BAB 2 TINJAUAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
1. Penyakit Tetelo (ND=Newcastle Disease) Penyebab : Virus dari golongan paramyxoviru.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ayam ayam lokal (Marconah, 2012). Ayam ras petelur sangat diminati karena

PERANCANGAN SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSIS PENYAKIT PADA HEWAN TERNAK UNGGAS SKRIPSI HERINA SARI SINAGA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 2 TINJAUAN TEORI. Artificial Intelligence. Jika diartikan Artificial memiliki makna buatan,

TELEMATIKA, Vol. 06, No. 02, JANUARI, 2010, Pp ISSN X SISTEM PAKAR UNTUK DIAGNOSIS PENYAKIT AYAM YANG DISEBABKAN OLEH VIRUS

SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT BABI DENGAN METODE BACKWARD CHAINING

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

Perancangan Aplikasi Sistem Pakar Penyakit Ayam Muhammad Hasbi 7)

Sistem Pakar untuk Mendiagnosa Penyakit yang Disebabkan Nyamuk dengan Metode Forward Chainning

Sistem Pakar untuk Mendiagnosa Penyakit Kucing Menggunakan Metode Backward Chaining

Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio

By: Sulindawaty, M.Kom

IMPLEMENTASI SISTEM PAKAR BERBASIS ATURAN UNTUK DIAGNOSA PRODUKTIVITAS TERNAK AYAM RAS DENGAN MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING

BUDIDAYA BURUNG PUYUH. : Coturnix-coturnix Japonica

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PENYAKIT AVIAN

Peluang Bisnis Beternak Puyuh

DIAGNOSA PENYAKIT JANTUNG DENGAN METODE PENELUSURAN FORWARD CHAINNING-DEPTH FIRST SEARCH

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Sistem Pakar Pendeteksi Penyakit Ayam Dengan Menggunakan Metode Backward Chaining Berbasis Desktop. Artikel Ilmiah

NEWCASTLE DISEASE VIRUS,,,, Penyebab Newcastle Disease. tahukan Anda???? Margareta Sisca Ganwarin ( )

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan banyaknya berdiri

BAB II LANDASAN TEORI

SISTEM PAKAR ANALISIS PENYAKIT LUPUS ERITEMATOSIS SISTEMIK PADA IBU HAMIL MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING

BAB 2 LANDASAN TEORI. berkonsultasi dengan seorang pakar atau ahli. Seorang pakar adalah seseorang yang

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan komputer sekarang ini sangat pesat dan salah. satu pemanfaatan komputer adalah dalam bidang kecerdasan buatan.

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

SISTEM PAKAR. Entin Martiana, S.Kom, M.Kom

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Jurusan Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan

Sistem Diagnosa Pendeteksi Penyakit Pada Ayam Oleh Baskara Ekaputra ABSTRAK

Gambar 3.1 Arsitektur Sistem Pakar (James Martin & Steve Osman, 1988, halaman 30)

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT KELAMIN PADA PRIA MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING DAN CERTAINTY FACTOR BERBASIS WEB

MENGENAL SECARA SEDERHANA TERNAK AYAM BURAS

Kelas A & B Jonh Fredrik Ulysses

FAKTOR DAN AGEN YANG MEMPENGARUHI PENYAKIT & CARA PENULARAN PENYAKIT

BAB I PENDAHULUAN. energi, vitamin dan mineral untuk melengkapi hasil-hasil pertanian. Salah

TINJAUAN PUSTAKA Penyakit Unggas Cekaman (Stress)

PROGRAM PEMELIHARAAN KESEHATAN AYAM JANTAN

Bab 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. Tabel 2.1 Perbandingan Tinjauan Pustaka

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam petelur merupakan ayam yang dipelihara dengan tujuan untuk

VOLT. Jurnal Ilmiah Pendidikan Teknik Elektro. Journal homepage: jurnal.untirta.ac.id/index.php/volt Vol 2, No. 1, April 2017, 45-54

Feriani A. Tarigan Jurusan Sistem Informasi STMIK TIME Jln. Merbabu No. 32 AA-BB Medan

Backward Chaining & Forward Chaining UTHIE

BAB I PENDAHULUAN. kandungan berbagai asam amino, DHA dan unsur-unsur lainnya yang dibutuhkan

BAB 3 METODOLOGI. 3.1 Analisis Kebutuhan dan Masalah Analisis Masalah

APLIKASI SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT AYAM STUDI KASUS:PADA CV. INTAN JAYA ABADI SUKABUMI

Pengetahuan 2.Basis data 3.Mesin Inferensi 4.Antarmuka pemakai (user. (code base skill implemetation), menggunakan teknik-teknik tertentu dengan

2/22/2017 IDE DASAR PENGANTAR SISTEM PAKAR MODEL SISTEM PAKAR APLIKASI KECERDASAN BUATAN

Lampiran 1. DFD Level 1 (Data Flow Diagram). Lampiran 2. Halaman utama sistem.

MENGENAL SISTEM PAKAR

EXPERT SYSTEM DENGAN BEBERAPA KNOWLEDGE UNTUK DIAGNOSA DINI PENYAKIT-PENYAKIT HEWAN TERNAK DAN UNGGAS

PENERAPAN METODE CERTAINTY FACTOR DALAM MENDETEKSI DINI PENYAKIT TROPIS PADA BALITA

LAMPIRAN KUESIONER GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT AVIAN INFLUENZA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Usaha pembibitan ayam merupakan usaha untuk menghasilkan ayam broiler

Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Lambung dengan Metode Forward Chaining Berbasis Android

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penghasil telur. Ayam bibit bertujuan untuk menghasilkan telur berkualitas tinggi

SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA JENIS PENYAKIT PADA AYAM MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING

Pengendalian Penyakit pada Sapi Potong

BAB II LANDASAN TEORI. Landasan teori atau kajian pustaka yang digunakan dalam membangun

Sistem Pakar. Pertemuan 2. Sirait, MT

Gejala Penyakit CAMPAK Hari 1-3 : Demam tinggi. Mata merah dan sakit bila kena cahaya. Anak batuk pilek Mungkin dengan muntah atau diare.

