BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Grafik 1. Distribusi TDI berdasarkan gigi permanen yang terlibat 8

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 PENGARUH PLAK TERHADAP GIGI DAN MULUT. Karies dinyatakan sebagai penyakit multifactorial yaitu adanya beberapa faktor yang

LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. (SKRT, 2004), prevalensi karies di Indonesia mencapai 90,05%. 1 Riset Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Jumlah perokok di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling dominan

BAB I PENDAHULUAN. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi masalah gigi dan mulut di atas

BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi atau yang biasanya dikenal masyarakat sebagai gigi berlubang,

BAB II TINJAUAN UMUM FRAKTUR DENTOALVEOLAR PADA ANAK. (Mansjoer, 2000). Berdasarkan definisi-definisi tersebut maka fraktur

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. pada kesehatan umum dan kualitas hidup (WHO, 2012). Kesehatan gigi dan mulut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Bab 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian dan Gambaran Klinis Karies Botol. atau cairan manis di dalam botol atau ASI yang terlalu lama menempel pada

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. disebabkan oleh penggunaan susu botol atau cairan lainnya yang termasuk karbohidrat seperti

BAB I PENDAHULUAN. cenderung meningkat sebagai akibat meningkatnya konsumsi gula seperti sukrosa.

SALIVA SEBAGAI CAIRAN DIAGNOSTIK RESIKO TERJADINYA KARIES PUTRI AJRI MAWADARA. Dosen Pembimbing : drg. Shanty Chairani, M.Si.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang kemudian, secara normal, terjadi setiap bulan selama usia reproduktif.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 2004, didapatkan bahwa prevalensi karies di Indonesia mencapai 85%-99%.3

Tahun 1999, National Institude of Dental and Craniofasial Research (NIDCR) mengeluarkan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Karies gigi merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi yaitu ,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. melalui makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Berbagai macam bakteri ini yang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. dapat dialami oleh setiap orang, dapat timbul pada satu permukaan gigi atau lebih dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit gigi dan mulut merupakan penyakit tertinggi ke enam yang

BAB I PENDAHULUAN. menyerang jaringan keras gigi seperti , dentin dan sementum, ditandai

BAB I PENDAHULUAN. dalam perkembangan kesehatan anak, salah satunya disebabkan oleh rentannya

BAB I PENDAHULUAN. setiap proses kehidupan manusia agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai

BAB I PENDAHULUAN. indeks caries 1,0. Hasil riset kesehatan dasar tahun 2007 melaporkan bahwa

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. serta pembinaan kesehatan gigi terutama pada kelompok anak sekolah perlu

BAB I PENDAHULUAN. Mulut memiliki lebih dari 700 spesies bakteri yang hidup di dalamnya dan. hampir seluruhnya merupakan flora normal atau komensal.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. kelenjar saliva, dimana 93% dari volume total saliva disekresikan oleh kelenjar saliva

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, prevalensi

BAB 1 PENDAHULUAN. Saliva merupakan cairan rongga mulut yang kompleks yang terdiri atas

BAB I PENDAHULUAN. ortodontik berdasarkan kebutuhan fungsional dan estetik. Penggunaan alat

BAB I PENDAHULUAN. penyakit sistemik. Faktor penyebab dari penyakit gigi dan mulut dipengaruhi oleh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan rongga mulut merupakan salah satu bagian yang tidak dapat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. atau berkurangnya respon terhadap reseptor insulin pada organ target. Penyakit ini dapat

BAB 1 PENDAHULUAN. menunjukkan prevalensi nasional untuk masalah gigi dan mulut di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. cepat di masa yang akan datang terutama di negara-negara berkembang, seperti

BAB I PENDAHULUAN. Community Dental Oral Epidemiologi menyatakan bahwa anakanak. disebabkan pada umumnya orang beranggapan gigi sulung tidak perlu

BAB I PENDAHULUAN. aktifitas mikroorganisme yang menyebabkan bau mulut (Eley et al, 2010). Bahan yang

BAB I PENDAHULUAN. seperti kesehatan, kenyamanan, dan rasa percaya diri. Namun, perawatan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. masalah dengan kesehatan gigi dan mulutnya. Masyarakat provinsi Daerah

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yang disebabkan

BAB I PENDAHULUAN. dengan migrasi epitel jungsional ke arah apikal, kehilangan perlekatan tulang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. kesehatan gigi dan makanan sehat cenderung dapat menjaga perilaku hidup sehat.

