BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
Anatomi Vertebra. Gambar 1. Anatomi vertebra servikalis. 2

ANATOMI FISIOLOGI TULANG BELAKANG

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dengan processus spinosus berfungsi sebagai tuas untuk otot-otot dan ligamenligamen

BAB I PENDAHULUAN. bagian yakni salah satunya bagian leher yang mempunyai peranan sangat

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Nyeri punggung bawah (NPB) atau sering disebut juga low back pain

BAB I PENDAHULUAN. populasi pada usia>50 tahun dan sering terjadi pada usia didapatkan pada usia tahun. Di Amerika Serikat, kasusnyeri

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

OSTEOLOGI THORAX, TRUNCUS DAN PELVIS DEPARTEMEN ANATOMI FK USU

BAB I PENDAHULUAN. berfungsi sebagai penyanggah berat badan, yang terdiri dari beberapa bagian yakni salah

BMI = Berat Badan (dalam kg) / Tinggi Badan² (TB x TB dalam m 2 )

BAB I PENDAHULUAN. pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah

BAB 2 SENDI TEMPOROMANDIBULA. Temporomandibula merupakan sendi yang paling kompleks yang dapat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Low back pain ( LBP) atau nyeri punggung bawah merupakan

BAB II LANDASAN TEORI. 1. Lama Duduk Sebelum Istirahat Dalam Berkendara

kemungkinan penyebabnya adalah multifactorial sehingga sulit untuk mengetahui penyebab pasti dari keluhan tersebut dan kebanyakan LBP pada usia

BAB 1 PENDAHULUAN. peningkatan peran serta masyarakat untuk lebih aktif. Aktivitas manusia sangat

Instabilitas Spinal dan Spondilolisthesis

BAB IV HASIL PENELITIAN

SKRIPSI HUBUNGAN POSISI DUDUK DENGAN TIMBULNYA NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENGEMUDI MOBIL

TUGAS CASE LBP E.C. SPONDILOSIS. 1. Pemeriksaan Lasegue, Cross Lasegue, Patrick, dan Contra-Patrick

BAB I PENDAHULUAN. teknologi yang lebih modern masyarakat juga mengalami perubahan dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. prevalensi tertinggi menyerang wanita (Hoy, et al., 2007). Di Indonesia,

PENDAHULUAN. yang berkembang kian pesat sangat berpengaruh pula aktivitas yang terjadi pada

BAB 1 PENDAHULUAN. seumur hidup sebanyak 60% (Demoulin 2012). Menurut World Health

Anatomy of Vertebrae

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau

BAB I PENDAHULUAN. pengguna jasa asuransi kesehatan. Pengertian sehat sendiri adalah suatu kondisi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA.

BAB I PENDAHULUAN. merupakan penyebab 40% kunjungan pasien berobat jalan terkait gejala. setiap tahunnya. Hasil survei Word Health Organization / WHO

BAB I PENDAHULUAN. 2. Tujuan a. Tujuan umum Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami konsep Sistem Saraf Spinal

Insidens Dislokasi sendi panggul umumnya ditemukan pada umur di bawah usia 5 tahun. Lebih banyak pada anak laki-laki daripada anak perempuan.

LAPORAN PENDAHULUAN HNP

BAB I PENDAHULUAN. dalam mencari pengobatan (Kambodji, 2002). menyebabkan sekitar 12,5% dari seluruh angka sakit.

BAB I PENDAHULUAN. baru. (Millson, 2008). Sedangkan menurut pendapat Departement of Trade and

1.1PENGERTIAN NYERI 1.2 MEKANISME NYERI

BAB 2 ANATOMI SENDI TEMPOROMANDIBULA. 2. Ligamen Sendi Temporomandibula. 3. Suplai Darah pada Sendi Temporomandibula

BAB I PENDAHULUAN. Low back pain atau nyeri punggung bawah merupakan salah satu kelainan

BAB I PENDAHULUAN. akibat nyeri punggung. Nyeri punggung bagian bawah merupakan penyebab

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Angka kejadian Ischialgia bawah hampir sama pada semua populasi

HUBUNGAN LAMA BERKENDARA DENGAN TIMBULNYA KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENGENDARA SEPEDA MOTOR

BAB I PENDAHULUAN. melakukan aktivitas fungsional sehari-hari. yang lama dan berulang, akan menimbulkan keluhan pada pinggang bawah

Kelainan Degeneratif SPINE Dr. Nuryani Sidarta,SpRM

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Dasar 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan di setiap negara. Di dunia, sedikitnya 50% dari semua petugas. mencapai 80% dari semua tenaga kesehatan.

