Bd&w KETEKNIKAN PERTANIAN

dokumen-dokumen yang mirip
Asep Sapei 1 dan Irma Kusmawati 2

Kata kunci: faktor penyesuai, evapotranspirasi, tomat, hidroponik, green house

Analisis Sistem Irigasi Para pada Budidaya Tanaman Selada (Lactuca sativa var. crispa L.) Analysis of Para Irrigation Systemon Selada Cultivation

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dari Bulan Juli sampai November 2013 di Greenhouse Sarwo

Oleh : I.D.S Anggraeni *), D.K. Kalsim **)

BAB II DASAR TEORI 2.1 Perhitungan Hidrologi Curah hujan rata-rata DAS

APLIKASI MIKROKONTROLER ARDUINO PADA SISTEM IRIGASI TETES UNTUK TANAMAN SAWI (Brassica juncea)

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN

Evapotranspirasi. 1. Batasan Evapotranspirasi 2. Konsep Evapotranspirasi Potensial 3. Perhitungan atau Pendugaan Evapotranspirasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. SISTEM IRIGASI TETES

Laju dan Jumlah Penyerapan Air

LAMPIRAN. Mulai. Pembuatan komponen irigasi tetes (emiter alternatif) Pembuatan tabung marihot. Pemasangan jaringan pipa-pipa dan emiter

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL

II. TINJAUAN PUSTAKA. sampai beriklim panas (Rochani, 2007). Pada masa pertumbuhan, jagung sangat

Gambar 1 Hubungan impedansi listrik (kω) dengan KAT(%) kalibrasi contoh tanah.

EVALUASI KINERJA JARINGAN IRIGASI PADA SISTEM IRIGASI MICRO SPRAY DI KEBUN PERCOBAAN TAJUR - PKBT IPB, BOGOR

Frequently Ask Questions (FAQ) tentang kaitan lingkungan dan kelapa sawit

TINJAUAN PUSTAKA Analisis Kebutuhan Air Irigasi Kebutuhan Air untuk Pengolahan Tanah

TINJAUAN PUSTAKA. sumber daya air merupakan dasar peradaban manusia (Sunaryo dkk., 2004).

TUGAS KELOMPOK REKAYASA IRIGASI I ARTIKEL/MAKALAH /JURNAL TENTANG KEBUTUHAN AIR IRIGASI, KETERSEDIAAN AIR IRIGASI, DAN POLA TANAM

HUBUNGAN TANAH - AIR - TANAMAN

ANALISA KETERSEDIAAN AIR SAWAH TADAH HUJAN DI DESA MULIA SARI KECAMATAN MUARA TELANG KABUPATEN BANYUASIN

The Application of Drip Irrigation Technique and Artificial Planting Media in

ANALISIS POTENSI ENERGI MATAHARI DI KALIMANTAN BARAT

DAFTAR ISI. 1.2 RUMUSAN MASALAH Error Bookmark not defined. 2.1 UMUM Error Bookmark not defined.

ANALISIS EMITTER ALTERNATIF DALAM SISTEM IRIGASI TETES PADA BUDIDAYA TANAMAN SAWI (Brassica Sp )

KAJIAN KERAGAAN JARINGAN SERTA PENENTUAN WAKTU DAN JUMLAH PEMBERIAN AIR PADA SISTEM IRIGASI MIKRO SPRAY Dl PT INTIDAYA AGROLESTARI, BOGOR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISIS KEBUTUHAN AIR IRIGASI PADA DAERAH IRIGASI BENDUNG MRICAN1


PERENCANAAN KEBUTUHAN AIR PADA AREAL IRIGASI BENDUNG WALAHAR. Universitas Gunadarma, Jakarta

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam ekonomi Indonesia. Potensi

TINJAUAN PUSTAKA. Neraca Air

Sistem Kendali Berbasis PLC untuk Pengaturan Pemberian Larutan Nutrisi pada Jaringan Irigasi Tetes

Uji Tekanan Air Pompa dan Tinggi Riser terhadap Keseragaman Distribusi Air pada Irigasi Curah

JURUSAN TEKNIK & MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

ANALISIS KEBUTUHAN AIR SAWAH DAERAH SEKITAR PANEI TENGAH KABUPATEN SIMALUNGUN

RANCANGAN DAM UJI COBA LlSlMETER PORTABEL TiPE HlDRQlblK

TINJAUAN PUSTAKA. disukai dan popular di daerah-daerah yang memiliki masalah kekurangan air.