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan mulut yang buruk memiliki dampak negatif terhadap tampilan wajah,

BAB I PENDAHULUAN. semua orang tidak mengenal usia, golongan dan jenis kelamin. Orang yang sehat

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT

BAB I PENDAHULUAN. karbohidrat dari sisa makanan oleh bakteri dalam mulut. 1

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. bahan baku utamanya yaitu susu. Kandungan nutrisi yang tinggi pada keju

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sering ditemukan pada orang dewasa, merupakan penyakit inflamasi akibat

BAB I PENDAHULUAN. (D = decayed (gigi yang karies), M = missing (gigi yang hilang), F = failed (gigi

BAB 2 LATAR BELAKANG TERAPI AMOKSISILIN DAN METRONIDAZOLE SEBAGAI PENUNJANG TERAPI PERIODONTAL

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Menopause merupakan bagian dari siklus kehidupan alami yang akan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Saliva merupakan cairan rongga mulut yang memiliki peran penting dalam

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia masih merupakan hal yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Karies gigi merupakan masalah utama dalam kesehatan gigi dan mulut

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. lengkung rahang dan kadang-kadang terdapat rotasi gigi. 1 Gigi berjejal merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2013 menunjukkan urutan pertama pasien

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat Indonesia. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut penduduk

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. adalah anak yang mengalami gangguan fisik atau biasa disebut tuna daksa.

BAB I PENDAHULUAN. palatum, lidah, dan gigi. Patologi pada gigi terbagi menjadi dua yakni karies dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pengetahuan ibu tentang pencegahan karies gigi sulung

BAB 1 PENDAHULUAN. dapat dipisahkan satu dan lainnya karena akan mempengaruhi kesehatan tubuh

Transkripsi:

6 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Atlet Atlet menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah olahragawan, terutama yang mengikuti perlombaan atau pertandingan dalam beradu ketangkasan, kecepatan, keterampilan, dan kekuatan. 1 Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 3 tahun 2005 tentang sistem keolahragaan nasional, olahragawan adalah pengolahraga yang mengikuti pelatihan secara teratur dan kejuaraan dengan penuh dedikasi untuk mencapai prestasi. 2 Menurut Poerwardarminta, atlet merupakan seseorang yang bersungguh-sungguh gemar berolahraga terutama mengenai kekuatan badan, ketangkasan dan kecepatan berlari, berenang, melompat dan lain-lain. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, atlet merupakan individu yang berperan dalam suatu aktivitas dibidang keolahragaan dan bakat, keterampilan, maupun motivasi sangat dibutuhkan pada cabang olahraga tersebut untuk mencapai suatu prestasi yang setinggi-tingginya dan dikumpulkan dalam satu program pelatihan yang lebih khusus dan intensif sesuai dengan cabang olahraga masing-masing. 1 2.2 Jenis-jenis Olahraga Olahraga berdasarkan risiko terjadinya trauma dapat dibagi menjadi tiga: 25 1. Contact sport Contact sport terdiri atas dua kelompok, antara lain collision dan contact sport. Meskipun tidak ada garis pemisah yang jelas antara dua kelompok tersebut, collision memberikan risiko cedera yang lebih besar. Dalam collision sport (misalnya tinju, hoki es, lacrosse, dan rodeo), atlet secara sengaja memukul atau saling bertabrakan dengan lawan atau benda mati (termasuk lapangan) dengan tenaga yang kuat. Dalam contact sport (misalnya basket, bela diri, dan sepak bola), atlet sering melakukan kontak badan satu sama lain atau dengan benda mati, tetapi biasanya dengan kekuatan yang lebih sedikit daripada atlet collision sport.

