Lilis Maghfuroh Program Studi S1 Keperawatan STIKes Muhammadiyah Lamongan ABSTRAK

dokumen-dokumen yang mirip
KECEMASAN ANAK USIA TODDLER YANG RAWAT INAP DILIHAT DARI GEJALA UMUM KECEMASAN MASA KECIL

BAB I PENDAHULUAN. yang mengharuskan mereka dirawat di rumah sakit (Pieter, 2011). Berdasarkan survei dari Word Health Organization (WHO) pada tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. anak (Morbidity Rate) di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Nasiolnal

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kecemasan merupakan perasaan yang timbul akibat ketakutan, raguragu,

Inggrith Kaluas Amatus Yudi Ismanto Rina Margaretha Kundre

BAB I PENDAHULUAN. tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan keterbaruan penelitian.

PENGARUH ORIENTASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN ANAK PRA SEKOLAH DI BANGSAL ANAK RUMAH SAKIT BHAKTI WIRA TAMTAMA SEMARANG. Eni Mulyatiningsih ABSTRAK

HUBUNGAN PENERAPAN ATRAUMATIC CARE DENGAN STRES HOSPITALISASI PADA ANAK DI RUANG ANAK RUMAH SAKIT UMUM CUT MEUTIA KABUPATEN ACEH UTARA TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak adalah individu unik yang mempunyai kebutuhan sesuai dengan

BAB I PENDAHULUAN. hidup mereka. Anak juga seringkali menjalani prosedur yang membuat. Anak-anak cenderung merespon hospitalisasi dengan munculnya

BAB I PENDAHULUAN. Anak merupakan seseorang yang memiliki rentang usia sejak anak dilahirkan

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Wong (2009) Masa kanak-kanak awal yaitu pada usia 3 6 tahun

BAB I PENDAHULUAN. kehamilan sampai dengan usia 18 tahun (IDAI, 2014). Anak merupakan individu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sakit dan dirawat di rumah sakit khususnya bagi anak-anak dapat

BAB I PENDAHULUAN. anak (Undang-Undang Perlindungan Anak, 2002).

BAB I PENDAHULUAN. Nasional (Susenas) tahun 2010 di daerah perkotaan menurut kelompok usia 0-4

BAB I PENDAHULUAN. tidak lagi dipandang sebagai miniatur orang dewasa, melainkan sebagai

Ibnu Sutomo 1, Ir. Rahayu Astuti, M.Kes 2, H. Edy Soesanto, S.Kp, M.Kes 3

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KECEMASAN PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DI BANGSAL MELATI RSUD TUGUREJO SEMARANG

HUBUNGAN PERAN KELUARGA DENGAN KETEPATAN STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK 0-3 TAHUN DI DESA SOKO KEC. GLAGAH KAB. LAMONGAN.

BAB 1 PENDAHULUAN. krisis karena anak mengalami stres akibat perubahan baik terhadap status

BAB I PENDAHULUAN. rumah sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang

PENGARUH TERAPI BERMAIN TERHADAP RESPON KECEMASAN ANAK USIA PRASEKOLAH DALAM MENJALANI HOSPITALISASI DI RUANG SERUNI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH JOMBANG

Naskah Publikasi SKRIPSI. Disusun oleh : LELY ERNAWATI 0302R00019

BAB 1 PENDAHULUAN. oleh banyak faktor, baik faktor dari petugas (perawat, dokter dan tenaga

TERAPI BERMAIN : GAMES PENGARUHI TINGKAT ADAPTASI PSIKOLOGIS ANAK USIA SEKOLAH

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan anak sakit dan hospitalisasi dapat menimbulkan krisis

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN TERAPI BERMAIN


BAB I PENDAHULUAN. suatu proses yang dapat diprediksi. Proses pertumbuhan dan. tumbuh dan kembang sejak awal yaitu pada masa kanak-kanak (Potter &

PERILAKU CARING PERAWAT DENGAN KECEMASAN PADA PASIEN ANAK PRASEKOLAH DI RUMAH SAKIT ANAK DAN BERSALIN (RSAB) MUHAMMADIYAH KOTA PROBOLINGGO

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perawatan pada anak telah mengalami pergeseran dan kemajuan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan krisis yang sering dimiliki anak. Anak-anak, terutama saat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sakit merupakan keadaan dimana terjadi suatu proses penyakit dan

BAB I PENDAHULUAN. perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah (Supartini, 2004). Hospitalisasi

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan motorik, verbal, dan ketrampilan sosial secara. terhadap kebersihan dan kesehatan.