IMPLEMENTASI SISTEM PAKAR BERBASIS ATURAN UNTUK DIAGNOSA PRODUKTIVITAS TERNAK AYAM RAS DENGAN MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. badan yang bertujuan untuk memproduksi daging. Ayam pedaging dikenal dengan

BAB II LANDASAN TEORI

SISTEM PAKAR DETEKSI PENYAKIT AYAM DENGAN MEDIA INTERAKTIF

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler pembibit merupakan ayam yang menghasilkan bibit ayam

BAB III LANDASAN TEORI. Pada bab ini akan dipaparkan teori-teori yang melandasi di dalam pembangunan sistem pakar yang penulis akan buat.

BUDIDAYA TERNAK AYAM BURAS

Aplikasi Sistem Pakar untuk Mendiagnosa Gangguan Pernafasan pada Anak Menggunakan Metode CF (Certainty Factor)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Desain sistem Analisis sistem Implementasi sistem Pemeliharaan Sistem HASIL DAN PEMBAHASAN Investigasi sistem

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

MACAM-MACAM PENYAKIT. Nama : Ardian Nugraheni ( C) Nifariani ( C)

BAB I PENDAHULUAN. akut, TBC, diare dan malaria (pidato pengukuhan guru besar fakultas

BAB III VIRUS TOKSO PADA KUCING

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang 2. Rumusan Masalah 3. Tujuan Dan Manfaat

INFERENCE & EXPLANATION TEKNIK PENARIKAN KESIMPULAN & MEMBERI PENJELASAN

SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT PADA BEBEK BERBASIS ANDROID

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

Aplikasi untuk Diagnosis Penyakit pada Anak dan Balita Menggunakan Faktor Kepastian

DIAGNOSIS PENYAKIT AKIBAT INFEKSI VIRUS PADA ANAK MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

BAB III TEORI DASAR SISTEM PAKAR DAN SISTEM KONTROL BERBASIS SISTEM PAKAR 20 BAB III TEORI DASAR SISTEM PAKAR DAN SISTEM KONTROL BERBASIS SISTEM PAKAR

IMPLEMENTASI METODE CERTAINTY FACTOR UNTUK PENENTUAN KEPASTIAN ATURAN PENYAKIT PADA ANAK

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT BURUNG PARUH BENGKOK MENGGUNKAN METODE DEMPSTER-SHAFER BERBASIS WEB

MODEL HEURISTIK. Capaian Pembelajaran. N. Tri Suswanto Saptadi

By: Sulindawaty, M.Kom

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SISTEM PAKAR UNTUK MENDETEKSI PENYAKIT AKIBAT BAKTERI SALMONELLA DALAM TUBUH MANUSIA MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penetasan telur ada dua cara, yaitu melalui penetasan alami (induk ayam)

Written by Administrator Sunday, 07 August :30 - Last Updated Wednesday, 07 September :03

SISTEM PAKAR DIAGNOSIS PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH VIRUS INFLUENZA MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING DAN CERTAINTY FACTOR

SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT SALURAN PENCERNAAN MENGGUNAKAN METODE DEMPSTER SHAFER

SISTEM PAKAR ONLINE MENGGUNAKAN RULE BASE METHOD UNTUK DIAGNOSIS PENYAKIT AYAM SKRIPSI KIKI HENDRA SITEPU

HASIL DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

BAB 2 TINJAUAN TEORI 2.1 Sistem Pakar Sistem pakar merupakan salah satu bidang teknik kecerdasan buatan yang cukup diminati karena penerapannya di berbagai bidang, baik bidang ilmu pengetahuan maupun bisnis yang terbukti sangat membantu dalam mengambil keputusan dan sangat luas penerapannya. Sistem pakar adalah suatu sistem komputer yang dirancang agar dapat melakukan penalaran seperti layaknya seorang pakar pada suatu bidang keahlian tertentu (Setiawan, 1993). Sistem pakar dibuat pada wilayah pengetahuan tertentu untuk suatu kepakaran tertentu yang mendekati kemampuan manusia di salah satu bidang. Sistem pakar mencoba mencari solusi yang memuaskan sebagaimana yang dilakukan oleh seorang pakar. Selain itu sistem pakar juga dapat memberikan penjelasan terhadap langkah yang diambil dan memberikan alasan atas saran atau kesimpulan yang ditemukannya. 2.1.1 Ciri-Ciri Sistem Pakar Sistem pakar merupakan program-program praktis yang menggunakan strategi heuristik yang dikembangkan oleh manusia untuk menyelesaikan permasalahanpermasalahan yang spesifik (M.Arhami, 2005). Oleh karena keheuristikannya dan sifatnya yang berdasarkan pada pengetahuan, maka pada umumnya sistem pakar memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Kusrini, 2006):

1. Terbatas pada bidang yang spesifik. 2. Dapat memberikan penalaran untuk data-data yang tidak lengkap atau tidak pasti. 3. Dapat mengemukakan rangkaian alasan yang diberikannya dengan cara yang dapat dipahami. 4. Berdasarkan pada rule atau kaidah tertentu. 5. Dirancang untuk dapat dikembangkan secara bertahap. 6. Outputnya bersifat nasihat atau anjuran. 7. Output tergantung dari dialog dengan user. 8. Knowledge base dan inference engine terpisah. 2.1.2 Keuntungan Sistem Pakar Sistem pakar merupakan paket perangkat lunak atau paket program komputer yang ditujukan sebagai penyedia nasihat dan sarana bantu dalam memecahkan masalah di bidang-bidang spesialisasi tertentu seperti sains, perekayasaan, matematika, kedokteran, pendidikan, dan sebagainya. Sistem pakar merupakan subset dari artificial intelligence. Ada banyak keuntungan bila menggunakan sistem pakar, di antaranya adalah (M.Arhami, 2005): 1. Menjadikan pengetahuan dan nasihat lebih mudah didapat. 2. Meningkatkan output dan produktivitas. 3. Menyimpan kemampuan dan keahlian pakar. 4. Meningkatkan penyelesaian masalah menerusi panduan pakar, penerangan, sistem pakar khas. 5. Meningkatkan reliabilitas. 6. Memberikan respons (jawaban) yang cepat. 7. Merupakan panduan yang intelligence (cerdas). 8. Dapat bekerja dengan informasi yang kurang lengkap dan mengandung ketidakpastian.

