BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
Kanker Serviks. 2. Seberapa berbahaya penyakit kanker serviks ini?

Kanker Serviks. Cervical Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN TEORI. a. Pengertian Kanker Leher Rahim

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

No. Responden: B. Data Khusus Responden

BAB I PENDAHULUAN. yang disebut sebagai masa pubertas. Pubertas berasal dari kata pubercere yang

Beberapa Penyakit Organ Kewanitaan Dan Cara Mengatasinya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN BAB II ISI

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN PENDIDIKAN DENGAN PELAKSANAAN DETEKSI DINI KANKER SERVIK MELALUI IVA. Mimatun Nasihah* Sifia Lorna B** ABSTRAK

KuTiL = KankeR LeHEr RaHIM????

BAB I PENDAHULUAN menyepakati perubahan paradigma dalam pengelolaan masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

Kanker Leher Rahim (serviks)

KUESIONER FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU IBU DALAM PEMERIKSAAN PAP SMEAR DI POLI GINEKOLOGI RSUD DR PIRNGADI MEDAN TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. payudara, dan kanker ovarium (Maysaroh, 2013). Salah satu kanker yang

Kanker Servix. Tentu anda sudah tak asing lagi dengan istilah kanker servik (Cervical Cancer), atau kanker pada leher rahim.

BAB I PENDAHULUAN. Kanker serviks (leher rahim) adalah salah satu kanker ganas yang

Seri penyuluhan kesehatan. Kanker Leher Rahim. Dipersembahkan dengan gratis. Oleh: Klinik Umiyah. Jl. Lingkar Utara Purworejo,

A. Pengetahuan Kanker Serviks NO. PERTANYAAN JAWABAN 1. Kanker leher rahim ( serviks ) merupakan penyakit?

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan hak semua manusia yang harus dijaga,

Kata Kunci : umur, paritas,usia menikah,stadium kanker serviks Daftar Pustaka : 15 buku

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Kanker leher rahim adalah tumor ganas pada daerah servik (leher rahim)

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya umur harapan hidup sebagai salah satu tujuan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

No. Responden. I. Identitas Responden a. Nama : b. Umur : c. Pendidikan : SD SMP SMA Perguruan Tinggi. d. Pekerjaan :

A. Landasan Teori. 1. Pengetahuan. a. Definisi BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu

KANKER PAYUDARA dan KANKER SERVIKS

GLOBAL HEALTH SCIENCE, Volume 2 Issue 3, September 2017 ISSN

BAB I PENDAHULUAN. (Emilia, 2010). Pada tahun 2003, WHO menyatakan bahwa kanker merupakan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB XXIV. Kanker dan Tumor. Kanker. Masalah pada leher rahim. Masalah pada rahim. Masalah pada payudara. Masalah pada indung telur

BAB I PENDAHULUAN. penyakit yang paling umum yang diakibatkan oleh HPV. Hampir semua

BAB 1 PENDAHULUAN. sebagai penyakit kanker yang menyerang kaum perempuan (Manuaba, 2008).

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ke arah rahim, letaknya antara rahim (uterus) dan liang senggama atau vagina.

BAB 4 HASIL. Korelasi stadium..., Nurul Nadia H.W.L., FK UI., Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. penyakit kanker yang menempati peringkat teratas diantara berbagai penyakit kanker

BAB I PENDAHULUAN. Kanker serviks adalah kanker tersering nomor tujuh secara. keseluruhan, namun merupakan kanker terbanyak ke-dua di dunia pada

Human Papilloma Virus Oleh : Sisilia Rani Thoma

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. penderita kanker serviks baru di dunia dengan angka kematian karena kanker ini. sebanyak jiwa per tahun (Emilia, 2010).

