Profesi, Profesional dan profesionalisme

dokumen-dokumen yang mirip
Pengantar Public Relations

Etika Profesi Public Relations

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

Tinjauan Umum Etika Profesi

Isniar Budiarti,SE.,M.Si Sekretaris Eksekutif

BAB I Tinjauan Umum Etika

KODE ETIK PUBLIC RELATIONS (HUMAS RUMAH SAKIT)

Pendahuluan Manusia adalah Makhluk Individu Memiliki akal pikiran, perasaan, dan kehendak. Makhluk Sosial Memiliki perilaku etis

01ILMU ETIKA PROFESI. Etika dan Etiket dalam Humas. Frenia KOMUNIKASI.

ETIKA. Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat.

ETIKA PROFESI PUBLIC RELATIONS

Pengertian Etika. Nur Hidayat TIP FTP UB 2/18/2012

KODE ETIK PSIKOLOGI SANTI E. PURNAMASARI, M.SI., PSIKOLOG. Page 1

PROFESSIONAL IMAGE. Modul ke: Fakultas FIKOM. Program Studi Public Relations.

BY. IRMA NURIANTI,SKM. MKes PRINSIP ETIKA DAN MORALITAS

Pembahasan 1. Norma 2. Etika 3. Moral 4. Pengertian Etika Profesi 5. Fungsi Kode Etik Profesi

Etika Profesi Public Relations

Etika Profesi Public Relations

ETIK UMB ETIKET PERGAULAN. NANDANG SOLIHIN, M.Pd. Modul ke: Fakultas Psikologi. Program Studi Psikologi.

Pengertian Etika. Memahami, mengerti, dan menjelaskan profesi, tata laku, dan etika berprofesi di bidang teknologi informasi

PUBLIC RELATIONS. I hold it as certain, that no man was ever written out of reputation but by himself. dirinya sendiri) ETIKA DAN PROFESIONALISME

Modul ke: ETIKA PROFESI. Kesalahan Etiket Profesional. 06Fakultas KOMUNIKASI. Triasiholan A.D.S.Nababan. Program Studi Hubungan Masyarakat

BE ETHICAL AT WORK. Part 9

ETIKA PROFESI KEHUMASAN PERTEMUAN 14-15

BAB IV PENUTUP. 1. Peran organisasi profesi Notaris dalam melakukan pengawasan terhadap

BAB I PENDAHULUAN. Setiap perusahaan akan bersaing untuk menjadi yang terbaik di antara. dan tidak menyesatkan pemakainya dalam pengambilan keputusan.

ETIKA PROFESI. Manfaat Etika dan Etiket dalam Profesi Humas. Triasiholan A.D.S.Nababan. Modul ke: 05Fakultas KOMUNIKASI

BAB 1 TINJUAN UMUM ETIKA. Henry Anggoro Djohan

TUGAS SOFTSKILL PENGERTIAN ETIKA DAN PROFESIONALISME DALAM BIDANG IT

bagi kehidupan modern, khususnya bisnis.

HERU SASONGKO, S.FARM.,APT.

PROFESI. Pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.

ETIK UMB ETIKA BISNIS DAN ETIKA PROFESI (MATERI TAMBAHAN) Melisa Arisanty. S.I.Kom, M.Si. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi AKUNTANSI MANAJEMEN

PENGERTIAN DAN NILAI ETIKA

MODUL BAHAN AJAR TUGAS [ETIKA PROFESI] Modul 2. Dosen: Elyas Palantei, ST., M.Eng., Ph.D

BAB I PENDAHULUAN. secara ideal. Namun dalam dunia globalisasi, masyarakat internasional telah

Modul ke: ETIKA PROFESI. Prinsip-Prinsip Etika Humas. 07Fakultas KOMUNIKASI. Frenia Triasiholan A.D.S.Nababan. Program Studi Hubungan Masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Berkembangnya dunia usaha yang semakin pesat ini membuat pelaku bisnis

BAB I PENDAHULUAN. dalam masyarakat sekarang ini. Terjadinya krisis. Indonesia menyadarkan masyarakat untuk mengutamakan perilaku

