VI. INDIKATOR BIOLOGIK KUALITAS AIR

dokumen-dokumen yang mirip
LAMPIRAN. Sampel Air

Lampiran A. Bagan Kerja Metode Winkler untuk Mengukur Kelarutan Oksigen (DO)

Lampiran 1. Foto Lokasi Pengambilan Sampel

PERUBAHAN LINGKUNGAN PERAIRAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP BIOTA AKUATIK* PENDAHULUAN

MAKROZOOBENTHOS SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS AIR SUNGAI DI SUB DAS CILIWUNG HULU

BIOASSESSMENT KUALITAS AIR SUNGAI REJOSO DI KECAMATAN REJOSO PASURUAN DENGAN MAKROINVERTEBRATA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Keanekaragaman Makroinvertebrata Air Pada Vegetasi Riparian

BIOLOGI AIR METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA: (2 K) Drs. Wisnu Wardhana, M.Si.

PANDUAN BIOTILIK. UNTUK PEMANTAUAN KESEHATAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Selamatkan Sungai Kita Sekarang. Arah aliran air 1.

TINJAUAN PUSTAKA. kelangsungan hidup yang panjang. Oleh karena itu peran bentos dalam

BAB I PENDAHULUAN. manusia dan makhluk hidup lainnya. Data dari BPS tahun 2007 menunjukkan

PANDUAN BIOTILIK. UNTUK PEMANTAUAN KESEHATAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Selamatkan Sungai Kita Sekarang. Arah aliran air.

BAB III METODE PENELITIAN

JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) Makroinvertebrata

I. PENDAHULUAN. Ekosistem air tawar merupakan ekosistem dengan habitatnya yang sering digenangi

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber bagi kehidupan manusia. Salah satu sumber air

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Nanggroe Aceh Darussalam, yaitu pada posisi antara 2 o 02-2 o LU dan

PELATIHAN PENYUSUN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN METODA PRAKIRAAN DAMPAK DAN PENGELOLAANYA PADA KOMPONEN BIOTA AKUATIK. Oleh : Wisnu Wardhana

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Makrozoobenthos Sebagai Bioindikator Kualitas Perairan Organisme makrozoobenthos

EKOSISTEM KOLAM. Di susun oleh : Ayu Nur Indah Sari ( )

STUDI KUALITAS AIR SUNGAI BONE DENGAN METODE BIOMONITORING (Suatu Penelitian Deskriptif yang Dilakukan di Sungai Bone)

BAB 1 PENDAHULUAN. sekitar 21% persediaan air Asia Pasifik (Walhi, 2005). Perairan air tawar, salah

banyaknya zat anorganik di perairan. Kecepatan pertumbuhan populasi enceng gondok dan ganggang hijau ini dapat mengganggu biota perairan yang lain

Nilai fisikokimia perairan

EKOLOGI TANAMAN. Pokok Bahasan II KONSEP EKOLOGI (1) Lanjutan...

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Modul 1 : Ruang Lingkup dan Perkembangan Ekologi Laut Modul 2 : Lautan sebagai Habitat Organisme Laut Modul 3 : Faktor Fisika dan Kimia Lautan

Struktur Komunitas Makrozoobentos dan Penilaian Kualitas Sungai di Sungai Cengek Bagian Hulu, Desa Payaman, Kota Salatiga

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Air permukaan yang ada seperti sungai dan situ banyak dimanfaatkan

DAFTAR PUSTAKA. Alaerts G, Santika SS Metode Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional.

PENGGUNAAN KOMUNITAS MAKROZOOBENTHOS UNTUK MENENTUKAN TINGKAT PENCEMARAN SUNGAI METRO, MALANG, JAWA TIMUR ABDUL MANAN

IDENTIFIKASI JENIS PLANKTON DI PERAIRAN MUARA BADAK, KALIMANTAN TIMUR

TINJAUAN PUSTAKA. Sungai merupakan suatu bentuk ekosistem akuatik yang mempunyai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam

Estimasi Populasi Gastropoda di Sungai Tambak Bayan Yogyakarta

LEMBAR KERJA PRAKTIKUM KONSEP DASAR IPA DI SD PDGK 4107 MODUL 2 EKOSISTEM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Sandy (1985), dalam pergerakannya air selain melarutkan sesuatu,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Sungai Bone mempunyai panjang 119,13 Km 2 yang melintasi wilayah