BAB 1 : PENDAHULUAN. daerah leher rahim atau mulut rahim, yang merupakan bagian yang terendah dari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kanker serviks adalah suatu penyakit kanker terbanyak kedua di seluruh dunia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 2. Sistem Reproduksi ManusiaLatihan Soal 2.2. Sifilis. Epididimitis. Kanker prostat. Keputihan

BAB 1 PENDAHULUAN. kanker yang paling tinggi di kalangan perempuan adalah kanker serviks. yang paling beresiko menyebabkan kematian.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

GAMBARAN KEJADIAN KANKER SERVIKS BERDASARKAN JENIS DAN LAMA PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI DI RSUD ULIN BANJARMASIN

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG FLOUR ALBUS FISIOLOGI DAN FLOUR ALBUS PATOLOGI DI SMK NEGERI 2 ADIWERNA KABUPATEN TEGAL

BAB I PENDAHULUAN. rahim yaitu adanya displasia/neoplasia intraepitel serviks (NIS). Penyakit kanker

BAB I PENDAHULUAN. kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. awal (Nadia, 2009). Keterlambatan diagnosa ini akan memperburuk status

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Papanicolaou smear atau Pap smear adalah metode yang digunakan untuk

BAB I PENDAHULUAN. Papiloma Virus (HPV) terutama HPV 16 dan 18 (Aziz et al, 2006 ).

Kanker Rahim - Gejala, Tahap, Pengobatan, dan Resiko

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kontrasepsi adalah suatu upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan (Sarwono,2002).

BAB I PENDAHULUAN. kondisi inilah akan mudah terkena infeksi jamur. Keputihan yang terjadi

BAB 1 PENDAHULUAN. secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal

BAB 1 PENDAHULUAN. serviks uteri. Kanker ini menempati urutan keempat dari seluruh keganasan pada

Psychological Well Being Pada Penderita Kanker Serviks yang Melakukan Histerektomi

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan data International Agency for Research on Cancer (IARC) diketahui

BAB I PENDAHULUAN. human papilloma virus (HPV) terutama pada tipe 16 dan 18. Infeksi ini

BAB I PENDAHULUAN. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization

HIV/AIDS. Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. uteri. Hal ini masih merupakan masalah yang cukup besar dikalangan masyarakat Di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kanker leher rahim (kanker serviks) masih menjadi masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Tingkat Pengetahuan Siswi Sekolah Menengah Atas tentang Kanker Serviks dan Pencegahannya. Rosnancy Sinaga :

3. METODOLOGI PENELITIAN

BAB 4 HASIL PENELITIAN

PERBEDAAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG KANKER SERVIKS SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN PENDIDIKAN KESEHATAN DI LUWUNGGEDE

KARAKTERISTIK IBU DENGAN KANKER SERVIKS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) BANGIL

BAB I PENDAHULUAN. paling sering terjadi pada kisaran umur antara tahun.

BAB 1 PENDAHULAN. kanker serviks (Cervical cancer) atau kanker leher rahim sudah tidak asing lagi

Kanker Prostat. Prostate Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB II KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIK) MAKASSAR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya.

PENGETAHUAN WANITA TUNA SUSILA (WTS) TENTANG KANKER SERVIKS DAN PERILAKU PENCEGAHAN KANKER SERVIKS DI PANTI SOSIAL HARAPAN MULYA JAKARTA BARAT 2009

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Faktor-faktor resiko yang Mempengaruhi Penyakit Menular Seksual

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Praktik pencegahan kanker servik Terbentuknya praktik terutama pada orang dewasa dimulai domain kognitif (pengetahuan) dalam arti subjek tahu terebih dahulu terhadap stimulus yang berupa objek diluarnya, sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek tersebut dan selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap subjek terhadap objek yang diketahui. Secara lebih operasional praktik dapat diartikan sebagai suatu respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulasi) dari luar objek tersebut. Respon manusia tersebut dapat bersifat pasif yang meliputi pengetahuan, persepsi dan sikap, sedangkan yang bersifat aktif merupakan tindakan yang nyata atau practice. Stimulus atau rangsangan terdiri dari 4 unsur pokok yakni sakit dan penyakit, sistim pelayanan kesehatan dan lingkungan (Notoatmodjo, 2003). Dengan dasar konsep pengertian seperti Natural History Of Disease or Any Disorder atau spektrum kesehatan, maka dapat dibayangkan bahwa suatu kondisi sehat atau sakit pada suatu saat atau kurun waktu pada hakekatnya merupakan episode saja dari kondisi yang lebih luas dan komplek dari kesehatan seseorang atau sekumpulan atau masyarakat. Bila dikaitkan dengan pengertian Natural History of Disease, maka tindakan pencegahan sebenarnya merupakan upaya untuk memotong perjalanan riwayat alamiah penyakit tadi dari titik-titik atau tempat-tempat yang kita kuasai dalam arti dengan kata iptek atau sumber-daya pendukung yang dapat diperoleh untuk mengatasi masalah tersebut (Budioro, 2000). 5