BAB I PENDAHULUAN. sehingga manakala seseorang menderita sakit maka seseorang akan

BAB I PENDAHULUAN. punggung antara lain aktifitas sehari-hari seperti, berolahraga, bekerja, dan

BAB 1 PENDAHULUAN. langsung dan tidak langsung, kesehatan masyarakat juga perlu. With Low Back Pain : A Randomized Controllled Trial Bukti juga

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Dengan tingkat kesehatan yang optimal maka akan dapat

BAB II LANDASAN TEORI. a. Pengertian dan Macam-macam Sikap Kerja. 4 macam sikap dalam bekerja, yaitu :

31 Pasang Saraf Spinal dan Fungsinya

BAB II. Tinjauan Pustaka

Gambar 2.1 Os radius 2. Os. Ulna

BAB I PENDAHULUAN. seperti HNP, spondyloarthrosis, disc migration maupun patologi fungsional

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSALINAN BY ADE. R. SST

HUBUNGAN BERATNYA PEKERJAAN DENGAN KEJADIAN HERNIA NUKLEUS PULPOSUS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN PADA TAHUN 2014

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau terlokalisasi pada bagian-bagian tertentu. 18,19

FRAKTUR TIBIA DAN FIBULA

BAB I PENDAHULUAN. aktivitas fungsional sehari-hari. Kesehatan merupakan keadaan bebas dari

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI HUMERUS DAN FEMUR

BAB 1 PENDAHULUAN. Nyeri Punggung Bawah (NPB) merupakan gangguan musculoskeletal yang

BAB I PENDAHULUAN. lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. bebas dari kecacatan sehingga untuk dapat melakukan aktivitas dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ASPEK ANATOMI DAN BIOMEKANIK TULANG LUMBOSAKRAL DALAM HUBUNGANNYA DENGAN NYERI PINGGANG. OLEH : dr. VITRIANA, SpRM

Low Back Pain Dr.dr.Yunus Sp RM. MARS. MM. CFP

Prosedur Pemeriksaan Radiologi. Untuk Mendeteksi Kelainan dan Cedera Tulang Belakang

HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA

BAB I PENDAHULUAN. Nyeri punggung bawah atau Low Back Pain (LBP) merupakan. merupakan bagian pinggang atau yang ada di dekat pinggang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. punggung bagian bawah, bukan merupakan penyakit ataupun diagnosis

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. lumbal atau lumbo-sakral dan sering disertai dengan penjalaran nyeri ke arah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan peradaban manusia sudah semakin berkembang pesat di

Fungsi. Sistem saraf sebagai sistem koordinasi mempunyai 3 (tiga) fungsi utama yaitu: Pusat pengendali tanggapan, Alat komunikasi dengan dunia luar.

BAB I PENDAHULUAN. keselamatan kerja. Hal ini disebabkan karena 65% penduduk Indonesia. adalah usia kerja 30% bekerja disektor formal dan 70% disektor

PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA KONDISI PASKA OPERASI HERNIA NUCLEUS PULPOSUS DI VERTEBRA L5-S1 DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan termasuk salah satunya di bidang kesehatan. Pembangunan di bidang

DAFTAR ISI. Definisi Traktus Spinotalamikus Anterior Traktus Spinotalamikus Lateral Daftar Pustaka

BAB I PENDAHULUAN. Untuk itu peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam rangka menciptakan. A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. patologis dimana terjadi protusi dari anulus fibrosus beserta nukleus pulposus ke

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA LOW BACK PAIN SPONDYLOSIS LUMBALIS 4-5 DENGAN MWD ULTRA SOUND DAN WILLIAM FLEXION EXERCISE DI RSUD SRAGEN

Di susun oleh : LUFHI TIARANITA J

BAB I PENDAHULUAN. masalah kesehatan yang dapat mengganggu proses kerja sehingga menjadi kurang

BAB I PENDAHULUAN. Ischiadicus dan kedua cabangnya yaitu nervus peroneus comunis & nervus

SPINAL CORD & PERIPHERAL NERVE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, DAN HIPOTESIS. 4 kg, sedangkan untuk kelas junior putra 5 kg dan putri 3 kg.

