembangan kemitraan dengan lembaga di luar untuk memperluas kesempatan penelitian, dan menghadapi perubahan kelembagaan 6. Rencana untuk budaya penelitian harus mencakup pertimbangan keterlibatan mahasiswa. Mahasiswa baik S1, S2 maupun S3 wajib melakukan penelitian sebagai tugas akhir. Lembaga Penelitian dapat mengembangkan keterampilan penelitian mahasiswa melalui asisten penelitian. Mentor Fakultas juga dapat memberikan bimbingan penelitian secara pribadi. Revolusi Mental dan Membangun budaya Penelitian Revolusi mental adalah transformasi etos, yaitu perubahan mendasar dalam mentalitas, cara berpikir, cara merasa dan cara mempercayai, yang semuanya menjelma dalam perilaku dan tindakan sehari-hari. Etos ini menyangkut semua bidang kehidupan mulai dari ekonomi, politik, sains-
7 teknologi, seni, agama, dsb. Begitu rupa, sehingga mentalitas bangsa (yang terungkap dalam praktik/kebiasaan seharihari) lambat-laun berubah. Pengorganisasian, rumusan kebijakan dan pengambilan keputusan diarahkan untuk proses transformasi itu. Dalam kehidupan sehari-hari, praktek revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong. Revolusi mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Inilah gagasan revolusi mental yang pertama kali dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus Membangun jiwa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku agar berorientasi pada kemajuan dan hal-hal yang modern, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsabangsa lain di dunia. Kenapa membangun jiwa bangsa yang merdeka itu penting? Membangun jalan, irigasi, pelabuhan, bandara, atau pembangkit energi juga penting. Namun seperti kata Bung Karno, membangun suatu negara, tak hanya sekadar pembangunan fisik yang sifatnya material, namun sesungguhnya membangun jiwa bangsa. Dengan kata lain, modal utama membangun suatu negara, adalah membangun jiwa bangsa. Inilah ide dasar dari digaungkannya kembali gerakan revolusi mental oleh Presiden Joko Widodo. Jiwa bangsa yang terpenting adalah jiwa merdeka, jiwa kebebasan untuk meraih kemajuan. Jiwa merdeka disebut Presiden Jokowi sebagai positivisme. Gerakan revolusi mental semakin relevan bagi bangsa Indonesia yang saat ini tengah menghadapi tiga problem pokok bangsa yaitu; merosotnya wibawa negara, merebaknya intoleransi, dan terakhir melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional. Revolusi mental adalah perubahan mental/kejiwaan/psikologis/batin/watak seseorang yang dilakukan dalam waktu yang cepat. Dari semua uraian diatas, mengindikasikan bahwa bapak Presiden Joko Widodo ingin mengadakan perubahan mental rakyat indonesia dengan cara yang cepat (revolusi). Para peneliti diminta ikut menjadi bagian dari gerakan Revolusi Mental. Peneliti-peneliti Indonesia hendaknya menjadi motor penggerak dalam membangun Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian. Hal ini penting agar kegiatan riset dan inovasi lebih terarah dan disinergikan juga dengan program pengembangan science and techno park, yang dikembangkan oleh perguruan tinggi yang ditugaskan sebagai center of excellence, kata Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani di Jakarta (Rabu, 11/3/2015). Bukan perkara mudah untuk menumbuhkan budaya meneliti termasuk didalamnya revolusi mental. Perlu konsentrasi, biaya dan waktu yang tidak
8 sedikit. Menumbuhkan budaya meneliti perlu menjadi tanggung jawab bersama baik lembaga/orbanisasi maupun perseorangan: dosen, mahasiswa dan alumni. Komitmen dan dukungan organisasi: 1) Harus ada dukungan penuh dari yayasan dan pimpinan PTS dalam membangun budaya akademik meneliti dosen dan mahasiswa. 2) Dukungan sarana dan prasarana (ruangan, internet, perpustakaan, lab, fasilitas lain) 3) Dukungan pendanaan internal untuk memacu dosen melakukan riset, 4) Dukungan sistem lembaga dan insentif riset. 5) Dukungan motivasi, pengarahan dan akses (Andreas Lako, 2014). Selain itu Andreas Lako, (2014) menyarankan agar Universitas/Perguruan Tinggi semestinya memiliki LPPM dan dipimpin oleh dosen yang kompeten dan berkualitas. LPPM berperan: 1) Menyusun tatakelola organisasi LPPM; 2) Menyusun Rencana Induk Pengembangan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat secara terintegrasi dan berkelanjutan; 3) Mengkoordinasi, mengarahkan dan memastikan pelaksanaan dan pencapaian tujuan dari aktivitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat para dosen dan mahasiswa; 4) Mencari dan mengelola informasi hibah penelitian dan PKM dari Dikti dan pihak-pihak lainnya, lalu menginformasikan kepada para dosen. 5) Mengkoordinasikan penelitian dan PKM antar program studi; 6) Memfasilitasi pelatihan dan pengembangan strategi menyusun proposal dan melakukan penelitian kepada para dosen dengan mengundang pihak-pihak yang kompeten; 7) Mendorong terbentuknya pusat-pusat studi untuk menghimpun minat meneliti para dosen pada bidang-bidang tertentu. 