FOR SALE.

dokumen-dokumen yang mirip
PENGELOLAAN SARANA PENDUKUNG RAMAH LINGKUNGAN

ANALISIS KECUKUPAN RUANG TERBUKA HIJAU SEBAGAI PENYERAP EMISI CO 2 DI PERKOTAAN MENGGUNAKAN PROGRAM STELLA (Studi Kasus : Surabaya Pusat dan Selatan)

Studi Kebutuhan Hutan Kota Sebagai Penyerap CO₂ Di Kota Tobelo Tahun Oleh : Ronald Kondo Lembang, M.Hut Steven Iwamony, S.Si

ENDES N. DAHLAN. Diterima 10 Desember 2007/Disetujui 15 Mei 2008 ABSTRACT

Oleh Driananta Praditiyas NRP Dosen Pembimbing Abdu Fadli Assomadi, SSi., MT NIP

GLOBAL BUSINESS OPPORTUNITY

Ahmad Rivai 2, Pindi Patana 3, Siti Latifah 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KEMAMPUAN SERAPAN KARBONDIOKSIDA PADA TANAMAN HUTAN KOTA DI KEBUN RAYA BOGOR SRI PURWANINGSIH

Kemampuan Serapan Karbondioksida pada Tanaman Hutan Kota di Kebun Raya Bogor SRI PURWANINGSIH

Pemilihan Jenis Pohon dalam rangka pembangunan dan pengembangan hutan kota. Serang, 14 Oktober 2014

TASIKMALAYA 14 DESEMBER 2015

PENDUGAAN SIMPANAN KARBON DI ATAS PERMUKAAN LAHAN PADA TEGAKAN EUKALIPTUS (Eucalyptus sp) DI SEKTOR HABINSARAN PT TOBA PULP LESTARI Tbk

KEBERLANGSUNGAN FUNGSI EKONOMI, SOSIAL, DAN LINGKUNGAN MELALUI PENANAMAN KELAPA SAWIT/ HTI BERKELANJUTAN DI LAHAN GAMBUT

Pemanfaatan canal blocking untuk konservasi lahan gambut

Kata kunci: Emisi Karbon, Daya Serap Vegetasi,Kecamatan Genteng, dan Ruang Terbuka Hijau.

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV ANALISIS DAN SINTESIS

KAJIAN KONSEP DESAIN TAMAN DAN RUMAH TINGGAL HEMAT ENERGI

BAB I PENDAHULUAN. merupakan hutan. Indonesia menempati urutan ketiga negara dengan hutan terluas di dunia

I. PENDAHULUAN. pemanasan global antara lain naiknya suhu permukaan bumi, meningkatnya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

mencintai, melestarikan dan merawat alam untuk kualitas hidup lebih baik Talaud Lestari

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh

USAHA KEBUN KAYU DENGAN JENIS POHON CEPAT TUMBUH

PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : POTENSI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA DAN PERMASALAHANNYA Oleh : Sukadaryati 1) ABSTRAK

dampak perubahan kemampuan lahan gambut di provinsi riau

BAB I. PENDAHULUAN. Perubahan iklim merupakan fenomena global meningkatnya konsentrasi

I. PENDAHULUAN. hayati yang tinggi dan termasuk ke dalam delapan negara mega biodiversitas di

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pohon merbau darat telah diklasifikasikan secara taksonomi sebagai berikut

Q GREEN PLAN A TREE! Adalah sebuah Platform Green Investment PT POG Indonesia yang menjual menjual bibit jabon unggul dan ditanamkan sampai panen,

ANALISIS KECUKUPAN RUANG TERBUKA HIJAU SEBAGAI PROGRAM STELLA (STUDI KASUS: SURABAYA UTARA DAN TIMUR)

SIDIK CEPAT PEMILIHAN JENIS HUTAN RAKYAT UNTUK PETANI

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II. PERENCANAAN KINERJA

Edisi 1 No. 1, Jan Mar 2014, p Resensi Buku

BAB I PENDAHULUAN. disekitarnya. Telah menjadi realita bila alam yang memporak-porandakan hutan,

BAB I PENDAHULUAN. dapat disediakan dari hutan alam semakin berkurang. Saat ini kebutuhan kayu

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hutan menurut Undang-undang RI No. 41 Tahun 1999 adalah suatu kesatuan

Teknologi Pertanian Sehat Kunci Sukses Revitalisasi Lada di Bangka Belitung

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

I. PENDAHULUAN. Pertanian dan sektor-sektor yang terkait dengan sektor agribisnis

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. dan hutan tropis yang menghilang dengan kecepatan yang dramatis. Pada tahun