BAB I PENDAHULUAN. diatasi. Bagi anak usia prasekolah (3-5 tahun) menjalani hospitalisasi dan

TEKNIK ORANG KETIGA DENGAN EKSPLORASI PERASAAN ANAK USIA SEKOLAH SELAMA DIRAWAT DI RSUD Dr.PIRNGADI MEDAN

Vol 1, No 2, Oktober 2017 ISSN

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa anak prasekolah (3-5 tahun) adalah masa yang menyenangkan dan

BAB 1 PENDAHULUAN. mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologis, sosial dan spiritual) yang

PERSEPSI ORANG TUA TENTANG PENERAPAN PRINSIP PERAWATAN ATRAUMATIK DI RUANG IBNU SINA RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. kembang anak dipengaruhi oleh faktor bawaan (i nternal) dan faktor lingkungan.

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungannya dengan upaya stimulasi yang dapat dilakukan, sekalipun anak

HUBUNGAN PENDAMPINGAN ORANG TUA DENGAN KECEMASAN PADA ANAK SAAT PENGAMBILAN DARAH DI RUANGAN ANAK RSUD NOONGAN KABUPATEN MINAHASA

HUBUNGAN TINGKAT KECERDASAN SPIRITUAL DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Siti Nursondang 1, Setiawati 2, Rahma Elliya 2 ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. anggotanya. Keluarga berfungsi tinggi untuk membantu dalam menjaga

HUBUNGAN LINGKUNGAN KERJA DENGAN UPAYA PENCEGAHAN KESALAHAN PEMBERIAN OBAT DI RUANG TERATAI RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN

BAB III METODE PENELITIAN. kemudian menelaah dua variabel pada suatu situasi atau. sekelompok subjek. Hal ini dilakukan untuk melihat hubungan

Hubungan Antara Peran Orang Tua 1

BAB I PENDAHULUAN.

BAB l PENDAHULUAN. peningkatan jumlah anak di Indonesia. Hal ini memberi konsekuensi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun) usia

HUBUNGAN PERILAKU CARING PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN ANAK USIA SEKOLAH YANG DIRAWAT DI RUANG PERAWATAN ANAK DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL

PENGARUH TERAPI BERCERITA TERHADAP SKALA NYERI ANAK USIA PRASEKOLAH (3-6 TAHUN) SELAMA TINDAKAN PENGAMBILAN DARAH VENA DI RSUD TUGUREJO SEMARANG

Ramadini Marniaty de Breving Amatus Yudi Ismanto Franly Onibala

KONSEP PERSPEKTIF KEPERAWATAN ANAK

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. memperkecil distres psikologis dan fisik yang diderita oleh anak-anak dan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Family Centered Care

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

HUBUNGAN KOMUNIKASI TEURAPETIK BIDAN DENGAN KECEMASAN IBU BERSALIN DI RUANG KEBIDANAN DAN BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN PIDIE

BAB 1 PENDAHULUAN. kesempatan cukup untuk bermain akan menjadi orang dewasa yang mudah

BAB I PENDAHULUAN. Menjalani perawatan di rumah sakit (hospitalisasi) merupakan pengalaman

Perbedaan Pengaruh Terapi Bermain Mewarnai Gambar dengan Bermain Puzzle Terhadap Kecemasan Anak Usia Prasekolah di IRNA Anak RSUP Dr.M.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG ATRAUMATIC CARE DI RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL DAN YOGYAKARTA

BAB 1 PENDAHULUAN. 2004). Hospitalisasi sering menjadi krisis utama yang harus dihadapi anak,

BAB 1 PENDAHULUAN. Perawatan anak telah mengalami pergeseran yang sangat mendasar, anak sebagai

HUBUNGAN PELAKSANAAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA ANAK PRASEKOLAH DI RUANG PERAWATAN ANAK RSUD AMBARAWA

HUBUNGAN PELIBATAN ORANG TUA DALAM PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KECEMASAN ANAK USIA TODDLER YANG DIRAWAT DI RUMAH SAKIT

KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN TINGKAT KECEMASAN KELUARGA PASIEN DI INTENSIVE CARE UNIT (ICU) RS ADI HUSADA KAPASARI SURABAYA

BAB II LANDASAN TEORI Hospitalisasi atau Rawat Inap pada Anak Pengertian Hospitalisasi. anak dan lingkungan (Wong, 2008).

