Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

dokumen-dokumen yang mirip
Pola pemukiman berdasarkan kultur penduduk

Geo Image 1 (1) (2012) Geo Image.

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Geografi merupakan cabang ilmu yang dulunya disebut sebagai ilmu bumi

II. TINJAUAN PUSTAKA. lukisan atau tulisan (Nursid Sumaatmadja:30). Dikemukakan juga oleh Sumadi (2003:1) dalam

BAB I PEDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS

ANALISIS PERKEMBANGAN DAERAH PEMUKIMAN DI KECAMATAN BALIK BUKIT TAHUN (JURNAL) Oleh: INDARYONO

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

ANALISIS KONDISI FISIK WILAYAH TERHADAP POLA KERUANGAN LOKASI PERUMAHAN KAWASAN AGLOMERASI PERKOTAAN YOGYAKARTA DI KABUPATEN SLEMAN

BAB I PENDAHULUAN. dan melakukan segala aktivitasnnya. Permukiman berada dimanapun di

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI

I. PENDAHULUAN. Permukiman menunjukkan tempat bermukim manusia dan bertempat tinggal menetap dan

BAB II DESKRIPSI DAERAH STUDI

BAB II DESKRIPSI WILAYAH PERENCANAAN 2.1. KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG TAHUN 2004 DAN TAHUN 2011

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional) ANALISIS SPASIAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI KABUPATEN BREBES BAGIAN TENGAH

ANALISIS POLA PERKEMBANGAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KECAMATAN BAKI KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN 2009 DAN 2016

IV. KEADAAN UMUM DAERAH. RW, 305 RT dengan luas wilayah ha, jumlah penduduk jiwa.

BAB III METODE PENELITIAN

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan zaman, pertumbuhan penduduk dari tahunketahun

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN SUKABUMI. Administrasi

Geo Image 5 (2) (2016) Geo Image.

Jurnal Geodesi Undip Januari 2016

ANALISIS SEBARAN SMP/SEDERAJAT DI KECAMATAN SEPUTIH BANYAK KABUPATEN LAMPUNG TENGAH (JURNAL)

ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN PEMUKIMAN DI KECAMATAN SEBERANG ULU I KOTA PALEMBANG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang penelitian

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

Geo Image 5 (2) (2016) Geo Image.

BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak Geografis. 08º00'27" Lintang Selatan dan 110º12'34" - 110º31'08" Bujur Timur. Di

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KECAMATAN MIJEN KOTA SEMARANG TAHUN Publikasi Ilmiah. Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Persyaratan

ANALISIS POTENSI LAHAN PERTANIAN SAWAH BERDASARKAN INDEKS POTENSI LAHAN (IPL) DI KABUPATEN WONOSOBO PUBLIKASI KARYA ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

ANALISIS DAN PEMETAAN DAERAH KRITIS RAWAN BENCANA WILAYAH UPTD SDA TUREN KABUPATEN MALANG

Evaluasi Kemampuan Lahan untuk Mendukung Pengembangan Pariwisata Wilayah Pesisir Pacitan

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec

ANALISIS DAN PEMETAAN DAERAH KRITIS RAWAN BENCANA WILAYAH UPTD SDA TUREN KABUPATEN MALANG

Geo Image 5 (1) (2016) Geo Image.

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Letak Geografis

BAB II TINJAUAN UMUM

PERUBAHAN FUNGSI PEMANFAATAN RUANG DI KELURAHAN MOGOLAING KOTA KOTAMOBAGU

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

BAB I PENDAHULUAN. dalam Siswanto (2006) mendefinisikan sumberdaya lahan (land resource) sebagai

Geo Image 5 (2) (2016) Geo Image.

