BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGEMBANGAN SISTEM AUTHORITY CONTROL TERINTEGRASI DALAM PROSES BISNIS PERPUSTAKAAN

2015 HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN WEBPAC DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN INFORMASI PEMUSTAKA DI UPT PERPUSTAKAAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (ITB)

IMPLEMENTASI BAHASA INDEKS

BAB 1 PENDAHULUAN. perpustakaan adalah adanya proses temu kembali informasi, yang secara spesifik

RANCANGAN SISTEM AUTHORITY CONTROL DI PERPUSTAKAAN NASIONAL RI TRIANI RAHMAWATI

BAB III PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN ARSIP PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA UTARA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perpustakaan jika si pencari informasi di perpustakaan belum mengetahui

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BIBLIOGRAFI BERANOTASI SKRIPSI BERTAJUK ISLAM DI MINANGKABAU TAHUN KOLEKSI PERPUSTAKAAN FAKULTAS ADAB IAIN IMAM BONJOL PADANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nia Hastari, 2015

Modul VIII PERPUSTAKAAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Visi Misi

MENENTUKAN SKALA PRIORITAS SISTEM INFORMASI LAYANAN OPAC STUDI KASUS DI BADAN PERPUSTAKAAN UMUM DAN ARSIP DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG

2.2 Tujuan dan Fungsi Katalog Tujuan Katalog Semua perpustakaan mempunyai tujuan agar koleksi yang dimiliki

Temu Kembali Informasi dengan keyword (Studi deskriptif tentang sistem temu kembali informasi dengan controlled vocabulary

KATALOGISASI : bagian dari kegiatan pengolahan bahan perpustakaan Sri Mulyani

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat luar biasa bagi kehidupan masyarakat banyak. Perkembangan ilmu

BAB I PENDAHULUAN. perpustakaan harus memiliki strategi yang tepat sebagai penyedia informasi agar

PRALARAS (PRECOORDINATION) VS PASCALARAS (POSTCOORDINATION) DALAM TAJUK SUBJEK DAN KATALOG SEBAGAI TITIK AKSES. Vivit Wardah Rufaidah

EVALUASI TAMPILAN OPAC DI PERPUSTAKAN PUSAT UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

OTOMASI PERPUSTAKAAN: Alasan Otomasi dan Kontribusi Bagi Perpustakaan Oleh : Sri Wahyuni Pustakawan STMIK AKAKOM Yogyakarta BAB I PENDAHULUAN

PERKEMBANGAN KATALOG PERPUSTAKAAN SEBAGAI SARANA TEMU KEMBALI INFORASI. Nanik Arkiyah

BAB 1 PENDAHULUAN. Penerapan teknologi informasi saat ini menyebar hampir di semua bidang termasuk di

2015 HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN WEBPAC DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN INFORMASI PEMUSTAKA DI UPT PERPUSTAKAAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (ITB)

Pemanfaatan Online Public Access Catalogue (OPAC) Sebagai Sarana Sistem Temu Balik Pada Perpustakaan

PERILAKU PEMUSTAKA DALAM TEMU KEMBALI KOLEKSI DENGAN MENGGUNAKAN OPAC BERBASIS SliMS (Studi Kasus di Perpustakaan STAIN Ponorogo)

TEMU KEMBALI BAHAN PUSTAKA DI PERPUSTAKAAN STKIP PGRI SUMBAR

BAB I PENDAHULUAN. jika tidak ada layanan. Layanan perpustakaan merupakan salah satu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ataupun gudang penyimpanan buku yang hanya berfungsi untuk menampung. buku-buku tanpa dimanfaatkan semaksimal mungkin.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB III LANDASAN TEORI. Bahasa inggris, pembaca tentunya mengenal istilah Library. Istilah ini berasal

BAB IV PEMBAHASAN MASALAH. maka UPT Perpustakaan Universitas Negeri Yogyakarta menerapkan. bahan pustaka perpustakaan. Untuk menunjang sistem automasi

Pengolahan Data Buku Perpustakaan dengan Sistem Otomasi

Disyaratkan menggunakan teknologi telekomunikasi dan computer

3. Pengindeksan Dokumen

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PELATIHAN KLASIFIKASI BUKU DAN PEMBUATAN KARTU KATALOG BUKU BAGI PETUGAS PERPUSTAKAAN SEKOLAH TINGKAT SEKOLAH DASAR (SD) DI KOTA SINGARAJA.