Geografi PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUN BERKELANJUTAN I. K e l a s. xxxxxxxxxx Kurikulum 2006/2013. A. Kerusakan Lingkungan Hidup

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT

disinyalir disebabkan oleh aktivitas manusia dalam kegiatan penyiapan lahan untuk pertanian, perkebunan, maupun hutan tanaman dan hutan tanaman

I. PENDAHULUAN. Hutan memiliki banyak fungsi salah satunya fungsi ekonomi. Fungsi hutan

Geografi KEARIFAN DALAM PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM I. K e l a s. Kurikulum 2013

IV. GAMBARAN UMUM. Gebernur Provinsi DKI Jakarta Nomor: 202 tahun Hutan Kota

DISAMPAIKAN PADA ACARA PELATIHAN BUDIDAYA KANTONG SEMAR DAN ANGGREK ALAM OLEH KEPALA DINAS KEHUTANAN PROVINSI JAMBI

SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 6. PERAN MANUSIA DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGANLatihan Soal 6.2

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. hutan dapat dipandang sebagai suatu sistem ekologi atau ekosistem yang sangat. berguna bagi manusia (Soerianegara dan Indrawan. 2005).

II. TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol (Gladiolus hybridus) berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti

Muhimmatul Khoiroh Dosen Pembimbing: Alia Damayanti, S.T., M.T., Ph.D

BAB I PENDAHULUAN. karena hutan memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia, hewan dan

Memperhatikan pokok-pokok dalam pengelolaan (pengurusan) hutan tersebut, maka telah ditetapkan Visi dan Misi Pembangunan Kehutanan Sumatera Selatan.

Peluang dan Tantangan bagi Pemilik Sumber Benih Bersertifikat (Pasca Ditetapkannya SK.707/Menhut-II/2013)

Iklim Perubahan iklim

PENGEMBANGAN INDUSTRI KEHUTANAN BERBASIS HUTAN TANAMAN penyempurnaan P.14/2011,P.50/2010, P.38 ttg SVLK) dan update peta P3HP.

BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG

PENDAHULUAN. Permasalahan yang dihadapi dalam pengusahaan tanah-tanah miring. berlereng adalah erosi. Untuk itu dalam usaha pemanfaatan lahan-lahan

SD kelas 6 - ILMU PENGETAHUAN ALAM BAB 10. PELESTARIAN LINGKUNGANLaihan soal 10.3

Menengok kesuksesan Rehabilitasi Hutan di Hutan Organik Megamendung Bogor Melalui Pola Agroforestry

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Dampak Perubahan Iklim

PEMANASAN GLOBAL PENYEBAB PEMANASAN GLOBAL

I. PENDAHULUAN. Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan. selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam

Setitik Harapan dari Ajamu

REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG BATUGAMPING DI GUNUNG SIDOWAYAH DESA BEDOYO KECAMATAN PONJONG KABUPATEN GUNUNGKIDUL PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Menanam Laba Dari Usaha Budidaya Kedelai

TEKNIK PENANAMAN, PEMELIHARAAN, DAN EVALUASI TANAMAN

TINJAUAN PUSTAKA Asal-usul dan Penyebaran Geografis Sifat Botani

BAB IV ANALISIS DAN SINTESIS

BAB I PENDAHULUAN. dengan target luas lahan yang ditanam sebesar hektar (Atmosuseno,

PENDAHULUAN Latar Belakang

MAKALAH PEMBAHASAN EVALUASI KEBIJAKAN NASIONAL PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP DI DAERAH ALIRAN SUNGAI 1) WIDIATMAKA 2)

BAB IV RANCANGAN DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. oleh pemerintah untuk di pertahankan keberadaan nya sebagai hutan tetap.

Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dewasa ini kebutuhan kayu di Indonesia semakin meningkat. Peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. Industri pengolahan kayu yang semakin berkembang menyebabkan

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB I PENDAHULUAN. Hutan memiliki banyak fungsi ditinjau dari aspek sosial, ekonomi, ekologi

BAB 13. KELUARGA DAN PERUBAHAN IKLIM. Oleh: Herien Puspitawati Tin Herawati

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

Geografi. Kelas X ATMOSFER VII KTSP & K Iklim Junghuhn

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 5. DINAMIKA ATMOSFERLATIHAN SOAL 5.5. La Nina. El Nino. Pancaroba. Badai tropis.

Ekspansi Industri Pulp: Cara Optimis Penghancuran Hutan Alam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. memiliki potensi sangat besar dalam menyerap tenaga kerja di Indonesia.

PENAWARAN MENJADI INVESTOR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. A. Pembibitan Jati. tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi m.

DAFTAR ISI. Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1

BAB I PENDAHULUAN. permintaan kertas dunia, yaitu rata-rata sebesar 2,17% per tahun (Junaedi dkk., 2011).

