UNIVERSITAS AIRLANGGA

dokumen-dokumen yang mirip
UNIVERSITAS AIRLANGGA

TENTANG TATA BERACARA PELAKSANAAN TUGAS DAN WEWENANG BADAN KEHORMATAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 3 TAHUN 2014 T E N T A N G

UNIVERSITAS AIRLANGGA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

PERATURAN SENAT MAHASISWA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO NOMOR 4 TAHUN 2017 TENTANG

UNIVERSITAS AIRLANGGA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS GADJAH MADA NOMOR 33/P/SK/HT/2006 TENTANG DEWAN KEHORMATAN KODE ETIK DOSEN UNIVERSITAS GADJAH MADA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

LEMBARAN NEGARA PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepot

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

- - PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG MAJELIS KEHORMATAN KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

- - PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG MAJELIS KEHORMATAN KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG DEWAN PERWAKILAN MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG MAHKAMAH MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA

PERATURAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PENYELESAIAN PELANGGARAN KODE ETIK DAN PELANGGARAN DISIPLIN BERAT

PERATURAN SENAT FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA NOMOR : 02 TAHUN 2012 TENTANG TATA TERTIB SENAT FAKULTAS

DEWAN KEHORMATAN PENYELENGGARA PEMILU REPUBLIK INDONESIA

2 Menetapkan : 3. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik I

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA DAN KETUA KOMISI YUDISIAL REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS BRAWIJAYA NOMOR 47 TAHUN 2015 TENTANG KEDUDUKAN DAN SUSUNAN SENAT UNIVERSITAS BRAWIJAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA NOMOR : KEP. 13 TAHUN 2012

DRAFT 16 SEPT 2009 PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 8 Tahun : 2014

PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMERIKSAAN PEGAWAI DI LINGKUNGAN LEMBAGA SANDI NEGARA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

2016, No Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indon

Memperhatikan : Hasil Sidang Pleno Senat Akademik IPB, tanggal 23 Desember MEMUTUSKAN

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

2 c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Mahkamah Agung tentang Pedoman Beracar

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG

SOSIALISASI KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KAB.BANTUL

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS AIRLANGGA

UNDANG UNDANG KELUARGA BESAR MAHASISWA UNIVERSITAS LAMPUNG NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN RAYA MAHASISWA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

2016, No Gubernur, Bupati, dan Wali Kota menjadi Undang- Undang; b. bahwa Pasal 22B huruf a dan huruf b Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tent

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36/PERMEN-KP/2017 TENTANG KODE ETIK PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PERIKANAN

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06/PRT/M/2012 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2007 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

UNIVERSITAS AIRLANGGA

PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS DIPONEGORO NOMOR 2 TAHUN 2015

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06/PRT/M/2012 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90 TAHUN 2017 TENTANG KONSIL TENAGA KESEHATAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

2015, No Mengingat : 1. Pasal 24B Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2017, No Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 512); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 5

NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DI KPPU KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA

PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNIVERSITAS GADJAH MADA KEPUTUSAN SENAT AKADEMIK NOMOR : 07/SK/SA/2004 TENTANG PERATURAN TATA TERTIB SENAT AKADEMIK

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2017, No ); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republ

PERATURAN SEKRETARIS JENDERAL DEWAN ENERGI NASIONAL NOMOR : 001 K/70.RB/SJD/2011 TENTANG

KODE ETIK PENERBIT ANGGOTA IKAPI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2017, No Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik In

- 2 - BAB I KETENTUAN UMUM

PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI LEMBAGA SANDI NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DEWAN KEHORMATAN PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-02.KP TAHUN 2010 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI IMIGRASI

BUPATI BANYUWANGI PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 39 TAHUN 2016 TENTANG

Transkripsi:

UNIVERSITAS AIRLANGGA Kampus C Mulyorejo Surabaya 60115 Telp. (031) 5914042, 5914043, 5912546, 5912564 Fax (031) 5981841 Website : http://www.unair.ac.id ; e-mail : rektor@unair.ac.id SALINAN PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS AIRLANGGA NOMOR 18/H3/PR/2009 TENTANG DEWAN ETIKA UNIVERSITAS AIRLANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA REKTOR UNIVERSITAS AIRLANGGA, Menimbang : a. bahwa norma dan etika akademik yang telah ditetapkan oleh Senat Akademik Universitas Airlangga, perlu dijalankan dan ditegakkan dalam rangka menjaga kebebasan akademik yang dilandasi moral; b. bahwa dalam rangka menegakkan norma dan etika akademik, perlu ditetapkan suatu Dewan yang menjalankan fungsi pemeriksaan dan memutus dugaan pelanggaran norma dan etika akademik; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b, perlu menetapkan Peraturan Rektor tentang Dewan Etika. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301); 2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 1954 tentang Pendirian Universitas Airlangga Di Surabaya Sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1955 tentang Pengubahan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 1954. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1954 Nomor 99 Tambahan Lembaran Negara Nomor 695 juncto Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1955 Nomor 4 Tambahan Lembaran Negara Nomor 748);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2006 tentang Penetapan Universitas Airlangga sebagai Badan Hukum Milik Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 66); 5. Keputusan Presiden Nomor 74/M Tahun 2006 tentang Pengangkatan Rektor Universitas Airlangga Masa Jabatan Tahun 2006-2010; 6. Peraturan Majelis Wali Amanat Universitas Airlangga Nomor 12/P/MWA-UA/2008 tentang Anggaran Rumah Tangga Universitas Airlangga; 7. Peraturan Senat Akademik Universitas Airlangga Nomor 01/H3/SA/P/2008 tentang Norma dan Etika Akademik Universitas Airlangga; 8. Peraturan Senat Akademik Universitas Airlangga Nomor 08/H3/SA/P/2008 tentang Pemberian Sanksi Terhadap Pelanggaran Norma dan Etika Akademik Universitas Airlangga; 9. Peraturan Rektor Universitas Airlangga Nomor 318/J03/HK/2008 tentang Perubahan Struktur Organisasi Universitas Airlangga Badan Hukum Milik Negara. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN REKTOR TENTANG DEWAN ETIKA BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Rektor ini yang dimaksud dengan : 1. Universitas adalah Universitas Airlangga sebagai Badan Hukum Milik Negara. 2. Senat Akademik adalah badan normatif Universitas di bidang akademik. 3. Rektor adalah rektor Universitas Airlangga. 4. Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan dalam bidang pendidikan nasional. 5. Fakultas adalah unsur pelaksana pendidikan akademik, profesi, dan/atau vokasi di Universitas yang mengkoordinasikandan melaksanakan kegiatan akademik dalam satu atau beberapa disiplin ilmu, teknologi, dan seni. 6. Dekan adalah pemimpin Fakultas yang mengkoordinasikan pengelolaan sumberdaya dan penjaminan mutu di Fakultas. 7. Departemen adalah unsur pengelola program studi, dan melaksanakan penyelenggaraan akademik dalam satu atau lebih bidang keilmuan dalam Fakultas. 8. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. 9. Etika akademik adalah berbagai nilai luhur yang wajib ditaati insan akademik dalam berpikir, bersikap dan berperilaku sebagai seorang intelektual guna mengemban