Performance Hospital Service Against The Level Of Anxiety In Child. Performance Pelayanan Rumah Sakit Terhadap Tingkat Kecemasan Anak

PENGARUH TERAPI BERCERITA TERHADAP KECEMASAN ANAK USIA PRASEKOLAH YANG MENGALAMI HOSPITALISASI DI RSUD KABUPATEN SEMARANG

ABSTRAK HUBUNGAN DUKUNGAN ORANG TUA DENGAN TINDAKAN INVASIF PEMASANGAN INFUS PADA ANAK USIA BALITA (1-5 TAHUN) DI RUMAH SAKIT IBNU SINA MAKASSAR

NASKAH PUBLIKASI. Disusun Oleh: MARTHA AYU RACHMADANI

PENGETAHUAN IBU TENTANG PERKEMBANGAN PSIKOSEKSUAL ANAK DENGAN JENIS APE YANG DIBERIKAN PADA ANAK USIA 1-12 BULAN. Ihda Mauliyah ABSTRAK

GAMBARAN SIKAP PERAWAT DALAM KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA ANAK USIA BALITA OVERVIEW ATTITUDE OF NURSES IN COMMUNICATION THERAPEUTIC IN CHILDREN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terhadap pengalaman sakit, yang disebabkan karena faktor lingkungan,

EFEKTIVITAS TERAPI BERMAIN PUZZLE DENGAN MEWARNAI GAMBAR TERHADAP TINGKAT KECEMASAN ANAK USIA PRA SEKOLAH DI RSUD 45 KUNINGAN

PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN PERILAKU PERAWAT

HUBUNGAN ANTARA PENDAMPINGAN PERSALINAN OLEH KELUARGA DENGAN LAMANYA PERSALINAN KALA II DI BPS HJ. YUSFA F. ZUHDI GEMPOL PADING PUCUK

SKRIPSI. Oleh : EKAN FAOZI J Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Meraih Derajat Sarjana S-1 Keperawatan

JURNAL STIKES. ISSN Volume 7, Nomor 1, Juli 2014, halaman DAFTAR ISI

PENGARUH BERMAIN ORIGAMI TERHADAP KECEMASAN ANAK USIA PRA SEKOLAH YANG MENGALAMI HOSPITALISASI DI RUANG MAWAR RSUD KRATON PEKALONGAN.

PENGARUH PROGRAM BERMAIN TERHADAP RESPON PENERIMAAN PEMBERIAN OBAT PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH

maupun sebagai masyarakat profesional (Nursalam, 2013).

ANALISIS HUBUNGAN BEBAN KERJA DAN LAMA MASA KERJA DENGAN STRES PADA PERAWAT DI PUSKESMAS BLOOTO KOTA MOJOKERTO. Arief Fardiansyah 1 *)

1. Bab II Landasan Teori

Lilis Maghfuroh Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan ABSTRAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Departemen Kesehatan (1988, dalam Effendy 1998)

Transkripsi:

