Tugas I PERANCANGAN ARSITEKTUR V

dokumen-dokumen yang mirip
Jawa Timur secara umum

STRUKTUR KONSTRUKSI RUMAH JOGLO

BAB IV: KONSEP. c) Fasilitas pendukung di hotel (event-event pendukung/pengisi kegiatan kesenian di hotel)

PERBANDINGAN RUMAH TINGGAL TRADISIONAL JAWA DAN RUMAH TINGGAL MODERN DI SURAKARTA

Rumah Jawa adalah arsitektur tradisional masyarakat Jawa yang berkembang sejak abad ke- 13 terdiri atas 5 tipe dasar (pokok) yaitu:

ARSITEKTURAL KALIANDRA (PASURUAN)

BAB I PENDAHULUAN Pengertian Judul SANGGAR WAYANG KULIT SEBAGAI WISATA BUDAYA DI KEPUHSARI WONOGIRI

BAB III TINJAUAN BENTUK DALAM ARSTEKTUR DAN ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA

RUMAH TRADISIONAL PONOROGO

KONSEP RANCANGAN. Latar Belakang. Konteks. Tema Rancangan Surabaya Youth Center

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KAJIAN OBJEK ARSITEKTUR JAWA TIMUR

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Hasil Perancangan Galeri Seni Dwi Matra di Batu merupakan aplikasi dari

SAINS ARSITEKTUR. Perambatan Panas dan Pemanasan Ruang Studi Kasus Rumah Joglo M.DWI.RIZALUDIN.A

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

5. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

PUBLIKASI ILMIAH PUSAT KECANTIKAN DAN KEBUGARAN DI SURAKARTA DENGAN NUANSA ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA

KONSTRUKSI RUMAH TRADISIONAL KUDUS

NURYANTO PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR-S1 DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR FPTK-UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(Analisa Objek Arsitektur Vernakular Jawa: Joglo Lambangsari)

RUMAH ADAT TULUNGAGUNG

BAB V KAJIAN TEORI. Batik di Cirebon adalah langgam arsitektur Neo-Vernakular. Dalam bahasa. Yunani, neo memiliki arti baru, sedangkan vernakular

pada bangunan yang berkembang pada masa Mesir kuno, Yunani dan awal abad

Gambar 1.1 Tampak samping Rumah Tongkonan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993)

Ciri Khas Arsitektur Tradisional Pada Rumah Warga di Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal

ARSITEKTUR TRADISIONAL KENALI SALAH SATU KEARIFAN LOKAL DAERAH LAMPUNG. William Ibrahim 1 Nandang 1

TAMAN BUDAYA DI YOGYAKARTA

BAB V KONSEP. 5.1 Konsep dasar perancangan objek dengan tema extending tradition

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Menara Kudus. (Wikipedia, 2013)

PERGESERAN NILAI BUDAYA PADA BANGUNA RUMAH TRADISIONAL JAWA. Danarti Karsono ABSTRAK

VERNAKULAR-TA.428-SEMESTER GENAP-2007/2008 JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR-S1 FPTK-UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BAB III RUMAH ADAT BETAWI SETU BABAKAN. 3.1 Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan

PERANCANGAN GEREJA GPdI JEMAAT HOSANA JL. CIBANGKONG NO.6, BANDUNG

KONSTRUKSI RANGKA ATAP

Kampung Wisata -> Kampung Wisata -> Konsep utama -> akomodasi + atraksi Jenis Wisatawan ---> Domestik + Mancanegara

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

BAB III ELABORASI TEMA

BAB I PENDAHULUAN. Arsitektur merupakan hasil dari faktor-faktor sosiobudaya, sebuah

PERUBAHAN FUNGSI RUANG RUMAH KUNO DI KAMPUNG KAUMAN SURAKARTA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Nasional yang dilindungi pemerintah, di mana bangunan ini merupakan pusat

Omah Dhuwur Gallery merupakan bangunan yang ada di Kawasan Cagar Budaya

BAB V: KONSEP PERENCANAAN

BAB VI KONSEP 6.1. KONSEP GUBAHAN & TATANAN MASSA

RUMAH TRADISIONAL JAWA

14 Jurnal Sangkareang Mataram ISSN No

BENTUK DAN PERUBAHAN FUNGSI PENDHAPA DALAM BUDAYA MASYARAKAT JAWA

PADEPOKAN TARI JAWA KREASI BARU DI PENDOWOHARJO, YOGYAKARTA

BANGUNAN BALAI KOTA SURABYA

APLIKASI RAGAM HIAS JAWA TRADISONAL PADA RUMAH TINGGAL BARU

Akulturasi Langgam Arsitektur pada Elemen Pintu Gerbang Masjid Agung Yogyakarta

Semiotika Arsistektur Rumah Adat Kudus Joglo Pencu

RUMAH TRADISIONAL BANYUWANGI

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

LAPORAN HASIL PERANCANGAN Daftar Gambar Perancangan

IDENTIFIKASI RUMAH TRADISIONAL DI LORONG FIRMA KAWASAN 3-4 ULU, PALEMBANG

PUSAT STUDI DAN KAJIAN KEBUDAYAAN JAWA

BAB V HASIL RANCANGAN

RUMAH OSING ARSITEKTUR BANYUWANGI STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR V ISTIARA SARI D.W

BAB 5 HASIL RANCANGAN

BAB V PENUTUP. Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan, maka dapat ditarik kesimpulan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada era modern saat ini sangat jarang terlihat rumah-rumah tradisional

