INDEKS KEKERINGAN DI KABUPATEN NGANJUK

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISA NERACA AIR LAHAN WILAYAH SENTRA PADI DI KABUPATEN PARIGI MOUTONG PROVINSI SULAWESI TENGAH

PENERAPAN METODE PALMER DROUGHT SEVERITY INDEX (PDSI) UNTUK ANALISA KEKERINGAN PADA SUB-SUB DAS SLAHUNG KABUPATEN PONOROGO JURNAL ILMIAH

ANALISA KEKERINGAN MENGGUNAKAN METODE PALMER DROUGHT SEVERITY INDEX (PDSI) DI SUB DAS BABAK KABUPATEN LOMBOK TENGAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan 1.3 Manfaat Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Batasan Kekeringan

KAT (mm) KL (mm) ETA (mm) Jan APWL. Jan Jan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November Januari 2015 di Jurusan

Tujuan: Peserta mengetahui metode estimasi Koefisien Aliran (Tahunan) dalam monev kinerja DAS

Brady (1969) bahwa untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang baik, air harus ditambahkan bila 50-85% dari air tersedia telah habis terpakai.

ANALISIS KEKERINGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI KEDUANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE PALMER (277A) ABSTRAK

III. DATA DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 2.11 Kapasitas Lapang dan Titik Layu Permanen

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

A. Metode Pengambilan Data

RINCIAN SAWAHAN NGETOS BERBEK LOCERET PACE PRAMBON NGRONGGOT KERTOSONO PATIANROWO BARON NAMA DAN TANDA TANGAN ANGGOTA KPU KABUPATEN/KOTA

BUPATI NGANJUK PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG

ANALISIS KERENTANAN PRODUKTIVITAS KEDELAI (Glycine max (L.)merril) AKIBAT FLUKTUASI NERACA AIR LAHAN DAN DINAMIKA IKLIM DI KABUPATEN GORONTALO

IMPLEMENTASI METODE PALMER UNTUK ANALISIS KEKERINGAN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI TEMON KABUPATEN WONOGIRI

PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. jagung adalah kedelai. Kedelai juga merupakan tanaman palawija yang memiliki

Swara Bhumi. Volume 01 Nomor 01 Tahun 2016

2 TINJAUAN PUSTAKA. Model Sistem Prediksi Gabungan Terbobot

TINJAUAN PUSTAKA. Neraca Air

Evapotranspirasi. 1. Batasan Evapotranspirasi 2. Konsep Evapotranspirasi Potensial 3. Perhitungan atau Pendugaan Evapotranspirasi

ESTIMASI NERACA AIR DENGAN MENGGUNAKAN METODE THORNTHWAITE MATTER. RAHARDYAN NUGROHO ADI BPTKPDAS

KEKERINGAN SEMAKIN SERING TERJADI PADA DAERAH IRIGASI DI JAWA TENGAH

Gambar 3 Sebaran curah hujan rata-rata tahunan Provinsi Jawa Barat.

PEMETAAN INDEKS KEKERINGAN DAN POLA TANAM MENGGUNAKAN METODE PALMER (STUDI KASUS: JAWA BARAT) AULIA CITRA UTAMI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

IV. PEMBAHASAN. 4.1 Neraca Air Lahan

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Nganjuk tahun 2013 sebanyak rumah tangga

ADI PRASETYA NUGROHO NIM I

BAB III METODOLOGI. dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban.