8) Memberikan skema dana hibah penelitian dari institusi untuk memotivasi minat dan kemampuan para dosen melakukan penelitianpenelitian awal. Pra-kondisi yang diperlukan untuk penyelenggaraan penelitian (Frans Mardi Hartanto, 2014) adalah seperti berikut: 1) Terdapat cukup banyak isyu yang layak untuk diteliti secara ilmiah, mendasar, dan mendalam; 2) Terjadi olah intelektual dan berbagi pengetahuan yang intensif di komunitas pakar dan komunitas praktisi yang berkaitan dengan isyu-isyu yang layak untuk diteliti; 3) Peneliti memahami dengan baik lingkungan penelitian yang digelutinya; 4) Tersedia infra-struktur belajar dan penelitian yang memadai. 5) Riset bisa dijalankan sendiri oleh peneliti independen; 6) Penelitian dilakukan di alam kebebasan dan dilaksanakan secara demokratik; 7) Penelitian dijalankan secara fleksibel, artinya para peneliti tidak terpaku pada suatu konsep atau pemikiran baku saja, tetapi bersifat adaptif; 8) Penelitian tidak dibatasi pada pemahaman pengetahuan baru yang eksplisit, namun juga menguasai pengetahuan nirwujud (tacit) yang relevan. Setelah terpenuhinya 8 pra-kondisi seperti di atas, untuk membangun budaya meneliti selanjutnya membangun komitmen dosen, menurut Andreas Lako (2014) meliputi: 1) Membangkitkan minat, tekad, kecintaan dan semangat untuk melakukan suatu penelitian. 2) Menspesialisasikan keahlian pada suatu bidang
9 ilmu tertentu sesuai dengan rekam jejak pendidikan dan pengajaran akademik yang telah dilakukan. 3) Rajin mencari sumber-sumber informasi penawaran skim hibah penelitian dari Dikti/Kopertis. 4) Mempelajari ketentuan atau syarat-syarat dari suatu skim hibah penelitian yang relevan, lalu strategi penulisan proposal seperti yang disyaratkan. 5) Mengumpulkan dan mempelajari sumber-sumber pustaka yang relevan sesuai spesialisasi bidang ilmu dan kompetensi riset yang akan dibangun; 6) Sebaiknya mengajak rekan yang memiliki ketertarikan pada bidang ilmu yang sama untuk menjadi rekan atau tim peneliti. 7) Bagi para dosen calon peneliti pemula, sebaiknya juga berguru pada dosen-dosen yang sudah berpengalaman dalam mendapatkan hibah penelitian dari Dikti, Kopertis atau lainnya yang memiliki persyaratan dan tingkat kompetisi yang tinggi. 8) Jangan pernah menyerah apabila mengalami kegagalan dalam pengajuan proposal hibah penelitian. Pelajari penyebab kegagalan dan lakukan perbaikan proposal untuk diajukan pada tahap berikutnya. 9) Teruslah meningkatkan pengetahuan dan kompetensi pada suatu bidang ilmu tertentu yang spesifik atau unik dengan mempelajari literatur terbaru dan amati femonena sosial, alam, Iptek, dan lainnya yang relevan. Keyakinan yang perlu dibangun oleh para peneliti (Frans Mardi Hartanto, 2014) baik dosen, mahasiswa maupun alumni adalah: 1) Kejujuran intelektual Peneliti berani menolak untuk membuat pernyataan tentang sesuatu fenomena atau peristiwa sebelum ia mendapat kesempatan untuk meneliti fenomena atau peristiwa tersebut secara ilmiah dan seksama; 2) Manfaat hasil penelitian Peneliti meyakini bahwa apa yang ditelitinya akan membawa manfaat bagi masyarakat, kini atau di masa depan; 3) Banyak pengetahuan yang belum terungkapkan Peneliti meyakini bahwa masih ada banyak fakta yang masih menunggu untuk diungkapkan melalui penelitian ilmiah; 4) Relativitas kebenaran Peneliti meyakini bahwa sesuatu kebenaran bersifat relatif, artinya di masa depan atau dalam konteks berbeda dapat saja diperoleh pengetahuan baru yang memunculkan fakta baru yang berbeda dari kebenaran yang diyakini saat ini di tempat ini. 5) Terbuka Peneliti memiliki hasrat tinggi untuk berolah intelektual, berbagi pengetahuan, dan belajar dari komunitas pakar maupun komunitas praktisi pada skala lokal, nasional, maupun global dalam iklim kesetaraan; 6) Mentalitas berkelimpahan Peneliti dengan senang hati berbagi pengetahuan dengan orang lain, karena yakin hal itu justru akan memungkinkannya untuk memperkaya pengetahuan yang telah dimiliknya; 7) Bebas dari rasa takut Peneliti bisa membebaskan diri dari rasa takut, bila ia yakin bahwa kegiatan penelitiannya sepenuhnya diabdikan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama; 8) Bebas dari bias intelektual Peneliti perlu membebaskan diri dari keterkaitan yang kaku pada suatu konsep atau teori tertentu; 10) Bebas dari taboo kultural Peneliti perlu berani membela temuannya yang diperoleh secara ilmiah, meskipun berbeda dengan tradisi dan kebiasaan yang ada; 11)