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Adat merupakan ciri khas bangunan suatu etnik di suatu wilayah

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi utamanya di dalam bidang

Arsitektur vernacular di jawa timur

REGOL PAGAR RUMAH TRADISIONAL DI LAWEYAN SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang. Perkembangan pembangunan yang sangat pesat, juga diikuti munculnya

+ 3,63 + 2,60 ± 0, ,00

BAB I PENDAHULUAN. baru, maka keberadaan seni dan budaya dari masa ke masa juga mengalami

UTS SPA 5 RAGUAN

LANDASAN TEORI DAN PROGRAM

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di Pulau Nias. Dalam

BAB 3 METODE PENELITIAN

Tinjauan Alih Fungsi Dalem Kusumoyudan

Gaya Arsitektur Masjid Kasunyatan, Masjid Tertua di Banten

Keleluasaan Pengembangan Gandhok dalam Morfologi Rumah Jawa pada Abad 20

Kata Kunci akulturasi budaya, daya tarik wisata, Hotel The Malioboro Heritage, Pecinan, Yogyakarta. 1 Sejarah Malioboro,

BAB 1 STRUKTUR DAN KONSTRUKSI

Teknis Menggambar Desain Interior

BAB III ELABORASI TEMA

Konsep Tata Masa. Parkir. Green area. Green area

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

Rumah Tinggal Dengan Gaya Bali Modern Di Ubud. Oleh: I Made Cahyendra Putra Mahasiswa Desain Interior FSRD ISI Denpasar ABSTRAK

DAFTAR ISI. Desain Premis... BAB I... 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Gempa Bumi di Indonesia... 1

RUMAH LIMAS PALEMBANG WARISAN BUDAYA YANG HAMPIR PUNAH

BAB 3 METODOLOGI 3.1 IDENTIFIKASI MASALAH

Studi Struktur dan Konstruksi Bangunan Tradisional Rumah Pencu di Kudus

BAB V PENUTUP. dengan keadaan lapangan maka dapat disimpulkan bahwa Roemahkoe Heritage

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang LATAR BELAKANG TUJUAN LATAR BELAKANG. Eksistensi kebudayaan Sunda 4 daya hidup dalam kebudayaan Sunda

BAB I PENDAHULUAN. Ragam hias di Indonesia merupakan kesatuan dari pola pola ragam hias

TUGAS AKHIR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR SANGGAR BUDAYA KI DJAROT SARWINTO DI SUKOHARJO

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Konsep desain kawasan menggunakan konsep dasar transformasi yang

ASRAMA PELAJAR DAN MAHASISWA

TATA RUANG DAN MAKNA RUMAH KENTHOL DI BAGELEN, PURWOREJO, JAWA TENGAH

BAB V PENUTUP. rumah limas di desa Sirah Pulaupadang dan arsitektur rumah limas di Palembang

banyaknya peninggalan sejarah dan kehidupan masyarakatnya yang memiliki akar budaya yang masih kuat, dalam kehidupan sehari-hari seni dan budaya

KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PUSAT SENI RUPA DI SURAKARTA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

ANYER BEACH RESORT BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB VI HASIL PERANCANGAN. simbolisme dari kalimat Minazh zhulumati ilan nur pada surat Al Baqarah 257.

Transkripsi:

Tugas I PERANCANGAN ARSITEKTUR V Buyung Hady Saputra 0551010032 FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN SURABAYA 2011

Rumah Adat Joglo 1. Rumah Joglo Merupakan rumah tradisional orang jawa yang didirikan pada tahun 1835 dan merupakan saksi sejarah perjuangan bangsa indoneia. Pada umumnya rumah joglo jawa timur tidak ada bedanya dengan bangunan joglo jawa lainnya. Bangunan joglo mencerminkan interpretasi arsitektur jawa yang menggambarkan sebuah ketenangan. Tak hanya megah, indah, dan sarat makna, arsitektur bangunan joglo merupakan salah satu arsitektur yang mampu meredam gempa di samping memiliki nilai sosiokultural yang sangat kental. Rumah joglo pada umumnya hanya dimiliki oleh orang-orang yang berkemampuan materi lebih. Hal ini di sebabkan dalam membangun rumah Joglo dibutuhkan material yang banyak dan cukup mahal karena sebagian besar material berasal dari kayu jati. Sedangkan dari segi sosial masyarakat, bentuk Joglo dianggap hanya boleh dimiliki orang-orang terpandang terutama dari kalangan bangsawan. Selain itu, pada bangunan Joglo terkandung filosofi yang sesuai dengan kehidupan masyarakat Jawa. Susunan ruang pada joglo di bagi menjadi tiga bagian, yaitu Pendhapa, ruang tengah atau ruang yang sering diginakan untuk pertunjukan wayang, yang di sebut juga sebagai pringgitan, dan ruang belakang yang di sebut juga ndalem atau omah jero sebagai ruang keluarga. Gambar : sebuah kerangka rumah joglo