Edu Geography 3 (5) (2015) Edu Geography.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Septi Sri Rahmawati, 2015

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011) 33-37

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM DESA KALIURANG. memiliki luas lahan pertanian sebesar 3.958,10 hektar dan luas lahan non

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

DAMPAK ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN MENJADI PERMUKIMAN TERHADAP PERUBAHAN NILAI LAHAN DI KECAMATAN BOGOR UTARA KOTA BOGOR

BAB I KONDISI FISIK. Gambar 1.1 Peta Administrasi Kabupaten Lombok Tengah PETA ADMINISTRASI

PROFIL SANITASI SAAT INI

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Menurut Erwin Raisz dalam Rosana (2003 ) peta adalah gambaran konvensional

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KARAKTERISTIK PANTAI GUGUSAN PULAU PARI. Hadiwijaya L. Salim dan Ahmad *) ABSTRAK

BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Secara Geografis Kota Depok terletak di antara Lintang

APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI UNTUK KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KOTA BEKASI. Dyah Wuri Khairina

PEMETAAN LOKASI PERTAMBANGAN PASIR DI KECAMATAN TANJUNG BINTANG KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2016 (JURNAL) Oleh: ANDI KURNIAWAN FIRDAUS

ANALISIS PERUBAHAN LAHAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KECAMATAN TEGALREJO DAN KECAMATAN WIROBRAJAN KOTA YOGYAKARTA TAHUN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang Barat terletak pada BT dan

BAB II TINJAUAN UMUM

EVALUASI LOKASI SMA DENGAN ZONA PENDIDIKAN BERDASARKAN RTRW BANDAR LAMPUNG TAHUN 2014 ABSTRACT

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

Evaluasi Kemampuan Lahan Ditinjau dari Aspek Fisik Lahan Sebagai Informasi Dasar untuk Mendukung Pengembangan Wisata Pantai Srau Kabupaten Pacitan

PERUBAHAN PENGGUNAAN TANAH DI UNIT GEOMORFOLOGI DAERAH ALIRAN (DA) CI MANDIRI, SUKABUMI TAHUN

TINJAUAN GEOGRAFIS KEBERADAAN INDUSTRI AIR MINUM PT. VODA TIRTA NIRWANA DI DESA BATU KERAMAT

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK BANGUNAN TEMPAT TINGGAL DI KECAMATAN PLAYEN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

IPB International Convention Center, Bogor, September 2011

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS KESESUAIAN UNTUK LAHAN PERMUKIMAN KOTA MALANG

I. PENDAHULUAN. ruang untuk penggunaan lahan bagi kehidupan manusia. Sehubungan dengan hal

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

POLA PERKEMBANGAN KECAMATAN WANEA BERDASARKAN MORFOLOGI RUANG

ANALISIS TINGKAT KONVERSI LAHAN PERTANIAN DI KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS

Transkripsi:

Geo Image 3 (2) (2014) Geo Image (Spatial-Ecological-Regional) http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/geoimage ANALISIS POLA SEBARAN PERMUKIMAN BERDASARKAN TOPOGRAFI DI KECAMATAN BRANGSONG KABUPATEN KENDAL Elina Rifda Rakhmawati Sriyono, Dewi Liesnoor Setyowati Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang, Indonesia Info Artikel Sejarah Artikel: Diterima 2014 Disetujui April 2014 Dipublikasikan Desember 2014 Keywords: Pola Sebaran Pemukiman, topogrfafi Abstrak Pemukiman selalu membutuhkan lahan, yang jumlahnya dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Tujuan penelitian adalah (a) mengkaji kondisi penggunaan lahan. (b) mengetahui pola persebaran permukiman berdasarkan pada topografi. (c) menganalisis sebaran permukiman terhadap jumlah penduduk berdasarkan topografi. Sampel dalam penelitian ini mengambil semua desa di Kecamatan Brangsong yang terdiri dari 12 Desa. Populasi penelitian ini meliputi KK ( Kepala Keluarga) dan lahan permukiman. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis teiangga terdekat dan analisis diskriptif. Hasil penelitian: (a) penggunaan lahan di Kecamatan Brangsong mengalami perubahan dalam jenis penggunaannya. pada tahun 2000 sampai dengan tahun 2013 mengalami perubahan penggunaan lahan seluas 1,73 Km². (b) pola berdasarkan pada topografi dapat dilihat dari kemiringan lereng yang datar pola permukimannya cenderung menyebar dan semakin terjal kemiringan lereng maka pola permukiman akan semakin mengelompok, untuk daerah dengan kepadatan penduduknya tinggi pola persebaran permukimannya ternyata mengelompok tidak menyebar dan sebaliknya. (c) analisis hubungan pola permukiman dengan faktor kemiringan lereng, dan ketinggian tempat, di Kecamatan Brangsong pola permukimannya memanjang (linear) sepanjang jalan dan permukiman berada di sebelah kanan-kiri jalan, pola permukiman seperti ini banyak terdapat di dataran rendah yang morfologinaya landau, pola permukiman di Kecamatan Brangsong yang selanjutnya adalah merupakan pola permukiman memusat hal ini terjadi karena kondisi morfologi di wilayah ini merupakan dataran tinggi yang berelief kasar. Abstract Settlement always require farm, what its amount from year to year non-stoped to experience of improvement.the of research are objects: (a). Drecribing the condition of landuse. (b). knowing the distribution pattern based on the topography. (c. analyzing the settlement for the amount of residents based on topography. Research location: The researcher is going to take 12 villages in district Brangsong as sample. Population taken is KK (Head of Family) and land settlement. Analysis of the data using the analysis tetangga terdekat and descriptive. Result of the research: (a). The landuse in district Brangsong has some changes in land of use. Where is in 2000 and 2013 changing landuse area 1,73 Km². (b). The patter based on topography can be seen from the gentle slope whrch has correlation to make settlement pattern be proven with land by flat slope, it s settelement is almost spreed up. However, the gentle slope makes the settlement pattern be grouping. It can be seen in research location is the big population density actualy has grouping settlement pattern, not sprced up. (c). Analyzis connection pattern with gentle slope and steeps, the settlement pattern in district Brangsong between year 2000 and 2013 doesn t have any change with linier settlement pattern along the righ ang left side of the road. Generally, the settlement pattern is dominated on lowland when has morphology is slope, so that ease the road building in settlement. The settlement pattern in district Brangsong is center settlement pattern. It happens because the morphology condition in this area whis is hard relief high land. 2014 Universitas Negeri Semarang Alamat korespondensi: Gedung C1 Lantai 1 FIS Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229 E-mail: geografiunnes@gmail.com ISSN 2252-6285 1

