Please purchase PDFcamp Printer on to remove this watermark. BAB III. ELABORASI TEMA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN UMUM PROYEK

Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

PENDAHULUAN Latar Belakang

Pendidikan Dasar Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

BAB I PENDAHULUAN. i Solo B ru

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara. 1 Koentjaranigrat (seniman). Majalah Versus Vol 2 edisi Februari 2009

BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang Proyek

ENTERTAINMENT CENTER DI PURWODADI

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Presentase Jumlah Pecinta Seni di Medan. Jenis Kesenian yang Paling Sering Dilakukan Gol. Jumlah

BAB I PENDAHULUAN. olehnya. Bahkan kesenian menjadi warisan budaya yang terus berkembang dan maju.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2016 BANDUNG SPORTS CLUB

SEKOLAH TINGGI SENI TEATER JAKARTA

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 15 TAHUN 2016 TENTANG PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2013 TENTANG PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I.PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

BAB II TINJAUAN PROYEK

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

1. PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan suatu

BAB I PENDAHULUAN. :Bangunan untuk tempat tinggal. (

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. pilar yaitu, learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live

BAB I PENDAHULUAN. baru, maka keberadaan seni dan budaya dari masa ke masa juga mengalami

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Universitas Sumatera Utara BAB 1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB 3 METODE PERANCANGAN. berisi sebuah paparan deskriptif mengenai langkah-langkah dalam proses

Medan Convention and Exhibition Center 1 BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul merupakan aset yang paling berharga

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Nonformal merupakan jalur pendidikan di luar pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Yogyakarta sebagai Kota Pelajar Pendidikan non formal sebagai wadah aktifitas diluar sekolah

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Kasus Proyek

Medan Culinary Center Arsitektur Rekreatif

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang Masalah. Di era globalisasi ini, banyak orang bersaing untuk mendapatkan kehidupan yang semakin

STUDIO TUGAS AKHIR BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Service), serta media alam sebagai media pembelajaran dan tempat. school melalui penyediaan fasilitas yang mengacu pada aktivitas

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peranan Olahraga Terhadap Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PUSAT KECANTIKAN DI KUDUS

BAB I. : 1. Masa muda, 2. Kaum muda, 3. Remaja. : Tempat yang dianggap penting/pumpunan dari berbagai kedudukan/kegiatan sesuai dengan golongannya 2

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. ( diakses 2 Maret 2015) ( diakses 2 Maret 2015)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Propinsi Jawa Barat dengan Propinsi DKI Jakarta. Dengan letak yang berdekatan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

- 1 - WALIKOTA MADIUN PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG IZIN PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL

BAB I PENDAHULUAN. Jenjang Pendidikan Atlet Binaan

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

GELANGGANG REMAJA DI JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Perancangan Perpustakaan Umum dengan Pendekatan Arsitektur Hybrid

KEBIJAKAN DAN KOORDINASI KEGIATAN DIREKTORAT PEMBINAAN PENDIDIKAN MASYARAKAT TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pengembangan obyek wisata air bojongsari dengan penekanan filosofi air sebagai sarana mengembangkan kreativitas anak

1. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

Tengah berasal dari sebuah kota kecil yang banyak menyimpan peninggalan. situs-situs kepurbakalaan dalam bentuk bangunan-bangunan candi pada masa

BAB I PENDAHULUAN. pertama dituliskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. UKDW

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. sudah selayaknya kawasan-kawasan yang berbatasan dengan laut lebih menekankan

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 223/PMK.011/2014 TENTANG

BUPATI BANGKA PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

I.1 LATAR BELAKANG I.1.1

BAB VI KONSEP PERANCANGAN

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 98 TAHUN : 2009 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR TAHUN 2009 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu kegiatan penting dalam pembangunan.

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang

PERAN PENTING SAKA WIDYA BUDAYA BAKTI DALAM PENGEMBANGAN PROGRAM PAUD DAN PNFI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan bidang pendidikan dilakukan guna memperluas

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Wahana Wisata Biota Akuatik BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

P. S., 2016 PEMANFAATAN HASIL BELAJAR PADA PELATIHAN KETERAMPILAN MEKANIK OTOMOTIF

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

BAB III. ELABORASI TEMA III.1 pengertian tema Tema : EDUKASI dan REKREASI III.1.1 Edukasi Edukatif atau edukasi atau pendidikan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek - obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya. Namun Pendidikan sendiri terbagi atas 2 bagian yaitu pendidikan formal dan pendidikan non formal. Sedangkan konsep edukasi yang hendak diterapkan pada perancangan bangunan Cibaduyut Shoes Center ini adalah pendidikan yang non formal Pengertian edukasi non formal Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan

sepanjang hayat. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A, Paket B dan Paket C, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik seperti: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, dan lain sebagainya, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Satuan penyelenggara pendidikan non formal antara lain: Kelompok bermain (KB) Taman penitipan anak (TPA) Lembaga kursus Sanggar Lembaga pelatihan Kelompok belajar Pusat kegiatan belajar masyarakat Majelis taklim Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