ATRAUMATIC CARE MENURUNKAN KECEMASAN HOSPITALISASI PADA ANAK PRASEKOLAH DI RUANG ANGGREK RSU dr. SOEGIRI LAMONGAN (The Atraumatic Care Reduce Anxiety Hospitalization Preschool Children in Anggrek Room RSUD dr. Soegiri Lamongan) Lilis Maghfuroh Program Studi S1 Keperawatan STIKes Muhammadiyah Lamongan E-mail : lilisahza99@gmail.com ABSTRAK Hospitalisasi dapat menyebabkan kecemasan pada anak usia prasekolah. Kecemasan anak dapat disebabkan oleh petugas kesehatan, lingkungan baru, dan perpisahan dari keluarga selama dirawat di rumah sakit. Pelayanan Atraumatic care bertujuan untuk mengurangi kecemasan anak atau orang tua selama proses hospitalisasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan atraumatic care dengan kecemasan anak usia prasekolah di ruang anggrek RSU dr. Soegiri Kabupaten Lamongan. Desain penelitian dalam penelitian ini adalah menggunakan observasi analitik dengan pendekatannya cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling, populasi sebanyak 8 responden dan jumlah sampel didapatkan sebanyak 5 responden.penelitian ini dilakukan di ruang anggrek RSU dr. Soegiri Kabupaten Lamongan. Hasil analis uji spearman rank dengan hasil tes, p = 0,000 dimana p < 0.05 dan rs = 0.86 dengan Z hitung = 4.874 dimana Z hitung > Z tabel (1.96) menunjukkan bahwa ada hubungan Atraumatic care dengan kecemasan anak usia prasekolah saat proses hospitalisasi di ruang anggrek RSU dr. soegiri Kabupaten Lamongan Semakin baik penerapan Atraumatic care yang diberikan maka semakin kecil risiko kecemasan yang dialami anak prasekolah saat proses hospitalisasi. Diharapkan perawat dapat memberikan pelayanan Atraumatic care dengan optimal serta meningkatkan kemampuan untuk memahami perilaku anak yang mengalami hospitalisasi. Kata Kunci : Atraumatic care, Kecemasan, Hospitalisasi PENDAHULUAN Anak merupakan bagian dari keluarga dan masyarakat. Anak yang sakit dapat menimbulkan suatu stres bagi anak itu sendiri maupun keluarga (Setiawan et al, 2014).Reaksi anak prasekolah terhadap hospitalisasi dapat ditunjukan dengan reaksi agresif dengan marah dan berontak, ekspresi verbal dengan mengucapkan kata-kata marah, tidak mau bekerja sama dengan perawat dan ketergantungan pada orang tua. Anak prasekolah juga sering mengalami kehilangan kontrol pada dirinya dan rasa cemas ini muncul akibat adanya pembatasan aktivitas yang menganggap bahwa tindakan dan prosedur perawatan dapat mengancam integritas tubuhnya (Supartini, 2012). Anak-anak di Amerika Serikat diperkirakan lebih dari 5 juta mengalami hospitalisasi dan lebih dari 50% dari jumlah tersebut, anak mengalami kecemasan dan stres (Kain, 2006 dalam Apriliawati, 2011). Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Febriana S dkk 2012 sebagian besar (68,%) anak mengalami cemas ringan pada saat dihospitalisasi dan hampir setengah (1,7%) mengalami cemas sedang pada saat dihospitalisasi Adapun data anak pra sekolah yang dirawat di RSU Dr. Soegiri Kabupaten Lamongan tiga bulan terakhir adalah, pada bulan Juli sebanyak 75 anak, kemudian bulan Agustus sebanyak 60 anak dan bulan September sebanyak 65 anak. Hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di ruang Anggrek RSU dr. Soegiri Kabupaten Lamongan pada bulan Oktober 2014, didapatkan bahwa 8 dari 10 anak usia prasekolah menunjukan reaksi kecemasan. Menurut hasil wawancara dengan orang tua anak prasekolah yang menjalani perawatan SURYA 40 Vol. 08, No. 01, April 2016