10 Egaliter Peneliti memperlakukan semua gagasan yang masuk sama, meskipun gagasan itu berasal dari orang yang secara akademik atau intelektual berada di bawahnya, serta tidak memaksakan pendapatnya pada orang lain; 12) Dewasa Peneliti memahami kemampuan dan keterbatasan dirinya sendiri serta mengatur dan memimpin diri mereka sendiri dengan bijak mereka mau menerima dan menghargai kritik serta terbuka bagi semua saran perbaikan; 13) Inovatif Peneliti menghargai prestasi orang lain, memiliki semangat belajar inovatif, dan memiliki orientasi yang kuat ke masa depan Peneliti tidak terbuai oleh suksesnya di masa lalu atau terjebak oleh konservatisme intelektual; 14) Toleran terhadap kesalahan Peneliti bukanlah orang yang sempurna, sebaliknya mereka menyadari bahwa kesalahan itu manusiawi Mereka selalu menyediakan Ruang untuk Kesalahan. 15) Inovatif Peneliti menghargai prestasi orang lain, memiliki semangat belajar inovatif, dan memiliki orientasi yang kuat ke masa depan Peneliti tidak terbuai oleh suksesnya di masa lalu atau terjebak oleh konservatisme intelektual. Penutup Produktifitas penelitian kita sangat rendah, hasil survey Internasional tentang jumlah publikasi penelitian menempatkan Indonesia pada urutan 62 dari 239 negara. Jika menelusuri akar masalah tidak hanya berkaitan dengan minimnya dana dan political will pemerintah, tetapi juga dipengaruhi: oleh mutu penelitian dosennya serta rendahnya budaya meneliti dalam masyarakat terutama kaum intelektual. Rendahnya kualitas mental dan budaya meneliti menyebabkan masyarakat akademik tidak terbiasa dan terlatih sehingga menjadi kendala ketika melakukan penelitian. Kebanyakan dosen masih belum memamahi arti penting melakukan penelitian untuk peningkatan kompetensi dan karir dirinya sebagai dosen profesional, untuk membangun reputasi akademik institusi pendidikannya, dan juga untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi. Munculnya kebijakan diharuskanya mahasiswa S-1, S-2, dan S3 mempublikasikan karya ilmiah merupakan salah satu langkah awal menumbuhkan budaya meneliti mahasiswa dan dosen untuk menghasilkan karya tulis. Budaya yang menunjukkan pada 3 aspek itu adalah sebagai pemrograman kolektif pikiran yang membedakan anggota satu kategori orang dari yang lain. Budaya penelitian adalah cerminan nilai-nilai, cita-cita dan keyakinan tentang penelitian dalam organisasi, pada gilirannya tercermin dalam perilaku penelitian, tindakan penelitian dan simbol penelitian organisasi. Studi pada budaya penelitian telah difokuskan pada jenis lingkungan yang mengarah ke penelitian produktivitas. Makalah ini telah mengidentifikasi 6 temuan hasil penelitian tentang budaya penelitian terkait penelitian kelembagaan maupun individual yang bermanfaat baik untuk dosen, mahasiswa maupun alumninya.
11 Membangun budaya meneliti perlu menjadi tanggung jawab bersama baik lembaga/organisasi maupun perseorangan: dosen, mahasiswa dan alumni. Secara organisatoris, Universitas/ Perguruan Tinggi semestinya memiliki LPPM dan dipimpin oleh dosen yang kompeten dan berkualitas; disamping 5 Komitmen dan dukungan organisasi, LPPM perlu memainkan 8 perannya. Terdapat 8 pra-kondisi yang diperlukan untuk penyelenggaraan penelitian, setelah terpenuhi, untuk membangun budaya meneliti selanjutnya perlu membangun 9 komitmen dosen. Pada akhirnya terdapat 15 Keyakinan yang perlu dibangun oleh para peneliti baik dosen, mahasiswa maupun alumni. Daftar Pustaka Andreas Lako, Membangun Budaya Meneliti. Makalah dasajikan dalam Pelatihan Metodologi Penelitian bagi Dosen PTS Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah, Salatiga Pebruari 2014 Dinar Pratama, Budaya Meneliti Masih Rendah (Membumikan Budaya Meneliti Di Babel). Faizah Indrus and Nik Ahmad Hisham Nik Ismail, Research Culture: An Indispensible Practice for Progress? Prociding of IAC-SSaH International Academic Conference on Social Sciences and Humanities in Prague 2014 (IAC-SSaH 2014 in Prague) Frans Mardi Hartanto, Membangun budaya belajar dikalangan peneliti. Meneliti-Desember-2014.pdf. Hanover Research, Building a Culture of Research: Recommended Practices. Research-Recommended-Practices.pdf. Linda Evans, Developing Research Cultures and Researchers in HE: the Role of Leadership. paper was presented at the Annual Conference of the Society for Research into Higher Education (SRHE) December 11 th 2007 M. Allyson Macdonald Contradictions in educational research: a case study from teacher education in Iceland. A paper presented at the 32 nd NERA Annual Congress Held in Reykjavík, Iceland 11 th 13 th March 2004
MEMBANGUN BUDAYA BELAJAR
MEMBANGUN BUDAYA BELAJAR DI KALANGAN PENELITI [email protected] Bandung Meneliti Sebagai Vokasi 1 Penelitian hanya dapat diharapkan memberi hasil yang bernilai tinggi, bila penelitian itu dijalankan
PROGRAM KERJA FAKULTAS
PROGRAM KERJA FAKULTAS STRATEGI 2030 Untuk mewujudkan tujuan, Fakultas Pertanian IPB menyusun strategi dengan mempertimbangkan asumsi-asumsi sebagai berikut: 1. Berkembangnya kompetensi dan komitmen staf
Penelitian di Bidang Manajemen
Penelitian di Bidang Manajemen Frans Mardi Hartanto [email protected] Bandung Manajemen - Ilmu Hibrida yang Multidisipliner 1 Ilmu manajemen adalah hasil perpaduan dari berbagai ilmu yang berbeda namun
STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA
STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA I. VISI, MISI, DAN TUJUAN UNIVERSITAS A. VISI 1. Visi harus merupakan cita-cita bersama yang dapat memberikan inspirasi, motivasi, dan kekuatan
RENCANA STRATEGIS PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNIVERSITAS SRIWIJAYA
RENCANA STRATEGIS PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNIVERSITAS SRIWIJAYA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2014-2018 Kata Pengantar RENCANA STRATEGIS PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
ID No EQUIS Input Proses Output Predecessors. Membuat Visi. 3 N/A Membuat Misi 2
ID No EQUIS Input Proses Output Predecessors 1 N/A Perencanaan Visi, Misi, Nilai 2 1.d.2 Daftar pemegang kepentingan, deskripsi organisasi induk, situasi industri tenaga kerja, dokumen hasil evaluasi visi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sekolah merupakan institusi yang kompleks. Kompleksitas tersebut,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan institusi yang kompleks. Kompleksitas tersebut, bukan saja dari masukannya yang bervariasi, melainkan dari proses pembelajaran yang diselenggarakan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan Pendidikan Nasional adalah upaya mencerdasakan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertaqwa dan berahlak mulia
KOMPONEN G PENELITIAN, PELAYANAN/PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT, DAN KERJASAMA
KOMPONEN G PENELITIAN, PELAYANAN/PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT, DAN KERJASAMA G.1. Kualitas, Produktivitas, Relevansi Sasaran, dan Efisiensi Pemanfaatan Dana Penelitian dan Pelayanan/Pengabdian kepada Masyarakat.
TABEL: ORIENTASI, STRATEGI, KEBIJAKAN DAN INDIKATOR KINERJA PER TAHAPAN RIP UII PENDIDIKAN. Lampiran halaman 1. Orientasi (Strategic Intent)
TABEL: ORIENTASI, STRATEGI, KEBIJAKAN DAN INDIKATOR KINERJA PER TAHAPAN RIP UII 2008-2038 PENDIDIKAN Excellent Koordinasi/ komitmen: Organisasi Spirit Peningkatan kualitas kurikulum peningkatan proses
RENCANA STRATEGIS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT STIE MIKROSKIL
RENCANA STRATEGIS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT STIE MIKROSKIL 2016-2020 PUSAT PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT STIE MIKROSKIL 2016 DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 Tujuan... 1 Landasan dan
BAB I PENDAHULUAN. organisasi dibutuhkan etos kerja dalam diri karyawan karena etos kerja
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam Menghadapi perkembangan dunia usaha yang semakin pesat dan disertai persaingan yang ketat, membuat organisasi membenahi manajemennya dan mampu menawarkan produknya
BUKU PEDOMAN. PENYUSUNAN PROPOSAL PEMANFAATAN BOPTN PENELITIAN (Non-Simlitabmas) UNIVERSITAS GADJAH MADA TAHUN ANGGARAN 2015
BUKU PEDOMAN PENYUSUNAN PROPOSAL PEMANFAATAN BOPTN PENELITIAN (Non-Simlitabmas) UNIVERSITAS GADJAH MADA TAHUN ANGGARAN 2015 LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS GADJAH MADA 2014
Manual Mutu Penelitian Universitas Sanata Dharma MM.LPM-USD.04. M a n u a l M u t u P e n e l i t i a n 2
Manual Mutu Penelitian Universitas Sanata Dharma MM.LPM-USD.04 M a n u a l M u t u P e n e l i t i a n 2 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI 2 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 3 1.2 Tujuan 3 BAB 2 PENGERTIAN
PERAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI REVOLUSI MENTAL UNTUK MEMBANGUN GENERASI BANGSA. M. ABDUL ROZIQ ASRORI *) *) Dosen STKIP PGRI Tulungagung
PERAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI REVOLUSI MENTAL UNTUK MEMBANGUN GENERASI BANGSA M. ABDUL ROZIQ ASRORI *) *) Dosen STKIP PGRI Tulungagung ABSTRAK Revolusi Mental adalah gerakan seluruh rakyat Indonesia
Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia
Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia Situasi Penelitian di Indonesia Indonesia, dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta orang, adalah negara terbesar keempat di dunia. Tingkat buta huruf rendah dan negara
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Paparan hasil penelitian sebagaimana terdapat dalam bab IV telah memberikan gambaran yang utuh terkait implementasi SMM ISO di UIN Maliki Malang. Berikut disajikan beberapa
BAB I PENDAHULUAN. karena itu pendidikan amat strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan. meningkatkan mutu bangsa secara menyeluruh.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha membudayakan manusia, oleh karena itu pendidikan amat strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan mutu bangsa
VISI, MISI DAN PROGRAM KERJA
VISI, MISI DAN PROGRAM KERJA Oleh Prof. Dr. Herri CALON DEKAN FEUA PERIODE TAHUN 2016-2020 Visi Menjadi Fakultas Ekonomi yang menghasilkan sumber daya insani yang kreatif, inovatif, profesional dan kompetitif,
BAB 1 PENDAHULUAN. dengan budaya lokal, telah menampilkan budaya yang lebih elegan.