BAHAN AJAR : PERHITUNGAN KEBUTUHAN TANAMAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Embung berfungsi sebagai penampung limpasan air hujan/runoff yang terjadi di

KAJIAN EVAPOTRANSPIRASI POTENSIAL STANDAR PADA DAERAH IRIGASI MUARA JALAI KABUPATEN KAMPAR PROVINSI RIAU

Rate Infiltration Evaluation on Several Land Uses Using Infiltration Method of Horton at Sub DAS Coban Rondo Kecamatan Pujon Kabupaten Malang

TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanaman Cabai

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tata cara perhitungan evapotranspirasi potensial dengan panci penguapan tipe A

17/02/2013. Matriks Tanah Pori 2 Tanah. Irigasi dan Drainasi TUJUAN PEMBELAJARAN TANAH DAN AIR 1. KOMPONEN TANAH 2. PROFIL TANAH.

ANALISIS EFISIENSI IRIGASI TETES DAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN SEMANGKA (Citrullus vulgaris S.) PADA TANAH ULTISOL

ANALISA KEBUTUHAN AIR IRIGASI DAERAH IRIGASI SAWAH KABUPATEN KAMPAR

ANALISIS EFISIENSI IRIGASI TETES DAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN SAWI (Brassica juncea) PADA TANAH INCEPTISOL

ANALISIS KESEIMBANGAN AIR PADA IRIGASI BAWAH PERMUKAAN MELALUI LAPISAN SEMI KEDAP HILDA AGUSTINA

PENDUGAAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN DAN NILAI KOEFISIEN TANAMAN (K c. ) KEDELAI (Glycine max (L) Merril ) VARIETAS TANGGAMUS DENGAN METODE LYSIMETER

BAB-4 ANALISIS KEBUTUHAN AIR IRIGASI

DAFTAR ISI. Halaman JUDUL PENGESAHAN PERSEMBAHAN ABSTRAK KATA PENGANTAR

Komunikasi penulis,

DAFTAR ISI. Halaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI DEDIKASI KATA PENGANTAR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang dihasilkan dibawa oleh udara yang bergerak.dalam kondisi yang

APLIKASI SISTEM IRIGASI TETES PADA TANAMAN KEMBANG KOL (Brassica Oleracea Var. Botrytis L. Subvar. Cauliflora DC) DALAM GREENHOUSE

UJI KINERJA EMITER CINCIN PERFORMANCE ANALYZE OF RING-SHAPE EMITTER Oleh :

II. TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS PENENTUAN WAKTU TANAM PADA TANAMAN KACANG TANAH

II. TINJAUAN PUSTAKA. Irigasi didefinisikan sebagai penggunaan air pada tanah untuk keperluan

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

BAB-1 PENDAHULUAN 1. Umum

Pengaruh Kadar Air Tanah Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Dua Tipe Kapolaga Sabrang

Lampiran 1.1 Data Curah Hujan 10 Tahun Terakhir Stasiun Patumbak

Kajian Hidro-Klimatologi Daerah Cirebon-Indramayu-Majalengka- Kuningan (Ciayu Majakuning)

Analisis Ketersediaan Air terhadap Potensi Budidaya Kedelai (Glycine max (L) Merril) di Daerah Irigasi Siman

METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Evapotranspirasi Potensial Standard (ETo)

, Aditya Prihantoko **) Balai Irigasi, Pusat Litbang Sumber Daya Air, Badan Litbang PU, Jl. Cut Meutia Kotak Pos 147 Bekasi 17113

EFISIENSI IRIGASI TETES DAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN BUNGA KOL PADA TANAH ANDOSOL

TINJAUAN PUSTAKA. Dengan meningkatnya kebutuhan air di bidang pertanian dan bidang lain,