BAB I PENDAHULUAN. bahwa prevalensi LBP dalam 1 tahun, adalah dari 3,9% hingga 65% (Andersson,

HUBUNGAN BERDIRI LAMA DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH MIOGENIK PADA PEKERJA KASIR

SEL SARAF MENURUT BENTUK DAN FUNGSI

KARYA TULIS ILMIAH. Oleh : AJENG PUSPITASARI PUTRI J

LOW BACK PAIN. Oleh : Erni Maryam Annisa Febrieza

BAB I PENDAHULUAN. mencapai tingkat derajad kesehatan masyarakat secara makro. Berbagai

Transkripsi:

5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anatomi Punggung Bawah Menurut Snell (2006), punggung yang terbentang dari kranium sampai ke ujung os coccygis dapat disebut sebagai permukaan posterior trunkus. Skapula dan otot-otot yang menghubungkan skapula ke trunkus menutupi bagian atas permukaan posterior toraks. Kolumna vertebralis merupakan pilar utama tubuh, dan berfungsi menyanggah kranium, gelang bahu, ektrimitas atas, dan dinding toraks serta melalui gelang panggung meneruskan berat badan ke ekstremitas inferior. Di dalam rongganya terletak medula spinalis, radix nervi spinales, dan lapisan penutup meningen, yang dilindungi oleh kolumna vertebralis. Kolumna vertebralis terdiri atas 33 vertebra, yaitu 7 vertebra servikalis, 12 vertebra torasikus, 5 vertebra lumbalis, 5 vertebra sakralis (yang bersatu membentuk os sakrum), dan 4 vertebra coccygis (tiga yang di bawahnya umumnya bersatu). Struktur kolumna ini fleksibel karena kolumna ini bersegmensegmen dan tersusun atas vertebrae, sendi-sendi, dan bantalan fibrocartilago yang disebut diskus intervertebralis. Gbr.2.1.1. Susunan tulang belakang Sumber : Vertical Health, 2010

6 Diskus intervertebralis membentuk kira-kira seperempat panjang kolumna. Vertebra L5 mungkin bergabung dengan os sakrum; biasanya tidak lengkap dan terbatas pada satu sisi. Vertebra sakralis pertama dapat tetap terpisah atau sama sekali teprisah dari os sakrum dan dianggap sebagai vertebra lumbalis keenam. Vertebra tipikal terdiri atas korpus yang bulat di anterior dan arkus vertebra di posterior. Keduanya, melingkupi sebuah ruang yang disebut foramen vertebralis, yang dilalui oleh medula spinalis dan bungkus-bungkusnya. Arkus vertebra terdiri atas sepasang pedikulus yang berbentuk silinder, yang membentuk sisi-sisi arkus, dan sepasang lamina gepeng yang melengkapi arkus dari posterior. Arkus vertebra mempunyai 7 processus yaitu 1 processus spinosus, 2 processus transversus, dan 4 processus articularis. Proceccus spinosus atau spina, menonjol ke posterior dari pertemuan kedua lamina. Processus transversus menonjol ke lateral dari pertemuan lamina dan pedikulus. Processus spinosus dan processus tranversus berfungsi sebagai pengungkit dan menjadi tempat melekatnya otot dan ligamentum. Processus articularis superior terletak vertikal dan terdiri atas 2 processus articularis superior dan 2 processus articularis inferior. Processus ini menonjol dari pertemuan antara lamina dan pedikulus, dan facies articularisnya diliputi oleh cartilago hyaline. Kedua processus articularis superior dari sebuah arkus vertebra bersendi dengan kedua processus articularis, inferior dari arkus yang ada di atasnya, membentuk sendi sinovial (Snell, 2006). Pedikulus mempunyai lekuk pada pinggir atas dan bawahnya, membentuk incisura vertebralis superior dan inferior. Pada masing-masing sisi, insisura vertebralis superior sebuah vertebra dan incisura vertebralis inferior dari vertebra di atasnya membentuk foramen intervertebrale. Foramina ini pada kerangka yang berartikulasi berfungsi sebagai tempat lewatnya nervi spinales dan pembuluh darah. Radix anterior dan posterior nervus spinalis bergabung di dalam foramina ini, bersama dengan pembungkusnya membentuk saraf spinalis segmentalis.

