3. METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
3. METODE PENELITIAN

Gambar 5 Peta daerah penangkapan ikan kurisi (Sumber: Dikutip dari Dinas Hidro Oseanografi 2004).

3 METODE PENELITIAN. Gambar 4 Peta lokasi penelitian.

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN

3.3 Pengumpulan Data Primer

3. METODE PENELITIAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

2. METODOLOGI PENELITIAN

3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Peralatan 3.3 Metode Penelitian

Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian

2. TINJAUAN PUSTAKA Rajungan (Portunus pelagicus)

spesies yaitu ikan kembung lelaki atau banyar (Rastrelliger kanagurta) dan kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma)(sujastani 1974).

BAB III METODE PENELITIAN. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 5 berikut:

Gambar 7. Peta kawasan perairan Teluk Banten dan letak fishing ground rajungan oleh nelayan Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Length-Weight based Stock Assesment Of Round Scad ( Decapterus russelli ) From Mapur Fishing Ground and Landed at Pelantar KUD Tanjungpinang

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

3. METODE PENELITIAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

3. METODE PENELITIAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. ANALISIS BIOEKONOMI

PENDUGAAN BEBERAPA PARAMETER DINAMIKA POPULASI IKAN LAYANG (Decapterus macrosoma, BLEEKER 1841) DI PERAIRAN TELUK BONE, SULAWESI SELATAN

PERTUMBUHAN DAN LAJU EKSPLOITASI IKAN TERI PEKTO (Stolephorus Waitei) DI PERAIRAN BELAWAN KOTA MEDAN SUMATERA UTARA

The study of Sardinella fimbriata stock based on weight length in Karas fishing ground landed at Pelantar KUD in Tanjungpinang

Gambar 4. Peta lokasi pengambilan ikan contoh

3 METODOLOGI. Gambar 2 Peta Selat Bali dan daerah penangkapan ikan lemuru.

3. METODOLOGI 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan

Lampiran 1. Sebaran frekuensi panjang ikan kuniran (Upeneus sulphureus) betina yang dianalisis dengan menggunakan metode NORMSEP (Normal Separation)

3 METODOLOGI 3.1 Lokasi dan Waktu 3.2 Teknik Pengambilan Data Pengumpulan Data Vegetasi Mangrove Kepiting Bakau

3. METODE PENELITIAN

Length-Weight based Stock Assessment Of Eastern Little Tuna (Euthynnus affinis ) Landed at Tarempa Fish Market Kepulauan Anambas

3. METODE PENELITIAN

1.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

LEMBAR PENGESAHAN ARTIKEL JURNAL

structure Population of Indian Mackerel, Rastrelliger kanagurta Catch in Pancana Waters, Barru District

PENDUGAAN STOK IKAN LAYUR

3 METODOLOGI PENELITIAN

3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Pengumpulan Data

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III BAHAN DAN METODE

PARAMETER POPULASI DAN ASPEK REPRODUKSI IKAN KUNIRAN (Upeneus sulphureus) DI PERAIRAN REMBANG, JAWA TENGAH

3. METODOLOGI. Gambar 2. Peta lokasi penangkapan ikan tembang (Sardinella fimbriata) Sumber : Dinas Hidro-Oseanografi (2004)

FAKTOR-FAKTOR INPUT BAGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis, Cantor 1849) DI TELUK PALABUHANRATU, SUKABUMI RIZKA SARI

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

3. BAHAN DAN METODE. Gambar 6. Peta Lokasi Penelitian (Dinas Hidro-Oseanografi 2004)

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Danau Singkarak, Provinsi Sumatera Barat

PERTUMBUHAN DAN MORTALITAS IKAN TAWES (Barbonymus gonionotus) DI DANAU SIDENRENG KABUPATEN SIDRAP Nuraeni L. Rapi 1) dan Mesalina Tri Hidayani 2)