EVALUASI MUSIM HUJAN 2007/2008 DAN PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2008 PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Embung berfungsi sebagai penampung limpasan air hujan/runoff yang terjadi di

Pemetaan Tingkat Kekeringan Berdasarkan Parameter Indeks TVDI Data Citra Satelit Landsat-8 (Studi Kasus: Provinsi Jawa Timur)

Misal dgn andalan 90% diperoleh debit andalan 100 m 3 /det. Berarti akan dihadapi adanya debit-debit yg sama atau lebih besar dari 100 m 3 /det

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Curah Hujan Daerah Penelitian

ANALISIS DEBIT ANDALAN

PENYUSUNAN SOFTWARE APLIKASI SPASIAL UNTUK MENENTUKAN TINGKAT KEKERINGAN METEOROLOGI DI INDONESIA

NERACA AIR METEOROLOGIS DI KAWASAN HUTAN TANAMAN JATI DI CEPU. Oleh: Agung B. Supangat & Pamungkas B. Putra

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2013 di

Evaluasi Ketersediaan Air Tanah Lahan Kering di Kecamatan Unter Iwes, Sumbawa Besar

PERBANDINGAN METODE DECILES INDEX

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kekeringan Hidrologis

Analisis Neraca Air Dengan Metode Thornthwaite Mather Untuk Suplai Air di Waduk Gondang Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan. Muhammad Zubed Aulia

Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian

rata-rata P 75%

ANALISIS NERACA AIR HIDROMETEOROLOGIS DENGAN PENDEKATAN KARAKTERISTIK FISIK DAS DI DAS GONDANG, KABUPATEN NGANJUK, PROVINSI JAWA TIMUR

NERACA AIR. Adalah perincian dari masukan (input) dan keluaran (output) air pada suatu permukaan bumi

Buletin Analisis Hujan dan Indeks Kekeringan Bulan April 2012 dan Prakiraan Hujan Bulan Juni, Juli dan Agustus 2012 KATA PENGANTAR

ANALISIS POTENSI KETERSEDIAAN AIR SUB DAS SUBAYANG KAMPAR KIRI

Buletin Analisis Hujan dan Indeks Kekeringan Bulan Juli 2012 dan Prakiraan Hujan Bulan September, Oktober dan November 2012 KATA PENGANTAR

PROYEKSI KERENTANAN TANAMAN PADI TERHADAP KETERSEDIAAN AIR TANAH SAWAH TADAH HUJAN DI KABUPATEN INDRAMAYU

ANALISIS NERACA AIR LAHAN DI KABUPATEN MAROS SULAWESI SELATAN

ANALISA KEKERINGAN MENGGUNAKAN METODE THEORY OF RUN PADA SUB DAS NGROWO JURNAL

PENGARUH TANAMAN KELAPA SAWIT TERHADAP KESEIMBANGAN AIR HUTAN (STUDI KASUS SUB DAS LANDAK, DAS KAPUAS)

DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vii

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iv DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR xiii BAB I PENDAHULUAN... 1

I.KONDISI UMUM. A.Letak dan Batas Wilayah. B. Letak dan Kondisi Geografis

PENERAPAN METODE THORNTHWAITE MATHER DALAM ANALISA KEKERINGAN DI DAS DODOKAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH NUSA TENGGARA BARAT

USULAN PENELITIAN MANDIRI TAHUN ANGGARAN 2015

Analisis Neraca Air di Kecamatan Sambutan - Samarinda

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

TUGAS AKHIR PERHITUNGAN DEBIT ANDALAN SEBAGAI. Dosen Pembimbing : Dr. Ali Masduqi, ST. MT. Nohanamian Tambun

Buletin Analisis Hujan Bulan April 2013 dan Prakiraan Hujan Bulan Juni, Juli dan Agustus 2013 KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN

PENENTUAN WAKTU TANAM BAWANG MERAH(Allium ascalonicum L) BERDASARKAN NERACA AIR LAHAN DI KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG

KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI

MASA TANAM KEDELAI BERDASARKAN ANALISIS NERACA AIR DI KONAWE SELATAN, SULAWESI TENGGARA

MENUJU KETERSEDIAAN AIR YANG BERKELANJUTAN DI DAS CIKAPUNDUNG HULU : SUATU PENDEKATAN SYSTEM DYNAMICS

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Buletin Analisis Hujan dan Indeks Kekeringan Bulan Desember 2012 dan Prakiraan Hujan Bulan Februari, Maret dan April 2013 KATA PENGANTAR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS TREN INDEKS CURAH HUJAN DAN PELUANG CURAH HUJAN UNTUK PENENTUAN AWAL TANAM TANAMAN PANGAN DI LAMPUNG

DAFTAR ISI. Halaman Judul... Halaman Persetujuan... Kata Pengantar... Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar... Daftar Peta... Daftar Lampiran...