6 Pada praktik pencegahan terbagi menjadi tiga, yaitu: 1. Pencegahan primer Pencegahan primer dapat dilakukan melalui promosi dan penyuluhan pola hidup sehat, menunda aktivitas seksual sampai usia 20 tahun dan berhubungan hanya dengan satu pasangan, dan penggunaan vaksinasi HPV di mana vaksinasi ini dapat mengurangi infeksi HPV karena kemampuan proteksinya adalah sebesar >90%. Saat ini, ada vaksin yang digunakan untuk mencegah infeksi Human Papilloma Virus (HPV) yaitu virus yang menjadi pencetus kanker servik. Cara kerja vaksin ini dengan merangsang antibodi respon kekebalan tubuh terhadap HPV dimana antibodi ditangkap untuk membunuh HPV sehingga virus tidak masuk ke leher rahim (servik). Idealnya vaksin ini diberikan pada wanita sebelum melakukan hubungan seksual, yaitu sebelum kemungkinan terpapar virus HPV pada usia 9-26 tahun. Meski demikian wanita yang telah aktif secara seksual juga masih mendapatkan manfaat vaksin, namun keuntungannya sedikit, karena mereka telah terpapar virus HPV. Vaksin tidak diannjurkan untuk wanita hamil ( Emilia, 2010). 2. Pencegahan sekunder Pencegahan sekunder dilakukan dengan mendasarkan pada risiko pasiennya yaitu pasien dengan resiko sedang dan tinggi. Pada pasien dengan resiko sedang, hasil tes Pap yang negatif sebanyak 3 kali berturut-turut dengan selisih waktu antar pemeriksaan 1 tahun dan atas petunjuk dokter sangat dianjurkan. Untuk pasien atau partner hubungan seksual yang level aktivitasnya tidak diketahui, dianjurkan untuk melakukan tes Pap tiap tahun. Pada pasien dengan resiko tinggi, bagi yang memulai hubungan seksual saat usia <18 tahun dan wanita yang mempunyai banyak partner hubungan seksual seharusnya melakukan tes Pap setiap tahun dan setiap 6 bulan sekali

7 terutama untuk pasien dengan resiko khusus, seperti mereka yang mempunyai riwayat penyakit seksual berulang. Upaya penyembuhan penyakit kanker servik yaitu dengan pendeteksian dini, pendeteksian dilakukan dengan pap smear. Tes pap smear adalah upaya pengambilan cairan dari vagina untuk melihat kelainan sel disekitar leher rahim. Tes pap smear hanyalah satu langkah screening, bukan pengobatan. Oleh karena itu semakin dini gejala awal penyakit kanker rahim diketahui, semakin mudah pengobatan, dan penanganannya (Setiati, 2009). 3. Pencegahan Tersier a. Waspadai gejalanya. Seperti pendarahan, terutama setelah melakukan aktivitas seksual. b. Hindari merokok. Wanita sebaiknya tidak merokok,karena dapat merangsang timbulnya sel-sel kanker melalui nikotin dikandung dalam darah. c. Hindari pencucian vagina dengan menggunakan obat-obatan antiseptik maupun deodoran karena mengakibatkan iritasi di servik yang merangsang terjadinya kanker. d. Hindari pemakaian bedak (talk) pada vagina. e. Lakukan diet rendah lemak. Lemak memproduksi hormon estrogen, sementara endometrium yang sering terpapar hormon estrogen mudah berubah sifat menjadi kanker. f. Penuhi kebutuhan vitamin C (buah dan sayur-sayuran). (Diananda, 2009; Setiati, 2009). B. Pengetahuan Kanker Servik 1. Pengertian Kanker adalah istilah untuk pertumbuhan sel tidak normal. Pertumbuhan tersebut sangat cepat, tidak terkontrol, dan tidak berirama yang dapat menyusup kejaringan tubuh normal dan menekan jaringan tersebut sehingga