KODE ETIK DAN PROFESIONALISME PUSTAKAWAN. Oleh, MAIZUAR EFFENDI, S.Pd Pustakawan Madya

PENTINGNYA ETIKA PROFESI

PROFESIONALITAS UMUM DAN PROFESIONALITAS KERJA NAMA : HADI DENGGAN OKTO (M1A114001)

BAB I PENDAHULUAN. memadai saja yang dapat tumbuh dan bertahan. Setiap profesi dituntut untuk

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi, sistem informasi dan

PERKEMBANGAN ETIKA PROFESI

ETIKA AKADEMIK. Program Studi D3 Keperawatan

BAB I PENDAHULUAN. merupakan hal yang krusial. Oleh karena itu, menjadi negara maju adalah impian

PROGRAM STUDI S1 ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS TANJUNGPURA SIKAP

Etika Profesi Public Relations

BAB I PENDAHULUAN. diperhadapakan pada berbagai persaingan yang sangat ketat, khususnya pada bidang bisnis UKDW

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

SUBSTANSI DAN KONTEN NILAI DASAR, KODE ETIK DAN KODE PERILAKU ASN

BAB I PENDAHULUAN. tingkat internasional diperlukan suatu sistem yang mengatur bagaimana

BAB I PENDAHULUAN. kode etik akuntan. Kode etik akuntan, yaitu norma perilaku yang mengatur

BAB I PENDAHULUAN. manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati

PENGERTIAN ETIKA PROFESI

PENGERTIAN ETIKA PROFESI

Prinsip tanggung jawab (bertanggungjawab atas dampak profesinya itu terhadap kehidupan dan kepentingan orang lain, khususnya kepentingan

KODE ETIK PUBLIC RELATIONS (HUMAS)

BAB I PENDAHULUAN UKDW. pada prakteknya di lapangan, keahlian khusus tidak menjamin. menunjang keberhasilan yaitu menerapkan suatu etika.

Etika Profesi INSINYUR. Dr. Dian Kemala Putri

PROFESIONAL 1. AHLI DALAM BIDANGNYA 2. MAMPU MEMBANGUN DAN MENGEMBANGKAN KERJA SAMA DENGAN LINGKUNGAN PENDUKUNG DAN PENUNJANG 3.

BAB I PENDAHULUAN. dapat dinilai tidak baik. Etika tidak membahas keadaan manusia, melainkan

Di-copy-paste dari: Rabu, 15 Oktober 2014

BAB I PENDAHULUAN. dengan berlakunya kesepakatan Internasional mengenai pasar bebas. Profesi

KODE ETIK PEGAWAI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat sekarang ini. Terjadinya krisis multidimensi di Indonesia

ETIKA PERILAKU. Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo Guru Besar Emeritus FKM, UI Rektor Universitas Respati Indonesia

SEKSI 100 A. PRINSIP-PRINSIP DASAR ETIKA PROFESI

Piagam Audit Internal. PT Astra International Tbk

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan dalam melakukan audit (Mulyadi dan Puradiredja, (1998)

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

KODE ETIK DOSEN MUKADIMAH BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1

KEPUTUSAN MUSYAWARAH NASIONAL ASOSIASI PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA. Nomor 002/Munas-I/APPI/08/2006 Tentang

Seorang pelaku profesi harus mempunyai sifat : 1. Menguasai ilmu secara mendalam di bidangnya 2. Mampu mengkonversikan ilmu menjadi keterampilan 3.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Sumber daya manusia (SDM) merupakan sumber daya paling

ETIKA & PROFESIONALISME TSI PENGERTIAN ETIKA IMAM AHMAD TRINUGROHO ATA 2014/2015 ETIKA

01FEB. Template Standar Business Ethics and Good Governance

EKSPEKTASI DARI ETIKA DOSEN. Oleh Eva Imania Eliasa,M.Pd*

Pesan CEO. Rekan kerja yang terhormat,

Profil Sarjana Humas. Edited by: Sumartono S.Sos., MSi

KOMUNIKASI DAN ETIKA PROFESI

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan dan kinerja seseorang dalam suatu bidang pekerjaan dalam Putri, 2005). Oleh karena itu komitmen organisasi akan