9. Intelligence database (basis data cerdas), bahwa sistem pakar dapat digunakan untuk mengakses basis data dengan cara cerdas. 2.1.3 Arsitektur Sistem Pakar Sistem pakar memiliki beberapa komponen utama, yaitu antarmuka pengguna (user interface), basis data sistem pakar (expert system database), fasilitas akuisisi pengetahuan (knowledge acquisition facility), dan mekanisme inferensi (inference mechanism). Selain itu ada satu komponen yang hanya ada pada beberapa sistem pakar, yaitu fasilitas penjelasan (explanation facility) (Martin dan Oxman, 1988). Antarmuka pengguna adalah perangkat lunak yang menyediakan media komunikasi antara pengguna dengan sistem. Basis data sistem pakar berisi pengetahuan setingkat pakar pada subyek tertentu. Berisi pengetahuan yang dibutuhkan untuk memahami, merumuskan, dan menyelesaikan masalah. Basis data ini terdiri dari 2 elemen dasar yakni : 1. Fakta, situasi masalah dan teori terkait. 2. Heuristik khusus atau rules, yang langsung menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah khusus. Pengetahuan ini dapat berasal dari pakar, jurnal, majalah, dan sumber pengetahuan lain. Fasilitas akuisisi pengetahuan merupakan perangkat lunak yang menyediakan fasilitas dialog antara pakar dengan sistem. Fasilitas akuisisi ini digunakan untuk memasukkan fakta-fakta dan kaidah-kaidah sesuai dengan perkembangan ilmu. Fasilitas ini meliputi proses pengumpulan, pemindahan, dan perubahan dari kemampuan pemecahan masalah seorang pakar atau sumber pengetahuan terdokumentasi (buku, jurnal, dll.) ke program komputer, yang bertujuan untuk memperbaiki dan atau mengembangkan basis pengetahuan (knowledge-base).

Mekanisme inferensi merupakan perangkat lunak yang melakukan penalaran dengan menggunakan pengetahuan yang ada untuk menghasilkan suatu kesimpulan atau hasil akhir. Dalam komponen ini dilakukan pemodelan proses berpikir manusia. Fasilitas penjelasan berguna dalam memberikan penjelasan kepada pengguna mengapa komputer meminta suatu informasi tertentu dari pengguna dan dasar apa yang digunakan komputer sehingga dapat menyimpulkan suatu kondisi. Ada empat tipe penjelasan yang digunakan dalam sistem pakar, yaitu (Schnupp, 1989): 1. Penjelasan mengenai jejak aturan yang menunjukkan status konsultasi. 2. Penjelasan mengenai bagaimana sebuah keputusan diperoleh. 3. Penjelasan mengapa sistem menanyakan suatu pertanyaan. 4. Penjelasan mengapa sistem tidak memberikan keputusan seperti yang dikehendaki pengguna. Arsitektur dasar dari sistem pakar dapat dilihat pada Gambar 2.1 (Giarrantano dan Riley, 1994). BASIS PENGETAHUAN MESIN AGENDA MEMORI KERJA FASILITAS PENJELASAN FASILITAS AKUISISI ANTARMUKA PENGGUNA Gambar 2.1 Arsitektur Sistem Pakar Sumber : (Giarrantano dan Riley, 1994)

Memori kerja dalam arsitektur sistem pakar merupakan bagian dari sistem pakar yang berisi fakte-fakta masalah yang ditemukan dalam suatu sesi, berisi fakta-fakta tentang suatu masalah yang ditemukan dalam proses konsultasi. 2.1.4 Representasi Pengetahuan Representasi pengetahuan adalah metode yang digunakan untuk mengodekan pengetahuan dalam sebuah sistem pakar yang berbasis pengetahuan. Perepresentasian ini dimaksudkan untuk menangkap sifat-sifat penting problema dan membuat informasi itu dapat diakses oleh prosedur pemecahan problema. Pengetahuan dapat direpresentasikan dalam bentuk yang sederhana atau kompleks, tergantung dari masalahnya (Schnupp, 1989). Beberapa model representasi pengetahuan yang penting adalah (Kusrini, 2006): 1. Logika (logic) 2. Jaringan semantik (semantic nets) 3. Object-Atribute-Value (OAV) 4. Bingkai (frame) 5. Kaidah produksi (production rule) 2.1.4.1 Kaidah Produksi Kaidah merupakan cara formal untuk merepresentasikan rekomendasi, arahan, atau strategi. Kaidah produksi dituliskan dalam bentuk jika-maka (if-theni). Kaidah if-then menghubungkan anteseden dengan konskuensi yang diakibatkannya. Berbagai struktur kaidah if-then yang menghubungkan obyek atau atribut adalah sebagai berikut: JIKA premis MAKA konklusi JIKA masukan MAKA keluaran JIKA kondisi MAKA tindakan