7 Ciri-Ciri Vertebra Lumbalis Tipikal: 1. Corpus besar dan berbentuk ginjal 2. Pediculus kuat dan mengarah ke belakang 3. Lamina tebal 4. Foramina vertebrale berbentuk segitiga 5. Processus transversus panjang dan langsing 6. Processus spinosus pendek, rata, dan berbentuk segiempat dan mengarah ke belakang 7. Facies articularis processus articularis superior menghadap ke medial dan facies articularis processus articularis inferior menghadap ke lateral. Gbr.2.1.2. Vertebra Lumbal Sumber : Clinical Anatomy, 2006 Kecuali dua vertebra C1, semua vertebra lainnya saling bersendi satu dengan yang lain dengan perantaraan articulation cartilaginea dan antar korpus dan articulation synovial antar processus articularis.

8 Permukaan atas dan bawah korpus vertebra yang berdekatan dilapisi oleh lempeng tulang rawan hialin. Di antara lempeng tulang rawan tersebut, terdapat diskus intervertebralis yang tersusun atas jaringan fibrocartilago. Serabut-serabut kolagen diskus menyatukan kedua korpus vertebra dengan kuat. Diskus intervertebralis menyusun seperempat dari panjang columna vertebralis. Diskus ini paling tebal di daerah servikal dan lumbal, tempat banyak terjadinya gerakan kolumna vertebralis. Struktur ini dapat dianggap sebagai diskus semielastis, yang terletak di antara korpus vertebra yang berdekatan dan bersifat kaku. Ciri fisiknya memungkinkannya berfungsi sebagai peredam benturan bila beban pada kolumna vertebralis mendadak bertambah, seperti bila seseorang melompat dari tempat yang tinggi. Kelenturannya memungkinkan vertebra yang kaku dapat bergeran satu dengan yang lain. Setiap diskus terdiri atas bagian pinggir, annulus fibrosus, dan bagian tengah yaitu nukleus pulposus. Annulus fibrosus terdiri atas jaringan fibrocartilago, di dalamnya serabutserabut kolagen tersusun dalam lamel-lamel yang konsentris. Berkas kolagen berjalan miring di antara korpus vertebra yang berdekatan, dan lamel-lamel yang lain berjalan dalam arah sebaliknya. Serabut-serabut yang lebih perifer melekat dengan erat pada ligamentum longitudinal anterius dan posterius kolumna vertebralis. Nukleus pulposus pada anak-anak remaja dan merupakan massa lonjong dari zat gelatin yang banyak mengandung air, sedikit serabut kolagen, dan sedikit sel-sel tulang rawan. Biasanya berada dalam tekanan dan terletak sedikit lebih dekat ke pinggir posterior daripada pinggir anterior diskus. Permukaan atas dan bawah korpus vertebrae yang berdekatan yang menempel pada diskus diliputi oleh cartilago hyalin yang. Sifat nukleus pulposus yang setengah cair memungkinkannya berubah bentuk dan vertebra dapat menjungkit ke depan atau ke belakang di atas yang lain, seperti pada gerakan fleksi dan ekstensi kolumna vertebralis. Dengan bertambahnya umur, kandungan air di dalam nucleus pulposus berkurang dan akan digantikan oleh fibrocartilago. Serabut-serabut kolagen annulus berdegenerasi, dan sebagai akibatnya annulus tidak lagi berada dalam