KODE ETIK DOSEN STIKOM DINAMIKA BANGSA

BAB I PENDAHULUAN. dan teknis untuk mengisi jenjang kerja tertentu. 1. ketrampilan, dan sikap kerja, sesuai dengan unjuk kerja yang

Upaya Peningkatan Etika Pergaulan Melalui Bimbingan Kelompok Pada Siswa

BAB 1 TUJUAN UMUM ETIKA

Nomor :Skep/032A/V/2012. tentang KODE ETIK TENAGA KEPENDIDIKAN UNIVERSITAS NURTANIO BANDUNG

MATERI KULIAH: ETIKA BISNIS POKOK BAHASAN: PERKEMBANGAN ETIKA BISNIS

II. TINJAUAN PUSTAKA

Apa yang dimaksud dengan profesi? Apakah setiap pekerjaan dapat dikatakan sebagai sebuah profesi? Mengapa? PENGERTIAN PROFESI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PUBLIC RELATIONS, oleh Hairunnisa Hak Cipta 2015 pada penulis

BAB I PENDAHULUAN. perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta. Hal ini membuat

Kode etik perawat. Profesi moral community : Cita-cita dan nilai bersama. Anggota profesi disatukan oleh latar belakang pendidikan yg sama Profesi mem

Transkripsi:

Profesi, Profesional dan profesionalisme Secara singkat kita bisa memahami profesi sebagai suatu pekerjaan, professional adalah pelakunya dan profesionalisme adalah suatu sikap atau idealisme. Profesi berasal dari kata professues (latin) yang berarti â œ suatu kegiatan atau pekerjaan yang semula dihubungkan dengan sumpah dan janjiâ. seseorang yang memiliki profesi berarti memiliki ikatan batin dengan pelanggaran sumpah jabatan yang dianggap telah emnodai â œkesucianâ profesi tersebut. Masyarakat kita mengartikan profesi sebagai suatu keterampilan atau keahlian khusus yang di miliki seseorang sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama yang diperolehnya lewat jalur pendidikan atau pengalaman, dan dilaksanakan secara terus menerus, serius, yang merupakan sumber utama bagi nafkah hidupnya. Namun tidak semua pekerjaan bisa disebut sebagai suatu profesi. Apabila suatu pekerjaan diakui sebagai suatu profesi, maka praktisi yang menggeluti profesi tersebut bisa disebut sebagai profesional. Tentu saja setelah dia mampu memenuhi standart-standart kualitas seorang professional. Profesional adalah memiliki kemampuan teknis dan operasional yang diterapkan secara optimum dalam batas-batas etika profesi, dan dikatakan sebagai seorang professional adalah â œ A Person Who Does Something With Great Skillâ. Sikap dan kemampuan seorang professional bisa disebut sebagai profesionalisme, yakni mampu bekerja atau bertindak melalui pertimbangan yang matang dan benar dalam memberikan pelayanan tertentu berdasarkan klasisfikasi pendidikan dan pelatihan serta memiliki pengetahuan memadai dan dapat membedakan secara etis mana yang dapat dilakukan dan mana yang tidak dapat dilakukan sesuai dengan pedoman kode etik profesi (Ruslan, 2002: 49) Menjadi profesional, harus memiliki ciri-ciri khusus tertentu, antara lain: 1. Memiliki Skill atau kemampuan yang tidak dipunyai oleh orang umum lainnya, apakah itu diperoleh dari hasil pendidikan atau pelatihan yang diperolehnya dan ditambah dengan pengalaman selama vbertahun-tahun yang telah duitempuhnya secara profesioanl. 2. Memiliki tanggung jawab profesi dan integritas pribadi. 3. Memiliki jiwa pengabdian pada publik atau masyarakat dan dengan penuh dedikasi. 4. Menjadi salah satu anggota profesi akan sangat membantu.

