BAB III METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
Gambar 3.1 Peta lintasan akuisisi data seismik Perairan Alor

BAB III METODE PENELITIAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pemrosesan awal setelah dilakukan input data seismik 2D sekunder ini adalah

Survei Seismik Refleksi Untuk Identifikasi Formasi Pembawa Batubara Daerah Ampah, Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah

BAB IV METODE PENELITIAN

Pengolahan Data Seismik 2D Menggunakan Software Echos dari Paradigm 14.1

Survei Seismik Refleksi Untuk Identifikasi Formasi Pembawa Batubara Daerah Tabak, Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV METODE DAN PENELITIAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengolahan data pada Pre-Stack Depth Migration (PSDM) merupakan tahapan

BAB II TEORI DASAR (2.1) sin. Gambar 2.1 Prinsip Huygen. Gambar 2.2 Prinsip Snellius yang menggambarkan suatu yang merambat dari medium 1 ke medium 2

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Divisi Geoscience Service PT. ELNUSA Tbk., Graha

BAB IV STUDI KASUS II : Model Geologi dengan Stuktur Sesar

Analisis Pre-Stack Time Migration (PSTM) Pada Data Seismik 2D Dengan menggunakan Metode Kirchoff Pada Lapangan ITS Cekungan Jawa Barat Utara

PERBANDINGAN POST STACK TIME MIGRATION METODE FINITE DIFFERENCE DAN METODE KIRCHOFF DENGAN PARAMETER GAP DEKONVOLUSI DATA SEISMIK DARAT 2D LINE SRDA

BAB I PENDAHULUAN. banyak dieksplorasi adalah sumber daya alam di darat, baik itu emas, batu bara,

III. TEORI DASAR. pada permukaan kemudian berpropagasi ke bawah permukaan dan sebagian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan melalui langkah - langkah untuk memperoleh

BAB I PENDAHULUAN. laut Indonesia, maka ini akan mendorong teknologi untuk dapat membantu dalam

PENGOLAHAN DATA SEISMIK PADA DAERAH BATUAN BEKU VULKANIK

APLIKASI METODE TRANSFORMASI RADON UNTUK ATENUASI MULTIPEL PADA PENGOLAHAN DATA SEISMIK 2D LAUT DI PERARIRAN X

BAB III TEORI DASAR. hasil akuisisi seismik yang dapat dipergunakan untuk pengolahan data seismik.

MODUL PRAKTIKUM. Pengolahan Data Seismik 2D Darat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

PROPOSAL KERJA PRAKTIK PENGOLAHAN DATA SEISMIK 2D MARINE DAERAH X MENGGUNAKAN SOFTWARE PROMAX 2003

BAB II COMMON REFLECTION SURFACE

Wahyu Tristiyoherni Pembimbing Dr. Widya Utama, DEA

Analisis Kecepatan Seismik Dengan Metode Tomografi Residual Moveout

PERALATAN SURVEI SEISMIK DARAT DAN LAUT

SUPRESI MULTIPEL PADA DATA SEISMIK LAUT DENGAN METODE DEKONVOLUSI PREDIKTIF DAN RADON DEMULTIPEL

TEORI DASAR. gelombang ini dinamakan gelombang seismik. Gelombang seismik adalah gelombang elastik yang merambat dalam bumi.bumi

Perbandingan Metode Model Based Tomography dan Grid Based Tomography untuk Perbaikan Kecepatan Interval

Pre Stack Depth Migration Vertical Transverse Isotropy (Psdm Vti) Pada Data Seismik Laut 2D

Koreksi Efek Pull Up dengan Menggunakan Metode Horizon Based Depth Tomography

BAB III MIGRASI KIRCHHOFF

APLIKASI PENGOLAHAN DATA SEISMIK 2D MARINE DENGAN MENGGUNAKAN METODA FK FILTER,SURFACE RELATED MULTIPLE ELIMINATION (SRME) DAN RADON FILTER

3. HASIL PENYELIDIKAN

Migrasi Pre-Stack Domain Kedalaman Dengan Metode Kirchhoff Pada Medium Anisotropi VTI (Vertical Transverse Isotropy)