PENDAHULUAN Permukiman idealnya harus memuat dua syarat utama yaitu, fisik lingkungan harus mencerminkan pola kehidupan dan pola budaya setempat, dan lingkungan permukiman harus didukung oleh fasilitas pelayanan dan ultilitas umumnya sebanding dengan ukuran atau luasannya lingkungan dan banyaknya penduduk. Oleh karena itu kondisi permukiman tidak lepas dari aspek penduduknya sebagai penghuni. Dengan demikian peranan penduduk atau penghuni di setiap permukiman sangat penting dalam mengupayakan pengembangan permukiman sebagai unsur penting dalam menunjang proses pembangunan secara berkelanjutan (Menurut Budihardja 1984, dalam Syartinilia, 2002) Permukiman selalu membutuhkan lahan, yang jumlahnya dari tahun ke tahun terus mengalami peningkantan. Padahal luas lahan yang tesedia untuk permukiman jumlahnya semakin kecil, sehingga kebutukan lahan untuk permukiman sampai saat ini masih merupakan kondisi yang timpang. Ketidaksesuaian antara kebutuhan yang mendesak dengan penyediaan rumah yang semakin terbatas, akan berpengaruh pada semakin banyak rumah yang dibangun di bawah standar minimum. Pola persebaran yang dilakukan seragam (uniform), acak (random), mengelompok (clustered) dan lain sebagainya dapat diberi ukuran yang bersifat kuantitatif. Dengan cara demikian maka perbandingan antara pola persebaran dapat dilakukan dengan baik, bukan saja dari segi waktu tetapi juga dari segi ruang (space). Penduduk merupakan salah satu faktor strategis dalam pembangunan karena posisinya yang bukan hanya sebagai subyek tetapi juga merupakan subyek pembangunan itu sendiri. Oleh karena itu pembangunan yang dilaksanakan harus menitik beratkan pada kualitas sumber daya manusia (SDM). Penduduk yang besar dapat merupakan model pembangunan jika kualitasnya cukup baik sehingga berpengaruh pada indeks pembangunan manusia. Kecamatan Brangsong memiliki 12 desa dan berdasarkan data kependudukan tahun 2012 mempunyai jumlah penduduk 48.086 jiwa terdiri dari laki-laki 23.930 jiwa dan perempuan 24.086 jiwa dengan rasio jenis kelamin 991, dengan luas wilayah 35.54 km², kepadatan penduduk mencapai 1.392 jiwa/km² yang berarti meningkat dibandingkan tahun 2000 yang mencapai kepadatan sebesar 1.242 jiwa/km². (Brangsong Dalam Angka 2013). Kondisi Topografi daerah Kendal terdiri dari aluvium dibagian utara dan dibagian selatan terdiri dari formasi kerek, formasi kali getas, dan formasi damar. Masing-masing formasi tersebut mempunyai litologi yang berbeda. Sedangkan kondisi geomorfologi daerah kendal, terdiri dari perbukitan dibagian selatan dan dataran aluvial di bagian utara (Lumbanbatu dan Suyatman, 2007). Sehingga dapat dikatakan bahwa daerah Kendal didominasi oleh dataran aluvial yang mana dahulu pada zaman kuarter dan tersier merupakan hasil proses sedimentasi, nampak material batuannya adalah pasir halus, pasir, lempung, dan kerikil. Sedangkan Kecamatan Brangsong sendiri memiliki dataran yang relatife datar dengan sedikit perbukitan, Kecamatan Brangsong dengan ketinggian 0-23 meter di atas laut sedangkan untuk kemiringan lereng daerah penelitian memiliki jenis topigrafi datar, landai, agak curam, dan curam. Wilayah kecamatan Brangsong terbagi menjadi 2 daerah dataran, dibagian utara dataran rendah yang berbatasan langsung dengan laut jawa maka kondisi iklim tersebut cenderung lebih panas sedangkan bagian selatan yang merupakan daerah perbukitan kondisi iklim daerah tersebut cenderung lebih sejuk. Pembangunan permukiman, hendaknya juga berorientasi pada kualitas lingkungan permukiman, yang dapat ditujukan oleh kemampuan fisik yang meliputi bangunan tempat tinggal, fasilitas sarana dan prasarana penunjang untuk dapat menampung dan memenuhi kebutuhan serta aktivitas para penghuniannya. Permukiman sebagai suatu ruang yang digunakan oleh manusia untuk bertempat tinggal, hendaknya dibangun dengan memenuhi unsur-unsur yang mendukung terciptanya keadaan yang memungkinkan 2

