IRRA MAYASARI F

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kehidupan di tengah masyarakat modern memiliki tingkat persaingan yang

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Tuntutan masa depan pembangunan bangsa mengharapkan penduduk yang

BAB I PENDAHULUAN. Pengangguran masih menjadi masalah serius di Indonesia karena sampai

BAB I PENDAHULUAN. Banyaknya para pencari kerja di Indonesia tidak di imbangi dengan

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN ENTREPRENEURSHIP PADA MAHASISWA UMS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Banyak masyarakat yang kesulitan dalam mendapatkan penghasilan untuk

HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN VOKASIONAL DENGAN INTENSI BERWIRAUSAHA PADA MAHASISWA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penduduk. Masalah yang timbul adalah faktor apa yang mendasari proses

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. lapangan pekerjaan sehingga mengakibatkan sebagian orang tidak memiliki

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. baru dapat dikatakan bermanfaat apabila dapat dikelola oleh sumber daya manusia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sehari- hari. Lesunya pertumbuhan ekonomi, terutama di sektor riil, telah

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah. Di Indonesia banyaknya para pencari kerja tidak di imbangi dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. jumlah pengangguran di kalangan masyarakat. Pengangguran di Indonesia terjadi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. memiliki pengetahuan dan keterampilan serta menguasai teknologi, namun juga

BAB I PENDAHULUAN. bidang apapun. Salah satunya dalam bidang perekonomian. Pembangunan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar belakang masalah. Setiap mahasiswa mempunyai perhatian khusus terhadap mata kuliah

I. PENDAHULUAN. Bagian pertama ini membahas beberapa hal mengenai latar belakang masalah,

BAB I PENDAHULUAN UKDW. pegawai atau karyawan perusahaan swasta. Setiap lulusan Perguruan Tinggi sudah tentu

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan (Saiman, 2009:22). Masalah pengangguran telah menjadi momok

BAB I PENDAHULUAN. Semakin hari penduduk dunia bertambah jumlahnya. Ini dikarenakan angka

BAB I PENDAHULUAN. jumlah lapangan kerja di Indonesia. Hal ini menyebabkan tingkat pengangguran di

BAB I PENDAHULUAN. bidang perekonomiannya. Pembangunan ekonomi negara Indonesia di. ide baru, berani berkreasi dengan produk yang dibuat, dan mampu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan faktor penting dalam membentuk dan

2016 PENGARUH MATA KULIAH KEWIRAUSAHAAN DAN MATA KULIAH KEAHLIAN TERHADAP MINAT BERWIRAUSAHA MAHASISWA DI BIDANG AGROINDUSTRI

BAB I PENDAHULUAN. Riskha Mardiana, 2015

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pengangguran dan kemiskinan masih menjadi masalah besar di Indonesia,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tingkat persaingan hidup semakin hari semakin ketat dan sulit. Banyak

BAB I PENDAHULUAN. sampai SMA saja, tetapi banyak juga sarjana. Perusahaan semakin selektif menerima

BAB I PENDAHULUAN. Aditya Anwar Himawan, 2014 Sikap Kewirausahaan Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi.

REKONTRUKSI PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN DALAM MEMBANGUN WATAK WIRAUSAHA MAHASISWA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Mohamad Abdul Rasyid Ridho, 2013

BAB I PENDAHULUAN. berubah menjadi maju atau lebih berkembang dengan sangat pesat, seperti

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Tingkat pengangguran terbuka penduduk usia 15 tahun ke atas menurut

BAB I PENDAHULUAN. yang mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah secara

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan yang kreatif, inovatif, dinamis, dan proaktif terhadap tantangan yang

manusianya.setiap tahun ribuan mahasiswa yang lulus dari perguruan tinggi tersebut di Indonesia. Hal ini seharusnya dapat memberikan keuntungan besar

Oleh : Sri Admawati K BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan setiap individu serta watak dan peradaban bangsa yang bermartabat

