PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF HEPA FILTER MENGGUNAKAN METODE REDUKSI VOLUME DAN IMOBILISASI DENGAN MATRIK SEMEN

dokumen-dokumen yang mirip
PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF HEPA FILTER MENGGUNAKAN METODE REDUKSI VOLUME DAN IMOBILISASI DENGAN MATRIK SEMEN

PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF PADAT AKTIVITAS RENDAH TERKONTAMINASI AKTINIDA DENGAN METODE REDUKSI VOLUME

PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF PADAT HASIL DEKOMISIONING FASILITAS INSTALASI PEMURNIAN ASAM FOSFAT PETROKIMIA GRESIK

TEKNOLOGI PROSES PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF PADAT SECARA INSENERASI DAN KOMPAKSI TAHUN 2012

KONDISIONING LIMBAH RADIOAKTIF PADAT TAK TERKOMPAKSI MENGGUNAKAN MATRIKS SEMEN

Aneks TAHAPAN-TAHAPAN DASAR PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF Pengelolaan limbah radioaktif yang efektif harus memperhatikan tahapantahapan dasar

OPTIMALISASI PE EMPATA KEMASA LIMBAH RADIOAKTIF AKTIVITAS RE DAH DA SEDA G DALAM REPOSITORI

PENGARUH BAHAN PENCAMPUR SEMEN CHORMEN TERHADAP KEKUATAN FISIKA DAN KIMIA BETON LIMBAH

KARAKTERISASI LlMBAH HASIL SEMENTASI. Siswanto Hadi, Mardini, Suparno Pusat Teknologi Umbah Radioa~,tif, BATAN

Waste Acceptance Criteria (Per 26 Feb 2016)

PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF SEMI CAIR DENGAN CARA SEMENTASI

PEMBUATAN CAMPURAN MATRIKS UNTUK SEMENTASI. Tri Salyo, Sarjono, Syarip Unus Pusat Teknologi Limbah Radioaf,tif, SATAN

PERAWATAN UNIT KOMPAKSI. Sung Tomo Pusat Teknologi Limbah Radioaktif, SATAN

ANALISIS LIMBAH RADIOAKTIF CAIR DAN SEMI CAIR. Mardini, Ayi Muziyawati, Darmawan Aji Pusat Teknologi Limbah Radioaktif

PENANGANAN LlMBAH RADIOAKTIF PADAT AKTIVITAS RENDAH PASCA PENGGANTIAN HEPA FILTER DI IRM

OPTIMALISASI DAN MODIFIKASI FASILITAS IPLR

EVALUASI KESELAMATAN RADIASI PENGUNJUNG DI TEMPAT PENYIMPANAN SEMENTARA LIMBAH RADIOAKTIF

PENYIMPANAN LIMBAH RADIOAKTIF DI INTERM STORAGE I, INTERM STORAGE II DAN PSLAT. Sagino Pusat Teknologi Limbah Radioaktif

PENGARUH LIMBAH KARBON AKTIF Cs-137 TERHADAP KERAPATAN DAN KUAT TEKAN BETON LIMBAH

PENGANGKUTAN LIMBAH RADIOAKTIF PADAT DAN CAIR DARI PENIMBUL KE INSTALASI PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF. Arifin Pusat Teknologi Limbah Radioaktif -BATAN

PENGARUH KANDUNGAN LIMBAH RESIN DAN BAHAN ADITIF (BETONMIX) TERHADAP KARAKTERISTIK HASIL SEMENTASI

KAJIAN KESELAMATAN PENYIMPANAN LlMBAH THORIUM DARI PABRIK KAOS LAMPU

PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF BENTUK PADAT BERAKTIVITAS RENDAH DI INSTALASI RADIOMETALURGI TAHUN 2007

PROSES PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF CAIR SECARA EVAPORASI DAN SEMENTASI

PERAWATAN PERALATAN SISTEM MEKANIK UNIT SEMENT ASI. Tarmusid Pusat Teknologi Limbah Radoaktif, BATAN

PERAWATAN PERALATAN PROSES SEMENTASI. Suparno Pusat Teknologi Limbah Radoaktif

Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2012 ISSN

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF TINGKAT RENDAH DAN TINGKAT SEDANG

PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF SUMBER TERBUNGKUS DARI RUMAH SAKIT DAN INDUSTRI

KESELAMA TAN PENYIMP ANAN SEMENTARA LIMBAH RADIOAKTIF DI PPTN SERPONG SAMP AI DENGAN TAHUN 2007

KAJIAN PENGELOLAAN LlMBAH PLTN. Suryantoro Pusat Teknologi Limbah Radioaktif, BATAN