KELIMPAHAN MAKROZOOBENTHOS SEBAGAI BIOINDIKATOR CEMARAN ORGANIK DI SUNGAI CIBALA, SUKANAGARA, CIANJUR WILDAN

I. PENDAHULUAN. kejayaan pada tahun 1930an. Tidak heran bila Sawahlunto, yang hari jadinya

PENDAHULUAN. seperti analisis fisika dan kimia air serta biologi. Analisis fisika dan kimia air

I. PENDAHULUAN. menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air. Salah satu faktor terpenting

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

KEANEKARAGAMAN SERANGGA AIR SEBAGAI PENDUGA KUALITAS PERAIRAN PADA SUNGAI MARON DAN SUNGAI SEMPUR, SELOLIMAN, TRAWAS, MOJOKERTO SKRIPSI

PENGERTIAN BIOMA suhu kelembaban angin altitude latitude topografi

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan komponen lingkungan yang sangat penting bagi. kehidupan. Air merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Habitat air tawar dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu perairan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. diantara zona laut yang lainnya. Zona intertidal dimulai dari pasang tertinggi

Oleh : IIN WINDA LESTARI Dosen Pembimbing Prof. Dr. Yulinah Trihadiningrum, MAppSc. Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS Surabaya 2011

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bioindikator adalah kelompok atau komunitas organisme yang saling. keberadaan atau perilakunya sangat berhubungan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sungai Bedagai merupakan sumberdaya alam yang dimiliki oleh Pemerintah

II. TINJAUAN PUSTAKA

Apabila terdapat sepetak padi, 2 ekor ular, 10 ekor katak dan 20 ekor cacing dalam suatu ekosistem sawah. Maka 10 ekor katak disebut...

Pengukuran Kualitas Air Hulu Daerah Aliran Sungai Kali Brantas Berdasarkan Keragaman Taksa Ephemeroptera, Plecoptera, and Trichoptera

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas

BAB V EKOSISTEM, BIOSFER & BIOMA

BAB I PENDAHULUAN. sumber irigasi, sumber air minum, sarana rekreasi, dsb. Telaga Jongge ini

TINJAUAN PUSTAKA. Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif,

KAJIAN KEPADATAN JENIS PLANKTON PADA SAWAH TAMBAK DI DESA MARGOANYAR KECAMATAN GLAGAH KABUPATEN LAMONGAN. Endah Sih Prihatini dan Masbuhin

SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan Biologi. Disusun Oleh:

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

LAMPIRAN-LAMPIRAN Rhynchobdellida Glossiphoniidae

BAB I PENDAHULUAN. berbahaya dalam makanan secara tidak sengaja (Fathonah, 2005). Faktorfaktor

MAKROZOOBENTHOS SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS AIR SUNGAI CITARUM HULU YULIAN ADYPRASETYO HASTOMO

ecoton Jl. Raya Bambe 115 Driyorejo Gresik Telepon (031) website : www. gardabrantas.com

Keanekaragaman, densitas dan distribusi bentos di perairan sungai Pepe Surakarta. Oleh. Arief Setyadi Raharjo M O BAB I PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. Usaha pengembangan budidaya perairan tidak dapat lepas dari pembenihan jenisjenis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kumpulan tanaman pinus. Pinus yang memiliki klasifikasi berupa : Species : Pinus merkusii (van Steenis, et al., 1972).

I. PENDAHULUAN. perairan sangat penting bagi semua makhluk hidup, sebab air merupakan media bagi

PLANKTONOLOGI. Ir. I Wayan Restu, M.Si

STRUKTUR KOMUNITAS MAKROINVERTEBRATA BENTOS DI SALURAN MATA AIR NYOLO DESA NGENEP KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

bentos (Anwar, dkk., 1980).

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

komponen ekosistem yang lain (Asdak, 2002). Sungai Tutupan dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai penunjang kehidupan mereka, seperti sumber air, ke

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan selalu terbawa arus karena memiliki kemampuan renang yang terbatas

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Spesies yang diperoleh pada saat penelitian

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Jurnal Pendidikan Hayati ISSN : Vol.1 No.4 (2015) : 44-49

Total rata-rata kemelimpahan plankton pada media air sumur sebesar 3,557 x. tertinggi didapatkan pada media air rendaman kangkung.