9 tekanan. Pada usia lanjut, dismus ini tipis dan kurang lentur, dan tidak dapat lagi dibedakan antara nukleus dan annulus. Gbr.2.3. Struktur Tulang Belakang Sumber : Bonati Institute, 2007 Ligamentum longitudinal anterius dan posterius berjalan turun sebagai sebuah pita pada permukaan anterior dan posterior columna vertebralis dari kranium sampai ke sakrum. Ligamentum longitudinal anterius lebar dan melekat dengan kuat pada pinggir depan, samping korpus vertebra, dan pada diskus intervertebralis. Ligamentum longitudinal posterior lemah dan sempit dan melekat pada pinggir posterior diskus. Ligamentum-ligamentum ini mengikat dengan kuat seluruh vertebra, tetapi tetap memungkinkan sedikit pergerakan di antaranya. Berikut adalah ligamentum yang terdapat pada vertebra: 1. Ligamentum supraspinale yang berjalan di antara ujung-ujung processus spinosus yang berdekatan 2. Ligamentum interspinalia yang menghubungkan processus spinosus yang berdekatan 3. Ligamentum intertransversaria yang berjalan di antara processus tranversus yang berdekatan 4. Ligamentum flavum yang menghubungkan lamina dari vertebra yang berdekatan. Sendi-sendi antar korpus vertebra dipersarafi oleh cabang kecil meningeal masing-masing saraf spinal. Saraf ini berasal dari saraf spinal pada saat saraf ini

10 keluar dari foramen intervertebrale. Kemudian saraf ini masuk kembali ke dalam kanalis vertebralis melalui foramen intervertebrale dan mempersarafi meningen, ligamen, dan diskus intervertebralis. Sendi-sendi antar processus articularis dipersarafi oleh cabang-cabang dari rami posterior saraf spinal. Sendi-sendi pada setiap tingkat menerima serabut saraf dari dua saraf spinal yang berdekatan. Kolumna vertebralis pada janin mempunyai satu lekukan ke anterior yang utuh. Dengan bertambahnya perkembangan, terbentuklah angulus lumbosakralis. Setelah lahir, pada waktu anak mampu mengangkat dan mempertahankan kepalanya terhadap columna vertebralis, pars servikalis kolumna vertebralis menjadi cekung ke posterior. Mendekati akhir tahun pertama, bila anak mulai berdiri, pars lumbalis kolumna vertebralis menjadi konkaf ke posterior. Pembentukan lengkung-lengkung sekunder ini sebagian besar disebabkan oleh modifikasi bentuk diskus intervertebralis. Pada orang dewasa, pada posisi berdiri, columna vertebralis memperlihatkan lengkung-lengkung regional pada bidang sagital berikut ini: cekung posterior servikal, cembung posterior torakal, cekung posterior lumbal, dan cembung posterior sakral. Pada orang tua diskus intervertebralis mengalami atrofi, mengakibatkan bertambah pendeknya tubuh dan secara perlahan-lahan kolumna vertebralis kembali ke dalam cekungan anterior yang utuh (Snell, 2006). Otot- otot punggung dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama yakni: 1. otot-otot superficial yang berhubungan dengan cingulum membri superior 2. otot-otot intermedia yang ikut dalam respirasi 3. otot-otot profunda yang dimiliki oleh kolumna vertebralis Daerah lumbal didarahi oleh arteri yang merupakan cabang dari arteri subkostalis dan lumbalis. Vena pada punggung dapat dibagi menjadi yang terletak di luar kolumna vertebralis dan mengelilinginya membentuk pleksus venosus vertebralis eksternus dan yang terletak di dalam kanalis vertebralis dan membentuk pleksus vertebralis internus. Kulit dan otot-otot punggung dipersarafi secara segmental oleh rami posteriors 31 pasang saraf spinalis. Rami posterior C1, 6, 7, dan 8 serta L4 dan 5