PENYIMPANAN LlMBAH RADIOAKTIF DIINTERM STORAGE I, INTERM STORAGE II DAN PSLAT

INVENTARISASI PAKET LIMBAH OLAHAN UNTUK PENYIMPANAN AKHIR DALAM DISPOSAL DEMO PLANT

PENGELOLAAN LlMBAH RADIOAKTIF PADAT PAPARAN TINGGI TIDAK DAPAT BAKAR DI INSTALASI RADIOMETALURGI (IRM)

STUDI PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF PADAT PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR

RANCANGAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR...TAHUN... TENTANG PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF TINGKAT RENDAH DAN TINGKAT SEDANG

SISTEM PENGANGKUTAN LIMBAH RADIOAKTIF PADAT, CAIR DAN GAS. Arifin Pusat Teknologi Pengolahan Limbah Radioaktif

PERAWATAN PERALATAN LlSTRIK (PENGENDALI) PROSES SEMENT ASI

IMOBILISASI KONSENTRAT LIMBAH CAIR AKTIVITAS RENDAH SHELL NOMOR 17 A

MEMPELAJARI KARAKTERISTIK KERAMIK DARI MINERAL LOKAL KAOLIN, DOLOMIT, PASIR ILMENIT

PERAWATAN PERALATAN MEKANIK UNIT SEMENTASI

ANALISIS KESELAMATAN RADIASI PENYIMPANAN LIMBAH RADIOAKTIF DI INTERIM STORAGE-1 SELAMA PERIODE

SYNOPSIS REAKTOR NUKLIR DAN APLIKASINYA

IMOBILISASI LlMBAH SLUDGE RADIOAKTIF DARI PROSES PENGOLAHAN LlMBAH RADIOAKTIF CAIR SECARA KIMIA DENGAN KOAGULAN FERI KLORIDA MENGGUNAKANSEMEN

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN LIMBAH RADIOAKTIF DI PUSAT TEKNOLOGI LIMBAH RADIOAKTIF

PRARANCANGAN SISTEM LOADING DAN UNLOADING PADA KOLOM PENUKAR ION PENGOLAH LIMBAH RADIOAKTIF

PENENTUAN WAKTU TUNDA PADA KONDISIONING LIMBAH HASIL PENGUJIAN BAHAN BAKAR PASCA IRADIASI DARI INSTALASI RADIOMETALURGI

KARAKTERISTIK LIMBAH HASIL IMOBILISASI DALAM KESELAMATAN PENYIMPANAN.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni 2013 di

KARAKTERISTIK HASIL KONDISIONING LIMBAH RADIOAKTIF UNTUK KESELAMATAN PENYIMPANAN CHARACTERISTICS OF CONDISIONED RADIOACTIVE WASTE FOR DISPOSAL SAFETY

PENGELOLAAN LIMBAH SUMBER BEKAS RADIUM-226 BERASAL DARI RUMAH SAKIT DAN PATIR-BATAN

pekerja dan masyarakat serta proteksi lingkungan. Tujuan akhir dekomisioning adalah pelepasan dari kendali badan pengawas atau penggunaan lokasi

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fly ash terhadap kuat

PRA RANCANGAN KONTAINER TEMPAT PENYIMPANAN LIMBAH RADIOAKTIF SUMBER TERBUNGKUS 192 Ir

BAB III METODE PENELITIAN. Metodelogi penelitian dilakukan dengan cara membuat benda uji (sampel) di

PRARANCANGAN PEMANTAUAN RADIASI DAN KONTAMINASI UDARA DI RUANG KERJA KOMPAKSI DI IPLR

EVALUASI PENGENDALIAN KESELAMATAN RADIASI DAN NON RADIASI DALAM PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF TAHUN

PENGUKURAN KONSENTRASI RADON DALAM TEMPAT PENYIMPANAN LIMBAH RADIOAKTIF. Untara, M. Cecep CH, Mahmudin, Sudiyati Pusat Teknologi Limbah Radioaktif

ANALISIS LEPASAN RADIOAKTIF DI RSG GAS

PRARANCANGAN ALAT PEMISAH SEMEN DENGAN AIR PADA AIR BUANGAN SEMENTASI

PEMANTAUAN DAN PENGEPAKAN KEMBALI LIMBAH RADIOAKTIF PADAT D_ARI PROSES PRODUKSI RADIOISOTOP

EVALUASI PENGENDALIAN KESELAMATAN RADIASI DAN NON RADIASI DALAM PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF TAHUN