JIKA anteseden MAKA konsekuen JIKA data MAKA hasil JIKA tindakan MAKA tujuan 2.1.5 Metode Inferensi Ketika representasi pengetahuan pada bagian knowledge base telah lengkap, atau paling tidak telah berada pada level yang cukup akurat, maka representasi pengetahuan tersebut telah siap digunakan. Inference engine merupakan modul yang berisi program tentang bagaiman mengendalikan proses reasoning. Ada dua metode inferensi yang penting dalam sistem pakar, yaitu runut maju (forward chaining) dan runut balik (backward chaining). 2.1.5.1 Runut Maju (Forward Chaining) Suatu perkalian inferensi yang menghubungkan suatu permasalahan dengan solusinya disebut rantai (chain). Suatu rantai yang dicari atau dilewati/dilintasi dari suatu permasalahan untuk memperoleh solusinya disebut dengan forward chaining. Cara lain menggambarkan forward chaining ini adalah dengan penalaran dari fakta menuju konklusi yang terdapat dari fakta. Suatu rantai yang dilintasi dari suatu hipotesa kembali ke fakta yang mendukung hipotesa tersebut adalah backward chaining. Cara lain menggambarkan backward chaining adalah dalam hal tujuan yang dapat dipenuhi dengan pemenuhan sub tujuannya. Chaining dapat dengan mudah diekspresikan dalam inferensi. Sebagai contoh, anggaplah sistem memiliki kaidah dari modus ponens berikut ini. p q p q Yang berbentuk inferensi seperti berikut ini.

gajah(x) mamalia(x) mamalia(x) binatang(x) Kaidah ini digunakan dalam rantai sebab-akibat dari inferensi forward yang menarik kesimpulan bahwa Clyde adalah binatang yang memperlihatkan juga bahwa Clyde adalah seekor gajah. Rantai inferensi tersebut diilustrasikan dalam Gambar 2.2 berikut. Gajah (Clyde) Gajah (x) Mamalia (x) Mamalia (x) Binatang (x) Binatang (Clyde) Gambar 2.2 Forward Chaining Sumber: (M. Arhami, 2004) 2.1.5.2 Runut Mundur (Backward Chaining) Backward chaining adalah proses kebalikan dari forward chaining. Pokok permasalahan backward chaining adalah untuk mendapatkan suatu rantai yang menghubungkan fakta-fakta ke hipotesis. Fakta gajah (clyde) disebut sebagai evidence (fakta) dalam backward chaining untuk menunjukkan fakta tersebut digunakan untuk mendukung hipotesis. Analoginya, cara tersebut digunakan untuk mendukung hipotesis.

Secara khusus penjelasan (explanation) dimudahkan dalam backward chaining karena sistem ini dapat dengan mudah menjelaskan secara tepat tujuan apa yang dicoba untuk dipenuhi. Dalam forward chaining penjelasan tidak dimudahkan karena subtujuannya tidak secara eksplisit diketahui sehingga ditemukan. Ringkasan beberapa karakteristik umum dari forward chaining dan backward chaining disajikan dalam bentuk tabel berikut ini. Forward Cahining Perencanaan, monitoring, kontrol Disajikan untuk masa depan Antecedent ke konsekuen Data memandu, penalaran dari bawah ke atas Bekerja ke depan untuk mendapatkan solusi apa yang mengikuti fakta Breadth first search dimudahkan Antecedent menentukan pencarian Penjelasan tidak difasilitasi Backward Chaining Diagnosis Disajikan untuk masa lalu Konsekuen ke antecedent Tujuan memandu, penalaran dari atas ke bawah Bekerja ke belakang untuk mendapatkan fakta yang mendukung hipotesis Depth first search dimudahkan Konsequent menentukan pencarian Penjelasan difasilitasi Tabel 2.1 Karakteristik Forward dan Backward Chaining Sumber : (M. Arhami, 2005) Ringkasan ini hanya merupakan panduan untuk karakteristik dari kedua metode tersebut. Hal ini tentu saja memungkinkan untuk melakukan diagnosis dalam sistem forward chaining dan perencanaan dalam backward chaining. 2.2 Algoritma Generate-and-Test Algoritma Generate-and-Test adalah prosedur DFS (Depth First Search) karena solusi harus dibangkitkan secara lengkap sebelum dilakukan test. Algoritma ini berbentuk sistematis, pencarian sederhana yang mendalam dari ruang permasalahan. Generate-

and-test juga dapat dilakukan dengan pembangkitan solusi secara acak, tetapi tidak ada jaminan solusinya akan ditemukan. Algoritma Generate-and-Test merupakan algoritma yang paling sederhana dari algoritma heuristik lainnya. Langkah-langkah melakukan pendekatan dengan algoritma Generate-and- Test antara lain sebagai berikut. 1. Buatlah/bangkitkan sebuah solusi yang memungkinkan. Untuk sebuah problema hal ini dapat berarti pembuatan sebuah titik khusus dalam ruang problema. 2. Lakukan pengujian untuk melihat apakah solusi yang dibuat benar- benar merupakan sebuah solusi, dengan cara membandingkan titik khusus tersebut dengan goal-nya (solusi). 3. Jika telah diperoleh sebuah solusi, langkah langkah tersebut dapat dihentikan. Jika belum, kembalilah ke langkah pertama. Jika pembangkitan atau pembuatan solusi solusi yang dimungkinkan dapat dilakukan secara sistematis, maka algoritma ini akan dapat segera menemukan solusinya (bila ada). Namun, jika ruang problema sangat besar, maka algoritma ini akan membutuhkan waktu yang lama. 2.3 Penyakit-Penyakit pada Hewan Ternak Unggas Untuk sukses dalam usaha peternakan, mengenal gejala masing-masing penyakit ternak, mengetahui sumber penyebabnya, dan dapat melakukan pencegahan penyakit merupakan salah satu bekal yang penting. Berikut ini akan dijelaskan secara singkat mengenai jenis-jenis penyakit yang sering menyerang unggas secara umum. 2.3.1 Newcastle Disease (ND) Newcastle disease disebabkan oleh virus golongan paramyxo yang mempunyai struktur RNA (Reoxiribo Nukleat Acid), virus ini bersifat menggumpalkan sel-sel

