PEGAWAI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

dokumen-dokumen yang mirip
PEGAWAI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR : PER-06/M.

SE - 74/PJ/2010 PENGAMANAN DATA, INFORMASI, DAN/ATAU DOKUMEN NON ELEKTRONIK MILIK DIREKTORAT JENDERA

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KODE ETIK ANGGOTA KOMISI PARIPURNA DAN ANGGOTA BADAN PEKERJA KOMISI NASIONAL ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN

BAB 3 OBJEK PENELITIAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN I SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-69/PJ/2015

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE - 42/PJ/2017 TENTANG

TAHAPAN PERSIAPAN KONFIRMASI STATUS WAJIB PAJAK

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : 01/PM.9/2010 TENTANG

PERATURAN DIRJEN PENDIDIKAN ISLAM KEMENTERIAN AGAMA NOMOR: DJ.I/814/2010 TENTANG

BAB III METODE PENULISAN. Data yang diperlukan dalam penelitian diperoleh dengan teknik-teknik

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

2 2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB III OBJEK DAN DESAIN PENELITIAN. III.1.1. Gambaran Umum KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Dua

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE - 43/PJ/2017 TENTANG

SALINAN PERATURAN SEKRETARIS KABINET REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/RB TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI SEKRETARIAT KABINET REPUBLIK INDONESIA

K E P U T U S A N KETUA SEKOLAH TINGGI AGAMA BUDDHA NEGERI SRIWIJAYA TANGERANG BANTEN NOMOR: Stb.01/SK/ 024 /2013 TENTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 /PM.4/2008 TENTANG

2017, No ); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republ

PERATURAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KOTA PONTIANAK NOMOR: 51/KEP/2011 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI DI LINGKUNGAN DINAS PENDIDIKAN KOTA PONTIANAK

PENUNJUKAN BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG/PEMUNGUT PAJAK PAJAK NEGARA BAB I

LEMBARAN NEGARA PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36/PERMEN-KP/2017 TENTANG KODE ETIK PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PERIKANAN

2011, No Peraturan Presiden Nomor 90 Tahun 2007 tentang Badan Koordinasi Penanaman Modal; 4. Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Moda

BAB II GAMBARAN UMUM KPP PRATAMA MEDAN BELAWAN. A. Sejarah Singkat KPP Pratama Medan Belawan

WALIKOTA BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR

PROSEDUR PENYELESAIAN PERMOHONAN SKB PPN BKP STRATEGIS. 1. Prosedur ini menguraikan tata cara penyelesaian permohonan SKB PPN BKP strategis di KPP.

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Sejarah Kantor Pelayanan Pajak Pratama Soreang. Pajak Bumi dan Bangunan Bandung Tiga. Namun sehubungan dengan

BAB III ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. A. Gambaran Umum Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Jateng II Kota

PEDOMAN PENGENDALIAN GRATIFIKASI

BAB III OBYEK PENELITIAN. III.1.1. Sejarah Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kalideres

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA INSPEKTORAT JENDERAL. PERATURANINSPEKTURJENDERAL NOMOR PER- 03 fij/2011

UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK LOKASI PKLM. A. Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Kota

PERATURAN SEKRETARIS JENDERAL DEWAN ENERGI NASIONAL NOMOR : 001 K/70.RB/SJD/2011 TENTANG

BAB III GAMBARAN DATA TENTANG TATA CARA PENGHAPUSAN NPWP DAN PENCABUTAN PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK PADA KPP PRATAMA BINJAI

BENTURAN KEPENTINGAN (CONFLICT OF INTEREST) PELAKSANA SEKRETARIAT TETAP BAPERTARUM-PNS

2 perpajakan yang terkait dengan Bea Meterai telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai; e. bahwa ketentuan mengenai tin

PEMBERIAN GRATIFIKASI KEPADA PIHAK KETIGA

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PENGAWASAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP. 125/DJ-PSDKP/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 141/PMK.03/2016 TENTANG

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 25/PER/M.KOMINFO/12/2011 TENTANG

2016, No Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesi

REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : Tahun 2011 TENTANG

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERIKANAN

PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-16.KP TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI PEMASYARAKATAN

2011, No Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI. 2.1 Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Sumedang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 545/KMK.04/2000 TENTANG TATA CARA PEMERIKSAAN PAJAK MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

BAB II DESKRIPSI KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA JAKARTA SAWAH BESAR DUA

PENGANTAR PERPAJAKAN BENDAHARA

PEMBERIAN DAN PENERIMAAN HADIAH

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 82 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENGENDALIAN GRATIFIKASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA

PEMERINTAH KABUPATEN KEBUMEN I N S P E K T O R A T Jl. Arungbinang Nomor 16 Telp: (0287) , Kebumen 54311

2016, No sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang P

GUBERNUR JAWA BARAT PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 47 TAHUN 2017 TENTANG

BAB IV PEMBAHASAN. penerimaan pajak. Dalam meningkatkan penerimaan negara tersebut. Undang-undang, dan reformasi perpajakan.

Indonesia Tahun 2010 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5135); 5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.1

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR - 44 /PJ/2008 TENTANG

BAB II LANDASAN TEORI. pajak, diantaranya pengertian pajak yang dikemukakan oleh Prof. Dr. P. J. A. Adriani

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 34 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PEMERIKSAAN PAJAK DAERAH

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 118/PMK.03/2016 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA,

Daftar Pertanyaaan Wawancara dan Jawaban: Pajak dan intensifikasi pajak Orang Pribadi khususnya pada KPP Jakarta Tanah

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 239/PMK.03/2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 239/PMK.03/2014 TENTANG TATA CARA PEMERIKSAAN BUKTI PERMULAAN TINDAK PIDANA DI BIDANG PERPAJAKAN

PEDOMAN PENANGANAN GRATIFIKASI PT. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL, TBK

Administrative Policy Bahasa Indonesian translation from English original

BAGIAN 2 PENGERTIAN PEMBUKUAN/PENCATATAN

PEDOMAN PENGENDALIAN GRATIFIKASI

Definisi. SPT (Surat Pemberitahuan)

BAB III LATAR BELAKANG INSTITUSI. Besar/ Large Taxpayers Office (LTO) pada tahun 2002 yang diikuti peresmian

BAB III DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN. Sebelum diterapkannya sistem administrasi perpajakan modern, Kantor

Modul ke: Pertemuan 2. 02Fakultas EKONOMI. Perpajakan I. Program Studi AKUNTANSI

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR : / 4078 / 2015

SPT (Surat Pemberitahuan) Saiful Rahman Yuniarto

BAB II LANDASAN TEORI. berkaitan dengan hal tersebut yang terbagi menjadi 3 (tiga) bagian pokok yaitu

PERATURAN WALIKOTA PARIAMAN NOMOR 28 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PEMERIKSAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN I SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-20/PJ/2014 TENTANG

KEPUTUSAN SEKRETARIS MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 008-A/SEK/SK/1/2012 TENT ANG ATURAN PERILAKU PEGAWAI MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH TENTANG PEDOMAN PENGENDALIAN GRATIFIKASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA Sejarah Singkat Berdirinya Instansi. berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 55/PMK.

BAB 3 OBJEK DAN METODA PENELITIAN

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : PER - 24/PJ/2012 TENTANG

P E N A N G A N A N G R A T I F I K A S I. PT Jasa Marga (Persero) Tbk

ETIKA DALAM PRAKTIK PERPAJAKAN KELOMPOK 5 1. HERLIN RATNA PRATIWI 2. HERTI DIANA HUTAPEA

PENDAHULUAN BAB I. terus berupaya dalam memaksimalkan potensi pajak untuk memenuhi APBN

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme

Transkripsi:

Panduan Pelaksanaan Kode Etik PEGAWAI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

Panduan Larangan Pegawai

1 Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas. Setiap Pegawai dilarang berlaku diskriminatif kepada WP, sesama pegawai ataupun pihak lain yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas. Tidak berlaku diskriminatif berarti tidak memihak atau tidak membedakan seseorang berdasarkan hubungan kekerabatan, suku, agama, golongan, jabatan, jender, status ekonomi, atau kriteria lainnya. 2 Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik. a. Pegawai mempunyai hak untuk memilih dan menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Umum (Pemilu) dan atau Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Dalam rangka menjaga independensi dan netralitas Pegawai, khususnya dalam pelaksanaan tugas pada saat melayani WP, sesama Pegawai, maupun pihak lain, Pegawai DJP tidak diperkenankan untuk menjadi anggota dan atau simpatisan aktif partai politik. b. Dengan tidak menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik, Pegawai diharapkan dapat bersikap netral dan objektif dalam membuat keputusan dalam pelaksanaan tugas. c. Pegawai tidak diperkenankan membawa, menggunakan dan menyebarluaskan atribut-atribut partai politik di lingkungan kantor. A adalah pegawai pada KPP XYZ. Pada saat masa Pemilu berlangsung, A secara aktif ikut serta dalam kampanye salah satu partai politik serta menyebarluaskan atribut partai politik di lingkungan kantor. Perbuatan A tersebut telah melanggar Kode Etik. 19

3 Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung. Setiap Pegawai pada hakikatnya memiliki jabatan dan atau kewenangan tertentu. Pegawai harus menjaga perilakunya dengan tidak menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung untuk kepentingan pribadi, WP, sesama Pegawai atau pihak lainnya. Penyalahgunaan kewenangan dapat terjadi dengan cara antara lain: a. mempergunakan jabatan untuk memaksakan suatu keputusan secara sepihak yang menguntungkan pribadi, misalnya melakukan intervensi proses pemeriksaan atau keberatan, sehingga keputusan yang dihasilkan menjadi tidak objektif; A adalah Kepala Bidang pada Kanwil XYZ. Sehubungan dengan pemeriksaan WP MN yang dilakukan oleh B, seorang Fungsional Pemeriksa Pajak pada KPP STU, A memaksa B untuk memperkecil nilai ketetapan pajak hasil pemeriksaan disebabkan WP MN merupakan kerabat A. Tindakan yang dilakukan A merupakan intervensi terhadap proses pemeriksaan. Disisi lain, tindakan B yang memperkecil nilai ketetapan pajak merupakan tindakan yang tidak objektif sehingga merugikan keuangan negara. b. mempergunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, misalnya dengan meminta diskon yang melebihi batas kewajaran kepada WP; 20

C adalah Kepala Subbagian Rumah Tangga Kanwil MNO. Sehubungan dengan tugas yang diembannya, C sering berhubungan dengan EF seorang rekanan penyedia alat tulis kantor (ATK). C berencana untuk membuka toko peralatan kantor. Untuk keperluan tersebut, C meminta EF untuk menjadi pemasok (supplier) tokonya dan meminta diskon yang melebihi kewajaran dengan alasan sebagai Kepala Subbagian Rumah Tangga, C telah banyak memberikan keuntungan kepada EF melalui pengadaan ATK. c. memberdayakan bawahan untuk melakukan urusan yang menguntungkan pribadi atasan. C adalah seorang Kepala Seksi Ekstensifikasi pada KPP JKL yang sedang melanjutkan kuliah. Dengan alasan banyaknya pekerjaan, C memerintahkan D, pelaksana pada Seksi Ekstensifikasi, untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah C. 4 Menyalahgunakan fasilitas kantor. Pegawai dilarang menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, pegawai lain atau pihak lainnya, antara lain: a. menggunakan telepon dan sambungan internet kantor untuk kepentingan pribadi; A adalah Kepala Seksi Penagihan pada KPP DEF yang 21

mempunyai usaha sampingan sebagai pemasok alat kesehatan. Untuk kelancaran usaha sampingan tersebut, A menggunakan telepon kantor untuk melakukan promosi dan atau menghubungi pelanggan. A juga memanfaatkan sambungan internet kantor untuk melakukan promosi atas produk yang dijualnya. b. menggunakan mesin fotokopi untuk kepentingan pribadi. B adalah pelaksana pada KPDJP yang sedang melanjutkan kuliah Strata 1. Untuk menghemat pengeluaran pribadi, B menggandakan materi atau buku referensi kuliah dengan menggunakan mesin fotokopi kantor. 5 Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun, baik langsung maupun tidak langsung, dari wajib pajak, sesama pegawai, atau pihak lain, yang menyebabkan pegawai yang menerima, patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya. 22

Pada prinsipnya, setiap pekerjaan yang dilakukan oleh Pegawai merupakan tanggung jawab Pegawai yang bersangkutan yang atas pelaksanaannya telah diberikan imbalan oleh negara. Dalam berinteraksi dengan WP, sesama Pegawai, maupun pihak lain, Pegawai tidak diperbolehkan mengambil manfaat untuk kepentingan pribadi maupun kantor dengan nama dan dalam bentuk apapun, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang menyebabkan pegawai tersebut patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya. Dugaan mengenai timbulnya kewajiban pegawai terhadap pihak-pihak yang telah memberikan imbalan tersebut, diukur berdasarkan persepsi antara lain rekan sekerja, atasan, bawahan, pemberi imbalan serta masyarakat. Pemberian kepada Pegawai dimungkinkan terjadi dalam interaksi sebagai berikut: a. Interaksi Pegawai dengan WP Pengertian WP tidak hanya terbatas pada WP yang menjadi kewenangan dari masing-masing unit kerja, melainkan seluruh WP yang diadministrasikan oleh DJP. Termasuk di dalam pengertian interaksi dengan WP adalah interaksi dengan Penanggung Pajak, konsultan pajak, pegawai WP, serta pihakpihak lain yang menurut ketentuan dapat menjadi wakil atau kuasa WP. Pegawai dilarang meminta atau memberi isyarat 23

yang mengesankan bahwa yang bersangkutan meminta atau mengharapkan sesuatu dari WP. 1) A adalah Fungsional Pemeriksa Pajak pada KPP PQR yang telah menyelesaikan proses restitusi PPN WP JK. Pada saat mengembalikan dokumen WP, A dilarang meminta atau memberikan isyarat yang mengesankan A meminta sejumlah imbalan tertentu kepada WP. 2) B adalah AR pada KPP XYZ. Atas permohonan WP CD yang menjadi tanggung jawabnya, B ditugaskan untuk memberikan penyuluhan kepada pegawai WP CD di salah satu cabang di luar kota. Atas kegiatan tersebut, WP CD merasa puas dengan pelayanan B dan memberikan ucapan terima kasih berupa imbalan dan kepadanya diberikan bukti pemotongan PPh Pasal 21. Dalam kasus ini, B tidak diperkenankan untuk menerima imbalan dari WP tersebut. Adapun biaya perjalanan maupun fasilitas lainnya juga tidak boleh diterima dari WP karena B telah mendapatkan SPPD sehubungan dengan penugasan sosialisasi tersebut. Pada prinsipnya Pegawai dilarang menggunakan fasilitas yang dimiliki WP. Namun demikian dalam kondisi tertentu misalnya kunjungan ke lokasi WP, Pegawai dimungkinkan untuk menggunakan fasilitas milik WP antara lain berupa sarana transportasi dan atau akomodasi, apabila hal tersebut merupakan satu-satunya fasilitas yang 24

tersedia. Untuk keperluan tersebut Pegawai harus melapor kepada kepala kantor untuk memperoleh ijin secara tertulis. Tim Pemeriksa Pajak pada KPP GHI ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan di lokasi pertambangan milik WP yang berada di daerah terpencil. Untuk menuju ke lokasi, tidak tersedia sarana transportasi umum, atau tersedia namun membutuhkan biaya yang sangat besar, dan tidak tercukupi dengan uang SPPD. Disamping itu juga tidak tersedia penginapan yang dapat disewa. Dalam kasus demikian, Tim Pemeriksa Pajak diperbolehkan menggunakan fasilitas transportasi dan akomodasi (penginapan dan makanan) yang disediakan oleh WP. Pegawai dilarang menerima jamuan dari WP yang sifatnya berlebihan. Sebagai bentuk sopan santun dalam suatu kunjungan, jamuan berupa minuman atau makanan yang disediakan di tempat WP yang diyakini tidak akan menimbulkan konflik kepentingan, boleh diterima. D adalah Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi (Waskon) pada KPP XYZ. Bersama dengan E seorang AR, D melakukan kunjungan (advisory visit) ke tempat usaha WP. WP menyediakan air minum dan makanan ringan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu. Jamuan seperti ini diperbolehkan diterima oleh Pegawai tersebut. Namun demikian apabila WP mengajak untuk makan siang di sebuah hotel atau restoran, maka Pegawai tidak diperkenankan untuk 25

menerima tawaran tersebut. Pegawai diperbolehkan menerima pemberian berupa cindera mata dari WP yang secara lazim akan diberikan WP secara cuma-cuma kepada pihak manapun sebagai barang promosi, seperti agenda dan kalender. Dalam situasi tertentu, WP menyerahkan sesuatu kepada Pegawai selain yang diperbolehkan tersebut di atas. Dalam hal demikian pemberian tersebut wajib diberitahukan kepada atasan untuk selanjutnya dikembalikan kepada WP secara kedinasan. G adalah Kepala Seksi Pemeriksaan pada KPP KLM. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, G menerima voucher belanja yang dimasukkan dalam kartu lebaran dari WP yang dikirimkan melalui jasa kurir. Dalam kondisi seperti ini, G harus melaporkan pemberian voucher tersebut kepada kepala kantor dan mengembalikannya secara kedinasan kepada WP. Imbalan dari WP karena keahlian perpajakan yang dilakukan di dalam maupun di luar jam kerja seperti menjadi konsultan pajak tidak diperbolehkan untuk diterima. Karena sesuai ketentuan, Pegawai dilarang menjadi konsultan pajak. 1) D adalah AR pada KPP DEF yang karena keahliannya melakukan kegiatan tax review, tax planning, dan sekaligus mengisi SPT Tahunan PPh Badan terhadap WP yang terdaftar pada 26

KPP GHI dengan menerima imbalan. Dalam kasus ini D telah melanggar Kode Etik, baik karena kegiatan yang dilakukannya maupun karena menerima imbalan dari WP. 2) E adalah Pegawai Tugas Belajar. Selama masa pendidikan, E memanfaatkan waktu luangnya untuk bekerja sebagai konsultan pajak dan menerima imbalan dari WP atas kegiatannya tersebut. Dalam kasus ini E telah melanggar Kode Etik, baik karena kegiatan yang dilakukannya maupun karena menerima imbalan dari WP. b. Interaksi dengan sesama Pegawai Pegawai diperbolehkan menerima pemberian berupa imbalan atau honorarium dari DJP sehubungan dengan penugasan yang diberikan oleh DJP, misalnya honorarium pengajar diklat, uang transport advisory visit dalam kota (SIK), atau honor rapat tertentu. Pegawai dilarang meminta atau memberi isyarat yang mengesankan bahwa yang bersangkutan meminta atau mengharapkan sesuatu dari sesama Pegawai yang patut diduga menyebabkan Pegawai tersebut mempunyai kewajiban terkait dengan pelaksanaan tugas terhadap Pegawai yang memberi sesuatu. Disisi lain Pegawai juga dilarang untuk memberikan sesuatu kepada sesama Pegawai yang patut diduga menyebabkan Pegawai yang menerima sesuatu mempunyai kewajiban terkait dengan pelaksanaan tugas terhadap Pegawai yang 27

memberikan sesuatu. Namun demikian kode etik hanya mengatur mengenai pemberian kepada sesama pegawai yang terkait dengan pekerjaan atau jabatan. Sedangkan hal-hal yang bersifat sosial, dan tidak terkait dengan pelaksanaan pekerjaan atau tugas, tidak melanggar Kode Etik. 1) A adalah pelaksana Bagian Kepegawaian KPDJP yang menangani masalah mutasi. Sehubungan dengan akan dilakukannya mutasi pegawai, A menghubungi B yang bertugas di KPP XYZ dan menawarkan bantuan agar B dapat dimutasikan ke tempat yang diinginkannya dengan meminta sejumlah imbalan. B menyanggupi permintaan A. Dalam hal ini, baik A maupun B melanggar kode etik. 2) C adalah pegawai KPDJP yang ditugaskan untuk melakukan kunjungan ke KPP DEF. Dalam hal ini, baik atas permintaannya maupun atas penawaran dari pegawai di KPP DEF, C tidak diperkenankan menerima pemberian yang menyebabkan C patut diduga mempunyai kewajiban dalam pelaksanaan tugasnya, baik sebelum, pada saat ataupun setelah kunjungan dilakukan. 3) D adalah pegawai KPDJP yang menikahkan anaknya dan mengundang E yang merupakan Pegawai pada Kanwil JKL. Atas pemberian kado pernikahan oleh E yang patut diduga tidak terkait dengan pelaksanaan tugas D, maka D 28

boleh menerimanya. 4) F adalah pegawai KPDJP yang akan melakukan kunjungan tugas ke KPP GHI yang berlokasi di luar kota, dimana salah seorang temannya, G adalah pegawai pada Seksi Pelayanan KPP GHI tersebut. Atas dasar pertemanan, G memberikan oleh-oleh kepada F setelah tugas diselesaikan. Atas pemberian oleh-oleh yang patut diduga tidak terkait dengan pelaksanaan tugas F, maka F boleh menerimanya. c. Interaksi Pegawai dengan Pihak Lain Yang dimaksud dengan pihak lain adalah pihak-pihak di luar WP dan sesama Pegawai, yang dapat berinteraksi dengan Pegawai dalam melaksanakan tugasnya, misalnya: rekanan, peserta tender atau lelang, PNS di luar DJP, dan instansi atau badan-badan pemerintahan lainnya. Ketentuan mengenai hal-hal yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan untuk diterima dalam interaksi antara Pegawai dengan WP, sebagaimana diatur pada angka 5 huruf a, juga berlaku dalam interaksi antara Pegawai dengan pihak lain. Namun demikian, perlu diatur hal-hal tertentu sebagai berikut: imbalan dari pihak lain karena keahlian Pegawai diluar bidang perpajakan seperti menjadi presenter, penyanyi, pemain bola, atau pengajar, diperbolehkan untuk diterima; imbalan dari pihak lain karena keahlian perpajakan yang dilakukan diluar jam kerja seperti menjadi pengajar brevet, pembicara dalam seminar, penulis 29

buku perpajakan, atau penulis artikel di media massa, diperbolehkan untuk diterima; imbalan dari pihak lain seperti mengikuti rapat di instansi lain sesuai penugasan, diperbolehkan untuk diterima; imbalan resmi yang berasal dari bagi hasil PEMDA (penerimaan PPh Pasal 21, PPh Orang Pribadi, dan PBB), diperbolehkan untuk diterima, sepanjang kegiatan yang dibiayai dari pos tersebut nyata-nyata dilaksanakan dan dapat dipertanggungjawabkan. 6 Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan. Pada dasarnya data dan atau informasi perpajakan mencakup dua hal, yaitu: a. data dan atau informasi yang terbuka bagi publik seperti aturan atau perundang-undangan perpajakan yang berlaku, dan b. data dan atau informasi yang bersifat internal DJP. Data dan atau informasi yang terbuka bagi publik dapat disampaikan atau disebarluaskan kepada masyarakat. Sedangkan data dan atau informasi yang bersifat internal DJP, apabila akan disampaikan kepada pihak lain harus mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pegawai dilarang memberikan atau meminjamkan atau memberitahukan data milik DJP seperti informasi perpajakan WP, data kepegawaian, atau data penerimaan yang belum dipublikasikan secara resmi, kepada pihak lain yang tidak berhak, karena dapat disalahgunakan untuk melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau 30

pihak lain yang bertentangan dengan prinsip-prinsip good governance. 1) A adalah Penata Usaha Administrasi Berkas dan Konfirmasi pada Seksi Pelayanan KPP IJK. Salah satu WP terdaftar pada KPP IJK yakni WP BC, bermaksud untuk menyusun laporan keuangan fiktif dan meminta bantuan A untuk meminjamkan SPT milik WP EF yang sejenis dengan WP BC. SPT milik WP EF tersebut akan digunakan untuk menentukan besarnya peredaran usaha dan marjin laba dari WP BC. Perbuatan A yang meminjamkan data SPT WP EF kepada WP BC tersebut melanggar Kode Etik. 2) B adalah pelaksana Subbagian Umum pada KPP KLM. B memberikan data pegawai KPP KLM kepada PQ seorang agen asuransi jiwa yang merupakan teman SMP-nya. Perbuatan B yang memberitahukan identitas pegawai kepada agen asuransi telah melanggar Kode Etik. Pegawai dilarang memberikan atau meminjamkan atau menginformasikan konsep peraturan, penegasan, dan atau jawaban surat pertanyaan yang belum disetujui, kepada pihak lain yang tidak berhak. A adalah pelaksana pada Direktorat ABC KPDJP yang ditugaskan untuk menyusun konsep jawaban atas pertanyaan WP PQ. Atas desakan WP PQ, A memberitahukan konsep jawaban atas pertanyaan WP PQ yang belum mendapat persetujuan. Atas kasus tersebut, A telah melanggar Kode Etik. 31

Pegawai dilarang memberitahukan kebijakan internal DJP yang menurut ketentuan yang berlaku atau pertimbangan atasan yang berwenang hanya dapat diketahui oleh pihak-pihak tertentu misalnya rencana mutasi pegawai, pemeriksaan, penyidikan, atau penagihan aktif. 1) A adalah pelaksana Bidang Pemeriksaan, Penyidikan dan Penagihan Pajak (P4) pada Kanwil STU. A memperoleh data daftar WP yang akan dilakukan pemeriksaan kriteria seleksi dari KPDJP. A memberitahukan kepada WP TU, yang merupakan saudaranya, bahwa WP TU termasuk dalam daftar WP yang akan diperiksa. Tindakan yang dilakukan A melanggar Kode Etik. 2) B adalah pelaksana Bagian Kepegawaian KPDJP yang ditugaskan menyusun rencana mutasi AR untuk mengisi formasi KPP modern. B memberitahukan daftar pegawai yang akan dimutasikan kepada D pegawai di KPP ABC. Tindakan yang dilakukan B melanggar Kode Etik. 7 Melakukan perbuatan yang patut diduga dapat mengakibatkan gangguan, kerusakan dan atau perubahan data pada sistem informasi milik Direktorat Jenderal Pajak. Sistem informasi milik DJP terdiri dari sumber daya informasi yang berupa seluruh informasi, aplikasi, dan infrastruktur. a. Gangguan sistem informasi adalah suatu kondisi dimana sumber daya informasi tidak dapat tersedia sebagaimana 32

mestinya. b. Kerusakan sistem informasi adalah suatu kondisi dimana sumber daya informasi tidak dapat digunakan seperti sedia kala. c. Perubahan data meliputi penambahan, penggantian atau penghilangan data tanpa otorisasi. Perubahan data tanpa otorisasi, baik manual maupun elektronik, dapat mengakibatkan berkas data atau basis data tidak lagi mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Contoh-contoh perbuatan yang dapat mengakibatkan gangguan pada sistem informasi milik DJP adalah: 1) Beberapa Pegawai pada KPP XYZ meng-install aplikasi permainan (game) dengan menggunakan Local Area Network (LAN) milik kantor yang mengakibatkan berkurangnya bandwith jaringan. Hal tersebut berakibat pada terganggunya lalu lintas informasi pada jaringan internal kantor. Kondisi ini dapat mengakibatkan antara lain pelayanan penerimaan SPT secara elektronik di Tempat Pelayanan Terpadu terganggu. 2) Beberapa Pegawai pada Kanwil ABC meng-install aplikasi untuk melakukan file sharing. Apabila file yang di-share memiliki kapasitas yang besar (gambar, lagu-lagu, atau film), maka aktivitas tersebut akan mengganggu kualitas jaringan. Kondisi ini dapat mengakibatkan lambatnya proses transfer data. 3) A adalah pegawai pada KPP DEF. A menggunakan aplikasi malware (malicious software/software perusak) dengan sengaja yang dapat membahayakan sistem informasi, misalnya untuk penggunaan hacking, cracking, spyware, key logger, trojan dan lain-lain. Penggunaan 33

aplikasi tersebut dapat menyebabkan komputer di kantor terganggu. 4) G adalah pegawai pada Kanwil MNO. G mengakses situs (website) untuk mengunduh (download) file dengan menggunakan komputer yang terhubung dengan jaringan kantor. File yang diunduh merupakan malware berupa worm yaitu software perusak yang mampu menyebar secara otomatis. Hal tersebut dapat mengakibatkan kerusakan pada file lain baik yang ada dalam komputer tersebut maupun komputer lain dalam jaringan internal. Selain itu worm juga dapat mengganggu kualitas jaringan internal. 5) F adalah pegawai pada KPDJP. F memanfaatkan jaringan komputer kantor untuk menjalankan aplikasi chatting misalnya mirc, Yahoo Messenger!, skype, dan sejenisnya. Penggunaan aplikasi tersebut dapat menyebabkan terganggunya kualitas lalu lintas jaringan. 6) Pegawai C pada KPP XYZ mendaftarkan dirinya dan atau pegawai lain pada suatu mailing list (milis) dengan menggunakan e-mail address kantor (pajak.go.id). Hal tersebut dapat menjadi target spam karena mail spam merupakan surat sampah yang akan mengurangi kapasitas mail server yang sekaligus dapat menyebarkan virus ke mail server pajak.go.id. Akses ke milis atau email address pribadi dengan menggunakan jaringan internet kantor juga dapat menjadi target spam yang akan mengurangi kapasitas mail server yang sekaligus dapat menyebarkan virus ke mail server pajak.go.id. Contoh-contoh perbuatan yang dapat mengakibatkan kerusakan pada sistem informasi milik DJP adalah: 34

1) A adalah pegawai pada KPP GHI. Dengan pengetahuan teknologi informasi yang terbatas, A mencoba teknik untuk menyerang server DJP. Hal ini dapat menyebabkan server DJP mengalami gangguan atau bahkan mengakibatkan crash (rusak). 2) B adalah pegawai pada KPP KLM. Atas permintaan pihak lain yang tidak berhak, B mengubah tabel dari salah satu basis data pada server DJP tanpa otorisasi. Karena basis data yang diubah berhubungan dengan struktur data secara keseluruhan, maka perbuatan tersebut dapat mengakibatkan inkonsistensi struktur basis data DJP. Contoh-contoh perbuatan yang dapat mengakibatkan perubahan data (penambahan, penggantian atau penghilangan data) tanpa otorisasi baik manual maupun elektronik pada sistem informasi DJP adalah: 1) C adalah pelaksana Seksi Penagihan pada KPP XYZ. Atas permintaan WP, C telah menghilangkan lembar fisik surat ketetapan pajak (kohir). Perbuatan C tersebut mengakibatkan terganggunya proses penagihan terhadap WP terkait. 2) D adalah pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI) pada KPP DEF. Dengan kemauan sendiri, D mengubah data elektronik dalam basis data aplikasi milik DJP tanpa adanya otorisasi dan atau tidak sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Hal ini dapat mempengaruhi integritas basis data milik DJP. 35

8 Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat Direktorat Jenderal Pajak. a. Pegawai dilarang mengkonsumsi, mengedarkan dan atau memproduksi minuman beralkohol yang dapat merusak citra dan martabat DJP. A adalah pelaksana pada KPP ABC. Pada suatu saat, A diketahui mengkonsumsi minuman beralkohol sampai mabuk dan menimbulkan keonaran di lingkungan tempat tinggalnya. Hal tersebut dapat merusak citra dan martabat DJP. Namun demikian, apabila konsumsi minuman beralkohol tersebut misalnya dilakukan dalam rangka upacara keagamaan serta menghormati adat istiadat dan budaya tertentu, maka hal tersebut dapat ditoleransi sepanjang tidak mengakibatkan rusaknya citra dan martabat DJP. b. Pegawai dilarang mengkonsumsi, mengedarkan dan atau memproduksi obat-obatan terlarang (narkoba). c. Pegawai dilarang menyimpan, menyebarkan, membaca tulisan, menonton gambar atau film yang mengandung unsur pornografi dan pornoaksi di lingkungan kantor. d. Pegawai dilarang berjudi. e. Pegawai dilarang melakukan perselingkuhan, perzinahan atau hal-hal lain yang merusak citra dan martabat DJP. 36

Uji Etika Panduan Pelaksanaan Kode Etik Pegawai DJP ini disusun sebagai penjabaran atau penjelasan dari butir-butir kewajiban dan larangan yang tercantum dalam Kode Etik. Dengan demikian diharapkan Pegawai dapat memahami makna yang terkandung dalam butirbutir Kode Etik secara lebih baik. Selain menggunakan Panduan Pelaksanaan Kode Etik ini, perilaku etik yang dipilih oleh Pegawai seharusnya merupakan hasil pertimbangan yang matang dan proses berpikir logis dalam menentukan sikap yang layak dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun demikian, apabila masih terdapat permasalahan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan berpedoman pada Panduan Pelaksanaan Kode Etik ini, maka Pegawai dapat menggunakan uji etika sebagaimana dikenalkan oleh Stan Shrosbree (TAMF Lead Advisor to DGT: 2005) untuk menentukan sikap yang layak untuk diambil dan dapat dipertanggungjawabkan, melalui pertanyaanpertanyaan sebagai berikut: 37

1. Apakah sikap yang akan kita ambil bertentangan dengan hukum dan aturan yang berlaku? Apabila sikap atau tindakan yang kita ambil bertentangan dengan hukum dan aturan yang berlaku, maka sikap atau tindakan tersebut bukanlah perilaku etis. Apabila sikap atau tindakan yang kita ambil tidak bertentangan dengan hukum dan aturan yang berlaku, maka sikap atau tindakan tersebut harus diuji lagi dengan pertanyaan kedua. 2. Apakah kita percaya diri apabila sikap yang akan kita ambil diteliti dengan cermat oleh pihak lain? Apabila kita tidak percaya diri, maka sikap atau tindakan tersebut bukanlah perilaku etis. Apabila kita percaya diri, maka sikap atau tindakan tersebut harus diuji lagi dengan pertanyaan ketiga. 3. Apakah sikap yang akan kita ambil ketika menghadapi situasi tertentu juga akan dilakukan oleh pihak lain apabila pihak lain tersebut menghadapi situasi yang sama? Apabila pihak lain tidak akan mengambil keputusan yang sama dengan keputusan yang kita ambil, maka sikap atau tindakan tersebut bukanlah perilaku etis. Apabila pihak lain juga mengambil keputusan yang sama dengan keputusan yang kita ambil, maka sikap atau tindakan tersebut harus diuji lagi dengan pertanyaan keempat. 4. Apakah kita bersikap tidak memihak dalam mengambil suatu keputusan? 38

Apabila kita mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang logis dan hanya didasarkan pada perasaan keberpihakan semata, maka sikap atau tindakan tersebut bukanlah perilaku etis. Apabila kita bersikap tidak memihak, maka sikap atau tindakan tersebut harus diuji lagi dengan pertanyaan kelima. 5. Apakah sikap yang akan kita ambil dapat diterima dengan baik sesuai persepsi masyarakat pada umumnya? Apabila sikap yang kita ambil tidak dapat diterima oleh masyarakat, maka sikap atau tindakan tersebut bukanlah perilaku etis. Apabila sikap kita dapat diterima oleh masyarakat, maka sikap atau tindakan tersebut termasuk dalam perilaku etis. 39