Proses Komunikasi Di Perpustakaan

dokumen-dokumen yang mirip
POLA KOMUNIKASI PEMUSTAKA DAN PUSTAKAWAN DI SMA NEGERI 1 WAKORUMBA SELATAN KABUPATEN MUNA

PERANAN SURAT KABAR DALAM MENUMBUHKAN MINAT BACA REMAJA DI KECAMATAN SINGKIL KOTA MANADO

STRATEGI KOMUNIKASI PADA PELAYANAN REFERENSI (REFERENCE SERVICE) DI PERPUSTAKAAN

KOMUNIKASI MASSA. Pengertian Komunikasi Massa. Radityo Muhamad, MA. Modul ke: Fakultas FIKOM. Program Studi ILMU KOMUNIKASI

MAKALAH PELAYANAN PERPUSTAKAAN

BAB I PENDAHULUAN. ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari

Bab I Pendahuluan. Fungsi tersebut adalah sebagai sarana simpan karya manusia, fungsi informasi,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. pesan itu merupakan pikiran bersama antara komunikator dan komunikan. 1

MEDIA KOMUNIKASI JENIS (3) BENTUK (4) JANGKAUAN (2) Rabu, 28 Oktober 2015 Class B -KOMUNIKASI Pertemuan 7

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I. Karena pendidikan merupakan akar dari peradaban sebuah bangsa. Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

MODEL KOMUNIKASI PELAYANAN PUSTAKAWAN TERHADAP PEMUSTAKA DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN PROVINSI SULAWESI TENGGARA.

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pengantar Ilmu Komunikasi

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Promosi Jasa Pelayanan Referensi Di Perpustakaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

STRATEGI KOMUNIKASI PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN LAYANAN SIRKULASI. (Studi pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tenggara)

Modul Perkuliahan I Komunikasi Massa

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu komunikasi saat ini berkembang pesat jika dibandingkan dengan masa lampau, hal

BAB II TINJAUAN LITERATUR

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Yusuf (2009:31), sumber-sumber informasi terdiri dari beberapa jenis, yaitu:

Dari asal kata common yg bermakna bersama-sama, istilah komunikasi atau communication berasal dari bahasa Latin, yaitu communicatio yg berarti

BAB I PENDAHULUAN. juga dapat diperoleh melalui jalur non-formal salah satunya melalui perpustakaan.

MANFAAT LITERASI INFORMASI UNTUK PROGRAM PENGENALAN PERPUSTAKAAN

PERAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PUSAT PELAYANAN JASA INFORMASI

BAB I PENDAHULUAN. proses kehidupannya, manusia akan selalu terlihat dalam tindakan tindakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bacaan yang disusun secara sistematis untuk mempermudah pengguna dalam

BAB I PENDAHULUAN. Kehidupan manusia di dunia tidak dapat dilepaskan dari aktivitas

MAKALAH MANFAAT PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR

BAB I PENDAHULUAN. Perpustakaan merupakan lembaga yang menghimpun, mengelola,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. komunikasi lain, yaitu Gerbner. Menurut Gerbner (1967) Mass communication is

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan sifat dan golongan, Perpustakaan secara umum terbagi menjadi dua

PROMOSI PERPUSTAKAAN MELALUI MEDIA BROSUR RINGKASAN

MANUSIA DAN KOMUNIKASI

PSIKOLOGI KOMUNIKASI. oleh : Drs. Riswandi, M.Si. Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2013

PENDIDIKAN PEMAKAI DI PERPUSTAKAAN: Perencanaan Program Pendidikan Pemakai Bagi Mahasiswa Baru STMIK AKAKOM Yogyakarta. Intisari

I. PENDAHULUAN. Komunikasi merupakan salah satu hal yang sangat vital dalam kehidupan

MAKALAH PERAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH DASAR UNTUK KECERDASAN ANAK. Untuk memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Pengelolaan Perpustakaan Pendidikan

TUGAS INDIVIDU PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI PUSAT SUMBER BELAJAR. Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengelolaan Perpustakaan Pendidikan

PELAYANAN RUJUKAN /REFERENSI Oleh : Sjaifullah Muchdlor, S.Pd

BAB I PENDAHULUAN. Ahmad Muhsin, 2008:15). Menurut Sulistyo-Basuki (1991: 3) perpustakaan

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, maka dibentuklah lembaga yang menyediakan informasi yaitu

Modul ke: Komunikasi Massa. Pengantar Komunikasi Massa. Fakultas FIKOM. Sofia Aunul, M.Si. Program Studi BROADCASTING.

PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI SARANA PUSAT SUMBER BELAJAR

BAB II KERANGKA TEORITIS

BAB I PENDAHULUAN. Sedangkan komunikasi non verbal adalah bentuk komunikasi yang disampaikan. melalui isyarat, simbol, tanpa menggunakan kata-kata.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SIKAP MAHASISWA FISIP UNSRAT TERHADAP JASA LAYANAN UPT PERPUSTAKAAN UNSRAT. Oleh: Drs. Anthonius M. Golung, SIP

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

Menumbuhkan Minat Membaca Siswa Melalui Pengelolaan Koleksi Perpustakaan Sekolah

Dra. Dwi Pangastuti Marhaeni, M.Si

BAB I PENDAHULUAN. pada masa sekarang ini menyebabkan perkembangan informasi semakin pesat

PERATURAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR NASIONAL PERPUSTAKAAN PROVINSI

BAB I PENDAHULUAN. Informasi sudah menjadi kebutuhan setiap manusia untuk mencapai suatu tujuan.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Iis Naeni Sabila, 2013

BAB I PENDAHULUAN. memperoleh manfaatnya secara langsung dalam perkembangan pribadinya.

Perpustakaan umum kabupaten/kota

Penggunaan Teknologi Informasi dalam Pelayanan Sumber Informasi di Perpustakaan

BAB I PENDAHULUAN. atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Fitri Rahmawati, MP. Jurusan Pendidikan Teknik Boga dan Busana Fakultas Teknik UNY.

BAB I PENDAHULUAN. demikian, maka jelas bahwa komunikasi massa sifatnya satu arah. 1

TEKNIK LOBBY, NEGOSIASI DAN DIPLOMASI. Lobby dan dimensi komunikasi. Public Relations. Drs. Dwi Prijono Soesanto M.Ikom., MPM.

Perpustakaan umum kabupaten/kota

MODUL EMPAT KOMUNIKASI MASSA DAN OPINI PUBLIK

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah

PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI MUHAMMAD IRAWAN SAPUTRA, S.I.KOM., M.I.KOM

2017, No Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Le

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Priyanka Permata Putri, 2013

KARYA ILMIAH PEMANFAATAN KATALOG DALAM PENELUSURAN INFORMASI DI PERPUSTAKAAN PUSAT UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG. Oleh:

BAB I PENDAHULUAN. Perpustakaan merupakan salah satu pengelola informasi yang. bertugas mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan merawat koleksi

BAB I PENDAHULUAN. hidupnya. Sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat hidup sendiri dan selalu

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang

Yetti Wira Citerawati SY

METODOLOGI PENELITIAN

Pokok Bahasan : - Perkembangan Teknologi Informasi - WELCOME. Kursus Online - Pertemuan 4 - Join : Follow

Transformasi No. 32 Tahun 2017 Volume I Halaman 1-75

PERANAN KOMUNIKASI INTERNAL DI LINGKUNGAN KERJA

Transkripsi:

Proses Komunikasi Di Perpustakaan Pengertian Perpustakaan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini sangat mempengaruhi aktivitas kehidupan manusia. Hal ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang membutuhkan informasi, baik informasi yang sesuai dengan bidang ilmu pilihannya maupun informasi ilmu pengetahuan lainnya. Setiap orang membutuhkan informasi dengan tujuan akhir untuk meningkatkan karya dan prestasi hidupnya, ingin mengetahui lebih banyak dari apa yang telah diketahui sebelumnya. Ini merupakan gambaran dari suatu masyarakat yang ingin maju, baik masyarakat di perkotaan maupun pedesaan. Untuk memenuhi kebutuhan akan informasi tersebut, berbagai cara dilakukan oleh manusia agar kebutuhannya dapat terpenuhi. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mencari informasi di Perpustakaan. Karena pada hakekatnya Perpustakaan adalah pusat sumber informasi, sebagaimana pendapat Mulyani A. Nurhadi yang mendefenisikan Perpustakaan sebagai: Suatu unit kerja tempat mengumpulkan, menyimpan, dan memelihara koleksi bahan pustaka, yang dikelola dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu, untuk digunakan secara kontinue oleh pemakainya sebagai sumber informasi. Dari pengertian di atas dapatlah diutarakan bahwa secara defenitif Perpustakaan itu adalah suatu lembaga (tempat) yang menghimpun, menyimpan, memelihara, mengatur dan mengorganisasikan berbagai jenis