TINJAUAN PUSTAKA. kesatuan. Di dalam ekosistem perairan danau terdapat faktor-faktor abiotik dan

I. PENDAHULUAN. limbah dari pertanian dan industri, serta deforestasi ilegal logging (Nordhaus et al.,

BIOTA PERAIRAN DI AREA PERTAMBANGAN EMAS PT. NATARANG MINING, LAMPUNG SELATAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

ABSTRAK KEANEKARAGAMAN FITOPLANKTON DI SUNGAI PANYIURAN DAN SUNGAI ANTARAKU KECAMATAN PENGARON KABUPATEN BANJAR

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu hutan mangrove yang berada di perairan pesisir Jawa Barat terletak

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

EKOLOGI (EKOSISTEM) SMA REGINA PACIS JAKARTA

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. lingkungan hidup yang didalamnya terdapat hubungan fungsional yang sistematik

BAB III METODE PENELITIAN. analisa Indeks Keanekaragaman (H ) Shannon Wienner, Indeks Dominansi (D)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

VI. INDIKATOR BIOLOGIK KUALITAS AIR A. Indikator Biologik Indikator biologik adalah kelompok atau komunitas organisme yang dekat kekerabatannya dan keberadaan atau tingkah-lakunya kemungkinan berkorelasi sangat erat dengan kondisi lingkungan tertentu yang dapat digunakaan sebagai petunjuk atau uji kuantitatif (Ellenberg 975 dalam Ellenberg 99). Pengertian indikator biologik lainnya adalah seperti yang dinyatakan oleh Stocker dalam Ellenberg (99) yaitu obyek biologik, ruang dan ekosistem yang memberikan indikasi biologik. Indikator biologik yang ideal yaitu telah teridentifikasi, pengambilan contohnya mudah dilakukan secara kuantitatif, terdistribusi secara kosmopolitan, data autekologiknya melimpah, bernilai ekonomik atau pengganggu, mudah mengakumulasi pencemar, mullah dibudidayakan secara laboratorik serta variabilitas genetik dan relungnya rendah (Ellenberg 99). Berbagai tanggapan tekanan (stress) dapat diukur dalam sistem biologik yang terpapar berbagai jenis dan tingkat pencemar. Indikator biologik dapat berkisar antara tanggapan biomolekuler atau biokimia hingga tanggapan tingkat populasi dan komunitas. Dalam air sungai yang sehat alami terdapat siklus biodinamik yang menghasilkan suatu keseimbangan hidup tumbuhan dan hewan. Adanya pengotoran dan pencemaran lingkungan dapat mengubah siklus tersebut, tetapi karena karakteristik fisik, kimia, dan lingkungan sungai sangat bervariasi, maka pengukuran atau pengujian yang dilakukan tidak dapat memperkirakan secara akurat pengaruh pencemar yang masuk ke dalam sungai. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang ada, Patrick (95) dalam Nemerow (985) merekomendasikan tujuh kelompok taksonomik organisme yang dapat digunakan sebagai tolok ukur biologik kondisi sungai, yaitu: () alga biru hijau, beberapa alga hijau, beberapa rotifera; () oligochaeta, lintah, siput; () protozoa; () diatom, alga merah dan sebagian besar alga hijau; (5) semua jenis rotifera kecuali yang termasuk dalam nomor () ditambah kerang, cacing,

