TRANSKRIP HASIL WAWANCARA

dokumen-dokumen yang mirip
V. KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pengadaan merupakan suatu kegiatan yang berkaitan dengan

BAB V PENUTUP. Bab IV, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Proses pengadaan

2 2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok- Pokok Kepegawaian Timur ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan

I. PENDAHULUAN. suatu ancaman bagi para pengusaha nasional dan para pengusaha asing yang lebih

BUPATI ENDE PERATURAN BUPATI ENDE NOMOR 29 TAHUN 2010

BAB I PENDAHULUAN. konstruksi, teknologi telah menjadi salah satu upaya pemerintah untuk dapat

BERITA NEGARA KEPALA BADAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN KEPALA BADAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 70 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) PEMERINTAH KABUPATEN BADUNG BUPATI BADUNG,

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. paradigma baru yang berkembang di Indonesia saat ini. Menurut Tascherau dan

WALIKOTA TASIKMALAYA

9. PELELANGAN GAGAL DAN TINDAK LANJUT PELELANGAN GAGAL. 1) Kelompok Kerja ULP menyatakan Pelelangan gagal, apabila :

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

GUBERNUR JAWA TENGAH

PERATURAN BUPATI PANDEGLANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA KUASA BUPATI PANDEGLANG,

PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH DENGAN CARA PENGADAAN LANGSUNG oleh: Abu Sopian, S.H., M.M. Balai Diklat Keuangan Pelembang

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.01/MEN/2012 TENTANG

SANGGAHAN CV. RENIA CONTRACTOR (20 April :34) Pertanyaan Sanggahan :

KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

I. PENDAHULUAN. di segala bidang. Persaingan usaha yang sangat tajam ini merupakan sebuah

PENGELOLAAN TENDER PENGADAAN BARANG DAN JASA YANG BERSIH DAN TRANSPARAN

PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR: PK. 20 TAHUN 2013 TENTANG UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) BARANG/ JASA BADAN SAR NASIONAL

E-PROCUREMENT DAN PENERAPANNYA DI KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA Jumat, 30 Maret 2012

WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 28 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN UNIT LAYANAN PENGADAAN DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA TEGAL

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian

PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH ABSTRAK

BUPATI BANTUL PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 04 TAHUN 2013 TENTANG PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANTUL,

PENGADAAN LANGSUNG YANG BERTANGGUNG JAWAB. (Abu Sopian/Widyaiswara Balai Diklat Keuangan Palembang)

BAB III PENUTUP. 1. KPPU dalam melakukan penanganan perkara-perkara persekongkolan tender,

LARANGAN PERSEKONGKOLAN DALAM TENDER SESUAI DENGAN PASAL 22 UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1999 DAN PERATURAN KPPU NOMOR 2 TAHUN 2010

BUPATI KERINCI PERATURAN BUPATI KERINCI NOMOR 03 TAHUN 2011 TENTANG LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA SECARA ELEKTRONIK PADA PEMERINTAH KABUPATEN KERINCI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

MANUAL PROSEDURE (MP) PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH BIDANG KONSTRUKSI

BUPATI TOLITOLI PERATURAN BUPATI TOLITOLI NOMOR TAHUN 2013 TENTANG

BERITA DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 20 TAHUN 2016 WALIKOTA DEPOK PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN WALIKOTA DEPOK

PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA NOMOR : KEP.01 TAHUN 2011

Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG UNIT LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG

GUBERNUR RIAU PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR : 22 TAHUN 2010 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

SALINAN PERATURAN BUPATI PEKALONGAN NOMOR 2 TAHUN 2018 TENTANG UNIT LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN

14. PELELANGAN GAGAL DAN TINDAK LANJUT PELELANGAN GAGAL

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,

BAB I PENDAHULUAN. Pengadaan barang/jasa pemerintah diperlukan untuk menunjang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 8 TAHUN 2009 SERI : E NOMOR : 2

Pengalaman Implementasi dan Perencanaan Ke Depan di Pemerintah Kota Surabaya Drh. SUNARNO ARIS TONO,MSi.

