BAB I TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur superfisial kronik ringan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN KASUS IDENTITAS PASIEN

FARMAKOTERAPI PADA PENYAKIT INFEKSI JAMUR. dr. Agung Biworo, M.Kes

BAB 1 PENDAHULUAN. Akne vulgaris (AV) atau jerawat merupakan suatu penyakit. keradangan kronis dari folikel pilosebasea yang ditandai dengan

FARMAKOTERAPI PADA PENYAKIT INFEKSI JAMUR

PTIRIASIS VERSIKOLOR

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

Obat Luka Diabetes Pada Penanganan Komplikasi Diabetes

BAB I PENDAHULUAN. yang rendah menyebabkan keadaan yang menguntungkan bagi pertumbuhan

All about Tinea pedis

BAB I PENDAHULUAN. mamalia. Beberapa spesies Candida yang dikenal dapat menimbulkan penyakit

BAB I PENDAHULUAN. Rambut merupakan mahkota bagi setiap orang. Masalah kulit kepala sering

BAB I PENDAHULUAN. kebersihan terutama pada kehidupan sehari hari. Dalam aktivitas yang relatif

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Indonesia adalah negara yang banyak ditumbuhi. berbagai jenis tanaman herbal. Potensi obat herbal atau

COCCIDIOIDES IMMITIS

BAB I PENDAHULUAN. berjuang menekan tingginya angka infeksi yang masih terjadi sampai pada saat

DEFINISI Ketombe (juga disebut sindap dan kelemumur; dengan nama ilmiah Pityriasis capitis) adalah pengelupasan kulit mati berlebihan di kulit

I. TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol (Gladiolus hybridus L) tergolong dalam famili Iridaceae yang

ARTIKEL KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana strata-1 kedokteran umum

TINJAUAN PUSTAKA. A. Klasifikasi Tanaman Pisang. Menurut Cronquist (1981) Klasifikasi tanaman pisang kepok adalah sebagai. berikut: : Plantae

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kondisi ekonomi menengah kebawah. Skabies disebabkan oleh parasit Sarcoptes

BAB I PENDAHULUAN. pleomorfik, komedo, papul, pustul, dan nodul. (Zaenglein dkk, 2008).

OTC (OVER THE COUNTER DRUGS)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Actinomyces israelii

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Vitiligo merupakan penyakit yang tidak hanya dapat menyebabkan gangguan

Hidrokinon dalam Kosmetik

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa genus Plasmodium

MENGATASI KERACUNAN PARASETAMOL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Written by Administrator Sunday, 07 August :30 - Last Updated Wednesday, 07 September :03

KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL

Masalah Kulit Umum pada Bayi. Kulit bayi sangatlah lembut dan membutuhkan perawatan ekstra.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. jamur oportunistik yang sering terjadi pada rongga mulut, dan dapat menyebabkan

Si Musuh Kulit Kepala Anak-Anak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. baik usia muda maupun tua (Akphan dan Morgan, 2002). Kandidiasis oral

APA ITU TB(TUBERCULOSIS)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Notoatmodjo(2011),pengetahuan mempunyai enam tingkatan,yaitu:

SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA

Tentang Penyakit SIPILIS dan IMPOTEN...!!! Posted by AaZ - 12 Aug :26

Pengertian farmakokinetik Proses farmakokinetik Absorpsi (Bioavaibilitas) Distribusi Metabolisme (Biotransformasi) Ekskresi

BAB 1 PENDAHULUAN. contohnya wajah dan leher (Wolff et al., 2008). Lesi melasma ditandai oleh

VITAMIN LARUT DALAM AIR. Oleh dr. Sri Utami B.R. MS

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai uji klinis dan di pergunakan untuk pengobatan yang berdasarkan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. endemik di Indonesia (Indriani dan Suminarsih, 1997). Tumbuhan-tumbuhan

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL BUDIDAYA KUNYIT. Mono Rahardjo dan Otih Rostiana

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (Hayati et al., 2010). Tanaman ini dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 5-10

keluhan baru. Emang dasar mungkin saya aja termasuk tipe ibu hamil yang rewel kali ya.