KARAKTERISTIK KETAHANAN KOROSI WADAH LIMBAH RADIOAKTIF AKTIVITAS RENDAH DAN TINGGI

PENGEMBANGAN PENGENDALIAN PROTEKSI RADIASI DAERAH KERJA, PERSONIL DAN LINGKUNGAN DI PTLR

PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF DAN B3 DI IRM. Sunardi

Cara uji berat isi, volume produksi campuran dan kadar udara beton

No Penghasil Limbah Radioaktif tingkat rendah dan tingkat sedang mempunyai kewajiban mengumpulkan, mengelompokkan, atau mengolah sebelum diser

OPTIMASI DAN REVISI KANAL HUBUNG - INSTALASI PENYIMPANAN SEMENTARA BAHAN BAKAR BEKAS

ANALISIS TERHADAP SISTEM INFORMASI MANAJEMEN L1MBAH RADIOAKTIF VERSI 3. Dyah Sulistyani Rahayu Pusat Teknologi Limbah Radioaktif, BATAN

GLASS FRIT DAN POLIMER UNTUK SOLIDIFIKASI LIMBAH CAIR AKTIVITAS RENDAH SKALA INDUSTRI.

KESELAMATAN STRATEGI PENYIMPANAN LIMBAH TINGKAT TINGGI

LAMPIRAN III PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG BATASAN DAN KONDISI OPERASI INSTALASI NUKLIR NONREAKTOR

IMPLEMENTASI SALT DALAM PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF DI PRSG

III. METODOLOGI PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen PCC merek

Cara uji berat jenis dan penyerapan air agregat kasar

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. Agregat yang digunakan untuk penelitian ini, untuk agregat halus diambil dari

BAB III PERCOBAAN III.1. DIAGRAM ALIR PERCOBAAN. 17 Ibnu Maulana Yusuf

BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL PUSAT TEKNOLOGI LIMBAH RADIOAKTIF

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

*39525 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 27 TAHUN 2002 (27/2002) TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEMANTAUAN LINGKUNGAN DI SEKITAR PUSAT PENELITIAN TENAGA NUKLIR SERPONG DALAM RADIUS 5 KM TAHUN 2005

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2002 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

llmu Pengetohuon don Teknologi Nuklir

UPAYA MINIMISASI LIMBAH RADIOAKTIF DENGAN CARA PENGAMBILAN KEMBALI RADIONUKLIDA

SISTEM MANAJEMEN DOSIS PADA PENGANGKUTAN ZAT RADIOAKTIF DENGAN KENDARAAN DARAT

III.METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan terhitung pada bulan Februari Mei

SKENARIO LEPASAN RADIONUKLIDA DARI HASIL IMOBILISASI LlMBAH PAD A PENYIMPANAN LlMBAH LESTARI DE KAT PERMUKAAN

OPTIMALISASI PROSES PEMEKATAN LARUTAN UNH PADA SEKSI 600 PILOT CONVERSION PLANT

PERSYARATAN PENGANGKUTAN LIMBAH RADIOAKTIF

SAM PEL LlMBAH UNTUK ANALISIS DI LABORA TORIUM

PERANCANGAN PERISAI RADIASI PADA KEPALA SUMBER UNTUK PESAWAT RADIOTERAPI EKSTERNAL MENGGUNAKAN CO-60 PADA POSISI BEAM OFF

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

OPERASI SISTEM LAUNDRY PADA PROSES MESIN CUCI (WASHING MACHINE) Atam Pusat Teknologi Limbah Radioaktif

Studi Pemanfaatan Limbah Karbon Aktif sebagai Bahan Pengganti Agregat Halus pada Campuran Beton Ringan (Studi Kasus di PT PETRONIKA)

DEKONTAMINASI MIKROSKOP OPTIK HOTCELL 107 INSTALASI RADIOMETALURGI DENGAN CARA KERING

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

KAJIAN LAJU PAPARAN RADIASI PADA TITIK PENGUKURAN DI REAKTOR KARTINI SEBAGAI DASAR PENENTUAN KONDISI BATAS OPERASI (KBO)

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2002 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF

PENGENALAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN)

Transkripsi:

PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF HEPA FILTER MENGGUNAKAN METODE REDUKSI VOLUME DAN IMOBILISASI DENGAN MATRIK SEMEN Bung Tomo Pusat Teknologi Limbah Radioaktif - BATAN Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten 15310 Telepon : 021-7563142, Faks ; 021-7560927, E-mail: bungtomo@batan.go.id ABSTRAK PENGOLAHAN LIMBAH RADIOAKTIF PADAT HEPA FILTER MENGGUNAKAN METODE REDUKSI VOLUME DAN IMOBILISASI DENGAN MATRIK SEMEN. Telah dilakukan pengolahan limbah radioaktif padat yang berupa HEPA filter dengan metode reduksi volume dan kondisioning dengan matrik semen. Limbah tersebut berasal dari fasilitas nuklir di lingkungan BATAN. Tujuan dari pengolahan adalah untuk reduksi volume dan pengungkungan unsur radioaktif dalam limbah sehingga lebih aman dan selamat dalam penyimpanannya di Interim Storage. Alat reduksi volume yang digunakan adalah kompaktor hidrolik dengan gaya tekan 600 kn. Proses pengolahan dilakukan dengan cara limbah HEPA filter diletakkan dalam drum 100 liter kemudian dipres dalam drum 200 liter yang bagian dasarnya telah berisi batu koral diameter 5 cm, satu drum 200 liter memuat antara 6-9 drum 100 liter. Drum 200 liter yang sudah berisi limbah terkompaksi diberi batu koral berdiameter 2,5 cm kemudian dikondisioning dengan adonan semen. Dosis paparan kontak wadah limbah sebelum diolah antara 0,54-110 µsv/jam dan setelah diolah menjadi 0,12-0,48 µsv/jam. Bulk density dari drum 200 liter hasil sementasi antara 2140-2360 kg/m 3 di atas batas minimal yang diijinkan oleh IAEA (IAEA ρ = 1700-2500 kg/m 3 ). Hasil olah limbah radioaktif padat adalah 141 drum 100 L dan direduksi volumenya dalam 16 drum 200 L, besarnya reduksi volume 71,23 %. Bulk density = rapat massa curah Keyword: HEPA Filter, Limbah radioaktif, immobilisasi, matrik semen ABSTRACT TREATMENT OF HEPA FILTER SOLID RADIOACTIVE WASTE USING VOLUME REDUCTION METHODE AND IMMOBILIZATION WITH CEMENT MATRIX. The treatment of HEPA Filter Solid Radioactive Waste by using volume reduction method and immobilization with cement matrix has been done. The waste was produced by BATAN Nuclear facility. The purpose of the treatment is to reduce the volume and to embed radioactive element in the waste and safe disposal in interim storage. The equipment used to reduce the volume of waste was hydraulic compactor with compressing force of 600 kn. The sequence of treatment was started by charging100 L drum with the HEPA filter waste and then this HEPA filter waste was compacted in 200 litre drum which had been previously filled with coal of 5 centimeters diameter at the bottom section. A 200 litre drum could contain 6 up to 9 100 liter drum. Furthermore, the 200 litre drum contained compacted waste was filled with coal of 2,5 centimeters diameter and then was filled with cement slurry. The exposure dose at the surface of waste container before treatment was 0,54-1,10 µsv/hour and after treatment was between 0,12-0,48 µsv/hour. Bulk density of the cemented 200 L drum was between 2140-2360 kg/m 3. This value exceeded the minimum limit permitted by IAEA i.e. ρ = 1700-2500 kg/m 3. The number of solid waste treated was 141 pieces of 100 litre drum and were reduce into 16 pieces of 200 litre drums. The volume reduction was 71,23 %. Keyword: HEPA Filter, Radioactive Waste, Immobilization, Cement matrix radioaktif yang ditimbulkan oleh fasilitas nuklir PENDAHULUAN tersebut. Limbah radioaktif tersebut harus Keselamatan opersional suatu fasilitas nuklir dikelola secara baik agar tidak membahayakan sangat ditentukan oleh beberapa faktor, bagi manusia dan lingkungan. Sebelum diolah, diantaranya adalah faktor pengelolaan limbah limbah tersebut harus dikarakterisasi terlebih Bung Tomo (207-212) 207