BUPATI SINJAI PERATURAN BUPATI SINJAI NOMOR TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN UNIT LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH KABUPATEN SINJAI

WALIKOTA SURAKARTA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN WALIKOTA SURAKARTA NOMOR I -E TAHUN 2017 TENTANG

KONTRAK KERJA KONSTRUKSI DI INDONESIA

AUDIT MANAJEMEN AUDIT ATAS FUNGSI PENGADAAN

BAB I PENDAHULUAN. Di era globalisasi, teknologi informasi komunikasi (TIK) semakin lama

Jurnal UNIERA Volume 2 Nomor 2; ISSN Implementasi Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Secara Elektronik di Kabupaten Halmahera Utara

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 53 TAHUN 2009 TENTANG

BUPATI BADUNG PROVINSI BALI PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 4 TAHUN 2017 TENTANG UNIT LAYANAN PENGADAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG,

BAB I PENDAHULUAN. memperoleh barang dan jasa oleh Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat

BUPATI SINJAI PERATURAN BUPATI SINJAI NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN UNIT LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH KABUPATEN SINJAI

PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

Prosedur Pengadaan, Kontak Bisnis dan Pakta Integritas

ANALISIS PENGADAAN BARANG DAN JASA KONSULTANSI ( Studi Kasus : Proyek Pemerintah ) Gatot Nursetyo. Abstrak

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 36 TAHUN 2011 TENTANG

BERITA DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2012 NOMOR : 37 PERATURAN WALIKOTA CILEGON NOMOR 37 TAHUN 2012 TENTANG

8. SELEKSI GAGAL DAN TINDAK LANJUT SELEKSI GAGAL

BUPATI JEMBRANA PERATURAN BUPATI JEMBRANA NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG IMPLEMENTASI E-PROCUREMENT DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN JEMBRANA

TUJUAN PELATIHAN. Setelah Materi Ini Disampaikan, Diharapkan Peserta Mampu Mengetahui dan Memahami :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pelelangan dapat didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan untuk

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

HPS MELEBIHI PAGU ANGGARAN DAPAT TERJADI DALAM PEMILIHAN PENYEDIA JASA KONSULTANSI

WALIKOTA BEKASI PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG UNIT PELAKSANA TEKNIS LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH KOTA BEKASI

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

PERATURAN MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 08 TAHUN 2011 TENTANG UNIT LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA KEMENTERIAN LUAR NEGERI

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 48 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.160, 2010 KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT. Pengadaan Barang/Jasa. Elektronik.

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG

BAGAIMANA SEHARUSNYA MEKANISME PENUNJUKAN LANGSUNG KETIKA PELELANGAN/SELEKSI/PEMILIHAN LANGSUNG ULANG GAGAL

BAB I PENDAHULUAN. konstruksi tersebut adalah Penyedia Jasa atau sering juga disebut dengan istilah

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PROSES PENGADAAN BARANG/JASA DENGAN METODE PENGADAAN LANGSUNG

BAB I PENDAHULUAN. mencari penyedia barang dan jasa. Proses lelang (procurement) biasanya dilakukan

Transkripsi:

LAMPIRAN

Lampiran TRANSKRIP HASIL WAWANCARA Prinsip Kepastian Hukum (Rule of Law) 1. Bagaimanakah pelaksanaan prinsip kepastian hukum (rule of law) dalam pengadaan televisi oleh Bagian Perlengkapan Sekretariat Daerah Kabupaten Pringsewu Tahun Anggaran 2013? Jawaban Sutikno selaku Kepala Bagian Perlengkapan Sekretariat Daerah Dalam melaksanakan pengadaan barang dan jasa, tentunya Bagian Perlengkapan Kabupaten Pringsewu mengacu pada Peraturan Presiden sebagai landasan hukum agar pada pelaksanaannya memiliki kepastian secara hukum 2. Bagaimanakah pentingnya prinsip kepastian hukum (rule of law) dalam pengadaan televisi tersebut? Jawaban Sutikno selaku Kepala Bagian Perlengkapan Sekretariat Daerah Peraturan tentang pengadaan barang/jasa pemerintah dalam hal ini mampu menjadi sistem pengadaan yang memberikan jaminan bahwa tujuan pengadaan dapat direalisasikan. Kelemahan yang memungkinkan tidak tercapainya tujuan pengadaan yang efisien, terbuka, dan kompetitif tersebut berkaitan dengan tidak terpacunya persaingan sehingga harga pengadaan tidak efisien