BAB IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan semakin berharganya nilai sebuah informasi dan semakin

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Sistem Informasi di Perpustakaan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

KATALOGISASI. M Hadi Pranoto, SIP. BIMTEK Katalogisasi Desember 2017

TINJAUAN TENTANG PENGGUNAAN OPAC DI PERPUSTAKAAN POLTEKKES KEMENKES RI PADANG

PETUNJUK TEKNIS INVENTARISASI KOLEKSI PERPUSTAKAAN

PEMANFAATAN ONLINE PUBLIC ACCESS CATALOG (OPAC) UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS LAYANAN DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NEGERI PADANG

BAB IV PEMBAHASAN. merupakan layanan yang sangat penting dengan layanan-layanan yang ada di

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Universitas Sumatera Utara

BAB III TINGKAT KESESUAIAN DESKRIPSI BIBLIOGRAFI BAHAN MONOGRAF DENGAN AACR2 PADA PERPUSTAKAAN INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI TD PARDEDE MEDAN

AUTOMASI PERPUSTAKAAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. (Sulistyo-

BAB II ONLINE PUBLIC ACCESS CATALOG (OPAC)

Indexing dan Bahasa Penelusuran

Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berarti kumpulan buku-buku (Daryanto, 1986: 1). Dalam bahasa inggris perpustakaan disebut library, istilah ini berasal

PEMBUATAN INDEKS ENSIKLOPEDI KOLEKSI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KOTA PADANG PANJANG

PEMBUATAN INDEKS BERANOTASI JURNAL ILMIAH BIDANG HUMANIORA DI PERPUSTAKAAN KOPERTIS WILAYAH X

AACR2Revisi 2002 pemuktahiran 2005 Suharyanto Pustakawan pada Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan Pustaka

BAB I PENDAHULUAN. yang disimpan di perpustakaan, dimulai dari perpustakaan tradisional yang

TINJAUAN TERHADAP KEBERADAAN BAHAN PUSTAKA DI RAK DAN DI DALAM DATABASE DIGILIB PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2015 STUD I TENTANG KOMPETENSI PENGELOLAAN INFORMASI TENAGA PERPUSTAKAAN SEKOLAH

oleh: HETTY GULTOM, S.Sos.

TES. Pustakawan Dalam Pengelolaan Database. Atas bantuan Bapak/Ibu/Sdr saya. 2. Nama BapakIbu/Sdr tidak perlu dicantumkan.

BAB III LANDASAN TEORI. Kata perpustakaan berasal dari kata pustaka, yang berarti: kitab,bukubuku,

EFEKTIVITAS OPAC PERPUSTAKAAN UMUM KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2013 (TINJAUAN RECALL DAN PRECISION)

KATALOGISASI. M Hadi Pranoto, SIP. BIMTEK Perpustakaan Sekolah 18 April 2018

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Oleh Nia Hastari Doddy Rusmono Dini Suhardini

Pokok-pokok Pikiran Mengenai Perpustakaan Tahun 2000an 1

OPAC Perpustakaan ITS Surabaya SKRIPSI

TUGAS AKHIR LAPORAN PRODUK BIBLIOGRAFI KOLEKSI BUKU DENGAN SUBYEK ILMU PERTANIAN DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Analisis Masalah Mengenai Alasan Pemilihan Aplikasi Open Source

PELAYANAN SIRKULASI DI PERPUSTAKAAN IPB. Oleh: Ir. Rita Komalasari

MENGENAL LEBIH JAUH SIPISIS VERSI WINDOWS

BAB II SISTEM PENGATALOGAN BAHAN PUSTAKA. Menurut Sulistyo Basuki ( 1994 : 324 ) pengatologan adalah proses menyusun entri bagian katalog.

IMPLEMENTASI ALGORITMA BRUTE FORCE DALAM PENCARIAN DATA KATALOG BUKU PERPUSTAKAAN

PETUNJUK TEKNIS INPUT DATA TERBITAN BERKALA MAJALAH/ JURNAL/ BULETIN/ TERBITAN BERKALA LAINNYA Untuk Tingkat Deskriptor Pustaka

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

DATABASE PERPUSTAKAAN

BAB I PENDAHULUAN. oleh perpustakaan. Ketersediaan Online Public Access Catalog (OPAC)

Sumber Informasi. Sugeng Priyanto LOGO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PEMBUATAN BIBLIOGRAFI BERANOTASI KOLEKSI BAHAN AJAR DI PERPUSTAKAAN POLITEKNIK AKADEMI TEKNOLOGI INDUSTRI PADANG

ANALISIS SUBJEK VERBAL

BAB V ANALISIS HASIL PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan informasi diiringi dengan perkembangan teknologi yang disebut

PERKEMBANGAN PENGINDEKSAN SUBYEK. Pengindeksan kata Derivative indexing. 1. Pengindeksan konsep Assignment indexing