dahulu. Untuk limbah padat karakterisasinya meliputi jenis dan aktivitas radionuklidanya, paparan radiasinya, sifat fisika dan kimia serta jenis senyawa kimianya. Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) BATAN bertugas untuk mengelola limbah radioaktif yang berasal dari instansi pengguna zat radioaktif di Indonesia. Limbah radioaktif padat berupa material terkontaminasi dikelompokkan menjadi limbah radioaktif padat terbakar, limbah radioaktif padat tak terbakar terkompaksi, dan limbah radioaktif tak terbakar tak terkompaksi. Limbah radioaktif padat berupa material terkontaminasi yang ditimbulkan dari kegiatan pemanfaatan teknologi nuklir sangat beragam jenis dan laju paparan radiasinya. Kegiatan preparasi terhadap limbah radioaktif padat ini semestinya sudah dimulai dari instansi penimbul limbah dengan pemilahan limbah tersebut berdasarkan sifatsifat fisiknya seperti terbakar, terkompaksi, tak terbakar dan tak terkompaksi. Sebelum dilakukan proses pengolahan di PTLR, limbah ini disimpan terlebih dahulu di gudang limbah untuk meluruhkan aktivitas radionuklida yang memiliki waktu paro (t½) pendek. Limbah yang telah meluruh aktivitasnya dipisahkan berdasarkan sifat fisiknya, kemudian ditempatkan dalam wadah yang sesuai dengan proses pengolahan, diukur laju paparan radiasi terkini, diberi penomoran (identifikasi) dan akhirnya dilakukan pengolahan sesuai dengan sifat fisik limbah tersebut [1]. Salah satu material limbah radioaktif yang ditimbulkan dari fasilitas nuklir adalah material limbah padat HEPA filter. Limbah HEPA filter yang tersimpan di PTLR adalah limbah dengan ukuran (60 30 30) cm dan ukuran (60 60 30) cm. Limbah padat HEPA filter tersebut mempunyai kandungan radionuklida yang berbeda beda tergantung dari asal fasilitas nukir yang menggunakannya. Terdapat kemungkinan limbah padat HEPA filter tersebut terkontaminasi oleh radionuklida pemancar alpha. Hal ini sangat membahayakan bagi pekerja radiasi (operator) jika radionuklida sampai masuk dalam tubuh manusia, sehingga perlu dibuat langkah langkah untuk menanggulangi penyebaran kontaminasi tersebut. Pengolahan material HEPA filter bekas dengan metode reduksi volume dan dikondisioning dengan matrik semen diharapkan limbah akan lebih aman dalam penyimpanannya dan lebih ekonomis dalam pengolahannya [2]. Dari hasil analisis, limbah HEPA filter dapat diolah dengan proses kompaksi untuk mereduksi volume dan kemudian di kondisioning dengan matrik semen. Untuk mencegah hamburan radioaktif limbah HEPA filter sebelum diolah dilakukan preparasi terlebih dahulu. Limbah HEPA filter dimasukkan ke dalam plastik, diikat dan dimasukkan ke dalam drum 100 Liter kemudian dikunci. Limbah HEPA filter dalam drum 100 Liter kemudian dikompaksi dalam drum 200 Liter menggunakan kompaktor dengan gaya tekan 600 kn. Satu drum 200 Liter mampu menampung 6 9 drum 200 Liter. Hasil kompaksi drum 200 Liter pada sela selanya diberi batu koral dengan diameter 2,5 cm sampai penuh kemudian di imobilisasi dengan adonan semen dan selanjutnya dikeringkan. Setelah disementasi, limbah dalam drum 200 Liter akan terjadi pengurangan kuantitas radiasi pada saat radiasi menembus materi semen akibat interaksi antara radiasi dengan materi tersebut atau disebut dengan atenuasi. Koefisien atenuasi materi adalah fraksi berkas radiasi yang diserap pada saat radiasi menembus materi setebal Δx cm. Koefisien atenuasi dihitung dengan rumus : A 1 = A 0. e -µx (1) Keterangan : A 1 = Paparan limbah setelah diolah (µsv/jam) A 0 = Paparan limbah sebelum diolah (µsv/jam) x = Tebal panahan (cm) µ = Koefisien atenuasi linier (cm -1 ) Hasil imobilsasi limbah dalam drum 200 L dapat dihitung densitas bulknya, dengan densitas bulk adalah berat persatuan volume produk secara keseluruhan dan dihitung dengan menggunakan rumus : ρ = keterangan : ρ = Densitas Bulk (kg/m 3 ) m = Massa (kg) v = Volume (m 3 ) m v (kg / m3 ) (2) Pengolahan limbah radioaktif aktivitas rendah dengan cara reduksi volume dan pemadatan dengan matriks semen adalah untuk 208 Pengolahan Limbah Radioaktif Hepafilter...