3. Apakah relevansi prinsip kepastian hukum deangan proses pengadan barang dan jasa? Jawaban Yusar Riyaman Saleh, selaku Ketua Panitia Pengadaan Barang dan Jasa: Pengadaan barang dan jasa pada Bagian Perlengkapan Sekretariat Kabupaten Pringsewu, kami laksanakan dengan mengacu pada peraturan perundangundangan yang berlaku sehingga prinsip kepastian hukum dapat direalisasikan, karena Perpres memang menuntut untuk dilaksanakannya kepastian hukum tersebut. Jangan sampai terjadi kecurangan dalam pelaksanaannya 4. Mengapa sering terjadi perubahan pada kerangka hukum pengadaan barang dan jasa oleh Pemerintah? Jawaban Djohan, selaku Pejabat Pembuat Komitmen pada Sekretariat Daerah Seringnya terjadi perubahan tentang tatacara pengadaan barang/jasa pemerintah tersebut, di satu sisi menunjukkan bahwa pemerintah selalu berusaha untuk memerbaiki sistem pengadaan yang ada. Sistem pengadaan barang/jasa ini mampu mewujudkan hasil efisien 5. Apakah yang dimaksud dengan hasil yang efisien tersebut? Jawaban Djohan, selaku Pejabat Pembuat Komitmen pada Sekretariat Daerah Efisiensi berkaitan dengan tingkat perbandingan antara output dengan input yang diperlukan untuk memeroleh output yang bersangkutan. Dengan demikian pengadaan barang/jasa dikatakan efisien jika untuk memperoleh barang/jasa tertentu dibiayai dengan dana yang minimal, setidaknya setara dengan harga wajar di pasaran umum. Untuk itulah maka sebelum melakukan pengadaan barang/jasa, pejabat pembuat komitmen (PPK) terlebih dahulu harus melakukan survei harga yang dituangkan dalam HPS (Harga Perkiraan Sendiri). HPS digunakan sebagai tolok ukur efisiensi harga pengadaan. Pasal

83 (1) huruf f Perpres Nomor 54 Tahun 2010 jo Perpres Nomor 70 Tahun 2012 menyatakan bahwa pelelangan/pemilihan langsung gagal apabila harga penawaran terendah lebih tinggi daripada HPS 6. Bagaimanakah upaya yang ditempuh untuk memperoleh harga yang efisien tersebut? Jawaban Djohan, selaku Pejabat Pembuat Komitmen pada Sekretariat Daerah Untuk memeroleh harga yang efisien, pasal 36 dan 42 Perpres Nomor 54 Tahun 2010 jo Perpres Nomor 70 Tahun 2012 mengatur agar pengadaan barang/jasa sedapat mungkin dilakukan dengan pelelangan umum dan untuk pengadaan jasa konsultasi dengan seleksi umum. Prinsip-prinsip pengadaan yang harus dipenuhi agar pengadaan tersebut efisien dan efektif adalah: transparan, terbuka, bersaing, adil/tidak diskriminatif, dan akuntabel 7. Bagaimanakah upaya untuk menghindari permainan dalam memperoleh harga yang efisien? Jawaban Sutikno selaku Kepala Bagian Perlengkapan Sekretariat Daerah Upaya untuk menghindari adanya permainan di antara pihak-pihak terkait dalam pengadaan, pasal 131 Perpres Nomor 54 Tahun 2010 jo Perpres Nomor 70 Tahun 2012 juga mewajibkan seluruh instansi pemerintah melaksanakan pengadaan secara elektronik (e-procurement) mulai tahun anggaran 2012. Dengan berbagai aturan tersebut dapat diketahui bahwa Prespres memang menghendaki hasil yang efisien dari dari setiap pengadaan barang/jasa 8. Bagaimanakah upaya untuk menghindari adanya kecurangan dalam pengadaan barang dan jasa?

