HasilPenaksiranModel dengan 2SLS Setelah memenuhi semua uji asumsi, hasil penaksiran model pada masing-masing persamaan adalah sebagai berikut. a. SEKTOR PERTANIAN PC1 Penaksiran Parameter 16.64636 0.409294 Standart Error 0.058847 0.093738 t hitung 177.58 6.96 Prob > T <.0001 <.0001 R-Square=78.82%;Pr>F=<.0001;Fhitung=48.37 Bobotpadamasing-masingvariabeldalamprincipal component 1 adalah sebagai berikut. PC1 = 0.578 Z 1 + 0.575 Z 2 + 0.579 Z 3 Label Principal Component 1
Lanjutan-Sektor Pertanian Persamaan model hasil penaksiran 2SLS antara variabel ln(pdrbp) dengan PC1 adalah sebagai berikut. Ln(PDRBPt)= 16.64636+ 0.409294 PC1 Ln(PDRBP t ) =16.64636+ 0.409294 (0.578 Z 1 + 0.575 Z 2 + 0.579 Z 3 ) Ln(PDRBP t ) = 16.64636 +0.236571932 Z 1 + 0.23534405 Z 2 + 0.236981226 Z 3 Ln(PDRBP t ) = 16.64636 +3.190256104 ln(wgp)+ 5.969420321 ln(bmd) + 3.02809506 ln(bbj) PDRBP t = 16.64636WGP 3.190256104 BMD 5.969420321 BBJ 3.02809506
Interpretasi Model Sektor Pertanian Lanjutan-Sektor Pertanian Penerapan principal component regression untuk menghilangkan multikolinearitas pada model PDRB sektor pertanian diperoleh nilai koefisien determinasi yang masih cukup baik, yaitu sebesar 78.82%. Kenaikan upah sektor pertanian sebesar 1% akan mengakibatkan kenaikan nilai PDRB sektor pertanian sebesar 3.19% dengan asumsi variabel lainnya tetap. Kenaikan pengeluaran untuk belanja modal serta pengeluaran untuk belanja barang dan jasa masing-masing sebesar 1% akan mengakibatkan kenaikan nilai PDRB sektor pertanian masing-masing sebesar 5.97% dan 3.03% dengan asumsi variabel lainnya tetap.
b. SEKTOR PERTAMBANGAN diffln_tkt diffln_bpg Penaksiran Parameter 0.152811 0.672254-0.04907 Standart Error 0.137171 0.140362 0.268612 t hitung 1.11 4.79-0.18 Prob > T 0.2871 0.0004 0.85816 R-Square = 68.7%; Pr > F = 0.0009; F hitung = 13.10 Label Jumlah tenaga kerja sektor pertambangan Belanja Pegawai Tabel di atas menunjukkan variabel differencing ln(bpg) tidak signifikan secara statistik. Sehingga model persamaannya menjadi sebagai berikut. Ln(PDRBT t *) =0.152811+0.672254ln(TKT*) PDRBT t * =0.152811TKT* 0.672254
Lanjutan-Sektor Pertambangan Interpretasi Model Sektor Pertambangan Penerapan First difference equation untuk menghilangkan autokorelasi pada model PDRB sektor pertambangan diperoleh nilai koefisien determinasi yang masih cukup baik, yaitu sebesar 68.7%. Kenaikan tenaga kerja di sektor pertambangan sebesar 1% akan mengakibatkan kenaikan nilai PDRB sektor pertambangan sebesar 0.67% dengan asumsi variabel lainnya tetap.
c. SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN PC1 Penaksiran Parameter 17.05233 0.429601 Standart Error 0.063113 0.097140 t hitung 6.81 175.54 Prob > T <.0001 <.0001 R-Square = 78.09%; Pr > F = <.0001; F hitung = 46.33 Label Principal Component 1 Bobot pada masing-masing variabel dalam principal component 1 adalah sebagai berikut. PC1 = 0.307 Z 1 + 0.546 Z 2 + 0.553 Z 3 + 0.549 Z 4 Persamaan model hasil penaksiran 2SLS antara variabel ln(pdrbi) dengan PC1 adalah sebagai berikut. Ln(PDRBI t ) = 17.05233 + 0.429601 PC1 Ln(PDRBI t ) = 17.05233 + 0.429601 (0.307 Z 1 + 0.546 Z 2 + 0.553 Z 3 + 0.549 Z 4 ) Ln(PDRBI t ) = 17.05233 + 0.131887507 Z 1 + 0.234562146 Z 2 + 0.237569353 Z 3 + 0.235850949 Z 4 Ln(PDRBI t ) = 17.05233 + 4.397089006 ln(tki) + 5.949587597 ln(bmd) + 3.03561002 ln(bbj) + 2.865129997 ln(bpg) PDRBI t = 17.05233TKI 4.397089006 BMD 5.949587597 BBJ 3.03561002 BPG 2.865129997
Lanjutan-Sektor Industri Pengolahan Interpretasi Model Sektor Industri Pengolahan Penerapan principal component regression untuk menghilangkan multikolinearitas pada model PDRB sektor industri pengolahan diperoleh nilai koefisien determinasi yang masih cukup baik, yaitu sebesar 78.09%. Kenaikan tenaga kerja di sektor industri pengolahan sebesar 1% akan mengakibatkan kenaikan nilai PDRB sektor industri pengolahan sebesar 4.39% dengan asumsi variabel lainnya tetap. Kenaikan untuk pengeluaran belanja modal, pengeluaran untuk belanja barang dan jasa, serta pengeluaran untuk belanja pegawai masing-masing sebesar 1% akan mengakibatkan kenaikan nilai PDRB sektor industri pengolahan masing-masing sebesar 5.95%, 3.4%, dan 2.87% dengan asumsi variabel lainnya tetap.
d. SEKTOR LISTRIK, GAS, DAN AIR BERSIH ln_tkl ln_bbj Penaksiran Parameter 3.912442 0.097210 0.480230 Standart Error 1.911929 0.162018 0.027144 t hitung 2.05 0.60 17.69 Prob > T 0.0633 0.5597 <.0001 Label Jumlah tenaga kerja sektor listrik Belanja Barang dan Jasa R-Square=0.96570;Pr>F=<.0001;F hitung =168.90 Tabel di atas menunjukkan ln(tkl) tidak signifikan secara statistik. Sehingga model persamaannya menjadi sebagai berikut. Ln(PDRBL t ) =3.912442+0.480230BBJ PDRBL t =3.912442BBJ 0.480230
Lanjutan-Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih Interpretasi Model Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih Model PDRB sektor listrik, gas, dan air bersih memiliki hasil penaksiran yang sangat baik baik, sebagaimana terlihat dari nilai koefisien determinasi (R 2 ) sebesar 0.92439. pengeluaran untuk belanja barang dan jasa mempunyai hubungan yang positif dengan besarnya nilai PDRB sektor listrik, gas, dan air bersih, dalam artian kenaikan pengeluaran untuk belanja barang dan jasa sebesar 1 % akan mengakibatkan kenaikan nilai PDRB sektor listrik, gas, dan air bersih sebesar 0.48% dengan asumsi variabel lainnya tetap.
e. SEKTOR BANGUNAN PC1 Penaksiran Parameter 15.32469 0.246917 Standart Error 0.057210 0.092165 t hitung Prob > T 166.27 4.32 <.0001 0.0008 R-Square = 58.89%; Pr > F = 0.0008; F hitung = 18.63 Label Principal Component 1 Bobot pada masing-masing variabel dalam principal component 1 adalah sebagai berikut. PC1 = 0.419 Z 1 + 0.520 Z 2 + 0.530 Z 3 + 0.523 Z 4 Persamaan model hasil penaksiran 2SLS antara variabel ln(pdrbl) dengan PC1 adalah sebagai berikut. Ln(PDRBB t ) = 15.32469 + 0.246917 PC1 Ln(PDRBB t ) = 15.32469 + 0.246917 (0.419 Z 1 + 0.520 Z 2 + 0.530 Z 3 + 0.523 Z 4 ) Ln(PDRBB t ) = 15.32469 + 0.103458223 Z 1 + 0.12839684 Z 2 + 0.13086601 Z 3 + 0.129137591 Z 4 Ln(PDRBB t ) = 15.32469 + 3.434919 ln(tkb) + 3.256741 ln(bmd) + 1.672178 ln(bbj) + 1.56877 ln(bpg) PDRBB t = 15.32469TKB 3.434919 BMD 3.256741 BBJ 1.672178 BPG 1.56877
Interpretasi Model Sektor Bangunan Lanjutan-Sektor Bangunan Penerapan principal component regression untuk menghilangkan multikolinearitas pada model PDRB sektor bangunan diperoleh nilai koefisien determinasi yang masih cukup baik, yaitu sebesar 58.89%. Kenaikan tenaga kerja di sektor bangunan sebesar 1% akan mengakibatkan kenaikan nilai PDRB sektor bangunan sebesar 3.43% dengan asumsi variabel lainnya tetap. Kenaikan untuk pengeluaran belanja modal, pengeluaran untuk belanja barang dan jasa, serta pengeluaran untuk belanja pegawai masing-masing sebesar 1% akan mengakibatkan kenaikan nilai PDRB sektor bangunan masing-masing sebesar 3.27%, 1.67%, dan 1.57% dengan asumsi variabel lainnya tetap.
f. SEKTOR PERDAGANGAN ln_tkd ln_bmd ln_bpg Penaksiran Parameter -20.3539 1.043280 1.128483-0.09718 Standart Error 25.34720 1.788317 0.381150 0.193256 t hitung -0.80 0.58 2.96-0.50 Prob > T 0.4390 0.5714 0.013 0.625 Label Jumlah tenaga kerja sektor perdagangan Belanja Modal Belanja Pegawai R-Square = 0.81414; Pr > F = 0.0002; F hitung = 16.06 Tabel di atas menunjukkan ln(tkd) dan ln(bpg) tidak signifikan secara statistik. Sehingga model persamaannya menjadi sebagai berikut. Ln(PDRBD t ) = -20.3539+ 1.128483ln_BMD PDRBD t = -20.3539BMD 1.128483
Lanjutan-Sektor Perdagangan Interpretasi Model Sektor Perdagangan Model PDRB sektor perdagangan memiliki hasil penaksiran yang cukup baik, sebagaimana terlihat dari nilai koefisien determinasi (R 2 ) sebesar 0.81414. pengeluaran untuk belanja modal mempunyai hubungan yang positif dengan besarnya nilai PDRB sektor perdagangan, dalam artian kenaikan pengeluaran untuk belanja modal sebesar 1 % akan mengakibatkan kenaikan nilai PDRB sektor perdagangan sebesar 1.128483% dengan asumsi variabel lainnya tetap.
g. SEKTOR TRANSPORTASI Penaksiran Parameter Standart Error t hitung Prob > T Label PC1 15.62909 0.373432 0.06642 0.042211 235.31 8.85 <.0001 <.0001 R-Square = 85.76%; Pr > F = <.0001; F hitung = 78.26 Principal Component 1 Bobot pada masing-masing variabel dalam principal component 1 adalah sebagai berikut. PC1 = 0.382 Z1 + 0.529 Z2 + 0.537 Z3 + 0.535 Z4 Persamaan model hasil penaksiran 2SLS antara variabel ln(pdrba) dengan PC1 adalah sebagai berikut. Ln(PDRBA t ) = 15.62909 + 0.373432 PC1 Ln(PDRBA t ) = 15.62909 + 0.373432 (0.382 Z 1 + 0.529 Z 2 + 0.537 Z 3 + 0.535 Z 4 ) Ln(PDRBA t ) = 15.62909 + 0.142651024 Z 1 + 0.197545528 Z 2 + 0.200532984 Z 3 + 0.19978612 Z 4 Ln(PDRBA t ) = 15.62909 + 6.268193 ln(tka) + 5.010674 ln(bmd) + 2.562367 ln(bbj) + 2.427013 ln(bpg) PDRBA t =15.62909TKA 6.268193 BMD 5.010674 BBJ 2.562367 BPG 2.427013
Lanjutan-Sektor Transportasi Interpretasi Model Sektor Transportasi Penerapan principal component regression untuk menghilangkan multikolinearitas pada model PDRB sektor transportasi diperoleh nilai koefisien determinasi yang masih baik, yaitu sebesar 85.76%. Kenaikan tenaga kerja di sektor transportasi sebesar 1% akan mengakibatkan kenaikan nilai PDRB sektor transportasi sebesar 6.27% dengan asumsi variabel lainnya tetap. Kenaikan untuk pengeluaran belanja modal, pengeluaran untuk belanja barang dan jasa, serta pengeluaran untuk belanja pegawai masing-masing sebesar 1 % akan mengakibatkan kenaikan nilai PDRB sektor transportasi masing-masing sebesar 5.01%, 2.56%, dan 2.43% dengan asumsi variabel lainnya tetap.
h. SEKTOR LEMBAGA KEUANGAN DAN JASA PERUSAHAAN PC1 Penaksira n Parameter 15.51769 0.356601 Standart Error 0.116149 0.087337 t hitung Prob > T 133.60 4.08 <.0001 0.0013 R-Square = 56.19%; Pr > F = 0.0013; F hitung = 16.67 Label Principal Component 1 Bobot pada masing-masing variabel dalam principal component 1 adalah sebagai berikut. PC1 = 0.390 Z 1 + 0.664 Z 2 + 0.638 Z 3 Persamaan model hasil penaksiran 2SLS antara variabel ln(pdrbk) dengan PC1 adalah sebagai berikut. Ln(PDRBK t ) = 15.51769 + 0.356601 PC1 Ln(PDRBK t ) = 15.51769 + 0.356601 (0.390 Z 1 + 0.664 Z 2 + 0.638 Z 3 ) Ln(PDRBK t ) = 15.51769 + 0.13907439 Z 1 + 0.236783064 Z 2 + 0.227511438 Z 3 Ln(PDRBK t ) = 15.51769 + 2.739844 ln(tkk) + 6.00592 ln(bmd) + 2.763821 ln(bpg) PDRBK t = 15.51769 TKK 2.739844 BMD 6.00592 BPG 2.763821
Lanjutan-Sektor Lembaga Keuangan dan Jasa Perusahaan Interpretasi Model Sektor Lembaga Keuangan dan Jasa Perusahaan Penerapan principal component regression untuk menghilangkan multikolinearitas pada model PDRB sektor lembaga keuangan dan jasa perusahaan diperoleh nilai koefisien determinasi yang cukup baik, yaitu sebesar 56.19%. Kenaikan tenaga kerja di sektor lembaga keuangan dan jasa perusahaan sebesar 1% akan mengakibatkan kenaikan nilai PDRB sektor lembaga keuangan dan jasa perusahaan sebesar 2.74% dengan asumsi variabel lainnya tetap. Kenaikan untuk pengeluaran belanja modal dan pengeluaran untuk belanja pegawai masing-masing sebesar 1 % akan mengakibatkan kenaikan nilai PDRB sektor lembaga keuangan dan jasa perusahaan masing-masing sebesar 6.01% dan 2.76%, dengan asumsi variabel lainnya tetap.
i. SEKTOR JASA -JASA PC1 Penaksiran Parameter 16.04963 0.349591 Standart Error 0.073861 0.047843 t hitung Prob > T 217.29 7.31 <.0001 <.0001 R-Square = 80.42%; Pr > F = <.0001; F hitung = 53.39 Label Principal Component 1 Bobot pada masing-masing variabel dalam principal component 1 adalah sebagai berikut. PC1 = 0.194 Z 1 + 0.564 Z 2 + 0.571 Z 3 + 0.564 Z 4 Persamaan model hasil penaksiran 2SLS antara variabel ln(pdrbj) dengan PC1 adalah sebagai berikut. Ln(PDRBJ t ) = 16.04963 + 0.349591 PC1 Ln(PDRBJ t ) = 16.04963 + 0.349591 (0.194 Z 1 + 0.564 Z 2 + 0.571 Z 3 + 0.564 Z 4 ) Ln(PDRBJ t ) = 16.04963 + 0.067820654 Z 1 + 0.197169324 Z 2 + 0.199616461 Z 3 + 0.197169324 Z 4 Ln(PDRBJ t ) = 16.04963 + 2.97441 ln(tkj) + 5.001132 ln(bmd) + 2.550656 ln(bbj) + 2.395224 ln(bpg) PDRBJ t =16.04963TKJ 2.97441 BMD 5.001132 BBJ 2.550656 BPG 2.395224
Interpretasi Model Sektor Jasa-Jasa Lanjutan-Sektor Jasa-Jasa Penerapan principal component regression untuk menghilangkan multikolinearitas pada model PDRB sektor lembaga jasa-jasa diperoleh nilai koefisien determinasi yang baik, yaitu sebesar 80.42%. Kenaikan tenaga kerja di sektor jasa-jasa sebesar 1% akan mengakibatkan kenaikan nilai PDRB sektor jasa-jasa sebesar 2.97% dengan asumsi variabel lainnya tetap. Kenaikan untuk pengeluaran belanja modal, pengeluaran untuk belanja barang dan jasa, serta pengeluaran untuk belanja pegawai masing-masing sebesar 1% akan mengakibatkan kenaikan nilai PDRB sektor jasa-jasa masingmasing sebesar 5.00%, 2.55%, dan 2.39% dengan asumsi variabel lainnya tetap.
j. PDRB TOTAL PROPINSI JAWA TIMUR Penaksiran Parameter Standart Error t hitung Prob > T Label PC1 18.30236 0.005393 3393.57 0.002254 <.0001 138.79 0.312768 <.0001 Principal Component 1 R-Square = 99.93%; Pr > F = <.0001; F hitung = 19261.3 Bobot pada masing-masing variabel dalam principal component 1 adalah sebagai berikut. PC1 = 0.330 Z 1 + 0.335 Z 2 + 0.338 Z 3 + 0.332 Z 4 + 0.321 Z 5 + 0.332 Z 6 + 0.337 Z 7 + 0.337 Z 8 + 0.336 Z 9 Persamaan model hasil penaksiran 2SLS antara variabel ln(pdrb) dengan PC1 adalah sebagai berikut. Ln(PDRB t ) = 18.30236 + 0.005393 (0.330 Z 1 + 0.335 Z 2 + 0.338 Z 3 + 0.332 Z 4 + 0.321 Z 5 + 0.332 Z 6 + 0.337 Z 7 + 0.337 Z 8 + 0.336 Z 9 ) Ln(PDRB t ) = 18.30236 + 0.00177969 Z 1 + 0.001806655 Z 2 + 0.001822834 Z 3 + 0.001790476 Z 4 + 0.001731153 Z 5 + 0.001790476 Z 6 + 0.001817441 Z 7 + 0.001817441 Z 8 + 0.001812048 Z 9
Lanjutan-PDRB TOTAL Ln(PDRB t ) = 18.30236 + 0.036859 ln(pdrbp) + 0.023679 ln(pdrbt)+ 0.035122 ln(pdrbi) + 0.028799 ln(pdrbl) + 0.031609 ln(pdrbb) + 0.030586 ln(pdrbd) + 0.03738 ln(pdrba) + 0.033896 ln(pdrbk) + 0.034536 ln(pdrbj) PDRB t =18.30236PDRBP 0.036859 PDRBT 0.023679 PDRBI 0.035122 PDRBL 0.028799 PDRBB 0.031609 PDRBD 0.030586 PDRBA 0.03738 PDRBK 0.033896 PDRBJ 0.034536 Interpretasi Model PDRB Total Penerapan principal component regression untuk menghilangkan multikolinearitas pada model PDRB Total diperoleh nilai koefisien determinasi yang sangat baik, yaitu sebesar 99.93%. Kenaikan pada sektor pertanian, sektor pertambangan, sektor industri pengolahan, sektor listrik-gas-dan air bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan, sektor transportasi, sektor lembaga keuangan dan jasa perusahaan, serta sektor jasa-jasa masing-masing sebesar 1% akan mengakibatkan kenaikan nilai PDRB total masing-masing sebesar 0.037%, 0.024%, 0.035%, 0.029%, 0.032%, 0.031%, 0.037%, 0.034%, dan 0.035% dengan asumsi variabel lainnya tetap.
BagianIV KESIMPULAN DAN SARAN Seminar Tugas Akhir
KESIMPULAN 1. Model persamaan simultan pada sektor pertanian adalah sebagai berikut. PDRBP t =16.64636WGP 3.190256104 BMD 5.969420321 BBJ 3.02809506 Faktor yang mempengaruhi adalah upah di sektor pertanian, pengeluaran untuk belanja modal, dan pengeluaran untuk belanja barang dan jasa. 2. Model persamaan simultan pada sektor pertambangan adalah sebagai berikut. PDRBT t * =0.152811TKT* 0.672254 Faktor yang mempengaruhi adalah tenaga kerja di sektor pertambangan.
KESIMPULAN (Lanjutan) 3. Model persamaan simultan pada sektor industri pengolahan adalah sebagai berikut. PDRBI t =17.05233TKI 4.397089006 BMD 5.949587597 BBJ 3.03561002 BPG 2.865129997 Faktor yang mempengaruhi adalah tenaga kerja di sektor industri pengolahan, pengeluaran untuk belanja modal, pengeluaran untuk belanja barang dan jasa, serta pengeluaran untuk belanja pegawai. 4. Model persamaan simultan pada sektor listrik, gas, dan air bersih adalah sebagai berikut. PDRBL t = 3.912442BBJ 0.480230 Faktor yang mempengaruhi adalah pengeluaran untuk belanja barang dan jasa.
KESIMPULAN (Lanjutan) 5. Model persamaan simultan pada sektor bangunan adalah sebagai berikut. PDRBB t =15.32469TKB 3.434919 BMD 3.256741 BBJ 1.672178 BPG 1.56877 Faktor yang mempengaruhi adalah tenaga kerja di sektor bangunan, pengeluaran untuk belanja modal, pengeluaran untuk belanja barang dan jasa, serta pengeluaran untuk belanja pegawai. 6. Model persamaan simultan pada sektor perdagangan adalah sebagai berikut. PDRBD t =-20.3539BMD 1.128483 Faktor yang mempengaruhi adalah pengeluaran untuk belanja modal.
KESIMPULAN (Lanjutan) 7. Model persamaan simultan pada sektor transportasi dan angkutan adalah sebagai berikut. PDRBA t =15.62909TKA 6.268193 BMD 5.010674 BBJ 2.562367 BPG 2.427013 Faktor yang mempengaruhi adalah tenaga kerja di sektor transportasi dan angkutan, pengeluaran untuk belanja modal, pengeluaran untuk belanja barang dan jasa, serta pengeluaran untuk belanja pegawai. 8. Model persamaan simultan pada sektor lembaga keuangan dan jasa perusahaan adalah sebagai berikut. PDRBK t =15.51769TKK 2.739844 BMD 6.00592 BPG 2.763821 Faktor yang mempengaruhi adalah tenaga kerja di sektor lembaga keuangan dan jasa perusahaan, pengeluaran untuk belanja modal, serta pengeluaran untuk belanja pegawai.
KESIMPULAN (Lanjutan) 9. Model persamaan simultan pada sektor jasa-jasa adalah sebagai berikut. PDRBJ t =16.04963TKJ 2.9744 BMD 5.001132 BBJ 2.550656 BPG 2.395224 Faktor yang mempengaruhi adalah tenaga kerja di sektor jasa-jasa, pengeluaran untuk belanja modal, pengeluaran untuk belanja barang dan jasa, serta pengeluaran untuk belanja pegawai. 10. Model persamaan simultan pada PDRB Total Propinsi Jawa Timur adalah sebagai berikut. PDRB t =18.30236PDRBP 0.036859 PDRBT 0.023679 PDRBI 0.035122 PDRBL 0.028799 PDRBB 0.031609 PDRBD 0.030586 PDRBA 0.03738 PDRBK 0.033896 PDRBJ 0.034536 Sembilan sektor dalam PDRB berpengaruh terhadap nilai PDRB Total Propinsi Jawa Timur.
SARAN 1. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel penting yang tidak dimasukkan, yaitu investasi swasta dan investasi pemerintah daerah. Sehingga untuk penelitian selanjutnya sebaiknya memasukkan dua variabel ini. 2. Dalam penelitian ini data yang digunakan merupakan data time series mulai tahun 1992 sampai dengan tahun 2007, dimana pada sekitaran tahun 1998 terjadi krisis moneter di Indonesia, sehingga kemungkinan material data pada sekitaran tahun itu kurang bagus. Sehingga untuk penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan data triwulanan setelah krisis moneter berlalu.
DAFTAR PUSTAKA Bappenas, 2006. Laporan Hasil Kajian Penyusunan Model Perencanaan Lintas Wilayah dan Lintas Sektor. Diakses dalam www.bappenas.go.id/.../laporanhasil-kajian-tahun-2006-penyusunan-model-perencanaan-lintas-wilayah-danlintas-sektor/ pada 4 desember 2009. BPS, 1996. Pedoman Praktik Perhitungan PDRB Kabupaten/Kota madya Buku I. Badan Pusat Statistik. Jakarta. BPS, 1996. Pedoman Praktik Perhitungan PDRB Kabupaten/Kota madya Buku II. Badan Pusat Statistik. Jakarta. BPS, 2002. Pendapatan Nasional Indonesia 1998 2001. Badan Pusat Statistik. Jakarta. BPS, 2007. Jawa Timur dalam Angka Tahun 2007. Badan Pusat Statistik Propinsi Jatim. Surabaya. Gujarati, D. N., 1995. Basic Econometrics. Third Edition. Mc Graw-Hill, Inc. New York. http://id.wikipedia.org/, 2010. Pembangunan Ekonomi diakses 9 Februari 2010 jam 06.27 WIB. Koutsoyiannis, A., 1977. Theory of econometrics : an introductory exposition of econometric methods. Macmillan. London. Kuncoro, Mudrajad. 2001. Metode Kuantitatif: Teori dan Aplikasi untuk Bisnis dan Ekonomi. UPP AMP YKPN. Yogjakarta.
DAFTAR PUSTAKA (Lanjutan) Harahap, L.M., 2002. Analisis Perkembangan Sektoral dalam Kegiatan Pembangunan Ekonomi Wilayah di Kabupaten Langkat. Tesis Magister, Universitas Sumatera Utara. Medan. Nurrochmat, D.R., Sudradjat, A., Ramdan, H., Haryadi, D., dand.s. IrawantoEds., 2007. Reposisi Kehutanan Indonesia. Departemen Kehutanan. Jakarta. Rahutomo, 2007. AnalisisPerubahanStrukturEkonomidanFaktor-Faktoryang MempengaruhiPDRB dipropinsidaerah Istimewa Yogyakarta. TugasAkhirSarjana, Universitas Sebelas Maret. Solo. Sarwoko, 2005. Dasar-Dasar Ekonometrika. Penerbit ANDI. Yogyakarta. Siregar, H., dan Sukwika, T., 2001. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Pasar Tenaga Kerja dan Implikasi Kebijakannya Terhadap Sektor Pertanian di Kabupaten Bogor. Makalah Riset, Institut Pertanian Bogor (IPB). Bogor. Sumodiningrat, G., 2002. Ekonometrika Pengantar. BPFE. Yogyakarta. Supranto, J. 1995. Ekonometrik Buku Dua. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta. Widarjono, A., 2007. Ekonometrika: Teori dan Aplikasi untuk Ekonomi dan Bisnis Edisi Kedua. EKONISIA. Yogyakarta.