BAB XIII PEMENUHAN DANA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III ANALISIS NERACA PERUSAHAAN/LABA RUGI

MODAL DALAM PERUSAHAAN

Pemenuhan kebutuhan dana :

Pengertian Modal (Riyanto;2008) :

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

Pertemuan 13 Penyusunan Anggaran Kas Disarikan dari Yusnita, Wenny dan sumber2 relevan lainnya

BAHAN AJAR Jurusan : Administrasi Bisnis Konsentrasi : Mata Kuliah : Pengantar Bisnis

Dalam operasinya, perusahaan selalu membutuhkan dana harian, seperti membeli bahan mentah, membayar gaji karyawan, membayar rekening listrik, dsb.

SESI 2. HUBUNGAN ANTARA HARTA DAN SUMBER SUMBER HARTA.

VI. ANALISIS KEBERLANJUTAN FINANSIAL KOPERASI BAYTUL IKHTIAR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. penting bagi setiap perusahaan, karena baik buruknya struktur modal akan

BAB II BAHAN RUJUKAN

ANALISIS MANAJEMEN KAS UNTUK MENJAGA LIKUIDITAS ( Studi Kasus Pada CV. Accu Batu Kediri)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

PERANAN INFORMASI AKUNTANSI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN MANAJEMEN PERBANKAN PADA PT. BPR GUNUNG LAWU DELANGGU PERIODE SKRIPSI

PROSPEK KINERJA KEUANGAN PADA KOPERASI SIMPAN PINJAM ( KSP ) UNIVERSITAS GUNUNG RINJANI LOMBOK TIMUR - NTB

Bab 4 Manajemen Modal Kerja

BAB V MODAL KERJA DAN KAS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sumber dan Penggunaan Modal Kerja dalam Meningkatkan Profitabilitas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau jangka waktu tertentu. Adapun tujuan dari laporan keuangan yaitu: perusahaan dalam menghasilkan laba.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Manajemen keuangan dalam banyak hal berkaitan dengan pembuatan

II. TINJAUAN PUSTAKA Kinerja Keuangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Tbk dari tahun 2002 hingga tahun 2004 dengan menggunakan metode analisis horizontal

Manajemen Keuangan. Modal Kerja dan Pengelolaan Kas. Basharat Ahmad, SE, MM. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Manajemen

BAB I PENDAHULUAN. membutuhkan dana yang cukup. Dana yang dibutuhkan berasal dari kekayaan

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB I PENDAHULUAN. karena itu pengelolaan kas sangat penting bagi suatu bank. Kegiatan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membuat laporan keuangan yang harus selesai dalam waktu 6 (enam) bulan

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II KAJIAN TEORI. A. Deskripsi Teori 1. Pengertian Posisi Keuangan Posisi keuangan merupakan salah satu informasi yang disediakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. keuangan, jadi laporan keuangan merupakan suatu ringkasan transaksi yang

ASPEK KEUANGAN UNTUK BISNIS AWAL

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Pelaksanaan Analisis Laporan Keuangan pada PT. Pupuk Kalimantan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Sistem keuangan di negara-negara Asia mengalami perubahan yang berarti

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGOLAHAN MODAL KERJA

BAB I PENDAHULUAN. sekelompok orang atau suatu badan lainnya yang kegiatannya melakukan produksi dan

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan akuntansi pada dasarnya merupakan kegiatan mencatat,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lain. Terdapat beberapa pengertian atau definisi dari piutang berdasarkan

BAB I PENDAHULUAN. operasional sehari-hari disebut modal kerja. melalui hasil penjualan. Uang yang diterima melalui hasil penjualan akan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS KEUANGAN PT. PLN (Persero)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Seiring bertambah dewasanya perusahaan, mereka harus dapat

Magister Manajemen Univ. Muhammadiyah Yogyakarta

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Seiring dengan perkembangan perekonomian di Indonesia, perusahaanperusahaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membayar upah buruh dan gaji pegawai serta biaya-biaya lainnya.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

1. Pengertian Biaya Pemasaran 2. Penggolongan Biaya Pemasaran

MANAJEMEN KEUANGAN. Mencapai atau memperoleh laba maksimal untuk kemakmuran pemilik perusahaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kelangsungan hidup perusahaan. Keberhasilan suatu perusahaan tidak hanya

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PADA PT. JAKARTA SETIABUDI INTERNATIONAL TBK

BAB I PENDAHULUAN. struktur modal perusahaan yang akhirnya akan mempengaruhi suatu kinerja