Transkripsi:

SOLD OUT READY FOR SALE www.i-gist.com

2 Pendahuluan Revitalisasi pemanfaatan hutan dan industri kehutanan merupakan salah satu dari 6 (enam) Kebijakan Prioritas Kementerian Kehutanan 2009-2014. Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan berharap kemajuan teknologi industri kehutanan berbasis hutan tanaman di Pulau Jawa yang maju pesat dapat ditularkan ke wilayah lain. Dalam hal lain, masalah nasional dalam sektor kehutanan adalah eksploitasi hutan alam yang berlebihan. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya bencana alam, seperti tanah longsor, banjir bandang, dan kekeringan pada musim kemarau. Menurut Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (2004), laju degradasi hutan di Indonesia mencapai 1,6-2,5 juta ha/tahun. Dilihat dari segi kelestarian lingkungan, rusaknya hutan menyebabkan hilangnya fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan. Padahal sebagai penyangga kehidupan, hutan berfungsi untuk 1. daerah resapan air, 2. konservasi tanah, 3. sumber biodiversitas (keanekaragaman hayati), dan 4. pengendalian iklim. Sementara itu, dalam revitalisasi sektor kehutanan terutama industri kehutanan telah menempatkan target pencapaian peningkatan kapasitas industri perkayuan, yaitu pada 2007 dari 6,5 juta ton per tahun pulp menjadi 16 juta ton per tahun pada tahun 2020. Apabila asumsi 1 ton pulp memerlukan bahan baku kayu 4,9 m 3, kayu yang dibutuhkan adalah sebanyak 78 juta m 3 per tahun. Di sisi lain, kemampuan penanaman secara nasional per tahun berkisar antara 150.000-200.000 ha sehingga masih terdapat kekurangan bahan baku hampir 50%. Pemerintah berharap agar sumber bahan baku yang berasal dari hutan tanaman rakyat menjadi nafas bagi industri perkayuan. Hutan alam tetap terjaga, hutan produksi terus dikembangkan. Hutan tanaman di masa depan akan menjadi tulang punggung bagi industri perkayuan nasional. Dengan demikian, jumlah industri kehutanan pun meningkat. Hal inilah yang menjadi salah satu dasar PT Global Agro Bisnis (I-GIST) disingkat PT GAB (I-GIST) mencetuskan dan mengembangkan program Green Property. Green Property mengembangkan hutan tanaman rakyat yang ditanami pohon jabon (Anthocephalus cadamba Miq) dengan mengacu pada 5 (lima) pilar kelayakan, yaitu 1. kelayakan ekonomi, 2. kelayakan ekologis, 3. kelayakan sosial, 4. kelayakan lingkungan, dan 5. kelayakan spiritual.

3 Kelayakan Ekonomi Laju Kebutuhan Kayu Tidak Sebanding dengan Ketersediaan Kayu Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan populasi manusia, kebutuhan akan kayu terus berkembang. Sementara itu suplai kayu sendiri membutuhkan waktu dan ketersediaannya tidak sebanding dengan laju kebutuhannya. Berdasarkan data Kementrian Kehutanan menunjukkan kebutuhan kayu nasional rata-rata mencapai 43 juta m 3 per tahun. Adapun 9,1 juta dari jumlah tersebut dipasok dari hutan alam sehingga terdapat kekurangan 34 juta m 3. Kekurangan inilah yang akan dipenuhi salah satunya dari hutan tanaman rakyat (HTR). Lalu bagaimana dengan pasar kayu jabon sendiri? Hasil riset Majalah Trubus Edisi November 2011 menyimpulkan bahwa kebutuhan kayu jabon sangat besar. Dari beberapa industri yang sudah melakukan ekspansi pasar ke luar negeri menyebutkan bahwa - Jabon sebagai kayu kelas kuat V itu disukai konsumen; - Jabon diekspor untuk para pelanggan/pembeli dari Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa yang meminta 100% kayu alam; - Jabon biasanya dipakai untuk pelapis atas dan bawah karena tekstur seratnya bagus; - Jabon juga disukai pembeli dari Jepang, Korea, dan Uni Emirat Arab karena kayunya ringan, kuat, dan halus. Kebijakan Lingkungan yang Melindungi Hutan Alam Pemerintah semakin memperketat izin penggunaan hutan alam. Salah satu buktinya adalah moratorium izin kehutanan, yaitu Inpres No.6/2013 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. Tujuannya adalah menjaga luasan hutan di Indonesia, bahkan diharapkan bertambah luasannya. Harga Kayu yang Cenderung Terus Meningkat ITTO adalah organisasi antar pemerintah yang mempromosikan konservasi dan pengelolaan berkelanjutan, penggunaan dan perdagangan sumber daya hutan tropis. Anggotanya mewakili sekitar 80% dari hutan tropis dunia dan 90% dari perdagangan kayu tropis global. Melalui www. itto.int dapat dilihat tren harga kayu di pasar Internasional setiap tahunnya. Berikut adalah grafik tren harga kayu yang cenderung naik setiap tahunnya.