anak menunjukkan beberapa reaksi kecemasan seperti, anak menjadi sering gelisah, rewel dan selalu ingin ditemani saat menjalani proses perawatan. Dari survei awal diatas dapat disimpulkan bahwa kejadian kecemasan masih banyak terjadi pada anakanak yang menjalani proses hospitalisasi. Penyebab dari kecemasan pada anak yang dirawat inap (hospitalisasi) dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dari petugas (perawat, dokter, dan tenaga kesehatan lainnya), lingkungan baru, maupun keluarga yang mendampingi selama perawatan (Nursalam, 2005). Menurut Farozin & Fathiyah (2004) faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan anak prasekolah saat proses hospitalisasi yaitu: kepribadian anak, urutan anak dalam keluarga, peran orang tua dan kelas rumah sakit. Tindakan dan Sikap perawat serta kelas rumah sakit akan mempengaruhi tingkat kecemasan anak saat proses hospitalisasi, sehingga dalam memberikan asuhan keperawatan perawat dapat menggunakan teknik atraumatic care. Atraumatic care, merupakan bentuk perawatan terapeutik yang diberikan oleh tenaga kesehatan yaitu perawat, dalam tatanan pelayanan kesehatan anak melalui penggunaan tindakan yang mengurangi distres fisik maupun distres psikologis yang dialami anak maupun orang tua (Supartini, 2012). Atraumatic care dibedakan menjadi empat hal, yaitu mencegah atau meminimalkan perpisahan anak dari orang tua, meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anaknya, mencegah atau meminimalkan cedera fisik maupun psikologis, serta modifikasi lingkungan ruang perawatan anak. Intervensi keperawatan Atraumatic care meliputi pendekatan psikologis berupa menyiapkan anak-anak untuk prosedur pemeriksaan sampai pada intervensi fisik terkait menyediakan ruang bagi anak tinggal bersama orang tua dalam satu ruangan (rooming in) (Wong, 2009). Upaya untuk mengatasi kecemasan pada anak antara lain yang pertama melibatkan orang tua anak, agar orang tua berperan aktif dalam perawatan anak dengan cara membolehkan mereka untuk tinggal bersama anak selama 24 jam. Jika tidak mungkin, beri kesempatan orang tua untuk melihat anak setiap saat dengan maksud untuk mempertahankan kontak antara mereka. Yang kedua melakukan modifikasi lingkngan rumah sakit,agar anak tetap merasa nyaman dan tidak asing dengan lingkungan baru. Upaya yang ketiga adalah peran dari petugas kesehatan rumah sakit (dokter, perawat), dimana diharapkan petugas kesehatan khususnya perawat harus menghargai sikap anak karena selain orang tua perawat adalah orang yang paling dekat dengan anak selama dirawat di rumah sakit. Sekalipun anak menolak orang asing (perawat), namun perawat harus tetap memberikan dukungan dengan meluangkan waktu secara fisik dekat dengan anak, menggunakan suara bernada tenang, pilihan kata yang tepat, kontak mata dan sentuhan secara empati (Wong, 2009). METODE PENELITIAN Desain penelitian dalam penelitian ini adalah menggunakan analitik dengan pendekatannya cross sectional. Populasi dalam penelitian in adalah seluruh orang tua yang mempunyai anak usia prasekolah yang dirawat di ruang Anggrek RSU Dr. Soegiri Kabupaten Lamongan pada bulan Maret-April 2015 dengan jumlah 8 responden. Sampel pada penelitian ini adalah sebagian orang tua yang mempunyai anak usia prasekolah yang dirawat di ruang Anggrek RSU Dr. Soegiri Kabupaten Lamongan dengan jumlah 5 responden. Teknik Sampling dalam penelitian ini adalah Consecutive sampling dan menggunakan uji spearman rank. HASIL PENELITIAN Tabel 1 Distribusi Atraumatic care Saat Proses Hospitalisasi di Ruang Anggrek RSUD dr. Soegiri Kabupaten Lamongan pada Bulan Maret-April 2015 No Atraumatic care F % 1 2 Baik Cukup Kurang 21 10 4 60 28.6 11.4 Jumlah 5 100 Berdasarkan tabel 1 data Atraumatic care menunjukkan bahwa sebagian besar Atraumatic care baik sebanyak 21 (60%), dan hanya sebagian kecil 4 (11.4%) Atraumatic care kurang. SURYA 41 Vol. 08, No. 01, April 2016