mengungkung dan mengurangi dosis paparan radiasi limbah. Limbah akan berkurang volumenya dan juga dosis paparannya sehingga lebih aman dan selamat dalam penyimpanannya di Interim Storage. Pengolahan dengan cara ini prosesnya lebih sederhana dan lebih ekonomis walaupun kemampuan reduksi volume tidak begitu besar dibandingkan dengan proses insenerasi. METODE Proses pengolahan limbah HEPA filter dengan metode reduksi volume dan kondisioning dengan matrik semen merupakan rangkaian beberapa kegiatan, meliputi penyortiran limbah dan pewadahan limbah dalam drum 100 Liter, preparasi drum 200 Liter, proses kompaksi, pembuatan adonan semen (cement slurry), proses imobilisasi, pengukuran paparan limbah, penguncian, penimbangan dan penyimpanan ke interim storage. berisi limbah dengan kekuatan 600 kn. Pada tekanan maksimum 600 kn secara otomatis piston akan berhenti menekan. Piston kompaksi dinaikkan lagi untuk kompaksi drum yang lain. Operasi kompaksi dilakukan sampai drum 200 Liter penuh. Hal ini dikontrol pada mistar penunjuk pada alat. Setelah drum 200 Liter penuh, piston tetap pada posisi bawah menekan limbah, baru kemudian jaket kompaksi dinaikkan dan drum 200 Liter keluarkan dari alat kompaksi. Drum 200 Liter yang sudah berisi limbah diberi koral dengan diameter 2,5 cm pada sela sela antara drum 200 Liter dan drum 100 Liter. Palang anti dispersal dipasang pada drum 200 L dan dikunci [3]. Gambar unit kompaksi dapat dilihat pada Gambar 1. 1. Preparasi Drum 200 Liter Drum 200 Liter berwarna kuning disiapkan dan diberi nomor identifikasi, pada bagian dasar drum 200 Liter diberi batu koral berdiameter 5 cm yang berfungsi untuk memberi rongga agar adonan semen bisa masuk ke bawah drum 100 liter. 2. Proses Kompaksi Limbah Radioaktif HEPA Filter Drum 100 Liter disiapkan untuk wadah HEPA filter, lalu filter tersebut dimasukkan dalam plastik dan dibungkus rapat pada kedua sisinya kemudian dimasukkan dalam drum100 Liter. Drum 100 Liter kemudian dikunci dan siap untuk dikompaksi. Drum 200 Liter diletakkan pada lori dan dimasukkan ke dalam alat kompaksi. Alat kompaksi dihidupkan dan dikontrol dari meja kontrol I 32003. Jaket kompaksi diturunkan secara perlahan dan masuk ke dalam drum 200 Liter, drum ini berfungsi sebagai wadah limbah. Limbah HEPA filter dalam drum 100 Liter dimasukkan ke dalam alat kompaksi dengan mendorongnya dan jatuh dalam jaket pada drum 200 Liter. Proses kompaksi dilakukan dengan menekan tombol jack down pada panel. Piston kompaksi akan turun dan menekan drum 100 Liter yang Gambar 1. Sket Alat Kompaksi 600 kn 3. Proses Pembuatan Matrik Semen Slurry semen dibuat di dalam sebuah mixer M 32001 terbuat dari baja karbon dengan kapasitas 200 liter dan dilengkapi dengan sebuah motor pengaduk dengan daya 11 kw, seperti ditujukkan pada Gambar 2. Bahan bahan yang digunakan meliputi: pasir, semen, air dan additif. Penimbangan dan pencampuran antara semen dan pasir dilakukan dalam unit pembuatan campuran beton kering. Untuk imobilisasi satu drum 200 Liter dibutuhkan kurang lebih 60 Liter slurry semen, komposisi 1 Liter slurry semen terdiri dari 1,313 kg semen; 0,328 kg pasir; 0,437 Liter air; dan 0,029 Liter aditif. Air dan aditif dimasukkan dalam tangki pencampur sesuai dengan ukuran, campuran semen kering dan pasir ditimbang sesuai dengan kebutuhan kemudian dimasukkan ke dalam tangki pencampur secara bertahap sambil diaduk sampai homogen dan Bung Tomo (207-212) 209