Karakteristik atau ciri-ciri profesi. Siebert dkk dalam Dahlan (1999) berpendapat bahwasannya suatu bidang disebut sebagai profesi apabila; (1) memiliki body of knowledge, (2) memiliki kode etik profesi, (3) adanya kontrol akses yang tertutup bagi orang yang ingin memasukinya. Body of Knowledge atau badan pengetahuan bisa ditunjukkan dengan terumuskannya suatu model kerja ataupun model kerangka berpikir sebuah bidang. Body of knowledge juga bisa dilihat dari adanya suatu filsafat/falsafah, misi dan tujuan bidang tersebut secara jelas. Sedangkan Kode Etik adalah suatu perangkat pedoman tingkah laku yang mengikat semua anggota profesi. Kode Etik ini lazimnya disusun dan dikeluarkan oleh sebuah organisasi profesi. Terakhir, kontrol akses yang tertutup adalah adanya upaya yang dilakukan oleh (utamanya) organisasi profesi untuk menyelekasi dan atau memberi kriteria bagi orang yang ingin menjadi professional. Seleksi tersebut bisa berupa serangkaina test administrative, test pengetahuan dan skill. Pengukuhan oleh sebuah organisasi profesi juga bisa dikatagorikan sebagai kontrol. Tantangan dalam profesi Humas Apakah Humas telah layak disebut sebagai profesi?. Itu barangkali pertanyaan yang sering muncul dalam benak para siswa humas. Sebagian orang menaruh perhatian dengan predikat profesi tersebut, sebagian lagi tidak. Apabila kita melihat pengertian dan karakteristik profesi, profesional dan profesionalisme, kita bisa mengevaluasi halhal berikut ini: Sebagai sebuah bidang, humas telah memiliki body of knowledge, dimana dasar teorinya berasal dari teori-teori Ilmu Sosial, khususnya Ilmu Komunikasi. Aspek relationships jelas sekali menjadi ranah kajian komunikasi.

Dalam dimensi-dimensi komunikasi, relationships tidak hanya sebatas komunikasi antar personal, melainkan juga dalam level yang lebih luas, yakni dalam komunikasi organisasi maupun komunikasi massa. Model-model komunikasi, mulai yang model linier sampai dengan model yang diadik dan interaktif bisa dianggap sebagai badan pengetahuan dalam praktek humas. Humas tidak terlepas dari teori-teori sosiologi, antropologi dalam memahami publiknya. Saat ini pendekatan-pendekatan budaya mewarnai praktek humas organisasi-organisasi multinasional. Konsep pembangunan reputasi dan tanggung jawab social melalui community development dan community relations, jelasjelas merupakan pengembangan ilmu-ilmu sosial. Begitu pula secara teknis komunikasinya tidak lepas dari teori-teori psikologi. Dimensi politis juga menjadi bagian penting dalam praktek humas dunia. Memiliki Kode Etik. Saat ini banyak bermunculan organisasi profesi kehumasan. Baik di tingkat dunia, asia dan Indonesia. Organisasi profesi humas tingkat dunia adalah International Public Relations Association (IPRA) yang beranggotakan para professional humas di seluruh dunia. Para praktisi humas (profesional) humas Indonesia sudah mejadi anggota IPRA. Di tingkat Asia juga ada. Saat ini hampir tiap negara sudah ada organisasi profesi. Misalnya, Perhimpunan Hubungan Masyarakat (PERHUMAS) dan Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) di Indonesia. Semua organisasi profesi ini mengeluarkan Kode Etik. Kontrol akses yang tertutup. Betapapun PERHUMAS misalnya telah memiliki prosedur untuk merekrut anggotanya, namun pengontrolan terhadap perilaku profesional humas di Indonesia ini masih lemah. Beberapa badan humas dunia telah memberlakukan. Misalnya Amerika dengan PRSA-nya. Pelanggaran kode etik akan mendapat sanksi tegas, mulai peringatan sampai dengan pemecatan.