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian berada di wilayah Kabupaten Banyumas yang masuk

STUDI POLA PEMBERIAN AIR BERDASARKAN EFISIENSI PEMAKAIAN AIR PADA TANAMAN KEDELAI EDAMAME (VEGETABLE SOYBEAN) DENGAN METODE IRIGASI TETES JURNAL

I. PENDAHULUAN. jagung adalah kedelai. Kedelai juga merupakan tanaman palawija yang memiliki

EFISIENSI IRIGASI TETES DAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN BUNGA KOL PADA TANAH ANDOSOL

KAJIAN BEBERAPA METODE PEMBERIAN AIR PADI SAWAH (oriza sativa L) VARIETAS CIHERANG di RUMAH KACA

Pengelolaan Air Tanaman Jagung

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2013 di

Spektrum Sipil, ISSN Vol. 1, No. 1 : 73-80, Maret 2014

METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Research Station PT Great Giant Pineapple, Kecamatan

TINJAUAN PUSTAKA. Faktor Lingkungan Tumbuh Kelapa Sawit

PERENCANAAN JARINGAN IRIGASI BERDASARKAN HUJAN EFEKTIF DI DESA REMPANGA - KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

PENGEMBANGAN PROGRAM ALOKASI AIR(PAA) BERBASIS OPEN OFFICE CALC. Arif Faisol 1), Indarto 2) :

1998 SURUSAN TEKlVIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

DESAIN DAN UJI KINERJA EMITTER IRIGASI CINCIN RESKIANA

TEKNOLOGI INOVATIF IRIGASI LAHAN KERING DAN LAHAN BASAH STUDI KASUS UNTUK TANAMAN LADA PERDU

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Bulan Februari 230 Sumber : Balai Dinas Pertanian, Kota Salatiga, Prov. Jawa Tengah.

Fadhilatul Adha 1), Tumiar Katarina Manik 2), R.A.Bustomi Rosadi 3)

LAMPIRAN. Lampiran 1. Flow chart penelitian. Mulai. Pembuatan menara air. Pemasangan pipa dan emiter. Pengambilan data. Pengukuran parameter.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS NERACA AIR UNTUK PENETAPAN POLA TANAM DALAM MENINGKATKAN INDEKS PERTANAMAN 1

A. KANDUNGANLENGASTANAH

Optimalisasi Pemanfaatan Sungai Polimaan Untuk Pemenuhan Kebutuhan Air Irigasi

Transkripsi:

Bd&w KETEKNKAN PERTANAN PERUBAHAN P OU PENYEBARAN KADAR AR MEDA TANAM ARANG Sf WM DAN PERTUMBUHAN TANAMAN KANGKUNG DARAT (pomoea reptans Poir.) PADA PEMBERAN AR SECARA TERUS MENERUS DENGAN RGAS TETES $ Asep Sapei 'dan rma Kusmawati Abstract DripArickle irrigation is an irrigation method, which gives high efficiency, high effectivity and assures high productivity/yield. This method, is often used for hodiculture and vegetable crops. The objective of this research is to study the effect of drip irrigation by continuous water application using and 2 emitters on water distribution and crop growth. The results show that irrigation water by using 2 emitters was spread horizontally more, gave taller crops and more leaves than that using emitter. n general, the effect of continuous water application was better than intermittent water application. Key words : DripArickle irrigation, continuous water application PENDAHULUAN Latar Belakang Air mutlak dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup. Demikian pula tanaman:, sangat membutuhkan air untuk pertumbuhan. Tanaman hanya dapat tumbuh optimal dan memberikan hasil yang tinggi bila kebutuhan airnya dapat dipenuhi dalam jumlah dan waktu yang tepat (~ooreibos dan Pruitt, 977). Akan tetapi, hujan yang merupakan surnber air utama bagi tanarnan menyebar tidak merata, baik dalam jurnlah, waktu maupun tempat. Karena itu tindakan pemberian air irigasi dapat menjarnin kebutuhan air tanaman. Suatu rnetoda irigasi yang baik harus dapat rnernenuhi kebutuhan air tanaman dalam jurnlah dan waktu yang tepat, efisien dan efektif. lrigasi tetes (driparckle irrigation) telah dikembangkan guna mencapai efisiensi,dan efektqas yang lebih tinggi dalam pewtakatan air bagi tanaman (Michael. 978 dan Howell et a/., 980). Dengan, iri~asi.,it&*, yajtcc.suatu metoda pemberian air,dqqan Jaju rendah dan frekuensi tinggi di sekitar perakaran tanaman, kadar air media tanarn dapat dipertahankan pada kondisi yang optimal, fluktuasi kadar air media tanam dapat dihindarkan dan kehilangan air akibat perkolasi, evaporasi dan aliran permukaan dapat ditekan. Kinerja irigasi tetes juga ditentukan oleh pofa dan lokasi permukaan pernbasahan (wetting front). Roth (974) mengkaji perubahan pola dan lokasi perrnukaan pembasahan pada berbagai debit pemberian air (Howell et a.,980). Kajian tentang perubahan pola dan lokasi perrnukaan pembasahan pada berbagai jenis tanah dan debit pemberian air dilakukan oleh Bresler et at. (97) dan Bresler (978) (Hillel, 982). Saat ini, penerapan irigasi tetes kebanyakan rnenggunakan sistem pernberian air secara terputus-putus (intermittent), seperti yang diterapkan dibeberapa perusahaan hortikultura di daerah Puncak dan Lernbang, Jawa Barat. Diduga bahwa pemberian air secara terputus-putus tersebut akan rnengurangi hasil, karena kadar air media tanarn berfluktuasi cukup besar