MICROSPORUM GYPSEUM. Microsporum Scientific classification

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh dermatofit, yaitu sekelompok infeksi jamur superfisial yang

BAB I PENDAHULUAN. muda sampai coklat tua mengenai area yang terpajan sinar. pipi, dahi, daerah atas bibir, hidung, dan dagu. 2

BAB I PENDAHULUAN. stomatitis apthosa, infeksi virus, seperti herpes simpleks, variola (small pox),

TINEA KAPITIS, apa tuh??

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tomat dapat dijadikan sebagai bahan dasar kosmetik atau obat-obatan. Selain

Kebutuhan : 2 mg/100 mg protein. Farmakokinetik - mudah diabsorbsi - ekskresi dalam bentuk 4-asam piridoksat dan piridoksal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. unggas air yang cocok untuk dikembangbiakkan di Indonesia. Sistem

BAB II LANDASAN TEORI

juga mendapat terapi salisilat. Pasien harus diberi pengertian bahwa selama terapi bismuth subsalisilat ini dapat mengakibatkan tinja berwarna hitam

BAB 1 PENDAHULUAN. kronik yang sering ditemukan (Kurniati, 2003). Biasanya terjadi di daerah yang

BAB I PENDAHULUAN. Kosmetik memiliki sejarah panjang dalam kehidupan manusia. Berdasarkan hasil penggalian arkeologi, diketahui bahwa kosmetik telah

HIPOKALSEMIA DAN HIPERKALSEMIA. PENYEBAB Konsentrasi kalsium darah bisa menurun sebagai akibat dari berbagai masalah.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Otomikosis atau otitis eksterna jamur sering melibatkan pinna dan meatus

VISUM ET REPERTUM No : 15/VRJ/06/2016

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kemajuan tingkat ekonomi di Indonesia menyebabkan banyak

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Ekstraksi dan Penapisan Fitokimia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Taksonomi Tanaman Karet Sistem klasifikasi, kedudukan tanaman karet sebagai berikut :

TINJAUAN PUSTAKA. Adapun klasifikasi Colletotrichum gloeosporioides Penz. Sacc. menurut. : Colletotrichum gloeosporioides Penz. Sacc.

BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh berbagai faktor dengan gambaran klinis yang khas

JAMBU BIJI BAB. I. (Psidium guajava L.) Gambar 1.1. Macam-Macam Warna Jambu Biji (Psidium guajava L.)

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Masalah. Streptococcus sanguis merupakan bakteri kokus gram positif dan ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lunak yang dapat larut dalam saluran cerna. Tergantung formulasinya kapsul terbagi

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat

BAB I PENDAHULUAN. salah satu penyebab utama kematian. Ada sekitar sepertiga penduduk dunia telah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981), adapun sistematika dari hama ini adalah

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

PELUANG BISNIS BUDIDAYA JAMBU BIJI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lokal (Bos sundaicus), sapi Zebu (Bos indicus) dan sapi Eropa (Bos taurus). Sapi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. daerah di Indonesia. Prevalensi yang lebih tinggi ditemukan di daerah perkebunan

BAB I PENDAHULUAN. Candida albicans merupakan jamur yang dapat menginfeksi bagian- bagian

LAPORAN PRAKTIKUM. Oleh : Ichda Nabiela Amiria Asykarie J Dosen Pembimbing : Drg. Nilasary Rochmanita FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Bab IV Memahami Tubuh Kita

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis

LARUTAN PENYANGGA (BUFFER) Disusun Oleh: Diah Tria Agustina ( ) JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

I. TINJAUAN PUSTAKA. A. Botani dan Morfologi Jamur Tiram. Dari segi botani, jamur tiram termasuk jenis jamur kayu yang mudah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bagian luar badan (kulit, rambut, kuku, bibir dan organ kelamin bagian luar), gigi

Transkripsi:

BAB I TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Kencur (Kaempferia galanga L.) 1.1.1. Klasifikasi Divisi Kelas Bangsa Suku Marga : Magnoliophyta : Liliopsida : Zingiberales : Zingiberaceae : Zingiber Jenis : Kaempferia galanga L. (Cronquist, 1981: 477-483) 1.1.2. Nama daerah Cikur (Sunda), kencur (Jawa), kencor (Madura), Cekuk ( Bali), cakue (Manangkabau), cekur (Lampung), kaciwer (Karo), ceuko (Aceh) dan bataka (Ternate, Tidore) (Rukmana, 1994:12). 1.1.3. Deskripsi Tanaman kencur berukuran kecil dengan bunga berwarna putih. Tumbuh merapat dengan tanah dan tidak memiliki batang. Rimpang kencur bercabangcabang dan berdesak-desakan serta berwarna coklat. Daunnya berbentuk jorong, sedangkan pangkal daun berbentuk jantung serta berujung lancip. Permukaan bagian atas daun tidak berbulu, sedangkan bagian bawah berbulu. Adapun helaian 4

5 9daun bagian pinggir berwarna merah kecoklatan, sementara bagian tengah berwarna hijau. Daun bila diremas memberikan aroma harum. Tanaman ini dapat tumbuh di daerah dataran rendah maupun dataran tinggi dengan tanah yang subur dan gembur serta sedikit terlindung. Kencur dapat digunakan sebagai tanaman hias atau tumpang sari. Pengembangbiakan dapat dilakukan dengan rimpang (Mursito, 2003:66). 1.1.4. Kandungan kimia Rimpang kencur mengandung pati (4,14%) ; mineral (13,7%); dan minyak atsiri (0,02%) berupa sineol, asam metil kanil, dan penta dekaan, etil aster, asam sinamik, borneol, kamfena, paraeumarin, asam anisik, alkaloid dan gom (Agoes, 2010). Selain itu rimpang kencur mengandung saponin, flavonoid dan senyawasenyawa polifenol (Rukmana, 1994). Gambar I.1 Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L.) (iptek.net.id, 2005)

6 1.2. Pitiriasis Versikolor 1.2.1. Definisi Pitiriasis versikolor adalah penyakit jamur superfisial yang kronik, biasanya tidak memberikan keluhan subjektif, berupa bercak berskuama halus yang berwarna putih sampai coklat hitam, terutama meliputi badan dan kadangkadang dapat menyerang ketiak, lipat paha, lengan tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala yang berambut (Budimulja, 1987:85). 1.2.2. Epidemiologi Pitiriasis versikolor adalah penyakit universal tapi lebih banyak dijumpai di daerah tropis (Budimulja, 1987:85). Menyerang hampir semua usia terutama remaja, terbanyak pada usia 16 40 tahun. Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita, walaupun di Amerika Serikat dilaporkan bahwa penderita berusia 20 30 tahun dengan perbandingan 1,09% pria dan 0.6% wanita. Insiden yang akurat di Indonesia belum ada namun diperkirakan 40 50% dari populasi di negara tropis terkena penyakit ini, sedang di negara subtropis yaitu Eropa tengah dan utara hanya 0,5 1% dari semua penyakit jamur (Partogi, 2008). 1.2.3. Patogenesis Pada kulit terdapat flora normal yang berhubungan dengan timbulnya pitiriasis versikolor ialah Pityrosporum orbiculare yang berbentuk bulat atau Pityrosporum ovale yang berbentuk oval. Keduanya merupakan organisme yang sama dapat berubah sesuai dengan lingkungannya, misalnya suhu, media, dan kelembaban.

7 Timbul bila Malassezia sp. berubah bentuk menjadi miselia karena adanya faktor prediposisi, baik eksogen maupun endogen. Faktor eksogen meliputi panas dan kelembaban. Hal ini merupakan penyebab sehingga pitiriasis versikolor dijumpai di daerah tropis dan pada musim panas di daerah sub tropis. Faktor eksogen lain meliputi penutupan kulit oleh pakaian atau kosmetik dimana mengakibatkan peningkatan konsentrasi CO 2, mikroflora dan ph (Partogi, 2008). Faktor endogen berupa malnutrisi, sindrom cushing, terapi imunosupresan, hiperhidrosis dan riwayat keluarga yang positif. Disamping itu diabetes melitus, pemakaian jangka panjang, kehamilan dan penyakit-penyakit berat memudahkan timbulnya pitiriasis versikolor (Partogi, 2008). Hipopegmentasi yang terjadi pada penyakit Pitiriasis versikolor, disebabkan oleh zat toksin yang terdapat dalam jamur yang mencegah pembentukan melanin dan asam azeleat yang dihasilkan oleh pityrosporum dari asam lemak dalam sebum yang merupakan inhibitor kompetitif dari tirosinase (Partogi, 2008). Hilangnya produksi asam azelik oleh ragi, yang menghambat tirosinase dan dengan demikian mengganggu produksi melanin. Inilah sebabnya mengapa lesi berwarna cokelat pada kulit yang pucat tidak diketahui. Variasi warna kulit aslinya, merupakan sebab mengapa penyakit tersebut dinamakan versikolor (Graham-Brown, 2005:41). 1.2.4. Gejala Pada kulit yang terang, lesi berupa makula coklat muda dengan skuama halus di permukaan, terutama terdapat di badan dan lengan atas. Kelainan ini biasanya asimtomatik, hanya berupa gangguan kosmetik. Pada kulit gelap,