darah merah (haemagglutinasi). Newcastle disease dapat menular secara langsung yakni langsung dari unggas yang sakit atau melalui alat-alat yang tercemar bibit penyakit, melalui udara, manusia, binatang peliharaan serta hewan liar. 1. Kaki lumpuh. 2. Lehernya terpuntir. 3. Berjalan berputar-putar. 4. Diare. 5. Sulit bernafas. 6. Batuk. 7. Ngorok. 8. Nafsu makan hilang. 9. Sering berkumpul pada tempat yang hangat. 10. Jalan menyeret. Belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit newcastle disease. 1. Melakukan revaksinasi dengan vaksin Delvax ND Clone LZ 58 dengan cara spray, tetes mata atau suntikan. 2. Memberikan Vita Stress dalam air minum. 3. Memberi vaksin Boster pada umur 21 hari, 60 hari, 120 hari dan selanjutnya tetap diulang tiap 3-4 bulan. 2.3.2 Flu Burung (Avian Influence) Flu burung merupakan jenis penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang ditularkan oleh unggas.

1. Keluar cairan dari hidung dan mata. 2. Jengger, pial, serta kulit perut yang tidak ditumbuhi bulu berwarna biru keunguan. 3. Terjadi pembengkakan disekitar kepala dan muka. 4. Batuk, bersin dan ngorok. 5. Diare. 6. Pendarahan titik (plechie) pada daerah dada, kaki dan telapak kaki. 7. Pendarahan dibawah kulit. Hingga saat ini penyakit flu buurung belum ditemukan obatnya. 1. Melakukan penyemprotan disinfektan terhadap kandang unggas untuk mencegah serangan flu burung. 2. Model kandang unggas harus memiliki sirkulasi udara yang baik untuk mengurangi resiko penyebaran penyakit flu burung. 3. Melakukan proses pemusnahan unggas yang diduga telah terjangkit virus penyakit flu burung. Pemusnahan dapat dilakukan dengan cara membakar unggas atau dengan mengubur unggas hingga kedalaman minimal 15 meter. 2.3.3 Gumboro Penyakit gumboro disebabkan oleh virus golongan Reovirus dan mempunyai struktur RNA (Reoxiribo Nukleat Acid). Pada umumnya penyakit gumboro menular secara langsung dari tinja atau bahan-bahan muntahan yang mengandung virus aktif. Penularan secara tidak langsung dapat melalui makanan, minuman atau peralatan kandang yang tercemar.

1. Nafsu makan hilang. 2. Bulu suram. 3. Diare berwarna keputih-putihan. 4. Bulu berdiri. 5. Suka mengantuk. 6. Malas bergerak. 7. Kelihatan lesu. 8. Sering duduk membungkuk. 9. Mudah terkejut. Tidak ada pengobatan efektif terhadap penyakit Gumboro. 1. Pemberian vitamin elektrolit seperti Elektrostress. 2. Pemberian air gula + garam untuk mengatasi kelemahan dan dehidrasi. 3. Pemberian disinfektan dengan penyemprotan untuk membunuh virus yang dilaksanakan secara teratur. 4. Pemberian vaksin Delvax Gomboro diberikan pada unggas yang berumur 3 minggu. 2.3.4 Fowl Fox Fowl Pox adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yang dapat menimbulkan jejas-jejas dalam ruang mulut, sekitar lubang hidung, dan disekitar mulut. Fowl Pox dapat mengakibatkan unggas mengalami kesulitan bernafas. 1. Terdapat bungkul-bungkul kecil yang biasanya tampak jelas pada bagian kulit yang tidak berbulu seperti pial, pangkal paruh, dan kulit disekitar bola mata.

2. Sesak nafas. 3. Mata membengkak dan berisi pus yang telah mengkeju. Praktis tidak ada pengobatan yang tepat, jejas-jejas diptheri dapat diobati dengan iodium. 1. Pemberian vitamin A untuk meningkatkan daya tahan tubuh. 2. Pemberian multivitamin Electrostress atau Spiravit secara teratur. 3. Pemberian vaksin cacar terhadap unggas yang berumur dibawah 1 bulan dengan tusuk sayap. 2.3.5 Marek s Disease Penyakit marek disebabkan oleh herpes virus yang mempunyai struktur DNA (Deoxiribo Nukleat Acid). 1. Salah satu kaki pada unggas mengalami kelumpuhan sehingga tidak mampu berdiri dan hanya terbaring dengan salah satu kaki, sedang salah satu kaki terjulur ke depan. 2. Sayap pada unggas terkulai. 3. Sulit bernafas. 4. Lumpuh didaerah leher yang mengakibatkan leher terpuntir. Praktis tidak ada pengobatan yang efektif untuk penyakit ini. 1. Pemberian vaksinasi marek pada unggas umur 1 hari. 2. Pembelian bibit unggas yang telah memperoleh breeding farm.

2.3.6 Infectious Coryza Infectious coryza disebabkan oleh bakteri Hemophilus gallinarum. Bakteri ini mudah mati terhadap keadaan diluar tubuh induk semang. 1. Bengkak pada muka terutama disekitar mata. 2. Jika diraba pada daerah muka akan terasa lunak seprti spons dan keluar cairan melalui mata. 3. Sesak nafas dan sering bernafas melalui mulut. 4. Dari lubang hidung keluar lendir yang mula-mula berwarna kuning dan encer yang lambat laun berubah menjadi kental, bernanah dan bau. 5. Kerdil dan kurus. 6. Nafsu makan berkurang 7. Kelopak mata membengkak dan mata nyaris tertutup. 8. Diare berwarna hijau. Pemberian obat-obatan yang mengandung sulfa seperti Ipertrim, Ipancoxin, Sulfamix, Trymexzyn, Medoxy, serta memberi Vita Stress selama 5-7 hari setelah pengobatan selesai. 1. Melakukan sanitasi kandang dan lingkungan termasuk mencegah hewan liar masuk kandang. 2. Memberikan suasana yang nyaman bagi unggas termasuk melakukan perluasan terhadap kandang dan memberikan ventilasi yang cukup pada kandang unggas. 3. Melakukan vaksinasi secara teratur sesuai anjuran.