Saat ini kita temukan suatu fenomena yang cenderung membingungkan kita. Disisi satu banyak organisasi yang memiliki respon atau apresiasi yang positif terhadap humas dengan memasukkan humas sebagai salah satu pendekatan manajemen dan memasukkannya ke dalam suatu lembaga tersendiri dalam organisasi, juga adanya fenomena positif dengan semakin banyaknya organisasi yang mengangkat seorang pejabat humas bagi organisasinya. Namun, disisi yang lain masih saja ditemukan keberadaan humas yang tidak mendukung tercapainya pelaksanaan profesionalisme humas. Berdasarkan studi di beberapa negara, seperti Australia, Amerika, Inggris, Indonesia, Malaysia, India, Hongkong, dan Filipina, beberapa persoalan penting yang saat ini dihadapi humas adalah: 1. Masih sedikit organisasi yang memberi posisi humas di tingkat korporat. Bila ada humas yang dapat langsung memiliki akses pada CEO, tetapi ternyata mereka (PRO) belum banyak yang dilibatkan sebagai tim pengambil keputusan organisasi. 2. Evaluasi manajemen (eksekutif) puncak terhadap kerja humas yang masih buruk. Humas dianggap sebagai kerja yang tidak direncanakan dengan baik, kualifikasi dan kemampuan petugas humas yang rendah dalam bidang komunikasi, dan kemampuan manajerial PRO yang lemah. 3. Diragukannya pendidikan humas dalam menyiapkan atau mendukung humas yang strategis. Ketiga hal di atas setidaknya merupakan tantangan berat yang sedang dialami dunia humas. Daftar tersebut bisa lebih spesifik di tiap-tiap negara. ------------------------------

------------------------------------ ETIKA DAN KODE ETIK HUMAS Bagian humas dapat dikatakan sebagai jantung etis dari sebuah organisasi. Karena humas adalah pengendali komunikasi internal maupun eksternal, humas juga mengatasi krisis organisasi.. Namun, banyak pula kalangan yang menganggap humas sebagai pekerjaan yang kurang terhormat, karena humas bisa membuat sesuatu yang salah menjadi benar.. Mayarakat menganggap humas lebih sering â œmengurusâ kebenaran dari pada menyampaikan kebenaran. Persepsi yang berkembang seperti itulah yang mendorong perlunya para praktisi humas membuat sebuah kode etik profesi yang menekankan kejujuran diatas segalanya. Dengan adanya kode etik, maka profesi humas akan secara terbuka dapat dinilai oleh masyarakat sehingga para profesionalnya bisa mempertanggungj jawabkan apa yang telah dikerjakannya. Bagian ini akan mengajak kita memahami bagaimana isuisu etika melingkupi dunia humas dan juga akan disajikan lampiran Kode Etik Profesi Humas. Etika Etika berbeda dengan moral. Menurut Ruslan (1995), moral adalah suatu system nilai tentang bagaiman menjalankan hidup dengan membedakan antara yang baik dengan yang buruk selaku individu dan anggota masyarakat. Sistem nilai-nilai moral tersebut secara garis besar acuannya adalah nilai universal menghenai baik dan buruk, yang biasanya dikaitkan dengan nilai kesusilaan (kebaikan), tradisi atau adapt istiadat yang berlaku, keagamaan, kependidikan, dan lain sebagainya. Kraf (1991) menyebut moralitas adalah tradisi kepercayaan dalam agama atau

kebudayaan tentang perilaku yang baik dan buruk. Moralitas memberikan suatu petunjuk dalam bentuk bagaimana seharusnya beritndak (das sollen). Sementara etika lebih banyak menyinggung nilai-nilai atau norma-norma moral yang bersifat menentukan atau sebagai pedoman sikap tindak atau perilaku dalam wujud yang lebih konkrit (das sein). Terdapat dua macam etika (Ruslan, 1995): 1. Etika deskriptif. Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan pola perilaku manusia serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya etika deskripstif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya. Dapat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa niali dalam suatu masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia bertindak secara etis. 2. Etika normatif. Yaitu etika yang menetapkan berbagai sikap dan pola perilaku yang ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini (Keraf, 1991). Oleh karena itu etika normative merupakan norma-norma yang dapat menuntun dan menghimbau manusia agar bertindak secara baik dan menghindarkan hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang berlaku di masyarakat. KODE ETIK Bila dianalogikan seperti tumbuhan, etika adalah genusnya, maka yang menjadi spesiesnya adalah etik, kode etik (code of conduct) dan etiket (etiquette) yang merupakan tata karma dalam pergaulan (Ruslan, 1995).. Kode Etik humas merupakan piagam moral, dan gideliness atau merupakan rambu-rambu untuk mengatur dan menertibkan