VARIASI NILAI MIGRATION APERTURE PADA MIGRASI KIRCHOFF DALAM PENGOLAHAN DATA SEISMIK REFLEKSI 2D DI PERAIRAN ALOR

ANALISIS PERBEDAAN PENAMPANG SEISMIK ANTARA HASIL PENGOLAHAN STANDAR DENGAN PENGOLAHAN PRESERVED AMPLITUDE

ANALISA PENAMPANG SEISMIK PRE-STACK TIME MIGRATION DAN POST- STACK TIME MIGRATION BERDASARKAN METODE MIGRASI KIRCHHOFF (Studi Kasus Lapangan GAP#)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. hingga diperoleh hasil penelitian. Data dari hasil akuisisi lapangan

Pengolahan Data Seismik 2 D Menggunakan ProMAX "Area Cekungan Gorontalo"

DAFTAR ISI LEMBAR PERSETUJUAN... LEMBAR PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... ABSTRAK... ABSTRACT... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL...

Analisa Pre-Stack Time Migration (PSTM) Data Seismik 2D Pada Lintasan ITS Cekungan Jawa Barat Utara ABSTRAK

ANALISIS PRE STACK TIME MIGRATION (PSTM) DAN PRE STACK DEPTH MIGRATION (PSDM) METODE KIRCHHOFF DATA SEISMIK 2D LAPANGAN Y CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA

EFISIENSI PENGGUNAAN DINAMIT PADA MINYAK DAN GAS BUMI DALAM SURVEI SEISMIK 3D KABUPATEN INDRAMAYU

BAB 3 METODE PENELITIAN

PRE STACK DEPTH MIGRATION VERTICAL TRANSVERSE ISOTROPY (PSDM VTI) PADA DATA SEISMIK LAUT 2D

ALHAZEN Journal of Physics ISSN Volume 2, Nomor 1, Issue 1, Juli 2015

STUDI PRE-STACK DEPTH MIGRATION PADA STRUKTUR KOMPLEK TUGAS AKHIR I KOMANG ANDIKA ARIS PERMANA NIM:

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Cadzow filtering adalah salah satu cara untuk menghilangkan bising dan

Bab 6. Migrasi Pre-stack Domain Kedalaman. Pada Data Seismik Dua Dimensi

BAB II TEORI DASAR METODE STACK KONVENSIONAL DAN ZERO-OFFSET COMMON-REFLECTION-SURFACE (ZO CRS) STACK

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

TEKNOLOGI SEISMIK REFLEKSI UNTUK EKSPLORASI MINYAK DAN GAS BUMI

PENGOLAHAN DATA SEISMIK PADA DAERAH BATUAN VULKANIK

ANALISA KECEPATAN DATA SEISMIK REFLEKSI 2D ZONA DARAT MENGGUNAKAN METODE SEMBLANCE

MODEL KECEPATAN MENGGUNAKAN HORIZON VELOCITY ANALYSIS DAN PENYELARASAN DENGAN DATA SUMUR TUGAS AKHIR FADHILA NURAMALIA YERU NIM:

Perbaikan Model Kecepatan Interval Pada Pre-Stack Depth Migration 3D Dengan Analisa Residual Depth Moveout Horizon Based Tomography Pada Lapangan SF

III. TEORI DASAR. Metode seismik memanfaatkan penjalaran gelombang seismik ke dalam bumi.

BAB III METODE PENELITIAN

IERFHAN SURYA

UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS PROSES PRE-STACK TIME MIGRATION DAN POST-STACK TIME MIGRATION DI LAPANGAN X DI DAERAH SUMATERA SELATAN

Pre Stack Depth Migration Vertical Transverse Isotropy (PSDM VTI) pada Data Seismik Laut 2D

Analisis Perbandingan PSTM dan PSDM Dalam Eksplorasi Hidrokarbon di Lapangan SBI

Refraksi Picking First Break

BAB III TEORI DASAR. Metode seismik refleksi merupakan suatu metode yang banyak digunakan dalam

PEMODELAN BAWAH PERMUKAAN METODE PRE-STACK TIME MIGRATION (PSTM) ISOTROPY DAN METODE PSTM ANISOTROPY HIGH ORDER MOVEOUT (HOM)