DINAMIKA STOK IKAN PEPEREK (Leiognathus spp.) DI PERAIRAN TELUK PALABUHANRATU, KABUPATEN SUKABUMI, PROVINSI JAWA BARAT

MODEL DINAMIK PERTUMBUHAN BIOMASSA UDANG WINDU DENGAN FAKTOR MORTALITAS BERGANTUNG WAKTU. Sulanjari 1 dan Sutimin 2

STRUKTUR UKURAN DAN PARAMETER PERTUMBUHAN HIU MACAN (Galeocerdo cuvier Peron & Lesuer, 1822) DI PERAIRAN SELATAN NUSA TENGGARA BARAT

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

KAJIAN STOK SUMBER DAYA IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis) DI PERAIRAN SELAT SUNDA NUR LAILY HIDAYAT

3 METODE PENELITIAN. Gambar 2 Peta lokasi penelitian PETA LOKASI PENELITIAN

STUDI DINAMIKA STOK IKAN LAYUR (Lepturacanthus savala) DI TELUK PALABUHANRATU, KABUPATEN SUKABUMI, PROPINSI JAWA BARAT

Ex-situ observation & analysis: catch effort data survey for stock assessment -SCHAEFER AND FOX-

KAJIAN STOK IKAN KEMBUNG LELAKI (Rastrelliger kanagurta Cuvier 1817) DI PERAIRAN TELUK BANTEN YANG DIDARATKAN DI PPN KARANGANTU, BANTEN

Study Programme of Management Aquatic Resource Faculty of Marine Science and Fisheries, University Maritime Raja Ali Haji

3. METODE PENELITIAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

2 TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2 Ikan kuniran (Upeneus moluccensis).

Abstrak. Kata Kunci : Ikan ekor Kuning, pertumbuhan, laju mortalitas, eksploitasi. Abstract

1 PENDAHULUAN. Potensi lestari dan tingkat pemanfaatan sumberdaya udang laut di Indonesia dan Laut Jawa. Pemanfaatan (%) 131,93 49,58

KAJIAN STOK IKAN LAYANG (Decaterus ruselli) BERBASIS PANJANG BERAT YANG DIDARATKAN DI PASAR IKAN TAREMPA KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDUGAAN KELOMPOK UMUR DAN OPTIMASI PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN CAKALANG (KATSUWONUS PELAMIS) DI KABUPATEN BOALEMO, PROVINSI GORONTALO

KELAYAKAN PENANGKAPAN IKAN DENGAN JARING PAYANG DI PALABUHANRATU MENGGUNAKAN MODEL BIOEKONOMI GORDON- SCHAEFER

C E =... 8 FPI =... 9 P

PEMANTAUN PARAMETER DINAMIKA POPULASI IKAN KEMBUNG (Rastrelliger sp) DI PERAIRAN PESISIR PULAU TERNATE PROVINSI MALUKU UTARA

KAJIAN STOK IKAN KEMBUNG LELAKI (Rastrelliger kanagurta Cuvier 1817) DI PERAIRAN TELUK JAKARTA, PROVINSI DKI JAKARTA

METODE PENELITIAN STOCK. Analisis Bio-ekonomi Model Gordon Schaefer

POTENSI LESTARI DAN MUSIM PENANGKAPAN IKAN KURISI (Nemipterus sp.) YANG DIDARATKAN PADA PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA SUNGAILIAT

FAKTOR KONDISI DAN HUBUNGAN PANJANG BERAT IKAN SELIKUR (Scomber australasicus) DI LAUT NATUNA YANG DIDARATKAN DI PELANTAR KUD KOTA TANJUNGPINANG