11 mempersarafi otot punggung profunda, tetapi tidak mempersarafi kulitnya. Rami posterior berjalan ke bawah dan lateral dan mempersarafi sebagian kulit, sedikit di bawah tempat keluarnya dari foramen intervertebralis. 2.2. Gerakan Columna Vertebralis pada Lumbal Ada beberapa gerakan dasar yang dapat dilakukan oleh semua columna vertebralis yakni fleksio, ekstensio, laterofleksio, rotasio, dan sirkumdiksio. Fleksio adalah gerakan ke depan, dan ekstensio adalah gerakan ke belakang. Keduanya dapat dilakukan dengan leluasa di daerah cervical dan lumbal, tetapi terbatas di daerah thoracal. Lateroflexio adalah melengkungya tubuh ke salah satu sisi. Gerakan ini mudah dilakukan di daerah cervical dan lumbal, tetapi terbatas di daerah thoracal. Rotasio adalah gerakan memutar columna vertebralis. Gerakan ini sangat terbatas di daerah lumbal. Sirkumdiksio adalah kombinasi dari seluruh gerakan-gerakan sebelumnya. (Snell, 2006) Pada daerah lumbal, fleksio dilakukan oleh muskulus rectus abdominis dan muskulus psoas. Ektensio dilakukan oleh muskulus postvertebrales. Lateroflekxio dilakukan oleh muskulus postvertebralis, muskulus quardratus lumborum, dan otot-otot serong dinding anterolateral abdomen. Muskulus psoas mungkin ikut dalam gerakan ini. Rotasio dilakukan oleh otot-otot rotator dan otototot serong dinding anterior-lateral abdomen. (Snell, 2006) 2.3. Nyeri Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan karena kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah sebagai kerusakan (IASP). Secara singkat mekanisme nyeri dimulai dari stimulasi nosiseptor oleh stimulus noxious pada jaringan, yang kemudian akan mengakibatkan stimulasi nosiseptor dimana disini stimulus noxious tersebut akan dirubah menjadi potensial aksi. Proses ini disebut transduksi atau aktivasi reseptor. Selanjutnya potensial aksi tersebut akan ditransmisikan menuju neuron susunan saraf pusat yang berhubungan dengan nyeri. Tahap pertama transmisi

12 adalah konduksi impuls dari neuron aferen primer ke kornu dorsalis medula spinalis, pada kornu dorsalis ini neuron aferen primer bersinap dengan neuron susunan saraf pusat. Dari sini jaringan neuron tersebut akan naik ke atas di medula spinalis menuju batang otak dan talamus. Selanjutnya terjadi hubungan timbal balik antara talamus dan pusat-pusat yang lebih tinggi di otak yang mengurusi respons persepsi dan afektif yang berhubungan dengan nyeri. Tetapi rangsangan nosiseptif tidak selalu menimbulkan persepsi nyeri dan sebaliknya persepsi nyeri bisa terjadi tanpa stimulasi nosiseptif. Terdapat proses modulasi sinyal yang mampu mempengaruhi proses nyeri tersebut, tempat modulasi sinyal yang paling diketahui adalah pada kornu dorsalis medula spinalis. Proses terakhir adalah persepsi, dimana pesan nyeri direlai menuju otak dan menghasilkan pengalaman yang tidak menyenangkan (Setyohadi, 2006). 2.4 Postur Tubuh yang Benar Postur tubuh merupakan hasil dari orientasi posisi berbagai bagian tubuh (Guimond.,2009). Postur tubuh yang ideal terbentuk oleh berbagai komponen yakni posisi yang netral dari kepala, sedikit lordosis dari leher, kifosis dorsal, lordosis lumbal, posisi netral dari pelvis dan pinggul (Guimond, 2009). Gbr.2.4.1. Postur Tubuh yang Benar saat Berdiri Sumber: Guimond, 2009

13 Pada saat duduk badan harus tegak dan tiga lengkungan pada servikal, toraks, dan lumbar diusahakan tetap terjaga. Penjagaan posisi yang tegak dapat dibantu dengan menempelkan bokong ke bagian belakang kursi. Kaki jangan dilipat di atas kaki yang lain dan kepala jangan ditonjolkan ke depan. Duduk dengan posisi yang baik adalah postur tubuh dengan kepala tegak, lengan dan tungkai rileks serta dapat memberikan stabilitas yang baik (Zamna, 2007). Dagu lurus sejajar dengan lantai (Amerian Chiropratic Association, 2010). Gbr.2.4.2. Postur Tubuh yang Benar saat Duduk Sumber : Cleveland Clinic, 2009 Postur tubuh juga penting dijaga saat mengangkat beban adalah pakai sepatu yang stabil, pastikan kaki dalam keadaan teguh dan stabil, dalam keadaan 90º dan rapatkan kaki pada barang yang hendak diangkat, bengkokkan lutut dan rendahkan badan, pastikan pinggang tegak, angkat barang ke paras abdomen dan angkat barang perlahan-lahan, jika barang agak berat, tumpu dengan otot kaki, pastikan lutut bengkok ketika mengangkat barang (Subiantoro, 2005) Gbr.2.4.3. Postur Tubuh yang Benar saat Mengangkat Beban Sumber : Cleveland Clinic, 2009