BAB IV ANALISIS DAN HASIL

PERBANDINGAN PENCITRAAN PENGOLAHAN DATA SEISMIK METODA KONVENSIONAL DENGAN METODA CRS (COMMON REFLECTION SURFACE)

Migrasi Domain Kedalaman Menggunakan Model Kecepatan Interval dari Atribut Common Reflection Surface Studi Kasus pada Data Seismik Laut 2D

III. TEORI DASAR. disebabkan oleh vibrasi selama penjalarannya. Kecepatan gelombang dalam

Keywords: offshore seismic, multiple; Radon Method; tau p domain

ELIMINASI ARTEFAK DALAM PENAMPANG SEISMIK DENGAN TAHAPAN PENGOLAHAN DATA SEISMIK MULTICHANNEL DI AREA BONE LINE 1

ATENUASI MULTIPLE SEISMIK REFLEKSI LAUT MENGGUNAKAN METODE FILTERING RADON PADA PERAIRAN X

IV. METODE PENELITIAN

PENERAPAN METODE COMMON REFLECTION SURFACE PADA DATA SEISMIK LAUT 2D DI LAUT FLORES

III. TEORI DASAR. gelombang akustik yang dihasilkan oleh sumber gelombang (dapat berupa

PENERAPAN METODE F-K DEMULTIPLE DALAM KASUS ATENUASI WATER-BOTTOM MULTIPLE

APLIKASI METODE COMMON REFLECTION SURFACE (CRS) UNTUK MENINGKATKAN HASIL STACK DATA SEISMIK LAUT 2D WILAYAH PERAIRAN Y

BAB IV METODE PENELITIAN

Reduksi Long Period Multiple dengan Menggunakan Metode High-Resolution Radon Demultiple (RAMUR) Pada Data Seismik Darat 2D

BAB III COMMON-OFFSET COMMON-REFLECTION-SURFACE (CO CRS) STACK

Ringkasan Tugas Akhir/Skripsi

PENERAPAN METODE COMMON REFLECTION SURFACE (CRS) PADA DATA SEISMIK LAUT 2D DI LAUT FLORES

Koreksi Struktur Lapangan LP dengan Menggunakan Metode Pre Stack Depth Migration (PSDM)

Desain Parameter Akusisi Seismik 3D Menggunakan Metode Statik dan Dinamik dengan Study Kasus Model Geologi Lapangan ITS

PENERAPAN DEKONVOLUSI SPIKING DAN DEKONVOLUSI PREDIKTIF PADA DATA SEISMIK MULTICHANNEL 2D DI LAUT FLORES ALFRIDA ROMAULI

KOREKSI EFEK PULL-UP ANOMALY MENGGUNAKAN METODE PRE STACK DEPTH MIGRATION (PSDM) DI LAPANGAN X SUBANG, JAWA BARAT SKRIPSI

BAB III TEORI DASAR. Prinsip dasar metodee seismik, yaitu menempatkan geophone sebagai penerima

ATENUASI NOISE DENGAN MENGGUNAKAN FILTER F-K DAN TRANSFORMASI RADON PADA DATA SEISMIK 2D MULTICHANNEL

Imaging Subsurface Menggunakan Metode Crs: Study Kasus pada Steep Dip Reflector dan Data Low Fold

BAB III TEORI DASAR Tinjauan Umum Seismik Eksplorasi

ANALISIS APERTURE UNTUK MENINGKATKAN HASIL STACKING PADA METODE COMMON REFLECTION SURFACE STACK

UNIVERSITAS INDONESIA ATENUASI MULTIPLE DENGAN MENGGUNAKAN METODE FILTERING RADON PADA COMMON REFLECTION SURFACE (CRS) SUPERGATHER SKRIPSI

SEISMIC DATA PROCESSING

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI PROGRAM STUDI GEOFISIKA JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

Transkripsi:

BAB III METODE PENELITIAN Pengolahan data seismik bertujuan untuk mendapatkan hasil penampang yang maksimal. Adanya pengaruh lapisan miring maka dilakukan proses migrasi untuk mengembalikan posisi reflektor hasil rekaman ke posisi yanng sebenarnya. Sebelum pada tahapan koreksi migrasi maka data diolah terlebih dahulu dengan koreksi-koreksi lain. Setelah data di migrasi diharapkan menghasilkan penampang yang baik. Adapun alur penelitian yang dilakukan dalam pengolahan data adalah sebagai berikut: 3.1. Alur Penelitian Dalam penelitian ini migrasi dilakukan setelah stacking dengan menggunakan metode finite difference dan metode Kirchhoff terhadap data seismik refleksi 2D darat yang selanjutnya membandingkan hasil migrasi dari kedua metode tersebut. Maka dibuat alur penelitian sebagai langkah-langkah koreksi terhadap data seismik untuk mencapai tujuan penelitian. Adapun alur penelitian tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.1 dengan dua proses yang digunakan. Tahap yang pertama alur pengolahan data dimulai dari preprocessingyaitu mempersiapkan suatu data seismik denganmengoreksi dan menghilangkan semua kemungkinan noise yang mengganggu selanjutnya koreksi analisis kecepatan dan residual statik sampai tahap preconditioning yaitu menghilangkan kembali semua kemungkinan noise yang masih tersisa sehingga diharapkan data sudah tidak terdapat noise sebelum proses stacking dan migrasi. Tahap selanjutnya yang merupakan fokus dari penelitian terdiri dua tahap proses stackingyaitu stackingtanpa DMO dan stackingdengan DMO. Selanjutnya melakukan migrasi dengan dua metode finite difference dan metode Kirchhoff. 28

29 Data Pre-Processing - Denoise - Dekonvolusi Processing Analisis kecepatan yang pertama Residual Statik yang pertama Analisis kecepatan yang kedua Residual Statik yang kedua Preconditioning Stacking dan DMO Stacking Post Stack Migrasi Finite Difference Dan Migrasi Kirchhoff Kesimpulan Dan Saran

30 Gambar 3.1. Diagram alur penelitian pengolahan data seismik 2D 3.2. Metode Penelitian Penelitian dilakukandengan tidak melakukan akuisisi secara langsung.pengolahan data dilakukan sesuai dengan flowchart processingdata seismik pada Gambar 3.1yang dimulai dari preprocessing sampai pada tahap migrasi setelah stack dan didapat hasil penampang dari data seismik. Penelitian dilakukan di divisi Geo Data Processing (GDP), PT. Elnusa Tbk, Jakarta. Penelitian yang dilakukan peneliti terhadap data seismik 2D land menggunakan bantuan softwaregeovecture 5.1 dari Compaignie Generale de Geophysics (CGG) pada komputer dual monitor dengan operating system (OS) Linux Redhat. Perangkat lunak yang digunakan yaitu Kereon terlihat pada Gambar 3.2 yang merupakan direktori projectberisidata dalam bentuk cdp gather yang terkoreksi geometri yang akan diproses serta memuat keterangan data berupa tipe, nama, deskripsi project. Gambar 3.2. Tampilan software Kereon Master. 3.3. Data Penelitian

31 Data penelitian yang diperoleh merupakan data seismik refleksi 2D pada data seismik darat dari lapangan H hasil akuisisi dari PT Pertamina EP. Line F yang sudah terkoreksi geometri dalam bentuk gather CDP. Data akuisisi dari PT Pertamina EP dengan informasi-informasi observer report diketahui beberapa parameter lapangan sebagai berikut : Tabel 3.1. Spesifikasi tipe sumber gelombang (Subianto, 2012) Source Type Averange Charge Depth Charge Size Shotpoint Interval Keterangan Dynamite 30 m 4 Kg 60 m No. Of Holes / Shot 1 Tabel 3.2. Spesifikasi perekam (Subianto, 2012) Receiver Type Receiver Interval Keterangan Geophone 30 m No. Of Channels 280 Maximum Far Offset Near Offset Spread 8400 m 15 m Off-end