4 Market Kayu Sengon (termasuk Jabon) berdasarkan rilis resmi International Tropical Timber Organizations (ITTO) Jepang, melalui www.itto.int dapat dilihat pada gambar di samping. Kelayakan Ekonomi Program Penanaman 100.000.000 hektar Kelayakan ekonomi penanaman pohon jabon 100.000 ha berdasarkan potensi hasil panen jabon 5-6 tahun dan 9-10 tahun jika mengacu pada biaya tanam, jumlah pohon, dan beberapa asumsi harga jual adalah sebagai berikut. Biaya Tanam Biaya tanam per hektar adalah Rp100.000.000,- Maka biaya tanam untuk 100.000 ha adalah Rp100.000.000,- 100.000 = Rp10.000.000.000.000,- Biaya tanaman untuk 100.000 ha adalah Rp10 Triliun Jumlah Pohon Jumlah pohon yang ditanam setiap hektarnya adalah 700 pohon Maka jumlah pohon yang ditanam di lahan 100.000 ha adalah 700 pohon 100.000 = 70.000.000 pohon Jumlah total pohon yang ditanaman di 100.000 ha adalah 70 juta pohon Potensi Hasil Panen Beberapa asumsi harga jual pohon jabon adalah sebagai berikut. a. Asumsi harga jual rendah Rp600.000,- /m 3 b. Asumsi harga jual sedang Rp800.000,- / m 3 c. Asumsi harga jual tinggi Rp1.000.000,- / m 3

5 Dengan demikian akan diperoleh tabel ilustrasi potensi hasil panen berikut. ASUMSI HARGA JUAL BIAYA MENANAM POHON 100.000 HA JUMLAH POHON ILUSTRASI POTENSI PANEN 5-6 TAHUN (Rp) (BAGI HASIL 70%) ILUSTRASI POTENSI PANEN 9-10 TAHUN (Rp) (BAGI HASIL 50%) TOTAL POTENSI PANEN (Rp) PROSENTASE KENAIKAN PER TAHUN Rendah Rp10 Triliun 70 juta 29,4 Triliun* 21 Triliun* 50,4 Triliun* 40% Sedang Rp10 Triliun 70 juta 39,2 Triliun* 28 Triliun* 67,2 Triliun* 57% Tinggi Rp10 Triliun 70 juta 49 Triliun* 35 Triliun* 84 Triliun* 74% * Harga jual ditentukan harga pasar pada saat panen, ilustrasi di atas bersifat prediksi dengan melihat harga jual pada saat ini, yaitu Rp1juta-Rp1,2 juta. Berdasarkan data pada tabel di atas diperoleh kesimpulan bahwa prosentase potensi kenaikan hasil yang diperoleh dibandingkan biaya tanam adalah 40%-74%. Hasil tersebut dapat dikatakan sudah layak secara ekonomi. 4 Faktor Menentukan Nilai Ekonomi Menanam Pohon Jabon Ada 4 (empat) faktor yang dapat menentukan nilai ekonomi menanam pohon jabon. Keempat faktor tersebut adalah sebagai berikut. 1. Faktor kubikasi; 2. Faktor harga pasar; 3. Biaya panen; 4. Produk akhir yang dijual. 1. Faktor Kubikasi Kubikasi merupakan nilai volume yang didapatkan dari hasil kayu yang ditanam. Kubikasi ditentukan oleh 2 (dua) hal/faktor utama, yaitu a. Faktor Alam, meliputi: cuaca, kondisi tanah, suhu udara, karakter hewan dan serangga di lingkungan tersebut; b. Faktor Teknis, meliputi: tata cara penanaman dan pemeliharaan. a. Faktor Alam Bagaimana pun juga alam sangat mempengaruhi pertumbuhan pohon jabon. Baik itu cuaca, kondisi tanah, suhu udara, karakter hewan dan serangga yang ada di lingkungan sekitar pohon yang ditanam. PT Global Agro Bisnis (I-GIST) telah memiliki standar dan manajemen risiko dalam menangani pengaruh faktor alam tersebut. Salah satu akibat pengaruh faktor alam, pohon jabon terkena serangan hama Pohon jabon yang terkena serangan hama sudah sehat kembali setelah dilakukan penanganan

