DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESI

dokumen-dokumen yang mirip
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESI

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESI

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESI RANCAN RANCANGAN

PENDAPAT AKHIR FRAKSI PARTAI DEMOKRAT T E R H A D A P RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG OMBUDSMAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

TERBATAS (Untuk Kalangan Sendiri)

Tanggal 26 Januari Disampaikan oleh: H. Firman Subagyo, SE.,MH. Wakil Ketua Badan Legislasi, A.273

LAPORAN SINGKAT RAPAT KERJA KOMISI II DPR RI

LAPORAN SINGKAT KOMISI II DPR RI

Hari/Tanggal : Senin/22 Oktober 2012 : Pukul WIB s.d Selesai

LAPORAN SINGKAT RAPAT KERJA KOMISI II DPR RI

RA RANCANGAN

Rabu, 24 September 2014

PANDANGAN PRESIDEN TERHADAP RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

Tahun Sidang : Masa Persidangan : III Rapat ke :

KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 08/DPR RI/II/ TENTANG

KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 41B/DPR RI/I/ TENTANG

LAPORAN SINGKAT RAPAT PANJA KOMISI III DPR-RI DENGAN PEMERINTAH DALAM RANGKA PEMBAHASAN DIM RUU TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA

KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 02B/DPR RI/II/ TENTANG

LAPORAN SINGKAT KOMISI II DPR RI

LAPORAN SINGKAT RAPAT KERJA KOMISI II DPR RI

PENDAPAT AKHIR PRESIDEN TERHADAP RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG TABUNGAN PERUMAHAN RAKYAT. Tanggal 23 Februari2016

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN PERKARA

: Dra. Hani Yuliasih, M.Si/Kabag.Set Komisi II DPR RI

Selasa, 7 Pebruari 2006

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

KETUA RAPAT (H. SOETARDJO SOERJOGOERITNO, B.Sc.): Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT. dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, REPUBLIK INDONESIA

1. Rapat dibuka pukul WIB setelah kuorum terpenuhi dan rapat dinyatakan terbuka untuk umum.

Ruang Rapat Baleg DPR RI, 17 November 2016

berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 memerlukan waktu yang cukup

Pimpinan, Anggota Dewan, dan hadirin yang kami hormati,

Dibacakan Oleh : IGNATIUS MULYONO Nomor Anggota : A-103. Yth. Saudara Pimpinan Sidang, Yth. Para Anggota DPR-RI serta hadirin yang kami hormati.

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

LAPORAN SINGKAT RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI III DPR RI DENGAN SEKJEN MPR RI, SEKJEN DPD RI DAN SEKRETARIS MAHKAMAH AGUNG RI

PERTAMA: UNDANG-UNDANG TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DPR, DPD, DAN DPRD

SAMBUTAN KETUA DPR RI PADA ACARA PENGUCAPAN SUMPAH ANGGOTA DPR RI PENGGANTI ANTAR WAKTU. Kamis, 29 Desember 2011

PROSEDUR REVISI UNDANG-UNDANG. Revisi UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 03A/DPR RI/II/

PIDATO KETUA DPR-RI PADA RAPAT PARIPURNA DPR-RI KE-3 MASA SIDANG II TAHUN SIDANG KAMIS, 1 OKTOBER 2009

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membuat UU. Sehubungan dengan judicial review, Maruarar Siahaan (2011:

LAPORAN SINGKAT KOMISI I DPR RI

Assalamu alaikum Wr. Wb Selamat Malam dan Salam sejahtera bagi kita semua

PENDAPAT AKHIR FRAKSI PARTAI BINTANG REFORMASI TERHADAP RANCANGAN UNDANG - UNDANG


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM ASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, Pasal 22 ayat (2) Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang...

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

- 2 - II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 1. Cukup jelas. Pasal 2. Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5493

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG

Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Presiden menyatakan keadaan bahaya. Syarat-syarat dan akibatnya keadaan bahaya ditetapkan dengan undang-undang

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN PROGRAM LEGISLASI NASIONAL

MATRIKS PERUBAHAN UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

SAMBUTAN KETUA DPR RI PADA SILATURAHMI PIMPINAN DPR RI, MENKO POLHUKAM, MENKO EKUIN DAN MENKO KESRA SERTA PARA MENTERI KABINET INDONESIA BERSATU II

LAPORAN SINGKAT KOMISI II DPR RI

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2009 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

