PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

dokumen-dokumen yang mirip
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2010

BADAN PUSAT STATISTIK

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2011

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2008

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2013

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2014

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2015

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2009

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH

BERITA RESMI STATISTIK

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN 2015

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN 2003

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 20

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2008

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2013

No. 64/11/13/Th.XVII, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN III 2014

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERPERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA 2001

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2008

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2013

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERTUMBUHAN EKONOMI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2010

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2013

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI BARAT 2014

BPS PROVINSI LAMPUNG PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN I TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN III TAHUN 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2008

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2011

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2016

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN III 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI LAMPUNG TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2008

PERTUMBUHAN PDRB TAHUN 2013 MENCAPAI 6,2 %

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN III-2009

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN III TAHUN 2010

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN I TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN BARAT TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN BARAT TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN I TAHUN 2010

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN BARAT TAHUN 2014

BADAN PUSAT SATISTIK PROPINSI KEPRI

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN III TAHUN 2009

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TRIWULAN I/2016

Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Barat Triwulan I 2017 Terhadap Triwulan I 2016 (y on y)

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN II-2015

PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO. PDRB Gorontalo Triwulan III-2013 Naik 2,91 Persen

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN RIAU TRIWULAN I TAHUN 2011

ESI TENGAH. sedangkan PDRB triliun. konstruksi minus. dan. relatif kecil yaitu. konsumsi rumah modal tetap. minus 5,62 persen.

PERTUMBUHAN EKONOMI LAMPUNG TAHUN 2015

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU

BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2014

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PROFIL PEREKONOMIAN KABUPATEN/KOTA di DKI JAKARTA TAHUN 2011

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2008

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGGARA TAHUN 2015

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

PERTUMBUHAN EKONOMI RIAU TRIWULAN III-2015

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2015

No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN III/2012

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2012

Transkripsi:

BADAN PUSAT STATISTIK No. 12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA PERTUMBUHAN PDB TAHUN 2010 MENCAPAI 6,1 PERSEN Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2010 meningkat sebesar 6,1 persen terhadap tahun 2009, terjadi pada semua sektor ekonomi, dengan pertumbuhan tertinggi di Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 13,5 persen dan terendah di Sektor Pertanian 2,9 persen. Sementara pertumbuhan PDB tanpa migas tahun 2010 mencapai 6,6 persen. Besaran PDB Indonesia tahun 2010 atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.422,9 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan (tahun 2000) mencapai Rp2.310,7 triliun. Secara triwulanan, PDB Indonesia Triwulan IV-2010 dibandingkan dengan Triwulan III-2010 (q-to-q) menurun sebesar 1,4 persen, tapi bila dibandingkan dengan Triwulan IV-2009 (y-on-y) tumbuh sebesar 6,9 persen. Pertumbuhan ekonomi tahun 2010 menurut sisi penggunaan terjadi pada komponen ekspor sebesar 14,9 persen, diikuti pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 8,5 persen, pengeluaran konsumsi rumah tangga 4,6 persen, dan pengeluaran konsumsi pemerintah 0,3 persen. Sedangkan komponen impor sebagai faktor pengurang mengalami pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 17,3 persen. Pada tahun 2010, PDB digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga sebesar 56,7 persen, konsumsi pemerintah 9,1 persen, pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik 32,2 persen, dan ekspor 24,6 persen. Sedangkan untuk penyediaan dari impor sebesar 23,0 persen. PDB per kapita atas dasar harga berlaku pada tahun 2010 mencapai Rp27,0 juta (US$3.004,9), sementara tahun 2009 sebesar Rp23,9 juta (US$2.349,6). 57,8 persen dari PDB Triwulan IV-2010 masih merupakan kontribusi Pulau Jawa, dengan urutan tiga provinsi terbesarnya adalah: DKI Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat. Secara kuantitatif, kegiatankegiatan di sektor sekunder dan tersier masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sedangkan kegiatan sektor primernya lebih diperankan oleh luar Jawa. I. Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2010 Perekonomian Indonesia pada tahun 2010 mengalami pertumbuhan sebesar 6,1 persen dibanding tahun 2009. Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan pada tahun 2010 mencapai Rp2.310,7 triliun, sedangkan pada tahun 2009 dan 2008 masing-masing sebesar Rp2.177,7 triliun dan Rp2.082,5 triliun. Bila dilihat berdasarkan harga berlaku, PDB tahun 2010 naik sebesar Rp819,0 triliun, yaitu dari Rp5.603,9 triliun pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp6.422,9 triliun pada tahun 2010. Berita Resmi Statistik No.12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011 1