8 penampakan yang khas berupa bercak-bercak hipopigmentasi (Graham- Brown, 2005: 40). Kadang-kadang penderita dapat merasakan gatal ringan yang merupakan alasan berobat. Pseudoakromia, akibat tidak terkena sinar matahari atau kemungkinan pengaruh toksis jamur terhadap pembentukan pigmen, sering dikeluhkan penderita (Budimulja, 1987:85). Ada 2 bentuk yang sering didapat, yaitu : a. Bentuk maskular, berupa bercak-bercak yang agak lebar dengn skuama halus di atasnya dengan tepi tidak meninggi. b. Bentuk folikular, (seperti tetesan air) sering timbul di sekitar folikel rambut (Siregar, 2004:8). 1.2.5. Diagnosis Diagnosis dapat dipastikan bila pada pemeriksaan mikroskopis terhadap kerokan kulit dan campuran kalium hidroksida 10% dan tinta Parker Quink dapat ditemukan gambaran yang khas berupa kumpulan spora yang bulat dan hifa yang pendek gemuk (suatu gambaran yang dikenal sebagai spaghetti dan bola-bola daging ). 1.2.6. Diagnosis banding Penyakit ini harus dibedakan dengan dermatitis seboroika, eritrasma, sifilis II, pitiriasis alba serta vitiligo. a. Dermatitis seboroika Dermatitis seboroik menyerang kulit kepala, wajah, daerah presternal, punggung bagian atas, dan daerah-daerah lipatan. Pada

9 kulit kepala yang terkena bisa ditemukan adanya pembentukan skuama yang luas dan gatal. Lesi di daerah dada seringkali berbatas jelas. Serangan di daerah lipatan menimbulkan eritema yang sedikit basah dan berminyak (Graham-Brown, 2005:74-75). b. Eritrasma Eritrasma disebabkan oleh organisme Gram positif, Corynebacterium minutissimum. Eritrasma timbul di derah intertriginosa- yaitu aksila, lipat paha, dan daerah di bawah payudara. Namun demikian, tempat yang paling sering diserang organisme ini adalah daerah sela-sela jari kaki, yang memberikan penampakan seperti skuama yang mengalami maserasi, mirip dengan yang disebabkan oleh infeksi jamur. Pada tempat-tempat yang lain organisme tersebut menimbulkan daerah-daerah dengan tepi coklat, skuama yang tipis, dan berpermukaan seperti sekam. Penyakit ini biasanya tanpa gejala (asimtomatik). Corynebacterium minumtissimum menghasilkan porfirin yang dengan lampu Wood menghasilkan fluoresensi merah terang yang menyolok (Graham- Brown, 2005: 21-22). c. Sifilis II Penyebab penyakit sifilis ditemukan oleh Schaudinn dan Hoffman (1905) berupa Treponema pallidum termasuk ordo Spirochaetaeas familitreponematoceae.