Buletin Analisis Hujan Bulan Februari 2013 dan Prakiraan Hujan Bulan April, Mei dan Juni 2013 KATA PENGANTAR

Penentuan Masa Tanam Kacang Hijau Berdasarkan Analisis Neraca Air di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara

ANALISIS SPASIAL INDEKS KEKERINGAN KABUPATEN KUDUS JAWA TENGAH MENGGUNAKAN QUANTUM GIS

Gambar 8. Pola Hubungan Curah Hujan Rata-rata Harian RegCM3(Sebelum dan Sesudah Koreksi) dengan Observasi

Analisis Karakteristik Intensitas Curah Hujan di Kota Bengkulu

SKRIPSI. Disusun oleh : JULIAN WAHYU PURNOMO PUTRO I

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN NGANJUK Jl. Gatot Subroto No. Telp Fax N G A N J U K

INFORMASI IKLIM UNTUK PERTANIAN. Rommy Andhika Laksono

The water balance in the distric X Koto Singkarak, distric Solok. By:

Buletin Analisis Hujan Bulan Januari 2013 dan Prakiraan Hujan Bulan Maret, April dan Mei 2013 KATA PENGANTAR

ESTIMASI EVAPOTRANSPIRASI SPASIAL MENGGUNAKAN SUHU PERMUKAAN DARAT (LST) DARI DATA MODIS TERRA/AQUA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEKERINGAN WAHYU ARIYADI

BAB I PENDAHULUAN. Di bumi terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard km 3 : 97,5% adalah air

RPKPS MATA KULIAH HIDROLOGI PERTANIAN OLEH

PENGENDALIAN OVERLAND FLOW SEBAGAI SALAH SATU KOMPONEN PENGELOLAAN DAS. Oleh: Suryana*)

HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISIS SPASIAL INDEKS KEKERINGAN KABUPATEN INDRAMAYU

ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. Geografi merupakan ilmu yang mempelajari gejala-gejala alamiah

θ t = θ t-1 + P t - (ETa t + Ro t ) (6) sehingga diperoleh (persamaan 7). ETa t + Ro t = θ t-1 - θ t + P t. (7)

Transkripsi:

INDEKS KEKERINGAN DI KABUPATEN NGANJUK Abdul Aziz 1 ) dan Ali Masduqi 2) 1) Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Email: aziz.tl_0610@rocketmail.com 2) Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi ABSTRAK Kabupaten Nganjuk sering mengalami masalah kekeringan di beberapa kecamatan saat musim kemarau, sehingga dapat mengakibatkan bencana kekeringan daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indeks kekeringan berdasarkan karakteristik iklim dan kondisi geologi di Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini diawali dengan pengambilan data curah hujan bulanan dan jenis tanah di dua puluh kecamatan. Selanjutnya dilakukan analisis ketersediaan air tiap bulan di dua puluh kecamatan selama sepuluh tahun (2001-2010) dengan menggunakan metode Thornthwaite. Dari hasil analisis ketersediaan air kemudian dilakukan analisis indeks kekeringan dengan menggunakan metode Palmer (Palmer Drought Severity Index). Hasil penelitian menunjukkan nilai indeks kekeringan tiap bulan selama 10 tahun (2001-2010) di dua puluh kecamatan yang ada di Kabupaten Nganjuk. Nilai rata-rata indeks kekeringan Palmer di Kabupaten Nganjuk sebesar 0,76 yang artinya kondisi iklim Kabupaten Nganjuk adalah awal selang basah. Dengan nilai tertinggi sebesar 1,54 di Kecamatan Kertosono yang artinya kondisi iklim sedikit basah dan nilai terendah sebesar 0,27 di Kecamatan Wilangan yang artinya kondisi iklim normal. Kata kunci: Indeks Kekeringan, Kekeringan, Metode Palmer, Metode Thornthwaite. PENDAHULUAN Bencana kekeringan yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia sudah menjadi suatu permasalahan yang serius. Kabupaten Nganjuk tidak terlepas dari bencana kekeringan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini. Beberapa daerah di Kabupaten Nganjuk mengalami kekeringan yang cukup serius. Dari data yang ada, menunjukkan bahwa 8 kecamatan dari 20 kecamatan yang ada di Kabupaten Nganjuk mengalami kekeringan. Kecamatan itu antara lain: Lengkong, Ngluyu, Ngetos, Jatikalen, Wilangan, Loceret, Pace, dan Berbek (BPBD, 2011). Pemerintah daerah Kabupaten Nganjuk sudah melakukan upaya untuk mengatasi masalah kekeringan yang terjadi setiap musim kemarau tiba. Saat ini, yang bisa dilakukan pemerintah dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang berkoordinasi dengan PDAM maupun instansi terkait adalah melakukan droping air bersih sekitar 2000-2500 L di desa yang mengalami kekeringan. Pemasokan air itu dilakukan atas permintaan warga, karena mereka sudah kesulitan untuk mendapatkan air bersih di daerahnya. Diperlukan suatu analisa untuk menggambarkan tingkat kekeringan di Kabupaten Nganjuk. Perhitungan nilai indeks kekeringan palmer ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebasahan ataupun kekeringan suatu daerah yang dipengaruhi oleh faktor iklim dan jenis tanah. Indeks kekeringan dapat digunakan untuk sistem peringatan dini adanya kekeringan, menghitung probabilitas keberhasilan dalam penanggulangan kekeringan, menentukan sistem penanggulangan yang tepat untuk mengatasi kekeringan, memeriksa karakteristik kekeringan itu sendiri, menentukan tingkat keparahan kekeringan, dan membuat perbandingan nilai kekeringan di daerah yang berbeda (Quiring dan Papakryiakou, 2003). Kekeringan adalah D-11-1

