Written by Dr. Aji Hoesodo. I. Pendahuluan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Pola penyakit yang diderita masyarakat telah bergeser ke arah. penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah,

PROPOSAL KEGIATAN MINI PROJECT PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS) Program Internship Dokter Indonesia. Disusun Oleh:

BAB I PENDAHULUAN. prevalensi penyakit menular namun terjadi peningkatan prevalensi penyakit tidak

BAB I PENDAHULUAN. medis lainnya. Sedangkan menurut American Hospital Assosiation rumah sakit

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah

BAB I PENDAHULUAN. kearah perilaku hidup bersih dan sehat dalam tatanan keluarga dan

FORMULIR INFORMASI KESEHATAN PRIBADI PESERTA. Alamat. T/T Lahir Jenis Kelamin Tinggi / Berat Badan

Syarat Kepesertaan 1. Jumlah peserta minimal 25 orang karyawan 2. Masa asuransi 1 (satu) tahun 3. Cara pembayaran : triwulan/semesteran/tahunan

DR. UMBU M. MARISI, MPH PT ASKES (Persero)

JAMINAN KESEHATAN SUMATERA BARAT SAKATO BERINTEGRASI KE JAMINAN KESEHATAN MELALUI BPJS KESEHATAN

Makalah Tentang Masalah Kesehatan

BAB 1 PENDAHULUAN. tentang perlunya melakukan Primary Health Care Reforms. Intinya adalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Rumah Sakit merupakan salah satu sarana kesehatan dan tempat

BAB I PENDAHULUAN. mencakup dua aspek, yakni kuratif dan rehabilitatif. Sedangkan peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. kemasan merupakan hal yang penting dan diperlukan oleh konsumen, terutama bagi konsumen dengan kondisi medis tertentu yang

BUPATI BANYUMAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 14 TAHUN 2013

dan kesejahteraan keluarga; d. kegiatan terintegrasi dengan program pembangunan di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota; e.

RINGKASAN INFORMASI PRODUK COMM CLASSY CARE

BAB I PENDAHULUAN. penyakit semakin dikenal oleh masyarakat. Salah satu diantaranya adalah apa yang

2016 GAMBARAN PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG MANAJEMEN PELAYANAN HOSPITAL HOMECARE DI RSUD AL-IHSAN PROVINSI JAWA BARAT

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) adalah sebagai berikut:

BAB 1 PENDAHULUAN. aktivitas fisik dan meningkatnya pencemaran/polusi lingkungan. Perubahan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. yang telah diberikan kepada pasien. Menurut (Sjamsuhidajat & Alwy, 2006),

BAB I PENDAHULUAN. demografi, epidemologi dan meningkatnya penyakit degeneratif serta penyakitpenyakit

PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA KASUS HEMIPARESE POST STROKE NON HEMORAGE DEXTRA DI RSUD SRAGEN

PENGANTAR KESEHATAN. DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY. Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan

BAB I PENDAHULUAN. Asia, khususnya di Indonesia, setiap tahun diperkirakan 500 ribu orang

BAB 1 : PENDAHULUAN. pergeseran pola penyakit. Faktor infeksi yang lebih dominan sebagai penyebab

RINGKASAN INFORMASI PRODUK COMM CLASSY CARE

BAB 1 PENDAHULUAN. didominasi oleh penyakit infeksi bergeser ke penyakit non-infeksi/penyakit tidak

BAB I PENDAHULUAN. (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing (UU No. 17/2007).

BAB I PENDAHULUAN. rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat. 1. keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang

SATUAN ACARA PENYULUHAN POLA HIDUP SEHAT PADA LANSIA. Sub Pokok Bahasan : Pola Hidup Sehat dengan Gizi Seimbang Pada Lansia

BAB I PENDAHULUAN. sedangkan penyakit non infeksi (penyakit tidak menular) justru semakin

WALIKOTA PALANGKA RAYA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun buatan manusia.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Batasan anak balita adalah setiap anak yang berada pada kisaran umur

PEDOMAN PEDOMAN PENGELOLAAN USIA LANJUT (USILA) PUSKESMAS WARA BARAT BAB I PENDAHULUAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Beberapa penyakit yang dapat menggangu sistem oksigenasi yaitu seperti TBC,

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau yang disebut Dengue

Tugas Akhir_103 BAB I PENDAHULUAN

Promosi dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular

BAB I PENDAHULUAN. Masalah kesehatan saat ini sudah bergeser dari penyakit infeksi ke

BAB 1 PENDAHULUAN. yang saat ini makin bertambah jumlahnya di Indonesia (FKUI, 2004).