dan beberapa siput; () semua jenis insekta dan crustacea; dan (7) semua jenis ikan. Menurut Wilhm (975) dalam Tandjung (997) terdapat lima kelompok utama indikator biologik ekosistem perairan yaitu: () alga, () bakteri, () protozoa, () makroinvertebrata dan (5) ikan. Walaupun kelima kelompok organisme tersebut dapat digunakan sebagai indikator biologik perairan, tetapi indikator biologik sebaiknya dipilih dari kelompok organisme yang jumlahnya cukup melimpah dalam ekosistem, dan dapat menunjukkan reaksi spesifik terhadap lingkungan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, Ellenberg (99) membedakan indikator biologik ekosistem sungai menjadi dua kelompok yaitu:. Indikator yang sangat baik, terdiri atas tumbuhan yang hidup dalam air, perifiton, jamur dan bakteri.. Indikator yang baik, terdiri atas alga hijau (Chlorophyceae), fitoplankton dan zoobenthos. Menurut Tandjung (997) alga merupakan indikator pencemaran air yang baik karena: () berbagai jenis alga mampu tumbuh pada habitat yang tercemar; () mudah diambil sebagai sampel; dan () mudah diidentifikasi. B. Penggunaan Organisme Air sebagai Indikator Biologik B.. Plankton sebagai indikator biologik Plankton terdiri dari seluruh organisme perairan yang bergerak pasif atau yang daya geraknya tidak cukup untuk memungkinkan organisme tersebut bergerak melawan gerakan arus massa air (Barnes dan Mann 98). Plankton terdiri dari tumbuhan, hewan, jamur dan bakteri yang berukuran kecil. Berdasarkan fungsinya dalam ekosistem plankton dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: fitoplankton (produsen), zooplankton (konsumen) dan saproplankton (pengurai) (Ismail dan Mohamad 99). Palmer (959) dalam Shubert (98) menyatakan bahwa komunitas alga dapat digunakan sebagai indikator air bersih atau tercemar. Palmer (99) mempublikasikan bahwa suatu nilai gabungan organisme seperti Euglena, Oscillatoria, Chlamydomonas, Scenedesmus, Chlorella, Stigeoclonium, Nitzschia dan Navicula merupakan kelompok organisme

yang dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu perairan telah tercemar. Kelompok organisme lain seperti Lemanea, Stigeoclonium dan jenis-jenis tertentu Micrasterias, Staurastrum, Pinnularia, Meridion dan Surirella dapat menunjukkan bahwa suatu sampel berasal dari badan air yang bersih. Guna menilai kualitas air sungai berdasarkan komunitas plankton antara lain dapat digunakan rumus Indeks Diversitas (Simpson 99 atau Shannon-Wiener 99), Indeks Saprobik (Dresscher dan Mark 97) atau Indeks Pencemaran Biologik. Indeks Diversitas (Simpson 99 dalam Odum 99): = E (pi) = indeks diversitas pi = cacah individu suatu species dibagi cacah total individu seluruh species Tabel.. Kualitas Linakunaan Perairan Berdasarkan Indeks Diversitas Plankton Tolokukur Indeks Diversitas (Simpson 99) Sangat Jelek Kriteria Jelek Sedang Baik Sangat Baik,7,8-,5,-,,-,, (Sumber: Fandeli 99) Indeks Diversitas (Shannon-Wiener 99 dalam Odum 99): H = - pi log pi H = indeks diversitas pi = cacah individu suatu species dibagi total individu seluruh species

Tabel.. Klasifikasi Derajad Pencemaran Perairan Berdasarkan Indeks Diversitas Plankton Tolokukur Indeks Diversitas (Shanon-Wiener 99) Belum Tercemar Derajat Pencemaran Tercemar Tercemar Ringan Sedang Tercemar Berat >,,-,,-,5 <, (Sumber: Lee et al. 978) Berdasarkan pengalaman empirik dalam berbagai Studi AMDAL dan penelitian lingkungan perairan yang pernah dilakukan di berbagai lokasi dengan berbagai kondisi perairan, Probosunu (999) membuat kriteria kualitas lingkungan perairan berdasarkan indeks diversitas plankton Shanon-Wiener seperti terlihat pada Tabel.. Tabel.. Kualitas Lingkungan Perairan Berdasarkan Indeks Diversitas Plankton Tolokukur Indeks Diversitas (Shanon- Wiener 99) Sangat Jelek Kriteria Jelek Sedang Baik Sangat Baik,8,8-,,-,,-,, Indeks Saprobik (Dresscher dan Mark 97): IS = +. - α - P P + α + + O IS = indeks saprobik P = cacah species organisme polisaprobik α = cacah species organisme α - mesosaprobik = cacah species organisme - mesosaprobik O = cacah species organisme oligosaprobik