III.1.2 Rekreasi Ada beberapa pendapat tentang rekreasi antara lain: - Aktifitas diwaktu senggang, terutama itujukan untuk kepuasan pribadi (Gold, 1980) - Penyegaran kembali kekuatan dan semangat setelah bekerja keras, berupa hiburan, permainan (William, 1958) - Kebutuhan manusia untuk memulihkan dan meningkatkan kondisi jasmani, rohani atau keduanyamelalui kegiatan yang dilakukan pada waktu luang serta memberikan kesenangan dan kepuasan bagi pelakunya (Doel, 1967) - Kegiatan diwaktu luang,termasuk kegiatan olahraga, menikmati pemandangan informal dan juga kesenian (Dixei, 1974). - Segala pemuasan yang dilakukan dalam waktu senggang yang berbeda dengan kegiatan sehari-hari (Baud Bovy, 1977). - Partisipasi kedalam aktifitas yang dirasakan sebagai rekreasi oleh pelaku, dan merupakan pengalaman yang berupa psiko-fisiologis. Merupakan pilihan sendiri dilakukan dalam waktu luang dan tidak terpaksa (Van Doren, 1979). Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya rekreasi merupakan satu aktifitas diluar mencari nafkah yang berbeda dengan kegiatan sehari-hari dalam arti hanya dilakukan sesekali. Aktifitas ini merupakan kegiatan yang mwenggembirakan pelakunya serta berkaitan dngan tersedianya waktu luang.

III.1.3 Tujuan Rekreasi jika ditinjau lebih jauh maka rekreasi terdapat tujuan-tujuan lain yang lebih bermakna dibandingkan sekedar mengisi waktu luang. Tujuan tersebut antara lain: - Menciptakan dan membina hubungan antar manusia. - Mengenal dan mempertahankan kelestarian lingkungan hidup. - Membina, memngembangkan dan mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa. - Membentuk kepribadian. - Mendapatkan kesenangan dan kepuasan. - Memupuk dan mengembangkan ketrampilan dan kreatifitas. - Memulihkan dan meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani. III. 1. 4 Jenis kegiatan rekreasi Berdasarkan bentuknya, kegiatan rekreasi secara umum dapat dibedakan menjadi rekreasi aktif dan rekreasi pasif. Pada rekreasi aktif, pelaku terlibat langsung dengan obyek rekreasi, misalnya mendaki gunung, bertamasya ditepi pantai atau bermain tenis. Sedangkan pada rekreasi pasif, keterlibatan langsung ini tidak terjadi. Pelaku menikmati kegiatan-kegiatan tersebut secara pasif, misalnya dengan menonton pertunjukan, mengunjungi galeri atau museum atau sekedar jalanjalan, dan window shopping. Pada rekreasi pasif unsur hiburan lebih menonjol. Disini ada pihak yang menghibur dan dihibur. Sedangkan berdasarkan sifatnya, pengalamanrekreasi bisa didapatkan dari berbagai macam kegiatan (Gold, 1982). yaitu: - Rekreasi fisik Pengalaman rekreasi didapat dari aktifitas fisik, misalnya berolah raga dan bermain.

- Rekreasi sosial Termasuk didalamnya interaksi sosial sebagai pengalaman utama aktifitas. - Rekreasi kognitif Antara lain berupa aktifitas budaya, pendidikan. - Rekreasi lingkungan Menggunakan sumber daya alam seperti pohon, pemandangan, sebagai fokus kegiatan. III.1.5 Kebutuhan rekreasi Kebutuhan rekreasi pada masyarakat berbeda-beda. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor tingkat usia. Pada masing-masing tingkat usia arti rekreasi itu sendiri berbeda-beda, demikian pula cara mereka memenuhi kebutuhan mereka tersebut. Misalnya pada: 1. Anak-anak Anak-anak memperoleh kegembiraan hanya dengan mengaktifkan tubuhnya. Rekreasi bagi anak-anak adalah bermain. Dengan bermain ia dapat melepaskan diri dari ketegangan fisik. Rekreasi yang bersifat aktif ini akan dapat menolong anak-anak tumbuh dan mengembangkan kematangannya dan melalui sarana bermain sang anak akan menyadari kemampuan dan juga keterbatasannya. 2. Remaja Bagi remaja rekreasi merupakan kegiatan dimana mereka dapat menemukan dinamika, mengembangkan kreatifitas, kehidupan yang penuh petualangan dan semangat. Mereka tertarik pada aktifitas fisik seperti olah raga, seni maupun sosial.