PERLUNYA STATISTIK/MATEMATIKA, PADA DINAPOPKAN

5.5 Status dan Tingkat Keseimbangan Upaya Penangkapan Udang

PERTUMBUHAN DAN LAJU EKSPLOITASI IKAN KEMBUNG (Rastrelliger spp.) DI PERAIRAN SELAT MALAKA PROVINSI SUMATERA UTARA

bio.unsoed.ac.id METODE PENELITIAN A. Spesifikasi Alat dan Bahan

3. METODE PENELITIAN

STUDI DINAMIKA STOK IKAN BIJI NANGKA

VII. POTENSI LESTARI SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP. Fokus utama estimasi potensi sumberdaya perikanan tangkap di perairan

Growth Analysis and Exploitation rate of Tuna Fish (Auxis thazard) landed on Belawan Ocean Fishing Port Sumatera Utara

STATUS STOK SUMBERDAYA IKAN LEMURU (Sardinella lemuru) DI PERAIRAN SELAT SUNDA GAMA SATRIA NUGRAHA

DINAMIKA STOK DAN ANALISIS BIO-EKONOMI IKAN KEMBUNG LELAKI (Rastrelliger kanagurta) DI TPI BLANAKAN, SUBANG, JAWA BARAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Ikan Peperek Klasifikasi dan Morfologi Menurut Saanin (1984) klasifikasi dari ikan peperek adalah sebagai berikut:

Hardiyansyah Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan, FIKP, UMRAH,

IV. METODE PENELITIAN. kriteria tertentu. Alasan dalam pemilihan lokasi penelitian adalah TPI Wonokerto

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian 3.4 Jenis dan Sumber Data

Estimasi parameter populasi ikan lencam (Lethrinus lentjan) di sekitar perairan Kotabaru (P. Laut) Kalimantan Selatan

PENDAHULUAN. Common property & open acces. Ekonomis & Ekologis Penting. Dieksploitasi tanpa batas

3 METODOLOGI PENELITIAN

ANALISIS BIOEKONOMI UNTUK PEMANFAATAN SUMBER DAYA IKAN KUNIRAN (Upeneus spp.) YANG DIDARATKAN DI PPP LABUAN, KABUPATEN PANDEGLANG, BANTEN

3 METODE PENELITIAN. 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

Volume 5, Nomor 2, Desember 2014 Indonesian Journal of Agricultural Economics (IJAE) ANALISIS POTENSI LESTARI PERIKANAN TANGKAP DI KOTA DUMAI

The Growth and Exploitation of Tamban (Sardinella albella Valenciennes, 1847) in Malacca Strait Tanjung Beringin Serdang Bedagai North Sumatra

3. METODE PENELITIAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian mengenai dinamika stok ikan peperek (Leiognathus spp.) dilaksanakan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat (Gambar 8). Pengambilan data primer berupa pengukuran panjang dan bobot ikan peperek yang ditangkap di Teluk Palabuhanratu dan didaratkan di PPN Palabuhanratu dilakukan selama tiga bulan sejak tanggal 10 Maret sampai 19 Mei 2010 dengan interval waktu pengambilan dua minggu. Pengambilan data sekunder dilakukan juga di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu yang dilaksanakan pada bulan Februari sampai Mei 2010. Gambar 8. Peta lokasi penelitian 3.2. Pengumpulan Data 3.2.1. Pengumpulan data primer Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara pengambilan contoh secara acak terhadap jenis ikan peperek yang hanya tertangkap di perairan Teluk Palabuhanratu dan di daratkan di PPN Palabuhanratu. Pengambilan ikan contoh dilakukan secara acak dari 3 kapal yang mendaratkan ikan peperek diambil masingmasing satu keranjang untuk diambil ± 100 ikan contoh (Gambar 9). Pengambilan ikan contoh dilakukan selama tiga bulan dengan interval waktu pengambilan dua minggu. Metode yang digunakan adalah pengukuran panjang dan bobot untuk