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Islam sebagai agama merupakan suatu fenomena global yang telah memberikan perubahan yang signifikan dalam peradaban dunia. Satu abad saja dari kemunculannya
RIP Institusi STRATEGI KEBIJAKAN DAN INDIKATOR KINERJA RIP IAIN SULTAN AMAI GORONTALO Matriks BIDANG : PENDIDIKAN
Matriks STRATEGI KEBIJAKAN DAN INDIKATOR KINERJA IAIN SULTAN AMAI GORONTALO2012-2027 BIDANG : PENDIDIKAN Komponen Orientasi (Strategic Intent) Strategi Dasar Kebijakan Dasar Indikator Kinerja 134 Tahap
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka keterpaduan pelaksanaan Pengembangan Ekonomi Kreatif, dengan ini
Gerakan Nasional Revolusi Mental
Gerakan Nasional Revolusi Mental Revolusi Mental adalah perubahan cara pandang, cara pikir, sikap, perilaku dan cara kerja bangsa Indonesia yang mengacu nilainilai strategis instrumental yaitu integritas,
PENGEMBANGAN KAPASITAS KELEMBAGAAN: KASUS FPTK UPI. M. Syaom Barliana
PENGEMBANGAN KAPASITAS KELEMBAGAAN: KASUS FPTK UPI M. Syaom Barliana CATATAN AWAL: Bermula dari Keterbatasan Infrastruktur? Problem umum yang dihadapi dunia pendidikan nasional, termasuk upaya pengembangan
Pedagogik Kepribadian Profesional Sosial
MENJADI SEORANG GURU PROFESIONAL Oleh Prof. Dr. H. Almasdi Syahza, SE., MP Email : [email protected] Website: http://almasdi.staff.unri.ac.id Disampaikan pada: Pekanbaru, 2012 1 GURU YANG DIHARAPKAN
MENJADI SEORANG GURU PROFESIONAL
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru MENJADI SEORANG GURU PROFESIONAL GURU YANG DIHARAPKAN (Menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2005) Oleh Prof. Dr. H. Almasdi Syahza, SE., MP Email : [email protected]
PROGRAM KERJA BAKAL CALON REKTOR ITS Menuju. Kemandirian, Keunggulan dan Kesejahteraan by : Triwikantoro
PROGRAM KERJA BAKAL CALON REKTOR ITS 2015 2019 Menuju Kemandirian, Keunggulan dan Kesejahteraan by : Triwikantoro Latar Belakang Visi ITS menjadi perguruan tinggi dengan reputasi internasional dalam ilmu
Oleh : S u p a n d i, SE (Kabid Pengembangan BKD Kab. Kolaka) A. Pendahuluan
PROMOSI JABATAN MELALUI SELEKSI TERBUKA PADA JABATAN ADMINISTRATOR; TATA CARA PELAKSANAAN DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA DILINGKUNGAN PEMERINTAH KAB. KOLAKA Oleh : S u p a n d i, SE (Kabid Pengembangan BKD
KISI-KISI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH
Manajerial Menyusun perencanaan untuk berbagai tingkatan perencanaan Memimpin dalam rangka pendayagunaan sumber daya secara optimal Menciptakan budaya dan iklim yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
www.bpkp.go.id INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka keterpaduan pelaksanaan Pengembangan Ekonomi Kreatif,
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap tahun jumlah penduduk di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Ini dikarenakan angka kelahiran lebih besar daripada angka kematian. Berdasarkan
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI A. Simpulan Berdasarkan hasil pembahasan penelitian ini, dapat diambil beberapa simpulan sesuai dengan permasalahan yang diteliti, sebagai berikut: Dukungan kebijakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidik merupakan tenaga professional sesuai dengan bidangnya, hal ini sejalan dengan Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Pemerintah Kota Bandung, dalam hal ini Walikota Ridwan Kamil serta Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya, telah menunjukkan pentingnya inovasi dalam dalam program
7 Prinsip Manajemen Mutu - ISO (versi lengkap)
7 Prinsip Manajemen Mutu - ISO 9001 2015 (versi lengkap) diterjemahkan oleh: Syahu Sugian O Dokumen ini memperkenalkan tujuh Prinsip Manajemen Mutu. ISO 9000, ISO 9001, dan standar manajemen mutu terkait
Komentar dan Rekomendasi
Komentar dan Rekomendasi Nama Perguruan Tinggi Skema Reviewer : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara : Skema B : 1. Erlina Marfianti 2. Joko Mulyanto 1. Komentar Umum Selama dua hari visitasi, tanggal
KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN SOSIALISASI GERAKAN NASIONAL REVOLUSI MENTAL
KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN SOSIALISASI GERAKAN NASIONAL REVOLUSI MENTAL Jakarta, 21 Agustus 2015 REVOLUSI MENTAL Revolusi mental merupakan suatu gerakan seluruh masyarakat
