BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Kepercayaan Kata trust berasal dari bahasa Jerman trost (Shaw, 1997) yang berarti kenyamanan (comfort). Seseorang akan memberikan rasa percaya kepada orang yang layak untuk mendapatkan kepercayaan. Dalam suatu hubungan, ikatan dan interaksi diperlukan adanya kepercayaan. Berikut beberapa pengertian dari kepercayaan : a. Kepercayaan adalah bagian psikologis dari keadaan pasrah untuk menerima kekurangan berdasarkan harapan positif dan niat atau perilaku orang lain (Lendra, 2004). b. Kepercayaan adalah bagian psikologis terdiri dari keadaan pasrah untuk menerima kekurangan berdasarkan harapan positif dari niat atau perilaku orang lain (Rousseau et al, 1998). c. Kepercayaan adalah derajat dimana seseorang yang percaya menaruh sikap positif terhadap keinginan baik dan keandalan orang lain yang dipercayanya didalam situasi yang berubah ubah dan beresiko (Das & Teng, 1998). 8
Jadi kepercayaan adalah suatu keyakinan yang ditujukan kepada seseorang atau suatu kelompok tentang kata, janji, laporan, atau argumen tertulis dari individu atau kelompok lain yang dapat dipertanggungjawabkan. 2.2 Persalinan Persalinan adalah proses pengeluaran janin dan plasenta yang berumur cukup bulan (Prawirohardjo, 2009). Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks, dan turunnya janin ke dalam jalan lahir serta lahirnya plasenta. Kelahiran adalah proses janin dan ketuban didorong ke luar melalui jalan lahir (Abdul Bari, 2002: 100). Pengertian persalinan adalah proses bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan yang cukup bulan antara 37-40 minggu (JNPK-KN, 2008). 2.3 Penolong Persalinan Penolong persalinan adalah orang-orang yang yang memiliki keahlian dan mampu memberikan pertolongan selama persalinan dan nifas (Prawirohardjo, 2007). Ada dua jenis yaitu tenaga kesehatan (yang memiliki kemampuan 9
untuk menolong persalinan dari pendidikan formal seperti dokter spesialis, kebidanan, ginekologi, dokter umum dan perawat) dan bukan tenaga kesehatan, (dukun bayi yang terlatih dan tidak terlatih) (Prawirohardjo, 2009). Menurut Green (1980) untuk mengamati perilaku ibu dalam pemilihan penolong persalinan oleh perawat pria atau dokter muda pria, dapat dilihat dari 3 faktor yang mempengaruhinya. 1. Predisposing factor seperti; pendidikan dan tingkat pengetahuan tentang persalinan di rumah sakit. 2. Enabling factor seperti: penyebaran bidan desa PTT sampai ke daerah terpencil. 3. Reinforcing factor seperti: kepercayaan yang dianut selama proses kehamilan. 2.4 Jenis Persalinan 2.4.1 Menurut cara persalinan Menurut Harianto, 2010, jenis persalinan terbagi : a. Partus biasa (normal) disebut juga partus spontan adalah proses lahirnya bayi per vagina dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alatalat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam. 10
b. Partus luar biasa (abnormal): ialah partus persalinan per vagina dengan bantuan alat-alat atau melalui dinding perut dengan operasi caesarea. 2.4.2 Menurut tua atau umur kehamilan Menurut Harianto, 2010 : a. Abortus (keguguran) adalah terhentinya kehamilan sebelum janin dapat hidup (viable), berat janin dibawah 1000 gram, usia kehamilan di bawah 28 minggu. b. Partus prematurus adalah persalinan dengan hasil konsepsi pada kehamilan 28-36 minggu, janin dapat hidup tetapi prematur, berat janin di atas 1000-2500 gram. c. Partus maturus atau aterm (cukup bulan) adalah partus pada kehamilan 37-40 minggu, janin matur, berat badan di atas 2500 gram. d. Partus postmaturus (serotunis) adalah persalinan yang terjadi lebih dari waktu partus yang ditaksir. Janin pada kehamilan ini disebut postmatur. 11