Katalog dan Minat Baca

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah

MAANFAAT PENDIDIKAN PEMAKAI DALAM PENGGUNAAN KATALOG UPT PERPUSTAKAAN POLITEKNIK NEGERI MANADO OLEH MAHASISWA

BAB II PENGOLAHAN BAHAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB III LANDASAN TEORI. mencapai suatu tujuan tertentu. Menurut Jerry Fith Gerald (1981:5) Sistem

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi, sudah sejak lama memiliki sarana penelusuran informasi yaitu dengan menggunakan katalog sebagai sarana temu balik informasi. Katalog perpustakaan yang dikelola dengan baik berdasarkan peraturan katalogisasi yang sesuai dengan kebutuhan perpustakaan serta dianut secara taat azas, memungkinkan pemakai perpustakaan menemukan informasi yang dibutuhkannya melalui berbagai cara pendekatan. Cara pendekatan yang banyak digunakan antara lain melalui : judul, pengarang atau subjek. Ketiga pendekatan tersebut selama ini yang menjadi acuan untuk temu kembali dokumen di rak penyimpanan. Berbagai pendekatan ini menandakan bahwa fungsi utama perpustakaan adalah menyajikan dan memberikan pelayanan informasi seluas-luasnya kepada sebanyak-banyaknya pengguna dapat tercapai. Seiring dengan perkembangan teknologi yang ada dan dengan mulai berkembangnya Online Public Access Catalogue (OPAC) dan katalog online, maka diperlukan sebuah sistem temu kembali yang lebih efektif untuk menelusur koleksi yang ada. Ketiga titik akses temu kembali informasi di perpustakaan meskipun sudah cukup memadai, namun masih banyak pengguna yang tidak dapat menemukan dokumen yang benar-benar sesuai dengan keinginannya. Dengan jumlah dokumen yang sangat banyak dengan subjek yang sama, nama penulis yang sama namun menulis buku dengan subjek berbeda, membuat waktu yang diperlukan untuk menemu-balik dokumen yang diperlukan semakin lama. Untuk memudahkan penelusuran perpustakaan kemudian mengembangkan sebuah sistem untuk mengendalikan istilah atau authority control yang dapat saling menghubungkan istilah yang memiliki arti dan makna yang sama. Konsep authority control dalam sistem katalogisasi bahan pustaka adalah untuk memenuhi salah satu fungsi katalog, yaitu fungsi kolokatif. Seperti diketahui, katalog dalam perpustakan memiliki 2 fungsi, yaitu :

2 1. Sebagai sarana yang memungkinkan seseorang menemukan suatu bahan pustaka tertentu melalui pendekatan pengarang, judul atau subjek. 2. Sebagai sarana pengumpul, yang berarti memungkinkan pemustaka untuk mengetahui apakah ada karya tertentu dari pengarang tertentu yang menjadi koleksi perpustakaan. Tujuan dibuatnya authority control adalah untuk meningkatkan hasil temu kembali dengan menyediakan konsistensi pada bentuk-bentuk tajuk yang digunakan, untuk mengidentifikasi pengarang, badan korporasi, wilayah, judul seragam, seri dan subjek. Authority control dirancang dengan menggabungkan konsep thesaurus dan tajuk subjek. Sulistyo-Basuki (2009) menjelaskan perbedaan thesaurus dengan tajuk subjek, dilihat dari segi struktur, sebuah thesaurus memaparkan melalui struktur sinonim, hubungan hierarkis dan lainnya antara istilah-istilah yang bersama-sama membentuk sebuah bahasa pengindeksan. Sedangkan tajuk subjek tidak menjelaskan secara eksplisit hubungan hierarkis masing-masing tajuk subjek karena senarai tajuk subjek merupakan daftar tajuk subjek yang disusun menurut abjad. Marais (2004) menyebutkan bahwa tanpa authority control proses pencarian informasi di perpustakaan tidak akan efektif. Ferguson (2005) juga menyebutkan bahwa penelusuran melalui pengarang dan subjek tidak akan efisien jika tidak ada fungsi cross-reference dan konsistensi dalam penentuan istilah. Fungsi crossreference dan konsistensi ini merupakan keunggulan dari authority control, sehingga pada saat pengguna melakukan penelusuran dengan istilah yang berlainan/memiliki arti yang sama tetapi bukan merupakan istilah kendali, maka akan di arahkan pada subjek yang merupakan istilah kendali. Dalam authority control melekat struktur seperti pada thesaurus, yakni adanya istilah-istilah yang dipergunakan untuk menyatakan hubungan hierarkis dari masing-masing deskriptor. Hubungan hierarkis tersebut berupa See/Lihat, See Also (SA)/Lihat Juga (LJ), Scope Note (SN)/Ruang Lingkup (RL), Used For (UF)/Gunakan Untuk (GU), Broader Term (BT)/Istilah Luas (IL), Narrower Term (NT)/Istilah Sempit (IS), dan Related Term (RT)/Istilah Berkait (IB). Hubungan ini membuat suatu subjek bisa terlihat keterkaitannya dalam sebuah blok kata (word block), dengan blok kata ini pengguna pada saat melakukan temu kembali