8 mempengaruhi fungsi tubuh. Kanker bukan suatu penyakit menular (Diananda, 2008). Servik merupakan organ kelamin wanita bagian dalam yang juga merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak dipuncak vagina yaitu antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Sevik atau leher rahim ini merupakan jalan lahir bayi, dimana organ ini memungkinkan sperma masuk kedalam rahim dan darah menstruasi keluar dari rahim. Servik ini juga merupakan penghalang yang baik bagi bakteri, kecuali pada masa menstruasi dan selama ovulasi ( pelepasan sel telur). Servik ini memiliki ukuran yang sangat sempit, saluran ini akan merenggang pada proses persalinan (Emilia, 2010; Diananda, 2008). Kanker servik atau atau kanker leher rahim adalah kanker pada servik uterus atau leher rahim, yaitu area bagian bawah rahim yang menghubungkan rahim dengan vagina atau daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker leher rahim muncul adanya pertumbuhan sel yang tidak normal sehingga mengakibatkan terjadinya gangguan pada leher rahim atau menghalangi leher rahim (Maharani, 2009). Rentang usia terjadinya kanker servik antara 40 sampai 50 tahun. Kondisi pra invasif selama 10 sampai 15 tahun sebelum pengembangan invasif karsinoma. Ada hubungan kuat antara human papilloma virus (HPV) tipe 16 dan 18 dan cervical intraepitheal neoplasia (CIN). Hal ini diperbaharui secara inklusif untuk menggambarkan semua kelainan epitel dari servik. Dimana lokasi kanker servik ini di daerah leher rahim pada dua sisi sel dan jaringan dan pada pemeriksaan langsung dapat dijadikan teknik diagnosa (Bobak, 1993).

9 2. Etiologi Penyebab pasti kanker servik belum diketahui, biasanya khas wanita melaporkan riwayat infeksi servik paling sering dikaitkan dengan karsinoma servik yang disebabkan oleh virus herpes cimplex 2; jenis human papilloma virus 16, 18, ban 3i dan mungkin sitomegalovirus. Virus ini mengubah asam deoksiribonukleat (DNA) inti sel-sel yang belum matang. Penambahan air mani (sperma) dari banyak mitra menjadi pencetus awal dari sebuah proses yang berakhir pada diplasia dan beberapa tahun kemudian berkembang menjadi karsinoma (Bobak, 1993). Penellitian akhir diluar negeri mengatakan bahwa virus yang disebut HPV (Human Papilloma Virus) menyebabkan faktor risiko seorang wanita untuk terkena kanker servik meningkat tajam. Dikatakan, para wanita dengan HPV tinggi, paling sedikit 30 kali lebih cenderung berisiko mengidap penyakit kanker servik dibanding dengan wanita dengan HPV negatif ( Diananda, 2008). Human Papilloma Virus penyebab kanker servik 99,7%. Virus ini berukuran kecil berdiameter kurang lebih 55nm. (HVP (Human Papilloma Virus) juga disebut wart virus (virus kutil). Terdapat 100 tipe HPV yang telah diidentifikasi. Empat puluh tipe tersebut menyerang wilayah genital. Dari 40 tipe tersebut, 13 diantaranya merupakan tipe onkogenik dan dapat menyebabkan kanker servik atau lesi prakanker pada permukaan servik. Sedangkan tipe lain disebut sebagai tipe risiko rendah yang lebih umum menyebabkan kutil kelamin (genital wart). Tipe 16, 18, 31, 33 dan 35 menyebabkan perubahan sel-sel pada vagian atau servik yang awalnya menjadi displasia dan selanjutnya berkembang menjadi kanker servik. Secara globa, HPV tipa 16 bersamaan dengan tipe 18 dapat menyebabkan 70% dari seluruh kejadian kanker servik (Bobak, 1993; Emilia, 2010).