2.4.3 Partus Jenis Lainnya Menurut Harianto, 2010 Partus presipatatus adalah partus yang dapat terjadi di perjalanan menuju tempat persalinan atau berlangsung cepat misalnya di kamar mandi, becak, dsb. Partus percobaan adalah suatu penilaian kemajuan persalinan untuk memperoleh bukti tentang ada atau tidaknya disporposi sefalopelfik. 2.4.4 Fisiologi Persalinan Menurut Prawirohardjo, 2009 persalinan normal berlangsung dalam 4 kala yaitu : a. Kala I, yaitu saat servik membuka sampai pembukaan 10 cm yang (kala pembukaan). b. Kala 2, yaitu berkat kekuatan His dan tenaga mengedan ibu serta dorongan penolong, maka janin didorong keluar sampai lahir (kala pengeluaran). c. Kala 3, yaitu terlepasnya plasenta dari dinding uterus dan dilahirkan (kala ari). d. Kala 4, mulai dari plasenta lahir sampai 2 jam post partum. 12
2.4.5 Sebab- sebab yang menimbulkan persalinan Apa yang menyebabkan persalinan belum diketahui benar. Mekemukakan faktor-faktor hormonal, struktur rahim, sirkulasi rahim, pengaruh tekanan pada syaraf dan nutrisi. Wiknjasastro, 2006 menjelaskan terori sebagai berikut : a. Teori penurunan hormon. Penurunan kadar progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot Rahim. Sebaliknya estrogen meningkatkan kontraksi otot rahim. Selama kehamilan, terdapat keseimbangan antara kadar progesteron dan estrogen di dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesteron menurun sehingga timbul his. b. Teori plasenta menjadi tua. Menuanya plasenta akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesterone yang menyebabkan kejang pembuluh darah. Hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim. c. Teori distensi rahim. Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan ischemia otot-otot rahim, sehingga mengganggu sirkulasi uteroplasental. Maka makin tereganglah otot-otot 13
rahim sehingga timbulah kontraksi untuk mengeluarkan janin d. Teori iritasi mekanik. Di belakang servik terletak ganglion servikalis (pleksus Frankenhauser). Bila ganglion ini ditekan misalnya oleh kepala janin, akan menimbulkan kontraksi uterus. e. Induksi partus (induction of labour). Partus dapat pula ditimbulkan dengan jalan: 1) Memasukan gagang laminaria. Beberapa laminaria dimasukkan dalam kanalis servikalis dengan tujuan merangsang pleksus Frankenhauser. 2) Amniotomi: memecahkan ketuban. 3) Oksitosin drips: pemberian oksitosin melalui tetesan perinfus. 2.4.6 Tanda-tanda Permulaan Persalinan Menurut Varney, (2007) tanda-tanda persalinan adalah : a. Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida. Pada multipara tidak begitu kentara. 14
b. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri lebih turun. c. Perasaan sering atau susah kencing (polakisuria) karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin. d. Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksi lemah dari uterus, kadangkadang disebut False Labor Pains. e. Servik menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah sehingga bercampur darah ( bloody show). 2.4.7 Tanda-tanda Inpartu Menurut Varney, 2007, tanda-tanda inpartu adalah : a. Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering, teratur dan lama. b. Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks. c. Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya. d. Pada pemeriksaan dalam, servik mendatar, pembukaan telah terjadi. 15
Faktor-faktor yang berperan dalam persalinan adalah : a. Kekuatan yang mendorong janin keluar (power) 1) His (kontraksi uterus) 2) Kontraksi otot-otot dinding perut 3) Kontraksi diagfragma 4) Ligamentous action terutama ligament rotundum. b. Faktor Janin c. Faktor jalan lahir. 2.4.8 Mekanisme Persalinan Menurut Varney, 2007 mekanisme persalinan adalah a. Persalinan kala I Kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap atau pembukaan 10. Pada permulaan his, kala pembukaan berlangsung tidak begitu kuat sehingga parturien masih dapat berjalan-jalan dan tidak merasakan nyeri yang hebat. Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung sekitar 12 jam sedangkan multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan kurve 16