sumber informasi, yang kemudian berdasarkan cara dan teknik tertentu informasi tersebut disampaikan atau disajikan kepada masyarakat. Dilihat dari fungsinya di masyarakat, maka fungsi Perpustakaan secara umum adalah sebagai berikut: 1. Memenuhi kebutuhan informasi bagi semua orang, baik pribadi maupun golongan. 2. Memberikan fasilitas pendidikan secara non formal kepada semua orang. 3. Memenuhi dan menunjang suatu pelajaran yang diberikan melalui sarana pendidikan formal. 4. Membantu kegiatan lainnya yang berhubungan dengan sosial budaya. Bertitik tolak dari fungsi di atas, dapatlah dijabarkan bahwa tujuan pendirian Perpustakaan adalah sebagai berikut: 1. Memberikan informasi yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. 2. Mendidik masyarakat, baik pribadi maupun kelompok secara kontinue dalam rangka pendidikan seumur hidup. 3. Mengembangkan kemampuan masyarakat dalam meningkatkan keahlian dan teknologi. 4. Membina minat baca masyarakat. 5. Membina daya kreasi dalam bidang seni dan kebudayaan. Proses Komunikasi di Perpustakaan Sebagai suatu lembaga yang berkecimpung dalam bidang pengumpulan, pengolahan, dan penyebarluasan informasi, maka di dalam melakukan

kegiatannya, Perpustakaan tidak akan terlepas dari segi-segi komunikasi. Karena komunikasi memainkan peranan penting sebagai sarana hubungan antar manusia. Komunikasi pada hakekatnya merupakan wahana utama bagi kehidupan manusia dan merupakan jantung dari segala hubungan sosial, baik hubungan antar pribadi, antar kelompok, antar suku maupun antar bangsa. Jadi dapat dipastikan bahwa di dalam aktivitas Perpustakaan mutlak harus ada proses atau kegiatan komunikasi. Kegiatan komunikasi yang berlangsung di Perpustakaan dapat dilihat dari adanya kontak dan hubungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, antara pustakawan dengan pengguna Perpustakaan, adanya pesan yang disampaikan dan diterima, dan adanya efek yang terjadi akibat diterimanya pesan melalui komunikasi tersebut. Aktivitas pelayanan informasi antara pustakawan dengan pengguna adalah salah satu bentuk kegiatan komunikasi di Perpustakaan. Teori Lasswell Untuk menjelaskan mengenai proses komunikasi di Perpustakaan, dapat diterapkan paradigma Harold D. Lasswell yang menyatakan bahwa: Cara terbaik untuk menerangkan kegiatan komunikasi adalah dengan menjawab 5 pertanyaan, yaitu Who, Says what, in Which Channell, to Whom, and With What Effect. Paradigma Harold D. Lasswell tersebut mensyaratkan bahwa secara umum unsur-unsur dalam suatu kegiatan komunikasi adalah: Siapa (Who) yang berarti komunikator, menyatakan apa (Says What) dalam hal ini adalah pesannya, dengan media apa (in Which hannell) menyatakan media yang

digunakan untuk menyampaikan pesan, kepada siapa (to Whom) yang menunjukkan kepada siapa pesan tersebut ditujukan, serta dengan efek bagaimana (With What Effect) yang berarti efek yang ingin ditimbulkan dari kegiatan komunikasi tersebut. Apabila digambarkan secara skematis, proses komunikasi Harold D. Lasswel tersebut adalah seperti di bawah ini: Who (Komunikator) Says What (Pesan) In Which Channell (Pesan) To Whom (Komunikan) With What Effect (Efek) (Gambar Proses Komunikasi Harold D. Lasswell) Jika diterapkan dalam kegiatan di Perpustakaan, maka aplikasi paradigma yang dibuat oleh Lasswell tersebut terhadap proses komunikasi di Perpustakaan dapat digambarkan secara skematis sebagai berikut: Pustakawan Informasi Media Cetak Dan Media Elektronik Masyarakat Pengguna Perpustakaan Optimalisasi Penggunaan Perpustakaan (Gambar Aplikasi Paradigma Lasswell di Perpustakaan) Dilihat dari skema tersebut maka dalam proses komunikasi di Perpustakaan yang bertindak sebagai komunikator adalah pustakawan, yang menyampaikan pesan-pesan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pesan yang disampaikan oleh pustakawan tersebut berupa informasi mengenai