19 menduga pertumbuhan populasi dan pola pertumbuhan individu ikan peperek di Palabuhanratu. Panjang ikan yang diukur adalah panjang total yakni panjang ikan yang diukur mulai dari ujung terdepan bagian kepala sampai ujung terakhir bagian ekornya (Effendie 1979). Pengukuran panjang dilakukan dengan menggunakan penggaris panjang 30 cm dengan skala terkecil 1 mm. Sedangkan bobot ikan peperek yang ditimbang adalah bobot basah total yakni bobot total jaringan tubuh ikan dan air yang terdapat di dalamnya. PPN Palabuhanratu Alat tangkap bagan apung Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 n keranjang n keranjang n keranjang ± 100 contoh ikan peperek Pengukuran panjang dan bobot Gambar 9. Skema pengambilan contoh Selanjutnya pengumpulan data dan informasi lainnya dilakukan dengan cara observasi serta wawancara dengan nelayan ikan peperek di Palabuhanratu. Informasi yang diperoleh dari hasil wawancara berupa kegiatan operasi penangkapan, daerah

20 penangkapan, dan biaya operasi penangkapan. Selain itu, dilakukan pengumpulan data mengenai harga ikan peperek di lapak/pasar ikan Palabuhanratu untuk menduga model bioekonomi perikanan peperek di Palabuhanratu. 3.2.2. Pengumpulan data sekunder Pengumpulan data sekunder meliputi data produksi hasil tangkapan ikan peperek yang di daratkan di PPN Palabuhanratu dan unit upaya penangkapan (effort) selama enam tahun (2004-2009) serta kondisi umum perairan Teluk Palabuhanratu untuk menduga model stok dan potensi sumberdaya ikan peperek di perairan tersebut. Pada penelitian ini digunakan jumlah alat tangkap bagan sebagai effort atau upaya penangkapan. 3.3. Analisis Data 3.3.1. Hubungan panjang dan bobot Bobot dapat dianggap sebagai suatu fungsi dari panjang. Hubungan panjang dan bobot dapat mengikuti hukum kubik dimana bobot ikan sebagai pangkat tiga dari panjangnya. Namun hubungannya sebenarnya pada ikan tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan berbeda-beda. Oleh karena itu, hubungan panjang bobot ikan peperek menggunakan rumus yang umum yaitu (Effendie 1997) : W : Bobot (gram) L : Panjang (cm) a : Intersep (perpotongan kurva hubungan panjang-bobot dengan sumbu y) b : Penduga pola pertumbuhan panjang-bobot Untuk mendapatkan persamaan linear atau persamaan garis lurus yaitu dengan cara mentransformasikan persamaan di atas ke dalam bentuk logaritma seperti dibawah ini :

21 Untuk mendapatkan nilai konstanta a dan b maka dilakukan analisis regresi dengan menggunakan nilai Ln W sebagai y dan Ln L sebagai x maka akan didapatkan persamaan sebagai berikut : Uji-t dilakukan untuk menguji b = 3 atau b 3 dengan hipotesis sebagai berikut : H 0 : b = 3, isometrik (pertambahan panjang seimbang dengan pertambahan bobot) H 1 : b 3, allometrik (pertambahan panjang tidak sama dengan pertambahan bobot) Apabila b>3 dikatakan allometrik positif (pertambahan bobot lebih dominan daripada pertambahan panjang) dan dikatakan allometrik negatif jika b<3 (Pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan bobot). b 1 : Nilai b (dari analisis regresi hubungan panjang bobot) b 0 : 3 Sb 1 : Simpangan koefisien b Setelah didapatkan nilai t hit dari perhitungan diatas lalu bandingkan dengan nilai t tab pada selang kepercayaan 95% kemudian untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan, kaidah keputusan yang diambil adalah : t hit > t tab : tolak H 0 (Hipotesis nol) t hit < t tab : gagal tolak H 0 (Hipotesis nol) 3.3.2. Distribusi Frekuensi Panjang Data panjang total dari ikan peperek yang ditangkap di perairan Teluk Palabuhanratu dan di daratkan di PPN Palabuhanratu merupakan data yang digunakan dalam penentuan distribusi frekuensi panjang ini. Tahap untuk menganalisis data frekuensi panjang ikan yaitu : Menentukan jumlah selang kelas yang diperlukan Menentukan lebar selang kelas; dan