7 2. Limited-contact sport Dalam limited-contact sport (misalnya softball dan voli), kontak dengan atlet lain atau dengan benda mati tidak terlalu sering atau tidak disengaja. Namun, beberapa limited-contact sport (misalnya skateboard) bisa memiliki risiko cedera yang sama dengan collision atau contact sport. 3. Noncontact sport Dalam noncontact sport (misalnya angkat besi), kontak dengan atlet lain sangat jarang tetapi cedera serius dapat terjadi. Pembagian yang dilakukan menunjukkan kemungkinan perbandingan bahwa partisipasi dalam olahraga yang berbeda akan menghasilkan risiko cedera yang berbeda. 25 2.3 Kondisi Rongga Mulut pada Atlet Gigi dapat dikatakan sehat bila berfungsi normal, baik sebagai alat pengunyah maupun alat pencernaan. Gigi yang sehat harus didukung oleh jaringan periodontal yang sehat. Penyakit mulut seperti karies dan penyakit periodontal dapat berakibat fatal terhadap kesehatan tubuh secara umum. 26 Pada atlet, penyakit mulut yang sering dijumpai adalah karies, erosi gigi, dan penyakit periodontal. Trauma dental pada olahraga yang berisiko juga sering ditemukan. 6 2.3.1 Karies Karies gigi merupakan demineralisasi pada jaringan keras gigi akibat asam yang merupakan hasil fermentasi karbohidrat sisa-sisa makanan oleh bakteri. Karies merupakan penyakit multifaktorial yang terdiri dari faktor host, agen atau mikroorganisme, substrat atau diet dan ditambah faktor waktu. Faktor host adalah morfologi gigi, struktur enamel, faktor kimia, dan kristalografis. Faktor agen atau mikroorganisme yang paling berperan yaitu bakteri Streptokokus mutans yang diakui sebagai penyebab utama karies. Faktor substrat atau diet yang berperan adalah karbohidrat. Sedangkan waktu yang diperlukan karies untuk berkembang menjadi suatu kavitas cukup bervariasi, diperkirakan 6-48 bulan. 26

8 Terjadinya karies juga dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti: 1. Keturunan dan ras Dari suatu penelitian terhadap 46 pasang orang tua dengan persentase karies yang tinggi, hanya 1 pasang yang memiliki anak dengan gigi yang baik, 5 pasang dengan persentase karies sedang, dan 40 pasang dengan persentase karies tinggi. Selain itu, keadaan tulang rahang suatu ras bangsa mungkin berhubungan dengan persentase karies yang semakin meningkat atau menurun. Pada ras tertentu dengan rahang yang sempit, gigi geligi pada rahang sering tumbuh tidak teratur. Hal ini akan mempersukar pembersihan gigi dan akan mempertinggi karies pada ras tersebut. 27 2. Usia Penelitian epidemiologis menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi karies sejalan dengan bertambahnya umur. Anak-anak mempunyai risiko karies yang paling tinggi ketika gigi mereka baru erupsi sedangkan orang tua lebih berisiko terhadap terjadinya karies akar. 26 3. Jenis kelamin Selama masa kanak-kanak dan remaja, wanita menunjukkan nilai DMF yang lebih tinggi daripada pria. Walaupun demikian, umumnya oral hygiene wanita lebih baik sehingga komponen gigi yang hilang lebih sedikit daripada pria. Sebaliknya, pria mempunyai komponen F (filling) yang lebih banyak dalam indeks DMFT. 26 4. Sosial ekonomi Karies dijumpai lebih rendah pada kelompok sosial ekonomi rendah dan sebaliknya. Ada dua faktor sosial ekonomi yang berperan, yaitu pekerjaan dan pendidikan. 26 5. Penggunaan fluor Pemberian fluor yang teratur baik secara sistemik maupun lokal merupakan hal yang penting diperhatikan dalam mengurangi terjadinya karies oleh karena dapat meningkatkan remineralisasi. 26 6. Pengalaman karies Penelitian epidemiologis telah membuktikan adanya hubungan antara pengalaman karies dengan perkembangan karies di masa mendatang. Sensitivitas