siap untuk imobilsasi [4] SEMEN ADITIVE PASIR AIR TRICOSAL TIMBANGAN Tangki Pencampur Off Gas Tangki Pencampur Ke Proses lainnya Tangki Pengaduk Adonan Semen Meja Getar Drum 200 L Berisi Limbah dilakukan pengecoran lagi untuk penutupan sampai pada permukaan drum dan dibiarkan lagi selama 8 jam. Setelah adonan semen kering kemudian dilakukan penutupan dan penguncian drum serta dilanjutkan dengan pengukuran dosis paparan. Drum yang telah diukur paparannya ditimbang dan ditulis pada label yang ditempel permukaan drum kemudian drum ditempatkan pada palet dan siap untuk disimpan di interim storage [5]. HASIL DAN PEMBAHASAN Proses Pembuatan Matrik Semen Proses Imobilisasi Gambar 2. Proses Imobilsasi dengan Matrik Semen 4. Proses Imobilisasi Dengan Matrik Semen Campuran semen kering dibuat di ruang silo, semen kering dan pasir ditimbang sesuai dengan permintaan, kemudian diturunkan ke tangki pencampur dan diaduk dalam tangki pencampur sehingga homogen. Setelah tercampur dengan baik kemudian siap dituangkan ke tangki pengaduk untuk membuat semen slurry. Motor pengaduk dihidupkan, air dimasukkan dalam tangki pengaduk seseuai dengan ukuran, secara perlahan semen diturunkan dengan membuka katup. Campuran semen, pasir dan aditif diaduk sampai rata dan siap untuk imobilisasi. Drum 200 Liter yang telah berisi limbah dan dikunci tempatkan di atas meja getar, sungkup R 32001 yang dilengkapi dengan sistim ventilasi off-gas diletakkan di atas drum 200 Liter. Meja getar dioperasikan seiring dengan pengisian adonan slurry semen kedalam drum 200 Liter. Slurry semen didorong melalui pompa peristaltik P 32021 ke dalam drum 200 Liter dengan debit 0,8 m 3 /h. Pompa terus bekerja memindahkan slurry semen ke dalam drum 200 Liter dan digetarkan sehingga adonan semen masuk ke dalam dasar drum. Setelah drum hampir penuh debit aliran pompa dipindahkan ke 0,4 m 3 /h untuk mencegah pengisian yang berlebihan. Setelah drum penuh, operasi meja getar dan pompa slurry dihentikan, kemudian drum diangkat dengan menggunakan crane dan pindahkan ke atas palet. Operasi dilanjutkan untuk sementasi drum 200 Liter yang lain. Drum yang telah di sementasi dibiarkan selama 16 jam, pengunci dibuka dan kemudian Tabel. 1. Data Hasil Pengolahan LRA HEPA Filter Pada Drum 200 L No No. Drum 200 L Sebelu m diolah (µ Sv/h) Paparan Setelah diolah (µ Sv/h) Densitas Bulk (kg/m 3 ) 1 80 0.55 0.13 2170 2 81 0.66 0.14 2220 3 82 0.55 0.12 2140 4 83 0.70 0.15 2090 5 84 0.75 0.18 2360 6 85 0.54 0.13 2320 7 86 0.71 0.19 2300 8 87 0.72 0.15 2230 9 88 0.76 0.18 2140 10 89 0.77 0.24 2170 11 90 0.85 0.30 2425 12 91 1.10 0.48 22185 13 107 0.72 0.20 2190 14 108 0.74 0.20 2245 15 109 0.80 0.25 2190 16 110 0.82 0.25 2180 StDev 0.135 0.090 Pengolahan limbah radioaktif padat yang berupa HEPA filter secara kompaksi dan kondisioning dengan matrik semen mempunyai tujuan untuk mereduksi volume limbah dan juga untuk mengungkung radionuklida yang terkandung dalam limbah sehingga lebih aman dan selamat dalam penyimpanannya di Interim Storage. Pada penelitian sebelumnya, limbah HEPA filter ini hanya dikondisioning dalam shell beton 950 Liter tanpa dilakukan reduksi volume. Satu shell 950 Liter hanya mampu menampung limbah HEPA filter maksimum 4 210 Pengolahan Limbah Radioaktif Hepafilter...