+-- - Vol. 7 No.2, Agustus 2003 dan kondisi yang optimal tidak dapat Pada media tanam dipertahankan. ditempatkan sensor pengukur kadar air berupa gypsum block yang sudah Tujuan dikalibrasi di sembilan titik pengamatan Penelitian ini bertujuan untuk kadar air seperti Gambar. mengkaji perubahan pola penyebaran Benih kangkung darat kadar air media tanam arang sekam dan pertumbuhan tanaman kangkung kemudian di tanam pada setiap polybag dan kemudian diberi air (yang darat (pomoea reptans Poir.) yang dilengkapi dengan nutrisi) secara terus diberi air secara terus menerus menerus dan laju pemberian air tetap (continuous) dengan irigasi tetes. mulai jam 7:00 sampai jam 8:OO setiap Sebagai perbandingan juga dikaji ha harinya dengan irigasi tetes yang sama dengan pemberian air menggunakan dan 2 buah penetes secara terputus-putus (intermittent). (emitter). Setiap perlakuan METODE PENELlTlAN menggunakan 3 polybag. Skema intalasi pemberian seperti pada Penelitian ini dilakukan bulan Juni - November 2002 di Laboratorium Lapangan Jurusan Teknik Pertanian FATETA-PB Leuwikopo, Darmaga Bogor. Media tanam arang sekam Yang digunakan mempunyai karaketristik seperti yang ditunjukkan pada Tabel. Media tanam tersebut di kemas kedalam polybag yang berukuran 20 cm diameter dan 35 cm tinggi sehingga mempunyai densitas Gambar 2. Skema instalasi pemberian sebesar 0.7 g/cm3. air secara irigasi tetes -....---.- Tabel. Karaketristik media arang 5 cm sekam 2 cm,,a +---+ Karakteristik Besaran -Kadar air - pf 0.00, % 82.04 i / pada : - PF 0.50, % 78.43 - PF.00, Oh 29.52 5 cnr - PF.50, % 4.82 - PF 2.00, Oh 0.95,... $3.,...-- f3 ---- -- /Y0bE.54. % 0.70 K..~..P~. ~ ~ ~ ~ l. 2 ~ O m! c (i~mna7.8dm9dg.q~blbb~l 'cm! - pf 4.20, Oh,.92 s C ; ~ ~ n a o 4, 5 & n ~ P d. ~ - - Air tersed/a. % 3.78 Gambar. Penempatan sensor pengukur kadar air 2 - pf 3.00, % 0.35,., ----- ----- -? 5cm ' 5cm Som 5om. -.-..A