6 b. Faktor Teknis Selain faktor alam, kubikasi pun dipengaruhi oleh faktor teknis yang dilakukan, misalnya tata cara penanaman dan pemeliharaan. Setiap pohon memiliki karakteristik tersendiri termasuk pohon jabon. Penanganan yang tepat dapat menghasilkan kubikasi yang diharapkan. Salah satu hal yang penting adalah mengenai pemilihan bibit. I-GIST memiliki standar dalam pengembangan bibit unggul, yaitu 1) pemilihan induk pohon terbaik, 2) pemilihan benih biji terbaik, dan 3) pemilihan hasil semai terbaik. pemilihan induk pohon terbaik pemilihan benih biji terbaik pemilihan hasil semai terbaik Manajemen Evaluasi dan Kontrol I-GIST yang Terpadu Untuk mengoptimalkan hasil dari penanaman ini, sangat diperlukan manajemen kontrol dan eavluasi yang terpadu. PT GAB (I-GIST) memiliki standar untuk mengoptimalkan hasil penanaman. Beberapa hal yang dilakukan i-gist untuk menjalankan kontrol dan evaluasi terpadu adalah sebagai berikut. a. Penggunaan sistem pemetaan dan geodesi detail setiap lahan yang ditanam; b. Rekapitulasi opname populasi pohon di setiap cluster; c. Rekapitulasi tingkat pertumbuhan pohon di setiap cluster; d. Menyediakan cluster supervisor di setiap 10 hektar lahan; e. Sistem monitoring dan pelaporan online eye grow yang merupakan bank data rekapitulasi opname kondisi penanaman. a. Sistem Pemetaan dan Geodesi di Setiap Lahan yang Ditanam I-GIST

7 Dalam hal penanaman I-GIST menggunakan teknologi pola tanam Legowo 1 yang dapat dilihat seperti dalam gambar berikut. Berikut adalah tahapan masa penanaman yang dilakukan oleh PT GAB (I-GIST).

8 b. Rekapitulasi Opname Populasi Pohon di Setiap Cluster Berikut adalah beberapa hal yang dilakukan oleh I-GIST dalam hal pemeliharaan. 1. Lahan Cianjur Setelah Penanaman 2. Lahan Cianjur Terkena Hama Ulat Gerayak 3. Proses Recovery, Tahap1: Opname & Cek Medis 4. Proses Recovery, Tahap 2: Persiapan Bibit Sulaman - dengan Bibit Besar 5. Proses Recovery, Tahap 3: Proses Pendangiran (Pengemburan Lingkaran Sekitar Pohon) 6. Proses Recovery, Tahap 4: Penyulaman & Aplikasi Pupuk Organik 7. Proses Recovery, Tahap 5: Penyemprotan Berkala Pupuk Organik Cair 8. Lahan Cianjur Setelah Recovery

9 c. Rekapitulasi Tingkat Pertumbuhan Pohon Di Setiap Cluster Pertumbuhan pohon setiap cluster diukur dan dipantau oleh I-GIST kemudian dibuat rekapitulasinya. d. Cluster Supervisor Di Setiap 10 Hektar Lahan I-GIST membentuk Cluster Supervisor di setiap 10 hektar lahan untuk mengoptimalkan pengelolaan setiap cluster. e. Sistem Monitoring dan Pelaporan Online Eye Grow yang Merupakan Bank Data Rekapitulasi Opname Kondisi Penanaman I-GIST memiliki Sistem IT terpadu sebagai pendukung sistem monitoring dan pelaporan yang merupakan Bank Data Rekapitulasi Opname Kondisi Penanaman. System Report Rekam Medis Eye Grow Progress Report Peta Cluster Pohon

10 2. Faktor Harga Pasar Harga jual kayu per kubik, merupakan faktor yang menentukan nilai ekonomi kayu yang ditanam ketika panen. Harga pasar ditentukan oleh perbandingan antara: Suplai, dan Permintaan Seperti diketahui dari penjelasan sebelumnya, bahwa permintaan kayu untuk industri masih lebih besar dibandingkan ketersediaan/suplai kayu itu sendiri. Dengan demikian harga jual kayu di pasar nasional maupun internasional cenderung meningkat setiap tahunnya. Contoh Harga Kayu Jabon di Pasar Nasional Tahun 2013 HARGA LOG KAYU JABON DENGAN DIAMETER 25-29 Rp800.000 /m 3 sedangkan HARGA LOG KAYU DENGAN DIAMETER DI ATAS 30 Rp1 juta Rp1,2 juta 3. Biaya panen Biaya panen termasuk ke dalam komponen yang akan mengurangi hasil panen pohon. Biaya panen tersebut meliputi: a. Ongkos tebang dan angkut; b. Biaya surat menyurat legaltias panen (SKAU/Surat Keterangan Asal Usul); c. Biaya transportasi menuju pabrik pengolahan kayu. D. Produk akhir yang dijual