buah HEPA filter yang berukuran besar (60 60 30) cm. Dari perhitungan biaya sangat tidak ekonomis, karena harga 1 shell beton 950 Liter jauh lebih mahal dibandingkan dengan drum 200 Liter. Daya tampung 1 buah drum 200 Liter setelah direduksi volume jauh lebih besar antara 6 9 buah HEPA filter dibandingkan dengan shell beton. Data hasil pengolahan limbah radioaktif padat HEPA filter dengan cara reduksi volume dan kondisioning dengan matriks semen ditunjukan pada Tabel 1. Limbah yang diolah sejumlah 114 drum 100 Liter terkompaksi dalam 16 drum 200 liter, sehingga reduksi volume mencapai 71,23 %. Hasil pengolahan dengan cara kompaksi reduksi volumenya cukup besar, Hal ini sangat menguntungkan karena lebih ekonomis dan memudahkan dalam penyimpanannya di tempat penyimpanan sementara. Gambar 3. Perbandingan Paparan Limbah Sebelum dan Sesudah Diolah Kandungan radionuklida limbah padat HEPA filter bermacam macam, tergantung dari udara pada fasilitas nuklirnya dan besar paparan radiasi bervariasi. Jenis jenis radionuklida yang terkandung pada HEPA filter antara lain, U -236 yang diperkaya 19,75 % U -235, I-131, S, Tc, Te, P, dan Mo. Paparan limbah HEPA filter sebelum diolah merupakan kategori limbah aktivitas rendah, (0-250µSv/h) dengan standar deviasi 0,135 tetapi melihat kandungan radionuklida termasuk jenis radionuklida umur paro panjang. Hal ini yang perlu diperhatikan dalam pengungkungannya agar limbah bisa disimpan dalam waktu yang lama dan terkondisi sehingga aman, tidak membahayakan pekerja radiasi lainnya. Gambar 3 menunjukkan grafik antara paparan radiasi permukaan drum limbah sebelum dioalah dan setelah diolah, terlihat bahwa setelah limbah terkungkung oleh beton pemadatan mengalami penurunan paparan radiasinya. Dosis paparan radiasi limbah sebelum diolah antara 0,54 1,10 µsv/jam, dan setelah diolah dalam drum 200 Liter menjadi 0,12-0,48 µsv/jam. Rata rata limbah HEPA Filter turun paparan radiasainya 79,5%. Batasan untuk daerah kerja adalah 3 µsv/jam, sehingga dengan hasil tersebut sangat aman dalam penyimpanannya di Interim Storage. Gambar 4. Perbandingan Densitas Limbah Setelah Diolah dengan Standar IAEA Gambar 4 adalah perbandingan antara densitas limbah setelah diimobilisasi dengan matrik semen dengan densitas standar IAEA. Adonan semen yang digunakan untuk sementasi dengan komposisi: untuk satu Liter semen slurry adalah 1,313 kg semen, 0,326 kg pasir, 0,437 liter air dan 0,029 aditif. Pengamatan terhadap kebutuhan semen slurry pada tiap tiap drum 200 Liter antara 59-62 Liter. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan adonan semen untuk tiap tiap drum hampir sama, karena volume bidang yang diisi masing - masing drum adalah hampir sama. Perbedaan diperoleh jika butiran butiran batu koral mempunyai ukuran yang berbeda. Semakin besar ukuran batu koral maka akan diperoleh rongga yang lebih besar sehingga akan dibutuhkan semen slurry semakin banyak. Untuk Komposisi jumlah semen diharapkan densitas dari semen berkisar antara 1700-2500 kg/m 3. Dengan densitas yang tinggi maka akan diperoleh kuat tekan yang baik dan mampu menahan paparan radiasi yang ditimbulkan dari limbah. Hasil densitas limbah setelah direduksi volume dan dikondisioning dengan matrik semen rata rata 2222,19 kg/m 3. Densitas blok beton hasil imobilisasi telah memenuhi standar IAEA, densitasnya lebih dari 1700 kg/m 3. Dengan demikian limbah setelah pengolahan dengan reduksi volume dan di imobilisasi dengan matrik semen aman dan selamat untuk disimpan di Interim Storage [6]. Bung Tomo (207-212) 211

KESIMPULAN Telah dilakukan pengolahan limbah padat HEPA filter menggunakan metode reduksi volume dan imobilisasi dengan matrik semen. Limbah HEPA filter yang diolah sejumlah 114 buah dan terkompaksi dalam 16 drum 200 Liter, sehingga reduksi volume mencapai 71,23 %. Dosis paparan radiasi limbah sebelum diolah antara 0,54 1,10 µsv/jam dan setelah diolah dalam drum 200 Liter menjadi 0,12-0,48 µsv/jam, penurunan paparan radiasainya ratarata 79,5%. Densitas limbah secara keseluruhan setelah diolah adalah 2222,19 kg/m 3. Menurut Standar IAEA (ρ = 1700-2500 kg/m 3 ), densitas blok beton hasil pengolahan limbah HEPA filter telah memenuhi standar IAEA, sehingga dengan hasil tersebut sangat aman dan selamat dalam penyimpanannya di Interim Storage. DAFTAR PUSTAKA 1. Suhartono Preparasi dan Analisis Kandungan Radionuklida Limbah Radioaktif padat Proseding Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR 2009 2. Anonim Data Limbah HEPA filter Bidang Pengolahan Limbah-PTLR 2004 3. ANONIM Petunjuk Operasional Kompaksi, WSPG 320 USN 0501 4. Anonim Petunjuk Operasional Pembuatan slurry semen, WSPG320 USN 0502 5. Anonim Petunjuk Operasioanal Proses imobilsasi, WSPG 320 USN 0503 6. Eldsen, A.D. at all, A process for the Immobilization of a Radioactive Waste in Cement matrix, Proceding A Symposium Conditioning of Radioactive Waste for Storage and Disposal IAEA, Vienna (1983). 212 Pengolahan Limbah Radioaktif Hepafilter...