berbagai tugas keilmuan di Universitas berdasarkan moral agama, adat istiadat, sopan santun, dan kesusilaan serta tolok ukur akhlak. 10. Norma akademik adalah suatu pedoman berperilaku bagi insan akademik yang dibuat oleh Universitas yang bilamana dilanggar akan selalu diberi sanksi. 11. Insan akademik adalah pengemban tugas keilmuan, teknologi dan seni di Universitas, yang meliputi dosen, peneliti, dan mahasiswa. 12. Dewan Etika adalah Dewan yang mempunyai kewenangan menerima, memproses dan/atau memutuskan dugaan pelanggaran Etika dan Norma Akademik. 13. Pelapor adalah pihak yang menyampaikan laporan/aduan tentang dugaan terjadinya pelanggaran norma dan etika akademik. 14. Terlapor adalah insan akademik yang dilaporkan/diadukan oleh sivitas akademik atau pihak lain atas dugaan melakukan pelanggaran norma dan etika akademik. BAB II KEDUDUKAN, WEWENANG DAN TUGAS Pasal 2 (1) Dewan Etika berkedudukan di Universitas dan Fakultas. (2) Dewan Etika di tingkat Universitas adalah Dewan pada tingkat banding dan terakhir. (3) Dewan Etika di tingkat Fakultas adalah Dewan pada tingkat pertama. Pasal 3 Susunan keanggotaan Dewan akademik ditetapkan dengan Keputusan Rektor. Pasal 4 (1) Dewan Etika berwenang menerima, memproses dan/ atau memutus dugaan pelanggaran Etika dan Norma Akademik. (2) Dewan Etika dalam memutus dugaan pelanggaran Etika dan Norma akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada : a. Ketentuan yang termaktub dalam peraturan dan/ atau keputusan yang mengatur atau menetapkan etika dan norma akademik yang berlaku di Universitas Airlangga; dan b. Asas-asas Kepatutan yang menjadi kebiasaan dalam tata perilaku di lingkungan Universitas Airlangga. Pasal 5 Dalam rangka melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Dewan Etika mempunyai tugas : a. menerima laporan tentang dugaan adanya pelanggaran norma dan etika akademik yang dilakukan oleh insan akademik Universitas; b. memproses laporan tentang dugaan adanya pelanggaran norma dan etika akademik yang dilakukan oleh insan akademik Universitas; c. melakukan verifikasi dan mengumpulkan alat-alat bukti yang diperlukan untuk proses pemeriksaan laporan/ pengaduan; d. memanggil dan meminta keterangan para pihak terkait dalam proses pemeriksaan laporan atau pengaduan; e. memberikan putusan terhadap dugaan pelanggaran Etika dan Norma Akademik;

f. mengusulkan kepada Rektor atas keputusan terhadap pelanggaran etika dan norma akademik. BAB III KEANGGOTAAN Pasal 6 (1) Anggota Dewan Etika di tingkat fakultas sebanyak 3 (tiga) orang. (2) Anggota Dewan Etika Fakultas ditetapkan dengan Keputusan Rektor atas dasar usulan dari Dekan. Pasal 7 (1) Anggota Dewan Etika di tingkat Universitas sebanyak 5 (lima) orang. (2) Anggota Dewan Etika Universitas ditetapkan dengan Keputusan Rektor. Pasal 8 (1) Masa Jabatan Anggota Dewan Etika adalah selama 3 (tiga) tahun. (2) Keanggotaan Dewan Etika dapat dilakukan pergantian antar waktu. Pasal 9 Keanggotaan Dewan Etika berakhir apabila: a. masa jabatan telah berakhir; b. tidak dapat melaksanakan tugas secara tetap; c. mengundurkan diri; d. terbukti melanggar etika akademik dan aturan berperilaku di kampus; e. dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum tetap; f. menempuh studi Pascasarjana; atau g. meninggal dunia. BAB IV ORGANISASI Pasal 10 (1) Susunan organisasi Dewan Etika Akademik terdiri dari: a. Ketua, merangkap anggota; b. Sekretaris, merangkap anggota; dan c. Anggota. (2) Dalam melaksanakan tugas, Dewan Etika dapat membentuk Panitia ad-hoc.

BAB V TATA BERACARA Bagian Pertama Laporan Pasal 11 (1) Laporan kepada Dewan Etika dapat dilakukan oleh civitas akademi di Lingkungan Universitas Airlangga maupun pihak lain. (2) Laporan yang diajukan kepada Dewan Etika secara tertulis dalam Bahasa Indonesia yang memuat: a. Identitas Pelapor dilengkapi identitas diri yang sah, meliputi: 1. nama lengkap; 2. tempat tanggal lahir/umur; 3. jenis kelamin; 4. pekerjaan; dan 6. alamat lengkap/domisili. b. Identitas Terlapor, meliputi: 1. nama lengkap; dan 2. pekerjaan. c. Uraian peristiwa/ fakta perbuatan yang diduga merupakan pelanggaran yang dilakukan oleh Terlapor dengan disertai bukti awal. (3) Laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditandatangani Pelapor. (4) Dewan Etika dengan pertimbangan tertentu dapat pula menyelidiki dan/ atau menindaklanjuti laporan yang dikirimkan oleh Pelapor dengan tanpa menyebutkan identitas pelapor asalkan disertai bukti awal. Pasal 12 Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 gugur apabila: a. Terlapor meninggal dunia; b. Terlapor mengundurkan diri sebagai insan akademik; atau c. Ketentuan yang diduga dilanggar dinyatakan tidak berlaku/dicabut. Bagian Kedua Persidangan Pasal 13 (1) Dewan Etika wajib melakukan sidang pertama dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya Laporan. (2) Laporan dinyatakan gugur apabila Dewan Etika tidak melakukan persidangan pertama dalam waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 14 Dewan Etika melakukan verifikasi dalam sidang yang bersifat tertutup.