Tabel 1 Nilai PDB Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008 2010, Laju Pertumbuhan dan Sumber Pertumbuhan Tahun 2010 Atas Dasar Atas Dasar Laju Sumber Lapangan Usaha Harga Berlaku Harga Konstan 2000 Pertumbuhan Pertumbuhan (Triliun Rupiah) (Triliun Rupiah) 2010 2010 2008 2009 2010 2008 2009 2010 (Persen) (Persen) (5) (6) (7) (8) (9) 1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 716,7 857,3 985,1 284,6 295,9 304,4 2,9 0,4 2. Pertambangan dan Penggalian 541,3 591,9 716,4 172,5 180,2 186,4 3,5 0,3 3. Industri Pengolahan 1 376,4 1 477,7 1 594,3 557,8 569,8 595,3 4,5 1,2 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 40,9 47,2 50,0 15,0 17,1 18,1 5,3 0,0 5. Konstruksi 419,7 555,2 661,0 131,0 140,3 150,1 7,0 0,4 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 691,5 744,1 881,1 363,8 368,6 400,6 8,7 1,5 7. Pengangkutan dan Komunikasi 312,2 352,4 417,5 165,9 191,6 217,4 13,5 1,2 8. Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 368,1 404,0 462,8 198,8 208,8 220,6 5,7 0,5 9. Jasa-jasa 481,9 574,1 654,7 193,1 205,4 217,8 6,0 0,6 Produk Domestik Bruto (PDB) 4 948,7 5 603,9 6 422,9 2 082,5 2 177,7 2 310,7 6,1 6,1 PDB Tanpa Migas 4 427,6 5 139,0 5 924,0 1 939,6 2 035,9 2 169,5 6,6 - Selama tahun 2010, semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada Sektor Pengangkutan dan Komunikasi yang mencapai 13,5 persen, diikuti oleh Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran 8,7 persen, Sektor Konstruksi 7,0 persen, Sektor Jasa-jasa 6,0 persen, Sektor Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 5,7 persen, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih 5,3 persen, Sektor Industri Pengolahan 4,5 persen, Sektor Pertambangan dan Penggalian 3,5 persen, dan Sektor Pertanian 2,9 persen. Pertumbuhan PDB tanpa migas pada tahun 2010 mencapai 6,6 persen yang berarti lebih tinggi dari pertumbuhan PDB secara keseluruhan yang besarnya 6,1 persen. Grafik 1 Laju dan Sumber Pertumbuhan PDB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2010 16,0 14,0 13,5 12,0 10,0 8,0 6,0 4,0 2,0 0,0 2,9 0,4 3,5 4,5 1,2 7,0 8,7 5,3 5,7 6,0 0,3 0,0 0,4 0,5 0,6 Pertanian Pertambangan Industri LGA Konstruksi Perdagangan Angkutan Keuangan Jasa-jasa 1,5 1,2 Laju Pertumbuhan Sumber Pertumbuhan 2 Berita Resmi Statistik No. 12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011

Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran yang mengalami pertumbuhan sebesar 8,7 persen memberikan sumbangan terhadap sumber pertumbuhan terbesar terhadap total pertumbuhan PDB yaitu sebesar 1,5 persen. Selanjutnya diikuti oleh Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dan Sektor Industri Pengolahan yang memberikan peranan masing-masing sebesar 1,2 persen (Tabel 1). II. Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV-2010 Kinerja perekonomian Indonesia pada Triwulan IV-2010 yang digambarkan oleh PDB atas dasar harga konstan 2000 menurun sebesar 1,4 persen dibanding triwulan sebelumnya (q-to-q). Penurunan tersebut mengikuti pola triwulanan yang lalu yaitu mengalami kontraksi pada Triwulan IV setelah terjadi kenaikan pada Triwulan III. Pertumbuhan negatif pada Triwulan IV-2010 ini disebabkan karena Sektor Pertanian mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 20,3 persen karena siklus musiman. Sedangkan sektor-sektor lainnya selama Triwulan IV-2010 mengalami pertumbuhan positif yaitu: Sektor Pengangkutan dan Komunikasi tumbuh 3,7 persen, Sektor Jasa-jasa tumbuh 2,5 persen, Sektor Konstruksi tumbuh 2,5 persen, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih tumbuh 1,7 persen, Sektor Industri Pengolahan tumbuh 1,4 persen, Sektor Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan tumbuh 1,3 persen, Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran tumbuh 0,7 persen, serta Sektor Pertambangan dan Penggalian tumbuh sebesar 0,6 persen (Tabel 2). Selanjutnya, perekonomian Indonesia pada Triwulan IV-2010 bila dibandingkan dengan Triwulan IV-2009 (y-on-y) mengalami pertumbuhan sebesar 6,9 persen. Pertumbuhan tersebut terjadi pada semua sektor ekonomi yaitu: Sektor Pengangkutan dan Komunikasi mencapai pertumbuhan tertinggi sebesar 15,5 persen, Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran tumbuh 8,4 persen, Sektor Jasa-jasa tumbuh 7,5 persen, Sektor Konstruksi tumbuh 6,7 persen, Sektor Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan tumbuh 6,3 persen, Sektor Industri Pengolahan tumbuh 5,3 persen, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih tumbuh 4,3 persen, Sektor Pertambangan dan Penggalian tumbuh 4,2 persen, serta Sektor Pertanian tumbuh 3,8 persen. Tabel 2 Laju Pertumbuhan PDB Triwulanan Menurut Lapangan Usaha Lapangan Usaha Triwulan III-2010 Triwulan IV-2010 Triwulan IV-2010 Terhadap Terhadap Terhadap Triwulan II-2010 Triwulan III-2010 Triwulan IV-2009 1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 6,2-20,3 3,8 2. Pertambangan dan Penggalian 3,5 0,6 4,2 3. Industri Pengolahan 2,6 1,4 5,3 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 0,1 1,7 4,3 5. Konstruksi 4,4 2,5 6,7 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 3,9 0,7 8,4 7. Pengangkutan dan Komunikasi 4,7 3,7 15,5 8. Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 1,7 1,3 6,3 9. Jasa-jasa 1,1 2,5 7,5 Produk Domestik Bruto (PDB) 3,4-1,4 6,9 PDB Tanpa Migas 3,6-1,5 7,4 Berita Resmi Statistik No.12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011 3

III. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008 2010 Distribusi PDB menurut sektor ekonomi atau lapangan usaha atas dasar harga berlaku menunjukkan peranan dan perubahan struktur ekonomi dari tahun ke tahun. Tiga sektor utama yaitu Sektor Industri Pengolahan, Sektor Pertanian dan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran mempunyai peranan sebesar 53,8 persen tahun 2010. Sektor Industri Pengolahan memberi kontribusi sebesar 24,8 persen, Sektor Pertanian dan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran mempunyai peranan masing-masing sebesar 15,3 persen dan 13,7 persen. Tabel 3 Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha Tahun 2008 2010 Lapangan Usaha 2008 2009 2010 1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 14,5 15,3 15,3 2. Pertambangan dan Penggalian 10,9 10,6 11,2 3. Industri Pengolahan 27,8 26,4 24,8 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 0,8 0,8 0,8 5. Konstruksi 8,5 9,9 10,3 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 14,0 13,3 13,7 7. Pengangkutan dan Komunikasi 6,3 6,3 6,5 8. Keuangan, Real estat dan Jasa Perusahaan 7,5 7,2 7,2 9. Jasa-jasa 9,7 10,2 10,2 Produk Domestik Bruto (PDB) 100,0 100,0 100,0 PDB Tanpa Migas 89,5 91,7 92,2 Dibandingkan dengan tahun 2008 dan 2009, pada tahun 2010 terjadi peningkatan peranan pada beberapa sektor kecuali: Sektor Industri Pengolahan turun dari 27,8 persen menjadi 24,8 persen dan Sektor Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan turun dari 7,5 persen menjadi 7,2 persen. Peranan Sektor Pertanian naik dari 14,5 persen menjadi 15,3 persen, Sektor Konstruksi naik dari 8,5 persen menjadi 10,3 persen, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi naik dari 6,3 persen menjadi 6,5 persen, dan Sektor Jasa-jasa naik dari 9,7 menjadi 10,2 persen. Selanjutnya jika dilihat secara total, peranan PDB tanpa migas naik dari 89,5 persen pada tahun 2008 menjadi 91,7 persen pada tahun 2009 dan 92,2 persen pada tahun 2010. IV. PDB Menurut Penggunaan PDB atas dasar harga berlaku tahun 2010 sebesar Rp6.422,9 triliun, sebagian besar digunakan untuk konsumsi rumah tangga sebesar Rp3.642,0 triliun. Komponen penggunaan lainnya meliputi pengeluaran untuk konsumsi pemerintah sebesar Rp581,9 triliun, pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik sebesar Rp2.065,2 triliun, perubahan inventori sebesar Rp21,4 triliun, transaksi ekspor sebesar Rp1.580,8 triliun dan impor sebesar Rp1.475,8 triliun. Dibandingkan dengan tahun 2009, PDB atas dasar harga berlaku meningkat dari Rp5.603,9 triliun menjadi Rp6.422,9 triliun. Hal tersebut didukung oleh kenaikan pada seluruh komponen penggunaan, seperti terlihat pada tabel berikut: 4 Berita Resmi Statistik No. 12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011

Tabel 4 Nilai PDB Menurut Penggunaan Tahun 2008 2010, Laju Pertumbuhan dan Sumber Pertumbuhan Tahun 2010 Atas Dasar Atas Dasar Laju Sumber Komponen Harga Berlaku Harga Konstan 2000 Pertumbuhan Pertumbuhan (Triliun Rupiah) (Triliun Rupiah) 2010 2010 2008 2009 2010 2008 2009 2010 (Persen) (Persen) (5) (6) (7) (8) (9) 1. Konsumsi Rumah Tangga 3 000,0 3 290,8 3 642,0 1 191,2 1 249,0 1 306,8 4,6 2,7 2. Konsumsi Pemerintah 416,9 537,6 581,9 169,3 195,8 196,4 0,3 0,0 3. PMTB 1 370,7 1 744,4 2 065,2 493,8 510,1 553,4 8,5 2,0 4. a. Perubahan Inventori 5,8-7,3 21,4 2,2-2,1 7,5 463,1 0,4 b. Diskrepansi Statistik 103,1-118,9 7,4 27,0 1,1 6,1 - - 5. Ekspor 1 475,1 1 354,4 1 580,8 1 032,3 932,3 1 071,4 14,9 6,4 6. Dikurangi: Impor 1 422,9 1 197,1 1 475,8 833,3 708,5 830,9 17,3 5,6 Produk Domestik Bruto (PDB) 4 948,7 5 603,9 6 422,9 2 082,5 2 177,7 2 310,7 6,1 6,1 Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2010 tercatat sebesar 6,1 persen. Pertumbuhan ini didukung oleh semua komponen, yaitu konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,6 persen, konsumsi pemerintah sebesar 0,3 persen, pembentukan modal tetap bruto sebesar 8,5 persen, dan perubahan inventori sebesar 463,1 persen, sedangkan komponen ekspor tumbuh sebesar 14,9 persen dan impor tumbuh sebesar 17,3 persen. Pertumbuhan ekonomi tahun 2010 sebesar 6,1 persen sebagian besar bersumber dari komponen ekspor, yakni 6,4 persen. Kemudian komponen konsumsi rumah tangga memberikan sumbangan sebesar 2,7 persen, pembentukan modal tetap bruto sebesar 2,0 persen, dan perubahan inventori sebesar 0,4 persen. Tabel 5 Laju Pertumbuhan PDB Triwulanan Menurut Penggunaan Triwulan III-2010 Triwulan IV-2010 Triwulan IV-2010 Komponen Terhadap Terhadap Terhadap Triwulan II-2010 Triwulan III-2010 Triwulan IV-2009 1. Konsumsi Rumah Tangga 2,0 0,3 4,4 2. Konsumsi Pemerintah 12,8 38,2 7,3 3. Pembentukan Modal Tetap Bruto 7,3 1,3 8,7 4. Perubahan Inventori 52,5-185,9-28,7 5. Ekspor 4,3 12,8 16,1 6. Dikurangi: Impor 3,3 9,6 16,9 Produk Domestik Bruto (PDB) 3,4-1,4 6,9 Pertumbuhan beberapa komponen penggunaan, q-to-q pada Triwulan IV-2010 dibandingkan dengan Triwulan III-2010 mengalami peningkatan, kecuali komponen perubahan inventori yang mengalami kontraksi sebesar 185,9 persen. Laju pertumbuhan tertinggi pada Triwulan IV-2010 terjadi pada komponen pengeluaran konsumsi pemerintah yaitu sebesar 38,2 persen. Konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto masing-masing meningkat sebesar 0,3 persen dan 1,3 persen. Berita Resmi Statistik No.12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011 5