10 HPV ditularkan melalui aktivitas seksual terutama pada usia yang dini dan melakukan dengan banyak pasangan seksual, selain itu dapat juga melalui sentuhan kulit diwilayah genital tersebut (skin to skin contact). Sebagian besar infeksi HPV menghilang melalui respon imun alamiah, setelah melalui masa beberapa bulan hingga dua tahun. Meski demikian, kanker servik dapat berkembang apabila infeksi akibat HPV tipe onkogenik tidak menghilang. Perkembangan dari infeksi HPV onkogenik menjadi kanker servik dapat terjadi apabila terjadi infeksi yang menetap pada beberapa sel yang terdapat pada servik ( sel epitel pipih atau lonjong di zona transformasi servik). Sel-sel ini sangat rentang terhadap infeksi HPV dan ketika terinfeksi, akan berlipat ganda, berkembang melampaui batas wajar dan kehilangan kemampuannya untuk memperbaiki abnormalitas genetiknya. Hal ini akan mengubah susunan sel dalam servik. Virus HPV akan bercampur dengan sistim peringatan yang memicu respon imun yang seharusnya menghancurkan sel normal yang terinfeksi oleh virus. Perkembangan sel yang tidak normal pada epitel servik akan berkembang menjadi prakanker yang disebut Cervical intraepithelial Neoplasia (CN). Apabila memperhatikan infeksi HPV onkogenik yang persisten, maka ditemukan tiga pola utama pada prakanker. Dimulai dengan infeksi pada sel serta perkembangan sel-sel abnormal yang dapat berlanjut menjadi intraepithelial Neoplasia dan pada akhirnya menjadi kanker servik (Bobak, 1993). 3. Faktor Risiko Menurut Diananda (2008), faktor-faktor risiko kanker leher rahim sebagian besar dari faktor luar (eksternal). Faktor risiko tersebut antara lain: a. Melakukan hubungan seksual pada usia yang pada usia kurang dari 20 tahun. b. Multiple seksual atau lebih dari dua dalam melakukan hubungan seksual. c. Riwayat penyakit kelamin dan infeksi virus seperti herpes dan kutil genetalia.

11 d. Pemeriksaan pap smear yang tidak inten. e. Wanita yang melakukan persalinan dengan jarak yang terlalu dekat dan memiliki banyak anak. f. Wanita dengan aktivitas seksual tinggi. g. Kebersihan genetalia yang rendah. h. Wanita yang merokok. i. Defisiensi zat gizi ada beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatkan risiko terjadinya displasia ringan dan sedang, serta juga mungkin juga meningkatkan risiko terjadinya kanker servik pada wanita yang rendah beta karoten dan retinol (vitamin A). j. Trauma kronis pada servik seperti persalinan, infeksi, dan iritasi menahun. k. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang dan kesengganan untuk melakukan deteksi dini (Bobak, 1993; Bustan, 2007). 4. Tanda dan Gejala Kanker servik pada awalnya ditandai dengan tumbuhnya sel pada mulut rahim yang tidak lazim (abnormal). Sebelum menjadi sel kanker, terjadi perubahan pada sel-sel tersebut selama bertahun-tahun. Pada stadium awal, kanker ini cenderung tidak terdeteksi. Pada tahap awal prakanker, tidak ada gejala yang khas. Jika adapun gejala, hanya berupa keputihan atau perdarahan pasca senggama. Namun jika telah invasif, gejala tersebut akan muncul antara lain: a. Keputihan, yang semakin lama berbau busuk. b. Perdarahan setelah melakukan hubungan seksual, yang semakin lama akan terjadi perdarahan spontan (walaupun tidak melakukan hubungan seksual. c. Berat badan yang terus menurun. d. Timbulnya perdarahan setelah masa menopause.