10 Gejala konstitusi biasanya mendahului, kadang-kadang bersamaan dengan kelainan pada kulit, seperti nyeri kepala, panas subferil, anoreksia, nyeri pada tulang dan nyeri leher. Secara klinis pada sifilis staidum II terdapat kelainan kulit dan selaput lendir, limfadenitis yang generalisata. Kelainan kulit terdiri atas: makula, papul, pustul, dan rupia (E.C. Natahusada, 1987:317-319). d. Pitiriasis alba Lesi pityriasis alba umumnya berbentuk oval, bulat, atau plak irreguler yang berwarna merah, merah muda, atau warna yang sama dengan kulit. Ia biasanya mempunyai sisik dengan batas dengan yang tidak jelas. Lesi pitiriasis alba umumnya mengenai pipi dan dagu, tungkai dan tubuh jarang terlibat. Lesi pityriasis alba biasanya mempunyai ukuran 0,5-2 cm diameter tetapi bisa menjadi lebih besar jika lesi mengenai tubuh (Habif, 2004). e. Vitiligo Makula berwarna putih dengan diameter beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter, bulat atau lonjong dengan batas tegas, tanpa perubahan epidermis yang lain. Kadang-kadang terlihat makula hipomelanotik selain makula apigmentasi. Daerah yang sering terkena adalah bagian eksensor tulang terutama di atas jari, periofisial sekitar mata, mulut dan hidung, tibilais anterior, pergelangan tangan bagian fleksor. Lesi bilateral dapat simetris atau asimetris. Pada area yang terkena trauma dapat timbul

11 vitiligo, mukosa jarang terkena, kadang-kadang mengenai genitalia ekternal, puting susu, bibir dan giginya (Soepardiman, 1987:244). 1.2.7. Pengobatan Pengobatan yang sederhana adalah dengan menggunakan selenium sulfida dalam bentuk shampo, dibiarkan di kulit selama beberapa menit sewaktu mandi. Dengan cara ini biasanya akan bersih dari organisme dalam 2-3 minggu. Krim antijamur imidazol topikal dan shampo ketokonazol juga efektif terhadap Malassezia, sebagaimana juga terbinafin topikal. Itrakonazol oral merupakan alternatif (200 mg per hari selama 7 hari). Griseofulvin dan terbinafin oral tidak efektif (Graham-Brown, 2005:21). Obat-obat lain yang berkhasiat terhadap penyakit ini adalah: salisil spiritus 10%; derivat-derivat azol, misalnya mikonazole, klotrimazole, isokonazole dan ekonazole; sulfur presipitatum dalam bedak kocok 5-10%; tolsiklat; tolnafrat dan halopigrin. Jika sulit disembuhkan ketokonasol dapat dipertimbangkan (Budimulja, 1987:85). Hipotesis ditunjang dengan observasi yang menunjukan bahwa banyak kasus yang mereda dengan pengobatan ketokonazol (Brooks, 2007: 640).

12 1.3. Jamur Malassezia sp. 1.3.1. Klasifikasi Malassezia sp. Kerajaan Divisio Kelas Ordo Familia Genus Spesies : Fungi : Basidiomycota : Hymenomycetes : Tremellales : Filobasidiaceae : Malassezia : Malassezia sp. (Weiss, 2000: 69) Gambar I.2 Malassezia sp. (Cuevas-A.Gonzales dkk, 1999) 1.3.2. Morfologi Malassezia sp. berupa kelompok sel-sel bulat, bertunas, berdinding tebal, hifanya berbatang pendek dan tidak lurus. Malassezia sp. menghasilkan konidia sangat kecil atau mikrokonidia pada hifanya, tetapi disamping itu juga menghasilkan makrokonidia besar dan berbentuk gelendong yang jauh lebih besar daripada mikrokonidianya. Pemeriksaan mikroskopi menunjukkan adanya untaian

13 jamur yang terdiri dari spora dan hifa yang saling bergabung satu sama lainnya (Adillah, 2012). 1.3.3. Karakteristik Malassezia sp. memiliki sifat lipofilic, yaitu hanya dapat hidup di daerah yang berlemak. Jamur ini dapat tumbuh subur di daerah-daerah dengan kelembaban tinggi, dan memproduksi banyak keringat. Malassezia sp. dapat tumbuh pada media SDA dengan penambahan olive oil. Jamur ini dapat tumbuh pada kisaran ph 5.6 pada suhu 37 C (Adillah, 2012). 1.4. Ketokonazol Gambar I.3 Struktur Ketokonazol (AHFS, 2005: 3371) Ketokonazol termasuk golongan imidazol, yaitu suatu antijamur sintetik dengan rumus bangun mirip dengan mikonazol dan klotrimazol. Ketokonazol merupakan agen antifungal spektrum luas. Pada studi in vitro diketahui bahwa ketokonazol mengganggu sintesis ergosterol yang merupakan komponen penting dari fungsi membran sel jamur (Rahardjo, 2008: 222). Obat ini akan menghambat sitokrom P-450 dependen 14α-demetila lanostero, yang merupakan prekursor ergosterol pada fungi dan kolesterol pada sel mamalia. Namun, sitokrom P450