BAB I PENDAHULUAN. mengikuti dan meningkatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan tegnologi. menciptakan SDM yang berkualitas adalah melalui pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah No. Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Jumlah Kiki Liasari, 2013

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan banyak sekali pengangguran khususnya di Kota Denpasar. Jumlah

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Pengangguran Terbuka Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan

BAB 1 PENDAHULUAN. mengembangkan pola kehidupan bangsa yang lebih baik. berorientasi pada masyarakat Indonesia seutuhnya, menjadikan pembangunan

I. PENDAHULUAN. penelitian yang terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

SKRIPSI. Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurursan Pendidikan Akuntansi

BAB I PENDAHULUAN. Kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan menimbulkan banyak pengangguran

BAB I PENDAHULUAN. Semakin hari penduduk dunia bertambah jumlahnya. Ini dikarenakan angka

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1.1. PENGERTIAN MANUSIA PEMBANGUNAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar akhir-akhir ini

PENGARUH MOTIVASI DAN MENTAL KEWIRAUSAHAAN TERHADAP MINAT MAHASISWA AKUNTANSI UNTUK BERWIRAUSAHA

2016 PERAN BIMBINGAN KARIR, MOTIVASI MEMASUKI DUNIA KERJA DAN PENGALAMAN PRAKERIN TERHADAP KESIAPAN KERJA SISWA SMK

BAB I PENDAHULUAN. sebagian pihak yang menjadikan kewirausahaan ini sebagai trend-trend-an. enggannya lulusan perguruan tinggi untuk berwirausaha.

BAB I PENDAHULUAN. dapat menampung pencari kerja, akibatnya banyak rakyat Indonesia baik yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. siswa agar memiliki kesiapan untuk memasuki dunia kerja. Para siswa SMK

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 13,86% pada Agustus 2010, yang juga meningkat dua kali lipat dari

BAB I PENDAHULUAN. pencari kerja. Orang yang mencari kerja lebih banyak, sehingga banyak orang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Sesuai Undang-Undang No. 20 tahun 2003 Bab 1 Pasal 1 menyatakan. bahwa:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang dimilikinya. Dengan bekerja, individu dapat melayani kebutuhan masyarakat,

BAB I PENDAHULUAN. peradaban yang lebih sempurna. Sebagaimana Undang Undang Dasar Negara

2015 PENGARUH SIKAP KEWIRAUSAHAAN DAN EFIKASI DIRI TERHADAP INTENSI BERWIRAUSAHA MAHASISWA

BAB I PENDAHULUAN. oleh masyarakat yang berpendidikan rendah. Banyak sarjana yang hanya

BAB I PENDAHULUAN. Ganda (PSG), sebagai perwujudan kebijaksanan dan Link and Match. Dalam. Dikmenjur (2008: 9) yang menciptakan siswa atau lulusan:

I. PENDAHULUAN. Teknologi (IPTEK) yang semakin kompleks di berbagai bidang kehidupan. Untuk

BAB I PENDAHULUAN. sarjana dan keinginan untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya menjadi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sumber daya manusia yang berkualitas agar perusahaan dapat bersaing dan

BAB I PENDAHULUAN. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat hadir di Indonesia di tengah-tengah

BAB 1 PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sebagai seorang calon sarjana maupun sarjana, mahasiswa dituntut untuk

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan karena jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dibandingkan. seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.