Tabel.. Klasifikasi Derajad Pencemaran Perairan berdasarkan Indeks Saprobik Indeks Saprobik Tingkat Saprobik Derajad Pencemaran,5-, polisaprobik Pencemaran Sangat Berat,5-,5 α - mesosaprobik Pencemaran Berat,5-,5 - mesosaprobik Pencemaran Sedang,5-,5 oligosaprobik Belum tercemar (Sumber: Mason 98) Indeks Pencemaran Biologik (IPB): Indeks pencemaran biologik (biological indices of pollution) dihitung dengan rumus berikut: B IPB = X A + B B = mikroorganisme berklorofil A = mikroorganisme tanpa klorofil Tabel.5. Kualitas Air Berdasarkan Nilai Indeks Pencemaran Biologik Nilai IPB Kualitas Air -8 Bersih, jernih 9- Tercemar ringan - Tercemar sedang - Tercemar berat (Sumber: Tandjung 997) B.. Bentos sebagai indikator biologik Bentos meliputi organisme, khususnya hewan yang hidup atau aktif di dasar perairan. Organisme yang bersifat bentonik dapat berupa cacing Oligochaeta, Nematoda, dan Turbellaria, Mollusca (Gastropoda dan Bivalvia), Crustacea, dan larva Insecta. Hellawell (978) dalam James dan Evison (979) menyarankan penggunaan makroinvertebrata atau makrozoobentos air sebagai indikator biologik kualitas air. Guna menilai kualitas air sungai berdasarkan

komunitas bentos, khususnya makrozoobentos, antara lain dapat digunakan rumus Indeks Diversitas (Simpson 99 atau Shannon-Wiener 99), Indeks Saprobik (Dresscher dan Mark 97), Nilai Indeks Biotik (Orton et al. atau Indeks Biotik Famili (Hilsenhoff 988): Nilai Indeks Biotik (Orton et al,...): Nilai Indeks Biotik diperoleh dengan cara:. Cacahkan hewan yang ditemukan dengan tabel angka indeks (tinggalkan yang tidak ada angkanya) (lihat Tabel.).. Cari angka total per sampel.. Hitung nilai rata-rata dengan membagi nilai total dengan jumlah jenis hewan yang digunakan (yang ada angkanya). Nilai Indeks Biotik berkisar antara (tidak ada kehidupan) dan (sungai sangat bersih); makin tinggi indeks, makin rendah tingkat pencemaran air. Tabel.. Nilai Indeks Biotik No. Nama Hewan Nilai No. Nama Hewan Nilai. Belatung ekor tikus. Kumbang air 5. Cacing biasa 7. Larva lalat jangkung 5. Cacing pipih 8. Nimfa lalat sehari penggali. Kerang kacang 9. Nimfa lalat sehari pipih 5. Kijing. Nimfa lalat sehari perenang. Larva lamuk sejati. Nimfa capung 8 7. Larva lalat Alder. Peluncur air 5 8. Larva lalat hitam 5. Nimfa sibar-sibar lain 9. Larva pita-pita berumah 7. Nimfa lalat batu. Larva pita-pita tak berumah 5 5. Siput. Limpet air tawar 8. Tungau air. Lintah 7. Uir-uir kecil 5. Kutu babi air 8. Udang air tawar. Kalajengking air 5 9. Udang karang air tawar 5. Kepik perenang punggung 5 (Sumber: Orton et al....)

Indeks Biotik Famili (Hilsenhoff 988 dalam Hauer dan Lamberti 99): A B C D Ordo/famili Cacah Individu Angka Biotik Total.................................................... 5............. Indeks Biotik Famili = total kolom D dibagi dengan total kolom B =... Nilai Indeks Biotik Famili diperoleh dengan cars sebagai berikut: Indeks Biotik Famili = /N n i t i n i : cacah individu tiap family t i : nilai toleransi famili N : total individu dalam sampel