14 fungi kira-kira 100-1.000 kali lebih sensitive terhadap azol daripada dalam sistem mamalia (Brooks, 2007: 666-667). Ketokonazol masuk ke dalam sel jamur dan menimbulkan kerusakan pada dinding sel. Mungkin juga terjadi gangguan sintesis asam nukleat atau penimbunan peroksida dalam sel yang merusak sel jamur. 1.4.1. Farmakokinetik Ketokonazol merupakan antijamur pertama yang dapat diberikan per oral. Ketokonazol diabsorpsi dengan baik melalui oral yang menghasilkan kadar yang cukup untuk menekan pertumbuhan berbagai jamur. Dengan dosis oral 200 mg, diperoleh kadar puncak 2-3 μg/ml yang bertahan selama 6 jam atau lebih. Absorpsi akan menurun pada ph cairan lambung yang tinggi atau bila diberikan bersama antasid atau antihistamin H 2. Setelah pemberian oral, obat ini dapat ditemukan dalam urin, kelenjar lemak, air ludah, kulit yang mengalami infeksi, tendon, dan cairan sinovial. Ikatan dengan protein plasma 84% terutama degan albumin, 15% di antaranya berikatan dengan sel darah dan 1 % terdapat dalam bentuk bebas. Sebagian besar obat ini mengalami metabolisme lintas pertama. Diperkirakan ketokonazol dieksresi ke dalam empedu, masuk ke usus dan sebagian kecil saja yang dieksresi melalui urin, semuanya dalam bentuk metabolit tidak aktif (Rahardjo, 2008:222). 1.4.2. Penggunaan klinis dan kontraindikasi Ketokonazol terutama efektif terhadap histoplasmosis paru, tulang, sendi, dan jaringan lemak. Tidak dianjurkan untuk meningitis kriptokokus karena penetrasinya kurang baik.

15 Obat ini efektif untuk kriptokokosis nonmeningeal, parakoksidioidomikosis, beberapa bentuk koksidioidomikosis, dermatomikosis, dan kandidosis mukokutan, vaginal dan rongga mulut. Ketokonazol tidak bermanfaat untuk kebanyakan infeksi jamur sistemik yang berat. Ketokonazol dikontraindikasikan pada penderita yang hipersensitif, ibu hamil dan menyusui serta penyakit hepar akut (Rahardjo, 2008:223). 1.4.3. Efek samping/ toksisitas Umumnya ditoleransi dengan baik. Efek samping yang paling sering ditemukan ialah mual, ginekomastia, pruritis, hepatitis kolestatik, blokade sintesis kortisol, dan testosteron (reversibel). Efek samping ini lebih ringan bila diberikan bersama makanan. Kadang-kadang dapat timbul muntah, sakit kepala, vertigo, nyeri epigastrik, fotopobia, parestesia, gusi berdarah, erupsi kulit, dan trombositopenia. Ketokonazol dapat meningkatkan aktivitas enzim hati untuk sementara, dan dapat pula menimbulkan kerusakan hati. Frekuensi kejadian kerusakan hati adalah 1: 10.000-15.000. Hepatotoksisitas berat sering dijumpai pada wanita 40 tahun ke atas untuk onikomikosis atau pada pemakaian yang lama. Nekrosis hati yang masif telah menimbulkan kematian pada beberapa penderita (Rahardjo, 2008: 223). 1.4.4. Sediaan dan dosis Ketokonazol terdapat dalam bentuk tablet 200 mg untuk pemberian oral. Untuk indikasi lain cukup 1 tablet sekali sehari, dan lama pemberian bergantung pada jenis infeksi jamur. Dosis anak 5mg/kg BB/hari. Tablet harus diberikan bersama makanan (Rahardjo, 2008: 223)