32 Gambar 3.3. Konfigurasisplit spread offend yang digunakan dalam penelitian Akuisisi seismik diperlukan adanya sebuah perekam yaitugeophoneyang pada umumnya digunakan pada survei darat, geophone melakukan perekaman dengan mengukur kecepatan atau gerakan pertikel batuan dari suatu medium. Ketika gelombang seismik menjalar pada lapisan - lapisan bumi maka bumi ikut bergetar dan menyebabkan bergeraknya kumparan dalam geophone yang menghasilkan energi listrik yang sesuai dengan kecepatan gerak kumparan terhadap magnet. Sedangkan sumber yang digunakan pada umumnya untuk survei seismik darat yaitu menggunakan dinamit. Konfigurasi yang digunakan yaitu offendpada Gambar 3.3 yang bertujuan memdapatkan rekaman yang lebih dalam dari lapisan bumi. Tabel 3.3. Recording instrument (Subianto, 2012) Recording Instrument Keterangan Type SERCEL-SN 248 XL Recording Length 9000 ms Sampling Interval 2 ms CDP 1800-4274 Sistem perekaman menggunakan instrumen tipe SERCEL-SN 248 XL, secara umum sistem perekamannya yaitu sumber gelombang yang direfleksikan dari dalam bumi direkam oleh geophone yang selanjutnya dikirim ke CDP Switch

33 melalui kabel kemudian dimasukan kedalam preamplifier disini hasil rekaman mengalami filter terhadap sinyal, diperkuat sinyalnya dan dikonverter menjadi bentuk digit serta direkam pada pita berupa seismogram yang akan selanjutnya dilakukan pengolahan data. 3.4. Preprocessing Processing data seismik hasil akuisisi merupakan dimaksudkan untuk mendapatkan hasil gambaran bawah permukaan serta menyiapkan sebuah data dengan resolusi yang lebih baik sebelum dilakukan proses selanjutnya.denoiseadalah proses untukmenghilangkannoise-noise yang terdapatdalamrekaman data seismik.noiseinibisaberupagroundroll, multiple, atauakibatlapisan-lapisantertentu di bawahpermukaan dengan menggunakan random atenuasi noise dan smoothing amplitudosementaradekonvolusi yaitu menghilangkan pengaruh multiple dan memperbaiki wavelate sehingga sesuai dengan bentuk lapisan bumi. Dekonvolusi dilakukan dengan menggunakan metode prediktive deconvolutiondengan memprediksi bagian-bagian yang diakibatkan pengaruh multiple pada trace yang akan dihilangkan sehingga hanya menunjukan sinyal refleksi. Parameter predictivedeconvolution yang digunakan menggunakan gap 12ms dan panjang operator 160ms yang memberikan stack maksimal. Gambar 3.4 yang merupakan spektrum amplitudo rata-rata dari hasil setelah dilakukan perekaman terhadap sumber, secara keseluruhan pada gambar bagian (a) merupakan data hasil perekaman yang masih terdapat noise berupa gelombang langsung dan data berupa rekleksi pada gambar 3.4 memperlihatkan spektrum amplitudo terhadap kedalaman semakin melemah karena pengaruh lapisan bumi bersifat sebagai filtering yang membuat pelemahan terhadap energi dari gelombang. Proses selanjutnya gambar bagian (b) dilakukan menghilangkan noise dengan melakukan muting untuk mempersiapkan data sebelum dilakukan dekonvolusi. Mute dilakukan untuk menghilangkan efek dari gelombang langsung yang merupakan sebuah noise. Selanjutnya pada bagian (c) yaitu tahap

34 dekonvolusi dengan memilih nilai frekuensi yang digunakan gambar memperlihatkan nilai spektrum amplitudo yang semakin ke bawah semakin terlihat ini artinya amplitudo dari gelombang seismik semakin kuat dan menunjukan hasil rekaman dari respon gelombang seismik terhadap kedalaman. Proses dekonvolusi yang memperbaiki wavelet seismik sehingga sesuai dengan reflektivitas bumi juga membuat penampang spektrum amplitudo dari respon gelombang terhadap lapisan bumi semakin terlihat. a b c Gambar 3.4. spektrum amplitudo rata-rata hasil perekaman yang dilakukan denoise dan dekonvolusi (Yilmaz, 1987). 3.5. Analisis Kecepatan Picking dilakukan untuk mencari nilai kecepatan yang tepat dan digunakan untuk proses NMO. Velcom pada gambar 3.5 berisi tampilan berupa semblance, stack section, gather section, dan velcom section. Analisis kecepatan yang pertama digunakan konsep ConstansVelocity (VC) yang berarti dalam komputasi bahwa nilai kecepatan semakin ke kanan akan semakin bertambah dan tetap konstan ke arah bawah sehingga dilakukan picking kecepatan dari kiri ke kanan bawah hal ini dilakukan untuk menghindari reverse velocity. Reverse merupakan