2.3.7 Pullorum Pullorum disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum yaitu bakteri gram negatif, berbentuk batang, dan tidak membentuk spora. 1. Diare dengan tinja berwarna keputih-putihan yang mengeras seperti kapur. 2. Jengger pucat. 3. Nafsu makan hilang. 4. Sulit bernafas. 5. Persendian kaki membengkak disertai berak darah. 6. Mengantuk. 7. Kepalanya selalu menunduk. Tidak ada obat yang memuaskan, tetapi pemberian obat membantu mengurangi kematian. Therapy, Medoxy, Sulfamix, Koleridin, Tetra-Chlor, Trimezyn merupakan pilihan obat yang dapat menekan kematian akibat pullorum serta pemberian Vita Stress 4-5 hari untuk membantu proses penyembuhan penyakit. 1. Melakukan sanitasi kandang dan mencegah banyak hewan liar masuk kandang. 2. Memberikan ventilasi kandang yang cukup. 3. Melakukan perluasan pada kandang.

2.3.8 Colibacillosis Colibacillosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Coliform. Coliform merupakan bakteri yang normal hidup pada saluran pencernaan dan umumnya terdapat banyak di peternakan unggas tepatnya peternakan ayam. 1. Sulit bernafas. 2. Lesu. 3. Malas berpindah tempat/bergerak. 4. Diare mengeluarkan lendir bercampur darah. Pemberian Tetra-Chlor, Medoxy, Sulfamix, Trimezyn, serta Vita Stress 4-5 hari setelah pengobatan selesai. 1. Melakukan sanitasi kandang dan lingkungan termasuk mencegah banyak hewan liar masuk kedalam kandang. 2. Melakukan perluasan kandang antara lain jumlah unggas didalam kandang tidak terlalu padat. 3. Melakukan vaksinasi secara teratur sesuai dengan anjuran. 2.3.9 Fowl Cholera Fowl Cholera disebabkan oleh Pasteurella multocida, Pasteurella aviseptica atau Pasteurella gallinarum. Secara normal bakteri tersebut terdapat di saluran pernafasan unggas. 1. Bengkak pada jengger dan pial yang berisi cairan oedem/ massa perkejuan.

2. Keluarnya kotoran dari mata. 3. Sulit bernafas. 4. Diare berwarna hijau kekuning-kuningan. 5. Lumpuh akibat adanya radang pada sendi tarsus pada daerah kaki dan sayap. 6. Nafsu makan hilang. 7. Depresi. 8. Ngorok dan mengeluarkan cairan/ lendir yang berlebihan pada mulut dan hidung. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan yang mengandung antibiotik yang sensitif terhadap kuman pasteurella seperti Ipervator, Ipermycine, Ipercillin, atau pemberian obat yang mengandung prefarat sulfa seperti Ipancocxin, Ipertrim, dimana hasil obat-obat ini akan sangat memuaskan bila dipakai sesuai dengan anjuran. Pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian vaksin non aktif yang pada umumnya dilakukan dua kali yakni pada umur 4 dan 8 minggu. 2.3.10 Aspergillosis Aspergillosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur Aspergillus sp yang menimbulkan gangguan terutama pada saluran pernafasan. Aspergillosis dapat menyebabkan kelumpuhan, gangguan saraf serta infeksi pada mata yang dapat mengakibatkan mata tertutup oleh cairan kental berwarna kuning. 1. Nafsu makan hilang. 2. Mengantuk. 3. Sulit bernafas (bernafas tersenggal-senggal).

4. kejang-kejang. 5. Lumpuh. 6. Mata tertutup oleh cairan kental berwarna kuning. 7. Batuk. 8. Kurus. Tidak ada pengobatan yang efektif untuk penyakit ini. Namun, infeksi lokal jamur pada kulit tubuh unggas dapat diobati dengan mengoleskan Mold Stop. 1. Unggas yang sakit harus dijauhkan dari unggas yang sehat. 2. Makanan unggas harus dijaga jangan sampai berjamur. 3. Tidak memberikan antibiotik melebihi jangka waktu yang ditentukan. 4. Kandang unggas harus difumigasikan sebelum digunakan. 2.3.11 Candidiosis Candidiosis merupakan sebuah penyakit akibat makanan yang menyerang ayam, kalkun, dan kadang-kadang sejenis burung lainnya. Penyakit ini secara khusus mengakibatkan kerusakan pada unggas dibagian usus, kloaka, proventriculus (kadangkadang) yang pada akhirnya akan mengakibatkan terkikisnya tembolok pada unggas. 1. Mulut unggas sering mengeluarkan cairan (lendir) berwarna putih. 2. Stress. 3. Penurunan berat badan. 4. Kurus. Pemberian obat-obatan yang mengandung sulfa seperti Ipertrim, Ipancoxin yang efektif menyembuhkan penyakit ini. Untuk mempercepat pemulihan dapat

diberikan vitamin elektrolit seperti Elektrostress kedalam air minum selama 5-7 hari berturut-turut sampai gejala stress hilang. 1. Kandang harus selalu dalam keadaan kering dan tidak lembab. 2. Ventilasi udara dan sinar matahari harus cukup. 3. Tinja unggas didalam kandang harus segera dibersihkan agar tidak dimakan kembali oleh unggas yang lain. 2.3.12 Coccidiosis Coccidiosis atau sering disebut juga dengan berak darah adalah penyakit parasiter yang menimbulkan gangguan terutama pada saluran pencernaan bagian aborsal (usus). 1. Tinja mengandung darah. 2. Mengantuk. 3. Jengger dan pial tampak pucat dan mengecil. 4. Nafsu makan hilang. 5. Banyak minum. 6. Kurus. 7. Depresi. 8. Bulu kusut dan pucat. Pemberian obat-obatan khusus untuk berak darah seperti Ipancoxin Sol, dengan dosis 5 g/1 liter air minum dengan sistem 3-2-3 (3 hari pengobatan, 2 hari air putih, 3 hari pengobatan. 1. Kandang harus selalu dalam keadaan kering dan tidak lembab. 2. Ventilasi udara dan sinar matahari harus cukup.