Friedman, diperhitungkan pembukaan primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm/jam. Dengan perhitungan tersebut maka waktu pembukaan lengkap dapat diperkirakan. Kala I terdiri dari dua fase: 1. Fase laten: pembukaan servik berlangsung lambat, pembukaan 0-3 cm berlangsung 7 sampai 8 jam. 2. Fase aktif : berlangsung selama 6 jam dan dibagi dalam 3 subfase. a) Akselerasi berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm. b) Dilatasi maksimal: selama 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm. c) Deselerasi: berlangsung lambat dalam waktu 2 jam menjadi 10 cm atau lengkap. b. Kala II atau kala pengusiran. Gejala utama kala II (pengusiran) adalah 1. His semakin kuat dengan interval 2 sampai 3 menit, dengan durasi 50 sampai 100 detik. 17
2. Menjelang akhir kala I, ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran cairan secara mendadak. 3. Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan mengejan, karena tertekannya Pleksus Frakenhouser. 4. Kekuatan, his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga terjadi: a) Kepala membuka pintu b) Subocciput bertindak sebagai hipomoglion, berturut-turut lahir ubunubun besar, dahi, hidung dan muka, dan kepala seluruhnya. 5. Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putar paksi luar, yaitu penyesuaian kepala dan punggung. 6. Setelah putar paksi luar berlangsung, maka persalinan pun ditolong. 7. Lamanya kala II untuk primigravida 50 menit dan multigravida 30 menit. 18
c. Kala III (pelepasan uri) Setelah kala II, kontraksi uterus berhenti sekitar 5 sampai 10 menit. Dengan lahirnya bayi, sudah mulai pelepasan plasenta pada lapisan Nitabusch, karena sifat retraksi otot rahim. Melahirkan plasenta dilakukan dengan dorongan ringan secara Crede pada fundus uteri. d. Kala IV (observasi) Kala IV dilakukan untuk melakukan observasi karena perdarahan postpartum sering terjadi pada 2 jam pertama. 2.5 Faktor yang mempengaruhi tingkat kepercayaan dalam memilih penolong persalinan 2.5.1 Umur Umur adalah masa hidup seseorang dihitung mulai saat lahir hingga pada saat dihitung untuk satu tujuan tertentu (Kamus Bahasa Indonesia Milenium, 2002). Umur adalah lamanya seseorang hidup mulai sejak lahir sampai ulang tahunnya yang terakhir (Prawiroharjo, 2007). Umur adalah indeks yang menempatkan individu-individu dalam urutan perkembangan. Usia 19
yang baik untuk usia kehamilan dan persalinan antara umur 20-35 tahun, ini disebut juga dengan usia reproduksi sehat. Wanita yang melahirkan di bawah usia 20 tahun atau lebih dari 35 tahun akan mempunyai resiko yang tinggi baik pada ibu maupun bayi (Rustam Mochtar, 2008). Menurut para ahli, usia dan fisik wanita berpengaruh terhadap proses kehamilan pertama, pada kesehatan janin dan proses persalinan. WHO memberikan rekomendasi usia yang aman untuk menjalani kehamilan dan persalinan adalah 20 sampai 30 tahun, tapi mengingat kemajuan teknologi saat ini sampai usia 35 tahun masih dibolehkan untuk hamil (WHO, 2012). 2.5.2 Tingkat Pendidikan Pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengembangkan kepribadian, kemampuan dan keahlian di dalam dan di luar sekolah yang berlangsung seumur hidup. Makin tinggi pendidikan seseorang, makin tinggi pula kesadarannya tentang hak yang dimilikinya. Kondisi ini akan meningkatkan tuntutan terhadap hak untuk 20
memperoleh informasi, hak untuk menolak/menerima dan hak untuk memilih pengobatan yang ditawarkan (Notoatmodjo, 2007). Menurut Kuncoroningrat (1997), makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin mudah seseorang tersebut menerima informasi sehingga makin banyak pula tingkat pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan. Pendidikan dapat mempengaruhi intelektual seseorang dalam memutuskan dan menentukan hal hal yang diinginkan dan tidak diinginkan, termasuk menentukan penolong persalinan. Pendidikan ibu yang kurang menyebabkan daya intelektualnya juga masih terbatas sehingga perilakunya sangat dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya ataupun perilaku kerabat lainnya atau orang yang dituakan (Depdiknas, 2007). Penelitian Bangsu (1998) menunjukkan bahwa pendidikan ibu merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap pemilihan tenaga penolong persalinan. 21