35 kecepatan picking berikutnya akan bernilai rebih rendah dibandingkan picking sebelumnya. Pada picking kecepatan ini digunakan interval sebesar 1 km. Parameter dalam picking yang digunakan dalam penentuan analisis kecepatan yang pertama ini yaitu spektrum amplitudo yang koherensinya paling tinggi, stack yang paling kuat, dan CDP gather yang paling datar. picking analisis kecepatan yang kedua pada dasarnya sama namun ada perbedaan pada analisis kecepatan yang kedua dari tahap yang pertama yaitu konsep yang digunakan ialah konsep VariabelVelocity (VV) sehingga dalam komputasinya tidak harus melakukan mencari nilai dari kiri ke kanan bawah. Namun diharapkan menyerupai garis lurus ke bawah. Nilai velocity dari kanan dan kebawah akan semakin bertambah. Gambar 3.5. Tampilan applywork picking analisis kecepatan dalam window kerja ini terdapat semblance, gather section, velcom section, dan stack section

36 Gambar 3.6 koreksi NMO (Yilmaz, 1987). Gambar 3.6 menunjukan bahwa dari persamaan 6untuk melakukan koreksi NMO pada CDP yang sama sehingga jarak sudah diketahui maka memilih nilai kecepatan untuk tiap lapisan sehingga akan mendapatkan nilai pertambahan waktu yang akan digunakan melakukan move outuntuk menghilangkan pengaruh offset. (a) Gambar 3.7. (a) sebelum proses NMO (b) hasil setelah dilakukan proses NMO. 3.6. Residual Statik Residual statik dilakukan pada pengolahan data yang merupakan lanjutan yang dilakukan pada tahap sebelumnya yaitu koreksi statik. Pada tahap koreksi statik mungkin masih ada file yang belum terkoreksi atau masih dalam keadaan posisi statiknya. Maka untuk koresi statik selanjutnya digunakan tahapan residual statik. Residual statik dimaksudkan memperbaiki posisi wavelet pada trace seismik. Faktor topografi mengakibatkan gelombang seismik membentuk kurva hiperbolik yang tidak sempurna, penyimpangan wavelet dari bentuk hiperbolik pada CDP gather Gambar 3.8 mengakibatkan tidak maksimal yang membuat hasil (b)

37 picking menjadi jelek dan membuat refleksi menjadi kurang fokus. Residual statik yang digunakan menggunakan konsep dari surface consistent static dengan cara menggeser sumber dam perekam secara vertikal sehingga posisi trace yang lebih selaras. Pergeseran statik merupakan selisih waktu yang bergantung pada kondisi sumber dan penerima di permukaan. Hal ini dapat digunakan jika gelombang seismik (tidak memperhitungkan jarak antara sumber dan dan penerima) menjalar secara vertikal pada lapisan dekat permukaan. Karena laipsan dekat permukaan biasanya merupakan lapisan lapuk dan gelombang merambat dengan kecepatan yang rendah sehingga refraksi pada dasar lapisan tersebut cenderung membentuk jalur vertikal. Gambar 3.8. Proses residual statik dengan melakukan pergeseran pada data sehingga menjadi flat. 3.7. Stacking Proses sebelum melakukan migrasi dengan teknik post migration adalah stacking yang dilakukan pada hasil gather final, stacking ini merupakanstacking CDP dengan penjumlahan trace seismik pada satu CDP yang sama untuk membuat sinyal seismik semakin jelas. Proses stacking ini pula dapat menghilangkan noise-noise yang masih ada karena penguatan sinyal tersebut. Tahap stacking dilakukan dua tahap yaituuntukstacking tanpa menggunakan koreksi DMO danstacking dengan menggunakan koreksi DMO. 3.7.1. Koreksi DMO