Tabel.7. Nilai Toleransi Famili Makrozoobentos atau Makroinvertebrata (Hilsenhoff 988, * Lenat 99, dan ** Bode 988) Plecoptera Capniidae Chloroperlidae Leutridae Nemouridae Perlidae Perlodidae Pteronarcyidae Taeniopterygidae Ephemeroptera Baetidae Baetiscidae Caenidae Ephemerellidae Ephemeridae Heptageni idae Leptophlebiidae Metretopodidae Oligoneuridae Polymitarcyidae Potomanthidae 7 Cal amocerati dae * Glossosomatidae Helicopsychidae Hydropsychidae Hydroptilidae Lepidostomatidae Leptoceridae Limnephilidae Molannidae Philpotamidae Phryganeidae Polycentropodida e Psychomyiidae Rhyacophilidae Sericostomatidae Uenoidae Megaloptera Corydalid ae Sialidae Dolochopodidae Empididae Ephydridae Psychodidae Simuliidae Muscidae Syrphidae Tabanidae Tipulidae Amphipoda ** Gammaridae Talitridae Isopoda ** Asellidae Acariformes ** Decapoda ** Mollusca ** Lymnaeidae 8 8 Siphlonuridae Trichorythidae 7 Lepidoptera Pyralidae 5 Physidae Sphaeridae 8 8 Odonata Aeshnidae Calopterygidae Coenagrionidae Cordulegastridae Corduliidae Gomphidae Lestidae Libellulidae Macromi idae Trichoptera Brachycentridae 5 9 5 9 9 Coleoptera Dryopidae Elm i dae Psephenidae Diptera Anthericidae Blepharoceridae Ceratopogonidae Chironomidae merah-darah Chironomidae lainnya 5 8 Oligochaeta ** Hirudinea ** BdelIidae Turbellaria ** Platyhelminthidae 8 (Sumber: Hauer dan Lamberti 99)

Tabel.8. Kualitas Air Berdasarkan Nilai Indeks Biotik Famili Indeks Biotik Famili Kualitas air, -,75 Istimewa,7 -,5 Sangat Baik, - 5, Baik 5, - 5,75 Sedang 5,7-,5 Agak Jelek,5-7,5 Jelek 7, -, Sangat Jelek (Sumber: Hauer dan Lamberti 99) Perbandingan Nematoda dan Copepoda : Perbandingan Nematoda (makrozoobentos) dan Copepoda (zooplankton) diperoleh dengan cars membagi populasi Nematoda (individu/liter) dengan populasi Copepoda (individu/liter). Penilaian kualitas air berdasarkan perbandingan Nematoda dan Copepoda dapat dilihat pada Tabel.9. Tabel.9. Kualitas Air Berdasarkan Perbandingan Nematoda dan Copepoda Perbandingan Nematoda Kualitas Air dan Copepoda Tercemar sangat berat Tercemar berat Tercemar ringan Kondisi ini umumnya hanya terdapat di taut (Sumber: Hadisusanto 998) B.. Nekton (ikan) sebagai indikator biologik Beberapa puluh tahun terakhir populasi ikan alami diakui sebagai indikator kualitas air. Restorasi Sungai Thames di Inggris ditandai dengan kembali atau pulihnya populasi ikan secara dramatik selama beberapa tahun, dan banyak catatan menyebutkan ikan salmon kembali terlihat di sungai tersebut. Restorasi populasi ikan oleh pemerintah setempat digunakan untuk menunjukkan kepada

masyarakat bahwa hal tersebut merupakan indikasi telah terjadi perbaikan atau peningkatan kualitas air sungai (James dan Evison 979). Salah satu keuntungan menggunakan ikan sebagai indikator biologik kondisi lingkungan perairan yaitu informasi tentang pengaruh lingkungan terhadap ikan sudah cukup banyak terpublikasi. Disamping dapat menggunakan tolok ukur populasi ikan, penilaian kualitas perairan sungai juga dapat dilakukan dengan menggunakan status nutrisi ikan (NVC = Nutrition Value Coefficient) yang diperoleh dengan rumus sebagai berikut Lucky (977): Status nutrisi (NVC) = berat (g) x { panjang (cm) } Batas status nutrisi yaitu,7; jika status nutrisi,7, berarti perairan tempat hidup ikan yang diukur masih baik atau dapat juga dikatakan air tersebut belum tercemar. Penilaian kualitas air berdasarkan status nutrisi ikan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel.. Catatan: batas status nutrisi (=,7) hanya berlaku bagi ikan yang berbentuk bulat-pipih seperti karper (Cyprinus sp.) dan tawes (Puntius sp.) serta tidak berlaku bagi ikan yang berbentuk lain seperti lele (Clarias sp.), belut (Monopterus sp.) dan ikan pari (Dasyatis sp.). Tabel.. Kualitas Air Berdasarkan Status Nutrisi Ikan Status Nutrisi Kualitas Air >,7 Bersih,-,9 Kurang bersih, terkontaminasi,9-,9 Sedang,5-,89 Tercemar <,9 Tercemar Berat (Sumber: Tandjung, 997)