WALIKOTA TASIKMALAYA

BAB 1 PENDAHULUAN. menunjang aktifitas sehari-hari. Manusia melakukan berbagai upaya demi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan. dalam mendukung penyelenggaraan upaya kesehatan.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.693,2012

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes Mellitus (DM) merupakan gangguan metabolisme dengan. yang disebabkan oleh berbagai sebab dengan karakteristik adanya

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stroke merupakan penyebab kematian dan kecacatan yang utama. Hipertensi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PEMELIHARAAN KESEHATAN PEGAWAI

Tabel 4.1 INDIKATOR KINERJA UTAMA DINAS KESEHATAN KABUPATEN KERINCI TAHUN Formulasi Penghitungan Sumber Data

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang memuaskan (satisfactory healty care). (Depkes RI, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya prevalensi diabetes melitus (DM) akibat peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan dasar Disamping itu, pengontrolan hipertensi belum adekuat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. di Jalan Wirosaban No. 1 Yogyakarta. Rumah Sakit Jogja mempunyai visi

BAB I PENDAHULUAN. lima tahun pada setiap tahunnya, sebanyak dua per tiga kematian tersebut

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG

RINGKASAN INFORMASI PRODUK COMM EXTRA CARE

BAB I PENDAHULUAN. penting dan sangat melekat dengan kegiatan pelayanan, sehingga ada

- 1 - PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN KESEHATAN DAERAH KABUPATEN BERAU

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

Pada Jurusan Kebidanan Poltekkes Surakarta

HUBUNGAN KADAR GULA DARAH DENGAN KECEMASAN PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RUMAH SAKIT ISLAM SURAKARTA

PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA PASIEN PASKA STROKE HEMORAGE DEXTRA STADIUM RECOVERY

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan teknologi informasi pada

KATA PENGANTAR. Sampang, Desember 2015 Tim Penyususn,

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 1173 Tahun 2004 Tentang Rumah Sakit Gigi. dan Mulut (RSGM) pasal 1 ayat 1, RSGM adalah sarana pelayanan

BAB I PENDAHULUAN. depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan adalah masyarakat, bangsa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang. menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan

PEDOMAN PENYULUHAN PADA PASIEN

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur

BUPATI MAJENE PROVINSI SULAWESI BARAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. keperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. dan bayi terjadi transisi epidemiologis penyakit. Populasi lansia semakin

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit merupakan instansi penyedia layanan kesehatan untuk

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan. Pada dasarnya kesehatan merupakan suatu hal yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. sakit dalam bahasa inggris disebut hospital. Kata hospital berasal dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut Dep Kes RI (2008), rumah sakit adalah sarana kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. derajat kesehatan yang optimal (Sarwono, 2002). Sejak awal pembangunan kesehatan

PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DAN JAMINAN KESEHATAN DAERAH DI KABUPATEN SUMEDANG

LINGKUP ILMU KESEHATAN MASYARAKAT. By. Irma Nurianti, SKM, M.Kes

PENCEGAHAN FRAUD DALAM PELAKSANAAN JKN KOMISI VIII

Transkripsi:

Written by Dr. Aji Hoesodo I. Pendahuluan Sejalan dengan perkembangan waktu pada saat ini pengetahuan, kebutuhan dan kesadaran masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sudah menjadi semakin mendalam, semakin baik dan semakin besar. Dari pengamatan yang seksama perihal Pelayanan Kesehatan tersebut terlihat bahwa bersamaan dengan makin dimengertinya masalah pelayanan kesehatan dengan baik, disisi lain penyalahgunaan atau fraud juga menjadi semakin berkembang dan semakin canggih dan biaya untuk Jaminan Pelayanan Kesehatan ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan: 1. Inflasi sektor kesehatan yang besarnya 15 30% yang lebih besar dari inflasi umum / keuangan dan pemanfaatan peralatan kedokteran canggih dalam menunjang penegakan diagnosis serta harga obat yang tak terkendali. 2. Biaya Jaminan Pelayanan Kesehatan ini juga meningkat karena bertambahnya usia harapan hidup dan bergesernya pola hidup bangsa Indonesia menyebabkan bergesernya pola penyakit dari penyakit infeksi menjadi penyakit degeneratif seperti penyakit tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke dan lain-lain. Penyakit ini bersifat khronis sehingga membutuhkan biaya yang lebih besar dibanding penyakit infeksi. Untuk itu mengatasi hal tersebut diatas sudah saatnya masalah Pelayanan Kesehatan itu ditangani lebih professional yaitu dengan Management Pelayanan Kesehatan yang baik yang bersifat menyeluruh dan komprehensif. Berdasar pengalaman yang telah kami lewati dan berhasil kami laksanakan pada nasabah-nasabah kami untuk membantu mereka dapat mengatasi permasalahan dalam 1 / 7