ASPEK HUKUM PEMBERHENTIAN DAN PENGGANTIAN ANTAR WAKTU (PAW) ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA. Oleh: Husendro

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LAPORAN SINGKAT KOMISI II DPR RI


ORASI KETUA DPR-RI PADA ACARA FORUM RAPAT KERJA NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI) TAHUN 2009

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Assalamu allaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Salam sejahtera bagi kita sekalian

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA. NOMOR :04/DPR Rl/11/ TENTANG

Dibacakan oleh: Dr. Ir. Hj. Andi Yuliani Paris, M.Sc. Nomor Anggota : A-183 FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Transkripsi:

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESI --------------------------------- LAPORAN SINGKAT RAPAT KERJA KOMISI III DPR RI DENGAN MENTERI HUKUM DAN HAM RI, MENTERI DALAM NEGERI DAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI RI --------------------------------------------------- (BIDANG HUKUM, PERUNDANG-UNDANGAN, HAM DAN KEAMANAN) Tahun Sidang : 2013-2014 Masa Persidangan : II Rapat ke : Sifat : Terbuka Jenis Rapat : Rapat Kerja Komisi III DPR RI Hari/tanggal : Rabu, 18 Desember 2013 Waktu : Pukul 14.47 17.18 WIB Tempat : Ruang Rapat Komisi III DPR RI. Ketua Rapat : DR. M Aziz Syamsuddin, SH/Wakil Ketua Komisi III DPR RI. Sekretaris Rapat : Endah Sri Lestari, SH, M.Si / Kabag Set.Komisi III DPR-RI. Hadir : 38 orang Anggota dari 50 orang Anggota Komisi III DPR-RI. : Pemerintah: 1. Menteri Hukum dan HAM 2. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Izin : 2 orang Anggota. Acara : 1. Pandangan/tanggapan Fraksi-fraksi terhadap RUU tentang Perpu Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi Menjadi Undang- 2. Pengambilan Keputusan terhadap RUU tentang Perpu Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi Menjadi Undang-Undang KESIMPULAN/KEPUTUSAN I. PENDAHULUAN Rapat Kerja Komisi III DPR RI dibuka pukul 14.47 WIB oleh Wakil Ketua Komisi III DPR RI, DR. M Aziz Syamsuddin, SH dengan agenda rapat sebagaimana tersebut diatas. 1

II. POKOK-POKOK PEMBICARAAN 1. Pandangan dan pendapat fraksi-fraksi yang disampaikan oleh juru bicara yang pada pokoknya menyatakan: 1) Fraksi Partai Demokrat menyatakan persetujuannya terhadap RUU tentang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi untuk menjadi Undang- 2) Fraksi Partai Golongan Karya menyatakan persetujuannya terhadap RUU tentang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi untuk menjadi Undang- 3) Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan berpendapat bahwa tidak ada situasi yang bahaya atau kegentingan yang memaksa. Masih ada waktu untuk memberikan solusi bagi perbaikan Lembaga MK, yang mana dapat dilakukan secara regulasi yang normal. Pelaksanaan tugas oleh MK juga dinilai masih dapat berjalan dengan normal. Substansi Perppu dalam hal Panel Ahli oleh MK yang bertentangan dengan UU No. 18 Tahun 2011 tentang Komisi Yudisial, yang hanya berwenang melakukan seleksi atas Hakim Agung. Sehingga F-PDIP menyatakan menolak Perppu Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. 4) Fraksi Partai Keadilan Sejahtera menyatakan menolak Perppu Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan mengusulkan dilakukan revisi terhadap UU Mahkamah Konstitusi. 5) Fraksi Partai Amanat Nasional menyatakan persetujuannya terhadap RUU tentang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi untuk menjadi Undang- 6) Fraksi Partai Persatuan Pembangunan menyatakan bahwa substansi yang terdapat dalam Perppu Nomor 1 Tahun 2013 yang bertentangan dengan konstitusi yaitu mengenai syarat menjadi hakim konstitusi, seleksi dan pengawasan yang melibatkan Komisi Yudisial. Fraksi Partai Persatuan Pembangunan belum dapat memberikan pendapat terkait Perppu Nomor 1 Tahun 2013 dan belum memberikan persetujuan terhadap rancangan Undang-undang tentang penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi untuk menjadi Undang-Undang tersebut. 7) Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa menyatakan persetujuannya terhadap RUU tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi untuk menjadi Undang- 8) Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya menyatakan menolak RUU tentang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. 9) Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat berpandangan bahwa latar belakang RUU tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi ini perlu dipertanyakan mengenai hal keadaan yang genting dan pelibatan Komisi Yudisial. Selanjutnya isi dari Perppu tersebut dapat bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat menyatakan menolak RUU tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. 2