Materi 9 Organizing: Manajemen Sumber Daya Manusia
Materi 9 Organizing: Manajemen Sumber Daya Manusia Dengan telah adanya struktur organisasi, manajer harus menemukan orang-orang untuk mengisi pekerjaan yang telah dibuat atau menyingkirkan orang dari pekerjaan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka keterpaduan pelaksanaan pengembangan Ekonomi Kreatif, dengan ini
Sekolah Inklusif: Dasar Pemikiran dan Gagasan Baru untuk Menginklusikan Pendidikan Anak Penyandang Kebutuhan Khusus Di Sekolah Reguler
Sekolah Inklusif: Dasar Pemikiran dan Gagasan Baru untuk Menginklusikan Pendidikan Anak Penyandang Kebutuhan Khusus Di Sekolah Reguler Drs. Didi Tarsidi I. Pendahuluan 1.1. Hak setiap anak atas pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Simbol manifestasi negara demokrasi adalah gagasan demokrasi dari
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Simbol manifestasi negara demokrasi adalah gagasan demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pemilihan Umum (Pemilu) menjadi bagian utama dari gagasan
BAB I PENDAHULUAN. Tugas pokok dan fungsi yang harus dilaksanakan oleh setiap perguruan tinggi adalah
2016 1 2 3 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tugas pokok dan fungsi yang harus dilaksanakan oleh setiap perguruan tinggi adalah Tri Dharma Perguruan Tinggi, dimana salah satunya adalah pengabdian
Rencana Operasional FMIPA RENCANA OPERASIONAL FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
RENCANA OPERASIONAL FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM 2011-2014 UNIT JAMINAN MUTU FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM Januari 2011 1 KATA PENGANTAR Alhamdulillah, Rencana Operasional
MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA Sambutan Pada Acara PEMBUKAAN REMBUK NASIONAL PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN (RNPK) TAHUN 2016 Tema: Meningkatkan Pelibatan Publik
Dokumen Kurikulum Program Studi : Arsitektur
Dokumen Kurikulum 2013-2018 Program Studi : Arsitektur Fakultas : Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung Total Bidang Halaman Kode Akademik Dokumen dan Kemahasiswaan
KETUA PANITIA: TOTO SUPRIYANTO, S.T., M.T
PANDUAN LOMBA sains dan TERAPAN (LST) KETUA PANITIA: TOTO SUPRIYANTO, S.T., M.T. POLITEKNIK NEGERI JAKARTA DEPOK 2017 1 I. PENDAHULUAN Era globalisasi memberi memberi dampak ganda yaitu di samping membuka
Karya kreatif, inovatif dalam membuka peluang usaha 2 Materi kegiatan Semua bidang ilmu atau yang relevan
PANDUAN KOMPETISI LOMBA BUSSINESS PLAN PROGRAM DIII ANALIS KIMIA F-MIPA UII 2014 I. PENDAHULUAN 1.1 Penjelasan Umum Lulusan sebuah perguruan tinggi dituntut untuk memiliki academic knowledge, skill of
BAB I PENDAHULUAN. baik dalam penguasaan materi maupun metode pembelajaran selalu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam dunia pendidikan saat ini, peningkatan kualitas pembelajaran baik dalam penguasaan materi maupun metode pembelajaran selalu diupayakan. Salah satu
BAB I PENDAHULUAN. pengawasan, dan penilaian. Suasana pembelajaran akan mampu. menciptakan lingkungan akademis yang harmonis dan produktif, jika
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan manajemen pembelajaran atau pengelolaan pembelajaran dimulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, pengorganisasian, pengawasan, dan penilaian. Suasana pembelajaran
RENCANA STRATEGIS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT STMIK MIKROSKIL
RENCANA STRATEGIS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT STMIK MIKROSKIL 016-00 PUSAT PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT STMIK MIKROSKIL 016 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT. Tuhan Yang Maha
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Tujuan pendidikan nasional yang diamanatkan dalam pembukaan undangundangdasar
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tujuan pendidikan nasional yang diamanatkan dalam pembukaan undangundangdasar tahun 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mewujudakan tujuan tersebut,
Definisi tersebut dapat di perluas di tingkat nasional dan atau regional.