a- KETEKNKAN PERTANAN Gambar 2. Tabel 2. Laju pemberian air secara Laju pemberian air seperti yang terus-menerus (selama jam) ditunjukkan oleh Tabel 2 dihitung berdasarkan kebutuhan air tanaman Umur Tanaman Laju pemberian (ETc) menggunakan persamaan (hari sesudah (Vjam) evapotranspirasi (ETo) metoda radiasi, tanam, HST) yaitu: 0-5 0.0048, ETo = c (w Rs) -5 0.02 Rs = a + b (nn) Ra -25 0.058 ETc = kc Eto Dimana ETo : evapotranspirasi 2-30 0.048 (mmlhari), c: faktor penyesuai, w: faktor pemberat, Rs: radiasi matahari Jumlah air yang diberikan secara ekuivalen dengan evaporasi (mmlhari), terputus-putus mengacu kepada a dan b: konstanta radiasi, n: lama pedoman pemberian air yang dilakukan penyinaran aktual (jamlhari), N : rata- di salah satu perusahaan pertanian di rata harian lama penyinaran yang Puncak, Jawa Barat seperti pada Tabel mungkin (jam), ETc : kebutuhan air 3. Pemberian juga dilakukan dengan tanaman (mmlhari) dan kc : koefisien menggunakan dan 2 buah penetes. tanaman. Data radiasi yang digunakan Tabel 3. Pemberian air secara terputusberupa nilai rata-rata radiasi selama 0 putus tahun terakhir (tahun 99 - tahun. Umur Frekuensi Jumlah Lama 200) yang diukur di stasiun Klimatologi pem,e,,n se,iap setlap Darmaga Bogor. (hari (kalilhari) pemberian pemberian Pengaturan laju pemberian (ml) (men~t) tae:$lt) dilakukan dengan mengatur beda tinggi 0-5 50 5 (head) antara penetes yang sudah -5 loo 0 dikalibrasi dengan tabung Mariot. -25 loo 0 50 5 2-30 emiter Lrtntznue 2 emiter n)~jtimre emiter mternirtfm 2 emiter mutnnrrlem 4.4 r *) %, 'te. *.P,,'0 "a 2b\m r& r i lorno%.;.ba'.&ii'rbo* ii ;b.m 'Yh ;m rm s; /ii&rnodrn -7% -aim % s d ~ m jam ke- J Gambar 3. Penyebaran kadar air pada hari ke sesudah tanam

- Vol. 7 No.2, Agustus 2003 sesudah tanam jam ke 2 dan ke 4. Pengamatan penyebaran kadar air Gambar tersebut menunjukkan bahwa media tanam arang sekam dilakukan penyebaran kadar air arang setiap 3 hari dengan interval waktu sekam yang diberi air secara terus pengukuran 2 jam. menerus (continuous) menggunakan 2 Parameter pertumbuhan tanaman buah penetes cenderung lebih melebar Yang ch-f~ati adalah tinggi ~m~f?~an dibandingkan dengan media arang dan Jumlah daun Yang Jugs dilakukan sekam yang diberi air dengan hanya setiap 3 hari. menggunakan buah penetes. Hal in; disebabkan karena media arang sekam HASlL DAN PEMBAHASAN didominasi oleh pori-pori yang berukuran besar (makro) yang tidak Penyebaran Kadar Air dapat menahan banyak air dan Gambar memperlihatkan nempunai kapasitas infiltrasi dan penyebaran kadar air pada hari ke permeabilitas tinggi, sehingga air yang \ L - _ X,." -: 5 9 t 5 8 2 24 27 30! hml to- -- ---- l amla mlinuc 8 2 emmz continue r cmitaiotamittcnt i.,-------! x 2 anit~tnterm~~au~ -e"-kpanlr -- -. -- - Gambar 4. Rata-rata kadar air pada umur tanaman yang berbeda Gambar 5. Tinggi tanaman sejak tanam samapi panen