berbagai ilmu pengetahuan dan informasi lainnya. Untuk menyampaikan pesan tersebut media yang digunakan oleh pustakawan adalah segala koleksi Perpustakaan, baik dalam bentuk tercetak seperti buku, majalah, jurnal, surat kabar, dan sebagainya, maupun dalam bentuk media elektronik seperti komputer, film, slide, mikrofis, rekaman suara, dan koleksi audio visual lainnya. Komunikan yang menjadi sasaran komunikasi adalah masyarakat pengguna Perpustakaan sesuai dengan jenis perpustakaannya. Adapun efek yang ingin dicapai oleh komunikator dengan pemberian informasi tersebut adalah agar pengetahuan, sikap, maupun perilaku komunikan dapat berubah. Unsur-Unsur Dasar Komunikasi di Perpustakaan Secara sederhana komunikasi dapat didefenisikan sebagai usaha penyampaian pesan antara seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Dari defenisi ini terlihat bahwa untuk dapat terjadi proses komunikasi minimal harus ada tiga unsur dasar komunikasi, yaitu komunikator, pesan, dan komunikan. Proses komunikasi yang terjadi pada sebuah Perpustakaan juga baru dapat terjadi bila sudah ada ketiga unsur dasar tersebut. Ketiga unsur dasar tersebut adalah pustakawan sebagai komunikator, informasi sebagai pesan, dan pengguna Perpustakaan sebagai komunikan. Masing-masing unsur dasar komunikasi ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan terjadinya proses komunikasi di Perpustakaan. 1. Pustakawan (komunikator) Pada proses komunikasi di Perpustakaan yang bertidak sebagai komunikator adalah pustakawan. Sebagai komunikator maka pustakawan

wajib menyampaikan pesan-pesan yang menyangkut berbagai macam informasi kepada penggunanya, terutama informasi yang memang dicari atau dibutuhkan oleh penggunanya. Dalam hal ini pustakawan dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang semaksimal mungkin kepada penggunanya. Pada kegiatan pelayanan informasi, pustakawan lebih banyak berinteraksi dengan pengguna dibandingkan dengan jenis pekerjaan yang lain di Perpustakaan. Maka dalam kegiatan pelayanan informasi tersebut pustakawan dituntut untuk lebih aktif dalam berkomunikasi dengan penggunanya. Kini terdapat kecendrungan perubahan sikap Perpustakaan. Dahulu Perpustakaan bersikap menunggu pengunjung, dan membiarkan pengunjung yang datang mencari sendiri informasi yang dibutuhkannya, dan menghindari semaksimal mungkin berinteraksi dengan pustakawan. Sikap mereka ini lebih mengarah ke sikap pustakawan yang pasif. Kini Perpustakaan bersikap lebih aktif mengejar pengunjung dan Perpustakaan lebih aktif menyediakan informasi bagi penggunanya. Pendekatan professional ini mengharuskan pustakawan mengetahui informasi apa yang dibutuhkan oleh pengguna, berapa cepat dia mampu menyediakan informasi, dalam bentuk apa informasi tersebut disajikan, dan dari sumber mana saja informasi tersebut di dapatkan. Untuk dapat mengetahui minat dan kebutuhan informasi dari masingmasing pengguna, pustakawan dapat berkomunikasi dengan pengguna