suatu keadaan tanpa hujan berkepanjangan atau masa kering di bawah normal yang cukup lama sehingga mengakibatkan keseimbangan hidrologi terganggu secara (Pramudia, 2002). Kekeringan menunjukkan dampak dari suatu kondisi dinamis baik kualitas maupun kuantitas air tersedia (supply side) yang tidak dapat memenuhi jumlah dan kualitas air yang dibutuhkan (demand side), sesuai dimensi ruang dan waktu (Desvita, 2003). Kekeringan berkaitan erat dengan ketersediaan dan kebutuhan air, dimana terjadi kekurangan air pada suatu wilayah akibat adanya penurunan curah hujan dalam periode waktu terpanjang (Hadiyanto, 2007; Tannehill, 1947). Analisa indeks kekeringan salah satunya dikembangkan oleh Palmer. Pada prinsipnya perhitungan nilai indeks palmer ini didasarkan pada besarnya curah hujan dan kemampuan tanah dalam menampung air sesuai dengan jenis tanahnya. Palmer menggunakan model dua lapis tanah yaitu lapisan atas dan lapisan bawah yang di dasarkan pada metode Thornthwaite (Huang et. Al., 20011; Vasiliades dan Loukas, 2009). Indeks palmer didasarkan pada konsep pemasukan dan pengeluaran dari persamaan neraca air, yang juga dipengaruhi oleh data curah hujan dan suhu serta ketersediaan air tanah (Kao dan Govindaraju, 2010; Mishra and Singh, 2010). Metode Indeks kekeringan Palmer berguna untuk mengevaluasi kekeringan yang telah terjadi terutama di daerah-daerah semiarid dan yang beriklim sub-humid kering (Ganesh dan Quiring, 2010; Turyati 1995). Metode Palmer baik digunakan pada area yang luas dan topografi yang seragam (National Drought Mitigation Center (2006). Salah satu alasan digunakan indeks kekeringan palmer karena indeks ini menilai kekeringan dari berbagai sumber pengamatan (Szep et.al., 2005), selain itu metode ini merupakan standarisasi untuk iklim lokal sehingga dapat digunakan untuk semua negara dalam menunjukkan kekeringan relatif atau kondisi curah hujannya (Huang et al., 2011; Suryanti, 2008). Metode palmer juga bisa digunakan untuk mengkaji kekeringan dan dalam memperkirakan kekeringan (Palmer, 1965; Vasiliades dan Loukas, 2009). Tujuan penelitian ini adalah mengkaji nilai indeks kekeringan di Kabupaten Nganjuk. METODE Dalam perhitungan mencari nilai indeks palmer, terlebih dahulu menghitung neraca air dengan menggunakan metode Thornthwaite. Data yang digunakan antara lain: curah hujan bulanan (CH), evapotranspirasi potensial (ETP), kapasitas lapang (KL). Berikut tahapan perhitungan neraca dan ketersediaan air (Purbawa dan Wiryajaya, 2009): 1. Menghitung CH ETP. 2. Hasil-hasil negatif pada langkah 1 diakumulasi bulan demi bulan sebagai nilai Accumulation of Water Loss (APWL). 3. Menentukan nilai KL tanah berdasarkan jenis tanah. Mengisi nilai kandungan air tanah (KAT) berdasarkan APWL dari bulan ke bulan dengan rumus berikut: KAT = KL x k APWL dimana, k = p1 p o KL dengan Po = 1,000412351 dan P1 = -1,073807306 4. Mengisi kolom perubahan KAT (dkat) yang merupakan selisih dari KAT dari bulan ke bulan. 5. Kolom Evapotranspirasi Aktual (ETA) Jika CH > ETP maka ETA = ETP. Pada bulan-bulan terjadi APWL (CH < ETP) maka ETA = CH + dkat 6. Kolom Defisit (D) dimana D = ETP ETA 7. Kolom Surplus (S), surplus terjadi saat CH > ETP, maka S = CH ETP dkat. D-11-2

8. Run off (RO) Merupakan limpasan di permukaan tanah (mm). Ada dua kemungkinan, yaitu: Jika St KAT, maka Ro = P (ETP + PR) Jika St < KAT, maka Ro = 0 Menentukan nilai-nilai hidrologi dapat melalui perhitungan berikut ini: 1. Perubahan lengas tanah Dalam metode palmer tanah terbagi dalam dua lapisan (lapisan atas dan lapisan bawah). a. dsa = perubahan lengas tanah di lapisan atas, dengan syarat: jika CH < ETP, maka dsa = Sai-1 atau ETP CH, dipilih nilai yang paling kecil jika CH > ETP, maka dsa = KATa Sai-1 dan dsa maksimum = CH ETP KATa = kapasitas air tersedia di lapisan atas Sai-1 = lengas tanah lapisan atas sebelum bulan ke-i b. dsb = perubahan lengas tanah di lapisan bawah, dengan syarat: Jika CH < ETP, maka dsb = (CH ETP - dsa ).Sbi-1/KAT Jika CH > ETP dan Sbi-1 < KATb, maka dsb = CH ETP dsa dan dsb maksimum = KATb Sbi-1 KATb = kapasitas air tersedia di lapisan bawah Sbi-1 = lengas tanah lapisan bawah sebelum bulan ke-i 2. Jumlah lengas tanah Jumlah lengas tanah merupakan jumlah lengas tanah pada bulan ke-i dan perubahan lengas tanah. St = Sti-1 + dst St = lengas tanah pada kedua lapisan Karena tanah dibagi dalam dua lapisan, maka jumlah lengas tanah total adalah lengas tanah pada lapisan atas dan lapisan bawah. Dituliskan dalam persamaan: St = Sta + Stb Sehingga untuk jumlah lengas tanah total di kedua lapisan, dituliskan dalam persamaan: St = (Stai-1 + dsa) + (Stbi-1 + dsb) 3. Potensial recharge Jumlah lengas agar tanah mencapai kondisi kapasitas lapang. PR = KATi Sti-1 PR = potensial recharge KATi = nilai KAT bulan ke-i Sti-1 = nilai St sebelum bulan ke-i 4. Recharge Ada tiga kemungkinan, yaitu: Jika PR = 0, maka R = 0 Jika PR 0 dan CH > ETP, maka R = dsa + dsb Jika PR 0 dan CH < ETP, maka R = 0 5. Potensial loss Merupakan jumlah nilai potensial loss di kedua lapisan, lapisan atas (PLa) dan lapisan bawah(plb). PL = PLa + PLb PLa = ETP atau Sai-1, dipilih nilai yang terkecil PLb = (ETP-PLa).Sbi-1/KATi Ada dua kemungkinan, yaitu: Jika ETP < Sai-1, maka PLa = ETP, sehingga PL = ETP D-11-3