Komponen ekspor dan impor juga mengalami peningkatan masing-masing sebesar 12,8 persen dan 9,6 persen. PDB menurut penggunaan pada Triwulan IV-2010 terhadap Triwulan IV-2009 (y-on-y) juga mengalami peningkatan. Tingkat pertumbuhan yang tertinggi terjadi pada komponen impor yang mencapai 16,9 persen, diikuti oleh komponen ekspor sebesar 16,1 persen. Peningkatan tersebut selanjutnya diikuti oleh komponen pembentukan modal tetap bruto sebesar 8,7 persen, konsumsi pemerintah sebesar 7,3 persen, dan konsumsi rumah tangga sebesar 4,4 persen. Sementara itu komponen perubahan inventori mengalami pertumbuhan minus 28,7 persen. Dilihat dari pola distribusi PDB penggunaan, konsumsi rumah tangga masih merupakan penyumbang terbesar dalam penggunaan PDB Indonesia sekalipun mengalami penurunan dari 58,7 persen pada tahun 2009 menjadi sebesar 56,7 persen pada tahun 2010. Komponen pengeluaran konsumsi pemerintah juga mengalami penurunan dari 9,6 persen pada tahun 2009 menjadi 9,1 persen pada tahun 2010. Sebaliknya, pada periode yang sama, komponen-komponen lain mengalami peningkatan. Komponen pembentukan modal tetap bruto meningkat dari 31,1 persen menjadi 32,2 persen, perubahan inventori meningkat dari minus 0,1 persen menjadi 0,3 persen, ekspor meningkat dari 24,2 persen menjadi 24,6 persen, dan impor meningkat dari 21,4 persen menjadi 23,0 persen. Tabel 6 Struktur PDB Menurut Penggunaan Tahun 2008 2010 Komponen 2008 2009 2010 1. Konsumsi Rumah Tangga 60,6 58,7 56,7 2. Konsumsi Pemerintah 8,4 9,6 9,1 3. Pembentukan Modal Tetap Bruto 27,7 31,1 32,2 4. a. Perubahan Inventori 0,1-0,1 0,3 b. Diskrepansi Statistik 2,1-2,1 0,1 5. Ekspor Barang dan Jasa 29,8 24,2 24,6 6. Dikurangi: Impor Barang dan Jasa 28,7 21,4 23,0 Produk Domestik Bruto (PDB) 100,0 100,0 100,0 V. PDB dan Produk Nasional Bruto (PNB) Per Kapita PDB/PNB per kapita merupakan PDB/PNB (atas dasar harga berlaku) dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Pada tahun 2010, nilai PDB per kapita diperkirakan mencapai Rp27,0 juta (US$3.004,9) dengan laju peningkatan sebesar 13,0 persen dibandingkan dengan PDB per kapita tahun 2009 yang sebesar Rp23,9 juta (US$2.349,6). Sementara itu PNB per kapita juga meningkat dari Rp23,1 juta (US$2.267,3) pada tahun 2009 menjadi Rp26,3 juta (US$2.920,1) pada tahun 2010 atau terjadi peningkatan sebesar 13,9 persen. 6 Berita Resmi Statistik No. 12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011

Tabel 7 PDB dan PNB Per Kapita Indonesia Tahun 2008 2010 Uraian 2008 2009 2010 PDB Per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku - Nilai (juta rupiah) 21,4 23,9 27,0 - Indeks Peningkatan 23,4 11,7 13,0 - Nilai (US$) 2 245,2 2 349,6 3 004,9 PNB Per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku - Nilai (juta rupiah) 20,7 23,1 26,3 - Indeks Peningkatan 24,1 11,6 13,9 - Nilai (US$) 2 165,5 2 267,3 2 920,1 VI. Profil Spasial Ekonomi Indonesia Menurut Kelompok Provinsi Triwulan IV-2010 Struktur perekonomian Indonesia secara spasial pada Triwulan IV-2010 masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 57,8 persen, kemudian diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 23,2 persen, Pulau Kalimantan 9,1 persen, Pulau Sulawesi 4,7 persen dan sisanya 5,2 persen di provinsi-provinsi lainnya. Berdasarkan perbandingan provinsi-provinsi di Indonesia, tiga provinsi penyumbang terbesar di Pulau Jawa adalah DKI Jakarta (16,5 persen), Jawa Timur (14,8 persen), dan Jawa Barat (14,3 persen). Kemudian di Pulau Sumatera urutannya adalah Riau (6,6 persen), Sumatera Utara (5,3 persen), dan Sumatera Selatan (2,9 persen). Tabel 8 Peranan Wilayah/Pulau dalam Pembentukan PDB Nasional Wilayah/Pulau 2008 2009 2010 Triwulan IV 2009 2010 (5) (6) Sumatera 22,9 22,6 23,1 22,6 23,2 Jawa 57,9 58,6 58,0 58,7 57,8 Bali dan Nusa Tenggara 2,5 2,7 2,7 2,8 2,7 Kalimantan 10,4 9,2 9,2 9,0 9,1 Sulawesi 4,3 4,6 4,6 4,6 4,7 Maluku dan Papua 2,0 2,3 2,4 2,3 2,5 Indonesia 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Apabila pengelompokan kegiatan ekonominya dibedakan ke dalam: Sektor Primer (Sektor Pertanian dan Sektor Pertambangan), Sektor Sekunder (Sektor Industri, Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih, dan Sektor Konstruksi), dan Sektor Tersier (Sektor Perdagangan, Sektor Pengangkutan, Sektor Keuangan, dan Sektor Jasa-jasa), secara spasial Sektor Primer lebih didominasi oleh wilayah luar Jawa (74,2 persen). Sedangkan Sektor Sekunder dan Tersier, Pulau Jawa masih menjadi penyumbang terbesar yaitu masing-masing sebesar 67,3 persen dan 67,1 persen. Tabel 9 Peranan Wilayah Menurut Kelompok Sektor Triwulan IV-2010 (Persen) Wilayah Kelompok Sektor Primer Sekunder Tersier Jawa 25,8 67,3 67,1 Luar Jawa 74,2 32,7 32,9 Total 100,0 100,0 100,0 Berita Resmi Statistik No.12/02/Th. XIV, 7 Februari 2011 7

Informasi lebih lanjut hubungi: Supriyanto, M.A. Direktur Neraca Produksi Telepon: 3810291-5 Pesawat 7100 E-mail: supriyan@ bps.go.id dan Nursinah Amal Urai, M.A. Direktur Neraca Pengeluaran Telepon: 3810291-5, Pesawat 7200 E-mail: nursinah@bps.go.id