pembiayaan untuk pelayanan kesehatan bagi karyawan, berikut kami coba untuk jabarkan sebagai pedoman: 1. Apa yang dapat kami lakukan. 2. Waktu yang dibutuhkan. 3. Hasil yang bisa didapat. II. Apa yang dapat kami lakukan. Sesuai dengan bidang keahlian kami maka dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan biaya pelayanan kesehatan bagi karyawan kami dapat membantu dengan mempersiapkan Pelayanan Kesehatan yang bersifat menyeluruh dan komprehensif yang secara garis besar dapat dibagi menjadi sebagai berikut: 2.1. Perencanaan Jaminan Kesehatan. Apabila kita berencana untuk memberikan suatu Jaminan Kesehatan pada misalnya: Karyawan Perusahaan, sebelum diputuskan bentuk, luas, caranya dan hal lain yang terkait ada beberapa hal yang kiranya perlu dipertimbangkan terlebih dahulu termasuk juga segala konsekwensinya yang terkait. 2.2. Luas Jaminan Kesehatan Terdiri atas: 2 / 7

2.2.1. Jaminan Rawat Inap, 2.2.2. Jaminan Rawat Jalan, 2.2.3. Jaminan Gigi, 2.2.4. Jaminan Melahirkan, 2.2.5. Jaminan Kacamata, 2.2.6. Jaminan Kesehatan lainnya. 2.3. Sistem Pelayanan Kesehatan Dapat dibedakan menjadi: 2.3.1. Pelayanan Kesehatan reimbursement penuh, 2.3.2. Pelayanan Kesehatan dengan provider penuh, 2.3.3. Pelayanan Kesehatan dengan provider tertentu, 2.3.4. Pelayanan Kesehatan dengan limit maksimum, 3 / 7

2.3.5. Kombinasi dari bentuk pelayanan yang ada diatas. 2.4. Komputerisasi Pelayanan Kesehatan Untuk mempermudah administrasi dalam memberikan Pelayanan Kesehatan perlu kiranya ada dukungan komputerisasi, namun bentuk dukungan ini sangat variatif dan sangat bergantung pada kebutuhan. 2.5. SDM Pelayanan Kesehatan Untuk agar supaya Pelayanan Kesehatan dapat berjalan dengan mulus dan memenuhi kebutuhan pengguna jasanya diperlukan tenaga kerja yang professional dibidang ini dan memenuhi jam terbang tertentu sehingga kinerjanya dapat diandalkan. 2.6. Pengembangan Teknologi Pelayanan Kesehatan Program Pelayanan Kesehatan yang telah berjalan dengan cukup baik, perlu kiranya tetap dipikirkan dan ditindak lanjuti proses pengembangan sehingga akhirnya Perusahaan atau Lingkungan tersebut dapat menjalankan program Pelayanan Kesehatannya yang telah dibuat sesuai dengan kondisi real pada saat ini. 2.7. Up-dating yang berkesinambungan Sebagaimana cabang dalam keahlian lainnya, disini kami juga mempersiapkan pengembangan Pelayanan Kesehatan yang berkesinambungan. Secara periodik berkaitan dengan pengembangan Pelayanan Kesehatan berkesinambungan akan kami lakukan dengan menghubungi klien-klien kami. 4 / 7