Pasal 15 Dewan Etika wajib menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh mulai dari tahapan penerimaan pengaduan, persidangan sampai dengan putusan. Pasal 16 (1) Terlapor wajib hadir sendiri dan tidak boleh menguasakan kepada pihak lain serta tidak boleh didampingi oleh pihak lain dalam setiap tahap Sidang verifikasi pada Dewan Etika. (2) Dalam hal Terlapor tidak menghadiri panggilan Sidang verifikasi dengan alasan sakit atau tugas Negara/ dinas, Sidang verifikasi ditunda. (3) Jangka waktu penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lama 60 (enam puluh ) hari terhitung sejak dilakukan sidang verifikasi pertama. (4) Apabila jangka waktu penundaaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terlampaui, Dewan Etika dapat melakukan verifikasi tanpa kehadiran Terlapor. Pasal 17 Sidang Verifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 meliputi: a. verifikasi pokok Laporan/; b. pemeriksaan alat bukti; dan c. pembelaan Terlapor. Bagian Ketiga Pembuktian Pasal 18 (1) Pelapor dapat mengajukan alat bukti untuk membuktikan kebenaran Laporannya. (2) Terlapor berhak mengajukan kontra alat bukti terhadap Laporan/Pengaduan yang diajukan Pelapor. (3) Dewan Etika dapat meminta alat bukti lain kepada pihak ketiga. Pasal 19 Alat bukti yang dipakai dalam Sidang verifikasi Dewan Etika meliputi: a. keterangan Saksi; b. keterangan Ahli; c. surat; d. data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca dan/atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, maupun yang terekam secara elektronik atau optik yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna; dan/atau e. keterangan Pelapor/Pengadu dan Terlapor. Pasal 20 (1) Dewan Etika menilai alat-alat bukti yang diajukan dalam verifikasi dengan memperhatikan persesuaian antara alat bukti yang satu dengan alat bukti yang lain. (2) Dewan Etika menentukan sah atau tidaknya alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19.

Pasal 21 Pembuktian menjadi dasar pengambilan keputusan pada Sidang verifikasi Dewan Etika. Bagian Keempat Keputusan Pasal 22 Dewan Etika sebelum mengambil keputusan, melakukan verifikasi terlebih dahulu terhadap: a. risalah atau transkrip rekaman Rapat dan/atau Sidang verifikasi; dan b. pendapat etik seluruh anggota Dewan Etika. Pasal 23 Rapat pengambilan keputusan Dewan Etika didasarkan atas: a. asas kepatutan; b. fakta-fakta dalam hasil Sidang verifikasi; c. fakta-fakta dalam pembuktian;dan/ atau d. fakta-fakta dalam pembelaan. Pasal 24 (1) Keputusan atas laporan yang diverifikasi diambil dalam Rapat Dewan Etika. (2) Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dihadiri oleh sekurangkurangnya lebih dari separuh jumlah Anggota Dewan Etika. (3) Dalam hal jumlah Anggota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak terpenuhi, Rapat ditunda paling banyak 2 (dua) kali dengan tenggang waktu masing-masing tidak lebih dari 7 (tujuh) hari. (4) Setelah 2 (dua) kali penundaan, kuorum sebagaimana dimaksud pada ayat (3) belum juga tercapai, cara penyelesaiannya diserahkan kepada Ketua dan Sekretaris Dewan Etika Pasal 25 (1) Pengambilan keputusan dalam Rapat Dewan Etika diambil dengan cara musyawarah untuk mencapai mufakat. (2) Dalam hal pengambilan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi, keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak. Pasal 26 Setiap Keputusan Dewan Etika harus memuat: a. kepala keputusan berbunyi DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ; b. identitas Terlapor; c. ringkasan Pelaporan; d. pertimbangan terhadap fakta yang terungkap dalam Sidang verifikasi; e. pertimbangan terhadap fakta yang terungkap dalam pembuktian; f. pertimbangan terhadap fakta yang terungkap dalam pembelaan; g. pertimbangan norma dan etika yang menjadi dasar keputusan; h. amar putusan; i. hari dan tanggal keputusan; dan j. nama dan tanda tangan seluruh Pimpinan dan Anggota Dewan Etika.