manusia menyelenggarakan kehidupannya. Terjadinya keanekaragaman pola persebaran permukiman sebagai wujud dari persebaran penduduk tidak merata, dimana Kecamatan Brangsong memiliki pola sebaran mengelompok dengan mengikuti sepanjang jalan. Tujuan penelitian ini adalah (a) mengkaji kondisi penggunaan lahan Kecamatan Brangsong tahun 2000 dan 2013. (b) mengetahui pola persebaran permukiman berdasarkan pada topografi Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal. (c) menganalisis sebaran permukiman terhadap jumlah penduduk berdasarkan topografi Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal. METODE PENELITIAN Populasi dalam penelitian ini meliputi KK ( Kepala Keluarga) dan lahan permukiman. Sampel dalam penelitian ini mengambil semua desa di Kecamatan Brangsong yang terdiri dari 12 Desa. Variabel penelitian yaitu Bentuk dan luas penggunaan lahan antara tahun 2000 dan tahun 2013, persebaran permukiman berdasarkan kemiringan lereng, pertumbuhan luas permukiman, keterkaitan pertumbuhan permukiman antara pola permukiman, analisis pola sebaran permukiman berdasarkan kemiringan lereng. Analisis data menggunakan analisis tetangga terdekat untuk mengetahui pola sebaran permukiman pada bentuk lahan di Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal, interaksi keruangan, aksesibilitas suatu wilayah untuk dijangkau, yang mempengaruhi pola sebaran permukiman di Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal. Metode kuantitatif meliputi distribusi frekuensi dan interpretasi data tabel digunakan untuk menganalisis kecenderungan dari suatu data. Alat analisis ini digunakan dalam mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik pola permukiman berdasarkan sebaran data secara statistik, kemudian dideskripsikan secara kuantitatif. Metode pengumpulan data dengan dokumentasi, wawancara, survei lapangan. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif untuk menguraikan atau menjelaskan apa yang didapat dari hasil penelitian, hal ini mengingatkan untuk menggambarkan keadaan atau suatu fenomena dari perkembangan permukiman yang dapat menimbulkan dampak positif dan negatif. Metode analisis data dalam penelitian ini adalah analisis tetangga terdekat, metode deliniasi peta dan metode deskriptif untuk menguraikan apa yang didapat dari hasil penelitian. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penggunaan lahan di Kecamatan Brangsong mengalami perubahan dalam Jenis penggunaannya. Dimana pada tahun 2000 jenis penggunaan lahan sawah seluas 14,39 Km² atau 41,66% sedangkan pada tahun 2013 penggunaan lahannya mencapai 13,89 Km² atau 39,09%. Penggunaan lahan pekarangan tahun 2000 yaitu 5,34 Km² atau 15,46% dan pada tahun 2013 penggunaan lahan pekarangan berubah menjadi 5,42 Km² atau 15,25%. Jenis penggunaan lahan tegalan tahun 2000 yaitu 6,27 Km² atau 18,15% untuk penggunaan lahan tegalan tahun 2013 yaitu 6,28 Km² atau 17,67%. Penggunaan lahan tambak dan kolam pada tahun 2000 yaitu 2,00 Km² atau 6,79% sedangkan tahun 2013 berubah menjadi 3,00 Km² atau 8,43%. Dapat dilihan untuk jenis penggunaan lahan hutan di Kecamatan Brangsong pada tahun 2000 dan tahun 2013 tidak mengalami perubahan yaitu masih 1,65 km². sedangkan untuk jenis penggunaan lahan perkebunaan di Kecamatan Brangsong adalah 0,00 dikarenakan Kecamatan tersebut tidak memiliki lahan Perkebunan. Penggunaan lahan lain-lain pada tahun 2000 mencapai 4,90 Km² atau 14,18%, sedangkan pada tahun 2013 jenis penggunaan lahan lainlain yaitu 5,31 Km² atau 14,94. Pola sebaran permukiman menunjukkan tempat bermukim manusia dan tempat tinggal menetap dan melakukan kegiatan/aktivitas sehari-harinya. Permukiman dapat diartikan sebagai suatu tempat (ruang) atau suatu daerah dimana penduduk terkonsentrasi dan hidup bersama menggunakan lingkungan setempat, untuk mempertahankan, melangsungkan, dan 3

mengembangkan hidupnya. Pengertian pola dan sebaran permukiman memiliki hubungan yang sangat erat. Sebaran permukiman membincangkan hal dimana terdapat permukiman dan tidak terdapat permukiman dalam suatu wilayah, sedangkan pola permukiman merupakan sifat sebaran, lebih banyak berkaitan dengan akibat faktor-faktor ekonomi, sejarah, dan faktor budaya. Secara harfiah pola permukiman dapat diartikan sebagai susunan (model) tempat tinggal suatu daerah. Model dari permukiman mencakup didalamnya sususnan dari persebaran permukiman. Berdasarkan penjelasan diatas, jelas bahwa pola permukiman penduduk bias berbeda satu sama lain. Secara umum, penduduk memiliki tiga pola permukiman yaitu pola permukiman memanjang (liniear), pola permukiman memusat, pola permukiman tersebar. Tabel 1. Luas Permukiman Berdasarkan Elevasi No. Elevasi (mdpal) Luas Permukiman Pola (Ha) (%) 1. 0-25 126.624 4,34-2. 25-200 981.004 33,64 Memanjang 3. 200-500 1.772.031 60,77 Mengelompok 4. 500-1000 36.338 1,25 - Total 2.915.997 100,00 - Sumber: Peta RBI Kabupaten Kendal Di daerah penelitian pola permukiman yang terlihat didataran rendah adalah memenjang (linier), daerah dataran rendah pola permukiman memanjang memiliki ciri permukiman berupa deretan memanjang karena mengikuti jalan, sungai, rel kereta api, atau pantai, sedangkan pola permukiman memusat atau mengelompok umumnya terdapat di daerah pegunungan atau daerah dataran tinggi yang berelief kasar, dan terkadang daerahnya terisolir. Kemudian pola permukiman di Kecamatan Brangsong yang selanjutnya adalah merupakan pola permukiman memusat hal ini terjadi karena kondisi morfologi di wilayah ini merupakan dataran tinggi yang berelief kasar, selain itu penduduknya masih ada hubungan kerabat dan mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian yang lokasinya berada di sekitar permukiman. Apabila dilihat dari pengertian diatas dapat di ketahui pola permukiman di Kecamatan Brangsong antara tahun 2000 dan tahun 2013 tidak mengalami perubahan dengan pola permukiman memanjang (linear) sepanjang jalan dan permukiman berada di sebelah kanan kiri jalan. Umumnya pola permukiman seperti ini banyak terdapat di dataran rendah yang morfologinaya landai sehingga memudahkan pembangunan jalan-jalan di permukiman. Namun pola ini sebenarnya terbentuk secara alami untuk mendekati sarana transportasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar1. 4

