BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

dokumen-dokumen yang mirip
Raden Fini Rachmarafini Rachmat ( ) ABSTRAK

Transnational Organized Crime (TOC)

BAB I PENDAHULUAN. daya alam non hayati/abiotik. Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati

[

UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 1992 TENTANG SISTEM BUDIDAYA TANAMAN [LN 1992/46, TLN 3478]

BUPATI JOMBANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN TUMBUHAN DAN SATWA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

hakikatnya adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila;

UPAYA PEMERINTAH MELESTARIKAN KEBERADAAN SATWA LANGKA YANG DILINDUNGI DARI KEPUNAHAN DI INDONESIA

Transnational Organized Crime

Pertanggungjawaban Perusahaan dalam Kasus Lingkungan Hidup. Dewi Savitri Reni (Vitri)

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP [LN 2009/140, TLN 5059]

BAB IV ANALISIS HUKUM MENGENAI PENJUALAN HEWAN YANG DILINDUNGI MELALUI MEDIA INTERNET DIHUBUNGKAN DENGAN

2016, No c. bahwa Presiden telah menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang

PRODUKSI BARANG MEWAH DIBALIK PEMBUNUHAN HEWAN Oleh : Yerrico Kasworo* Naskah Diterima: 10 Juli 2017; Disetujui: 13 Juli 2017

BAB IV ANALISIS HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PEMENJARAAN BAGI PELAKU TINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA PUTUSAN NO.203/PID.SUS/2011/PN.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2016, No c. bahwa Presiden telah menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang

TINJAUAN YURIDIS TENTANG PENGATURAN-PENGATURAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DI INDONESIA. Oleh: Nurul Hidayati, SH. 1.

UNDANG-UNDANG NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN [LN 1999/167, TLN 3888]

Bab XXI : Menyebabkan Mati Atau Luka-Luka Karena Kealpaan

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Dasar Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Pidana. Bagaimanapun baiknya segala peraturan perundang-undangan yang siciptakan

II. TINJAUAN PUSTAKA. perbuatan jahat atau kejahatan. Secara yuridis formal, tindak kejahatan

BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil penulisan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya. maka dapat dibuat beberapa kesimpulan diantaranya:

I. PENDAHULUAN. terkandung dalam Pasal 33 ayat (3) Undang -Undang Dasar 1945 yang

BAB IV PENUTUP. diajukan dalam tesis dapat disimpulkan sebagai berikut :

KEJAHATAN KORPORASI (CORPORATE CRIME) OLEH: Dr. Gunawan Widjaja,SH.,MH.,MM

BAB IV ANALISIS HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN NEGERI PROBOLINGGO NO. 179/PID.B/PN.PBL TENTANG TINDAK PIDANA ILLEGAL LOGGING

BAB V PENUTUP. 1. Tanggung Jawab Bank Dan Oknum Pegawai Bank Dalam. Melawan Hukum Dengan Modus Transfer Dana Melalui Fasilitas

Public Review RUU KUHP

PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 06 TAHUN 2004

BAB V PENUTUP. 1. Keabsahan dari transaksi perbankan secara elektronik adalah. Mendasarkan pada ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum

BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN REKOMENDASI

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG NOMOR 8 TAHUN

BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PERBURUAN BURUNG, IKAN DAN SATWA LIAR LAINNYA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan : pembelian efek yang ditawarkan oleh emiten di Pasar Modal

BAB III ANALISIS PERBANDINGAN PENGANIYAAN TERHADAP IBU HAMIL YANG MENGAKIBATKAN KEGUGURAN JANIN ANTARA HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM PIDANA POSITIF

BENTUK-BENTUK DAN PERLINDUNGAN KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DI INDONESIA

BAB IV. Tinjauan Hukum Terhadap Pertanggungjawaban Tindak Pidana Korporasi. Pada Kasus Pembakaran Hutan Dihubungkan Dengan Undang-Undang

BAB II PENGATURAN TINDAK PIDANA PELAKU PEMBAKARAN LAHAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1980 TENTANG TINDAK PIDANA SUAP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Perlindungan Hukum Terhadap Animal Welfare. Oleh : Simplexius Asa Konsultan Hukum BAWA

BAB III PERKEMBANGAN PENGATURAN TENTANG TINDAK PIDANA NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA SEBELUM LAHIRNYA DAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2009

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. mempunyai tiga arti, antara lain : 102. keadilanuntuk melakukan sesuatu. tindakansegera atau di masa depan.

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang mempunyai keragaman jenis satwa seperti jenis

BAB IV. Pasal 46 UU No.23 tahun 1997 dinyatakan bila badan hukum terbukti melakukan tindak

BAB IV. A. Pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri Meulaboh dalam Putusan No. 131/Pid.B/2013/PN.MBO tentang Tindak Pidana Pembakaran Lahan.

PERTANGGUNGJAWABAN KORPORASI DALAM TINDAK PIDANA KEHUTANAN. Oleh: Esti Aryani 1 Tri Wahyu Widiastuti 2. Abstrak

BAB II BATASAN PENGATURAN KEKERASAN FISIK TERHADAP ISTRI JIKA DIKAITKAN DENGAN TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN MENURUT KETENTUAN HUKUM PIDANA DI INDONESIA

1. Beberapa rumusan pidana denda lebih rendah daripada UU Tipikor

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan dan

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Banyaknya tawuran antar pelajar yang terjadi di kota kota besar di

UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN [LN 1999/42, TLN 3821]

BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan analisis dari Pengaturan Tindak Pidana dan

UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG [LN 2007/58, TLN 4720 ]

Pelanggaran terhadap nilai-nilai kesopanan yang terjadi dalam suatu. masyarakat, serta menjadikan anak-anak sebagai obyek seksualnya merupakan

BEBERAPA HAL TENTANG HUKUM PIDANA LINGKUNGAN Oleh: Supriyanta*) ABSTRACT

BAB IV ANALISIS FIQH JINAYAH TERHADAP PIDANA CABUL KEPADA ANAK DI BAWAH UMUR

KEJAHATAN DAN PELANGGARAN TERHADAP NYAWA DAN TUBUH ORANG

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG TINDAK PIDANA KORUPSI. A. Pengertian Tindak Pidana Korupsi dan Subjek Hukum Tindak Pidana

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2016 NOMOR 2

PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI. UU No. 31 TAHUN 1999 jo UU No. 20 TAHUN 2001

Dalam Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009, sanksi bagi pelaku kejahatan narkoba adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN. 95 BT hingga 141 BT (sekitar 5000 km) dan 6 LU hingga 11 LS 2 tentu

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1999 TENTANG PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

BAB III PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, baik penelitian kepustakaan maupun

Penerapan Pidana Bersyarat Sebagai Alternatif Pidana Perampasan Kemerdekaan

CATATAN ATAS RUU KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (VERSI DPR)

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN [LN 1995/64, TLN 3612]

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA PENYELUNDUPAN PENYU DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI DENPASAR

BAB V PENUTUP. Bab IV, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Proses pengadaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. UUD 1945 pasal 1 ayat (3) bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum yang

Penerapan Tindak Pidana Ringan (Studi Putusan Pengadilan Negeri Kisaran Nomor 456/Pid.B/2013/PN.Kis)

BAB IV ANALISIS HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP HUKUMAN MATI BAGI PENGEDAR NARKOTIKA. dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009.

UNDANG-UNDANG NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA [LN 2009/4, TLN 4959]

UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG KEPABEANAN [LN 2006/93, TLN 4661]

BAB IV ANALISIS TENTANG SANKSI PIDANA ATAS PENGEDARAN MAKANAN TIDAK LAYAK KONSUMSI

BAB I PENDAHULUAN. paling dominan adalah semakin terpuruknya nilai-nilai perekonomian yang

BAB I PENDAHULUAN. dan menjadi habitat lebih dari 1539 jenis burung. Sebanyak 45% ikan di dunia,

BAB V PENUTUP. dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Penggunaan Klausula Baku pada Perjanjian Kredit

PEMALSUAN MATA UANG DAN UANG KERTAS UNTUK MELINDUNGI KEPENTINGAN UMUM ANCAMAN PIDANA MAKSIMUM RATA- RATA BERAT ASAS YANG DIPAKAI ADALAH ASAS UNIVERSAL

Transkripsi:

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut: 1. Indonesia dan Australia sama-sama tunduk kepada CITES, namun dalam daftar listing parties milik CITES, tercatat Indonesia memberlakukan asesi terhadap CITES, sedangkan Australia meratifikasi CITES. Australia sebagai negara yang meratifikasi CITES mengatur hal-hal mengenai CITES dalam peraturan perundang-undangannya melalui Pasal 303CA sampai dengan Pasal 303CN EPBC Act. Indonesia hanya mengasesi sehingga CITES tidak wajib untuk mengatur mengenai ketentuan mengenai CITES dalam peraturan perundang-undangannya, oleh karena itu dalam perundang-undangan Indonesia, penulis tidak menemukan pasal-pasal khusus yang mengatur mengenai CITES. Namun, dalam beberapa pasal yang terdapat dalam perundang-undangan Indonesia disebutkan bahwa pasal tersebut dibentuk dalam rangka pelaksanaan CITES. CITES membebaskan kepada negaranegara anggotanya untuk memberlakukan peraturan yang lebih ketat atau melarang sepenuhnya terhadap perdagangan satwa liar dilindungi. Sehingga, Indonesia dan Australia pada intinya sama-sama memberlakukan bahwa perdagangan satwa liar dilindungi adalah hal yang dilarang. 110

111 2. Secara keseluruhan, pengaturan mengenai perlindungan satwa liar dilindungi di Indonesia dan Australia memiliki inti yang sama. Namun, persamaan dan perbedaan pengaturan perlindungan satwa liar dilindungi dibagi oleh penulis berdasarkan legal substance, legal structure, dan legal culture. Hasil penelitian berdasarkan legal substance, maka didapat persamaan dan perbedaan sebagai berikut: 1. Penggolongan kategori punah Penggolongan kategori satwa yang dilindungi di Indonesia dan Australia berbeda. Australia membagi satwa terancam punah ke dalam lima kategori, sedangkan Indonesia membagi satwa menjadi dua kategori saja. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, pembagian kategori yang diatur oleh perundangundangan Australia akan lebih efektif untuk diterapkan. 2. Tindakan yang dilarang; Pengaturan terhadap tindakan yang dilarang dalam rangka melindungi satwa liar dilindungi dalam peraturan perundang-undangan Australia dan peraturan perundang-undangan Indonesia adalah sama. Tindakan-tindakan yang dilarang diantaranya adalah membunuh, melukai, mengambil, menyimpan/memelihara, memindahkan/mengangkut, dan memperniagakan. Namun, peraturan perundang-undangan Australia memiliki pengaturan mengenai strict liability yang tidak dimiliki oleh peraturan perundangundangan Indonesia. Strict liability adalah kelalaian dalam melakukan tindakan yang sangat berbahaya sehingga seseorang diwajibkan untuk memikul segala kerugian yang ditimbulkan.

112 3. Perdagangan satwa liar dilindungi; Peraturan perundang-undangan Indonesia dan Australia sama-sama mengatur bahwa perdagangan satwa liar dilindungi adalah tindakan yang dilarang. 4. Sanksi terhadap perdagangan satwa liar dilindungi. Sanksi terhadap pelaku perdagangan satwa liar dilindungi dalam peraturan perundang-undangan Indonesia dan peraturan perundang-undangan Australia relatif sama. Yang membedakan adalah sanksi yang diatur oleh peraturan perundang-undangan Australia lebih berat dari sisi denda, yang apabila dikonversi ke dalam rupiah mencapai angka milyaran rupiah. Sedangkan sanksi penjara yang diatur oleh peraturan perundang-undangan Indonesia lebih berat dari sisi pidana penjara, yaitu maksimum penjara lima tahun. Legal structure dalam melaksanakan perlindungan terhadap satwa liar terdiri dari Management Authority dan Scientific Authority. Di Indonesia, Management Authority dijalankan oleh Departemen Kehutanan, sedangkan Scientific Authority dijalankan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Management Authority dan Scientific Authority di Australia dijalankan oleh Australian Government Department of the Environment. Namun, berdasarkan penelitian yang penulis lakukan, tugas dan fungsi Management authority dan Scientific Authority yang diatur dalam perundang-undangan Australia lebih jelas dan lebih lengkap. Legal culture di Australia lebih baik dibandingkan di Indonesia dengan dibuktikannya bahwa tingkat kejahatan di Australia lebih rendah dibandingkan dengan tingkat kejahatan di Indonesia. Hal ini juga berdampak kepada

113 perlindungan terhadap satwa liar dilindungi di kedua negara. Dengan kesadaran hukum yang tinggi, Australia memberikan sanksi yang berat terhadap pelaku perdagangan satwa liar dilindungi. Sementara di Indonesia pelaksanaan perundang-undangan dalam melindungi satwa liar dilindungi masih belum optimal, bahkan sanksi yang diberikan pun masih tergolong ringan. B. Saran Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka penulis ingin memberikan saran sebagai berikut: 1. Indonesia perlu mencermati aturan hukum di Australia, khusunya mengenai sanksi terhadap kegiatan perdagangan satwa liar dilindungi. Sanksi terhadap kegiatan perdagangan satwa liar dilindungi di Indonesia harus diubah dan dibuat menjadi lebih berat agar menimbulkan sifat preventif dan efek jera. Strict liability yang dimiliki oleh Australia juga dapat diadopsi dan diatur dalam peraturan perundang-undangan Indonesia sebagai upaya untuk lebih meningkatkan perlindungan bagi satwa liar dilindungi. 2. Selain pengaturan mengenai strict liability, Indonesia juga dapat mengadopsi penggolongan satwa terancam punah. Penggolongan/klasifikasi satwa terancam punah yang diatur dalam peraturan perundang-undangan Australia lebih rinci sehingga dapat menangani potensi kepunahan satwa secara lebih tepat sasaran.

114 3. Sosialisasi peraturan perundang-undangan mengenai perlindungan satwa liar dilindungi perlu diberikan kepada setiap lapisan masyarakat demi meningkatkan kesadaran hukum secara merata.