9 parameter ini mencapai 60%. Prevalensi karies pada gigi desidui dapat memprediksi karies pada gigi permanennya. 26 7. Oral higiene Insiden karies dapat dikurangi dengan melakukan penyingkiran plak secara mekanis dari permukaan gigi. Peningkatan oral higiene dapat dilakukan dengan menggunakan alat pembersih interdental yang dikombinasi dengan pemeriksaan gigi secara teratur. 26 8. Jumlah bakteri Segera setelah lahir akan terbentuk ekosistem oral yang terdiri atas berbagai jenis bakteri. Kolonisasi bakteri di dalam mulut disebabkan transmisi antar manusia, yang paling banyak dari ibu atau ayah. Bayi yang memiliki jumlah S. mutans yang banyak, maka usia 2-3 tahun akan mempunyai risiko karies yang lebih tinggi pada gigi susunya. 26 9. Saliva Secara kimiawi, dengan adanya unsur Ca dan ion fosfat dalam saliva akan membantu penggantian mineralisasi terhadap email atau menetralisasi keadaan asam. 27 Selain mempunyai efek buffer, saliva juga berguna untuk membersihkan sisa-sisa makanan di dalam mulut. Aliran saliva pada anak-anak meningkat sampai anak tersebut berusia 10 tahun, namun setelah dewasa hanya terjadi peningkatan sedikit. Tidak hanya umur, beberapa faktor lain juga dapat menyebabkan berkurangnya aliran saliva. Pada individu yang berkurang fungsi salivanya, maka aktivitas karies akan meningkat secara signifikan. 26 Banyak atlet mengalami dehidrasi yang lama selama latihan dan kompetisi. 28 Dehidrasi yang ditimbulkan oleh aktivitas fisik yang berkepanjangan dapat memicu laju aliran saliva yang rendah sehingga dapat menimbulkan kesulitan bagi saliva untuk membersihkan konsentrasi karbohidrat yang tinggi pada gigi. Hal tesebut akan menciptakan lingkungan yang mendukung untuk terjadinya karies. 29 10. Pola makan Pengaruh pola makan dalam proses karies biasanya lebih bersifat lokal. Apabila makanan dan minuman berkarbohidrat terlalu sering dikonsumsi, maka

10 enamel gigi tidak akan mempunyai kesempatan untuk melakukan remineralisasi dengan sempurna sehingga terjadi karies. 26 Pada atlet, banyaknya waktu yang dihabiskan untuk latihan akan banyak menghabiskan energi dan cadangan karbohidrat yang disimpan dalam tubuh. Ahli gizi keolahragaan merekomendasikan para atlet untuk menjaga cadangan karbohidrat atau glikogen dalam tubuh dengan mengonsumsi jumlah karbohidrat yang adekuat. Karbohidrat penting selama latihan berkepanjangan atau berkelanjutan untuk mempertahankan kadar glukosa darah dan menggantikan glikogen otot. Konsumsi karbohidrat disarankan pada waktu sebelum dan setelah latihan. Konsumsi karbohidrat yang adekuat setelah latihan memungkinkan beberapa kegiatan dilakukan dalam satu hari dan memperbaharui cadangan karbohidrat setiap hari. Karbohidrat yang dikonsumsi biasanya gula, baik untuk kemudahan konsumsi dan rasa yang disukai. 11 Masalah kesehatan rongga mulut pada atlet mahasiswa di Nigeria dilaporkan sebesar 28,3% dan karies gigi merupakan masalah utama pada responden yaitu sebesar 53,1%. 4 Penelitian yang dilakukan oleh Gay-Escoda, dkk. terhadap 30 pemain sepak bola profesional. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa skor ratarata DMFT bernilai 5,7 ± 4,1. 8 Penelitian Rosa, dkk. terhadap 400 pemain sepak bola termasuk 353 pemain amatir dan 47 pemain profesional menunjukkan pemain amatir memiliki karies sebesar 71% dan pada pemain profesional sebesar 68%. 3 Ada beberapa indeks karies yang biasa digunakan untuk mendapatkan data tentang status karies seseorang seperti indeks Klein, indeks WHO dan indeks Significant Caries (SIC). 26 2.3.2 Erosi Erosi gigi yaitu suatu proses hilangnya jaringan permukaan gigi yang tidak berhubungan dengan faktor mekanis dan terjadi karena proses kimia tanpa melibatkan bakteri. 26,30,31 Penelitian Mathew, dkk. terhadap 304 atlet anggota tim olahraga di Ohio State University menunjukkan prevalensi erosi gigi sebesar 36,5%. 13 Penelitian