3. Dewasa Dibandingkan dengan remaja atau anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, kaum dewasa cenderung tidak aktif. Semakin bertambahnya usia, mereka lebih suka menyalurkan kepuasan rekreasi melalui program-program televise, bioskop, buku-buku dan majalah. Jenis-jenis rekreasi yang mereka minati umumnya lebih bersifat pasif berupa hiburan. Untuk memenuhi kebutuhan rekreasi, ada beberapa hal yang diperlukan tergantung pada orientasinya. Misalnya untuk rekreasi yang berhubungan dengan pemakaian sumber-sumber alam, misalnya pantai dan pegunungan, maka kepuasan yang didapat tergantung pada kualitas tempat tersebut serta kemudahan pencapaiannya. Sedangkan untuk rekreasi yang membutuhkan sarana. Maka tingkat kepuasan tergantung pada kelengkapan sarana tersebut. ada pula rekreasi yang kepuasannya tidak tergantung pada lokasi maupun kelengkapan fasilitas, melainkan pada efektifitas pengguna waktu luang tersebut. III.1.6 Fasilitas Rekreasi fasilitas rekreasi merupakan pengolahan lingkungan menjadi sarana untuk mewadahi kegiatan rekreasi bagi masyarakat. dengan adanya sarana ini diharapkan kebutuhan rekreasi akan terpenuhi dan masyarakat akan mendapatkan kepuasan. Jika kita lihat sebelumnya ada beberapa orientasi cara pemenuhan kebutuhan rekreasi, yaitu dengan menekankan pada lokasi, aktifitas atau pemanfaatan waktu luang. sehingga fasilitas rekreasi pun bisa dalam bentuk : - Sumber - sumber alam, seperti pantai, gunung. - Fasilitas fisik, seperti gelanggang olah raga. - Tempat - tempat pertunjukan, arena apresiasi atau hiburan.

ada pula yang membedakan fasilitas rekreasi dalam bentuk : - Usaha rekreasi yang bertitik tolak pada pengertian outdoor recreation. - Hiburan umum dapat interpretasikan sebagai indoor recreation atau inentertainment. III. 2 Interpretasi Tema Tema : Edukasi dan rekreasi Maksud penerapan tema edukasi dan rekreasi pada perancangan Cibaduyut Shoes Center disini dimaksudkan agar perancangan ini dapat mewadahi suatu kegiatan rekreasi berupa kegiatan berbelanja produk - produk kulit khas Cibaduyut misalnya sepatu, jaket, tas dan lain-lain yang dikemas dengan konsep edukasi. Tujuannnya adalah untuk menambah minat dan daya tarik pengunjung terhadap produk produk yang diproduksi di lokasi ini. Penerapan konsep edukasi rekreasi di dalam perancangan ini terdapat pada, penerapan gubahan massa bangunan, konsep gubahan massa yang menampilkan proses aktifitas yang terjadi didalam bangunan jika dilihat dari luar bangunan, fungsi fungsi bangunan yang mewadahi aktifitas edukasi dan rekreasi serta penerapan konsep perancangan yang mengacu pada tema yang diangkat. Penerapan tema pada massa bangunan : Edukasi : - Museum. - Gallery Eksibisi. - Unit pelatihan. - Rekreasi : - Retail besar.

- Retail sedang. - Retail kecil. - Café dan food court sebagai pendukung. - Penerapan tema pada bentukan massa bangunan. - Penerapan tema dari material bahan bangunan yang dipakai. - Bukaan-bukaan pada massa bangunan. - Jalur jalur sirkulasi. - Ruang terbuka yang mewadahi aktifitas rekreasi maupun edukasi. Berdasarkan Tipologi Bangunan Rekreasi Aktif Komersil di Jakarta menurut Linda Y, bahwa karakter Bangunan Rekreasi adalah : KRITERIA BAGIAN UTAMA KETERANGAN 1. Pengolahan tapak A. Pemilihan tema Umumnya denga pemanfaatan potensi tapak dan di sesuaikan pada perkembangan wadah rekreasi tiap kurun waktu. B. Pola Sirkulasi Menuntut DINAMIS dengan mengkombinasikan pola-pola yang ada dan menuntut adanya suatu aliran, sehingga memberikan pengarahan yang jelas bagi pengunjung. 2. Pengolahan Bangunan A. Pemilihan tema Wadah rekreasi menjadi wadah imajinasi bentuk arsitektur yang

sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar tapak B. Pengolahan Ruang Menciptakan ruang-ruang intim, santai dan sesuai dengan sifat rekreasi. C. Kegiatan Penerapan pada pengolahan ruang yang sesuai hirarkinya (utama, pendukung) D. Bentuk Ruang DINAMIS, pengunjung merasa nyaman dan informasi, yang menghilangkan rasa tegang dan formil dalam kegiatan rutin. E. Penyediaan Fasilitas dan Kegiatan Selalu mengalami pembaharuan dengan memperhatikan keunikan dan imajinasi yang berkaitan dengan tema wadah rekreasinya. 3. Penggunaan Teknologi a. Peralatan b.bahan Bangunan c. Struktur dan Konstruksi