Jika ETP > Sai-1, maka PLa = Sai-1, sehingga PL = Sai-1 + ((ETP Sai-1).Sbi-1/KATi) 6. Loss Merupakan kehilangan lengas tanah (mm). Ada dua kemungkinan, yaitu: Jika CH > ETP, maka L = 0 Jika CH < ETP, maka L = dsa + dsb Menentukan nilai konstanta dapat melalui perhitungan berikut ini: 1. Koefisien evapotranspirasi α = ET PE α = koefisien evapotranspirasi ET = nilai evapotranspirasi bulan ke-i PE = rata-rata nilai evapotranpirasi bulan ke-i dalam periode waktu yang ditentukan 2. Koefisien pengisian lengas dalam tanah (recharge) β = R PR β = koefisien recharge R = rata-rata nilai recharge bulan ke-i dalam periode waktu yang ditentukan PR = rata-rata nilai potensial recharge (PR) bulan ke-i dalam periode waktu yang ditentukan 3. Koefisien limpasan (runoff) γ = Ro KAT i 1 γ = koefisien runoff Ro = rata-rata nilai runoff bulan ke-i dalam periode waktu yang ditentukan KATi-1 = rata-rata nilai KAT sebelum bulan ke-i dalam periode waktu yang ditentukan 4. Koefisien kehilangan air (loss) δ = L PL δ = koefisien loss L = rata-rata nilai loss bulan ke-i dalam periode waktu yang ditentukan PL = rata-rata nilai potensial loss bulan ke-i dalam periode waktu yang ditentukan 5. Pendekatan terhadap pembobot iklim κ = ETP R CH L κ = pendekatan pertama terhadap pembobot iklim Menentukan nilai CAFEC dapat melalui perhitungan berikut ini: Penentuan nilai CAFEC berdasarkan nilai kostanta iklim yang telah dihitung sebelumnya. 1. Evapotranpirasi ETd = α * ETP ETd = nilai CAFEC evapotranspirasi α = koefisien evapotranpirasi ETP = avapotranspirasi potensial 2. Runoff Rod = γ * Sti-1 Rod = nilai CAFEC runoff γ = koefisien runoff Sti-1 = nilai St sebelum bulan ke-i D-11-4

3. Recharge Rd = β * PR Rd = nilai CAFEC runoff β = koefisien recharge PR = potensial recharge 4. Loss Ld = δ * PL Ld = nilai CAFEC loss δ = koefisien loss PL = potensial loss 5. Presipitasi P = ETd + Rd + Rod Ld P = nilai CAFEC presipitasi Menentukan nilai indeks kekeringan dapat melalui perhitungan berikut ini: 1. Penentuan periode kelebihan atau kekurangan hujan Untuk menentukan periode kelebihan (surplus) atau kekurangan (defisit) hujan, digunakan rumus: d = CH P d = penentuan periode kelebihan atau kekurangan hujan 2. Rataan nilai mutlak ( D ) D = rataan nilai mutlak d 3. Pendekatan kedua terhadap nilai faktor K (didekati dengan niali K ), digunakan rumus: PE R RO K = 15log10 2,80 D 0, 50 P L D K = D x K 4. Penentuan nilai karakter iklim sebagai faktor pembobot (K) DK' K = K' 12 DK' 1 K = nilai akhir karakter iklim sebagai faktor pembobot DK ' = rata-rata nilai D K 5. Indeks penyimpangan (anomali) z = d x K 6. Indeks kekeringan PDSI dihitung dengan rumus: x =(z/3)i-1 + Δx Δx = (z/3)i 0,103 (z/3)i-1 D-11-5

HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 Kelas Indeks Kekeringan Palmer dan Sifat Cuaca Palmer Classifications Indeks Kekeringan Sifat Cuaca 4.00 Ekstrim Basah 3.00-3.99 Sangat Basah 2.00-2.99 Agak Basah 1.00-1.99 Sedikit Basah 0.50-0.99 Awal Selang Basah 0.49 - (-0.49) Normal -0.50 - (-0.99) Awal Selang Kering -1.00 - (-1.99) Sedikit Kering -2.00 - (-2.99) Agak Kering -3.00 - (-3.99) Sangat Kering - 4.00 Ekstrim Kering Sumber: Palmer (1965) Penelitian dilakukan dalam kurun waktu 10 tahun (2001-2010) di tiap kecamatan di Kabupaten Nganjuk. Data yang digunkan adalah curah hujan bulanan yang tercatat dari 43 stasiun pengamat hujan. Dari hasil perhitungan indeks palmer di 43 stasiun yang tersebar di Kabupaten Nganjuk, didapatkan rata-rata nilai indeks kekeringan sebesar 0,8. Sehingga dapat dikatakan sifat cuaca di Kabupaten Nganjuk adalah awal selang basah (mendekati normal) menurut indeks kekeringan palmer dengan curah hujan rata-rata 1.613 mm/tahun. Dapat dikatakan kondisi cuaca di Kabupaten Nganjuk tidak dalam kondisi kering. Dari hasil analisa selama 10 tahun (2001-2010) di 43 stasiun pengamat hujan yang ada di Kabupaten Nganjuk dapat diketahui bahwa nilai indeks kekeringan palmer tertinggi terjadi di Kecamatan Kertosono dengan nilai indeks kekeringan sebesar 1,54 dan terendah di Kecamatan Wilangan dengan nilai indeks kekeringan sebesar 0,27. Ini menunjukkan bahwa Kecamatan Kertosono masuk dalam kondisi cuaca sedikit basah. Sedangkan untuk Kecamatan Wilangan masuk dalam kondisi cuaca awal selang basah. Dari hasil analisa indeks palmer tiap kecamatan, didapatkan beberapa data yang tidak sesuai bila dibandingkan dengan klasifikasi yang telah ditetapkan oleh palmer yang hanya berkisar -4 sampai +4. Ini dikarenakan perbedaan yang sangat besar dalam nilai jumlah curah hujan dan jenis tanah, faktor ini juga yang menyebabkan adanya kondisi kekeringan di beberapa daerah. Tabel 2 Tabel Nilai Indeks Kekeringan dan Kondisi Cuaca di Tiap Kecamatan No. Kecamatan Indeks Kekeringan Kondisi Cuaca 1. Sawahan 0,46 normal 2. Ngetos 0,28 normal 3. Berbek 0,32 normal 4. Loceret 0,31 normal 5. Pace 0,50 awal selang basah 6. Tanjunganom 0,84 awal selang basah 7. Prambon 0,58 awal selang basah 8. Ngronggot 0,92 awal selang basah D-11-6