11 Kayu Olahan dari Jabon Kayu jabon dapat diolah sehingga nilai jualnya menjadi lebih tinggi. Berikut beberapa proses pengolahan jabon. SHAWN TIMBER ENGINEERING WOOD PARQUET WOOD PALLET

12 Kelayakan EkoLOGIS Sebaran Tempat Tumbuh Jabon Berdasarkan informasi dari berbagai sumber literature, jabon sebagai tumbuhan asli dari berbagai Negara, yaitu Cina, Sri Langka, India, Nepal, Laos, Myanmar, Thailand, Vietnam, Malaysia, Indonesia dan Papua Nugini. Nurhasbi dan Muharam (2003) menjelaskan bahwa di Indonesia jabon tumbuh di Jawa Barat, Jawa Timur, seluruh Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Papua Barat. Jabon tumbuh di dataran rendah sampai dengan ketinggian 1000 m di atas permukaan laut (dpl). Adapun pertumbuhan optimal/paling baik pada ketinggian 700-800 dpl, curah hujan rata-rata antara 1500-5000 mm/tahun, dan suhu maksimum 32-43 C atau suhu optimum rata-rata tahunan 23 C. Jabon hidup di berbagai tipe tanah tetapi akan tumbuh baik di lahan yang subur dan berdrainase baik. Walaupun begitu jabon toleran terhadap asam dan berdrainase tidak baik/kadang terendam tetapi bukan tanah ter-erosi. Musim Buah Jabon memiliki buah, buah jabon termasuk jenis buah majemuk dan terdiri atas minimal seribu anak buah. Masing-masing anak buah terdiri atas 30 40 butir biji. Buah berbentuk bulat dengan diameter 4-6 cm berwarna kuning sampai oranye. Ketika masih muda buah jabon berwarna hijau. Menurut Ruhendi (2009), benih kering udara berjumlah 18 26 juta butir dan dalam 1 kg terdapat sekitar 33 buah. Jabon dapat berbuah sepanjang tahun, yaitu pada bulan Juni sampai dengan Agustus. Pada umumnya musim buah masak terjadi pada bulan Maret April. Menurut Trubus (2010), dari satu buah masak jabon rata-rata menghasilkan 8.300 anakan atau setara 8,5 hektar.

13 Pertumbuhan Berikut karakteristik pertumbuhan pohon jabon. Jabon termasuk pohon jenis cepat tumbuh dan merupakan jenis pionir; Terhadap kebutuhan cahaya termasuk jenis tanaman intoleran Oleh karena itu, tanaman ini tidak tahan naungan dan membutuhkan pencahayaan penuh sepanjang tahunnya. Batang pohon jabon lurus dan silindris; Percabangannya yang juga silindris dan membentuk tajuk seperti payung; Jabon mempunyai sifat self prunning (pengguguran cabang sendiri) yang cukup kuat sehingga pada masa pertumbuhan cabang akan rontok dengan sendirinya sehingga jabon tidak memerlukan pemangkasan cabang; Tinggi pohon jabon dapat mencapai 45m sedangkan tinggi pohon sampai dengan bebas cabang mencapai 30m, berdiameter sampai dengan 160 cm. Pertumbuhan riap tinggi pohon jabon adalah 3m per tahun sedangkan pertumbuhan riap diameternya adalah 7cm per tahun (Soerianegara & Lemmens, 2005); Pertumbuhan pohon jabon pada Hutan Rakyat di Provinsi Riau dengan jarak tanam 4m x 5m dengan pemeliharaan intensif pada umur 2 tahun tingginya dapat mencapai 13m dan diameternya 15cm. Dengan pemeliharaan semi intensif (tanpa pemupukan) pada umur 1 tahun, pertumbuhan tinggi tanaman jabon dapat mencapai 5,3m dan diameternya 9cm. Adapun pada lahan hutan tanaman industri (HTI) pulp dengan kesuburan tanah rendah (lahan marjinal) dengan jarak tanam 3m x 2m tinggi pohon jabon dapat mencapai 7,5m dan daimeternya 11 cm. Sifat Kayu Berikut sifat-sifat kayu jabon. Kayu jabon termasuk kayu lunak dan mudah dikerjakan dengan berat jenis (BD) rendah sampai sedang yaitu 0,29 0,56 (BD rata-rata 0,42), kelas kuat III (sedang) dan kelas awet IV-V (Soerianegara & Lemmens, 2005). Kayu jabon berwarna putih agak kekuningan tanpa terlihat seratnya, sangat sesuai bagi industri pulp dan kertas, vinir, kayu lapis (plywood), industri mebel, peti buah, mainan anak, korek api, alas sepatu, papan dan produk kayu lainnya (Ruhendi, 2009). Kayu jabon sangat memenuhi syarat sebagai bahan baku pulp dengan kualitas serat II. Karena beberapa keunggulan pohon jabon dibandingkan tanaman kayu lainnya seperti sengon, akhir-akhir ini jabon telah menjadi jenis alternatif andalan bagi industri perkayuan.