14 Posisi tidur sebaiknya telentang dengan alas yang keras agar tulang belakang terjaga. Jangan tidur menyamping dengan lutut ditarik ke bahu. Gbr.2.4.4. Postur Tubuh yang Normal dan tidak Normal Sumber : Guimond, 2009 Gbr.2.5.5 Perbandingan Postur Tubuh yang Benar dan Salah Sumber : Lasich, 2009

15 2.5. Defenisi Nyeri Punggung Bawah Nyeri punggung bawah adalah nyeri pada daerah punggung bawah yang dapat berkaitan dengan masalah pada vertebra lumbar, diskus intervertebralis, ligamentum di antara tulang belakang dengan diskus, medula spinalis, dan saraf, otot pada punggung bawah, organ internal pada pelvis dan abdomen, atau kulit yang menutupi area lumbar (Medical Dictionary). Menurut Maher (2002) dalam Zamna (2007), nyeri punggung bawah merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal akibat aktivitas tubuh yang kurang baik). 2.6. Epidemiologi Nyeri Punggung Bawah Usia merupakan salah satu faktor resiko dimana prevalensi nyeri punggung bawah tertinggi terjadi pada usia 30-45 tahun dan lebih sering pada usia di bawah 45 tahun (Deyo dan Weinstein, 2001) Prevalensi nyeri punggung bawah cukup tinggi yang menandakan keluhan ini merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak dikeluhkan oleh pasien. Menurut Cassidy (1998) dalam Wheeler (2009), survei di Kanada dan Eropa menunjukkan Point prevalence berkisar antara 22%-48. Sedangkan prevalensi seumur hidup nyeri punggung bawah di Amerika Serikat sebanyak 60% - 80% (Hills, 2010). Penelitian di Afrika yang terpusat di Afrika Selatan (37% ) dan Nigeria (26%) menunjukkan prevalensi seumur hidup berkisar antara 33% pada remaja dan 62% pada dewasa (Louw, 2007). Prevalensi dari nyeri punggung bawah kronik yang menyebabkan disabilitas semakin meningkat setiap tahunnya dari 3,9% pada 1992 menjadi 10,2% pada 2006 pada penduduk di North Carolina (Freburger, 2009). Hasil penelitian yang dilakukan Pokdi Nyeri PERDOSSI (Persatuan Dokter Saraf Seluruh Indonesia) di Poliklinik Neurologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada tahun 2002 menemukan prevalensi penderita nyeri punggung bawah sebanyak 15,6% (Sudir dan Ng, 2008). Dalam penelitian multisenter di 14 rumah sakit pendidikan Indonesia, yang dilakukan kelompok

16 studi nyeri (pokdi nyeri) Perdossi pada bulan Mei 2002 menunjukkan jumlah penderita nyeri sebanyak 4456 orang (25% dari total kunjungan), dimana 1598 orang (35,86%) merupakan penderita nyeri kepala dan 819 orang (18,37%) adalah penderita nyeri punggung bawah (NPB) (Meliala, 2004). Sedangkan penelitian Community Oriented Program for Controle of Rheumatic Disease ( COPORD ) Indonesia menunjukan prevalensi nyeri punggung 18,2% pada laki-laki dan 13,6% pada wanita. Data yang didapat dari poliklinik neurologi RSUP H.Adam Malik Medan pada tahun 2009 menunjukkan pada rawat inap didapati penderita nyeri punggung bawah sebanyak 28 dari total 622 pasien atau sebanyak 4,5% dan pada rawat jalan sebanyak 1149 pasien dari total 7290 atau sebanyak 15,76%. 2.7. Etiologi NPB Menurut John W.Engstrom NPB dapat disebabkan oleh: 1. Kongenital / perkembangan : spondilosis, kiposkoliosis, spina bifida occulta, dan tethered spinal cord 2. Trauma minor : tegang atau keseleo dan tertarik 3. Fraktur : traumatik (terjatuh, kecelakaan sepeda motor) dan atraumatik (infiltrasi neoplastik, osteoporosis, dan steroid eksogen) 4. Herniasi diskus intervertebral 5. Degeneratif : Kompleks osteofit diskus, kekacauan diskus internal, spinal stenosis, penyakit sendi atlantoaxial 6. Artritis : spondilosis, artropati facet atau sakroiliaka, dan autoimun 7. Metastase neoplasma, hematologis, tumor primer pada tulang 8. Infeksi/inflamasi : osteomielitis vertebral, abses epidural spinal, septik diskus, meningitis, araknoiditis lumbal 9. Metabolik : osteoporosis, hiperparatiroid, immobilitas 10. Lainnya : postural, psikiatri, diseksi arteri vertebral