Jawaban Sutikno selaku Kepala Bagian Perlengkapan Sekretariat Daerah Pentingnya pelaksanaan prinsip kepastian hukum dalam pengadaan barang/jasa pada instansi Pemerintahan ini adalah untuk mengantisipasi terjadinya kecurangan tender dalam pengadaan barang/jasa tersebut. Kecurangan ini merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dilarang menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU Nomor 5/1999). Larangan Kecurangan dalam pelaksanaan tender dilakukan karena dapat menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan bertentangan dengan tujuan dilakukannya tender tersebut, yaitu untuk memberikan kesempatan yang sama kepada pelaku usaha agar dapat menawarkan harga dan kualitas bersaing. Dengan adanya larangan ini diharapkan pelaksanaan tender akan menjadi efisien, artinya mendapakan harga termurah dengan kualitas terbaik 9. Apakah Perpres Nomor 70 Tahun 2012 menjamin adanya kepastian hukum dalam pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah? Jawaban Yusar Riyaman Saleh, selaku Ketua Panitia Pengadaan Barang dan Jasa: Dengan mengacu kepada Perpres Nomor 70 Tahun 2012 maka seluruh tahapan proses pengadaan barang dan jasa pada Bagian Perlengkapan Sekretariat Kabupaten Pringsewu selaras dengan prinsip kepastian hukum, karena pemberlakuan Perpres memenuhi prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik 10. Apakah yang harus diupayakan pemerintah dalam rangka mengatasi Kecurangan dalam pelaksanaan tender? Jawaban Djohan, selaku Pejabat Pembuat Komitmen pada Sekretariat Daerah Mengingat impikasi yang ditimbulkan atas adanya Kecurangan dalam pelaksanaan tender, pemerintah juga senantiasa memperbaharui peraturan

tentang pengadaan barang dan/jasa di sektor publik dengan menetapkan pembaharuan Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah berikut beberapa amandemennya. Peraturan tersebut dimaksud agar pegadaan barang dan/atau jasa pemerintah dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien, dengan prinsip persaingan sehat, transparan, terbuka, serta perlakuan yang adil dan layak bagi semua pihak terkait, sehingga hasilnya dapat dipertanggung-jawabkan baik dari segi fisik, keuangan, maupun manfaatnya bagi kelancaran tugas pemerintah dan pelayanan masyarakat. 11. Menurut Anda apakah pengadan proses pengadaan televisi pada Bagian Perlengkapan Sekretariat Daerah Kabupaten Pringsewu Tahun 2013 telah memenuhi prinsip kepastian hukum? Jawaban Edwin Jatmiko, selaku Direktur CV. Wini Bersaudara: Meskipun kami tidak memenangkan tender, tetapi kami tetap merasa puas dengan seluruh tahapan pengadaan televisi pada Bagian Perlengkapan Sekretariat Kabupaten Pringsewu, karena tahapan dilaksanakan dengan kepastian hukum dan terbuka. Kami menyadari bahwa ada rekanan lain yang sanggup memberikan penawaran lebih murah dibandingkan dengan penawaran kami Prinsip Transparansi (Transparancy) 12. Menurut Anda bagaimanakah pelaksanaan prinsip transparansi dalam pengadaan barang dan jasa? Jawaban Sutikno selaku Kepala Bagian Perlengkapan Sekretariat Daerah Transparansi memiliki makna bahwa undang-undang, peraturan, lembaga-lembaga yang terlibat, proses, rencana dan keputusan yang dibuat dapat diakses oleh masyarakat atau paling tidak perwakilan masyarakat. Sehingga seluruh proses dan keputusan dapat dipantau, dibahas, dan mendapat masukan dari para pihak serta pembuat kebijakan juga dapat dimintai pertanggungjawabannya

13. Menurut Anda bagaimanakah arti penting pelaksanaan prinsip transparansi dalam pengadaan barang dan jasa? Jawaban Djohan, selaku Pejabat Pembuat Komitmen pada Sekretariat Daerah Transparansi (Transparancy) yaitu pengadaan barang dan jasa dilaksanakan secara terbuka dan dapat diakses oleh public. Pada dasarnya pengadaan barang dan jasa pemerintah harus memenuhi nilai-nilai integritas, transparansi, akuntabilitas; keadilan, ekonomis, dan efisiensi. Integritas berarti proses pengadaan barang dan jasa berjalan secara jujur dan memenuhi hukum-hukum yang berlaku, dasar pemilihan panitia tender adalah staf terbaik, memiliki kemampuan teknis dan tidak diskriminatif, tender dilakukan secara jujur dan terbuka, mendorong persaingan usaha yang sehat sehingga kualitas pekerjaan dan harga yang tepat, serta hasilnya bermanfaat dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan seluruh pihak. 14. Bagaimanakah penerapan prinsip transparansi dalam pengadaan barang dan jasa? Jawaban Djohan, selaku Pejabat Pembuat Komitmen pada Sekretariat Daerah Kami menerapkan pengadaan barang dan jasa melalui media internet, termasuk infromasi pengadaan, dokumen penawaran, hukum dan prosedur yang terkait, dan hasil tender dan dapat diakses secara gratis oleh pihak manapun yang membutuhkan informasi tersebut. Upaya ini mungkin akan berhasil menekan manipulasi dan telah mendapat dukungan kuat dari seluruh pihak