Transkripsi:

HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN VOKASIONAL DENGAN MINAT BERWIRAUSAHA PADA MAHASISWA Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Disusun oleh : IRRA MAYASARI F 100 050 133 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2010

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Adanya krisis ekonomi yang belum tuntas dialami Indonesia sejak Juli 1997 dampaknya menghantam semua aspek kehidupan. Krisis kali ini bukan hanya menyebabkan kelesuan ekonomi, tapi hampir melumpuhkan bahkan membangkrutkan perekonomian nasional. Salah satu komponen yang sangat merasakan pukulan dari krisis ini adalah dunia usaha. Keadaan ini ditunjukkan oleh sedikitnya dunia usaha yang mampu bertahan hidup di tengah terjangan badai krisis dan tindakan yang diambil oleh pemilik usaha tersebut adalah dengan mengadakan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruh-buruhnya. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengumumkan sampai tanggal 5 Januari 2009 sebanyak 24.452 pekerja telah di PHK atau bertambah 700 orang dibanding data terakhir yang disampaikan pada 31 Desember 2008 yang sebesar 23.752 pekerja. Menurut Data Depnakertrans selain 24.452 pekerja yang telah di PHK, sampai tanggal 5 Januari 2009 sebanyak 25.577 pekerja telah terdaftar akan di PHK. Sedangkan jumlah pekerja yang dirumahkan menjadi 11.703 pekerja naik dari pengumuman tanggal 31 Desember yang sebanyak 10.306 pekerja, sementara jumlah pekerja yang rencananya akan dirumahkan sebanyak 19.391 pekerja. Masalah ketenagakerjaan merupakan masalah yang mendesak dan perlu secepatnya ditangani untuk saat ini. Berbagai masalah yang berkaitan dengan ketenagakerjaan selalu menarik perhatian ditambah dengan adanya krisis ini, persoalan 1

2 ketenagakerjaan menjadi meraksasa dan semakin sulit untuk ditangani sedangkan setiap tahunnya jumlah orang yang mencari kerja terus meningkat. Tenaga kerja tersebut mencoba melamar menjadi karyawan di sebuah instansi yang dirasa sesuai kemampuannya, namun hanya sedikit yang berpikir untuk mau menciptakan pekerjaan. Keadaan seperti ini membuat pemerintah berpikir keras untuk mengatasinya, karena setiap tahun jumlah tenaga kerja semakin meningkat dan jumlah pengangguran semakin meningkat. Sesuai survei, Deputi Bidang Statistik Sosial dalam data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Arizal Ahnaf menjelaskan pengangguran terbuka didominasi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan sebesar 17,26 persen dari jumlah penganggur. Kemudian disusul lulusan Sekolah Menengah Atas 14,31 persen, lulusan universitas 12,59 persen, diploma 11,21 persen, baru lulusan SMP 9,39 persen dan SD ke bawah 4,57 persen. Sebenarnya dalam situasi dan kondisi era pembangunan mengharapkan hadirnya orang-orang yang mempunyai dedikasi penuh untuk berpartisipasi dalam pembangunan (Sumahamijaya, 1980). Namun data Dirjen Pemuda dan Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional dari 75.3 juta pemuda Indonesia 6,6 persen yang lulus sarjana. Dari jumlah tersebut 82% nya bekerja pada instansi pemerintah maupun swasta, sementara hanya 18% yang berusaha sendiri atau menjadi wirausahawan. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan karena generasi muda kurang mempunyai pengetahuan dan menyadari pentingnya peranan wirausaha dalam pembangunan, bahkan yang lebih parah karena lemahnya sikap mental mereka untuk menjadi seorang wirausaha (Burhan, 1994). Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu

3 kiranya diupayakan adanya peningkatan kesadaran dan minat pada generasi muda akan pekerjaan wirausaha karena menurut pakar ekonomi, kewirausahaan merupakan kunci kekuatan dalam pembangunan ekonomi. Menurut Sumahamijaya (1980) pada dasarnya dunia wirausaha merupakan pilihan yang cukup rasional dalam situasi dan kondisi yang tidak mampu diandalkan, akan tetapi sampai saat ini dunia wirausaha belum menjadi lapangan pekerjaan yang diminati dan dinanti bagi para sarjana sekalipun Padahal salah satu ciri yang menonjol pada negara-negara maju adalah banyaknya wirausahawan atau wiraswastawan. Negara maju umumnya memiliki wirausaha yang lebih banyak ketimbang negara berkembang, apalagi miskin. Misalnya Amerika Serikat, memiliki wirausaha 11,5 persen dari total penduduknya. Sekitar 7,2 persen warga Singapura adalah pengusaha sehingga negara kecil itu maju. Indonesia dengan segala sumber daya alam yang dimilikinya ternyata hanya memiliki wirausaha tak lebih 0,18 persen dari total penduduknya. Secara historis dan konsensus, sebuah negara minimal harus memiliki wirausaha 2 persen dari total penduduk agar bisa maju. Selain itu semua berkat jasa dari para wirausahawan sendiri. Sadar atau tidak sadar, kenyataan menunjukkan bahwa minat wirausaha dikalangan masyarakat sangat rendah sekali. Hal ini dapat dibuktikan dengan begitu tingginya jumlah angka pengangguran dan realitas sosial dimana jika seorang keluarga mempunyai anak yang baru lulus kuliah semua akan berlomba-lomba menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Seakan-akan berwirausaha bukanlah sebuah profesi ataupun pekerjaan bonafid. Hal ini wajar saja terjadi. Mengingat orientasi sekolah atau Perguruan Tinggi mengajarkan kepada murid atau mahasiswanya untuk mencari

4 pekerjaan di perusahaan-perusahaan ataupun Instansi Negara. Begitu juga dengan sebagian besar orang tua yang akan berbangga hati jika anaknya menjadi seorang PNS/karyawan perusahaan bonafid tetapi sebaliknya akan malu hati jika anaknya memilih untuk menjadi seorang pengusaha/pebisnis. Pengusaha dianggap sebagai karir yang tidak menjanjikan. Selain itu, iklim yang sehat untuk menumbuhkan minat wirausaha juga tidak ada. Arbie (2008), Managing Director Garuda Plaza Hotel, yang menjadi pembicara dalam Roadshow Seminar Young Enterpreneurs menyebutkan minat berwirausaha rendah, masih sulit mengubah persepsi masyarakat khususnya lulusan S1 bahwa menjadi wirausaha itu merupakan pekerjaan yang lebih menguntungkan dan mulia karena bisa membuka lowongan pekerjaan bagi orang lain. Pemerintah sendiri juga tidak mendukung tumbuh kembangnya pengusaha yang merupakan solusi terbaik untuk menekan pengangguran, kejahatan dan sekaligus meningkatkan perekonomian. Melihat fenomena tersebut seharusnya dapat menjadi sebuah tantangan bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen UMS. Karenanya selain bekal keilmuan di bidang ekonomi, fakultas juga menitik beratkan pada pembekalan kewirausahaan bagi para mahasiswanya. Hal ini penting dilakukan agar para mahasiswa memiliki kepekaan dan bekal kewirausahaan sedini mungkin. Jadi diharapkan alumnus Fakultas Ekonomi UMS saat lulus tidak gagap karena sempitnya lapangan kerja. Mereka dengan kreatifitas dan bekal kemampuan serta mental yang kita berikan bisa menciptakan lapangan kerja sendiri melalui dunia wirausaha. Sehingga minat berwirausaha pada kalangan mahasiswa tinggi. Untuk mengimplementasikan lulusan cepat bekerja Fakultas Ekonomi UMS diharapkan