3. Tinja unggas didalam kandang harus segera dibersihkan agar tidak dimakan kembali oleh unggas yang lain. 2.3.13 Cryptosporidiosis Cryptosporidiosis lebih dikenal dengan radang usus menular. Penyebab dari penyakit ini adalah Protozoa. Infeksi cryptosporidiosis dapat disebabkan oleh air dan makanan yang tercemar oleh tinja. 1. Diare. 2. Demam. 3. Nafsu makan hilang. 4. Dehidrasi. Pemberian obat-obatan yang mengandung sulfa seperti Ipertrim, Ipancoxin yang efektif menyembuhkan penyakit ini. Untuk mempercepat pemulihan dapat diberikan vitamin elektrolit seperti Elektrostress kedalam air minum. 1. Memisahkan kandang unggas yang sakit dengan unggas yang sehat. 2. Menjaga kebersihan kandang dari kotoran dan sisa makanan unggas. 3. Tidak membiarkan kandang dalam keadaan lembab. 2.3.14 Histomoniasis Histomoniasis pada unggas disebabkan oleh Histomonas melagridis yakni sejenis protozoa yang bersifat parasit yang mengakibatkan kondisi dimana unggas mengalami bintik-bintik hitam.

1. Tubuh unggas terdapat bintik-bintik hitam. 2. Depresi. 3. Tidak nafsu makan. 4. Pertumbuhan unggas sangat lambat. 5. Diare (mencret). 6. Berak darah 7. Kurus Tidak ada pengobatan yang efektif untuk mengatasi penyakit ini. Namun untuk menekan angka kematian unggas dapat dilakukan pengobatan dengan pemberian obat-obatan khusus untuk berak darah seperti Ipancoxin Sol, dengan dosis 5 g/1 liter air minum dengan sistem 3-2-3 (3 hari pengobatan, 2 hari air putih, 3 hari pengobatan). 1. Melakukan penyemprotan desinfektan terhadap kandang unggas. 2. Kandang harus selalu dalam keadaan kering dan tidak lembab. 3. Ventilasi udara dan sinar matahari harus cukup. 4. Tinja unggas didalam kandang harus segera dibersihkan agar tidak dimakan kembali oleh unggas yang lain. 2.3.15 Trichomoniasis Trichomoniasis pada unggas disebabkan oleh Trichomonas gallinae yakni sejenis protozoa yang bersifat parasit yang sering menyerang burung merpati dan ayam. 1. Mulut terbuka. 2. Mengeluarkan banyak air liur. 3. Seringkali menelan air liur berulang-ulang.

4. Kondisi tubuh lemah. 5. Unggas sering mengeluarkan airmata. 6. Unggas gampang terkejut (gugup). Tidak ada pengobatan yang efektif untuk mengatasi penyakit ini. 1. Melakukan penyemprotan desinfektan terhadap kandang unggas. 2. Kandang harus selalu dalam keadaan kering dan tidak lembab. 3. Ventilasi udara dan sinar matahari harus cukup. 4. Tidak membiarkan sisa-sisa makanan unggas selama berhari-hari didalam kandang. 2.3.16 Limfoid Leukosis Limfoid leukosis disebabkan oleh virus yang termasuk Retrovirus, golongan Oncorna C yang bersifat menggertak pembentukan tumor (onkogenik). 1. Kurus. 2. Pucat dan tidak berkembang. 3. Nafsu makan menurun. 4. Jengger mengecil (atropi). 5. Tidak mampu berdiri. 6. Jengger berwarna pucat hingga kebiruan. 7. Bulu tampak kotor karna asam urat atau zat warna empedu. Hingga saat ini belum ditemukan adanya vaksin yang mampu mengobati penyakit ini.

1. Pembelian bibit unggas yang telah memperoleh breeding farm. 2. Melakukan pemisahan kandang menurut kelompok umur masing-masing unggas. 3. Memberikan multivitamin seperti Spiravit, Electrostress, atau Staregg secara teratur dan sesuai anjuran. 2.3.17 Chronic Respiratory Disease Chronic respiratory disease disebabkan oleh bakteri Mycoplasma galisepticum. Chronic respiratory disease merupakan penyakit saluran pernafasan ringan, namun bila disertai dengan faktor komplikasi lain akan berakibat kematian pada unggas. 1. Mengeluarkan ingus dan airmata. 2. Sukar bernafas yang ditandai dengan adanya suara saat bernafas. 3. Ngorok. 4. Pembengkakan pada muka karna terjadinga timbunan cairan. 5. Diare berwarna hijau, kuning keputih-putihan. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian Ipermed, Ipevet, atau Ipertrim melalui air minum atau makanan. Dilakukan juga pemberian vitamin Electrostress atau Spiravit untuk menambah daya tahan tubuh dan mempercepat pemulihan kondisi seperti semula. 1. Melakukan penyemprotan desinfektan terhadap kandang unggas. 2. Kandang harus selalu dalam keadaan kering dan tidak lembab. 3. Ventilasi udara dan sinar matahari harus cukup.