No. Kecamatan Indeks Kekeringan Kondisi Cuaca 9. Kertosono 1,54 sedikit basah 10. Patianworo 1,45 sedikit basah 11. Baron 1,18 sedikit basah 12. Gondang 0,49 normal 13. Sukomoro 0,78 awal selang basah 14. Nganjuk 0,88 awal selang basah 15. Bagor 1,26 sedikit basah 16. Wilangan 0,27 normal 17. Rejoso 0,79 awal selang basah 18. Ngluyu 0,82 awal selang basah 19. Lengkong 0,56 awal selang basah 20. Jatikalen 1,03 sedikit basah Nilai Indeks Palmer 1.60 1.40 1.20 1.00 0.80 0.60 0.40 0.20 0.00 Sawahan Ngetos Berbek Loceret Pace Tanjunganom Prambon Ngronggot Kertosono Patianworo Baron Gondang Sukomoro Nganjuk Bagor Wilangan Rejoso Ngluyu Lengkong Jatikalen Gambar 1 Nilai Rata-rata Indeks Kekeringan Palmer Tiap Kecamatan dalam 10 Tahun (2001-2010) KESIMPULAN DAN SARAN Nilai indeks kekeringan rata-rata di Kabupaten Nganjuk sebesar 0,8 yang dapat dikatakan sifat cuaca di Kabupaten Nganjuk adalah awal selang basah. Nilai indeks kekeringan palmer tertinggi terjadi di Kecamatan Kertosono dengan nilai indeks kekeringan sebesar 1,54 dan terendah di Kecamatan Wilangan dengan nilai indeks kekeringan sebesar 0,27. Dari hasil penelitian yang dilakukan, saran yang penulis berikan yaitu nilai indeks kekeringan dapat dijadikan masukan dalam mengatasi masalah kekeringan. DAFTAR PUSTAKA Badan Penanggulangan Bencana Daerah (2011), Data Kecamatan Rawan Kekeringan, Kabupaten Nganjuk. Ganesh, S. dan Quiring, S.M. (2010), Evaluating the Utility of the Vegetation Condition Index (VCI) for Monitoring Meteorological Drought in Texas, Agricultural and Forest Meteorology, Vol. 150, hal. 330-339. D-11-7

Hadiyanto, S. (2007), Pola Tingkat Kerawanan Kekeringan di Jawa Tengah, Departemen Geografi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia. Huang, S., Dahal, D., Young, C., Chander, G., dan Liu, S. (2011), Integration of Palmer Drought Severity Index and Remote Sensing Data to Simulate Wetland Water Surface from 1910 to 2009 in Cottonwood Lake Area, North Dakota, Remote Sensing of Environment, Vol. 115, hal. 3377-3389. Kao, S. dan Govindaraju, R.S. (2010), A Copula-Based Joint Deficit Index for Droughts, Jurnal of Hydrology, Vol. 380, hal. 121-134. Mishra, A.K. dan Singh, V.P. (2010), A Review of Drought Concepts, Journal of Hydrology, Vol. 391, hal. 202-216. National Drought Mitigation Center (2006), What is Drought, USA, Entry from http://drought.unl.edu/ Pramudia, A. (2002), Analisis Sensitivitas Tingkat Kerawanan Produksi Padi di Pantai Utara Jawa Barat Terhadap Kekeringan dan El-Nino, Tesis Magister, Progam Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Quiring, S.M., dan Papakryiakou, T.N. (2003). An Evaluation of Agricultural Drought Indices for the Canadian Prairies, Agricultural and Forest Meteorology, Vol. 118, hal 49-62. Szep, I.J., Mika, J., dan Dunkel, Z. (2005), Palmer Drought Severity Index as Soil Moisture Indicator: Physical Interpretation, Statistical Behaviour and Relation to Global Climate, Physics and Chemistry of the Earth, Vol. 30, hal. 231 243. Tannehill, R.I. (1947). Drought Its Causes and Effects. Princeton University Press, New Jersey. Turyanti, A. (1995), Sebaran Indeks Kekeringan Wilayah Jawa Barat, Skripsi, Jurusan Geofisika dan Meteorologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor. Vasiliades, L. dan Loukas, A. (2009), Hydrological Response to Meteorological Drought Using the Palmer Drought Indices in Thessaly, Greece, Desalination, Vol. 237, hal. 3-21. D-11-8