III. Waktu yang dibutuhkan Dalam merubah paradigma serta kebiasaan dari para peserta yang umumnya telah terbiasa dengan kebebasan berobat dan biasanya juga sudah bertahun-tahun tentunya kami harus berhati-hati didalam menerapkan kebijakan-kebijakan yang mempunyai tujuan untuk bisa karyawan, keluarganya serta pensiunan dari suatu perusahaan itu menggunakan hak berobat serta menggunakan dana kesehatan yang disediakan perusahaan dengan efektif, efisien serta berubahnya paradigma berobat dan badan sehat mereka. Dimasa mendatang sebagai hasil akhir akan kita dapati masyarakat yang berusia panjang, berbadan sehat, sejahtera dan dapat menikmati masa tuanya dengan bahagia bebas dari penyakit kronis. Oleh karena itu kami berharap agar setiap nasabah kami mau membuat komitmen untuk menjalankan upaya bersama ini tidak kurang dari 5 (lima) tahun. Hal ini dimaksud agar kinerja kami dapat dinilai hasilnya dengan melihat perubahan yang terjadi dalam masyarakatnya. Dengan waktu yang cukup panjang ini kami gunakan untuk bisa menuntun setiap peserta untuk dapat dengan sendirinya mengerti dengan mendalam, jelas, gamblang dan dengan baik serta mematuhi semua perubahan didalam pelayanan kesehatan ini. IV. Hasil / Oportuniti yang bisa didapat Analisa kami atas pengalaman yang telah kami lalui bersama dengan para nasabah kami yang berkomitmen untuk melaksanakan kerjasama dengan kami ini secara menyeluruh terlihat adanya beberapa fase dalam pelaksanaan pengendalian biaya kesehatan di perusahaan. Fase-fase tersebut adalah sebagai berikut: 1. Cost cutting. 5 / 7

Dalam tahun pertama biasanya bisa diperoleh reduksi biaya pengobatan sampai dengan 20 %, hal ini dapat terjadi karena antara lain: - Penyalahgunaan biaya berobat, - Jumlah pengambilan obat yang berlebih, - Harga obat yang tidak terkendali, dll. 2. Implementasi aturan berobat secara baik dan benar serta perubahan-perubahan yang dibutuhkan sesuai dengan kondisi perusahaan. Dengan diberlakukannya kembali semua aturan pengobatan perusahaan dengan baik dan benar maka akan terlihat bahwa dengan berjalannya waktu terjadi penyimpangan dari aturan main awal tanpa terasa menyesuaikan dengan kebutuhan dari masing-masing individu yang terkait. Semua aturan akan dikaji kembali kemudian diluruskan serta sesuai dengan aturan perusahaan dan aturan medis sehingga pesrta tidak dirugikan haknya. Perubahan/perbaikan disini dapat memberi kontribusi penekanan biaya 10%. 3. Promotif dan Preventif serta implementasinya dalam aturan perusahaan. Kalau kita lihat secara garis besar, penyakit itu bisa dibedakan atas 2 bagian yaitu: a. Penyakit akut. Penyakit dalam kelompok ini seperti: Batuk Pilek, Diare, dll. 6 / 7

b. Penyakit kronis. Penyakit dalam kelompok ini contohnya: Sakit Jantung Koroner, Sakit Darah Tinggi, Sakit Kencing Manis, dll. Dari segi pembiayaan pengobatan penyakit, penyakit kelompok Khronis merupakan penyakit yang akan sangat membebani perusahaan karena biayanya besar serta akan berkesinambungan. Namun penyakit dalam kelompok khronik ini ternyata dapat dicegah sehingga kita dapat terhindar dari menderita penyakit khronis ini. Upaya-upaya untuk menghindari diri dari menderita sakit ini dikelompokan dalam upaya Promotif dan Preventif. Kalau dilihat dari biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan khususnya untuk pembiayaan pengobatan kelompok pensiunan maka secara sederhana bila kelompok Pensiunan jumlahnya 10 % dari keseluruhan peserta, biaya kesehatannya besarnya 50% dari total biaya kesehatan tahunan yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. 4. Perubahan gaya hidup. Kalau butir 1,2,3 diatas sudah diikuti dengan baik dan benar sebagai hasil akhir akan diperoleh masyarakat yang pada masa aktif bekerja selalu dalam keadaan sehat dan pada saat pension tetap sehat dan tidak menderita penyaklit khronis serta dapat menikmati hari tuanya dengan bahagia bersama anak dan cucunya. 7 / 7