14 Kelayakan Sosial Salah satu hal yang menjadi pilar kelayakan Green Property I-GIST adalah kelayakan sosial. PT GAB (I-GIST) memperhatikan bagaimana program green property ini dapat berdampak baik untuk sosial dan masyarakat. Baik dari sisi ekonomi maupun kesejahteraan masyarakat. Kontribusi tersebut berupa: - Upah kerja; - Peternakan kambing/sapi yang dikelola bersama masyarakat; - Tumpah sari di sela-sela pohon jabon yang ditanam dan dikelola bersama masyarakat; Berikut beberapa hal yang dilakukan PT GAB (I-GIST) sebagai program pemberdayaan masyarakat. 1. Merekrut penanggung jawab cluster dari putra daerah; 2. Budi daya palawija, di antaranya: - Minyak Sereh; - Minyak Nilam; Kedua minyak ini adalah bahan baku untuk pembuatan green power sebagai penghemat bbm dan penurun emisi gas buang karbon.

15 3. Peternakan, Penggemukan & Pembibitan Kotoran Ternak dari peternakan digunakan untuk Bahan Pupuk Organik Pohon Jabon. Kotoran Ternak digunakan untuk Bahan Pupuk Organik Pohon Jabon Apabila program penanaman pohon di lahan 100.000 ha dilaksanakan maka akan banyak sekali masyarakat sekitar yang terlibat dan memperoleh pekerjaan serta penghasilan. Dengan demikian kesejahteraan masyarakat pun meningkat sehingga program Green Property dapat dikatakan layak sosial.

16 Kelayakan Lingkungan Berbagai media informasi memberitakan tentang kondisi bumi yang sedang kritis. Fakta-fakta yang terjadi sekarang menunjukkan bahwa perlu adanya tindakan nyata untuk memperbaiki kondisi lingkungan kita. Hal tersebut menjadi tantangan kita bersama untuk menjaga keberlangsungan alam ini. Berikut beberapa fakta yang diambil dari berbagai sumber pemberitaan. Tingginya Penyumbang Emisi Gas Karbon Jumlah kendaraan bermotor yang diproduksi tahun 2012 di dunia mencapai 84 juta unit setahun atau sebanyak 234 ribu unit/hari (Sumber: oica.net The International Organization of Motor Vehicle Manufacturers) Area Hutan Di Dunia sebagai Konverter Gas Karbon Terus Berkurang Menurut globalchange.umich.edu, sekira 1½ hutan yang menutupi bumi hilang. Setiap tahunnya, 16 juta hektar lagi menghilang. Prediksi 2028 bisa menjadi Akhir Dunia Salah satu prediksi dari seorang jurnalis dan aktivis perubahan iklim bernama Bill McKibben di hadapan 1.000 orang di University of California Los Angeles: - Dunia akan hancur jika co 2 di udara mencapai 565 gigaton karbon; - Cadangan bahan bakar minyak dunia, bisa menghasilkan 2.795 gigaton. Secara matematis sederhana, angka 565 gigaton karbon akan tercapai dalam 16 tahun kedepan dengan kondisi polusi seperti saat sekarang