22 Menentukan kelas frekuensi dan memasukkan frekuensi masing-masing kelas dengan memasukkan panjang masing-masing ikan contoh pada selang kelas yang telah ditentukan Distribusi frekuensi panjang yang telah ditentukan dalam selang kelas yang sama kemudian diplotkan dalam sebuah grafik. Dari grafik tersebut dapat terlihat pergeseran distribusi kelas panjang setiap bulannya. Pergeseran distribusi frekuensi panjang menggambarkan jumlah kelompok umur (kohort) yang ada. Bila terjadi pergeseran modus distribusi frekuensi panjang berarti terdapat lebih dari satu kohort. 3.3.3. Identifikasi Kelompok Ukuran Metode Bhattacharya merupakan metode yang berguna untuk pemisahan suatu distribusi komposit ke dalam distribusi distribusi normal yang terpisah. Metode ini pada dasarnya terdiri dari pemisahan sejumlah distribusi normal, masing-masing mewakili suatu kohort ikan, dari distribusi keseluruhan, dimulai dari sebelah kiri dari distribusi total. Begitu distribusi normal yang pertama telah ditentukan, ia disingkirkan dari distribusi total dan prosedur yang sama diulangi selama hal ini masih mungkin dilakukan untuk memisahkan distribusi-distribusi normal dari distribusi total (Sparre & Venema 1999). Keseluruhan proses dapat dibagi ke dalam tingkatan sebagai berikut : Langkah 1 : Menentukan suatu kemiringan yang tidak terkontaminasi (bersih) dari suatu distribusi normal pada sisi kiri dari distribusi total. Langkah 2 : Menentukan distribusi normal dari kohort yang pertama dengan menggunakan suatu transformasi ke dalam suatu garis lurus. Langkah 3 : Menentukan jumlah ikan per grup panjang yang menjadi bagian dari kohort pertama dan kemudian kurangkan mereka dari distribusi total. Langkah 4 : Mengulangi proses ini untuk normal distribusi berikutnya dari kiri, sampai tidak lagi dapat diketemukan distribusi normal yang bersih. Langkah 5 : Menghubungkan nilai rata-rata panjang dari kohort - kohort yang ditentukan dalam langkah 1 sampai 4 terhadap perbedaan umur antara kohort-kohort tersebut.

23 3.3.4. Plot Ford Walford (L, K) dan t 0 Plot Ford Walford merupakan salah satu metode paling sederhana dalam menduga parameter pertumbuhan L dan K dari persamaan von Bertalanffy dengan interval waktu pengambilan contoh yang sama (King 1995). Berikut ini adalah persamaan pertumbuhan von Bertalanffy : Lt : Panjang ikan pada saat umur t (satuan waktu) L : Panjang maksimum secara teoritis (panjang asimtotik) K : Koefisien pertumbuhan (per satuan waktu) : umur teoritis pada saat panjang sama dengan nol t 0 Penurunan plot Ford Walford didasarkan pada persamaan pertumbuhan von Bertalanffy dengan t 0 sama dengan nol, maka persamaannya menjadi sebagai berikut: (1) Setelah L t+1 disubtitusikan pada persamaan (1) maka didapatkan persamaan baru seperti berikut : (2) Persamaan (2) disubtitusikan ke dalam persamaan (3), sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut : (3) (4)