5 mampu mengembangkan kurikulum berbasis entrepreneurship, melalui kemasan kurikulum, fakultas membina mahasiswanya sejak dini tentang seluk beluk kewirausahaan dan menumbuhkan minat wirausaha dalam diri mahasiswa. Disamping mendatangkan tokoh sukses berwirausaha untuk berbicara tentang pengalaman maupun seluk beluk wirausaha yang dirintisnya, para mahasiswa sejak semester awal dibentuk kelompok wirausaha mahasiswa dan didampingi oleh dosen pembimbing. Lebih lanjut Swasono (1978) menyatakan bahwa individu yang berminat wirausaha lebih dipacu oleh keinginan berprestasi daripada hanya sekedar mengejar keuntungan. Seseorang wirausaha tidak cepat puas akan hasil yang dicapai akan tetapi selalu mencari cara dan kombinasi baru serta produksi baru sehingga tercapai perluasan usahanya. Hal ini berarti individu yang mempunyai minat berwirausaha harus memiliki sikap bertanggung jawab dengan memperhitungkan konsekuensi yang mungkin ada. Minat berwirausaha akan menarik individu terhadap suatu usaha dimana usaha tersebut dirasakan dapat memberikan suatu yang berguna, bermanfaat dan sangat penting bagi kehidupan dirinya sehingga menimbulkan suatu dorongan atau keinginan untuk mendapatkannya. Pada minat berwirausaha dibutuhkan kesanggupan untuk berhubungan dengan bidang kewirausahaan sehingga individu memiliki minat terhadap pekerjaan wirausaha. Selain pola pikir yang positif, seorang wirausaha juga dituntut untuk mempunyai sifat-sifat keberanian, keteladanan, keutamaan dan semangat yang bersumber dari kekuatannya sendiri (Sumahamijaya, 1980). Hal ini berkaitan dengan

6 kematangan vokasional yang ada pada individu sehingga individu memilih pekerjaan wirausaha sebagai cita-citanya. Salah satu upaya individu untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja adalah dengan memiliki kematangan vokasional. Amadi dkk (2007) menyatakan kematangan vokasional adalah kemampuan dan kesiapan individu untuk memilih suatu pekerjaan. Jiwa kewirausahaan mendorong minat seseorang untuk mendirikan dan mengelola usaha secara professional. Seorang wirausaha tidak tergantung pada orang lain dalam pekerjaan untuk mencapai kemandirian ekonomi, mereka bisa menciptakan pekerjaan sendiri serta menerima imbalan usahanya tersebut. Menurut Riyanti (2003) ketidaktergantungan dan penerimaan hasil sebagai aspek umum dari kewirausahaan tersebut sejalan dengan tugas perkembangan masa remaja bidang vokasional yaitu mencapai keyakinan akan dapat mandiri secara ekonomi pada masa mendatang serta memilih dan mempersiapkan diri untuk menjalankan suatu pekerjaan. Kematangan vokasional yang tinggi terjadi suatu harapan bagi remaja, karena dengan kematangan vokasional yang tinggi mereka berharap akan mudah mendapatkan pekerjaan atau mampu bekerja secara mandiri. Disamping itu, individu yang mempunyai tingkat kematangan vokasional yang tinggi akan mempunyai pandangan lebih realistik tentang pekerjaan sehingga akan mengurangi munculnya kecemasan menghadapi dunia kerja dan dapat memahami kemampuan yang dimiliki serta menjadi awal kesuksesan dalam menghadapai dunia nyata dalam memilih pekerjaan. Kematangan vokasional merupakan salah satu tugas perkembangan yang pasti akan dilalui oleh setiap individu. Setiap tahapan pada perkembangan vokasional memiliki ciri-ciri tertentu maksudnya seorang dapat dikatakan memiliki kematangan

7 vokasional yang baik apabila telah memiliki kemampuan tertentu yang berbeda-beda pada tiap tahapnya. Di tiap tahap perkembangan manusia individu akan dihadapkan pada sejumlah tugas-tugas perkembangan. Tugas perkembangan diartikan sebagai suatu tugas yang timbul pada suatu periode tertentu dalam rentang kehidupan manusia, dimana tiap tugas harus diselesaikan dengan baik karena akan mempengaruhi dalam menyelesaikan tugas berikutnya (Philips,1982). Amadi dkk (2007) dalam penelitiannya memaparkan bahwa individu yang kurang memiliki kematangan vokasional akan mengalami kesulitan dalam menempuh tugas-tugas perkembangan pada masa berikutnya. Pada dasarnya perkembangan vokasional akan mengarah pada kematangan vokasional yang memerlukan kesesuaian individu dengan pekerjaan dan psikodinamika dalam pengambilan keputusan untuk memilih pekerjaan. Crites (dalam Agustin, 2008) berpendapat bahwa tingkat kematangan vokasional mempengaruhi individu dalam proses pemilihan pekerjaan yang di dalamnya mengandung beberapa kemapanan yaitu kebutuhan untuk bekerja, pemilihan pekerjaan, aktivitas perencanaan sikap dalam pengambilan keputusan serta kemampuan untuk bekerja. Salah satu faktor yang mempengaruhi minat berwirausaha yang dikemukakan oleh Alma (1999) adalah kematangan vokasional yang merupakan salah satu tugas perkembangan yang harus dilakukan oleh individu untuk mempersiapkan diri guna mencapai kemandirian dalam hal ekonomi. Dalam mempersiapkan diri ini, diperlukan pemilihan pekerjaan yang tepat dan sesuai dengan kemampuan diri. Individu yang telah mencapai kematangan vokasional yang tinggi akan dapat menentukan pekerjaan yang tepat sesuai dengan kemampuan dirinya. Apakah akan bekerja kepada orang lain

8 atau berusaha sendiri melalui kegiatan kewirausahaan. Untuk itu mahasiswa yang memiliki kematangan vokasional yang tinggi akan mampu melihat peluang dalam dunia wirausaha. Rendahnya minat berwirausaha dapat dijadikan bahan pikiran mahasiswa untuk mengembangkan ide-idenya dan kreativitas serta inovasinya untuk menciptakan lapangan kerja melalui berwirausaha. Sehingga mahasiswa yang memliki kematangan vokasional yang tinggi akan berperilaku mengembangkan minat berwirausaha sebagai solusi sulitnya dalam memperoleh pekerjaan. Berdasarkan uraian di atas maka timbul rumusan masalah yaitu apakah ada hubungan antara kematangan vokasional dengan minat berwirausaha pada mahasiswa?. Dengan ini maka penulis ingin melakukan penelitian dengan judul Hubungan Antara Kematangan Vokasional dengan Minat Berwirausaha pada Mahasiswa.

9 B. Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. Mengetahui hubungan antara kematangan vokasional dengan minat berwirausaha pada mahasiswa 2. Mengetahui peranan kematangan vokasional terhadap minat berwirausaha 3. Mengetahui tingkat kematangan vokasional pada mahasiswa 4. Mengetahui tingkat minat berwirausaha pada mahasiswa C. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Bagi Perguruan Tinggi Fakultas Ekonomi UMS, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pemikiran untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan dan sistem pembelajaran untuk menciptakan lulusan yang siap menciptakan pekerjaan bukan pencari kerja. 2. Bagi Ilmuwan Ekonomi UMS, diharapkan memberikan manfaat untuk menumbuhkan minat berwirausaha dengan mengembangkan ilmu pengetahuan tentang kewirausahaan. 3. Bagi Mahasiswa UMS, diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pemilihan pekerjaan setelah lulus dari perguruan tinggi dengan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja. 4. Bagi Ilmuwan Psikologi UMS, hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai sumbangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan psikologi

10 industri pada khususnya mengenai hubungan antara kematangan vokasional dengan minat berwirausaha pada mahasiswa. 5. Bagi Fakultas Psikologi UMS, diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai bahan wacana dan wawasan mengenai minat berwirausaha dengan kematangan vokasional pada mahasiswa. 6. Bagi Peneliti yang sejenis, diharapkan dapat memberikan masukkan untuk mempertimbangkan factor lain yang lebih berpengaruh sehingga bisa diambil kesimpulan yang lebih produktif.