11 Sirimaharaj, dkk. pada anggota tim olahraga University of Melbourne, Australia, dilaporkan bahwa prevalensi erosi gigi adalah 25,4%. 4 Erosi gigi pada atlet terutama disebabkan oleh salah satu minuman asam yang sering dikonsumsi para atlet yaitu sport drink. Sport drink atau dikenal juga dengan minuman isotonik adalah minuman dengan tambahan perasa dan gula, mineral, dan elektrolit untuk membantu melengkapi kebutuhan tubuh selama latihan. 32 Sport drink juga mengandung konsentrasi asam yang tinggi. 29 Keasaman sport drink berkisar antara 2,4 sampai 4,5, sedangkan ph kritis bagi enamel dimana hidroksiapatit dan fluorapatit larut adalah 5,5. 33 Laju aliran saliva yang rendah akibat dehidrasi yang dialami para atlet mengakibatkan diperlukannya waktu yang lebih lama untuk membersihkan asam dari makanan maupun minuman tersebut. 29 Telah diketahui bahwa hal ini dapat meningkatkan risiko dari erosi gigi disebabkan penurunan laju aliran saliva yang berakibat pada pembilasan yang dilakukan tidak cukup sehingga ph tetap berada dalam keadaan asam untuk periode yang lebih lama dan buffering pada permukaan gigi tidak memadai. 28 Penurunan produksi saliva akan mengurangi kapasitas saliva untuk menetralisir asam dari makanan maupun minuman. 34 Kapasitas buffering ini umumnya lebih penting daripada ph awal minuman tersebut dalam potensi menyebabkan erosi. 29 Saliva sangat penting untuk memelihara kesehatan rongga mulut dan penurunan laju aliran saliva dapat menyebabkan ketidakseimbangan rongga mulut. 34 Saliva berfungsi untuk menyediakan proteksi terhadap erosi asam dengan berbagai cara, yaitu: 30 1. Memberikan pengaruh terhadap acquired pellicle. 2. Pembersihan oleh saliva dapat menghilangkan asam melalui penelanan. 3. Saliva menunjukkan kapasitas bufer yang menyebabkan netralisasi asam. 4. Saliva menyediakan kandungan mineral untuk gigi, di antaranya kalsium, fosfat, dan fluoride yang dibutuhkan untuk remineralisasi. Keparahan erosi tergantung pada beberapa faktor seperti: 34,35 1. Gaya hidup dan diet. 2. Tipe asam dan lama durasi terpapar asam. 3. Struktur dan komposisi mineral gigi.

12 4. Komposisi serta laju aliran saliva. Ada beberapa indeks yang digunakan untuk mengidentifikasi tahap erosi gigi dengan menggunakan gambaran klinis dan visual, di antaranya adalah indeks menurut Eccles, indeks menurut Smith dan Knight, dan indeks menurut Lussi. 36 2.3.3 Trauma Dental Trauma dengan kata lain disebut injury atau wound, dapat diartikan sebagai kerusakan atau luka yang biasanya disebabkan oleh tindakan-tindakan fisik dengan terputusnya kontinuitas normal suatu struktur. Trauma juga diartikan sebagai suatu kejadian tidak terduga atau suatu penyebab sakit, karena kontak yang keras dengan suatu benda. Definisi lain menyebutkan bahwa trauma gigi adalah kerusakan yang mengenai jaringan keras gigi dan atau jaringan periodontal karena sebab mekanis. 37 Klasifikasi trauma dental berdasarkan Application of international classification of diseases to dentistry and stomatology oleh WHO, yaitu: trauma pada jaringan keras gigi dan pulpa, trauma pada jaringan periodontal, trauma pada tulang pendukung, dan trauma pada mukosa mulut atau gingiva. 18 Kerusakan pada jaringan keras gigi dan pulpa: 18,37 1. Retak mahkota (enamel infraction) yaitu suatu fraktur yang tidak sempurna (retak) pada enamel tanpa kehilangan struktur gigi dalam arah horizontal maupun arah vertikal. 2. Fraktur enamel yang tidak kompleks (uncomplicated crown fracture) yaitu fraktur pada mahkota gigi yang hanya mengenai lapisan enamel saja. 3. Fraktur enamel-dentin (uncomplicated crown fracture) yaitu fraktur mahkota gigi yang mengenai lapisan enamel dan dentin saja tanpa melibatkan pulpa. 4. Fraktur mahkota-akar yang tidak kompleks (uncomplicated crown- root fracture) yaitu fraktur yang mengenai lapisan enamel, dentin, sementum tanpa melibatkan pulpa. 5. Fraktur mahkota yang kompleks (complicated crown fracture) yaitu fraktur yang mengenai lapisan enamel, dentin dan pulpa.