Perpustakaan, baik secara langsung seperti bertanya, wawancara, ceramah, ataupun secara tidak langsung seperti mengedarkan kuesioner. Tanpa disadari banyak pustakawan hanya berhubungan dengan pengguna dengan sangat terbatas. Mereka hanya menjawab bila kebetulan ditanya oleh pengguna. Dalam informasi ilmiah terbukti banyak peneliti memperoleh informasi mutakhir dari peneliti lain yang bertindak selaku penjaga gawang (gate keeper). Penjaga gawang informasi ini selalu mengikuti perkembangan dalam bidangnya, termasuk perkembangan informasinya, sehingga menjadi tumpuan rekan sejawat lainnya. Padahal pustakawan dapat bertindak selaku penjaga gawang informasi, sehingga dapat pula meneruskan informasi mutakhir pada penjaga gawang informasi yang lain. 2. Pesan (Informasi) Pesan yang disampaikan oleh pustakawan berwujud ucapan, tinta di atas kertas, tulisan di buku, majalah, atau bahan cetak lainnya, gelombang radio di udara, rekaman suara dan gambar pada koleksi audio visual, data digital pada komputer, lambaian tangan pengguna, atau tanda-tanda lain, yang apabila dinterpretasikan mempunyai arti tertentu. Penyampaian pesan yang dilakukan dengan jelas akan menimbulkan hasil yang memuaskan pada proses komunikasi. Efektivitas penyampaian pesan menyangkut bagaimana suatu pesan disajikan. Secara ringkas ada dua hal yang perlu diperhatian dalam

penyajian pesan, yaitu cara penyajian pesan dan struktur penyampaian pesan. Cara penyajian pesan di Perpustakaan lebih mengacu pada pemanfaatan lambang komunikasi, baik verbal maupun non verbal pada saat kita berkomunikasi. Cara penyajian pesan yang dilakukan oleh pustakawan yaitu dengan melakukan pemberian informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Misalnya para pengguna bertanya: Buku tentang hukum perdata di mana Pak/Bu?. Seorang pustakawan harus menjawab dengan kata-kata halus. Cara pennyajian pesan lebih menyangkut bagaimana seorang pustakawan dapat memanfaatkan lambang-lambang komunikasi verbal dan non verbal yang digunakan oleh si pustakawan, serta membubuhkan kadar emosi ke dalamnya. Di sini seorang pustakawan harus mampu menentukan keberhasilan komunikasi dengan cara melakukan kecerdasan emosional. Pada struktur penyampaian pesan, seorang pustakawan harus mampu menyusun struktur penyajian pesan yang akan disampaian kepada pengguna. Dapat dinyatakan bahwa pada komunikasi antar pribadi, pesan yang disampaikan relatif kurang berstruktur. Contohnya ialah ketika kita sedang berbicara kepada kerabat, kita bisa berbicara dengan topik yang tidak terarah. Secara acak berpindah dari satu topik ke topik lainnya. Jadi struktur penyampaian pesan lebih kepada urut-urutan penempatan lambang-lambang komunikasi yang kita gunakan. Semakin tinggi tataran komunikasi yang terjadi, maka pesan yang akan kita sampaikan semakin terstruktur.

3. Pengguna Perpustakaan (Komunikan) Komunikan penerima pesan adalah semua pengguna Perpustakaan. Pada proses komunikasi di Perpustakaan, peran komunikator dan komunikan bersifat dinamis. Peran ini saling dipertukarkan. Komunikator dapat berperan sebagai komunikan, sebaliknya komunikan dapat berperan sebagai komunikator. Ketika pustakawan menyampaikan pesannya kepada pengguna maka dia berperan sebagai komunikator dan pengguna berperan sebagai komunikan. Namun ketika pengguna menyampaikan tanggapan/respon terhadap pesan komunikator maka dia berperan sebagai komunikator dan pustakawan sebagai komunikannya. Pengguna Perpustakaan sebagai komunikan dapat terdiri dari satu orang, sekelompok orang (kelompok besar atau kecil, termasuk juga organisasi), dan massa. Agar proses komunikasi antara pustakawan dengan pengguna Perpustakaan dapat berjalan dengan baik (efektif), maka pustakawan harus memberikan bimbingan kepada pengguna, sehingga pengguna tidak merasa kesulitan dalam memanfaatkan Perpustakaan. Kebanyakan pengguna jarang mengunjungi Perpustakaan karena kurangnya interaksi antara pustakawan dengan pengguna, dan pemberian layanan yang kurang memuaskan serta keidak ramahan seorang pustakawan dalam melayani para pengguna. Akibatnya pengguna merasa segan bertanya dan menyampaikan kebutuhan informasinya kepada pustakawan, dan si pustakawan semakin acuh terhadap pengguna.