2. Sambutan Menteri Hukum dan HAM dalam rangka pembahasan RUU tentang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi untuk menjadi Undang-Undang, sebagai berikut: Sambutan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Dalam Rapat Kerja Komisi III DPR-RI dengan Pemerintah Pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi Menjadi Undang- Undang Jakarta, 18 Desember 2013 Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Salam sejahtera untuk kita semua, Saudara Pimpinan dan Anggota Komisi III DPR-RI yang terhormat, Hadirin yang berbahagia, Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena pada hari ini kita dapat hadir dalam Rapat Kerja ke-ii antara Komisi III DPR-RI dan Pemerintah dalam rangka pembahasan Rancangan Undang- Undang (RUU) tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi Menjadi Undang- Dalam Rapat Kerja ke-i yang dilaksanakan pada tanggal 26 November 2013, kami telah menyampaikan Keterangan Presiden atas RUU tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi Menjadi Undang-Undang yang kemudian juga telah mendapatkan respon berupa pandangan umum yang beragam dari fraksi-fraksi terhadap RUU tersebut, sehingga dalam kesempatan ini Pemerintah menyampaikan apresiasi atas seluruh pandangan yang telah disampaikan oleh masing-masing fraksi terhadap RUU ini. Saudara Pimpinan dan Anggota Komisi III DPR-RI yang terhormat, Hadirin yang berbahagia, Setelah mendengar pandangan umum yang beragam dari fraksi-fraksi terhadap usulan RUU ini dan adanya catatan dalam Raker ke-i bahwa Pemerintah perlu memberikan tambahan penjelasan terkait pengajuan usul RUU ini maka dalam kesempatan yang baik ini izinkanlah Pemerintah menyampaikan beberapa hal sebagai berikut: 1. bahwa Presiden, dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, memiliki hak konstitusional berdasarkan Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang; 3

2. adapun mengenai kriteria atau ukuran kegentingan yang memaksa secara konstitusional memang diatur sebagai subyektivitas Presiden meskipun pada waktunya nanti tergantung pula pada pengawasan obyektif DPR dalam hal memberikan atau tidak memberikan persetujuan terhadap suatu Perppu. Kondisi kegentingan yang memaksa sebagai dasar pembentukan suatu Perppu berdasarkan ketentuan Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidaklah sama pengertiannya dengan keadaan bahaya yang lebih sempit ruang lingkupnya sebagaimana yang diatur dalam Pasal 12 UUDNRI Tahun 1945, meskipun keduanya merupakan penjabaran yang lebih konkret dari kondisi darurat pada suatu sistem ketatanegaraan tertentu. Dalam sejarah perkembangan ketatanegaraan Indonesia, kriteria kondisi kegentingan yang memaksa sangat beraneka ragam. Namun demikian, secara teoritis terdapat 3 (tiga) unsur penting yang diharapkan dapat membantu dalam memberikian definisi atau batasan pengertian mengenai kegentingan yang memaksa berdasarkan 3 (tiga) Perppu yang telah mendapat persetujuan dari DPR untuk menjadi Undang-Undang, yakni: a. unsur ancaman yang membahayakan (dangerous threat), sebagaimana contoh yang tercantum dalam Perppu Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dimana dalam Penjelasan Umumnya ditegaskan bahwa penggunaan Perppu ini bertujuan untuk mengatur pemberantasan tindak pidana terorisme yang didasarkan pertimbangan bahwa terjadinya terorisme di berbagai tempat telah menimbulkan kerugian baik materiil maupun immateriil serta menimbulkan ketidakamanan bagi masyarakat, sehingga mendesak untuk dikeluarkan Perppu guna segera dapat diciptakan suasana yang kondusif bagi pemeliharaan ketertiban dan keamanan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip hukum. b. unsur kebutuhan yang mengharuskan (reasonable necessity), sebagaimana contoh yang ada dalam Perppu Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian, dimana kebijakan Pemerintah Arab Saudi yang menetapkan bahwa mulai tahun 1430 Hijriyah jemaah haji dari seluruh negara (termasuk Indonesia) harus menggunakan paspor biasa (ordinary passport) yang berlaku secara internasional dijadikan sebagai ukuran kegentingan yang memaksa, sehingga Pemerintah Indonesia perlu melakukan upaya yang bersifat segera untuk menjamin tersedianya paspor dimaksud agar penyelenggaraan ibadah haji tetap dapat dilaksanakan; dan/atau c. unsur keterbatasan waktu (limited time), sebagaimana contoh yang ada dalam Perppu Nomor 1 Tahun 2006 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR DPD, dan DPRD yang mengatur bahwa Anggota KPU yang diangkat berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2000 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum dan yang telah disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD, tetap melaksanakan tugasnya sampai dengan terbentuknya penyelenggara pemilihan umum yang baru; 3. Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 138/PUU-VII/2009, Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa Perppu diperlukan apabila: 4