13 6. Fraktur mahkota-akar yang kompleks (complicated crown- root fracture) yaitu fraktur yang mengenai lapisan enamel, dentin, sementum dan pulpa. 7. Fraktur akar (root fracture) yaitu fraktur yang mengenai dentin, sementum dan pulpa. Kerusakan pada jaringan periodontal: 18,37 1. Konkusi yaitu trauma yang mengenai jaringan pendukung gigi tanpa adanya kegoyangan atau perubahan posisi gigi, yang menyebabkan gigi lebih sensitif terhadap tekanan dan perkusi. 2. Subluksasi yaitu trauma yang mengenai jaringan pendukung gigi dengan adanya kegoyangan dan tanpa perubahan posisi gigi. 3. Luksasi ekstrusi yaitu pergerakan sebagian gigi keluar dari soketnya sehingga gigi terlihat lebih panjang. 4. Luksasi yaitu perubahan letak gigi ke arah labial, palatal maupun lateral yang menyebabkan kerusakan atau fraktur pada soket alveolar gigi tersebut. 5. Luksasi intrusi yaitu pergerakan gigi ke dalam tulang alveolar yang menyebabkan kerusakan alveolar dan gigi akan terlihat lebih pendek. 6. Avulsi yaitu pergerakan seluruh gigi keluar dari soketnya. Kerusakan pada tulang pendukung: 18,37 1. Kerusakan soket alveolar yaitu kerusakan dari soket alveolar, pada kondisi ini dijumpai intrusi. 2. Fraktur dinding soket alveolar maksila dan mandibula yaitu fraktur tulang alveolar yang melibatkan dinding soket labial atau lingual dibatasi oleh bagian fasial atau oral dari dinding soket. 3. Fraktur prosessus alveolaris maksila dan mandibula yaitu fraktur yang mengenai prosessus alveolaris dengan atau tanpa melibatkan soket alveolaris gigi. 4. Fraktur tulang alveolar yaitu fraktur tulang alveolar maksila atau mandibula yang melibatkan prosessus alveolaris dengan atau tanpa melibatkan soket alveolar. Kerusakan pada gingiva atau jaringan lunak rongga mulut: 18,37 1. Laserasi yaitu suatu luka terbuka pada jaringan lunak rongga mulut yang biasanya disebabkan oleh benda tajam.

14 2. Kontusio yaitu memar yang biasanya disebabkan oleh pukulan benda tumpul dan menyebabkan perdarahan pada daerah submukosa tanpa disertai sobeknya daerah mukosa. 3. Abrasi yaitu luka pada daerah superfisial yang disebabkan karena gesekan atau goresan suatu benda, sehingga terdapat permukaan yang berdarah dan lecet. Setiap jenis olahraga mempunyai faktor risiko terjadinya trauma dental meliputi: 25,38 1. Terjatuh 2. Berkontak dengan permukaan keras misalnya lapangan bermain, 3. Benturan antar pemain 4. Terkena pukulan seperti pukulan siku yang mengenai rahang, pukulan tongkat atau bola yang mengenai gigi, pukulan stik pada olahraga hoki, dan yang lainnya. Berlatih dan berkompetisi yang dilakukan atlet dalam waktu yang lama meningkatkan kemungkinan terjadinya trauma. 39 Trauma orofasial terjadi pada 4-18% dari keseluruhan cedera akibat olahraga dan trauma dental adalah trauma yang paling sering di antaranya (>50%). 33 Trauma oral dan dental dalam jumlah yang signifikan diakibatkan oleh keikutsertaan dalam contact sport. 40 Akan tetapi, tidak hanya contact sports yang berisiko terhadap trauma, tetapi non-contact sports juga dapat berisiko terhadap trauma dental. Andrade, dkk. dalam penelitiannya melaporkan bahwa prevalensi trauma dental pada atlet yang berpartisipasi dalam Pan American Games adalah sebesar 49,6%. 17 2.3.4 Penyakit periodontal Penyakit periodontal adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang terakumulasi dalam plak yang menyebabkan gingiva mengalami peradangan. Faktor yang mempengaruhi pembentukan plak adalah oral higiene, serta faktor-faktor penjamu seperti diet, komposisi dan laju aliran saliva. Ada dua tipe penyakit periodontal yang biasa dijumpai yaitu gingivitis dan periodontitis. 26,41