17 PT GAB (I-GIST) dalam program green property dengan menanam pohon jabon merupakan bagian dari solusi masalah lingkungan tersebut. Terutama dalam menghijaukan kembali tanahtanah yang marjinal dan tanah yang bertopografi miring yang rawan terhadap erosi. Berikut manfaat-manfaat program green property dengan menanam pohon jabon terhadap lingkungan. mencegah erosi dan banjir; menyelamatkan lahan kritis; mengurangi dampak global warming; menghasilkan oksigen; menyerap CO 2 ; Sebuah penelitian telah dilakukan oleh Endes N Dahlan, Seorang dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Pada tahun 2007-2008 tentang daya serap karbondioksida pada berbagai jenis tanaman. No. Nama Lokal Nama Ilmiah Daya serap CO 2 (kg/pohon/tahun) 1. Trembesi Samanea saman 28.488,39 2. Cassia Cassia sp 5.295,47 3. Kenanga Canangium odoratum 756,59 4. Pingku Dysoxylum excelsum 720,49 5. Beringin Ficus benyamina 535,90 6. Kirai payung Fellicium decipiens 404,83 7. Matoa Pometia pinnata 329,76 8. Mahoni Swettiana mahagoni 295,73 9. Saga Adenanthera pavoniana 221,18 10. Bungur Lagerstroemia speciosa 160,14 11. Jati Tectona grandis 135,27 12. Nangka Arthocarpus heterophyllus 126,51 13. Johar Cassia grandis 116,25 14. Sirsak Annona muricata 75,29 15. Puspa Schima wallichii 63,31 16. Akasia Acacia auriculiformis 48,68 17. Flamboyan Delonix regia 42,20 18. Sawo kecik Manilkara kauki 36,19 19 Tanjung Mimusops elengi 34,29 20 Bunga merak Caesalpinia pulcherrima 30,95 21. Sempur Dilenia retusa 24,24 22. Khaya Khaya anthotheca 21,90 23. Merbau pantai Intsia bijuga 19,25 24. Akasia Acacia mangium 15,19 25. Angsana Pterocarpus indicus 11,12 26. Asam kranji Pithecelobium dulce 8,48 27. Saputangan Maniltoa grandiflora 8,26 28. Dadap merah Erythrina cristagalli 4,55 29. Rambutan Nephelium lappaceum 2,19 30. Asam Tamarindus indica 1,49 31. Kempas Coompasia excelsa 0,20 Penyerapan CO2 oleh Pohon Jabon di Lahan 100.000 ha Jika mengacu pada hasil penelitian di atas, setelah dilakukan pengukuran pada daun jabon maka secara fisik bentuk dan lebar daun jabon hampir sama dengan daun pohon jati dengan lebar daun antara 8-25 cm. Berdasarkan hal tersebut dapat diasumsikan daya serap CO 2 Pohon Jabon 135,27 Kg per Tahun per pohon. Dapat diperoleh perhitungan pada program penanaman 100.000 Hektar Hutan Tanaman, dapat menyerap CO 2 sebesar 10.821.600.000 ton / tahun.

18 Kelayakan Spiritual Setiap agama di dunia memerintahkan manusia untuk menjaga alam serta saling membantu sesama. Salah satunya dalam ajaran agama islam berdasarkan beberapa dalil berikut. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra. : Rasulullah Saw pernah bersabda, akan dipandang sebagai melakukan sedekah, seorang muslim yang menabur benih dan menanam pohon, kemudian manfaat diambil oleh manusia, burung-burung, atau hewan lainnya. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab AL-Muzaro ah] Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab AL-Muzaro ah (2320), dan Muslim dalam Kitab Al-Musaqoh (3950)] Allah berfirman: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka.. anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. [QS. An-Nisa (4) :9] Nabi Muhammad saw bersabda: Bila kamu tinggalkan ahli warismu kaya, itu lebih baik.. dari pada kamu tinggalkan mereka dalam keadaan miskin dan akan menjadi beban orang lain. [H.R. Bukhari, dalam Bab Jana-iz, No. 1296 dan Muslim, dalam Bab Wasiat, No. 1628] Menanam pohon adalah salah satu bentuk menjaga kelestarian alam. Sesuai dengan perintah agama untuk menjaga alam dan membantu sesama, Green property I-GIST adalah program menanam pohon jabon yang memberi manfaat kepada alam serta ikut membantu sesama/masyarakat. Dengan demikian program menanam pohon green property memenuhi/ layak secara spiritual.

19 Penutup Berdasarkan penjelasan pada bagian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa program green property PT Global Agro Bisnis (I-GIST), yaitu penanaman tanaman jabon secara umum telah memenuhi 5 (lima) pilar kelayakan. 5 (lima) pilar kelayakan yang dipenuhi oleh program green property meliputi: 1. kelayakan ekonomi; 2. kelayakan ekologis; 3. kelayakan sosial; 4. kelayakan lingkungan; 5. kelayakan spiritual. Melihat kelayakannya dan manfaatnya yang hebat, green property perlu dilaksanakan dan dikembangkan. Akan tetapi, agar program green property ini dapat berkesinambungan perlu dukungan segenap lapisan masyarakat dari berbagai kalangan. Semakin banyak masyarakat yang bergabung dengan green property maka semakin banyak pohon yang ditanam. Semakin banyak pohon yang ditanam diharapkan semakin hijau bumi kita, semakin banyak masyarakat yang sejahtera kehidupannya, dan semakin baik pula spiritualnya. Dengan demikian, mari bersama-sama untuk ikut mendukung program Green Property I-GIST demi mewujudkan bumi dan lingkungan serta kehidupan yang lebih baik.

www.i-gist.com