Tabel 2 Distribusi Tingkat Kecemasan Saat Proses Hospitalisasi di Ruang Anggrek RSUD dr. Soegiri Kabupaten Lamongan pada Bulan Maret-April 2015 No Tingkat Kecemasan F % 1 2 4 Ringan Sedang Berat Panik 20 12 0 57.1 4. 8.6 0 Jumlah 5 100 Berdasarkan tabel 2 terlihat bahwa kecemasan anak usia prasekolah saat proses hospitalisasi menunjukkan setengahnya sebanyak 20 anak (57.1%) mengalami kecemasan ringan, dan sebagian kecil anak (8.6%) mengalami kecemasan berat. Tabel Distribusi Atraumatic care dengan Tingkat Kecemasan Anak Prasekolah Saat Proses Hospitalisasi di Ruang Anggrek RSUD dr. Soegiri Kabupaten Lamongan Maret-April 2015. No Atrauma Tingkat Kecemasan Total Care Ringan Sedang Berat Panik 1 2 Baik Cukup Kurang F % F % F % F % F % 19 54. 2 5.7 0 0 0 0 21 60 1 2.8 8 2 1 2.8 0 0 10 28.6 0 0 2 5.7 2 5.7 0 0 4 11.4 Total 20 57.1 12 4.4 8.5 0 0 5 100 sig 2 tailed (ρ) = 0,000, Koefisien korelasi spearman( ) = 0,86. Z hitung =4.874 Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar 21 (60%) orang tua yang menerima atraumatic care baik, dimana sebagian besar anaknya mengalami kecemasan ringan yakni 19 (54.%). Sedangkan dari 4 (11.4%) orang tua yang mendapat atraumatic care kurang, sebagian kecil anaknya mengalami kecemasan sedang yakni 2 (5.7) dan kecemasan berat 2 (5.7%). Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan program SPSS 18.0 for windows dan dianalisa menggunakan uji Rank Spearman antara Atraumatic care dengan kecemasan anak prasekolah saat proses hospitalisasi didapatkan nilai Spearmen Rho 0,86 sehingga nilai Z hitungnya 4.874 dimana Z hitung > 1,96 dan nilai signifikan p = 0.000 dimana p < 0.05 maka H 0 ditolak dan H 1 diterima, artinya ada hubungan yang signifikan anatara Atraumatic care dengan tingkat kecemasan anak prasekolah saat proses hospitalisasi di ruang Anggrek RSUD Dr. Soegiri Lamongan. PEMBAHASAN Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar (60%) pelaksanaan penerapan atraumatic care baik dan sebagian kecil (11.4%) penerapan atraumatic care kurang. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pelayanan atraumatic care di ruang Anggrek RSU dr. Soegiri Kabupaten Lamongan telah menerapkan pelayanan atraumatic care yang baik. Penerapan atraumatic care didasari adanya kerja sama orang tua dan perawat dalam memfasilitasi keluarga untuk terlibat dalam asuhan keperawatan anak selama hospitalisasi. Menurut Supartini, 2012 Pelayanan atraumatic care memberdayakan kemampuan keluarga baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap dalam melaksanakan perawatan anaknya di rumah sakit melalui interaksi yang terapeutik dengan keluarga. Keberhasilan pelayanan atraumatic care dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor dari orang tua salah satunya jenis kelamin orang tua. Berdasarkan penelitian jenis kelamin orang tua sebagian besar perempuan dengan jumlah 26 (74.%). Ibu memiliki sikap yang positif terhadap anak yang sedang dirawat. Ibu bisa memenuhi kebutuhan anak baik secara fisik maupun psikologis sehingga membuat anak bersikap positif terhadap kegiatan keperawatan yang sedang dijalani anak. Peran ibu dalam menemani anak saat proses hospitalisasi membuat sikap anak lebih kooperatif sehingga dapat membantu mempermudah perawat saat melakukan tindakan keperawatan pada anak. Seorang perempuan lebih banyak menghabiskan waktu dalam mengasuh anaknya, sehingga terjadi keterikatan emosi antara keduanya. Hal ini dikarenakan peran seorang ibu yang lebih berperan dalam merawat anggota keluarga, sehingga dapat meluangkan waktu untuk menemani anak lebih besar (Utami, 2012) Berdasarkan tabel 2, didapatkan hasil sebagian besar anak 20 (57.1%) mengalami kecemasan ringan. SURYA 42 Vol. 08, No. 01, April 2016

Hospitalisasi menjadi stresor terbesar bagi anak dan keluarganya yang menimbulkan ketidak nyamanan atau kekhawatiran, anak akan mengalami kecamasann karena tindakan keperawatan dan keadaan penyakitnya. Hospitalisasi merupakan suatu proses yang menjadi alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi pengobatan dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah (Supartini, 2012). Anak yang baru pertama kali dirawat di rumah sakit menunjukan perilaku kecemasan. Selain pada anak, orang tua yang kurang mendapat dukungan emosi dan sosial dari keluarga, kerabat, bahkan petugas kesehatan anak menunjukan perasaan cemasnya pula (Tiedeman, 1997, dalam Supartini, 2012). Kecemasan anak dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya Usia anak, jenis kelamin dan pengalaman rawat inap. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa sebagian besar usia anak yaitu usia -4 tahun sebanyak 20 responden (57.1%). Dimana pada usia ini anak masih menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Anak usia -4 tahun masih takut dengan hal baru. Semakin muda usia anak, maka akan semakin sulit bagi anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hal ini juga berhubungan dengan sistem imun anak akan terus berkembang seiring dengan bertambahnya usia anak (Sacharin, 2004), Menurut penelitian yang dilakukan Apriliawati (2011) pada 0 responden anak, terdapat hubungan sedang antara usia dan kecemasan responden. Selain itu pengalaman yang tidak menyenangkan anak akan menyebabkan anak takut dan trauma (Supartini, 20012). Maka dapat disimpulkan semakin muda usia anak akan lebih berisiko untuk mengalami hospitalisasi disebabkan oleh pertahanan sistem imun anak yang masih berkembang sehingga sangat rentan terhadap paparan penyakit. Menurut salah satu orang tua anak, kecemasan anak sering muncul ketika perawat menghampiri anak. Anak tiba-tiba menangis saat melihat perawat, memanggil orang tuanya dan tampak gugup seolah menolak kehadiran perawat yang datang. Menurut Muscari (2005), anak prasekolah menggambarkan bahwa hospitalisasi sebagai hukuman dan perpisahan dengan orang tua sebagai kehilangan kasih sayang. Hal ini yang menyebabkan anak menganggap perawat yang datang akan selalu melukainya dan kehadiran orang tua akan memberikan perlindungan bagi diri anak. Hospitalisasi akan menimbulkan ancaman terhadap integritas fisik dan sistem dalam diri anak. Ancaman ini akan memimbulkan respon kecemasan pada anak (Wong, 2009). Penyebab dari kecemasan pada anak yang dirawat inap (hospitalisasi) dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dari petugas (perawat, dokter, dan tenaga kesehatan lainnya), lingkungan baru, maupun keluarga yang mendampingi selama perawatan (Nursalam,2005). Hasil tabulasi pada tabel dapat disimpulkan bahwa sebagian besar orang tua yang menerima atraumatic care baik yakni 21 (60%) dimana sebagian besar 19 (54.%) anak mengalami kecemasan ringan. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan program SPSS 18.0 for windows dan dianalisa menggunakan uji Rank Spearman antara Atraumatic care dengan kecemasan anak prasekolah saat proses hospitalisasi didapatkan nilai Spearmen Rho 0,86 sehingga nilai Z hitungnya 4.874 dimana Z hitung > 1,96 dan nilai signifikan p = 0.000 dimana p < 0.05 maka H 0 ditolak dan H 1 diterima, artinya ada hubungan yang signifikan anatara Atraumatic care dengan tingkat kecemasan anak prasekolah saat proses hospitalisasi. Maka semakin baik penerapan atraumatic care yang diberikan maka semakin kecil risiko kecemasan yang dialami anak prasekolah saat proses hospitalisasi. Penelitian yang dilakukan oleh Lory Huff et al., (2009) menyatakan bahwa implementasi atraumatic care pada anak yang dirawat di rumah sakit dapat menurunkan trauma pada anak dan orang tua akibat prosedur invasif. Asuhan keperawatan yang berpusat pada keluarga dan Atraumatic care menjadi falsafah utama dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. Menurut Apriliawati, (2011) kecemasan memiliki faktor predisposisi dan faktor pencetus hingga terjadinya kecemasan. Respon kecemasan dapat dibagi terdiri dari respon fisiologis, perilaku, kognitif, dan afektif. Tingkat kecemasan dibagi menjadi kecemasan ringan, sedang, berat, dan panik. Untuk mengatasi SURYA 4 Vol. 08, No. 01, April 2016