24 L t dan L t+1 merupakan panjang ikan pada saat t dan panjang ikan yang dipisahkan oleh interval waktu yang konstan (Pauly 1984). Persamaan (4) merupakan persamaan linear dimana jika L t merupakan sumbu x dan L t+1 merupakan sumbu y diplotkan satu sama lain, maka garis lurus yang terbentuk akan memiliki garis kemiringan (slope) (b) = e (-k) dan titik potong dengan absis sama dengan L [1- e -Kt ]. Umur teoritis ikan pada saat panjang sama dengan nol dapat diduga secara terpisah menggunakan persamaan empiris Pauly (Pauly 1984) sebagai berikut : Log (-t 0 ) = 0,3922 0,2752 (Log L ) 1,038 (Log K) 3.3.5. Mortalitas dan Laju Eksploitasi Laju mortalitas total (Z) diduga dengan persamaan kurva hasil tangkapan kumulatif berdasarkan data komposisi panjang (Metode Jones dan van Zalinge) (Sparre & Venema 1999) : Dimana Z adalah laju mortalitas alami; K adalah koefisien pertumbuhan. Nilai Z di dapatkan dari hasil perhitungan dengan metode Jones anda van Zalinge yang diperoleh melalui bantuan program Mortality estimation yang terintegrasi dalam program software FISAT II (FAO-ICLARM Stok Assesment Tool). Untuk menduga mortalitas alami (M) digunakan rumus hubungan linear empiris Pauly (1980) in Sparre & Venema (1999) sebagai berikut : M : Mortalitas alami L : Panjang asimtotik pada persamaan pertumbuhan von Bertalanffy K : Koefisien pertumbuhan pada persamaan pertumbuhan von Bertalanffy T : Rata-rata suhu permukaan air ( 0 C)

25 Laju mortalitas penangkapan untuk periode waktu dapat ditentukan melalui rumus sebagai berikut : F = Z M Laju eksploitasi (E) ditentukan dengan membandingkan laju mortalitas penangkapan (F) dengan laju mortalitas total (Z) (Pauly 1984) : F : Mortalitas penangkapan Z : Mortalitas total M : Mortalitas alami 3.3.6. Analisis Bioekonomi Analisis bioekonomi merupakan salah satu alternatif pengelolaan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan dengan pertimbangan biologi dan ekonomi. Dalam pendekatan bioekonomi, tujuan utama adalah aspek ekonomi dengan kendala aspek biologi sumberdaya perikanan. Optimalisasi bioekonomi yang dilakukan dalam penelitian ini mengikuti model Gordon-Schaefer (Fauzi 2006). Analisis bioteknik digunakan untuk melihat hubungan parameter biologi dan parameter teknik penangkapan ikan dalam pemanfaatan sumberdaya ikan peperek yaitu r, q, dan K, yang digunakan untuk menduga stok atau potensi sumberdaya ikan serta untuk mengetahui kondisi optimum dari tingkat upaya penangkapan. Untuk memperoleh nilai r, q, dan K dilakukan dengan menggunakan model Algoritma Fox.

26 Ut : CPUE pada tahun ke t q : Koefisien alat tangkap r : Laju pertumbuhan instrinsik E : Effort x : Biomassa dari stok yang diukur K : Daya dukung maksimum lingkungan Parameter ekonomi yang mempengaruhi model bioekonomi dalam perikanan tangkap adalah biaya penangkapan (c) dan harga hasil tangkapan (p). Biaya penangkapan dalam kajian bioekonomi model Gordon-Schaefer didasarkan pada asumsi bahwa hanya faktor penangkapan yang diperhitungkan. Biaya penangkapan rata-rata diperoleh dari : c : Biaya penangkapan rata-rata (Rp) per hari per tahun ci : Biaya penangkapan responden ke-i n : Jumlah responden Harga ikan rata-rata diperoleh dengan rumus sebagai berikut : p : Harga rata-rata ikan peperek pi : Harga nominal ikan peperek responden ke-i n : Jumlah responden Salah satu fungsi pertumbuhan yang umum digunakan dalam literatur ekonomi sumberdaya ikan adalah model pertumbuhan logistik (Fauzi 2006). Pada kondisi dimana perubahan stok ikan pada periode waktu tertentu ditentukan oleh populasi pada awal periode (terjadi secara alami), model pertumbuhan logistik secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :

27 (1) x r K : Perubahan stok ikan/ fungsi pertumbuhan stok ikan : Stok ikan : Laju pertumbuhan intrinsik ikan : Kapasitas daya dukung lingkungan Untuk melakukan pemanfaatan sumberdaya ikan dibutuhkan upaya atau effort. Aktivitas penangkapan atau produksi dinyatakan dengan fungsi sebagai berikut : (2) h : produksi q : koefisien daya tangkap x : stok ikan E : Upaya (effort) Dengan adanya aktivitas penangkapan atau produksi maka fungsi perubahan stok ikan menjadi : (3) dalam kondisi keseimbangan dimana = 0 maka persamaan menjadi sebagai berikut : (4) dari persamaan (4) diperoleh nilai stok ikan (x) sebagai berikut :

28 Sehingga dengan mensubtitusikan persamaan (5) ke dalam persamaan (2) diperoleh fungsi produksi lestari atau yang dikenal dengan yield effort curve sebagai berikut : (5) (6) Nilai E MSY diperoleh dengan menurunkan persamaan (6) terhadap E, atau, sehingga diperoleh nilai E MSY sebagai berikut : (7) Dengan mensubtitusikan persamaan, maka diperoleh nilai tingkat produksi yang dinotasikan sebagai berikut :

29 Sedangkan stok ikan pada tingkat MSY diperoleh dengan mensubtitusikan persamaan ke dalam persamaan (5), yang dapat dinotasikan sebagai berikut : Agar dapat digunakan untuk menetapkan tingkat upaya pemanfaatan maksimum lestari secara ekonomi perlu dilakukan pengkajian dari faktor ekonomi. Gordon-Schaefer menambahkan faktor ekonomi dengan memaksimumkan keuntungan. Keuntungan yang diperoleh merupakan selisih antara total penerimaan (total revenue) dan total biaya (total cost). Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut (Fauzi 2006) : π : rente sumberdaya perikanan p : harga ikan h : produksi /tangkapan lestari c : biaya per unit upaya E : upaya/effort (8) Dengan mensubtitusikan persamaan (7) ke dalam persamaan (8), sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut : dengan menurunkan persamaan diatas terhadap variabel input (E), dimana = 0 maka diperoleh nilai E MEY, yang secara matematis dinotasikan sebagai berikut :

30 (9) Dengan asumsi bahwa sistem dalam kondisi keseimbangan (lestari) dimana h = F(x), maka dengan mensubtitusikan persamaan (1) dan fungsi upaya h / qx dari persamaan (2) ke dalam persamaan (8) kemudian membuat fungsi turunannya atau = 0, maka diperoleh fungsi stok ikan (x) pada kondisi MEY : (10) Kemudian mensubtitusikan E MEY dan x MEY ke dalam persamaan (2) maka nilai h MEY dapat dinotasikan sebagai berikut :

31 (11) Tingkat upaya dalam kondisi open access (akses terbuka) dapat dilakukan dengan menghitung rente ekonomi yang hilang, dimana π = 0 maka : (12) Nilai produksi optimal (h OA ) pada kondisi open access dapat ditentukan dengan cara mensubtitusikan persamaan (12) ke dalam persamaan (1) maka : (13) Sedangkan tingkat upaya optimal (E OA ) pada kondisi open access ditentukan berdasarkan fungsi upaya dari persamaan (2) yaitu : (14)

32 Dengan diperolehnya nilai parameter biologi (r, q, dan k) dan parameter ekonomi (p dan c) maka dapat dilakukan pengelolaan sumberdaya ikan peperek melalui pendekatan bioekonomi seperti pada Tabel 2 (Fauzi 2006). Tabel 2. Formula perhitungan pengelolaan ikan peperek Variabel Biomass (x) Kondisi MEY MSY OA Catch (h) Effort (E) Rente Ekonomi (π)