12 e. Pada masa invasif dapat keluar cairan kekuning-kuningan, berbau busuk dan bercampur dengan darah. f. Anemia karena perdarahan yang sering. g. Rasa nyeri pada genetalia. h. Timbul nyeri panggul (pelvis). i. Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema kaki, muncul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rectum) ( Bustan, 2007; Diananda, 2008). 5. Stadium Menurut Bobak (1993), kanker servik terbagi beberapa stadium, yaitu: a. Tingkat 0. Kanker hanya ditemukan pada lapisan atas darisel-sel pada jaringan yang melapisi leher rahim. b. Tingkat I. Kanker telah menyerang leher rahim diatas lapisan atas dari sel-sel dan kondisi ini hanya ditemukan dileher rahim. c. Tingkat II. Kanker meluas melewati leher rahim kedalam jaringan-jaringan berdekatan kanker meluas ke vagina bagian atas. d. Tingkat III. Kanker meluas ke vagina bagian bawah. Kanker juga mungkin telah menyebar ke dinding pinggul dan simpul-simpul getah bening yang berdekatan. e. Tingkat IV. Kanker telah menyebar kandung kemih, rektum, atau bagian-bagian lain dari tubuh. 6. Pengobatan Infeksi Human Papilloma Virus tidak diobati secara langsung. Artinya, pengobatan dilakukan sesuai dengan pengobatan pada lesi yang

13 ditimbulkan. Pengobatan kutil pada daerah genitalia, mulut rahim, vagina dan vulva dilakukan pendekatan secara langsung pada lesinya (misalnya kioterapi, elektrokauteri, laserterapi, dan insisi, terapi radiasi). Selain itu, kutil pada genitalia bisa diobati dengan pengobatan topikal. Kemoterapi angenital meliputi podofilotoksin, imiquimod, asam trikloroasetat, fluorourasil, dan interferon, interferon, disarankan tidak digunakan untuk jangka lama (Bobak, 1993; Rasjidi, 2007). C. Ilmu pengetahuan Pengetahuan adalah hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni: indra penglihatan, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour). Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yaitu: 1. Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Para ibu dapat mendefinisikan tentang kanker servik. 2. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar. Para ibu dapat menjelaskan tentang penyebab terjadinya kanker servik. 3. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Para ibu dapat melakukan pencegahan terhadap penyakit kanker servik yang berisiko pada diri mereka. 4. Analisis (Analysis)

14 Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Para ibu dapat menganalisa tentang tanda dan gejala yang ditimbulkan oleh penyakit kanker servik. 5. Sintesis ( Synthesis) Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam bentuk suatu keseluruhan yang baru. Para ibu merencanakan melakukan tes pap smear dengan tepat dan teratur sebagai langkah pencegahan terhadap kanker servik. 6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Para ibu dapat melakukan beberapa pencegahan pada penyakit kanker servik. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas (Notoatmodjo, 2003). D. Kerangka teori Praktik pencegahan kanker servik: 1. Pencegahan primer 2. Pencegahan sekunder 3. Pencegahan tersier Praktik Pencegahan kanker servik WUS (Wanita Usia Subur) 2.1. Skema konsep teori ( konsep teori Bobak, 1993; Notoatmodjo, 2003; Diananda, 2008, dkk)

15 E. Kerangka konsep Variabel bebas Pengetahuan wanita uaia subur Variabel terikat Praktik Pencegahan kanker servik 2.2. Skema kerangka konsep F. Variabel penelitian Variabel yang digunakan peneliti ada dua kategori, yaitu: 1. Variabel bebas (independent variable) Variabel independen (bebas) dalam penelitian ini adalah pengetahuan wanita usia subur. 2. Variabel terikat (dependent variable) Variabel terikat dalam penelitian ini adalah praktik pencegahan kanker servik. G. Hipotesis Ada hubungan pengetahuan wanita usia subur tentang kanker servik dengan praktik pencegahan.