B.. Makrofita air sebagai indikator biologik Tumbuhan atau flora makroskopik atau makrofita air secara umum dapat dibedakan menjadi: () Tumbuhan air yang berakar di dasar tetapi sebagian besar batang dan daunnya berada di luar atau di atas permukaan air, contoh: gelagah (Pharagmites karka), genjer (Limnocharis flava) dan mendong (Scirpus littoralis). () Tumbuhan air yang akarnya di dasar dan hanya daunnya saja yang berada di permukaan air, contoh: teratai (Nymphaea sp.). () Tumbuhan air yang terapung di permukaan dan akarnya yang menjuntai ke bawah, contoh: eceng gondok (Eichhornia crassipes), kiambang (Salvinia natans), mata lele (Azolla pinata) dan kayu apu (Pistia stratiotes). () Tumbuhan air yang seluruh bagian tubuhnya terendam air, contoh: ganggang (Hydrilla verticillata). Disamping berfungsi sebagai sumber makanan berbagai organisme air, makrofita air juga menjadi substrat penting guna pelekatan alga epifit serta berbagai jenis hewan. Bagi beberapa jenis hewan, makrofita air juga menyediakan tempat bergantung, bersembunyi dan istirahat. Makrofita air juga berfungsi sebagai penahan arus serta penangkap sedimen sehingga dapat menstabilkan sedimen dasar dan memperbaiki kejernihan air. Makrofita air mempunyai kemampuan menyerap nutrien anorganik dan bahan pencemar beracun yang terdapat dalam air. Kualitas air sungai dapat dinilai berdasarkan komunitas makrofita air antara lain dengan menggunakan rumus Indeks Diversitas (Simpson 99) atau Potensi Pemanfaatannya (lihat Tabel.). Tabel.. Kualitas Lingkungan Perairan Berdasarkan Indeks Diversitas dan Potensi Pemanfaatan Makrofita Air Tolokukur Indeks Diversitas (Simpson 99) Potensi Pemanfaatan Sangat Jelek Kriteria Jelek Sedang Baik Sangat Baik,7,8-,5,-,5,5-,7,7 Kecil sekali Kecil Cukup Besar Besar sekali (Sumber: Fandeli 99)

B.5. Bakteri coil sebagai indikator biologik Kehadiran bakteri coil daiam sampel air identik dengan adanya bakteri patogen. Secara umum kelompok bakteri coil ada dua macam:. Bakteri coil tinja atau fekal, contoh: Escherrichia. Bakteri coil nonfekal, contoh: Aerobacterdan Klebsiella Kehadiran bakteri coil dalam sampel air menunjukkan adanya pencemaran yang berasal dari kotoran manusia atau hewan, dan kemungkinan adanya mikroorganisme patogen seperti bakteri angggota Genera Shigella, Salmonella, atau Vibrio, serta entero-, rota, dan reovirus, yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia mulai dari diare, tifus, kolera, penyakit pernafasan, meningitis, dan polio (Pepper dkk. 99). Kualitas sanitasi air dan kegunaannya sebagai sumber air minum serta untuk aktivitas rekreasi, seperti berenang, berperahu, dan memancing ikan dapat dievaluasi berdasarkan kandungan bakteri coliform tinja (Mau dan Pope 999). Kriteria penilaian kualitas air berdasarkan jumlah bakteri coil per ml dapat dilihat pada Tabel.. Tabel.. Kualitas Air Berdasarkan Jumlah Bakteri Coli per ml Jumlah Bakteri Coli per ml Kualitas Air < (=) Sangat memuaskan - Memuaskan - Diragukan Jelek (Sumber: Tandjung, 997)