Definisi Global Profesi Pekerjaan Sosial Pekerjaan sosial adalah sebuah profesi yang berdasar pada praktik dan disiplin akademik yang memfasilitasi perubahan dan pembangunan sosial, kohesi sosial dan pemberdayaan
MENINGKATKAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN 1
MENINGKATKAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN 1 A. KONDISI KEMISKINAN 1. Asia telah mencapai kemajuan pesat dalam pengurangan kemiskinan dan kelaparan pada dua dekade yang lalu, namun
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88 TAHUN 2014 TENTANG
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN PERGURUAN TINGGI NEGERI MENJADI PERGURUAN TINGGI NEGERI BADAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. (entrepreneurship) sering sekali terdengar, baik dalam bisnis, seminar, pelatihan,
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini istilah wirausaha (entrepreneur) dan kewirausahaan (entrepreneurship) sering sekali terdengar, baik dalam bisnis, seminar, pelatihan, program pemberdayaan sampai
KETENTUAN UMUM Pasal 1 Pengertian Peraturan Penelitian dan Publikasi Ilmiah
KETENTUAN UMUM Pasal 1 Pengertian Peraturan Penelitian dan Publikasi Ilmiah (1) Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan: a. Peraturan Penelitian dan Publikasi Ilmiah adalah seperangkat aturan mengenai
BAB I PENDAHULUAN. dasawarsa terakhir ini, ternyata belum sepenuhnya mampu menjawab. kebutuhan dan tantangan nasional dan global dewasa ini.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sistem pendidikan nasional yang telah dibangun selama tiga dasawarsa terakhir ini, ternyata belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan dan tantangan nasional
MIMPI MEMPUNYAI UNIVERSITAS KELAS DUNIA. Oleh Hendra Gunawan*
MIMPI MEMPUNYAI UNIVERSITAS KELAS DUNIA Oleh Hendra Gunawan* Dalam banyak hal di republik ini, menurut Effendi Gazhali, kita hanya baru bisa mimpi. Masih lumayan, karena ini menunjukkan kita masih mempunyai
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Gambaran Umum SMA IPIEMS Surabaya SMA IPIEMS Surabaya telah mengalami banyak sekali perubahan dan perkembangan dalam sejarahnya yang relatif panjang. Dari perspektif
AMANAT MENTERI SOSIAL RI PADA UPACARA PERINGATAN HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER 2O16
MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA AMANAT MENTERI SOSIAL RI PADA UPACARA PERINGATAN HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER 2O16 Assalamu alaikum. Wr. Wb. Salam Sejahtera bagi kita semua; Saudara - saudara para peserta
Sekolah Tinggi Hukum Galunggung Tasikmalaya. Tim Penyusun
Laporan Rencana Strategis Sekolah Tinggi Hukum Galunggung Tasikmalaya Periode 2013 2017 Tim Penyusun Sekolah Tinggi Hukum Galunggung Tasikmalaya 2013 11 Daftar Isi Executive Summary Bab I. Pendahuluan...
PROGRAM PENGEMBANGAN KAPASITAS PROGRAM STUDI PPKPS UNIVERSITAS HASANUDDIN MARET 2013
PROGRAM PENGEMBANGAN KAPASITAS PROGRAM STUDI PPKPS UNIVERSITAS HASANUDDIN MARET 2013 Pendahuluan Program studi merupakan lini terdepan penyelenggaraan kegiatan tri dharma, oleh karena itu prodi perlu diberikan
KEBIJAKAN AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA TAHUN
KEBIJAKAN AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA TAHUN 2007-2012 Jakarta 2007 DAFTAR ISI Hal Judul i Daftar Isi.. ii Kata Pengantar.. iii Keputusan Senat Unika Atma Jaya... iv A. Pendahuluan
Department of Management FEB UB
N e w F a c e, N e w H o p e, N e w I n s p i r a t i o n 2013 Department of Management FEB UB D Building 1st Floor, Jalan Mayjen Haryono 165 B Malang 65145 Phone : +62-341 558224, Fax : +62-341 558224
PROGRAM HIBAH KOMPETISI BERBASIS INSTITUSI. Penyusunan Proposal Awal
PROGRAM HIBAH KOMPETISI BERBASIS INSTITUSI Penyusunan Proposal Awal Struktur Proposal Awal Difokuskan pada evaluasi diri di tingkat institusi Melandasi rasional untuk penetapan program pengembangan Satu
Struktur Proposal Awal
PROGRAM HIBAH KOMPETISI BERBASIS INSTITUSI Penyusunan Proposal Awal Struktur Proposal Awal Difokuskan pada evaluasi diri di tingkat institusi Melandasi rasional untuk penetapan program pengembangan Satu
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini membahas mengenai metode penelitian yang digunakan penulis dalam mengumpulkan sumber berupa data dan fakta yang berkaitan dengan penelitian yang penulis kaji mengenai
BAB I PENDAHULUAN. tantangan yang lebih terbuka, sehingga sangat dibutuhkan kehadiran setiap
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Kehidupan masa mendatang cenderung semakin kompleks dan penuh tantangan yang lebih terbuka, sehingga sangat dibutuhkan kehadiran setiap insan yang kompeten
Membangun Wilayah yang Produktif
Membangun Wilayah yang Produktif Herry Darwanto *) Dalam dunia yang sangat kompetitif sekarang ini setiap negara perlu mengupayakan terbentuknya wilayah-wilayah yang produktif untuk memungkinkan tersedianya
Kisi-Kisi Uji Kompetensi Kepala Sekolah, UKKS
Kisi-Kisi Uji Kompetensi Kepala Sekolah, UKKS Berikut Kisi-Kisi Uji Kompetensi Kepala Sekolah (UKKS) DIMENSI KOMPETENSI INDIKATOR Manajerial Menyusun perencanaan untuk berbagai tingkatan perencanaan Merumuskan
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. SMA Negeri 2 Sarolangun) dapat disimpulkan sebagai berikut :
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan peneliti terhadap "Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengembangkan Sekolah Efektif (Studi