a. adanya keadaan yaitu kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan masalah hukum secara cepat berdasarkan Undang-Undang, b. Undang-Undang yang dibutuhkan tersebut belum ada sehingga terjadi kekosongan hukum, atau ada Undang-Undang tetapi tidak memadai, c. kekosongan hukum tersebut tidak dapat diatasi dengan cara membuat Undang-Undang secara prosedur biasa karena akan memerlukan waktu yang cukup lama sedangkan keadaan yang mendesak tersebut perlu kepastian untuk diselesaikan. 4. Pemerintah berpendapat bahwa Perppu Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi telah memenuhi syarat kondisi kegentingan yang memaksa, khususnya unsur kebutuhan yang mengharuskan (reasonable necessity) mengingat pelaksanaan pemilihan Umum 2014 sudah sangat dekat sehingga diperlukan langkah-langkah yang cepat, mendesak, dan konstitusional untuk memulihkan kewibawaan dan kepercayaan masyarakat terhadap hakim konstitusi sebagaimana yang tercantum dalam Penjelasan Umum Perppu tersebut; 5. Berdasarkan ketentuan Pasal 52 ayat (2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan maka pada tanggal 4 November 2013, Pemerintah mengajukan Perppu dimaksud kepada Ketua DPR dalam bentuk RUU tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi Menjadi Undang-Undang; 6. Dalam prosedur yang diatur berdasarkan Pasal 22 ayat (2) dan ayat (3) Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 maka DPR hanya memiliki opsi memberikan atau tidak memberikan pesetujuan terhadap Perppu, sehingga secara konstitusional tidak dimungkinkan adanya pembahasan mengenai materi muatan Perppu antara Pemerintah dan DPR sebagaimana lazimnya jika suatu RUU diajukan baik oleh Pemerintah maupun DPR. Hal ini juga diatur secara lebih komprehensif dalam Pasal 52 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Saudara Pimpinan dan Anggota Komisi III DPR-RI yang terhormat, Hadirin yang berbahagia, Demikianlah beberapa penjelasan yang dapat kami sampaikan guna memperkuat dan menambahkan Keterangan Presiden yang telah kami sampaikan dalam Rapat Kerja ke-i pada tanggal 26 November 2013. Besar harapan kami agar kiranya Komisi III DPR-RI dapat memberikan respon yang positif sehingga Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi Menjadi Undang-Undang mendapat persetujuan DPR untuk menjadi Undang-Undang dalam sidang paripurna DPR-RI pada waktunya nanti. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa meridhoi usaha kita bersama. Aamiin ya Rabbal alamiin. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 5

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Amir Syamsudin III. KESIMPULAN/KEPUTUSAN 1. Bahwa dari 9 (Sembilan) Fraksi yang menyampaikan pandangannya, terdapat 4 (empat) fraksi yang memberikan persetujuan yaitu F-PD, F-PG, F-PAN dan F-KB, sedangkan 4 (empat) fraksi yang tidak memberikan persetujuan, yaitu F-PDI Perjuangan, F-PKS, F-Gerindra dan F-Hanura, sedangkan 1 (satu) fraksi, yaitu F- PPP belum dapat memberikan pendapat atas Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi menjadi Undang-undang. 2. Rapat Kerja Komisi III DPR RI dalam rangka Pengambilan Keputusan/Pembicaraan Tingkat I terhadap RUU tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi menjadi Undang-Undang menyepakati untuk menyerahkan pengambilan keputusan terhadap RUU tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi menjadi Undang-Undang ke Pembicaraan Tingkat II pada Rapat Paripurna DPR-RI, Kamis 19 Desember 2013. Rapat ditutup tepat pukul 17.18 WIB PIMPINAN KOMISI III DPR RI WAKIL KETUA, ttd DR. M AZIZ SYAMSUDDIN, SH 6