MANAJEMEN MODAL KERJA

BAB 1 PENDAHULUAN. Setiap pendiri perusahaan atau pemilik perusahaan pasti mengharapkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perusahaan. Modal kerja merupakan kekayaan atau aset yang diperlukan

BAB VI AKTIVA LANCAR-PIUTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kepentingan dan kelancaran perusahaan dalam rangka menghasilkan laba yang

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN. By: Budi Setiawan

BAB I PENDAHULUAN. untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. Adapun tujuan akhir yang ingin

MANAJEMEN KAS. Minggu 7 1

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum keberhasilan perusahaan untuk mempertahankan. kelangsungan usahanya tergantung pada kemampuan perusahaan untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Pengertian Sumber Daya Perusahaan. 1) Sumber daya modal atau uang berhubungan dengan sejumlah uang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. sehingga dapat tercapai tujuan yang diharapkan secara efektif dan efisien. menurut waktu yang telah ditetapkan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. laporan, serta penginterpretasian atas hasilnya sehingga dapat digunakan oleh

BAB I PENDAHULUAN. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sering kali dihubungkan

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan usahanya dan kemungkinan untuk perkembangan usaha

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan judul penelitian Analisis Optimalisasi Penggunaan Modal Kerja pada

BAB IV MODAL KERJA A. Pengertian Modal Kerja

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

BAB XIII PEMENUHAN DANA Pemenuhan kebutuhan dana pada dasamya dapat dibedakan antara cara pemenuhan kebutuhan dana secara sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhan masingmasing aktiva yang akan dibiayai, dan cara pemenuhan kebutuhan dana secara keseluruhan dengan memandang semua kebutuhan sebagai satu kesatuan atau satu kelompok. Apabila dalam memenuhi kebutuhan dana itu kita mendasarkan pada kebutuhan masing-masing aktiva secara individuil dikatakan bahwa kita menggunakan sistem pembelanjaan partiil. Dengan demikian sistem pembelanjaan partiil adalah sistem pemenuhan kebutuhan dana yang mendasarkan pada perputaran dan waktu terikatnya dana pada masing-masing aktiva secara individuil. Sistem ini menggunakan prinsip bahwa kebutuhan dana untuk setiap aktiva atau setiap macam kebutuhan, harus dibiayai dengan dana sendiri-sendiri yang sesuai dengan jumlah dana dan lamanya kebutuhan. Dengan demikian ini berarti bahwajumlah dana yang digunakan oleh perusahaan terdiri dari beberapa macam dana atau kredit yang berbeda-beda baik dalam jumlah, larna waktunya, maupun dalam saat kapan kredit tersebut harus dibayar kembali. Adapun cara lain dalam memenuhi kebutuhan dana ialah kalau kita melihat sernua kebutuhan dana itu sebagai satu kesatuan atau satu kelompok, bukan secara individuil. Apabila dalam memenuhi kebutuhan dana tersebut digunakan cara yang demikian. dikatakan bahwa kini menggunakan sistem pembelanjaan total. Dengan demikian dimaksudkan sebagai sistem pembelanjaan total adalah sistem pemenuhan kebutuhan dana yang mendasarkan pada perputaran dana yang ditanamkan alam kelompok aktiva atau keseluruhan aktiva sebagai suatu kesatuan. Dalam hal yang demikian akan nampak bahwa ada sebagian dana yang sifatnya permanen, tertanam dalam aktiva dan ada sebagian dana lainnya yang bersifat variabel, yang berubahubah jumlahnya dari waktu ke waktu. Aplikasi konsep di atas adalah jenis keperluan dana bermacam dan jangka waktunya berlainan sehingga biasanva ada diversifikasi dalam usahanya untuk mendapatkannya. Sebagai contoh untuk membayar gaji perlu segera dipenuhi karena merupakan skala prioritas. Keterlambatan pembayaran gaji akan mengakibatkan gejolak karyawan sehingga dapat mempengaruhi kinerja. Apabila karena sesuatu hal perusahaan tidak mempunyai uang kas yang cukup untuk membayar gaji maka segera harus diusahakan pemenuhannya misalnya dengan hutang jangka pendek dalam