15 Gingivitis merupakan lesi inflamasi pada gingiva. 41 Gingivitis adalah bentuk penyakit periodontal yang ringan, yang secara klinis ditandai dengan gingiva berwarna merah, membengkak, mudah berdarah, perubahan kontur, kehilangan adaptasi terhadap gigi, dan peningkatan jumlah cairan sulkular. 26,41 Terjadinya gingivitis akibat adanya plak gigi yang meliputi berbagai macam bakteri dan menginduksi perubahan patologis pada jaringan secara langsung maupun tidak langsung. 41 Periodontitis merupakan infeksi yang disebabkan inflamasi kronis yang mengenai jaringan gingiva, tulang penyangga gigi, dan jaringan ikat di sekitar gigi. 42 Secara klinis perbedaan periodontitis dan gingivitis adalah pada periodontitis dijumpai adanya kehilangan perlekatan jaringan ikat ke gigi pada keadaan gingiva yang terinflamasi. Juga terjadi kehilangan ligamen periodontal dan terganggunya perlekatannya ke sementum, dan resorpsi tulang alveolar. Faktor risiko penyakit periodontal dibagi menjadi faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi atau dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi biasanya berasal dari individu itu sendiri, oleh karena itu tidak mudah diubah, sedangkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi biasanya berupa lingkungan atau perilaku. 43,44 Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi, yaitu: 43,44 1. Respons host Pandangan saat ini didasarkan pada banyaknya bukti bahwa penyakit periodontal adalah hasil dari respons imun yang tidak memadai terhadap infeksi bakteri daripada efek merusak dari bakteri patogen secara langsung. Periodontitis kronis melibatkan interaksi kompleks antara faktor mikroba dan kerentanan host. 2. Osteoporosis Banyak penelitian yang dilakukan sampai saat ini menunjukkan ada hubungan antara osteoporosis dan kehilangan tulang. Osteoporosis secara signifikan dikaitkan dengan kehilangan tulang alveolar yang parah dan prevalensi kasus periodontitis pada wanita pasca menopause.

16 Faktor risiko yang dapat dimodifikasi, yaitu: 34,43,44 1. Mikroorganisme Terdapat ratusan spesies bakteri subgingival pada periodontitis dan sejumlah kecil dikaitkan dengan perkembangan penyakit dan dianggap etiologi penting. Dari semua jenis bakteri yang berkolonisasi di mulut, ada tiga spesies yang diyakini terlibat sebagai agen penyebab periodontitis, yaitu Porphyromonas gingivalis, Actinobacillus actinomycetemcomitans, dan Tannerella forsythia. 2. Merokok Merokok memberikan efek merusak yang cukup besar pada jaringan periodontal dan meningkatkan laju perkembangan penyakit periodontal. Hal ini dapat dijelaskan dengan fakta bahwa nikotin menyebabkan vasokonstriksi lokal, mengurangi aliran darah, edema, dan tanda-tanda klinis peradangan. Reseptor asetilkolin nikotin ditemukan memainkan peran penting dalam pengembangan nikotin terhadap periodontitis. 3. Diabetes melitus Salah satu manifestasi diabetes di rongga mulut adalah gingivitis dan periodontitis. Pasien dengan diabetes yang tidak terdiagnosis atau tidak terkontrol berada pada risiko tinggi untuk penyakit periodontal. Periodontitis juga berlangsung lebih cepat pada penderita diabetes yang tidak terkontrol. 4. Obat-obatan Obat dapat menjadi faktor risiko dalam penyakit periodontal. Obat-obatan seperti antikonvulsan dan calcium channel-blocker dapat menginduksi pertumbuhan gingiva yang berlebih. 5. Stres Pasien stres mempunyai risiko lebih besar untuk terjadinya penyakit periodontal yang parah. Stres berkaitan dengan kebersihan mulut yang buruk, meningkatkan sekresi glukokortikoid yang dapat menekan fungsi kekebalan tubuh, meningkatkan resistensi insulin, dan berpotensi meningkatkan risiko periodontitis. Respons host terhadap infeksi Porphyromonas gingivalis dapat menurun pada individu dengan stres.