38 Proses DMO merupakan koreksi yang digunakan untuk membuat sinyal seismik berada pada CDP yang sama, hal ini terjadi karena adanya lapisan miring yang ada pada struktur bawah permukaan sehingga sinyal-sinyal seismik yang terpantul dari lapisan miring ini akan berpindah ke arah atas dari CDP. Maka dengan koreksi DMO ini sinyal-sinyal seismik yang berpindah ke arah atas ini dikembalikan pada CDP. Hal ini biasa disebut juga dengan keadaan zerooffset. DMO pada dasarnya prosesnya sama seperti NMO. Gambar 3.9 menunjukan hasil dari koreksi DMO, secara keseluruhan CDP gather sebelum koreksi memperlihatkan bentuk trace yang kurang begitu teliti dan fokus dan spektrum amplitudo tidak terlihat tajam serta jelas dan setelah dilakukan koreksi DMO trace yang merupakan gelomabng refleksi atau data yang diharapkan terlihat dengan semakin jelas dan tajam serta lebih fokus dengan amplitudo yang lebih tebal. Hal ini diduga karena faktor moveout pada lapisan miring yang membuattitik reflektor berpindah ke arah atas di geser kembali pada titik CDP yang sesuai dengan CMP. (a) (b) Gambar 3.9. CDP gather (a) sebelum dilakukan koreksi DMO (b) dan setelah koreksi DMO (Yilmaz, 1987).

39 3.8. Tahap Migrasi Tahap akhir dalam pengolahan data ini adalah migrasi, teknik migrasi yang digunakan adalah post stack migration dalam domain waktu. Post stack migration dilakukan setelah proses stacking dengan hasil dari stacksection digunakan sebagai masukan pada tahap migrasi. Migrasi merupakan suatu langkah memindahkan reflektor semu hasil rekaman ke keadaan reflektor yang sebenarnya yang merupakan kemungkinan reflektor yang bersifat miring dan efek difraksi. Metode migrasi yang digunakan dilakukan untuk migrasi Kirchhoff dan migrasi finitedifference. Migrasi Kirchhoff didasari pada penjumlahan amplitudo trace-trace seismik maka untuk proses migrasi dalam praktiknya parameter yang digunakan yaitu aperture width yaitu untuk penjumlahan dari kurva difraksi artinya bahwa dengan memberikan nilai aperture width ini diharapkan data termigrasi dengan berapa trace yang dijumlahkan dan maksimum kemiringan operator yang digunakan yang artinya bahwa adanya faktor kemiringan dari setiap reflektor maka kemungkinan migarsi dari yang diperlukan pada bidang miring. Kombinasi dari kedua parameter ini menghasilkan migrasi yang diharapkan. Dalam penelitian ini nilai aperture yang digunakan yaitu 5 km, dan variasi DIPLIM yaitu maksimum kemiringan operator migrasi dari 35 o sampai 85 o, DIPLIMmerupakan nilai maksimum yang digunakan operator untuk keadaan kemungkinan adanya reflektor miring. DIPLIM yang digunakan ditunjukan dengan derajat berkisar antara 0 o sampai dengan 180 o. Semua nilai yang lebih besar dari nilai diplim yang diberikan akan dipotong dalam operator dan variasi dari APERCDP yang digunakan yaitu 4000 m, 6000 m, dan 8000 m dimana APERCDP merupakan target kedalaman yang akan dimigrasi atau tujuan migrasi berdasarkan kebutuhan data atau hasilyang ingin diperoleh. Selanjutnya dengan menggunakan metode migrasi finitedifference yang didasarkan pada konsep downwardcontinuitas maka parameter untuk finitedifference ini yang penting adalah pemilihan nilai kedalaman yang dipilih dengan baik seperti diketahui bawah konsep dari migrasi ini bawah perekam

40 seolah olah diturunkan setiap tahapan sehingga dipilih penurunan secara bertahap secara tetap, parameter komputasinya berupa TAU yang merupakan interval terhadap perulangan dari operator dalam modul migrasi finitedifference. Dalam penelitian ini digunakan variasi parameter untuk metode finite difference dengan nilai 12 ms, 24 ms, dan 30 ms. (a) (b)

41 Gambar 3.10. hasil penampang dari proses migrasi (a) finite difference (b) Kirchhoff