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN (RIP)
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN (RIP) 2015-2028 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2015 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT atas tersusunnya Rencana Induk Pengembangan (RIP) Fakultas Farmasi
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL TENTANG NOMOR 16 TAHUN 2005 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS AIRLANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 16 TAHUN 2005 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS AIRLANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, Menimbang : a. Bahwa dalam rangka meningkatkan mutu Universitas Airlangga
BAB I PENDAHULUAN. menjadi pelayan masyarakat yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik sesuai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada era globalisasi saat ini, organisasi birokrasi dituntut untuk dapat menjadi pelayan masyarakat yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan
Oleh. Soekirno. Tantangan Budaya Baca dan Perbukuan Nasional. Tantangan Budaya Baca dan Perbukuan Nasional
Tantangan Budaya Baca dan Perbukuan Nasional Oleh Soekirno Hari ini (14 September) adalah Hari Kunjung Perpustakaan. Dunia mencatat peradaban maupun budaya bisa maju pesat, sebagai dampak positif buku
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN V.1. Visi Menuju Surabaya Lebih Baik merupakan kata yang memiliki makna strategis dan cerminan aspirasi masyarakat yang ingin perubahan sesuai dengan kebutuhan, keinginan,
BAB I PENDAHULUAN. di hampir semua aspek kehidupan manusia. Di satu sisi perubahan itu bermanfaat
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia. Di satu sisi perubahan itu bermanfaat bagi
PANDUAN TEKNIS PENYUSUNAN PROPOSAL RENCANA KERJA PENGEMBANGAN PUSAT UNGGULAN IPTEK TAHUN Nomor : 01/PUI/P-Teknis/Litbang/2016
PANDUAN TEKNIS PENYUSUNAN PROPOSAL RENCANA KERJA PENGEMBANGAN PUSAT UNGGULAN IPTEK TAHUN 2016 Nomor : 01/PUI/P-Teknis/Litbang/2016 DIREKTORAT JENDERAL KELEMBAGAAN IPTEK DAN DIKTI KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI
GUNA MENGHASILKAN INOVASI UNGGUL
MEWUJUDKAN SDM PTS BERMUTU GUNA MENGHASILKAN INOVASI UNGGUL Oleh Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, Ph.D. (Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kemenristekdikti) Visi Kemenristekdikti Terwujudnya pendidikan
SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR. www.kas.de
SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR www.kas.de DAFTAR ISI 3 MUKADIMAH 3 KAIDAH- KAIDAH POKOK 1. Kerangka hukum...3 2. Kepemilikan properti dan lapangan kerja...3
LAPORAN KEGIATAN PELATIHAN DOSEN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KOPERTIS WILAYAH III JAKARTA
LAPORAN KEGIATAN PELATIHAN DOSEN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KOPERTIS WILAYAH III JAKARTA DISUSUN OLEH : YULIATI, S.KEP, M.KEP DWI HENDRO WIDAYATMOKO, SE, MM BARIKA, SE, MM DEPARTEMEN KEMAHASIWAAN UNIVERSITAS
BAB I PENDAHULUAN. di segala bidang. Kenyataan tersebut menuntut profesionalisme sumber daya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Penyelenggaraan pemerintahan yang efisien dan efektif menjadi tuntutan di era globalisasi yang sangat erat kaitannya dengan persaingan dan keterbatasan di
KATALOG PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH (PLS)
KATALOG PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH (PLS) RASIONAL PROGRAM Layanan program PLS tumbuh subur dan tersebar luas di tengah masyarakat, baik program-program yang bersifat institusional, informasional,
BAB I PENDAHULUAN. diupayakan dan dikembangkan seiring dengan perkembangan jaman.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Saat ini peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia terus diupayakan dan dikembangkan seiring dengan perkembangan jaman. Pendidikan yang merupakan
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil penelitian dan analisis yang telah dipaparkan, maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut: 1. Perencanaan pendidikan Life Skill di Sekolah Dasar Lebah Putih
PANDUAN UMUM INTEGRITAS - ETOS KERJA - GOTONG ROYONG BUKU SAKU UNTUK INDONESIA BERDAULAT, BERDIKARI DAN BERKEPRIBADIAN
SERI 2 BUKU SAKU PANDUAN UMUM INTEGRITAS - ETOS KERJA - GOTONG ROYONG UNTUK INDONESIA BERDAULAT, BERDIKARI DAN BERKEPRIBADIAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK
MENGULAS KEMAMPUAN MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH. DI ERA OTONOMI Oleh: Dr. H. Yoyon Bahtiar Irianto, M.Pd. (FIP-UPI)
MENGULAS KEMAMPUAN MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH A. Prawacana DI ERA OTONOMI Oleh: Dr. H. Yoyon Bahtiar Irianto, M.Pd. (FIP-UPI) Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan formal
MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA
SALINAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG
PENGELOLAAN PENDIDIKAN ANAK GIFTED DI INDONESIA
PENGELOLAAN PENDIDIKAN ANAK GIFTED DI INDONESIA Oleh : Rochmat Wahab Staf Pengajar Jurusan PLB FIP UNY PENGANTAR PENGALAMAN REFORMASI PENDIDIKAN AS SEBAGAI RESPON TERHADAP PRESTASI RUSIA YANG MELUNCURKAN
EVALUASI KINERJA DOSEN DALAM PERKULIAHAN
EVALUASI KINERJA DOSEN DALAM PERKULIAHAN Evaluasi kinerja dosen dalam perkuliahan ini ditujukan untuk memastikan bahwa kinerja dosen dalam pembelajaran tiap semester telah dilaksanakan dengan baik sesuai