Gambar 1. Peta Pola Sebaran Permukiman Berdasarkan Elevasi di Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal Bentuk pola permukiman di suatu daerah sangat di pengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor fisik maupun sosial ekonomi. Dalam penelitian di kecamatan Brangsong faktor fisik terdiri dari kemiringan lereng, dan ketinggian tempat. Faktor tersebut memberikan pengaruh yang berbeda baik pengaruh kuat dan lemah. Tabel 2. Luas Permukiman Berdasarkan Kemiringan Lereng No. Kemiringan Lereng (%) Keterangan Luas Permukiman Pola (Ha) (%) 1. 0-2 Datar 1.931.667 59,62 Memanjang 2. 2-8 Landai 107.930 3,33 Memanjang 3. 8-14 Agak Miring 300.642 9,27 Mengelompok 4. 14-21 Miring 899.760 9,28 Mengelompok Total 3.239.999 100,00 - Sumber: Peta RBI Kabupaten Kendal Hubungan antara pola permukiman dengan variabel geografi yang berpengaruh dapat dilihat dengan mengoverlay peta pola permukiman dengan peta-peta faktor geografi sehingga menghasilkan hubungan pengaruh. Dan hasil overlay peta menunjukkan bahwa daerah penelitian dalam hal ini beberapa desa di daerah penelitian dengan kemiringan lereng 5

landai. Ketinggian tempat rendah memiliki pola sebaran permukiman mengelompok mengikuti jalan-jalan yang ada. Desa-desa di daerah penelitian dengan kependudukan sedang dan tinggi ternyata pola permukimannya kebanyakan adalah membentuk pola persebaran permukiman mengelompok dan memanjang mengikuti jalan. Umumnya pola permukiman seperti ini banyak terdapat di dataran rendah yang morfologinaya landai sehingga memudahkan pembangunan jalan-jalan di permukiman. Namun pola ini sebenarnya terbentuk secara alami untuk mendekati sarana transportasi. Kemudian pola permukiman di Kecamatan Brangsong yang selanjutnya adalah merupakan pola permukiman memusat hal ini terjadi karena kondisi morfologi di wilayah ini merupakan dataran tinggi yang berelief kasar, selain itu penduduknya masih ada hubungan kerabat dan mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian yang lokasinya berada di sekitar permukiman. Kemiringan lereng mempunyai hubungan atau korelasi yang kuat terhadap terbentuknya pola permukiman debuktikan dengan daerah dengan kemiringan lereng datar pola permukimannya cenderung menyebar dan semakin terjal kemiringan lereng maka pola permukiman akan semakin mengelompok (Dapat dilihat pada Gambar 2). Kepadatan penduduk merupakan faktor yang paling kacil hubungan dan pengaruhnya atau tidak mempunyai hubungan nyata terhadap terbentuknya pola persebaran permukiman. Jadi penduduk bertempat tinggal membentuk pola persebaran permukiman tanpa bantuan apa pun, sehingga tidak tergantung pada tinggi tidaknya kepadatan penduduk. Selain itu kepadatan penduduk yang besar belum tentu mengelompok. Ini dapat dilihat di daerah penelitian dimana pada daerah dengan kepadatan penduduknya tinggi pola persebaran permukimannya ternyata mengelompok tidak menyebar dan sebaliknya. Gambar 2. Peta Pola Sebaran Permukiman Berdasarkan Kemiringan Lereng di Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal 6