2.5.3 Tingkat Pengetahuan Tingkat pengetahuan merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam rangka perubahan pola pikir dan perilaku suatu kelompok dan masyarakat. Tingkat pengetahuan ini terkait dengan lingkungan dimana mereka berada. Keadaan lingkungan sekitar sedikit banyaknya akan mempengaruhi tingkat pengetahuan, dalam hal ini tingkat pengetahuan mengenai kehamilan dan persalinan. Disamping itu keterpaparan dengan media komunikasi akan mempengaruhi kadar tingkat pengetahuannya (Suprapto, 2007). Menurut Notoadmodjo (2003), tingkat pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia. Tingkat pengetahuan ini merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Tingkat tingkat pengetahuan didalam kognitif mempunyai 6 tingkatan, yakni : 22
Pertama, tahu/know yaitu sebagai mengingat suatu metode yang telah dipelajari sebelumnya. Kedua memahami/comprehension yaitu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui. Ketiga aplikasi/ application yaitu sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebelumnya. Keempat analisis/anaysis yaitu suatu kemampuan untuk menjabarkan materi ke dalam komponenkomponen dan tetap berkaitan. Kelima sintesis/syntesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Keenam evaluasi/aplikasi adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. 2.5.4 Persepsi Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003), persepsi adalah proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Robbins (2003), menyatakan persepsi didefinisikan sebagai proses yang ditempuh individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera 23
mereka supaya dapat memberikan arti kepada lingkungan mereka. Menurut Kotler (2000), persepsi adalah proses yang dipakai seseorang untuk memilih mengorganisasikan serta menginterpretasikan informasi guna menciptakan gambaran yang memiliki arti dan persepsi tidak tergantung pada rangsangan fisik tetapi juga tergantung pada lingkungan sekitar dan keadaan individu tersebut. Banyak ibu masih berpikir kalau penolong persalinan yang dapat diandalkan adalah bidan dan dokter. Hal ini jugalah yang membuat ibu memiliki banyak pertimbangan dalam memilih penolong persalinan. Selain itu saat ini banyak sekali sumbersumber informasi yang mempengaruhi ibu dalam pertimbangan memilih penolong persalinan (Yenita, 2011). Tiga proses persepsi (Robbins, 2003): a. Perhatian selektif; seorang tidak mungkin dapat menanggapi semua rangsangan karena itu rangsangan yang masuk akan disaring. b. Distorsi selektif; kecenderungan seseorang untuk mengubah informasi menjadi bermakna secara 24
pribadi dan menginterpretasikan informasi itu dengan cara yang akan mendukung mereka. c. Ingatan/retensi selektif: orang cenderung untuk mengingat hal-hal yang baik tentang produk yang disukai. Robbins (2003) mendeskripsikan persepsi dalam kaitannya dengan lingkungan, yaitu sebagai proses individu-individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka. Disamping itu persepsi merupakan proses individu mengatur dan menginterprestasi informasi sensoris, untuk memberikan makna kepada lingkungannya. Meskipun begitu, obyek yang dipersepsikan seseorang dapat berbeda secara substansial dengan kenyataan yang obyektif (Robin, 2006). Beberapa individu dapat melihat yang sama, namun mempersepsinya secara berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh adanya sejumlah faktor yang membentuk dan kadangkala mendistorsi persepsi. Faktor-faktor ini terdapat pada 3 unsur yaitu: pada individu yang mempersepsi (perceiver), pada obyek 25
atau target yang dipersepsi, dan pada konteks situasi dimana persepsi dibuat (Robin, 2006). Dalam teori Health Believe Model persepsi individu sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan, antara lain: a. Persepsi risiko (Percieved susceptibility) Persepsi tentang risiko adalah penilaian individu tentang kondisi dirinya untuk mendapatkan risiko atau seseorang percaya bahwa kondisi kesehatannya dalam bahaya (Maiman, 1987). Sedangkan menurut Mullen (1997) persepsi tentang risiko adalah penilaian individu tentang kondisinya untuk mendapatkn risiko (Wright, 1998). Kehamilan merupakan proses reproduksi yang normal, tetapi perlu perawatan diri yang khusus agar ibu dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang normal pun mempunyai risiko kehamilan dan persalinan, namun tidak secara langsung meningkatkan risiko kematian ibu. Keadaan-keadaan tersebut dinamakan faktor risiko. Semakin banyak ditemukan faktor risiko pada seorang ibu hamil, maka semakin tinggi risiko kehamilannya (Azwar, 2006). 26