Gambar. Jumlah daun tanaman kangkung darat diberikan cenderung bergerak vertikal kebawah. Hal yang sama juga terjadi pada media arang sekam yang diberi air secara terputus-putus (intermittent), tetapi dengan pola yang lebih tidak teratur. Rata-rata kadar air media tanam yang diberi air secara terus menerus dan terputus-putus disajikan pada Gambar 4. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa rata-rata kadar air media tanam arang sekam yang diberi air secara terus menerus menggunakan buah penetes (antara 8. % - 0.7 %) lebih rendah dibandingkan dengan Y ang menggunakan 2 buah penetes (antara 9.0 % -.O %) selama periode tanam. Gambar 4 juga menunjukkan bahwa rata-rata kadar air media tanam yang diberi air secara terputus-putus (antara 9. % -.8 %) lebih tinggi dibandingkan dengan yang diberi air secara terus-menerus (antara 8. % -.0 %), tetapi dengan fluktuasi kadar air yang lebih besar. Pertumbuhan Tanaman Gambar 5 memperlihatkan tinggi tanaman kangkung darat sejak tanam hingga masa panen (30 hari). Gambar 5 tersebut memperlihatkan bahwa tanaman kangkung darat yang diberi air secara terus menerus dengan 2 buah penetes (antara.0 cm - 55.3 cm) secara umum lebih tinggi dibandingkan dengan Y ang menggunakan buah penetes (antara.8 cm - 44.7 cm), kecuali pada periode awal masa tanam (sampai umur 9 HST). Tinggi tanaman yang diberi air secara terputus-putus, baik yang menggunakan buah penetes maupun 2 buah penetes (antara 7.7 cm - 5.7 cm), lebih pendek dibandingkan dengan yang diberi air secara terusmenerus (antara.0 cm - 55.3 cm). Pertambahan tinggi tanaman kangkung darat umumnya relatif konstan selama masa tanam sampai mencapai tinggi antara 44.0 cm - 55.3 cm pada masa panen. Hasil tersebut diduga disebabkan oleh penyebaran kadar air dan fluktuasi kadar air. Gambar menyajikan jumlah daun tanaman sejak tanam sampai panen. Gambar tersebut menunjukkan bahwa jumlah daun tanaman kangkung darat yang diberi air secara terus menerus menggunakan 2 buah penetes (antara 2 helai - 5 helai) lebih banyak dibandingkan dengan Y ang menggunakan buah penetes (antara 2 helai - 5 helai), kecuali sampai umur

9 HST. Jumlah daun tanaman yang diberi air secara terputus-putus (antara helai - 0 helai) lebih sedikit dibandingkan dengan dengan yang diberi air secara terus menerus (antara 2 helai - 5 helai), kecuali untuk 2 buah penetes sampai umur 24 HST. Pada saat panen jumlah daun berkisar antara 32-5 helai. Hasil tersebut juga diduga disebabkan oleh penyebaran dan fluktuasi kadar air media tanam arang sekam. KESMPULAN. lrigasi tetes yang diberikan secara terus menerus menggunakan 2 buah penetes memberikan hasil kadar air yang lebih menyebar secara horizontal, tinggi tanaman yang lebih tinggi dan jumlah daun yang lebih banyak dibandingkan dengan yang menggunakan buah penetes. 2. lrigasi tetes yang diberikan secara terus menerus memberikan hasil Vol. 7 No.2, Agustus 2003 yang lebih baik (flutuasi kadar air lebih kecil, tinggi tanaman lebih tinggi dan jumlah daun yang lebih banyak) dibandingkan dengan yang diberikan secara terputus-putus. PUSTAKA Doorenbos,J. dan W.O. Pruitt, 977, Guidelines for Crop Water Requirement, FA0 lrrigation and Drainage Paper, FAO, Rome Hillel, D. (Ed.), 982, Advanced in lrrigation Vol., Academic Press, New Y ork Howell, T.A., F.K. Aljiburi, H.M. Gitlin,. Pai Wu, A.W. Warrick dan P.A.C. Raats, 980, Design and Operation of Trickle (Drip) rrigation, didalam Jensen, M.E. (Ed.), 980, Design and Operation of Farm lrrigation System, ASAE, Michigan. Michael, A.M., 978, lrrigation - Theory and Practice, Vikas Publishing House PVT LTD, New Delhi