2. makna dan tektonika Pada arsitektur bangunan rumah joglo, seni arsitektur bukan sekadar pemahaman seni konstruksi rumah, juga merupakan refleksi nilai dan norma masyarakat pendukungnya. Kecintaan manusia pada cita rasa keindahan, bahkan sikap religiusitasnya terefleksikan dalam arsitektur rumah dengan gaya ini. Pada bagian pintu masuk memiliki tiga buah pintu, yakni pintu utama di tengah dan pintu kedua yang berada di samping kiri dan kanan pintu utama. Ketiga bagian pintu tersebut memiliki makna simbolis bahwa kupu tarung yang berada di tengah untuk keluarga besar, sementara dua pintu di samping kanan dan kiri untuk besan. Bagian konstruksi yang merupakan ciri khas rangka atap bangunan ini terletak pada susunan struktur rangaka atap "brujung" (bentuk piraminda terbalik yang semakin keatas semakin melebar dan terletak diatas ke-empat tiang saka guru yang disusun bertingkat sampai dengan posisi "dudur dan iga-iga") dan susunan rangka "uleng" (susunan rangka atap berbentuk piramida yang disusun diatas ke-empat tiang saka guru ke arah bagian dalam). kedua struktur inilah yang dikenal dengan "tumpang sari". Pemasangan keseluruhan balok kayu rangka ini tidak menggunakan paku sama sekali. namun dalam pemasangan menggunakan sistem "chatokan" atau saling berkaitan dengan sistem tarik, sehingga fungsinya mengikat sistem secara rigid. Gambar : susunan sistem struktur rangaka atap brujung Gambar : sistem pemasangan untuk menyatukan balok-balok pada rangka joglo

3. karakteristik bentuk dan ruang arsitektural Secara umum bentuk sebuah joglo adalah bujur sangkar, yang mempunyai empat buah tiang pokok ditengah peruangannya yang disebut "Saka Guru". saka guru berfungsi untuk menopang blandar "tumpang sari" yang bersusun ke atas. semakin ke atas semakin melebar dan biasanya berjumlah ganjil serta di ukir, ukiran pada tumpang sari ini ini menandakan status sosial pemiliknya. Hampir keseluruhan material rumah joglo terbuat dari kayu. kayu yang digunakan pun adalah kayu jati. penggunaan kayu inilah yang membuat status pemilik rumah joglo di anggap tinggi, karena harga kayu ini terbilang cukup mahal. Susunan ruangan pada Joglo umumnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu ruangan pertemuan yang disebut pendhapa, ruang tengah atau ruang yang dipakai untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit disebut pringgitan, dan ruang belakang yang disebut dalem atau omah jero sebagai ruang keluarga. Dalam ruang ini terdapat tiga buah senthong (kamar) yaitu senthong kiri, senthong tengah dan senthong kanan. - pendhopo sebagai ruang terbuka berfungsi untuk menerima tamu. Struktur bangunan pada pendhopo menggunakan umpak sebagai alas soko, 4 buah soko guru ( tiang utama) sebagai symbol 4 arah mata angin. dan 12 soko pengarak, serta Tumpang sari merupakan susunan balik yang disangga oleh soko guru. Umumnya tumpang sari terdapat pada pendopo bangunan yang disusun bertingkat. Tingkatan-tingkatan ini dapat pula diartikan sebagai tingkatan untuk menuju pada suatu titik puncak, yang terdiri dari serengat, tarekat, hakekat, dan makrifat. Menurut kepercayaan jawa, tingkatan-tingkatan ini akan menyatu pada satu titik. - pringgitan ruang tengah atau ruang yang dipakai untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit. biasanya ruangan ini juga merupakan ruang tempat menyimpan alat-alat gamelan. - ndalem ini adalah pusat susunan ruang-ruang di sekitarnya. Fungsi utamanya adalah sebagai ruang keluarga. Sifat ruangan ini pribadi, suasana yang ada di dalamnya tenang dan berwibawa. Pada pola tata ruang ndalem terdapat perbedaan ketinggian lantai sehingga membagi ruang menjadi 2 area. Pada lantai yang lebih rendah di gunakan sebagai sirkulasi sedangkan pada bagian yang lebih tinggi digunakan sebagai ruang keluarga dan senthong.

Gambar : denah sebuah joglo 4. keunikan objek rumah joglo merupakan warisan budaya asli di indonesia. pembangunan rumah joglo berbeda dengan rumah tradisional lainnya. rumah joglo dibangun menyatu dengan diatas tanah, sedangkan rumah tradisional lain pada umumnya didirikan membentuk sebuah panggung. namun keanekaragaman inilah yang membuat indonesia kaya akan nila-nilai tradisional yang harus terus dilestarikan sebagai aset berharga bangsa.