Bagian Kelima Banding Pasal 27 (1) Keputusan Sidang Dewan Etika di tingkat Fakultas dapat dilakukan upaya banding ke Dewan Etika di tingkat Universitas. (2) Banding dapat diajukan oleh pelapor atau terlapor. (3) Pengajuan upaya banding sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara tertulis dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari kalender sejak ditetapkanya keputusan Dewan Etika di tingkat Fakultas. Pasal 28 Keputusan Sidang Dewan Etika di tingkat Universitas bersifat final dan mengikat Pasal 29 (1) Amar putusan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf h berbunyi: a. Menyatakan Terlapor tidak terbukti melanggar; atau b. Menyatakan Terlapor terbukti melanggar. (2) Dalam hal Terlapor tidak terbukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, keputusan harus disertai rehabilitasi kepada Terlapor. (3) Dalam hal Terlapor terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, keputusan disertai usulan/ rekomendasi kepada Rektor untuk memberikan sanksi berupa : a. teguran lisan; b. teguran tertulis; c. penundaan kenaikan pangkat, jabatan dan golongan; d. skorsing aktivitas akademik di lingkungan Universitas dalam rangka pembinaan baik bagi dosen, peneliti dan mahasiswa ; f. pemberhentian sebagai mahasiswa Universitas Airlangga; atau e. pengusulan kepada Menteri tentang pemberhentian sebagai pegawai negeri sipil. Pasal 30 (1) Keputusan Dewan Etika disampaikan kepada Rektor. (2) Rektor menerbitkan suatu Keputusan untuk menetapkan sanksi dalam hal keputusan sebagaimana dimaksud pada Pasal 29 ayat (3), kecuali dalam hal keputusan yang memberikan sanksi berupa teguran lisan. Pasal 31 (1) Dalam hal anggota dewan etika sebagaimana dimaksud pada Pasal 6 ayat (1) dan Pasal 7 ayat (1) menjadi terlapor, Rektor menetapkan keputusan pemberhentian sementara sebagai anggota sampai dengan adanya keputusan Dewan Etika. (2) Dalam hal keputusan Dewan Etika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyatakan terbukti melakukan pelanggaran, Rektor menetapkan pemberhentian definitif sebagai anggota Dewan Etika. (3) Dalam hal keputusan Dewan Etika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyatakan tidak terbukti melakukan pelanggaran, Rektor mengaktifk mencabut keputusan pemberhentian sementara sebagai anggota Dewan Etika.

Bagian Keenam Ketentuan Tata Beracara Pasal 32 Dewan Etika berwenang menetapkan tata beracara sepanjang tidak diatur dalam Peraturan ini. BAB VI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 33 (1) Dewan Etika harus terbentuk selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sejak ditetapkan Peraturan Rektor ini. (2) Dewan Etika berwenang menerima, memeriksa dan memutus laporan tentang dugaan pelanggaran Norma dan Etika Akademik yang dilakukan sebelum terbentuknya Dewan ini berdasarkan ketentuan Norma dan Etika Akademik yang berlaku di Universitas Airlangga.. BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 34 Peraturan Rektor ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Surabaya pada tanggal 16 Desember 2009 Rektor, ttd, Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Universitas, FASICH NIP.130517155 ttd, Dr. M. HADI SHUBHAN, SH.,M.H.,CN. NIP. 132303985 Salinan disampaikan Yth : Pimpinan Unit Kerja di Lingkungan UA