76%. 5 Beberapa indeks sederhana dan dapat dipercaya tersedia untuk membantu 17 Berdasarkan faktor-faktor diatas, salah satu faktor yang banyak mempengaruhi atlet adalah ketidakseimbangan antara kompetisi olahraga dan kehidupan sehari-hari yang menyebabkan banyak atlet menghadapi stres dan kecemasan yang lebih dari orang lain. Terdapat dua tipe stres yang dialami para atlet: eustress dan distress. Eustress adalah tipe stres yang baik berasal dari tantangan aktivitas yang menyenangkan (tantangan olahraga). Sebaliknya, distress adalah tipe yang buruk dari stres yang ditimbulkan ketika harus beradaptasi dengan tuntutan yang teralu banyak. Stres berkepanjangan juga dapat dialami oleh atlet ketika mereka bertemu dengan faktor stres secara berkesinambungan dan dalam durasi yang lama. Ketika program pelatihan diperpanjang, mereka akan dihadapkan pada stres dan kecemasan yang berlebih. Stres yang meningkat menghasilkan perubahan dalam diet, nutrisi, dan berpengaruh pada kesehatan gigi dan mulut yang dapat menyebabkan penyakit gingiva dan periodontal. 20 Berbagai studi mengindikasikan adanya korelasi antara penyakit periodontal dengan stres. Penyakit gingiva dan periodontal sangat umum terjadi pada atlet apabila stres dan kecemasan telah melewati titik batas maksimum. Ketika tidak ada homeostasis antara jumlah stres dan mekanisme untuk mengatasi stres, hal tersebut akan menghasilkan perubahan mekanisme pertahanan tuan rumah dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit periodontal. Ketika stres berada di luar kemampuan untuk mengatasinya, hormon stres yang mengatur hasil inflamasi gingiva dan penyakit periodontal meningkat. Atlet dengan tingkat kecemasan tinggi pra-kompetisi lebih rentan terhadap penyakit periodontal. 20 Penelitian yang dilakukan oleh Needleman, dkk. pada atlet yang berpartisipasi dalam 25 cabang olahraga pada Olympic Games di London pada tahun 2012, diperoleh prevalensi gingivitis sebesar 76% dan periodontitis sebesar 15%. 7 Pengamatan yang dilakukan oleh Ashley, dkk. terhadap beberapa hasil studi yang dilakukan pada atlet, melaporkan bahwa prevalensi penyakit periodontal sebesar 15- dokter gigi dan peneliti mengukur status periodontal seseorang. Ada beberapa indeks

18 yang biasa digunakan seperti indeks plak oleh Loe dan Silness, indeks plak O Leary, indeks oral hygiene dan oral hygiene simplified, indeks plaque formation rate, indeks oral rating, community periodontal index and treatment needs, indeks keparahan penyakit periodontal oleh Russel dan Ramfjord, dan indeks gingivitis oleh Loe dan Silness. 26 2.4 Pencegahan Penyakit gigi dan mulut pada atlet dapat dicegah walaupun beberapa faktor risiko mungkin sulit untuk dikurangi, misalnya frekuensi asupan karbohidrat selama latihan, tetapi tindakan untuk mengurangi dampak negatif mungkin dapat membantu. Tindakan sederhana dapat memiliki dampak yang besar pada kesehatan mulut. Namun, banyak tindakan ini bergantung pada perilaku kesehatan yang sangat sulit untuk diubah. Sama halnya dengan penyakit gigi dan mulut, cedera traumatis olahraga juga dapat dicegah walaupun beberapa di antaranya tidak dapat dihindari. 45 Pencegahan awal terhadap semua penyakit gigi dan mulut dapat dilakukan dengan melakukan promosi kesehatan dan pendidikan dengan pendekatan multilevel termasuk individu (atlet), lokal (tim medis dan dental), dan tingkat tinggi (organisasi olahraga nasional/internasional). 6 Beberapa cara pencegahan lain yang juga dapat dilakukan, yaitu: 6,31,46 1. Karies a. Pengurangan kuantitas dan frekuensi asupan karbohidrat dilakukan apabila memungkinkan dan konsumsi sport drink harus sesuai dengan tujuannya yaitu untuk menghilangkan dehidrasi. b. Menggunakan pasta gigi dengan kandungan fluor. c. Menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan membersihan plak gigi setiap hari (menyikat gigi dan membersihkan interdental). 2. Erosi gigi a. Hindari mengulum sport drink. b. Gunakan sedotan saat mengonsumsi sport drink. c. Kurangi makanan ataupun minuman asam seperti sport drink.

19 d. Hindari juga menyikat gigi segera setelah mengonsumsi sport drink. e. Mengonsumsi keju atau produk lain yang dapat memberikan manfaat untuk meremineralisasi enamel setelah mengonsumsi makanan atau minuman bersifat asam. 3. Trauma dental Pemakaian mouthguard dapat mengurangi keparahan cedera olahraga pada daerah gigi dan struktur disekitarnya atau bahkan dapat dihindari. Peran mouthguard sebagai pelindung yaitu mencegah laserasi lidah, bibir, dan pipi akibat benturan dengan gigi dan mengurangi risiko cedera gigi anterior disebabkan pukulan frontal. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa pemakaian mouthguard mengarah ke penurunan yang signifikan dalam trauma dental. 4. Penyakit periodontal a. Deteksi dini b. Menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan membersihan plak gigi setiap hari (menyikat gigi dan membersihkan interdental).