17 2.8. Faktor Resiko NPB Faktor resiko untuk terjadinya nyeri punggung bawah adalah merokok, obesitas, usia yang lebih tua, wanita, aktivitas fisik yang berat, kerja sedentari, kerja dengan beban psikologi yang berat, tingkat pendidikan yang rendah, asuransi kompensasi pekerja, ketidakpuasan kerja, dan faktor psikologi (Wheeler, 2008). Helena miranda dalam penelitiannya mengidentifikasi resiko untuk nyeri punggung bawah ialah mengangkat beban yang berat, postur tubuh yang salah, dan bergetarnya seluruh tubuh pada kelompok usia di bawah 50 tahun sedangkan merokok, obesitas, kurangnya aktivitas pada kelompok usia di atas 50 tahun. 2.9. Hubungan postur tubuh dengan NPB Berbagai masalah dapat menyebabkan terjadinya nyeri punggung bawah salah satunya ialah postur tubuh yang salah saat beraktivitas (John, W.E., 2006). Adi Subiantoro (2005) di Semarang terhadap 52 responden buruh angkut secara cross sectional melaporkan adanya hubungan antara teknik mengangkat beban yang salah dengan terjadinya nyeri punggung bawah pada pekerja pengangkut barang. Rachel dan Sulvana (2006) melaporkan adanya hubungan antara pekerja perawatan lapangan golf yang banyak membungkuk dengan keluhan nyeri punggung bawah. Klooch (2006) dalam Zamna (2007) terhadap murid sekolah menengah di Skandinavia, yang menemukan bahwa 41,6% murid menderita LBP selama duduk dikelas terdiri dari 30% yang duduk selama 1 jam dan 70% yang duduk lebih dari 1 jam. Menurut Rice (2002) dalam Zamna (2007), penyebab yang paling sering ditemukan yang dapat mengakibatkan LBP adalah kekakuan dan spasme otot punggung oleh karena aktivitas tubuh yang kurang baik serta tegangnya postur tubuh. Postur tubuh yang normal diperlukan untuk menahan beban yang datang dari internal atau eksternal. Setiap bagian tubuh memiliki tahanan tersendiri sehingga apabila diberikan beban yang berlebihan dapat menyebabkan nyeri.

18 Tahanan internal datang dari otot dan jaringan lunak, sedangkan tahanan eksternal datang dari gravitasi dan beban eksternal. Pada posisi yang salah terjadi penempatan beban pada tempat yang salah seperti contoh pada posisi duduk miring terjadi pemindahan beban dari bokong ke tulang belakang dimana kekuatan bokong lebih kuat dibandingkan tulang belakang. (Guimond, 2009). Duduk yang terlalu lama memberikan beban yang terlalu lama pada bokong dan tulang belakang. Seharusnya beban tersebut diberikan kepada kaki yang lebih kuat secara bergantian. Posisi lumbar yang beresiko menyebabkan terjadinya nyeri punggung bawah ialah fleksi ke depan, rotasi, dan mengangkat beban yang berat dengan tangan yang terbentang. Beban aksial pada jangka pendek ditahan oleh serat kolagen annular di diskus. Beban aksial yang lebih lama akan member tekanan pada fibrosis annular dan meningkatkan tekanan pada lempeng ujung. Jika annulus dan lempeng ujung utuh maka beban dapat ditahan. Akan tetapi daya kompresi dari otot dan beban muatan dapat meningkatkan tekanan intradiskus yang melebihi kekuatan annulus. Akibatnya dapat menyebabkan koyaknya annulus dan gangguan pada diskus internal. Isi dari annulus fibrosus (nukleus pulposus) dapat keluar melalui koyakan ini dan akhirnya bermanifestasi sebagai nyeri (Hills 2010)..