3 informasi diberikan alternatif untuk menelusur informasi dengan subjek yang saling berhubungan dan mengidentifikasikan istilah tambahan untuk pencarian. Sulistyo-Basuki (2009) menyebutkan tiga macam hubungan dalam authority control, yaitu : 1. Hubungan ekuivalensi, yang menunjukkan antar istilah terpilih dan tidak terpilih, mencakup hubungan sinonim dan kuasisinonim. Hubungan ini dinyatakan dengan See/Lihat, See Also (SA)/Lihat juga (LJ), Use/Gunakan dan Used for (UF)/Gunakan Untuk (GU) 2. Hubungan hierarkis, hubungan antara konsep umum dan khusus. Hubungan ini dinyatakan dengan Broader Term (BT) / Istilah Luas (IL) dan Narrower Term (NT) / Istilah Sempit (IS) 3. Hubungan asosiatif, hubungan antar istilah yang tidak ekuivalen namun secara semantik dan konseptual saling berhubungan. Hubungan ini dinyatakan dengan Related Term (RT) / Istilah Berkait (IB) Selain untuk mengendalikan subjek, authority control juga berfungsi untuk mengendalikan nama (orang, wilayah, badan korporasi/lembaga negara, judul seragam). Untuk memudahkan penelusuran perpustakaan kemudian mengembangkan sebuah sistem untuk mengendalikan istilah (authority control). Adapun lembaga yang pertama kali mengembangkan authority control adalah Library of Congress (LC). LC mengembangkan Library of Congress Authorities (LCA) dengan berpedoman pada Library of Congress Subject Heading (LCSH). LCSH dibuat oleh United States Library sebagai daftar terminologi yang digunakan sebagai tajuk kendali pada katalog perpustakaan, setiap tajuk kendali dilengkapi dengan hierarki istilah. Tujuan dari pembuatan Library of Congress Subject Heading untuk memudahkan penelusuran dokumen di perpustakaan, sebab Subject Heading merupakan salah satu cara untuk pengendalian bibliografiss pada katalog. Jika LCSH digunakan secara manual, LCA merupakan bentuk lain LCSH yang telah dikembangkan menjadi sistem pengendali otomatis dalam penentuan tajuk dan penelusuran pada Library of Congress Online Catalog. Sesuai dengan fungsinya yakni sebagai authorities (pengendali), Library of Congress Authorities dirancang dengan konsep pengendalian kosakata atau istilah

4 dengan struktur yang spesifik dan dirancang untuk mengontrol sinonim, membedakan homograf, saling rujuk antar istilah yang memiliki makna sama, dan istilah atau kosakata lama yang sudah tidak digunakan, sehingga pada saat melakukan penelusuran, pengguna dapat menemukan informasi yang dibutuhkannya dengan cepat dan tepat. Berdasarkan rekomendasi International of Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) dan Unesco pada tahun 1974 yang menyatakan each national bibliographic agency should maintain an authority control system for national names, personal and corporate, and uniform titles, in accordance with international guidelines, menyebabkan kegiatan authority ini tidak hanya dilakukan oleh Library of Congress saja namun dilakukan pula oleh beberapa perpustakaan lainnya, misalnya Deutsche National bibliothek, Bibliothèque nationale de France, Biblioteca Nacional de Portugal, National Library of Australia, Bibliotheca Alexandrina (Library of Alexandria, Egypt), Biblioteca Nacional de España (National Library of Spain), termasuk Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI). Perpustakaan Nasional Republik Indonesia adalah lembaga yang memiliki tugas dan fungsi serupa dengan Library of Congress yaitu sebagai perpustakaan negara yang memiliki tugas menyimpan data dan informasi negara. Hal ini sesuai dengan visi dan misi dari Perpustakaan Nasional RI, yakni terdepan dalam informasi pustaka, menuju Indonesia gemar membaca. Sedangkan misi yang diemban oleh Perpustakaan Nasional RI adalah (1) Mengembangkan koleksi perpustakaan di seluruh Indonesia (2) Mengembangkan layanan informasi perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK), dan (3) Mengembangkan infrastruktur melalui penyediaan sarana dan prasarana serta kompetensi SDM. Sejalan dengan visi dan misi tersebut, Perpustakaan Nasional RI berupaya meningkatkan layanan yang lebih baik kepada penggunanya, yaitu dengan mengembangkan sistem penyimpanan dan temu kembali informasi yang tepat dan efektif. Salah satu upaya tersebut adalah mengembangkan sistem authority. Kegiatan authority ini dimulai sejak tahun 2009. Jika authority file pada LC merujuk pada Library of Congress Subject Heading, maka authority file pada authority PNRI merujuk pada Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional.

