BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Dalam penelitian ini, penulis akan membatasi ruang lingkup penelitian dengan menitikberatkan permasalahan yang akan dibahas yaitu mengenai obyek penelitian yang diambil dari salah satu kabupaten di Jawa Tengah yaitu Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah yang memiliki 12 kecamatan dengan 167 desa/kelurahan. Adapun ruang lingkup penelitian ini membahas tentang pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kecamatan di Kabupaten Sukoharjo selama periode 2004-2013. B. Populasi dan Sampel Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Dari penelitian ini diambil sampel data 10 tahun dari tahun 2004-2013 yang diperoleh dari BPS Kabupaten Sukoharjo. C. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang dipergunakan adalah data sekunder, secara berkala (time series) untuk melihat perkembangan objek penelitian selama periode tertentu. Data yang digunakan adalah data sekunder selama 10 tahun dari tahun 2004-2013 yang diperoleh dari BPS Kabupaten Sukoharjo serta instansi yang terkait dengan penelitian ini. Adapun data yang digunakan adalah: 37
1. Data kependudukan Kabupaten Sukoharjo tahun 2004-2013. 2. PDRB dan PDRB Perkapita Kabupaten Sukoharjo atas dasar harga konstan 2000 tahun 2004-2013. D. Teknik Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Sukoharjo. Ketersediaan data merupakan suatu hal yang mutlak dipenuhi dalam suatu penelitian ilmiah. Jenis data yang tersedia harus disesuaikan dengan kebutuhan dalam suatu penelitian. Penelitian ini bersifat studi kasus dengan menentukan lokasi penelitian di Kabupaten Sukoharjo. Data yang digunakan adalah data sekunder selama 10 tahun dari tahun 2004-2013. E. Definisi Operasional Variabel 1. PDRB PDRB merupakan jumlah nilai output bersih perekonomian yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan ekonomi di wilayah tertentu yang umumnya dihitung pada suatu tahun kalender. PDRB diukur dalam satuan juta rupiah. 2. PDRB Perkapita PDRB perkapita adalah hasil penghitungan dari nilai produk domestik bruto suatu wilayah pada kurun waktu tertentu dibagi dengan jumlah penduduk wilayah dan kurun waktu yang sama. PDRB perkapita diukur dalam satuan rupiah. 38
3. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk yang dimaksud adalah keseluruhan penduduk yang tinggal di Kabupaten Sukoharjo yang tersebar dalam 12 kecamatan selama tahun 2004-2013. 4. Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan GDP/GNP tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk, atau apakah perubahan struktur ekonomi terjadi atau tidak. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan peningkatan PDRB dari tahun dasar penelitian sampai akhir penelitian. Pertumbuhan ekonomi diukur dalam satuan persen. 5. Pembangunan Ekonomi Pembangunan ekonomi adalah peningkatan pendapatan perkapita atau PDRB masyarakat yang berlangsung terus menerus dalam jangka panjang (dalam satuan rupiah). 6. Laju Pertumbuhan Ekonomi Laju pertumbuhan ekonomi adalah hasil bagi dari selisih antara PDRB pada tahun x dan PDRB pada tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan ekonomi dapat diukur dengan indikator perkembangan PDRBdari tahun ke tahun dan dinyatakan dalam persen. Dalam hal ini PDRB yang digunakan adalah PDRB atas dasar harga konstan. 39
F. Teknik Analisis Data 1. Analisis Laju Pertumbuhan Ekonomi dan Pola Perubahan Struktural a. Laju Pertumbuhan Ekonomi Analisis laju pertumbuhan digunakan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi antar kecamatan di Kabupaten Sukoharjo pada tahun 2004-2013. Pertumbuhan ekonomi dinyatakan sebagai perubahan PDRB atas dasar harga konstan di masing-masing kecamatan di Kabupaten Sukoharjo pada tahun 2004-2013 dengan satuan persen. Rumus dari pertumbuhan ekonomi adalah: PE = PDRBt PDRBt-1 / PDRBt-1 x 100% Dimana: PE = Pertumbuhan Ekonomi PDRBt = Produk Domestik Regional Bruto pada tahun t PDRBt-1= Produk Domestik Regional Bruto pada tahun sebelum t. b. Analisis Tipologi Klassen Alat analisis tipologi klassen digunakan untuk mengetahui gambaran pola struktur pertumbuhan ekonomi masing-masing daerah. Tipologi pertumbuhan daerah dibagi menjadi empat, yaitu: 1) Daerah maju dan cepat tumbuh, yaitu apabila PDRB perkapita dan laju pertumbuhan PDRB daerah tersebut masing-masing lebih besar dibandingkan dengan daerah referensi. 2) Daerah sedang bertumbuh, yaitu PDRB perkapitanya lebih kecil dibandingkan daerah referensi akan tetapi laju 40
pertumbuhan PDRBnya diatas laju pertumbuhan PDRB daerah referensi. 3) Daerah maju tetapi tertekan, yaitu apabila PDRB perkapitanya lebih tinggi dibandingkan dengan daerah referensi akan tetapi laju pertumbuhan PDRBnya dibawah laju pertumbuhan PDRB daerah referensi. 4) Daerah relatif tertinggal, yaitu apabila PDRB perkapita dan laju pertumbuhan PDRB masing-masing di bawah daerah referensi. PDRB Per Kapita (X) Tabel 3.1 Model Tipologi Klassen Xi < X Xi X Pertumbuhan ( X) Xi X Xi < X III Daerah Berkembang Cepat IV Daerah Relatif Tertinggal I Daerah Maju dan Cepat Tumbuh II Daerah Maju tapi Tertekan 41
2. Analisis Ketimpangan Regional a. Indeks Williamson Secara teoritis Indeks Williamson berfungsi sebagai alat ukur disperse dalam metoda statistika deskriptif. Indeks Williamson digunakan dalam mengukur ketimpangan pendapatan regional perkapita. Dan dirumuskan sebagai berikut: Vw = Sumber: (Yeniwati, 2013) Dimana: VW : Indeks Williamson Yi : Pendapatan perkapita kecamatan i Ŷ : Pendapatan perkapita Kabupaten Sukoharjo fi : Jumlah penduduk di kecamatan i f : jumlah penduduk Kabupaten Sukoharjo Besarnya Indeks Williamson adalah positif, semakin besar nilainya maka tingkat ketimpangannya semakin besar. Angka Indeks Williamson berkisar antara 0 sampai 1 dimana jika mendekati 0 adalah merata, sedangkan jika mendekati 1 adalah semakin timpang. 42
b. Indeks Entrophy Theil Indeks Entrophy Theil digunakan untuk mengukur kesenjangan ekonomi dan kosentrasi industri. Dalam indeks Entrphy Theil ini merupakan indeks kosentrasi spasial yang menyediakan ukuran derajat kosentrasi distribusi spasial pada sejumlah daerah dan sub daerah dalam suatu negara dan antar sub unit daerah dalam sub kawasan pada suatu titik waktu. Nilai indeks entropi yang lebih rendah berarti menunjukkan adanya kesenjangan yang rendah, dan sebaliknya. Semakin besar nilai indeks Entrophy Theil maka semakin besar ketimpangan yang terjadi. Sebaliknya, semakin kecil nilai indeks Entrophy Theil maka semakin merata terjadinya pembangunan. Adapun rumus dari indeks Entrophy Theil adalah: Dimana: Sumber: (Barika, 2012) I(y) Yj Y Xj X : Indeks Entrophy Theil : PDRB Per Kapita Kecamatan di Kabupaten Sukoharjo : Rata-rata PDRB Per Kapita Kabupaten Sukoharjo : Jumlah Penduduk Kecamatan di Kabupaten Sukoharjo : Jumlah Penduduk di Kabupaten Sukoharjo 43
3. Hipotesis Kurva U-Terbalik Kuznets Kurva U-terbalik oleh Kuznets menjelaskan bahwa pada tahap awal pembangunan ekonomi dimulai ketimpangan pendapatan tinggi atau memburuk dan pada tahap-tahap berikutnya ketimpangan pendapatan menurun, namun pada suatu waktu ketimpangan akan meningkat dan demikian seterusnya sehingga terjadi peristiwa yang berulangkali dan jika digambarkan akan membentuk kurva U-terbalik (Todaro, 2006). Dalam hal ini kurva U-terbalik dapat dibuktikan dengan cara membuat grafik antara pertumbuhan produk domestik regional bruto dan indeks ketimpangan (Kuncoro, 2004). Dengan demikian grafik pembuktian kurva U-terbalik dapat dilakukan dengan cara menghubungkan antara angka Indeks Williamson dengan pertumbuhan PDRB Kabupaten Sukoharjo pada periode 2001-2013. Dengan indikator apabila angka indeks tersebut menggambarkan kurva U- terbalik, maka dapat dikatakan bahwa hipotesis Kuznets berlaku di Kabupaten Sukoharjo. Sebaliknya apabila angka indeks tidak menggambarkan kurva U-terbalik, maka dapat dikatakan bahwa hipotesis Kuznets tidak berlaku di Kabupaten Sukoharjo. 44