15. Bagaimanakah kaitan antara prinsip transparansi dengan akuntabilitas dalam pengadaan barang dan jasa? Jawaban Djohan, selaku Pejabat Pembuat Komitmen pada Sekretariat Daerah Akuntabilitas mengandung makna bahwa pemerintah, lembaga atau perusahaan publik dan pejabat publik di satu sisi serta sektor swasta, perusahaan dan pihak-pihak yang berperan dalam perusahaan pada sisi lainnya, harus dapat mempertanggung-gugatkan pekerjaan dan tugas, serta semua keputusan yang menjadi tanggungjawabnya. Prosedur akuntabilitas penuh harus sistematis dan dapat diterapkan 16. Sebagai rekanan bagaimanakah tanggapan Anda mengenai prinsip transparansi dalam pengadaan barang dan jasa pada instansi pemerintah? Jawaban Ayu Warsito selaku Direktur CV. Duta Agung Persada: Kami mengikuti semua proses dan tahapan lelang secara terbuka dan transparan, sampai akhirnya kami ditunjuk sebagai pemenangnya. Semua tahap kami ikuti dengan baik, tanpa melakukan rekayasa apalagi bermain mata atau bersekongkol dengan Panitia 17. Bagaimanakah proses keputusan terhadap pemenang lelang dalam pengadaan barang dan jasa? Jawaban Djohan, selaku Pejabat Pembuat Komitmen pada Sekretariat Daerah Keputusan pemenang lelang harus adil dan tidak memihak, sebab dana publik tidak boleh digunakan untuk menguntungkan beberapa orang atau perusahaan tertentu; standarisasi dan spesifikasi tidak boleh diskriminatif; penyedia dan kontraktor harus dipilih berdasarkan kualifikasi dan kemampuan mereka; harus adanya perlakuan yang sama mengenai batas waktu, kerahasiaan, dan sebagainya menyangkut seluruh aspek dalam pengadaan

18. Hal apakah yang harus dimiliki pihak ketiga sebagai pemenang lelang dalam pengadaan barang dan jasa? Jawaban Djohan, selaku Pejabat Pembuat Komitmen pada Sekretariat Daerah Pakta Integritas, yaitu bentuk kesepakatan tertulis mengenai transparansi dan pemberantasan korupsi dalam pengadaan barang/jasa barang publik melalui dokumen-dokumen yang terkait, yang ditandatangani kedua belah pihak, baik sektor publik maupun penawar dari pihak swasta 19. Bagaimana sikap Anda terhadap prinsip transparansi dalam pengadaan barang dan jasa pada instansi pemerintah? Jawaban Ayu Warsito selaku Direktur CV. Duta Agung Persada: Kami sebagai peserta lelang, mengikuti semua tahapan lelang dengan sebaik-baiknya sesuai aturan yang ada dan semua peserta berkompetisi secara sehat dan terbuka 20. Menurut Anda bagaimanakah pelaksanaan prinsip transparansi dalam pengadaan barang dan jasa secara elektronik? Jawaban Sutikno selaku Kepala Bagian Perlengkapan Sekretariat Daerah Proses Pengadaan Barang/Jasa pemerintah secara elektronik yang telah dilaksanakan oleh Pemrintah Provinsi Lampiung juga lebih meningkatkan dan menjamin terjadinya efisiensi, efektifitas, transparansi, dan akuntabilitas dalam pembelanjaan uang negara. Selain itu, proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah secara elektronik ini juga dapat lebih menjamin tersedianya informasi, kesempatan usaha, serta mendorong terjadinya persaingan yang sehat dan terwujudnya keadilan (non discriminative) bagi seluruh pelaku usaha yang bergerak di bidang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah