BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. landasan kerja dan lingkungan kerja serta cara-cara melakukan pekerjaan dan proses

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Peralatan Perlindungan Pekerja

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tidak terduga oleh karena dibelakang peristiwa itu tidak terdapat unsur kesengajaan,

BAB IITINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA. A. Manajemen Sumberdaya Manusia Manajemen Sumberdaya Manusia adalah penarikan seleksi,

tenaga kerja yang sesuai dengan jenis pekerjaannya (Suma mur, 2014). organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu tertentu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PEMBELAJARAN V ALAT PELINDUNG DIRI

BAB I PENDAHULUAN. pengeluaran energi, sehingga berpengaruh pada kemampuan kerja. manusia. Untuk mengoptimalkan kemampuan kerja, perlu diperhatikan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja. subkontraktor, serta safety professionals.

BAB II LANDASAN TEORI. dan proses produksi (Tarwaka, 2008: 4). 1. Mencegah dan Mengurangi kecelakaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Manajemen Proyek Konstruksi dan Peran Manajer. satu kali dilaksanakan dan umumnya berjangka waktu pendek.

KESEHATAN KERJA. oleh; Syamsul Rizal Sinulingga, MPH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. karakteristik yaitu bersifat unik, membutuhkan sumber daya (manpower,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. No.3 tahun 1998 tentang cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan, kecelakaan. menimbulkan korban manusia dan harta benda.

Tujuan K3. Mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Menjamin tempat kerja yang sehat, bersih, nyaman dan aman

BAB I PENDAHULUAN. kerusakan harta benda. Kecelakaan kerja banyak akhir-akhir ini kita jumpai

MENERAPKAN PROSEDUR KEAMANAN, KESELAMATAN DAN KESEHATAN DI TEMPAT KERJA

MODUL 10 SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA. (Prinsip Keselamatan Kerja)

MEMPELAJARI KESELAMATAN KERJA RUANG PLATTING MENGGUNAKAN FREQUENCY RATE & SEVERITY RATE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. manusia berusaha mengambil manfaat materi yang tersedia. depan dan perubahan dalam arti pembaharuan.

Definisi dan Tujuan keselamatan kerja

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB IV IDENTIFIKASI PERMASALAHAN

PENGERTIAN KESELAMATAN KERJA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

adalah 70-80% angkatan kerja bergerak disektor informal. Sektor informal memiliki

BAB II LANDASAN TEORI

PENGARUH KESEHATAN, PELATIHAN DAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI TERHADAP KECELAKAAN KERJA PADA PEKERJA KONSTRUKSI DI KOTA TOMOHON

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kepuasan memiliki bermacam-macam arti, masing-masing bidang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Organisasi Kerja. Solichul HA. BAKRI Ergonomi untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas ISBN:

BAB V PEMBAHASAN. identifikasi kebutuhan dan syarat APD didapatkan bahwa instalasi laundry

TIN211 - Keselamatan dan Kesehatan Kerja Industri. Tujuan Pembelajaran

BAB IV HASIL PENELITIAN

URGENSI DAN PRINSIP K3 PERTEMUAN #2 TKT TAUFIQUR RACHMAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA INDUSTRI

Identifikasi Kecelakaan Kerja Pada Industri Konstruksi Di Kalimantan Selatan

BAB I PENDAHULUAN. regional, nasional maupun internasional, dilakukan oleh setiap perusahaan secara

BAB IV HASIL DAN ANALISA

Tujuan Pembelajaran Taufiqur Rachman 1


BEBAN KERJA & PRODUKTIVITAS PERTEMUAN KE-2

PENDAHULUAN. beberapa faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Ketimpangan oleh

BAB I PENDAHULUAN. dan merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan rumah sakit. menimbulkan dampak negatif dan mempengaruhi derajat kesehatan mereka.

BAB I PENDAHULUAN. mencakup syarat-syarat keselamatan kerja yang berkaitan dengan suhu,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pabrik (plant atau factory) adalah tempat di mana faktor-faktor industri

BAB V PEMBAHASAN. TM PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Madiun telah diperoleh

Tujuan Dari Sistem Manajemen K3

BAB I PENDAHULUAN. dan diwarnai dengan persaingan yang ketat. Dalam kondisi demikian. hanya perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif yang mampu

BAB 1 : PENDAHULUAN. masalah-masalah baru yang harus bisa segera diatasi apabila perusahaan tersebut

commit to user 6 BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Tempat Kerja Didalam Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


DASAR DASAR KESEHATAN KERJA

Hirarki Pengendalian Potensi Bahaya K3

ANALISIS RESIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA INSTALASI LAUNDRY

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan perlu melaksanakan program keselamatan dan kesehatan kerja

Peralatan Perlindungan Pekerja

BAB I PENDAHULUAN. gerakan yang dilakukan oleh tangan manusia. Gerakan tangan manusia

Secara sederhana yang dimaksud dengan APD adalah :

BAB I PENDAHULUAN. dapat menyebabkan traumatic injury. Secara keilmuan, keselamatan dan

BAB I PENDAHULUAN. kesadaran dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud kesehatan

BAB 1 PENDAHULUAN. demikian upaya-upaya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan perlindungan tenaga

BAB I PENDAHULUAN. dihindari, terutama pada era industrialisasi yang ditandai adanya proses

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kesehatan adalah faktor yang sangat penting bagi produktivitas dan

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/VII/2010 TENTANG ALAT PELINDUNG DIRI

PERALATAN PERLINDUNGAN DIRI

Lampiran 1 LEMBAR PERSETUJUAN PENELITIAN. Responden yang saya hormati,

BAB I PENDAHULUAN. sumberdaya manusia yang dimiliki perusahaan. Faktor-faktor produksi dalam

ISNANIAR BP PEMBIMBING I:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Peralatan Perlindungan Pekerja

KONSEP DASAR KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

RESUME PENGAWASAN K3 LINGKUNGAN KERJA MATA KULIAH: STANDAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA. Ditulis oleh: Yudy Surya Irawan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/VII/2010 TAHUN 2010 TENTANG ALAT PELINDUNG DIRI

Konsumsi energi berdasarkan kapasitas oksigen terukur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kecelakaan kerja yang menimpa pekerja disebuah proyek. konstruksi bisa terjadi karena faktor tindakan manusia itu sendiri

BIDANG KONSTRUKSI SUB BIDANG TUKANG BANGUNAN GEDUNG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di zaman yang serba modern ini, hampir semua pekerjaan manusia telah

BAB I PENDAHULUAN. ketenagakerjaan, merupakan kewajiban pengusaha untuk melindungi tenaga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menimbulkan kerugian bagi peusahaan (Ramli, 2010).

PROSEDUR TENTANG ALAT PELINDUNG DIRI (APD)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. daya (manpower, material, machines, money, method), serta membutuhkan

BAB 1 PENDAHULUAN. negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusaan.

BAB V PEMBAHASAN. saat penelitian dilakukan yang diukur dengan satuan tahun. Dalam

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 2007). Bising dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan gangguan fisiologis,

BAB I PENDAHULUAN. Penggunaan teknologi maju tidak dapat dielakkan, banyak perusahaan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAMPIRAN LAMPIRAN Universitas Kristen Maranatha

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Dalam proses pembangunan nasional, titik berat pembangunan nasional

BAB 1 PENDAHULUAN. solusi alternatif penghasil energi ramah lingkungan.

KAJIAN PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ( K-3 ) BIDANG KONSTRUKSI. Gatot Nursetyo. Abstrak

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Higene Perusahaan Dalam Higene Perusahaan adalah yang menyangkut secara luas faktor-faktor kimia dan fisik yang mungkin dapat menyebabkan gangguan kesehatan bagi tenaga kerja. Menurut Suma mur P.K; Higene Perusahaan adalah spesialisasi dalam ilmu higene beserta prakteknya yang dengan mengadakan penilaian secara kualitatif dan kuantitatif faktor-faktor penuebab penyakit dalam lingkungan kerja, serta bila perlu mengadakan pencegahan agar tenaga kerja dan masyarakat sekitar perusahaan terhindar dari bahaya. (3) Menurut The American Industrial Asosiation (ATHA,1956); Higene Perusahaan adalah ilmu dan seni pengenalan, penilaian secara kuantitatif dan kualitatif, serta penerapan teknologi pengendalian faktor-faktor bahaya lingkungan, sehingga masyarakat tenaga kerja dan masyarakat umum terhindar dari efek samping kemajuan teknologi. (3) B. Keselamatan Kerja Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan. Tujuan dari keselamatan kerja adalah: 1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produktivitas nasional. 2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja. 3. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien. Landasan hukum dalam pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja antara lain adalah:

1. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 ayat 2 yang menyatakan Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan 2. Undang-Undang No.14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja, dalam pasal 9, yang menyatakan Setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan, kesehatan, kesusilaan, pemeliharaan moral kerja serta perlakuan yang sesuai dengan martabat manusia dan moral agama (5) 3. Undang-Undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, yang maksudnya adalah untuk melindungi setiap orang lain yang berada di tempat kerja dan alat produksi digunakan secara aman dan efisien. (6) A. Kecelakaan Kerja Menurut ILO tahun 1989, kecelakaan merupakan kejadian yang tidak diharapkan dan tidak direncanakan yang dapat mengakibatkan cedera. Kecelakaan akibat kerja adalah suatu kejadian kecelakaan yang berhubung dengan hubungan kerja pada perusahaan, kecelakaan terjadi dikarenakan oleh pekerjaan atau terjadi pada waktu tenaga kerja melakukan pekerjaan. Kecelakaan akibat kerja dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor manusia (unsafe human action) dan faktor kondisi yang tidak aman (unsafe conditions). (1) Kecelakaan kerja dibagi menjadi dua kategori yaitu: 1. Kecelakaan industri (industrial acident), yaitu kecelakaan yang terjadi ditempat kerja karena adanya sumber bahaya atau bahaya kerja. 2. Kecelakaan dalam perjalanan (commuty acident), yaitu kecelakaan yang terjadi di luar tempat kerja dalam kaitannya dengan adanya hubungan kerja. Kerugian-kerugian yang disebabkan oleh kecelakaan akibat kerja: 1) kerusakan; 2) kekacauan organisasi; 3) keluhan dan kesedihan; 4) kelainan dan cacat; 5) kematian. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya resiko kecelakaan kerja: (7) 1. Faktor pekerjaan Faktor pekerjaan yang dapat mempengaruhi terjadinya risiko kecelakaan kerja antara lain:

a. Waktu kerja, segi-segi penting bagi persoalan waktu kerja meliputi: 1) lamanya seseorang mampu kerja secara baik; 2) hubungan di antara waktu kerja dan istirahat; 3) waktu diantara sehari menurut periode yang meliputi siang dan malam. b. Beban kerja, yaitu pekerjaan yang dibebankan kepada tenaga kerja baik beban fisik maupun beban mental yang menjadi tanggung jawabnya. 2. Faktor manusia Kemampuan seorang tenaga kerja berbeda antara satu dengan yang lainnya dan sangat tergantung kepada: a. Jenis kelamin, ukuran dan daya tahan tubuh laki-laki berbeda dengan wanita. Laki-laki sanggup menyelesaikan pekerjaan berat yang biasanya tidak dikerjakan wanita. Laki-laki lebih dibutuhkan pada industri yang membutuhkan tenaga dan pikiran yang berat dibandingkan wanita, sedangkan wanita lebih dibutuhkan pada industri yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran dibandingkan laki-laki. Oleh karena itu jenis kelamin sangat berpengaruh terhadap pekerjaan yang ada pada suatu perusahaan. b. Umur, penelitian Flipo tahun 1984 menunjukkan bahwa pekerja muda yang mempunyai tingkat absensi lebih tinggi, bukan karena penyakit tetapi karena adanya kesulitan adaptasi terhadap lingkungan kerja. c. Lama kerja, berkaitan dengan pengalaman kerja. Berdasarkan penelitian, tenaga kerja yang lama kerjanya sampai dengan 5 tahun mempunyai produktifitas yang tinggi, menurun sampai lama kerja 8 tahun. Tetapi kemudian setelah tahun kedelapan produktifitas kerja secara perlahan-lahan akan meningkat lagi. d. Tingkat pendidikan, mempunyai pengaruh dalam sejarah berfikir dan bertindak dalam menghadapi pekerjaan. Tenaga kerja dengan dasar pendidikan dan ketrampilan yang sangat terbatas serta kondisi kesehatan yang buruk cenderung akan mempengaruhi produktifitas kerja. 4. Faktor lingkungan Lingkungan kerja adalah sesuatu yang ada di sekitar para pekerja dan dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya.

Klasifikasi kecelakaan akibat kerja menurut Organisasi Perburuhan Internasional tahun 1962 adalah: (8) a. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan 1) terjatuh; 2) tertimpa benda jatug; 3) tertumpuk atau terkena benda-benda, terkecuali benda jatuh; 4) terjepit oleh benda; 5) gerakan-gerakan melebihi kemampuan; 6) pengaruh suhu tinggi; 7) terkena arus listrik; 8) kontak dengan bahan-bahan berbahaya atau radiasi; 9) jenis-jenis lain, termasuk kecelakaankecelakaan yang data-datanya tidak cukup atau kecelakaan-kecelakaan lain yang belum masuk klasifikasi tersebut. b. Klasifikasi menurut penyebab 1) mesin (pembangkit tenaga terkecuali motor-motor listrik, mesin penyalur atau transmisi, mesin-mesin untuk mengerjakan logam, mesin-masin pengolah kayu, mesin-mesin pertanian, mesin-mesin pertambangan, mesin-mesin lain yang tidak termasuk klasifikasi tersebut); 2) alat angkut dan alat angkat (mesin angkat dan peralatannya, alat angkutan diatas rel, alat angkutan lain yang beroda terkecuali kereta api, alat angkutan udara, alat angkutan air, alatalat angkutan lain); 3) peralatan lain (bejana bertekanan, dapur pembakar dan pemanas, instalasi pendingin, instalasi listrik termasuk motor listrik tetapi dikecualikan alat-alat listrik atau tangan, alat-alat kerja dan perlengkapannya kecuali alat-alat listrik, tangga, perancah atau steger, peralatan lain yang belum termasuk klasifikasi tersebut); 4) bahan-bahan, zat-zat dan radiasi (bahan peledak, debu, gas, cairan, dan zat-zat kimia terkecuali bahan peledak, benda-benda melayang, radiasi, bahan-bahan dan zat-zat lain yang belum termasuk golongan tersebut); 5) lingkungan kerja (diluar bangunan, didalam bangunan, dibawah tanah); 6) penyebab-penyebab lain yang belum termasuk golongan-golongan tersebut (hewan, penyebab lain); 7) penyebab-penyebab yang belum termasuk golongan tersebut atau data tidak memadai. c. Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan 1) patah tulang; 2) dislokasi atau kesleo; 3) regang otot atau urat; 4) memar dan luka dalam yang lain; 5) amputasi; 6) luka-luka lain; 7) luka dipermukaan; 8) gegar dan remuk; 9) luka bakar; 10) keracunan-keracunan mendadak atau

akut; 11) akibat cuaca dan lain-lain; 12) mati lemas; 13) pengaruh arus listrik; 14) pengaruh radiasi; 15) luka-luka yang banyak dan berlainan sifatnya; 16) lain-lain. d. Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka ditubuh 1) kepala; 2) leher; 3) badan; 4) anggota atas; 5) anggota bawah; 6) banyak tempat; 7) kelainan umum; 8) letak lain yang tidak dapat dimasukkan klasifikasi tersebut. D. Ergonomi Ergonomi adalah ilmu serta penerapannya yang berusaha untuk menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktifitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimalnya. (9) Diharapkan dengan produktifitas yang tinggi maka hasil produksipun meningkat sehingga kesejahteraan tenaga kerjapun juga akan meningkat. E. Beban Kerja Beban kerja adalah pekerjaan yang dibebankan kepada tenaga kerja baik berupa beban fisik maupun beban mental yang menjadi tanggung jawabnya. (10) 1. Faktor yang mempengaruhi beban kerja (11) a. Faktor eksternal, adalah beban kerja yang berasal dari luar tubuh pekerja. Yang termasuk beban kerja eksternal adalah: 1) tugas-tugas/task baik yang bersifat fisik (tata ruang tempat kerja, alat dan sarana kerja, sikap kerja, alat bantu kerja, alur kerja, dan lain-lain), maupun yang bersifat mental (kompleksitas pekerjaan yang mempengaruhi tingkat emosi pekerja, tanggung jawab terhadap pekerjaan, dan lain-lain); 2) organisasi kerja yang dapat mempengaruhi beban kerja seperti, lamanya waktu kerja, waktu istirahat, kerja malam, model struktur organisasi, pelimpahan tugas dan wewenang, dan lain-lain; 3) lingkungan kerja yang dapat memberikan beban tambahan kepada pekerja (lingkungan kerja fisik, kimiawi, biologis, psikologis).

b. Faktor internal, adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh sebagai akibat adanya reaksi dari beban kerja eksternal. Yang termasuk beban kerja internal antara lain: 1) faktor somatis (jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, kondisi kesehatan, status gizi); 2) faktor psikis (motivasi, persepsi, kepercayaan, keinginan, kepuasan, dan lain-lain). 2. Penilaian beban kerja fisik Menurut Astrand dan Rodahl (1977) dan Rodahl (1989) penilaian beban kerja fisik dilakukan dengan metode penilaian langsung dan tidak langsung; pengukuran langsung yaitu dengan mengukur energi yang dikeluarkan (energy expenditure) melalui asupan oksigen selama bekerja, sedangkan pengukuran tidak langsung yaitu dengan menghitung denyut nadi selama bekerja. Menurut Christensen (1991) dan Grandjean (1993) untuk mengetahui berat ringannya beban kerja dengan menghitung nadi kerja, konsumsi oksigen, kapasitas ventilasi paru dan suhu inti tubuh. Kategori berat ringan beban kerja didasarkan pada metabolisme, respirasi, suhu tubuh dan denyut jantung menurut Christensen dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Kategori Beban Kerja Berdasarkan Metabolisme, Respirasi, Suhu Tubuh, dan Denyut Jantung. Kategori Beban Kerja Konsumsi Oksigen (1/min) Ventilasi Paru (1/min) Suhu Rektal ( C) Denyut Jantung (denyut/min) Ringan Sedang Berat Sangat berat Sangat berat sekali 0,5 1,0 1,0 1,5 1,5 2,0 2,0 2,5 2,5 4,0 11 20 20 31 31 43 43 56 60 100 37,5 37,5 38.0 38,0 38,5 38,5 39,0 > 39 75 100 100 125 125 150 150 175 > 175 Sumber: Christensen (1991:1699). Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. ILO. Geneva. 3. Penilaian beban kerja berdasarkan jumlah kebutuhan kalori

Menteri Tenaga Kerja melalui Keputusan Nomor 51 tahun 1999 menetapkan kategori beban kerja menurut kebutuhan kalori sebagai berikut: a. beban kerja ringan : 100 200 Kilo kalori/jam b. beban kerja sedang : > 200 350 Kilo kalori/jam c. beban kerja berat : > 350 500 Kilo kalori/jam Dalam menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan seseorang dalam melakukan aktivitas pekerjaannya dapat menggunakan taksiran kebutuhan kalori menurut jenis aktivitasnya. 4. Penilaian beban kerja berdasarkan denyut nadi kerja Salah satu peralatan yang dapat digunakan untuk menghitung denyut nadi adalah telemetri dengan menggunakan rangsangan Electro Cardio Graph (ECG), dapat juga dicatat secara manual memakai stopwatch dengan metode 10 denyut. Dengan metode tersebut dapat dihitung denyut nadi kerja sebagai berikut: Rumus: Denyut Nadi (denyut/menit) = 10 Denyut X 60 Waktu Penghitungan Denyut nadi untuk mengestimasi indek beban kerja fisik terdiri dari: a. denyut nadi istirahat : rerata denyut nadi sebelum pekerjaan dimulai b. denyut nadi kerja : rerata denyut nadi selama kerja c. nadi kerja : selisih antara denyut nadi istirahat dan denyut nadi kerja F. Waktu Kerja Waktu kerja adalah waktu yang digunakan untuk bekerja. Setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja bagi pekerja yang dipekerjakan. (12) 1. Waktu kerja siang hari a. Tujuh jam dalam satu hari dan empat puluh jam dalam satu minggu untuk enam hari kerja dalam satu minggu. b. Delapan jam dalam satu hari dan empat puluh jam dalam satu minggu untuk lima hari kerja dalam satu minggu.

2. Waktu kerja malam hari a. Enam jam dalam satu hari dan tiga puluh jam dalam satu minggu untuk enam hari kerja dalam satu minggu. b. Tujuh jam dalam satu hari dan tiga puluh jam dalam satu minggu untuk lima hari kerja dalam satu minggu. 3. Waktu kerja lembur Tiga jam dalam satu hari dan empat belas jam dalam satu minggu. waktu kerja siang hari untuk melakukan pekerjaan pada waktu istirahat mingguan atau hari libur resmi yang ditetapkan. G. Masa Kerja Masa kerja biasanya dikaitkan dengan waktu mulai kerja pada saat ini. Diasumsikan bahwa semakin lama seseorang bekerja pengalamannya semakin luas atau semakin banyak. Lama kerja berkaitan erat dengan pengalaman-pengalaman yang didapat selama menjalankan pekerjaannya. Mereka yang berpengalaman dipandang lebih mampu dalam melaksanakan pekerjaannya. Makin lama dia menekuni pekerjaannya maka kepandaian mereka akan lebih baik, karena sudah menyesuaikan diri dengan pekerjaannya. (13) H. Umur Umur adalah lamanya kehidupan seseorang. Kondisi fisik seperti penglihatan, pendengaran, dan kecepatan reaksi menurun sesudah usia 30 tahun atau lebih. Tenaga kerja yang ada usia atau tua mungkin lebih berhati-hati, lebih dapat dipercaya dan lebih menyadari akan bahaya dari pada tenaga kerja muda usia. Terdapat kecenderungan bahwa beberapa jenis kecelakaan seperti terjatuh lebih sering terjadi pada tenaga kerja ada usia atau tua dari pada tenaga kerja berusia sedang atau muda. Juga angka beratnya kecelakaan rata-rata lebih meningkat mengikuti pertambahan usia.

I. Alat Pelindung Diri Alat pelindung diri (APD) adalah suatu alat perlengkapan tenaga kerja untuk melindungi anggota badan dari bahaya yang ditimbulkan oleh keadaan kerja sebagai akibat dari penggunaan pesawat, alat, mesin, bahan-bahan dan lainnya. (14) Macam alat pelindung diri antara lain: (7) 1. Alat pelindung kepala Alat ini untuk melindungi kepala dari bahaya terbentur dan terpukul yang dapat menyebabkan luka, juga melindungi kepala dari panas, radiasi, api, dan bahanbahan kimia berbahaya, serta melindungi agar rambut tidak terjepit dalam mesin yang berputar. Macamnya antara lain topi, helm. 2. Alat pelindung mata Alat ini untuk melindungi mata dari kemungkinan kontak bahaya karena percikan atau kemasukan debu, gas, uap cairan korosif, partikel melayang maupun radiasi gelombang elektronagnetis. Macamnya antara lain kacamata dengan ataupun tanpa pelindung samping, tameng muka. 3. Alat pelindung telinga Alat ini untuk mengurangi intensitas suara yang masuk kedalam telinga. Macamnya adalah sumbat telinga (ear plug) dan tutup telinga (ear muff). 4. Alat pelindung pernafasan Alat ini untuk melindungi pernafasan terhadap gas, uap, debu, atau udara yang terkontaminasi di tempat kerja yang bersifat racun, korosif maupun rangsangan. Macamnya antara lain masker, respirator. 5. Alat pelindung tangan Alat ini digunakan untuk melindungi tangan dari benda-benda tajam atau cidera waktu kerja, bahaya terpapar bahan-bahan yang bersifat korosif, panas, dingin, tajam ataupun kasar. Macamnya adalah sarung tangan. J. Kelelahan Akibat Kerja Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat.

Faktor-faktor penyebab kelelahan: (11) 1. Intensitas dan lamanya kerja fisik dan mental. 2. Lingkungan (iklim, penerangan, kebisingan, getaran, dll) 3. Circadian rhythm. 4. Problem fisik (tanggung jawab, kekhawatiran, konflik) 5. Kenyerian dan kondisi kesehatan. 6. Nutrisi. K. Analisa Kecelakaan Analisa kecelakaan adalah upaya untuk mencari sebab kecelakaan. Analisa kecelakaan dilakukan dengan mengadakan penyelidikan atau pemeriksaan terhadap peristiwa kecelakaan. Kecelakaan harus secara tepat dan jelas diketahui bagaimana dan mengapa terjadi. (15) Maksud kecelakaan-kecelakaan yang diselidiki adalah: 1. Menentukan siapa yang bertanggung jawab atas terjadinya kecelakaan. 2. Mencegah terulangnya peristiwa yang serupa. L. Pencegahan Kecelakaan Kerja Kecelakaan akibat kerja dapat dicegah dengan: (14) 1. Peraturan perundangan, yaitu ketentuan-ketentuan yang diwajibkan mengenai kondisi-kondisi kerja pada umumnya, perencanaan, konstruksi, perawatan dan pemeliharaan, pengawasan, pengujian, dan cara kerja peralatan industri, tugastugas pengusaha dan buruh, latihan, supervisi medis, PPPK, dan pemeriksaan kesehatan. 2. Standarisasi, yaitu penetapan standar-standar resmi, setengah resmi, tak resmi mengenai misalnya konstruksi yang memenuhi syarat-syarat keselamatan jenisjenis peralatan industri tertentu, praktek-praktek keselamatan dan higene umum, atau alat-alat perlindungan diri. 3. Pengawasan, yaitu pengawasan tentang dipatuhinya ketentuan-ketentuan perundang-undangan yang diwajibkan.

4. Penelitian bersifat teknik, yang meliputi sifat dan ciri-ciri bahan-bahan yang berbahaya, penyelidikan tentang pagar pengaman, pengujian alat-alat perlindungan diri, penelitian tentang pencegahan peledakan gas dan debu, atau penelaahan tentang bahan-bahan dan desain paling tepat untuk tambang-tambang pengangkat dan peralatan pengangkat lainnya. 5. Riset medis, yang meliputi terutama penelitian tentang efek-efek fisiologis dan patologis faktor-faktor lingkungan dan teknologis, dan keadaan-keadaan fisik yang mengakibatkan kecelakaan. 6. Penelitian psikologis, yaitu penyelidikan tentang pola-pola kejiwaan yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. 7. Penelitian secara statistik, untuk menetapkan jenis-jenis kecelakaan yang terjadi, banyaknya, mengenai apa saja, dalam pekerjaan apa dan apa sebab-sebabnya. 8. Pendidikan, yang menyangkut pendidikan keselamatan dalam kurikulum teknik, sekolah-sekolah perniagaan atau kursus-kursus pertukangan. 9. Latihan-latihan, yaitu latihan praktek bagi tenaga kerja, khususnya tenaga kerja baru, dalam keselamatan kerja. 10. Penggairahan, yaitu penggunaan aneka cara penyuluhan atau pendekatan lain untuk menimbulkan sikap untuk selamat. 11. Asuransi, yaitu insentif finansial untuk meningkatkan pencegahan kecelakaan, misalnya dalam bentuk pengurangan premi yang dibayar oleh perusahaan, jika tindakan-tindakan keselamatan sangat baik. 12. Usaha keselamatan pada tingkat perusahaan, yang merupakan ukuran utama efektif tidaknya penerapan keselamatan kerja. Pada perusahaanlah kecelakaankecelakaan terjadi, sedangkan pola-pola kecelakaan pada suatu perusahaan sangat tergantung pada tingkat kesadaran akan keselamatan kerja oleh semua pihak yang bersangkutan. M. Kerangka Teori HIGENE KESELAMATAN

PERUSAHAAN KERJA ANALISA KECELAKAAN KECELAKAAN KERJA Faktor Pekerjaan waktu kerja beban kerja Faktor Manusia kelelahan masa kerja umur pemakaian APD sikap dan tindakan yang tidak aman Faktor Lingkungan Kerja lingk. yang buruk (pencahayaan,kebisingan) mesin rusak bahan berbahaya ketidak cukupan ketersediaan APD Sumber: Modifikasi dari 1, 3, 7, 9, 10,11, 12, 13,15 N. Kerangka Konsep Berdasarkan kerangka teori diatas maka bentuk kerangka konsep peneltitian dibuat sebagai berikut : Variabel Bebas - Waktu Kerja - Masa Kerja - Umur - Pemakaian APD - Kelelahan Variabel Terikat kejadian kecelakaan kerja

Variabel Pengganggu - Shiff kerja - Jenis kelamin - Jenis Pekerjaan - Faktor lingk. kerja Variabel pengganggu tidak diteliti karena hanya hubungan yang diteliti. O. Hipotesa Penelitian 1. Ada hubungan antara waktu kerja dengan kejadian kecelakaan kerja di PT. Luxindo Nusantara Semarang. 2. Ada hubungan antara masa kerja dengan kejadian kecelakaan kerja di PT. Luxindo Nusantara Semarang. 3. Ada hubungan antara umur dengan kejadian kecelakaan kerja di PT. Luxindo Nusantara Semarang. 4. Ada hubungan antara pemakaian APD dengan kejadian kecelakaan kerja di PT. Luxindo Nusantara Semarang. 5. Ada hubungan antara kelelahan dengan kejadian kecelakaan kerja di PT. Luxindo Nusantara Semarang.