Perlu diketahui bahwa sistem layanan Perpustakaan ada dua jenis, yaitu sistem layanan terbuka dan sistem layanan tertutup. Pada sistem layanan terbuka proses interaksi dan komunikasi antara pustakawan dengan pengguna lebih baik daripada pada sistem layanan tertutup. Pada sistem layanan terbuka, pengguna dapat menanyakan langsung kepada pustakawan tentang informasi yang sulit ditemukan. Sedangkan pada sistem layanan tertutup pengguna akan merasa sungkan berkomunikasi dengan pustakawan itu sendiri, karena adanya keterbatasan-keterbatasan tertentu. Oleh sebab itu, supaya proses komunikasi dapat berjalan dengan baik seorang pustakawan harus memberikan informasi yang mudah dimengerti oleh pengguna Perpustakaan. Media Komunikasi di Perpustakaan Perpustakaan merupakan suatu lembaga yang bertujuan melayani pengguna dalam memenuhi kebutuhan informasi mereka. Perpustakaan dapat meningkatkan kinerjanya apabila pustakawan Perpustakaan tersebut dapat berkomunikasi dengan baik kepada penggunanya. Pada proses komunikasi di Perpustakaan, selain ketiga unsur dasar komunikasi, unsur lain yang perlu mendapat perhatian adalah unsur media komunikasi. Pada saat sekarang ini, proses komunikasi di dalam sebuah Perpustakaan tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak didukung oleh suatu media. Media ini diartikan sebagai suatu alat yang membantu Perpustakaan/pustakawan untuk menyampaikan informasinya kepada pengguna. Alasan digunakannya media sebagai sarana penyampai informasi karena Perpustakaan tidak akan mampu untuk memberikan layanan yang

efektif bagi pengguna karena jumlah pengguna Perpustakaan relatif banyak. Maka untuk keefektifan proses penyampaian informasi, seorang pustakawan harus menyediakan media atau alat untuk menyampaikan pesannya agar pesan yang disampaikannya lebih mudah dimengerti oleh para pengguna. Pada zaman sekarang ini, sudah jarang sekali kita jumpai proses penyampaian pesan yang dilakukan secara manual. Hal ini disebabkan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin canggih dari waktu ke waktu. Misalnya sekarang ini banyak Perpustakaan yang melakukan komunikasi dengan menggunakan media komputer untuk penelusuran bahan pustaka melalui katalog online, mengakses informasi via internet, dan lain sebagainya. Penutup Perpustakaan pada hakekatnya adalah pusat sumber informasi, yang bertugas melayani kebutuhan informasi dari setiap pengguna Perpustakaan. Dalam melakukan aktivitas di Perpustakaan mutlak harus ada proses atau kegiatan komunikasi. Kegiatan komunikasi yang berlangsung di Perpustakaan dapat dilihat dari adanya kontak dan hubungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, antara pustakawan dengan pengguna Perpustakaan, adanya pesan yang disampaikan dan diterima, dan adanya efek yang terjadi akibat diterimanya pesan melalui komunikasi tersebut.

Proses komunikasi yang efektif akan membuat pustakawan mudah mengetahui dan memahami keinginan pengguna, sedangkan bagi si pengguna akan merasa lebih puas dalam mendapatkan pelayanan dari pustakawan. ******

Daftar Rujukan 1. Effendy, Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Remadja Rosda Karya, Bandung. 1992. 2. Muhammad, Arni. Komunikasi Organisasi. Bumi Aksara, Jakarta. 1995. 3. Nurhadi, Mulyani A. Pedoman Pelayanan Sirkulasi dan Referensi Perpustakaan Perguruan Tinggi. DIKTI, Jakarta. 1980. 4. Rohanda. Perpustakaan Sebagai Media Komunikasi Bagi Masyarakat. Artikel Dalam Bunga Rampai Perpustakaan. Volume 1 Tahun 1987. Alumni Jurusan Pendidikan Imu Perpustakaan IKIP, Bandung. 1987. 5. Sulistyo-Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 1991. 6. Vardiansyah, Dani. Pengantar Ilmu Komunikasi. Ghalia Indonesia, Bogor. 2004.