5 Meskipun mengacu pada LCA, namun authority PNRI tidak mungkin sama persis dengan LCA. Dikarenakan adanya beberapa keterbatasan terutama untuk masalah bahasa dan geografis, LCA tidak sepenuhnya dapat digunakan di Indonesia. Untuk itu, Perpustakaan Nasional berupaya untuk mengembangkan pangkalan data authority sendiri. Pangkalan data authority yang baik merupakan kunci dalam efektivitas penelusuran OPAC. Meskipun OPAC sudah dilengkapi dengan kata kunci dan boolean, namun tanpa keunikan dan keseragaman istilah (konsistensi) serta fungsi cross-reference penelusuran akan tetap tidak optimal. Seperti dikemukakan oleh Marais (2004) yang mengutip dari Helmer (1990) The reason for such interest stems, in part, from the realization that authority control is the key to ensuring optimum retrieval of bibliographic data from the online catalog, even in catalog provide sophisticated searching features like right hand and truncation and booleaan keyword searching. Helmer juga mengutip Burger yang menyatakan... the consistency among unique headings, interrelated through a cross-reference structure, that is always at stake as the ongoing process of authority Dalam prakteknya, sebuah sistem authority akan efektif jika struktur keterkaitan istilah dalam sistem tersebut sudah berfungsi dengan baik. Karena konsep authority PNRI mengacu pada LCA maka seharusnya urutan hasil penelusuran istilah yang didapat pada authority PNRI sama dengan hasil penelusuran istilah pada LCA. 1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang maka permasalahan dirumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimana efektivitas authority yang dikembangkan oleh PNRI dibandingkan dengan konsep authority yang dirancang oleh Library of Congress Authorities. 2. Bagaimana rancangan konsep authority yang efektif untuk Perpustakaan Nasional RI

6 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Menganalisis efektivitas authority Perpustakaan Nasional RI dibandingkan dengan Library of Congress Authorities. 2. Membuat rancangan konsep authority yang efektif untuk Perpustakaan Nasional RI dengan merujuk pada konsep Library of Congress Authorities. 1.4. Manfaat Penelitian Manfaat yang dapat diperoleh yaitu : 1. Sebagai tambahan referensi bidang ilmu perpustakaan, khususnya yang berhubungan dengan authority control dan temu kembali informasi 2. Sebagai rujukan dalam mengembangkan authority Perpustakaan Nasional RI. 1.5. Ruang Lingkup Penelitian Authority control dalam temu kembali informasi biasanya digunakan untuk nama orang, nama badan korporasi, nama wilayah / geografis, judul seragam, judul seri dan subjek. Penelitian ini didasarkan asumsi bahwa database katalog yang sudah terintegrasi dengan authority hasil penelusurannya lebih efektif daripada database katalog yang tidak terintegrasi dengan authority. Penelitian dibatasi pada subject authority control saja, dengan pertimbangan bahwa pengguna lebih sering menelusur suatu dokumen melalui subjek. Selain itu, subject authority control lebih kompleks jika dibandingkan dengan yang lainnya. Kompleksitas ini disebabkan pada subjek melekat sebuah sifat yang harus mampu menggambarkan subjek itu sendiri baik itu perbedaan dalam terminologi, ketidaksesuaian antara pengguna dan istilah kendali pada tajuk subjek, serta adanya struktur hierarki (hubungan antar istilah, yang di nyatakan dengan Broader Term (BT) / Istilah Luas (IL), Narrower Term (NT)/ Istilah Sempit (IS), Related Term (RT)/ Istilah Berkait (IB) dan sinonim).

7 Ruang lingkup penelitian : Penelitian akan dilaksanakan di Bidang Pengolahan Bahan Pustaka, Pusat Pengembangan dan Pengolahan Bahan Pustaka, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Penentuan subjek dilakukan oleh peneliti yang sedang melakukan penelitian di Perpustakaan Nasional dan ditentukan secara sembarang.