4. Tinja unggas didalam kandang harus segera dibersihkan agar tidak dimakan kembali oleh unggas yang lain. 2.3.18 Dilatasi Esofagus Dilatasi esofagus disebabkan oleh unggas yang sering menelan makanan yang terlalu keras. Untuk mencegah penyakit ini, peternak dapat memberikan makanan encer pada ternak unggasnya. Selain itu para peternak juga harus memperhatikan posisi tempat pakan unggas, diharapkan tempat pakan unggas setinggi kepala sehinga unggas tidak perlu menunduk dan muntah. 1. Sulit menelan makanan. 2. Sering memuntahkan makanan. 3. Sering menunduk. 4. Tidak nafsu makan. 5. Kurus. Pemberian obat-obatan yang mengandung sulfa seperti Ipertrim, Ipancoxin yang efektif menyembuhkan penyakit ini. Untuk mempercepat pemulihan dapat diberikan vitamin elektrolit seperti Elektrostress kedalam air minum selama 5-7 hari berturut-turut sampai gejala stress hilang. 1. Peternak dapat memberikan makanan encer pada ternak unggasnya. 2. Peternak juga harus memperhatikan posisi tempat pakan unggas, diharapkan tempat pakan unggas setinggi kepala sehinga unggas tidak perlu menunduk dan muntah.

2.3.19 Infectious Bronchitis Infectious Bronchitis disebabkan oleh virus. Penyakit ini menimbulkan gangguan terutama pada saluran pernafasan unggas. 1. Sukar bernafas sehingga bila menarik nafas akan memanjangkan leher dan membuka paruh lebar-lebar. 2. Ngorok. 3. Bersin dan mengluarkan cairan ingus kental dari hidung. 4. Nafsu makan hilang. 5. Mata tampak selalu basah. 6. Tidak mau minum. 7. Mata merah. 8. Diare dengan tinja berwarna hijau bercampur kuning keputih-putihan. Praktis tidak ada pengobatan yang efektif karena penyakit ini disebabkan oleh virus. Pemberian antibiotik yang peka untuk penyakit-penyakit saluran pernafasan seperti Ipermed, Ipervet, atau Ipertrim perlu diberikan untuk mengatasi infeksi sekunder yang menyertainya. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan vaksinasi. Vaksinasi dapat dilakukan pada umur 4 minggu dengan H120 kemudian dilanjutkan pada umur 8 minggu, dan H52 pada umur 14 minggu. 2.3.20 Infectious Laryngotracheitis Infctious laryngotracheitis merupakan penyakit menular pada unggas yang menimbulkan gangguan terutama pada saluran pernafasan. Penyakit ini dapat

mengakibatkan kematian, dikarenakan oleh tersumbatnya saluran pernafasan (aspeksia). 1. Bulu secara mendadak rontok. 2. Ngorok. 3. Batuk disertai bersin. 4. Sulit bernafas sehingga sebentar-sebantar lehernya dijulurkan. 5. Keluarnya lendir bercampur darah dari mata dan lubang hidung. 6. Pada saat batuk terkadang mengeluarkan cairan berwarna putih kekuning-kuningan yang terkadang bercampur darah. Tidak ada pengobatan yang efektif untuk penyakit ini. Pemberian antibiotik yang peka untuk penyakit-penyakit saluran pernafasan seperti Ipermed, Ipervet, atau Ipertrim perlu diberikan untuk mengatasi infeksi sekunder yang menyertainya. 1. Melakukan vaksinasi dengan vaksin ILT yang dilakukan pada umur 10 dan 20 minggu. 2. Pemberian vaksin melalui tetes mata merupakan cara yang paling baik dan memiliki tingkat kekebalan tubuh yang paling tinggi dibandingkan dengan cara yang lain. 2.3.21 Koliseptikemia Koliseptikemia terjadi karena adanya Eschericia coli serotype patogen dalam jumlah besar menyebar melalui darah dan menginvasi serta menimbulkan kerusakan pada berbagai jaringan. 1. Tinja bercampur darah.

2. Tidak ada nafsu makan. 3. Sesak nafas. 4. Mengantuk. 5. Kurus. Pemberian Tetra-Chlor, Medoxy, Sulfamix, Trimezyn, serta Vita Stress 4-5 hari setelah pengobatan selesai. 1. Melakukan sanitasi kandang dan lingkungan termasuk mencegah banyak hewan liar masuk kedalam kandang. 2. Melakukan perluasan kandang antara lain jumlah unggas didalam kandang tidak terlalu padat. 3. Melakukan vaksinasi secara teratur sesuai dengan anjuran. 4. Tinja unggas didalam kandang harus segera dibersihkan agar tidak dimakan kembali oleh unggas yang lain. 5. Melakukan penyemprotan desinfektan terhadap kandang unggas. 2.3.22 Neoplasia Akibat Infeksi Spirocercalupi Cacing Spirocerca lupi ditemukan didalam tumor kerongkongan, lambung dan aorta unggas. Unggas yang terjangkit penyakit ini bila dipotong maka akan ditemukan cacing pada usus, usus yang menebal, beradang, berdarah dan kadang-kadang terjadi perobekan dinding usus. 1. Kurus. 2. Pucat. 3. Diare bercampur darah.

Obat cacing yang mengandung Tetramisol HCL seperti Ipermisol dapat membunuh cacing dan larva cacing dari berbagai jenis cacing baik yang berada di jaringan maupun yang berada di lumen usus. Obat-obat cacing yang mengandung Piperazine dapat juga untuk mengatasi cacing-cacing yang berada di usus walaupun tidak membunuh melainkan hanya melumpuhkan syaraf-syaraf cacing yang bersifat sementara. 1. Menjaga lingkungan dan kandang harus selalu bersih dan kering. 2. Kandang unggas harus memiliki ventilasi udara dan sinar matahari yang cukup sehingga kandang menjadi tidak lembab dan kotor. 3. Pemberian obat cacing tiap 3-6 bulan sekali dapat dilakukan terutama pada unggas-unggas yang memiliki kandang yang tidak bersih.