Agar seseorang bertindak untuk mengobati atau mencegah penyakitnya, ia harus merasakan bahwa ia rentan (susceptible) terhadap penyakit tersebut. Dengan kata lain, suatu tindakan pencegahan terhadap suatu penyakit akan timbul bila seseorang telah merasakan bahwa ia atau keluarganya rentan terhadap panyakit tersebut (Notoatmodjo, 2007). b. Persepsi ancaman (Percieved serieusness) Persepsi tentang ancaman adalah penilaian individu tentang keseriusan kondisinya dan konsekwensi potensi (Maiman, 1987). Sedangkan menurut Mullen (1997) persepsi tentang risiko adalah keyakinan individu tentang bahaya yang akan diterimanya bila tidak melakukan tindakan kesehatan tertentu adalah besar (Maiman, 1997). Keseriusan yang dirasakan mengacu pada keyakinan seseorang mengenai efek suatu penyakit tertentu. Efek ini dapat dianggap dari sudut pandang kesulitan-kesulitan yang akan menimbulkan suatu masalah. Misalnya, rasa sakit dan ketidaknyamanan, kehilangan waktu kerja, beban keuangan, kesulitan dengan keluarga, hubungan, dan kerentanan terhadap kondisi masa depan (Kreuter, 1999) 27
Tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas adalah gejala yang menunjukkan ibu dan bayi yang dikandungannya dalam keadaan bahaya. Bila ada tanda bahaya, ibu segera dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapat pertolongan (Azwar, 2006). Tindakan individu untuk mencari pengobatan dan pencegahan penyakit akan didorong oleh keseriusan panyakit tersebut atau ancaman yang dilihat mengenai gejala dan penyakit terhadap individu atau masyarakat (Notoatmodjo, 2007). Dengan demikian bila ibu hamil merasakan ada ancaman keselamatan terhadap dirinya dan bayinya maka ibu akan mencari petugas kesehatan untuk menolong persalinannya. c. Persepsi manfaat (Percieved benafid and bariers) Persepsi tentang manfaat adalah keyakinan seseorang bahwa manfaat dari perilaku yang direkomendasikan lebih besar dari segala hambatan (Maiman, 1997). Manfaat yang dirasakan berhubungan dengan persepsi seseorang tentang kemanjuran dari suatu tindakan disarankan untuk mengurangi risiko. Juga bisa berhubungan dengan persepsi keseriusan situasi, 28
misalnya bahaya yang mungkin berasal dari penolong persalinan (Glanz 1997). Apabila individu merasa dirinya rentan untuk masalah kesehatan yang dianggap gawat (serius), ia akan melakukan suatu tindakan tertentu. Tindakan ini akan tergantung pada manfaat yang dirasakan dan rintangan-rintangan yang ditemukan dalam mengambil tindakan tersebut. Pada umumnya manfaat tindakan lebih menentukan daripada rintanganrintangan yang mungkin ditemukan didalam melakukan tindakan tersebut (Notoatmodjo, 2007). Bila seorang ibu hamil yakin akan manfaat persalinan dengan tenaga kesehatan, maka ibu tersebut akan memilih petugas kesehatan untuk penolong persalinannya walaupun ada hambatan-hambatan yang dihadapinya. 29
2.6 Kerangka Konsep Berdasarkan tinjauan teori, maka kerangka konsep penelitian ini seperti pada gambar Faktor yang mempengaruhi tingkat kepercayaan ibu Umur Pendidikan Tingkat pengetahuan Persepsi Paritas Budaya Ekonomi kepercayaan ibu pada pria sebagai penolong persalinan Keterangan Diteliti tidak di teliti 2.7 Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini terdiri dari hipotesis mayor dan minor 2.7.1 Hipotesis Mayor Ada hubungan antara umur, pendidikan, tingkat pengetahuan dan persepsi ibu dengan kepercayaan pada penolong pria. 30
2.7.2 Hipotesis Minor a. Ada hubungan antara umur dengan tingkat kepercayaan ibu. b. Ada hubungan antara pendidikan dengan tingkat kepercayaan ibu. c. Ada hubungan antara tingkat tingkat pengetahuan dengan tingkat kepercayaan ibu. d. Ada hubungan antara persepsi dengan tingkat kepercayaan ibu. 31