kasus ini model/sistem pembelanjaan ini dinamakan distem partiil. Keperluan pembelanjaan diselesaikan kasus per kasus dan setiap kasus dengan model pemenuhannya masingmasing. Sedangkan pembelanjaan total dalam prakteknya misalnya perusahaan hutang ke bank untuk modal kerja secara keseluruhan (kelompok aktiva lancar), selanjuthya perusahaan mengatur sendiri pemanfaatan hutang tersebut menurut keperluan. Dalam hal hutan untuk pembelian aktiva tetap misalnya alat berat dapat terjadi untuk traktor hutang kepada bank A dengan persyaratan angsuran dan bunga tertenu dan jangka waktu pengembaliannya. Selanjutnya untuk logging truck hutang dengan bank B dengan persyaratan dll yang berbeda dengan hutang untuk pembelanjaan traktor. Pada kesimpulannya keperluaan dana merupakan sesuatu yang dinamik sehingga perlu ada kajian altematif pemenuhan. 13.1. Pemenuhan Kebutuhan Dana Ditinjau Dari Sudut Likuiditas dan Rentabilitas Pada waktu suatu perusahaan akan menarik dana yang dibutuhkan haruslah diketahui lebih dahulu untuk berapa lama dana itu akan digunakan di dalam perusahaan. Ditinjau dari sudut likuiditas, penarikan dana yang dibutuhkan didasarkan kepada ketentuan bahwa dana yang dibutuhkan itu hendaknya ditarik untuk jangka waktu yang sesuai dengan jangka waktu penggunaan tersebut di dalam perusahaan. atau jangka waktu terikatnya dana dalam aktiva yang akan dibiayai dengan dana tersebut. Dalam hubungan ini kita mengenal adanya pedoman-pedoman pembelanjaan ditinjau dan sudut likuiditas yang ini berbeda menurut sistem pembelanjaan yang digunakannya. Apabila kita menggunakan sistem pembelanjaan partiil di mana kita memandang mesing-masing aktiva secara individuil, sehingga untuk masing-masing aktiva tersebut diperlukan kredit sendiri-sendiri yang sesuai dengan cara dan lama pcrputarannya. maka dalam hal mi dapat dikemukakan pedoman pembelanjaan sebagai berikut: 1. Untuk aktiva lancar hendaknya dibiayai dengan kredit jangka pendek yang umumnya tidak lebih pendek daripada terikatnya dana dalam aktiva lancar. 2. Untuk aktiva tetap yang tidak berputar (misalnya tanah), pada prinsipnya dibiayai dengan modal sendiri, karena untukjenis aktiva ini tidak diadakan depresiasi. 3. Untuk aktiva tetap yang berputar secara berangsur-angsur (gedung, mesin, kendaraan dan sebagainya) dapat dibiayai dengan kredit jangka panjang atau

modal sendiri. Kalau digunakan kredit jangka panjang hendaknya jangka waktu atau umurnya kredit yang akan ditarik itujangan lebih pendek daripada waktu terikatnya dana dalam aktiva tetap. Apabila kita menggunakan sistem pembelanjaan total di mana kita memandang keseluruhan dana yang ditanamkan dalam perusahaan sebagai satu kompleks, maka pada dasarnya kita hanya membedakan adanya 2 golongan kebutuhan modal, yaitu modal konstan dan modal variabel. Dalam hal ini dapat dikemukakan pedoman pembelanjaan ditinjau dari sudut likuiditas sebagai berikut: 1. Kebutuhan dana yang permanen (modal konstan) pada prinsipnya harus dibiayai dengan modal sendiri atau kredit jangka panjang. 2. Kebutuhan dana yang berubah-ubah jumlahnya di atas inti konstan (modal variabel) pada prinsipnya dibiayai dengan kredit jangka pendek yang jangka waktu atau umumya tidak lebih pendek daripada kebutuhannya. Dalam praktek hal ini tentunya juga sangat tergantung kepada perusahaan dalam hubungannya misalnya dengan pihak bank. Disamping masalah kepercayaan, tentunya pihak perusahaan harus dapat meyakinkan pihak bank tentang perlunya dana tersebut, bagaimana pengsaruhnya terhadap perusahaan dalam anti kenerja maupun kemampuan finansialnya untuk mengembalikan kewajiban membayar pada pihak bank. Untuk lebih mengantisipasi kemungkinan kesulitan pemisahaan biasanya berusaha untuk mempunyai hubungan baik dengan bebarapa bank (seperti hal langganan). Dalam hal ini sebenamya pihak bank juga mempunyai kepentingan karena dia harus mempunyai kepentingan karena dia harus menyalurkan dana kepada perusahaan yang terpercaya sehingga bank juga mendapat keuntungan dengan tidak adanya kredit macet. Dalam prakteknya kegiatan perusahaan dalan satu tahun dapat terjadi persoalan dana dan waktu ke waktu yang dinamis terjadi perubahan/keperluan yang berbeda dari bulan yang ada dan kadang pula dapat terjadi keperluan mendesak dana pada suatu minggu tertentu. Oleh sebab itu pengelolaan dana khususnya dalam perusahaan harus direncanakan secara terperinci per bulan dari pada keadaan kritis harus lebih cermat misalnya mingguan. Sedangkan kredit jangka menengah/panjang untuk perusahaan hutan misalnya pembelian alat berat untuk penggantian sudah dapat ditaksir karena biasanya produktivitasnya akan dipengaruhi oleh pakai, sehingga kapan perlu dana untuk penggantian dapat dipredeksi. Begitu pula dana untuk keperluan pembeliaan logging