kecemasan anak selama hospitalisasi dibutuhkan pendekatan Atraumatic care. Hal yang sama diungkapkan Supartini, (2012) bahwa Pelayanan Atraumatic care merupakan suatu tindakan perawatan terapetik yang dilakukan oleh seseorang dengan menggunakan intervensi melalui cara mengeliminasi atau meminimalisasi stres psikologi dan fisik yang dialami oleh anak dan keluarganya dalam sistem pelayanan kesehatan. Perawat anak merupakan bagian dari pemberi pelayanan kesehatan dituntut untuk mampu memberikan asuhan keperawatan yang bertujuan untuk meminimalkan dampak hospitalisasi sebagai pemenuhan aspek psikologis anak. PENUTUP 1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang hubungan penerapan atraumatic care dengan kecemasaan anak prasekolah saat proses hospitalisasi di RSU dr. Soegiri Kabupaten Lamongan, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Penerapan atarumatic care di RSU dr. Soegiri Kabupaten Lamongan sebagian besar (60%) termasuk dalam katagori baik. 2) Sebagian besar anak didapatkan mengalami kecemasan ringan (57.1%) saat proses hospitalisasi di RSU dr. Soegiri Kabupaten Lamongan. ) Ada hubungan antara penerapan atraumatic care dengan kecemasan anak prasekolah saat proses hospitalisasi di RSU dr. Soegiri Kabupaten Lamongan. 2. Saran Saran yang diberikan terkait dengan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Bagi Keperawatan Mengaplikasikan pelayanan keperawatan atraumatic care sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan. Asuhan keperawatan yang tepat bagi anak yang menjalani hospitalisasi dapat membantu anak untuk beradapatasi dengan lingkungan dan kondisi kesehatanya sehingga proses hospitalisasi atau perawatan dapat berjalan dengan baik dan meminimalkan trauma pada anak. 2) Bagi Rumah Sakit (1) Pelayanan di rumah sakit khususnya perawatan anak sebaiknya lebih memaksimalkan pelayanan keperawatan dengan prinsip atraumatic care pada anak sehingga dapat meminimalkan kecemasan pada anak saat hospitalisasi dan proses perawatan akan lebih mudah. (2) Perawat anak diharapkan melakukan evaluasi penilaian terhadap penerapan pelayanan keperawatan atraumatic care untuk meningkatkan pelayanan keperawatan anak, terutama pada aspek modifikasi lingkungan dan meminimalkan injuri atau nyeri pada anak. DAFTAR PUSTAKA Apriliawati, Anita. 2011. Pengaruh Biblioterapi Terhadap Tingkat Kecemasan Anak Usia Sekolah yang Menjalani Hospitalisasi di Rumah Sakit Islam Jakarta. Tesis. Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Program Magister KeperawatanUniversitas Indonesia. Farozin, M. dan Fathiyah, K.N. (2004). Pemahaman Tingkah Laku. Jakarta: Rineka Cipta. Febriana S dkk, 2012. Hubungan Kecemasan ibu dengan Kecemasan anak saat hospitalisasi anak. Jurnal Nursing Studies, volume 1, Nomer 1 tahun 2012. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas kedokteran Universitas Diponegoro. L. Huff et al. (2009). Atraumatic care: Emla Cream and Application of Heat to Facilitate Peripheral Venous Cannulation In Children. http://www.scribd.com/doc/12991546 /Atraumatic-Care-EMLA- Cream#download. [diakses pada 5 Juni 201] Muscari, Mary E. (2005). Panduan Belajar: Keperawatan Pediatrik Ed.. Jakarta: EGC. SURYA 44 Vol. 08, No. 01, April 2016

Nursalam, dkk. (2005). Asuhan Keperawatan Bayi Dan Anak (Untuk Perawat Dan Bidan). Jakarta : Salemba Medika Setiawan dkk. (2014). Keperawatan anak & tumbuh kembang (pengkajian dan pengukuran). Yogyakarta: Nuha Medika Supartini, Y. (2012). Konsep dasar keperawaatan anak. Jakarta: EGC. Utami, Resti. (2012). Hubungan Penerapan Atraumatic care Dengan Tingkat Kepuasan Orang Tua Anak Selama Proses Hospitalisasi di Ruang Anak Rumah Sakit Daerah Balung Jember. Student e-journal, (Online) (http://repository.unej.ac.id/bitstream/ handle/12456789/208/resti%20uta mi.pdf?sequence=1) diakses tanggal 2 januari 2015 jam 08.4 WIB Wong, Donna L. (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC SURYA 45 Vol. 08, No. 01, April 2016