public relations officer by profession (praktisi humas sebagai subjek yang terlibat dalam pekerjaan professional) dan public relations officer by function (praktisi humas sebagai terlibat dalam proses pengambil keputusan, tanggung jawab, memiliki keterampilan manajemen organisasi, dan program kerja dengan persyaratan standart tertentu). Kode Etik Profesi dikeluarkan oleh organisasi humas dan sifatnya mengikat para anggotanya. Jadi apabila di tiap-tiap negara ada organisasi profesi maka masingmasing akan memiliki Kode Etik sendiri. Tidak terkecuali di Indonesia (PERHUMAS), Amerika (PRSA), Inggris (IPR of British), Netherland (NGPR), India, Korea, Filiphina, Hongkong, Cina, Australia, Brazil, dan sebagainya. Selain organisasi profesi yang beranggotakan praktisi humas, (perorangan) juga terdapat organisasi profesi yang anggotanya adalah lembaga konsultan humas. Organisasi seperti ini juga mengeluarkan Kode Etik Profesi tersendiri. Misalnya di Indonesia ada Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI), Public Relations Consultant Association (PRCA) di Inggris, VPRA di Belanda, dan sebagainya. Meskipun masing-masing organisasi profesi di tiap-tiap negara memiliki Kode Etik sendiri, namun pada dasarnya hal-hal yang diatur dalam Kode Etik tersebut relatif sama. Apalagi dalam percaturan profesi humas dunia, para praktisi humas dari berbagai negara tersebut melebur ke dalam satu wadah organisasi profesi, yaitu International Public Relations Association (IPRA) dimana IPRA juga mengeluarkan Kode Etik Profesi yang mengikat seluruh anggota yang tersebar di berbagai negara. Kode Etik Humas Internasional inilah yang selanjutnya diratifikasi oleh beberapa organisasi profesi humas di negara-negara yang memiliki organisasi profesi. Hal-hal yang diatur dalam Kode Etik Profesi Humas berkaitan dengan hubungan dengan para publiknya, antara lain meliputi: Sikap dan perilaku yang bermoral tinggi Integrasi pribadi Hal yang diperbolehkan dan yang dilarang atau hak dan kewajiban sebagai praktisi humas Pengontrolan terhadap pelaksanaan Kode Etik oleh para anggotanya di tiap organisasi profesi berbeda-beda. Ada yang ketat dan ada pula yang sangat longgar. Mereka yang ketat tentu saja mengacu pada tanggung jawab

organisasi profesi sementara yang longgar pengontrolannya berdalih bahwa itu hanyalah kode tingkah laku, bukan suatu hukum. Kode Etik memang lebih bersifat fakultatif (longgar) yang tida secara apriori wajib dipatuhi sehingga bila terjadi pelanggaran, suatu teguran atan sanksi dari organisasi yang mengeluarkan kode etik tersebut sudah dianggap cukup. Dalam organisasi profesi humas, anggota yang melanggar kode ertik cukup diberi peringatan dan paling keras dicoret dari keanggotaan organisasi. Menghadapi kelemahan-kelemahan dalam pelaksanaan Kode Etik Profesi Humas, maka sekarang di kalangan masyarakat berkembang sebuah lembaga swadaya yang bernama PR Watch. Cara kerja, tugas dan kegiatannya mirip dengan Media Watch untuk profesi jurnalistik. Mereka mengawasi kerja para professional, memberi kritik dan komentar serta melayani advokasi bagi pelanggaranpelanggaran Kode Etik yang dilakukan oleh perorangan maupun oleh organisasi yang melakukan aktivitas program humas. Untuk di Indonesia, penulis belum menemukan adanya lembaga pengawas kehumasan ini. ------------------ ----