IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.2 DATA HASIL ARANG TEMPURUNG KELAPA SETELAH DILAKUKAN AKTIVASI

kimia LAJU REAKSI 1 TUJUAN PEMBELAJARAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Belimbing terdiri atas dua jenis, yaitu belimbing manis (Averrhoa carambola L.)

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi

HASIL DAN PEMBAHASAN y = x R 2 = Absorban

BAB IV PEMBAHASAN. -X52 sedangkan laju -X52. korosi tertinggi dimiliki oleh jaringan pipa 16 OD-Y 5

Hasil Penelitian dan Pembahasan

BAB II KOROSI dan MICHAELIS MENTEN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (C), serta unsur-unsur lain, seperti : Mn, Si, Ni, Cr, V dan lain sebagainya yang

c. Suhu atau Temperatur

tanya-tanya.com Soal No.2 Apabila anda diminta untuk mengukur laju reaksi terhadap reaksi : Zn(s) + 2HCI(aq)

Waktu (t) Gambar 3.1 Grafik hubungan perubahan konsentrasi terhadap waktu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Korosi Baja Karbon dalam Lingkungan Elektrolit Jenuh Udara

PENGGUNAAN SILIKA GEL DAN KALIUM PERMANGANAT SEBAGAI BAHAN PENYERAP ETILEN ARFANDI KURNIAWAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR

HASIL DAN PEMBAHASAN. nm. Setelah itu, dihitung nilai efisiensi adsorpsi dan kapasitas adsorpsinya.

I. PENDAHULUAN. mengalami kerusakan saat penyimpanan yaitu buah mengalami kerontokan dan

PETA KONSEP LAJU REAKSI. Percobaan. Waktu perubahan. Hasil reaksi. Pereaksi. Katalis. Suhu pereaksi. Konsentrasi. Luas. permukaan.

1. Ciri-Ciri Reaksi Kimia

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Produksi buah pisang di Lampung setiap tahunnya semakin meningkat. Lampung

ANALISIS GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR DENGAN MEDIA ABSORBSI KARBON AKTIF JENIS GAC DAN PAC

HASIL DAN PEMBAHASAN

wanibesak.wordpress.com

HASIL DAN PEMBAHASAN. Adsorpsi Zat Warna

PRAKTIKUM KIMIA DASAR I KECEPATAN REAKSI. Kelompok V : Amir Hamzah Umi Kulsum

HASIL DAN PEMBAHASAN. = AA diimpregnasi ZnCl 2 5% selama 24 jam. AZT2.5 = AA diimpregnasi ZnCl 2 5% selama 24 jam +

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. interaksi antara perlakuan umur pemanenan dengan konsentrasi KMnO 4. Berikut

BAB I PENDAHULUAN. limbah organik dengan proses anaerobic digestion. Proses anaerobic digestion

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK 2. Titrasi Permanganometri. Selasa, 6 Mei Disusun Oleh: Yeni Setiartini. Kelompok 3: Fahmi Herdiansyah

BY SMAN 16 SURABAYA : Sri Utami, S. P LAJU REAKSI KESIMPULAN

PENGGUNAAN SILIKA GEL DAN KALIUM PERMANGANAT SEBAGAI BAHAN PENYERAP ETILEN ARFANDI KURNIAWAN

Air merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia.

Suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida, cairan maupun gas, terikat kepada suatu padatan atau cairan (zat penyerap/ adsorben).

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Sanden Mata Pelajaran : Kimia Kelas/Semester : XI/1 Alokasi Waktu : 2 JP

SMP kelas 7 - FISIKA BAB 2. Klasifikasi BendaLatihan Soal 2.1

Sudaryatno Sudirham ing Utari. Mengenal. Sudaryatno S & Ning Utari, Mengenal Sifat-Sifat Material (1)

Laboratorium Kimia SMA... Praktikum II Kelas XI IPA Semester I Tahun Pelajaran.../...

TINJAUAN PUSTAKA Pisang Raja Bulu

1. Pengertian Perubahan Materi

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Hasil sidik ragam pada lampiran 3a, bahwa pemberian KMnO 4 berpengaruh terhadap

Termodinamika dan Kesetimbangan Kimia

Cara Pengklasifikasian Kromatografi :

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Voltametri

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam

HASIL DAN PEMBAHASAN

LEMBAR KERJA SISWA 4

Bab II Pemodelan. Gambar 2.1: Pembuluh Darah. (Sumber:

SOAL LAJU REAKSI. Mol CaCO 3 = = 0.25 mol = 25. m Mr

REDOKS dan ELEKTROKIMIA

JURNAL PRAKTIKUM SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK 12 Mei 2014

KAJIAN PENGGUNAAN BIJI KELOR SEBAGAI KOAGULAN PADA PROSES PENURUNAN KANDUNGAN ORGANIK (KMnO 4 ) LIMBAH INDUSTRI TEMPE DALAM REAKTOR BATCH

HASIL DAN PEMBAHASAN. dicatat volume pemakaian larutan baku feroamonium sulfat. Pembuatan reagen dan perhitungan dapat dilihat pada lampiran 17.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. coba untuk penentuan daya serap dari arang aktif. Sampel buatan adalah larutan

Sulistyani, M.Si.

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. lama dibandingkan perlakuan air dan asam asetat 0,5% (Tabel 2). Aplikasi BA 25

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis tanah lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1. Berbagai sifat kimia tanah yang dijumpai di lokasi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Laju Reaksi KIM 2 A. KEMOLARAN B. LAJU REAKSI C. UNGKAPAN LAJU REAKSI LAJU REAKSI. materi78.co.nr

Soal-Soal. Bab 4. Latihan. Laju Reaksi. 1. Madu dengan massa jenis 1,4 gram/ cm 3 mengandung glukosa (M r. 5. Diketahui reaksi:

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sistem resirkulasi merupakan sistem yang memanfaatkan kembali air yang

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan Ca-Bentonit. Na-bentonit memiliki kandungan Na +

JURNAL PRAKTIKUM. KIMIA ANALITIK II Titrasi Permanganometri. Selasa, 10 Mei Disusun Oleh : YASA ESA YASINTA

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

l. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

KUMPULAN SOAL-SOAL KIMIA LAJU REAKSI

BAB I PENDAHULUAN. seperti buah-buahan dan sayuran tropis. Produk hortikultura Indonesia memiliki

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pemilihan Kondisi Optimum Kromatografi Gas untuk Analisis

BAB VI KINETIKA REAKSI KIMIA

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan Protein Kasar. Tabel 4. Rataan Kandungan Protein Kasar pada tiap Perlakuan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Panjang Gelombang Maksimum (λ maks) Larutan Direct Red Teknis

4 Hasil dan Pembahasan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 8. FOTOSINTESISLatihan Soal ph (derajat keasaman) apabila tidak sesuai kondisi akan mempengaruhi kerja...

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis proses preparasi, aktivasi dan modifikasi terhadap zeolit

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil percobaan pendahuluan, ditentukan lima formula

KUMPULAN SOAL-SOAL KIMIA LAJU REAKSI

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT) ISSN: X

30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya.

4 HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 3 Data perubahan parameter kualitas air

RANCANGAN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR. Oleh DEDY BAHAR 5960

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 7. Hasil Analisis Karakterisasi Arang Aktif

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. minyak ikan paus, dan lain-lain (Wikipedia 2013).

I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki lahan tambang yang cukup luas di beberapa wilayahnya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Macam-macam Titrasi Redoks dan Aplikasinya

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

kimia KESETIMBANGAN KIMIA 2 Tujuan Pembelajaran

I. PENDAHULUAN. aktifitas yang diluar kemampuan manusia. Umumnya mesin merupakan suatu alat

Transkripsi:

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Aliran Udara Kipas terhadap Penyerapan Etilen dan Oksigen Pada ruang penyerapan digunakan kipas yang dihubungkan dengan rangkaian sederhana seperti pada gambar 7. Kecepatan kipas dapat diatur dengan cara mengubah resistansi potensiometer yang ada pada rangkaian. Pengukuran kecepatan kipas dilakukan dengan menggunakan tachometer. Adapun kecepatan kipas yang digunakan adalah 7 rpm dan 18 rpm yang menghasilkan laju aliran udara.159 m 3 /s dan.48 m 3 /s. Perhitungan performansi kipas dapat dilihat pada Lampiran 3. Kipas mulai digunakan sekitar 15 menit sebelum pengambilan sampel. Hal ini dilakukan untuk menghomogenisasikan udara yang ada pada ruang penyerapan. Data hasil penyerapan etilen dan oksigen untuk masing-masing kecepatan kipas dapat dilihat pada Lampiran 1. Gambar 12 menyajikan perbandingan penyerapan etilen untuk penggunaan kalium permanganat dan asam askorbat yang sama dalam dua kecepatan kipas yang berbeda. Gambar 13 memperlihatkan hasil penyerapan oksigen untuk penggunaan kalium permanganat dan asam askorbat yang sama dalam dua kecepatan kipas yang berbeda. Dari Gambar 13 terlihat bahwa putaran kipas mempengaruhi kecepatan reaksi kimia antara kalium permanganat dan etilen di dalam ruang penyerapan. Berdasarkan cepatnya etilen terserap oleh kalium permanganat, penggunaan kipas 7 rpm memberikan hasil penyerapan yang lebih baik dibanding dengan kipas 18 rpm. Pada dasarnya kecepatan putaran kipas tidak mempengaruhi langsung reaksi kalium permanganat dan etilen. Dari hasil pengamatan, jika kecepatan udara diperbesar maka suhu berkurang dan kelembaban udaranya pun berkurang. Dalam hal ini kipas 18 rpm menghasilkan suhu dan kelembaban udara lebih rendah dibanding dengan penggunaan kipas 7 rpm walaupun perbedaannya tidak terlalu signifikan (Lampiran 2). Suhu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi laju reaksi kimia. Umumnya kenaikan suhu mempercepat laju reaksi dan sebaliknya penurunan suhu akan memperlambat reaksi. Pada kipas 7 rpm untuk kombinasi penyerapan etilen dan oksigen yang sama, suhu di ruang penyerapan lebih tinggi dibanding dengan kipas 18 rpm. Tingginya suhu pada akhirnya akan mempercepat reaksi kalium permanganat dan etilen sehingga etilen mampu terserap dalam waktu yang relatif singkat. Konsentrasi Etilen (ppm) 6 4 2 KMnO4 Jenuh, C6H8O6 6%, 18 rpm (R1K1A2) KMnO4 Jenuh, C6H8O6 6%, 7 rpm (R2K1A2) (a)

Konsentrasi Etilen (ppm) 6 4 2 KMnO4 1%, C6H8O6 4%, 18 rpm (R1K2A1) KMnO4 1%, C6H8O6 4%, 7 rpm (R2K2A1) (b) Konsentrasi Etilen (ppm) 6 4 2 KMnO4 1%, C6H8O6 6%, 18 rpm (R1K2A2) KMnO4 1%, C6H8O6 6%, 7 rpm (R2K2A2) (c) Gambar 13. Konsentrasi etilen pada kecepatan 18 rpm dan 7 rpm untuk perlakuan, a) R1K1A2 dan R2K1A2, b) R1K2A1 dan R2K2A2, dan c) R1K2A2 dan R2K2A2. Kecepatan kipas pun turut memberikan pengaruh secara tidak langsung terhadap penyerapan oksigen (Gambar 14). Penggunaan kipas 7 rpm memperlihatkan hasil yang lebih baik dalam menyerap oksigen. Dalam waktu pengukuran yang sama, konsentrasi oksigen dengan menggunakan kipas 7 rpm cenderung lebih rendah dibanding dengan kipas 18 rpm. Namun, kelembaban di ruang penyerapan lebih tinggi. Hal ini disebabakn oleh reaksi asam askorbat dan oksigen menghasilkan H 2 O lebih cepat dari penggunaan kipas 18 rpm sehingga menyebabkan ruangan menjadi lebih lembab. Analisa sidik ragam menunjukkan adanya perbedaan rata-rata konsentrasi etilen atau oksigen yang terserap akibat dari perbedaan waktu, namun tidak ada perbedaan nyata rata-rata konsentrasi etilen atau oksigen akibat dari perbedaan penggunaan kecepatan kipas yang berbeda dan juga tidak ada perbedaan nyata rata-rata konsentrasi eilen atau oksigen akibat dari interaksi waktu dengan kecepatan kipas (Lampiran 5).

Konsentrasi Oksigen,5 2,5 2 4 8 12 16 2 24 KMnO4 Jenuh, C6H8O6 4%, 18 rpm (R1K1A1) KMnO4 Jenuh, C6H8O6 4%, 7 rpm (R2K1A1) (a) Konsentrasi Oksigen Konsentrasi Oksigen,5 2,5 2 4 8 12 16 2 24 KMnO4 Jenuh, C6H8O6 6%, 18 rpm (R1K1A2) KMnO4 Jenuh, C6H8O6 6%, 7 rpm (R2K1A2),5 2,5 (b) 2 4 8 12 16 2 24 KMnO4 1%, C6H8O6 4%, 18 rpm (R1K2A1) KMno4 1%, C6H8O6 4%, 7 rpm (R2K2A1) (c) Konsentrasi Oksigen,5 2,5 2 4 8 12 16 2 24 KMnO4 1%, C6H8O6 6%, 18 rpm (R1K2A2) KMnO4 1%, C6H8O6 6%, 7 rpm (R2K2A2) (d) Gambar 14. Konsentrasi okisgen pada kecepatan 18 rpm dan 7 rpm untuk perlakuan, a) R1K1A1 dan R2K1A1, b) R1K1A2 dan R2K1A2, c) R1K2A1 dan R2K2A1, dan d) R1K2A2 dan R2K2A2.

Konsentrasi etilen dan oksigen dari setiap perlakuan mengikuti persamaan-persamaan seperti yang terdapat pada Tabel 5 dan Tabel 6. Dari kedua tabel tersebut terlihat bahwa perlakuan penyerap etilen yang paling mendekati model linier adalah R2K2A1 dengan nilai koefisien determinsai (R 2 ) tertinggi yaitu 84.1%. Pada penyerapan oksigen, perlakuan yang paling mendekati persamaan linier adalah R1K1A2 dengan nilai koefisien determinsai (R 2 ) tertinggi yaitu 89.9%. Tabel 5. Persamaan regresi linier perlakuan penyerapan etilen Perlakuan Persamaan R 2 R1K1A2 y = -112.14x + 46.69.671 R1K2A1 y = -98.57x + 41.33.57 R1K2A2 y = -17.9x + 444.27.623 R2K1A1 y = -127.12x + 535.83.791 R2K1A2 y = -15.18x + 426.97.58 R2K2A1 y = -126.33x + 541.46.841 R2K2A2 y = -11.9x + 49.52.529 Tabel 6. Persamaan regresi linier perlakuan penyerapan oksigen Perlakuan Persamaan R 2 R1K1A1 y = -.36x +.86.625 R1K1A2 y = -.88x +.143.899 R1K2A1 y = -.36x +..625 R1K2A2 y = -.79x +.86.89 R2K1A1 y = -.57x +.57.8 R2K1A2 y = -.17x +.4.75 R2K2A1 y = -.79x +.143.89 R2K2A2 y = -.46x +.27.686

4.2 Pengaruh Konsentrasi Kalium Permanganat terhadap Penyerapan Etilen Hasil penelitian menunjukan konsentrasi etilen cenderung menurun tiap jam pengukuran dan umumnya etilen mampu terserap habis oleh arang aktif yang telah dicelupkan ke dalam kalium permanganat dalam waktu kurang dari 8 jam (Gambar 15). Konsentrasi Etilen (ppm) 5 45 4 35 3 25 2 15 1 5 R1K1A2 R2K1A1 R2K1A2 R1K2A1 R1K2A2 R2K2A1 R2K2A2 Gambar 15. Penyerapan etilen dengan KMnO 4 Pada penggunaan kipas 18 rpm, kalium permanganat 75%, asam askorbat 6% (R1K1A2), etilen mulai terserap di jam pengukuran ke-2 dan pada pengukuran jam selanjutnya tidak ada sisa etilen di ruang penyerapan. Perlakuan R1K2A2 (kipas 18 rpm, kalium permanganat 1%, asam askorbat 6%) menunjukan konsentrasi etilen menurun di setiap jam pengukuran dan mulai habis pada pengukuran jam ke-8. Konsentrasi etilen yang terukur pada perlakuan kipas 7 rpm, KMnO 4 75%, asam askorbat 6% (R2K1A2) dan kipas 7 rpm, KMnO 4 1%, C 6 H 8 O 6 4% (R2K2A1) menurun tiap jam pengamatan dan mulai habis pada pengukuran di jam ke-6 untuk R2K2A1 di jam ke-8 untuk R2K1A2. Pada penggunaan kipas 7 rpm, KMnO 4 75%, C 6 H 8 O 6 4% (R2K1A1) etilen mulai terserap pada jam ke-2 menjadi 273.325 ppm dan sudah tidak terdeteksi lagi pada pengukuran selanjutnya. Hal yang sama terjadi pada KMnO 4 1%, C 6 H 8 O 6 6% (R2K2A2). Etilen yang terukur pada jam ke-2 adalah 19.19 ppm dan pada jam ke-4, ke-6, dan ke-8, tidak ada etilen yang terukur. Dari semua perlakuan penggunaan KMnO 4 rata-rata mampu menyerap habis etilen selama delapan jam kecuali R1K2A1. Pada perlakuan tersebut etilen masih ada di pengukuran jam ke-8. Dalam hal ini, KMnO 4 yang sebelumnya telah dijerapkan kedalam arang aktif (terjadi proses adsorpsi) sudah tidak dapat menyerap etilen lagi karena partikel-partikel kosong yang terdapat pada arang aktif telah terisi oleh etilen di pengukuran jam sebelumnya. Seperti halnya dikemukakan oleh Pramudianti (24), yang menyatakan bahwa mekanisme penyerap etilen sesuai dengan mekanisme adsorpsi dimana proses adsorpsi pada arang melalui tiga tahapan dasar yaitu: 1) zat terserap pada arang bagian luar 2) zat bergerak melalui pori-pori arang, 3) zat terserap ke dinding bagian dalam arang. Menurut Reynold (1982), adsorpsi adalah suatu proses dimana suatu partikel menempel pada suatu permukaan akibat dari adanya perbedaan muatan lemah diantara kedua benda, sehingga akhirnya akan membentuk suatu lapisan tipis partikel-partikel halus pada permukaan tersebut. Adapun mekanisme penyerapan adalah sebagai berikut :

1. Molekul adsorbat berpindah menuju lapisan terluar dari adsorben. 2. Karbon aktif dalam kesatuan kelompok mempunyai luas permukaan pori yang besar sehingga dapat mengadakan penyerapan terhadap adsorbat. 3. Sebagian adsorbat ada yang teradsorpsi di permukaan luar, tetapi sebagian besar teradsorpsi di dalam pori-pori adsorben dengan cara difusi. 4. Bila kapasitas adsorpsi masih sangat besar, sebagian besar molekul adsorbat akan teradsorpsi dan terikat di permukaan. Tetapi bila permukaan pori adsorben sudah jenuh dengan adsorbat maka akan terjadi dua kemungkinan, yaitu, (a) terbentuk lapisan adsorpsi kedua, ketiga dan seterusnya, dan (b) tidak terbentuk lapisan adsorpsi kedua, ketiga dan seterusnya sehingga adsorbat yang belum teradsorpsi akan terus berdifusi keluar pori. Seperti diketahui pada bahasan sebelumnya bahwa hasil reaksi antara KMnO 4 dan etilen akan menghasilkan mangan dioksida (MnO 2 ). Adanya MnO 2 diperkirakan menempel di permukaan arang aktif dan menutupi partikel kosong arang aktif sehingga arang aktif tidak mampu lagi menyerap etilen atau dapat dikatakan arang aktif telah jenuh. Pada Gambar 16 diketahui bahwa daya serap KMnO 4 1% cenderung lebih baik dalam menyerap etilen dibandingkan dengan KMnO 4 75%. Pada umumnya semakin tinggi konsentrasi zat yang bereaksi semakin cepat reaksi yang berlangsung. KMnO 4 75% memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dibanding dengan KMnO 4 1% sehingga bereaksi lebih cepat. Ratih et. Al (1996) menyatakan bahwa suatu zat akan bereaksi apabila zat-zat tersebut bercampur dan saling bersinggungan. Persinggungan tersebut terjadi pada bagian permukaan zat. Makin banyak bagian zat yang bersinggungan, makin banyak pula kemungkinan terbentuknya zat baru, sehingga dapat dikatakan makin luas sentuhan, makin cepat reaksinya. Konsentrasi Etilen (ppm) 6 4 2 R1K1A2 R1K2A2 (a) Konsentrasi Etilen (ppm) 6 4 2 R2K1A1 R2K2A1 (b)

Konsentrasi Etilen (ppm) 6 4 2 R2K1A2 R2K2A2 (c) Gambar 16. Penyerapan etilen dengan konsentrasi KMnO 4 yang berbeda pada kecepatan dan konsentrasi asam askorbat yang sama. KMnO 4 75% mengoksidasi etilen dengan cepat dan hasil reaksi antara KMnO 4 75% dengan etilen akan menghasilkan mangan dioksida yang berupa endapan. Endapan ini melekat pada permukaan arang aktif sebagai media penyerap. Semakin banyak tumbukan antara partikel KMnO 4 75% dengan etilen maka reaksi yang terjadi semakin cepat dan endapan mangan dioksida pun semakin banyak menempel pada permukaan arang aktif. Hal inilah yang di mempengaruhi kemampuan media penyerap dalam menyerap etilen yang semakin lama semakin berkurang. Selain itu, KMnO 4 1% yang konsentrasinya lebih rendah dibanding dengan KMnO 4 75% sehingga menghasilkan endapan mangan dioksida lebih lambat, memiliki daya serap yang lebih baik karena endapan mangan dioksida tersebut tidak terlalu menutupi permukaan media penyerap akibat dari lambatnya reaksi yang terjadi antara KMnO 4 dan etilen. Hasil analisa sidik ragam menunjukkan adanya perbedaan rata-rata tingkat penyerapan etilen akibat dari perbedaan waktu namun tidak ada perbedaan rata-rata tingkat penyerapan etilen akibat dari perbedaan perlakuan penyerap etilen yang digunakan (Lampiran 6a). Gambar 17 menyajikan laju penyerapan etilen yang dapat dihitung berdasarkan konsentrasi etilen. Gambar 17 menunjukkan bahwa laju penyerapan etilen yang paling optimal untuk setiap perlakuan terjadi pada pengukuran di jam ke-2. Pada jam pengukuran selanjutnya terlihat bahwa laju penyerapan etilen semakin kecil. Hal tersebut terjadi karena daya serap kalium permanganat semakin berkurang, seiring dengan bertambahnya waktu pengukuran. Laju penyerapan etilen yang paling besar terjadi pada perlakuan R1K2A1 di jam ke-2 yaitu sebesar.283 ml/g/jam. Penambahan konsentrasi KMnO 4 akan memperkecil laju penyerapan etilen. Hal ini di dengan semakin tinggi molaritas larutan KMnO 4, daya serap penyerapan etilen semakin rendah, sehingga memperkecil laju penyerapannya. Analisa statistik untuk laju penyerapan etilen terdapat pada Lampiran 6b yang memperlihatkan bahwa waktu pengukuran memberikan pengaruh nyata terhadap laju penyerapan etilen.

Laju penyerap etilen (ml/gram/jam),3,25,2,15,1,5 2 4 6 8 R2K2A2 R2K2A1 R2K1A2 R2K1A1 R1K2A2 R1K2A1 R1K1A2 Gambar 17. Laju penyerapan etilen oleh KMnO 4 4.3 Pengaruh Konsentrasi Asam Askorbat terhadap Penyerapan Oksigen Konsentrasi oksigen yang terserap oleh asam askorbat yang dijerapkan pada arang aktif menurun sejalan bertambahnya waktu (Gambar 18). Pada kecepatan 18 rpm, KMnO 4 75%, asam askorbat 4% (R1K1A1), oksigen baru terserap di jam ke-2. Penggunaan kipas 18 rpm, KMnO 4 75%, asam askorbat 6% (R1K1A2) memberikan hasil yang lebih baik dari perlakuan R1K1A1 karena oksigen mulai terserap di jam ke-12 dan terus menurun sampai 2.6 % pada jam ke-24. Pada penggunaan KMnO 4 1%, asam askorbat 4% (R1K2A1), konsentrasi oksigen mulai berkurang pada jam ke-8 menjadi 2.8% dan tidak ada pengurangan konsentrasi oksigen lagi sampai jam ke-24. Penggunaan KMnO4 75%, asam askorbat 4%, kecepatan 7 rpm (R2K1A1) dan KMnO 4 1%, asam askorbat 6%, kecepatan 7 rpm (R2K2A2) mulai mereduksi oksigen pada pengukuran jam ke-8 menjadi 2.8% dan turun menjadi 2.6% di jam ke-24 untuk R2K1A1. Perlakuan KMnO 4 75%, asam askorbat 6% (R2K2A2) mulai mereduksi oksigen di jam ke-12 dan kemudian turun menjadi 2.65 di jam ke-24. Konsentrasi oksigen pada perlakuan KMnO 4 1%, asam askorbat 4% (R2K1A2) mulai berkurang setelah 12 jam dan kemudian menurun lagi di jam ke-16 sampai jam ke- 24 menjadi 2.5%. Dari kedelapan perlakuan ini dapat dikatakan bahwa R2K1A2 merupakan penyerap oksigen yang paling baik karena mampu mereduksi oksigen dari % menjadi 2.5%. Penggunaan asam askorbat sebagai penyerap oksigen hanya mampu mereduksi oksigen sampai 2.5% selama 24 jam. Hal ini mungkin saja disebabkan karena konsentrasi asam askorbat sebagai penyerap oksigen masih belum optimal dalam mereduksi atau mengoksidasi oksigen di dalam ruang penyerapan.

Konsentrasi Oksigen 2,9 2,8 2,7 2,6 2,5 2,4 R1K1A1 R1K2A1 R2K1A1 R2K2A1 R1K1A2 R1K2A2 R2K1A2 4 8 R2K2A2 12 16 2 24 R1K1A1 R1K2A1 R2K1A1 R2K2A1 R1K1A2 R1K2A2 R2K1A2 R2K2A2 Gambar 18. Penyerapan oksigen dengan asam Askorbat Menurut Pratt (1969) di dalam Abeles (1973) konsentrasi yang rendah dari oksigen akan menghambat produksi etilen. Hal ini akan memberikan pengaruh pada respirasi sehingga akan menghambat aksi etilen dalam pematangan buah. Namun berdasarkan pengamatan, tidak terlihat adanya pengaruh yang signifikan dari penggunaan penyerap oksigen terhadap pengurangan konsentrasi etilen. Konsentrasi oksigen yang mampu diserap oleh asam askorbat rata-rata terjadi pada jam ke-8 sedangkan etilen pada jam tersebut mampu tereduksi habis oleh kalium permanganat. Dalam hal ini, penurunan konsentrasi etilen tersebut tidak dipengaruhi langsung oleh keberadaan oksigen melainkan dipengaruhi oleh efektifitas kalium permanganat dalam mereduksi etilen. Hal ini diperkuat juga oleh hasil analisa sidik ragam yang menunjukan bawha tidak ada pengaruh konsentrasi oksigen terhadap penyerapan konsentrasi etilen (Lampiran 7a). Demikian halnya pada rata-rata perlakuan penyerapan oksigen yang tidak memberikan pengaruh pada tingkat penyerapan oksigen, namun ada perbedaan rata-rata tingkat penyerapan oksigen akibat dari perbedaan waktu (Lampiran 7b). Konsentrasi Okisgen,1 2,9 2,8 2,7 2,6 2,5 2,4 4 8 12 16 2 24 R1K1A1 R1K1A2

Konsentrasi Okisgen,1 2,9 2,8 2,7 2,6 2,5 2,4 (a) 4 8 12 16 2 24 R1K2A1 R1K2A2 Konsentrasi Okisgen,1 2,9 2,8 2,7 2,6 2,5 2,4 2,3 2,2 (b) 4 8 12 16 2 24 R2K1A1 R2K1A2 Konsentrasi Okisgen,1 2,9 2,8 2,7 2,6 2,5 2,4 (c) 4 8 12 16 2 24 R2K2A1 R2K2A2 (d) Gambar 19. Penyerapan oksigen dengan konsentrasi asam askorbat yang berbeda pada kecepatan dan konsentrasi KMnO 4 yang sama.

Sama halnya dengan penggunaan KMnO 4 pada penyerapan etilen, pada penyerapan oksigen pun konsentrasi yang lebih rendah, yaitu asam askorbat 4% yang memiliki daya serap yang lebih baik dibandingkan dengan asam askorbat 6% (Gambar 19). Hal ini bisa jadi karena oksigen yang ada pada ruang penyerapan mengoksidasi asam askorbat 6% lebih cepat dari asam askorbat 4% sehingga arang aktif yang telah dicelupkan pada asam askorbat 6% lebih cepat jenuh dibandingkan dengan arang aktif yang telah dicelupkan pada asam askorbat 4%. Berdasarkan data yang diperoleh dari penyerapan oksigen oleh asam askorbat, dapat ditentukan laju penyerapannya. Laju penyerapan oksigen yang paling optilmal terdapat pada perlakuan R2K2A1 yaitu sebesar 2.5 ml/gram/jam pada pengukuran di jam ke-16 (Gambar 19). Berbeda halnya dengan laju penyerapan etilen yang memperlihatkan nilai yang cukup besar diawal pengukuran, pada penyerapan oksigen, pengurangan konsentrasi oksigen mulai ada pada jam ke-8 sehingga lajunya pun baru dapat diketahui setelah jam ke-8 untuk beberapa perlakuan. Laju penyerapan oksigen cenderung menurun sejalan dengan bertambahnya waktu. Hal ini menandakan bahwa daya serap oksigen semakin berkurang akibat dari kejenuhan asam askorbat dalam menyerap oksigen (proses adsorpsi yang antara karbon aktif sebagai adsorben dan oksigen sebagai adsorbat). Reynold (1982) menyatakan bahwa adsorpsi gas oleh zat padat ditandai oleh (a) adsorpsi bersifat selektif, artinya suatu adsorben dapat menyerap suatu gas dalam jumlah besar, tetapi menyerap gasgas lain dalam jumlah yang lebih kecil, (b) adsorpsi terjadi sangat cepat, dimana kecepatan adsorpsinya semakin berkurang dengan semakin banyaknya gas yang diserap, (c) adsorpsi tergantung dari luas permukaan adsorben, semakin porus adsorben maka semakin besar daya adsorpsinya, dan (d) jumlah gas yang diadsorpsi persatuan berat adsorben tergantung pada tekanan parsial (partial presure) gas, dimana semakin besar tekanan maka semakin banyak gas diserap. Selain itu, asam askorbat hanya mampu menyerap oksigen disekitar kolom penyerap (di dalam paralon) atau di sekitar sachet arang aktif saja dan tidak menyerap oksigen yang menyebar diseluruh ruang penyerapan. Sagala () menyatakan bahwa kurang sensitifnya asam askorbat menunjukkan bahwa asam askorbat lebih dapat bereaksi dengan menyerap oksigen yang berada di dalam jaringan sel buah dibandingkan oksigen yang berada di sekitarnya (chamber) sehingga kurang efektif sebagai penyerap oksigen. Analisa sidik ragam untuk laju penyerapan oksigen terdapat pada Lampiran 7c yang memperlihatkan bahwa waktu pengukuran tidak memberikan pengaruh nyata terhadap laju penyerapan oksigen. Laju Penyerapan Oksigen (ml/gram/jam) 2,5 2 1,5 1,5 t4 t8 t12 t16 t2 t24 R2K2A2 R2K2A1 R2K1A2 R2K1A1 R1K2A2 R1K2A1 R1K1A2 R1K1A1 R1K1A1 R1K1A2 R1K2A1 R1K2A2 R2K1A1 R2K1A2 R2K2A1 R2K2A2 Gambar 2. Laju penyerapan oksigen oleh asam askorbat

4.4 Pola Penyerapan Etilen dan Oksigen Berdasarkan laju penyerapan etilen dan oksigen yang diperoleh dari penelitian dapat diketahui pola penyerapan etilen dan oksigen. Untuk penyerapan etilen, dilakukan pendekatan model penyerapan etilen berdasarkan penelitian Sholihati (24) yang menggunakan kalium permanganat untuk memperpanjang umur simpan pisang raja pada suhu 28 C yang mengikuti persamaan: E =.2t 2.9t +.14 Keterangan: E : Laju penyerapan etilen (ml/gr/jam) t : Gambar 2 menyajikan nilai laju penyerapan etilen berdasarkan model Sholihati (24) dan laju penyerapan etilen hasil penelitian. Pada Gambar 2 terlihat bahwa laju penyerapan etilen hasil penelitian cenderung memiliki nilai yang cukup berbeda dengan laju penyerapan etilen berdasarkan model. Laju penyerap etilen (ml/gram/jam),14,12,1,8,6,4,2 R1K1A2 Laju penyerap etilen (ml/gram/jam),14,12,1,8,6,4,2 R1K2A1 (a) (b) Laju penyerap etilen (ml/gram/jam),14,12,1,8,6,4,2 R1K2A2 Laju penyerap etilen (ml/gram/jam),14,12,1,8,6,4,2 R2K1A1 (c) (d)

Laju penyerap etilen (ml/gram/jam),14,12,1,8,6,4,2 Laju penyerap etilen (ml/gram/jam),14,12,1,8,6,4,2 R2K2A1 R2K1A2 (e) (f),14 Laju penyerap etilen (ml/gram/jam),12,1,8,6,4,2 R2K2A2 (g) Gambar. Perbandingan pola penyerapan etilen berdasarkan model dengan (a) laju R1K1A2, (b) laju R1K2A1, (c) laju R1K2A1, (d) laju R2K1A1, (e) laju R2K1A2, (f) laju R2K1A1, dan (g) laju R2K2A2. Adanya perbedaan pola penyerapan diatas dapat disebabkan oleh perbedaan media yang digunakan dalam penelitian. Pada penelitian Sholihati (24) digunakan pisang sebagai bahan observasi yang masih dapat melakukan aktivitas biologis setelah pemanenan seperti respirasi dan memproduksi etilen dalam jumlah tertentu. Bisa jadi tingginya laju penyerapan etilen dipengaruhi oleh tingginya produksi etilen yang dilakukan oleh pisang dan atau efektivitas media penyerap yang masih mampu menyerap etilen lebih banyak di jam akhir pengukuran dibandingkan dengan awal pengukuran. Sedangkan pada penelitian ini etilen yang diteliti berasal dari etilen yang sengaja diinjeksikan kedalam ruang penyerapan. Selain itu, pada penelitian ini, kemampuan bahan penyerap semakin menurun seiring dengan bertambahnya waktu pengukuran. Untuk itu, perlu disusun pola penyerapan etilen yang lebih mendekati kondisi nyata (hasil penelitian). Gambar 22 menunjukkan pola penyerapan etilen berdasarkan hasil penelitian. Pola penyerapan etilen ini membentuk persamaan polonomial kuadratik, yaitu: E(t) = α + β 1 t + β 2 t 2 (7) E(t) =.426 -.127t+.9t 2 (8)

t = variabel bebas = waktu pengukuran (jam) E(t) = variabel tak bebas = laju penyerapan etilen (ml/gram/jam) α = an parameter intersep model =.426 β 1 = koefisien regresi model = -.127 β 2 = koefisien regresi model =.9 Laju penyerapan etilen (ml/gram/jam),3,25,2,15,1,5 R1K1A2 (a) Laju penyerapan etilen (ml/gram/jam),3,25,2,15,1,5 R1K2A1 (b) Laju penyerapan etilen (ml/gram/jam),3,25,2,15,1,5 R1K2A2 (c) Laju penyerapan etilen (ml/gram/jam),3,25,2,15,1,5 R2K1A1 (d)

Laju penyerapan etilen (ml/gram/jam),3,25,2,15,1,5 R2K1A2 (e) Laju penyerapan etilen (ml/gram/jam),3,25,2,15,1,5 R2K2A1 (f),3 Laju penyerapan etilen (ml/gram/jam),25,2,15,1,5 R2K2A2 (g) Gambar 22. Laju penyerapan etilen dan etilen eksperimen untuk (a) R1K1A2, (b) R1K2A1, (c) R1K2A1, (d) R2K1A1, (e) R2K1A2, (f) R2K1A1, dan (g) R2K2A2. Untuk mengetahui pola penyerapan oksigen, pertama dilakukan validasi terhadap penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, yaitu mengacu kepada penelitian Sagala (). Pada penelitianya, penyerapan oksigen memperlihatkan pola linear selama 4 hari pengamatan. Untuk itu, model penyerapan oksigen yang disusun adalah dengan melakukan pendekatan model linier, yaitu: E(t) = α + β 1 t (9) t = variabel bebas E(t) = variabel tak bebas α = an parameter intersep model β = koefisien regresi model

Pola penyerapan oksigen mengikuti persamaan: E(t) =.2.158 t (9) t = waktu pengukuran (jam) E(t) = konsentrasi oksigen Pola penyerapan oksigen disusun berdasarkan konsentrasi oksigen setelah penyerapan. Dari persamaan (9) diketahui bahwa nilai intersep adalah.2 yang menggambarkan bahwa pada awal pengukuran (t=), konsentrasi oksigen adalah.2% sedangkan koefisien regresi model bernilai negatif yang menyatakan bahwa setiap penambahan 1 jam pengukuran, maka konsentrasi oksigen akan berkurang sebesar.158%. Validasi penyerap oksigen terdapat pada Gambar 22. Konsentrasi oksigen,1 2,9 2,8 2,7 2,6 2,5 2,4 8 16 24 R1K2A1 (a),2 Konsentrasi oksigen 2,8 2,6 2,4 2,2 8 16 24 R1K1A2 (b),2 Konsentrasi oksigen 2,8 2,6 2,4 2,2 8 16 24 R1K2A2 (c)

Konsentrasi oksigen Konsentrasi oksigen Konsentrasi oksigen Konsentrasi oksigen,2 2,8 2,6 2,4 2,2,2 2,8 2,6 2,4 2,2,2 2,8 2,6 2,4 2,2 2,2 2,8 2,6 2,4 8 16 24 (d) 8 16 24 (e) 8 16 24 (f) 8 16 24 (g) Gambar 23. Pola penyerapan oksigen dan oksigen eksperimen untuk (a) R1K1A2, (b) R1K2A1, (c) R1K2A1, (d) R2K1A1, (e) R2K1A2, (f) R2K1A1, dan (g) R2K2A2. R2K2A2 R2K1A1 R2K2A1 R2K1A2