Tawadhu' (Rendah Hati)

dokumen-dokumen yang mirip
Tawadhu' Disusun Oleh: Mahmud Muhammad al-khazandar. Penerjemah : Team Indonesia Murajaah : Eko Haryanto Abu Ziyad

Konsisten dalam kebaikan

Berkompetisi mencintai Allah adalah terbuka untuk semua dan tidak terbatas kepada Nabi.

(الإندونيسية بالغة) Wara' Sifat

Adab makan berkaitan dengan apa yang dilakukan sebelum makan, sedang makan dan sesudah makan.

BAB IV KONSEP SAKIT. A. Ayat-ayat al-qur`an. 1. QS. Al-Baqarah [2]:

Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah. (QS. al-kautsar:2)

Yang berhak disembah hanya Allah SWT semata, dan ibadah digunakan atas dua hal;

Dengan nama Allah yang maha pengasih, maha penyayang, dan salam kepada para Rasul serta segala puji bagi Tuhan sekalian alam.

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 285

CARA PRAKTIS UNTUK MENGHAFAL AL-QUR AN

Oleh: Shahmuzir bin Nordzahir

APA PEDOMANMU DALAM BERIBADAH KEPADA ALLAH TA'ALA?

"Jadilah orang yang wara' niscaya engkau menjadi manusia yang paling beribadah"

"Barangsiapa yang menjadikan semua tujuan menjadi satu, yaitu tujuan hari kembali, niscaya Allah I mencukupkan kepadanya semua tujuannya"

Imam Nasser Muhammad Al-Yamani:

Menzhalimi Rakyat Termasuk DOSA BESAR

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan. Tema: Yang Diizinkan Tidak Berpuasa

ج اء ك م ر س ول ن ا ي ب ي ن ل ك م ك ث ير ا م ما ك ن ت م ت خ ف و ن م ن ال ك ت اب و ي ع ف و ع ن ك ث ير ق د ج اء ك م م ن الل ه ن ور و ك ت اب

PERAYAAN NATAL BERSAMA

PENYERANGAN AMERIKA SERIKAT DAN SEKUTUNYA TERHADAP IRAK

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 284

Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif

Akal Yang Menerima Al-Qur an, dan Akal adalah Hakim Yang Adil

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan. Tema: Mengganti Puasa Yang Ditinggalkan

ف ان ت ه وا و ات ق وا الل ه ا ن الل ه ش د يد ال ع ق اب

KOMPETENSI DASAR INDIKATOR:

Jawaban yang Tegas Dari Yang Maha Mengetahui dan Maha Merahmati

HADITS TENTANG RASUL ALLAH

Jangan Mengikuti HAWA NAFSU. Publication : 1437 H_2016 M. Jangan Mengikuti Hawa Nafsu

Adzan Awal, Shalawat dan Syafaatul Ujma ADZAN AWAL, MEMBACA SHALAWAT NABI SAW, DAN SYAFA ATUL- UZHMA

Kejujuran. Disusun Oleh: Mahmud Muhammad al-khazandar. Penerjemah : Team Indonesia Murajaah : Eko Haryanto Abu Ziyad

Amalan Setelah Ramadhan. Penulis: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.

Mengutamakan Akhirat

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan

Hukum mengingkari kehidupan akhirat

TAFSIR SURAT AN-NAS Oleh: Abdul Aziz Abdul Wahid, Lc.

Al-Muhiith, Al-Wakiil dan Al-Fattaah

Mengabulkan DO A Hamba-Nya

Dengan nama Allah, maha pengasih dan penyayang. Salam kepada semua Nabi dari yang terdahulu hingga yang akhir.

Makna Islam dan iman

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 286

Berkahilah untuk ku dalam segala sesuatu yang Engkau keruniakan. Lindungilah aku dari keburukannya sesuatu yang telah Engkau pastikan.

KESOMBONGAN Penghalang Masuk Surga

KOMPETENSI DASAR: INDIKATOR:

Post

Al-'Azhiim, Al-Majiid dan Al-Kabiir

ISLAM IS THE BEST CHOICE

Tauhid yang didakwahkan oleh para rasul dan diturunkan kitab-kitab karenanya ada dua:

MANAJEMEN JATIDIRI ( MJ )

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 7/MUNAS VII/MUI/11/2005 Tentang PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA

Syaikh Dr. Sa id bin Ali bin Wahf al-qahthani

ISLAM DIN AL-FITRI. INDIKATOR: 1. Mendeskripsikan Islam sebagai agama yang fitri

Pengasih dan Pembenci, keduanya hukumnya haram. Pertanyaan: Apakah hukumnya menyatukan pasangan suami istri dengan sihir?

Oleh: M. Taufik. N.T

. Agama Islam ada tiga tingkatan: Islam, iman dan ihsan. Dan setiap tingkatan mempunyai rukun.

Wa ba'du: penetapan awal bulan Ramadhan adalah dengan melihat hilal menurut semua ulama, berdasarkan sabda Nabi r:

HADITS TENTANG RASUL ALLAH

ة س ى اهو اهر خ اهر خ ى

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan. Tema: Orang Yang Meninggal Namun Berhutang Puasa

Hukum Poligami. Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah- Terjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

Hukum Menyekolahkan Anak di Sekolah Non-Muslim

HOMOSEKS Dosa yang Lebih Besar Dari Zina

MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT DAN KONSEKUENSINYA

BAB I PENDAHULUAN. jawabanya dihadapan-nya, sebagaimana Allah SWT berfirman :

Syarah Istighfar dan Taubat

Golongan yang Dicintai Allah di Dalam Al-Qur an Oleh: Ahmad Pranggono

Bagi YANG BERHUTANG. Publication: 1434 H_2013 M. Download > 600 ebook Islam di PETUNJUK RASULULLAH

Ada Dua Kali Hari Kebangkitan.. اقتباس المشاركة: من الموضوع: Kebangkitan Ada Dua Kali Hari

KOMPETENSI DASAR: INDIKATOR:

Perbaikan Keadaan Umat Urgensi Dan Cara Mewujudkannya

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan

Syirik Penyebab Kerusakan Dan Bahaya Besar. February 3

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan. Narasumber: DR. Ahmad Lutfi Fathullah, MA Video kajian materi ini dapat dilihat di

Iman Kepada KITAB-KITAB

ISLAM DAN TOLERANSI. Disampaikan pada perkuliahan PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. MUHAMMAD ALVI FIRDAUSI, S.Si, MA. Modul ke: Fakultas TEHNIK

Ma had Tarbawi Al-Hurriyyah

TETANGGA Makna dan Batasannya حفظه هللا Syaikh 'Ali Hasan 'Ali 'Abdul Hamid al-halabi al-atsari

MASUK SURGA Karena MEMBUANG DURI

TAFSIR SURAT AL-BAYYINAH

MATERI UJIAN KOMPREHENSIF: KOMPETENSI KHUSUS. Meliputi ujian tentang ayat dan hadis yang berkaitan dengan bimbingan dan konseling

<المصدر> ] لمتابعة رابط المشاركة. ikuti postingan asal keterangan ini. الا مام ناصر محمد اليماني Al-Imam Naser Mohammed Al-Yamani.

Download > 300 ebook dari:

Tatkala Menjenguk Orang Sakit

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan

ADAB DAN DOA SAFAR YANG SHAHIH

Sunnah menurut bahasa berarti: Sunnah menurut istilah: Ahli Hadis: Ahli Fiqh:

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan

Tauhid, keutamaan dan macam-macamnya

PEMBINAAN MENTAL GENERASI MUDA MENGHADAPI ERA GLOBALISASI

MENGGAPAI KHUSYU. Publication : 1439 H_2017 M

Khutbah Pertama. Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah.

Serial Bimbingan & Penyuluhan Islam

م ن د ون الل ه ك ف ر ن ا ب ك م و ب د ا ب ينن ا و بي ن ك م ال ع د او ة و ال ب غ ض اء أ ب د ا ح ت ى ت و م ن وا ب الل ه و ح د ه

Lailatul Qadar. Surah Al Qadr 97 : 1-5

AKHLAK ISLAMI. Disampaikan pada perkuliahan PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. MUHAMMAD ALVI FIRDAUSI, S.Si, MA. Modul ke: Fakultas TEHNIK

Materi Halaqah Tarbawiyah Tamhidi TAFSIR SURAT AL-FALAQ. Oleh: Abdul Aziz Abdul Wahid, Lc.

Materi Kajian Kitab Kuning TVRI Edisi Ramadhan

Pesan Damai Yang Tak Sejuk

Transkripsi:

Tawadhu' (Rendah Hati) 'Tidak ada seseorang yang merendahkan diri karena Allah saw melainkan Allah saw akan mengangkat derajatnya. ' Allah swt Maha Mulia dan menghendaki agar hamba-hamba-nya menjadi orang-orang yang mulia, bahwa luasnya kemuliaan mereka tidak merasa lebih tinggi di atas saudara-saudara mereka. Maka saat itu ia merasa bangga terhadap diri sendiri, merasa di atas yang lain, dan merendahkan kedudukan mereka. Dan Allah saw memberi karunia kepada hamba-hamba-nya dengan memberi petunjuk untuk beriman. Maka jika mereka enggan dan memilih kesesatan, maka Dia swt Maha Kuasa mengganti mereka dengan satu kaum yang mulia dengan iman mereka dan merendahkan diri terhadap saudara-saudara mereka : ي اا ي ه ا ال ذ ين ء ام ن وا م ن ي ر ت د م نك م ع ن د ين ه ف س و ف ي ا ت ي الله ب ق و م ي ح ب ه م و ي ح ب ون ه ا ذ ل ة ع ل ى ال م و م ن ين ا ع ز ة ع ل ى ال ك اف ر ين ي ج اه د ون ف ي س ب يل الله و لا ي خ اف ون ل و م ة لا ي م Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. (QS. al-ma`idah:54) Maka inilah sifat lemah-lembut terhadap orang-orang beriman yang merupakan sifat orang-orang terpilih untuk membawa agama ini saat murtadnya orang-orang yang murtad darinya-. 1 / 8

Dan dalam tafsir ayat: ين ن م و م ال ى ل ع ة ل ذ ا : maksudnya santun kepada orang-orang beriman, kasih sayang dan lemah lembut terhadap mereka dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan memusuhi mereka. Ibnu Abbas ra berkata: ' Sikap mereka terhadap orang-orang beriman seperti seorang ayah terhadap anak dan majikan terhadap budak, dan sikap mereka terhadap orang-orang kafir seperti binatang buas terhadap mangsanya. Firman Allah swt: ا ش د آء ع ل ى ال ك ف ار ر ح م آء ب ي ن ه م (Mereka) keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka... (QS. al-fath:29) ين ن م و م ال ى ل ع ة ل ذ ا : swt Dan dalam penggunaan huruf jar dalam firman Allah ada dua penafsiran : 1. Menurut satu pendapat (ia mengandung pengertian kasih sayang dan santun, seakan-akan Dia swt berfirman: Bersifat santunlah kepada orang-orang beriman dengan cara merendahkan diri dan tawadhu'. 2. Dan menurut pendapat yang lain sesungguhnya ('Ala/di atas) menunjukkan tingginya kedudukan mereka, dan sekalipun mereka mulia dan tinggi kedudukannya, mereka tetap tawadhu' terhadap orang yang lebih rendah kedudukannya. Mulia adalah sifat yang terpuji, sedangkan sombong terhadap orang lain dan membanggakan diri ('ujub) adalah sifat tercela. Dan sesungguhnya Allah swt merendahkan nilai dunia dalam pandangan orang yang beriman dan menyatakan hinanya terhadap Allah swt, agar semua manusia menyadari bahwa sesungguhnya: م ن ك ان ي ر يد ال ع ز ة ف ل ل ه ال ع ز ة ج م يع ا 2 / 8

Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya. (QS. Fathir:10) Dan sesungguhnya Allah swt memuliakan wali-wali-nya dengannya, sekalipun mereka berada di puncak cobaan (musibah,bala): و ل ل ه ال ع ز ة و ل ر س ول ه و ل ل م و م ن ين و ل ك ن ال م ن اف ق ين لا ي ع ل م ون Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu'min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS. al-munafiqun:8) Bersama semua kemuliaan ini, yang dituntut dari seorang mukmin adalah sikap keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang bersama orang-orang beriman. Ibnu Quddamah rahimahullah mengatakan dalam pembahasannya tentang tawadhu ': ' Ketahuilah, sesungguhnya makhluk ini sama seperti makhluk lainnya, mempunyai dua sisi dan pertengahan: maka sisinya yang cenderung berlebihan dinamakan sombong, dan sisi lainnya yang cenderung kepada kekurangan dan kerendahan disebut kehinaan, dan pertengahan dinamakan tawadhu' dan itulah yang terpuji- yaitu merendahkan diri tanpa menghinakan diri ' Sesungguhnya di antara pendidikan adab yang diajarkan Rasulullah saw kepada orang-orang beriman terhadap makhluk, sesungguhnya Rasulullah sawberdo'a: ا لل ه م ا ح ي ن ي م س ك ي ن ا و ا م ت ن ي م س ك ي ن ا و اح ش ر ن ي ف ى ز م ر ة ال م س اك ي ن "Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan giringlah aku (di hari kiamat) dalam golongan orang-orang miskin. " Ibnu al-atsir rahimahullah berkata: maksud beliau adalah tawadhu' dan merendahkan diri, dan agar beliau tidak termasuk orang-orang sombong yang congkak. Khalifah Umar ra mendidik para penjabatnya agar bersifat rendah hati terhadap rakyat dan melarang mereka menghinakan manusia, sebagaimana dia ra mengajarkan kepada manusia tentang hak mereka agar mereka hidup secara mulia. Dan di antara khotbahnya: 'Ketahuilah, sesungguhnya aku, demi Allah, tidak mengutus para penjabatku untuk memukul kulitmu dan tidak pula untuk mengambil hartamu, akan tetapi aku mengutus mereka kepadamu untuk mengajarkan kepadamu agama 3 / 8

dan sunnahmu. Maka barangsiapa yang diperlakukan selain yang demikian itu, maka hendaklah ia melaporkannya kepadaku. Maka demi Allah swt yang diriku berada di tangan-nya, tentu aku akan mengqishashnya darinya ketahuilah, janganlah kamu memukul kaum muslimin, maka kamu merendahkan mereka ' Dan Umar ra berpesan kepada para penjabatnya terhadap daerah terlarang dengan ucapannya: 'Rendahkanlah dirimu terhadap kaum muslimin, hati-hatilah terhadap doa kaum muslimin, maka sesungguhnya doa orang-orang yang dianiaya dikabulkan.' Mengakui kesalahan membutuhkan keberanian tinggi dan jiwa besar serta sifat tawadhu yang mantap. Sekalipun nafsu membisiki bahwa pengakuan engkau bisa menjatuhkan martabat engkau. Maka bersungguh-sungguhlah untuk berada di atas kebenaran, sebagaimana menerima permohonan maaf juga merupakan sifat tawadhu dan kemuliaan yang tinggi. Maka jiwa yang kotor mengharapkan kesalahan orang lain, agar merasa puas dengan memberi kritik, intropeksi dan ketenaran. Ibnu al-qayyim rahimahullah mengungkapkan hal ini dengan katanya: Barangsiapa yang berbuat jahat kepadamu, kemudian ia datang meminta maaf terhadap kesalahannya. Maka sesungguhnya sifat rendah diri mengharuskan engkau menerima permohonan maafnya apakah permohonan maafnya itu benar atau hanya berpura-pura- dan menyerahkan kebenarannya kepada Allah swt. Dan tanda pemurah dan tawadhu adalah sesungguhnya apabila engkau melihat kekurangan dalam permintaan maafnya, janganlah engkau menghentikannya dan memperdebatkannya... Maka menjauhlah dari perasaan berat, baliklah lembaran hidup, dan mulailah dari yang baru, temanmu akan merasa segan terhadapmu karena engkau menerima permohonan maafnya dan tidak terlalu mempersoalkan permohonan maafnya. Dan apabila engkau bersikeras meletakkan temanmu pada posisi merendahkannya dan menghitungnya dalam perhitungan ragu-ragu, berarti engkau telah berani memerangi Allah swt, dan engkau tidak pernah mampu melakukannya, seperti disebutkan dalam hadits qudsi: م ن ا ذ ل ل ي و ل ي ا ف ق د اس ت ح ل م ح ار ب ت ي Barangsiapa yang memerangi waliku, berarti ia menyatakan perang terhadapku. Allah swt adalah wali setiap orang yang beriman. Sesunguhnya orang yang maju ke depan untuk memimpin manusia, mengarahkan mereka, menarik hati mereka maka ia harus memiliki rasa rendah diri yang tinggi. Karena itulah Allah swt menyuruh Nabi-Nya dengan firman-nya: 4 / 8

و اخ ف ض ج ن اح ك ل م ن ات ب ع ك م ن ال م و م ن ين dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. (QS. asy-syu'ara :215) Maka bagaimana keadaan umat sesudah beliau sedang mereka lebih rendah kedudukan dan akhlak- tidak merendahkan diri mereka? Dan disebutkan dalam hikmah: Barangsiapa yang selalu rendah diri niscaya banyak temannya. Maka bila engkau ingin mencari para pendukung terhadap dakwahmu, engkau harus rendah diri. Jauhilah sikap ujub dan sombong, dan yang paling berbahaya adalah perasaan ujub dalam ibadah yang membuat engkau menganggap remeh orang lain karena ibadahmu. Karena itulah diriwayatkan dari al-mutharrif rahimahullah, ia berkata: Sungguh aku tidur di malam hari dan menyesal di pagi hari, lebih kusukai dari pada shalat di malam hari dan di pagi hari merasa bangga (ujub). Fudhail bin Iyadh rahimahullah mendefinisikan tawadhu dengan katanya: yaitu merendahkan diri terhadap kebenaran, tunduk kepadanya, dan menerimanya dari orang yang mengatakannya. Tunduk terhadap kebenaran adalah kemuliaan yang sebenarnya, karena ia adalah taat kepada Allah, kembali kepada kebenaran, dan membiasakan diri agar tidak terus-menerus di atas kebatilan. Karena itulah Nabi bersabda: وم ا ت و اض ع ا ح د لله ا لا ر ف ع ه الله Tidak ada seseorang yang merendahkan diri karena Allah swt kecuali Allah swt meninggikan derajatnya. Barangsiapa yang tujuannya adalah mencari ridha Allah swt, tunduk terhadap kebenaran terasa mudah baginya, seperti yang diriwayatkan dari Ubaidullah bin al-hasan al-anbari rahimahullah, sesungguhnya ia ditanya tentang meminta, lalu ia keliru padanya. Maka tatkala ia diingatkan terhadap kekeliruannya, ia menundukkan kepalanya sesaat lalu berkata: Kalau begitu saya kembali, dan saya seorang yang hina. Sungguh aku berdosa dalam kebenaran lebih kusukai dari pada aku menjadi pimpinan dalam kebatilan. Seperti inilah orang yang berilmu, ia rendah diri karena Allah swt dan tunduk terhadap kebenaran, karena itulah tujuannya, sekalipun di antara dia dan orang yang kebenaran ada pada lisannya itu ada permusuhan dan perselisihan. Tidak tunduk terhadap kebenaran adalah kesombongan yang sebenarnya dan kezaliman, karena itulah Rasulullah saw mendefinikan takabur dengan sabdanya: ال ك ب ر ب ط ر ال ح ق و غ م ط الن اس 5 / 8

Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Dengan ini kita melihat bahwa tawadhu, di samping sebagai akhlak yang terpuji, ia merupakan penjaga agar tidak terjerumus dalam perbuatan zalim, dan memelihara dari sifat sombong dan berbangga diri terhadap saudara-saudara seagama. Disebutkan dalam hadits: ا ن الله ا و ح ى ا ل ي : ا ن ت و اض ع و ح ت ى لا ي ف خ ر ا ح د ع ل ى ا ح د و لا ي ب غ ي ا ح د ع ل ى ا ح د Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku: bersifat tawadhu lah, sehingga seseorang tidak merasa bangga terhadap orang lain dan seseorang tidak berbuat aniaya terhadap orang lain. Kendati kedudukan Rasulullah saw sangat tinggi, sesungguhnya ketika beliau melihat seseorang gemetar karena takut terhadap beliau, karena ia mengira beliau sama seperti raja-raja di muka bumi, beliau bersabda kepadanya: ه و ن ع ل ي ك ف ا ن ي ل س ت ب م ل ك, ا ن م ا ا ن ا اب ن ام ر ا ة م ن ق ر ي ش ت ا ك ل ال ق د ي د Tenanglah, sesungguhnya aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah seorang anak dari seorang perempuan suku Quraisy yang memakan daging dendeng ". Di antara kesempurnaan tawadhu nya Rasulullah saw bahwa beliau saw membantu keluarganya sedangkan beliau mampu meminta bantuan pembantu- dan memberi salam kepada anak-anak yang beliau temui di tengah jalan sedangkan beliau adalah yang ditakuti para raja. Sehingga saat beliau berada di puncak kekuatan dan kemenangannya, beliau tidak bersikap keras di muka bumi. Maka tatkala di hari memerangi Bani Quraizhah, beliau berada di atas keledai yang dikekang dengan tali dari sabut. Dan saat beliau memasuki kota Makkah sebagai pemenang, beliau menundukkan kepalanya karena tawadhu kepada Allah swt karena khawatir terhadap penyusupan rasa takabur ke dalam jiwa pemenang, yang dibisikan oleh hawa nafsunya bahwa dialah yang membuat kemenangan dan melupakan karunia dan taufik Allah swt. Syaikhul Islam rahimahullah menggambarkan keadaan Rasulullah saw dengan katanya: Sesungguhnya beliau memilih sifat hamba penghambaan- sekalipun beliau dan para pengikutnya adalah yang tertinggi, dan beliau tidak menghendaki yang tertinggi, sekalipun telah memperolehnya. Dan cukuplah bagi orang-orang yang sombong agar kembali ke jalan yang lurus bahwa mereka menyadari bahwa Allah swt tidak menyukai mereka, memalingkan mereka dari 6 / 8

ayat-ayat-nya, mengunci hati mereka, dan mengancam akan memusnahkan mereka, dan barangsiapa yang di hatinya mengandung sifat sombong, walaupun hanya seberat biji sawi, niscaya Allah akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Hukuman balasan seperti ini karena ada kandungan sifat sombong seberat biji sawi. Maka seseorang sangat membutuhkan pelatihan untuk menjaga hatinya dari perasaan sombong, ujub, dan terperdaya. Dan tidaklah mendorong seseorang bersikap sombong kecuali perasaan ingin berbeda dengan lain, atau keinginan tidak tunduk terhadap seseorang, atau berusaha menutupi kekurangan pribadinya, dan semua itu membinasakan seseorang:...ف ا م ا ال م ه ل ك ات : ف ش ح م ط اع و ه و ى م ت ب ع ا و ا ع ج اب ال م ر ء ب ن ف س ه Maka yang membinasakan, yaitu sifat pelit yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan perasaan ujub seseorang terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana orang yang tawadhu cukup dengan menyadari bahwa Allah swt meninggikan derajatnya dan sesungguhnya hamba-hamba Allah swtmenyukainya, sesungguhnya Rasulullah saw adalah suri tauladannya, dan sesungguhnya ia lebih mengetahui kebesaran Rabb-Nya dan kekurangan dirinya. Maka berhati-hatilah dari terperosok bersama waswas syetan dan hawa nafsu, semoga engkau termasuk orang-orang yang dicintai Allah swt dan mereka mencintai-nya: ا ذ ل ة ع ل ى ال م و م ن ين ا ع ز ة ع ل ى ال ك اف ر ين yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir,. (QS. al-ma`idah:54) Kesimpulan: 1. Orang-orang yang dicintai Allah swt dan mereka mencintainya adalah orang-orang yang tawadhu. 7 / 8

2. Tidak ada kontradiksi di antara sikap keras terhadap orang-orang kafir dan sikap lembut terhadap orang-orang yang beriman. 3. Khalifah Umar ra mendidik para penjabatnya agar bersifat rendah diri terhadap rakyat mereka. 4. Termasuk sifat tawadhu adalah mengakui kesalahan dan menerima permohonan maaf dari orang lain. 5. Merendahkan diri termasuk sifat orang yang maju untuk memimpin manusia. 6. Termasuk tawadhu adalah tunduk terhadap kebenaran dan mematuhinya. 7. Termasuk yang membantu sifat tawadhu adalah mengingat asal kejadian manusia. 8. Sifat tawadhu yang paling agung adalah saat berada di puncak kekuatan dan kemenangan. 9. Termasuk yang membantu bersifat tawadhu adalah mengingat pahala tawadhu dan ancaman dosa terhadap orang-orang yang sombong. 10. Cukuplah sebagai kemuliaan orang yang tawadhu adalah kecintaan hamba-hamba Allah swt kepadanya dan Allah swt meninggikan derajatnya. Disalin dari : Tawadhu, Mahmud Muhammad al-khazandar, Penerjemah : Team Indonesia Islamhouse, 8 / 8