Advisory Circular 92-01

dokumen-dokumen yang mirip
Menimbang : a. bahwa dalam Peraturan Menteri Perhubungan

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA, Telepon : (Sentral) NOMOR : KP. 364 TAHUN 2012 TENTANG

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan

Standar dan Regulasi terkait Perencanaan, Perancangan, Pembangunan, dan Pengoperasian Bandar Udara Juli 28, 2011

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 14 TAHUN 1989 TENTANG PENERTIBAN PENUMPANG, BARANG DAN KARGO YANG DIANGKUT PESAWAT UDARA SIPIL

DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA. Nomor : SKEP / 195 / IX / 2008 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERSETUJUAN TERBANG (FLIGHT APPROVAL)

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA. Telepon : (Sentral) NOMOR : KP. 365 TAHUN 2012 TENTANG

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2017, No Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor

2017, No Safety Regulations Part 65) Sertifikasi Ahli Perawatan Pesawat Udara (Licensing of Aircraft Maintenance Engineer) Edisi 1 Amandemen

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 173 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1995 TENTANG ANGKUTAN UDARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

2015, No Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 200

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA. Nomor : KP 247 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN DAN STANDAR BAGIAN (MANUAL OF STANDARD

2016, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Perhubungan tent

TENTANG PETUNJUK DAN TATA CARA PENGAWASAN KEAMANAN PENERBANGAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA,

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 596 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP. 271 TAHUN 2012

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN M E M U T U S K A N : NOMOR : KM 81 TAHUN 2004

3. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara;

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR: KP 93 TAHUN 2015 TENTANG

Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 313 ayat 3

UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PENERBANGAN [LN 2009/1, TLN 4956] Pasal 402

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR: KP.289 TAHUN 2012 TENTANG

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : SKEP/293/XI/99 TENTANG

2013, No LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 90 Tahun 2013 TANGGAL 19 November 2013

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 578 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 82 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR :KP 26 TAHUN 2014 TENTANG LISENSI PERSONEL PENANGANAN PENGANGKUTAN BARANG BERBAHAYA

PERSETUJUAN ANGKUTAN UDARA ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH UKRAINA PASAL I PENGERTIAN-PENGERTIAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 593 TAHUN 2014 TENTANG

2017, No personel ahli perawatan harus memiliki sertifikat kelulusan pelatihan pesawat udara tingkat dasar (basic aircraft training graduation

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 51 TAHUN 2000 TENTANG

b. bahwa dalam rangka memberikan pedoman terhadap tata

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 51 TAHUN 2000 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia,

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin maju dari masa ke

Staff Instruction SI PROCEDURES FOR ASSIGNMENT OF AIRCRAFT REGISTRATION MARKS

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan

KEPPRES 111/1998, PENGESAHAN PERSETUJUAN ANGKUTAN UDARA ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK UKRAINA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1995 TENTANG ANGKUTAN UDARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PM 66 TAHUN 2015 TENTANG

pemberitahuan terhadap tipe pesawat udara baru

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 70/PMK.04/2007 TENTANG KAWASAN PABEAN DAN TEMPAT PENIMBUNAN SEMENTARA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2002 TENTANG KESELAMATAN PENGANGKUTAN ZAT RADIOAKTIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 216 TAHUN 2017 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR :.KP TAHUN TENTANG

KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENERBANGAN Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 200 Tanggal 15 Februari 2001 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PART 69-01) PENGUJIAN LISENSI DAN RATING PERSONEL PEMANDU

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4956);

- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG

SKEP /40/ III / 2010

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR: KP 301 TAHUN 2015 TENTANG

kegiatan angkutan udara bukan niaga dan lampirannya beserta bukti

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2002 TENTANG KESELAMATAN PENGANGKUTAN ZAT RADIOAKTIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 1992 TENTANG PENERBANGAN [LN 1992/53, TLN 3481]

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 04 TAHUN 2013 TENTANG

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR : 05-P/Ka-BAPETEN/VII-00 TENTANG PEDOMAN PERSYARATAN UNTUK KESELAMATAN PENGANGKUTAN ZAT RADIOAKTIF

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

P E N J E L A S A N ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG ANGKUTAN MULTIMODA

-9- keliru. Personel AOC melakukan landing yang menyimpang dari prosedur

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP. 570 TAHUN 2011 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP.18/MEN/2003 T E N T A N G

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA Nomor: KP 4 TAHUN 2016 TENTANG

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR : 05-P/Ka-BAPETEN/VII-00 TENTANG PEDOMAN PERSYARATAN UNTUK KESELAMATAN PENGANGKUTAN ZAT RADIOAKTIF

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG ANGKUTAN MULTIMODA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 216 TAHUN 2017 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor Nomor 1 Tahun 2009 tentang

PERATURAN MENTERl PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM 44 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 072 TAHUN 2018 TENTANG

Terminal kargo bandar udara

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Transkripsi:

LAMPIRAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : SKEP/27/ II / 2009 TANGGAL : 13 FEBRUARY 2009 Advisory Circular 92-01 THE HANDLING AND CARRIAGE OF DANGEROUS GOODS ON THE OPERATOR S AIRCRAFT. EFFECTEVE DATE : 13 FEBRUARY 2009 REPUBLIC OF INDONESIA MINISTRY OF TRANSPORTATION DIRECTORATE GENERAL OF CIVIL AVIATION AC 92 01 / 2009 1

FOREWORD This Advisory Circular (AC) provides information and guidance concerning an acceptable means, but not the only means, of demonstrating compliance with the requirements of the Civil Aviation Safety Regulations (CASR) Part 92, regarding the handling and carriage of dangerous goods on the operator s aircraft. References of this Advisory Circular contains advisory material only and should be used in accordance with the applicable regulations. Revisions of this Advisory Circular will be approved by the Director General of Civil Aviation. Director General of Civil Aviation BUDHI M.SUYITNO AC 92 01 / 2009 2

Daftar Isi Hal Kata Pengantar 2 Daftar Isi 3 Maksud 4 Definisi 5 Penyelenggaraan pengangkutan bahan dan atau barang berbahaya 6 Persyaratan pengangkutan bahan atau barang berbahaya 7 Persyaratan penempatan di pesawat udara 8 Persyaratan penyimpanan di gudang bandar udara 9 Tata cara memperoleh surat persetujuan 11 Ketentuan Penutup 12 AC 92 01 / 2009 3

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA ADVISORY CIRCULAR 92-01 MAKSUD : Advisory Circular (AC) ini memberikan informasi dan petunjuk terkait dengan pemenuhan persyaratan pada Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Part 92 ( Civil Aviation Safety Regulation Part 92, khususnya untuk Operator pesawat udara dan Jasa agen pengiriman pengangkutan bahan dan atau barang berbahaya yang diangkut pesawat udara. AC 92 01 / 2009 4

DEFINISI Dalam Advisory Circular ini yang dimaksud dengan: Bahan berbahaya adalah benda atau zat padat, cair, gas yang dapat membahayakan kesehatan, keselamatan jiwa dan harta benda serta keselamatan penerbangan; Barang adalah segala sesuatu yang diangkut dan / atau akan diangkut dengan pesawat udara kecuali penumpang dan awak pesawat; Pengangkut adalah setiap badan hukum yang menjadi pemilik, penyewa dan / atau yang mengoperasikan pesawat udara, yang menggunakannya baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang atau badan hukum yang lain, untuk mengangkut penumpang bagasi, bagasi kargo, kiriman pos dan barang lainnya; Persetujuan pengangkutan adalah surat persetujuan yang diterbitkan atau dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara untuk keperluan pengangkutan bahan dan / atau barang berbahaya; Pesawat udara kargo adalah pesawat udara yang digunakan khusus untuk mengangkut barang atau harta benda; Pesawat udara penumpang adalah pesawat udara yang digunakan untuk mengangkut penumpang, kargo dan kiriman pos; Penyimpanan adalah prosedur penyimpanan bahan dan / atau barang berbahaya yang akan dikirim / baru tiba, di gudang bandar udara; AC 92 01 / 2009 5

Penempatan adalah prosedur penempatan bahan dan / atau barang berbahaya di pesawat udara; Pelabelan / marka adalah pemberian label / marka atau tanda pada kemasan bahan dan / atau barang berbahaya sesuai persyaratan yang berlaku; Surat kargo udara (Surat Muatan Udara / Airways Bill) adalah dokumen Angkutan Udara sebagai bukti adanya perjanjian angkutan udara antara pengangkut dan pengirim kargo yang berisikan syarat-syarat perjanjian angkutan udara. PENYELENGGARAAN PENGANGKUTAN BAHAN DAN / ATAU BARANG BERBAHAYA Bagian Pertama Wewenang dan Tanggung Jawab Direktur Jenderal Perhubungan Udara berwenang dan bertanggung jawab atas : a. Penyiapan, pemeliharaan prosedur tentang pengangkutan bahan dan / atau barang berbahaya dengan pesawat udara, penyimpanan di gudang bandar udara, penempatan di pesawat udara, pelabelan dan pemarkaan bahan dan / atau barang berbahaya; b. Evaluasi persiapan angkutan bahan dan / atau barang berbahaya sebelum pemberian persetujuan; c. Pemberian persetujuan pengangkutan bahan dan / atau barang berbahaya; AC 92 01 / 2009 6

d. Pengawasan, inspeksi, evaluasi terhadap pengangkutan bahan dan / atau barang berbahaya dengan pesawat udara. Pengawasan, inspeksi, evaluasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) butir d, dilaksanakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 6 bulan. Bagian Kedua Persyaratan Pengangkutan Bahan Dan / Atau Barang Berbahaya Untuk dapat melakukan pengangkutan bahan dan / barang berbahaya harus memiliki Surat Persetujuan Pengangkutan Bahan Dan / Atau Barang Berbahaya. Surat Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diberikan kepada pengangkut, setelah memenuhi ketentuan : a. Dilakukan pemeriksaan dan evaluasi oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara U.b. Kepala Direktorat Teknis Terkait atau yang mewakili; b. Telah memenuhi persyaratan teknis dan administrasi. Biaya yang timbul selama pelaksanaan pemeriksaan dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat 2 butir a, ditanggung sepenuhnya oleh pemohon. Bagi perusahaan angkutan udara asing yang akan melakukan pengangkutan bahan dan / atau barang berbahaya ke atau melintas wilaya Indonesia agar menyampaikan Surat Persetujuan Pengangkutan Bahan Dan / Atau Barang AC 92 01 / 2009 7

Berbahaya dari Pejabat yang berwenang dari negara Perusahaan Angkutan Udara Asing yang bersangkutan kepada Direktur Jendral Perhubungan Udara. Pengangkut yang akan melaksanakan pengangkutan bahan dan / atau barang berbahaya wajib melengkapi dokumen sebagai persyaratan pengangkutan : a. Pemberitahuan Tentang Isi; b. Surat Muatan Udara; c. Surat Persetujuan Pengangkutan Bahan Dan / Atau Barang, yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara; d. Mematuhi ketentuan yang terdapat dalam Annex 18 ICAO dan Doc. 9284 AN/905 antara lain : d.1. Klasifikasi, jenis bahan dan / atau barang yang diangkut; d.2. Pembatasan, jumlah bahan dan / atau barang yang diangkut; d.3 Kemasan yang digunakan; d.4 Label dan Mark. Pengangkutan bahan dan / atau barang berbahaya yang standar kemasannya tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada pasal 4 huruf (d) diperlukan persetujuan tersendiri. Bagian Ketiga Persyaratan penempatan di pesawat udara Pengangkutan bahan dan / atau barang berbahaya, yang akan ditempatkan di pesawat udara dilakukan dibawah pengawasan petugas yang memahami ketentuan tentang bahan dan atau / barang berbahaya; AC 92 01 / 2009 8

Penempatan harus sedemikian rupa sehingga tidak bercampur dengan barang / kargo lainnya; Penempatan dimaksud pada ayat 2 harus sedemikian rupa sehingga tidak akan berubah posisi/bergeser pada waktu pesawat bergerak; Ketentuan lainnya tentang penempatan tetap mengacu kepada Annex 18 dan Technical Instruction Doc. 9284 AN/905. Bagian keempat Persyaratan penyimpanan di gudang bandar udara Bahan dan / atau barang berbahaya yang belum diangkut disimpan di gudang bandar udara yang diperuntukkan untuk itu serta penyimpanannya terpisah dari bahan dan / atau barang lainnya; Tempat penyimpanan harus bersih dan aman dari bahaya api atau gangguangangguan yang dapat menimbulkan bahaya serta diperiksa secara teratur; Tempat penyimpanan harus selalu terkunci bila tidak dipergunakan dan diawasi selama digunakan; Tempat penyimpanan bahan dan / atau barang berbahaya harus terdapat tulisan dan tanda-tanda bahan dan / atau barang berbahaya yang mudah terlihat dan / atau terbaca dari jarak jauh; Ketentuan lainnya tentang penyimpanan mengacu kepada Annex 18 dan Technical Instruction Doc. 9284 AN/905. Bagian Kelima Kewajiban dan tanggung jawab pengangkut AC 92 01 / 2009 9

Pengangkut berkewajiban dan bertanggung jawab dalam hal sebagai berikut : a. Menyiapkan, melaksanakan, memelihara sistem dan prosedur pengangkutan serta pengamanan bahan dan / atau barang berbahaya; b. Menjamin bahwa bahan dan / atau barang berbahaya yang diangkut tidak terlarang untuk diangkut dengan peswat udara; c. Menjamin bahwa bahan dan / atau barang berbahaya yang diangkut telah memenuhi ketentuan tentang pengangkutan bahan dan / atau barang berbahaya; d. Melakukan pemeriksaan bahwa bahan dan / atau barang berbahaya sudah diberi label dan marka serta tidak ada kebocoran; e. Menolak mengangkut barang bila terjadi kerusakan kemasan dan / atau kebocoran; f. Memisahkan bahan dan / atau barang berbahaya tersebut dari pesawat udara bila terjadi kerusakan kemasan dan / atau kebocoran; g. Melakukan pembersihan jika terjadi tumpahan diatas pesawat udara dan memasukkan bahwa tumpahan tersebut tidak menyebabkan kerusakan dan pencemaran terhadap pesawat udara atau barang lainnya; h. Mempekerjakan sumber daya manusia yang telah memiliki sertifikat kecakapan tentang bahan dan / atau barang berbahaya melalui pendidikan dan latihan yang diakui oleh ICAO/IATA dan / atau yang disetujui Dirjen Perhubungan Udara; i. Sertifikat kecakapan tentang bahan dan / atau barang berbahaya tersebut harus disahkan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara atau pejabat yang ditunjuk; j. Memberitahukan Kapten Penerbang bahwa terdapat muatan bahan dan / atau barang berbahaya; AC 92 01 / 2009 10

k. Menyampaikan laporan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara bilamana terjadi eksiden/insiden pada saat mengangkut bahan dan / atau barang berbahaya. TATA CARA MEMPEROLEH SURAT PERSETUJUAN Permohonan Surat Persetujuan Pengangkutan Bahan Dan / Atau Barang Berbahaya diajukan oleh pengangkut kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara. Dalam jangka waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah permohonan sebagaimana tersebut pada ayat (1) diterima secara lengkap sesuai persyaratan, diberikan jawaban penolakan atau persetujuan. Apabila permohonan dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disetujui, diberikan Surat Persetujuan Pengangkutan Bahan Dan / Atau Barang berbahaya. Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dapat ditangguhkan, dibekukan atau dicabut, apabila pemegang surat persetujuan tidak memenuhi kewajiban. Surat Persetujuan Pengangkutan Bahan Dan / Atau barang berbahaya berlaku untuk jangka panjang waktu 1 (satu) tahun. Apabila jangka waktu persetuan telah berkahir dapat diperpanjang. KETENTUAN PERALIHAN Pengangkut yang telah memiliki Surat Persetujuan Pengangkutan Bahan Dan / Atau Barang berbahaya sebelum Keputusan ini ditetapkan, dapat terus melakukan kegiatannya selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sejak ditetapkan keputusan ini wajib mengajukan permohonan pembaharuan surat persetujuan. AC 92 01 / 2009 11

KETENTUAN PENUTUP Direktur Keamanan Penerbangan mengawasi pelaksanaan Advisory Circular ini. MULAI BERLAKU Advisory Circular ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan Ditetapkan di : J A K A R T A Pada tanggal :.February 2009 DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA BUDHI M. SUYITNO. AC 92 01 / 2009 12

AC 92 01 / 2009 13