truck apabila jarak angkutann bertambah (dapat diketahui dan peta kerja yang ada) maka prestasi kerja truck akan menurun. Untuk mempertahankan produksi perlu ada tambahan truck baru (dapat diprediksi). Masalah optimum modal adalah menyangkut masalah pemenuhan kebutuhan dana mana yang lebih menguntungkan antara pemenuhan dengan kredit jangka pendek atau dengan kredit jangka panjang, atau suatu kombinasi berapa bagian dana yang dipenuhi dengan kredit jangka panjang. Kombinasi dana yang digunakan adaiah didasarkan pada kombinasi biayanya yang paling kecil. The optimal mix is the east cost mix kata Aigner & Sprenkle. Masalah optimum modal ini timbul karena adanya tingkat bunga yang berbeth- ini J.L. beda untuk kredit jangka pendek dan kredit jangka panjang. Dalam hubungan Meij mengatakan bahwa masalah optimum modal adalah susunan optimal dan penarikan kekayaan jangka pendek danjangka panjang dengan biaya yang paling rendah. Sedangkan Prof. Polak mengatakan bahwa modal optimum ialah bagian dan kebutuhan sementara modal yang apabila dipenuhi dengan kredit jangka panjang lebih murah daripada dipenuhi dengan kredit jangka pendek, dimana dengan membungakan kelebihan modal yang sementara tidak digunakan. Untuk mengetahui besarnya modal optimum perlulah lebih dahulu menetapkan Jangka waktu (Kritische termijn) n). Dhnaksudkan dengann pengertian jangka waktu kritis ialah jangkaa waktu di mana biaya untuk kredit jangka panjang sama besamya dengan kredit jangka pendek. Kalau kredit yang dibutuhkan itu jangka waktunya lebih lama daripada jangka wak.u kritis tersebut, lebih menguntungkan mengambil kredit jangka panjang dengan membungakan kelebihan modal sementara yang tidak digunakan. Sebaliknya apabila kebutuhan kredit itu jangka waktunya lebih pendek daripada jangka waktu kritis, adalah lebih menguntungkan membiayai kebutuhan modal kerja itu dengan kredit jangka pendek. Dalam hubungan ini J.L. Meij mengemukakan rumus sebagai berikut: P1 = tingkat bunga (dalam persen) dan kreditjangka panjang. Pc = tingkat bunga kalau kita menyimpan uang di Bank. Pk = tingkat bunga dan kreditjangka pendek. Berlakunya rumus tersebut ialah dengan syarat: Pk>P1>Pc Untuk lebih jelasnya dapat diberikan contoh sebagai berikut:

Tingkat bunga kredit jangka pendek = 15% Tingkat bunga kredit jangka panjang = 10% Tingkat bunga kalau menyimpan uang di Bank 5% Berdasarkan perhitungan tersebut apabila kita memerlukan kredit yang penggunaannya lebih lama dari 183 hari adalah lebih menguntungkan dengan pengambilan kredit jangka panjang, sebaliknya apabila penggunaannya annya lebih pendek atau kurang dari 183 hari, lebih menguntungkan dengan pengambilan kredit jangka pendek. Jangka waktu kritis dapat pula dihitung dalam bulan 13.2 Pemenuhan Kebutuhan Dana Ditinjau Dan Sudut Solvabilitas dan Rentabilitas Dalam rangka usaha untuk dapat menarik dana yang dibutuhkan, perusahaan selain mendasarkan pada keinginan juga hams memperhatikan kemungkinan untuk mendapatkan dana tersebut. Dengan kata lain dapatlah dikatakan bahwa kita harus mengusahakan adanya persesuaian atau keseimbangan antara keinginan dan kemungkinan. Keinginan ditinjau dari sudut kepentingan perusahaan yang membutuhkan dana dan kemungkinan setelah dihubungkan ungkan dengan kepentingan dari pihak pemberi modal. Hasil dari pembelanjaan itu tidak hanya merupakan masalah bagi perusahaan yang membutuhkan dana saja, a, melainkan juga menyangkut kepentingan para pemberi modal, sehingga dengan demikian para pemberi modalpun mempunyai kepentingan langsung terhadap masalah tersebut.