Tabel 3. Luas Permukiman Berdasarkan Topografi Elevasi Kemiringan Luas Permukiman Keterangan (mdpal) Lereng (%) (Ha) (%) Pola 1. 0-25 0-2 Datar 1.931.667 59,62 Menjang 2. 25-200 2-8 Landai 107.930 3,33 Memanjang 3. Agak 200-500 8-14 Miring 300.642 9,27 Mengelompok 4. 500-1000 14-21 Miring 899.760 9,28 Mengelompok Total 3.239.999 100,00 - Sumber: Peta Topografi Kabupaten Kendal. Kecamatan Brangsong berada pada ketinggian 0-200 mdpal. Berdasarkan klasifikasi kemiringan lereng kecamatan Brangsong menurut Zuridan (1978) dandata dari peta kemiringan lereng Kecamatan Brangsong, sebagian besar topografi yang terdapat di daerah tersebut adalah datar dengan luas permukiman 59,62%, sebagian kecilnya daerah dengan topografinya agak miring dengan luas permukiman 9,27%. Agihan topografi wilayah yang datar terdapat hampir disemua desa ada di Kecamatan Brangsong. Gambar 4.6. Peta Sebaran Permukiman Berdasarkan Topografi. KESIMPULAN Dari uraian pembahasan hasil penelitian yang telah disampaikan dapat disimpulan bahwa. Penggunaan lahan di Kecamatan Brangsong terdiri dari lahan sawah, lahan pekarangan, lahan tegalan, tambak dan kolam, hutan, perkebunan, lain-lain. Dalam masing- 7

masing per tahunnya dapat kita ketahui bahwa Penggunaan lahan di Kecamatan Brangsong mengalami perubahan dalam Jenis penggunaannya. Pola sebaran permukiman dan pertumbuhan luas permukiman, pola persebaran permukiman di Kecamatan Brangsong pada umumnya bergerombol, walaupun ada juga permukiman yang mengikuti jalan atau searah jalan. Sedangkan pertumbuhan luas permikiman di Kecamatan Brangsong yaitu Luas pertumbuhan permukiman yang terjadi antara tahun 2000 dan 2013 dalam kurun waktu 13 tahun sebesar 736,01 Km² atau setiap tahunnya 56,61 Km² per tahunnya. Sebaran permukiman berdasarkan bentuk lahan di Kecamatan Brangsong memiliki ukuran permukiman besar dengan kriteria 2000-5000 penduduk. Di Kecamatan Brangsong sendiri memiliki jumlah penduduk sebasar 44.901 jiwa. Sedangkan utuk tipe permukiman di Kecamatan Brangsong memiliki bentuk tipe linear dengan criteria posisi rumah penduduk yang ada di Kecamatan Brangsong adalah sejajar. DAFTAR PUSTAKA Bandowati, Eva. Diklat Kuliah Geografi Permukiman. Unnes: Semarang Bintarto, R dan Surastopo Hadi Sumarno. 1982. Metode Analisa Geografi. Jakarta: LP3ES. Tika, Moh.Pabundu. 1997. Metode Penelitian Geografi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Widjajanti, Wiwik Widyo. 2001. Pembangunan berkelanjutan pada permukiman di kawasan industri Studi kasus : daerah perbatasan Surabaya-Mojokerto. Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Adhi Tama, Surabaya.... Jurnal Penatan Ruang. 2001. Fasilitasi dan Penyelesaian Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Perkotaan & Sub Urban. http://www.penataanruang.net/ta/lapak0 4/P2/Suburban.pdf Yunus, Hadi Sabari. Konsep dan pendekatan geografi (memaknai hakekat keilmuannya) makalah sarasehan Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Geografi Indonesia pada tanggal 18-19 Januari 2008 di Fakultas Geografi UGM Yogyakarta.... 1999. Struktur Tata Rauang Kota. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.... 2001. Perubahan Pemanfaatan Lahan di Daerah Pinggiran Kota. Yogyakarta : Geografi UGM. 8