Dasar pengecoran logam

dokumen-dokumen yang mirip
TI-2121: Proses Manufaktur

Cacat shrinkage. 1 1,0964 % Bentuk : merupakan HASIL DAN ANALISA DATA. 5.1 Hasil Percobaan

PENGARUH VOLUME EXOTHERMIC RISER TERHADAP CACAT SHRINKAGE PADA PENGECORAN ALUMINIUM 6061 DENGAN METODE SAND CASTING

Gambar 1 Sistem Saluran

PROSES MANUFACTURING

STUDI EKSPERIMEN PENGARUH VARIASI DIMENSI CIL DALAM (INTERNAL CHILL) TERHADAP CACAT PENYUSUTAN (SHRINKAGE) PADA PENGECORAN ALUMINIUM 6061

BAB I PENDAHULUAN. atau mata bajak dengan menempa tembaga. Kemudian secara kebetulan

11 BAB II LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. Silinder liner adalah komponen mesin yang dipasang pada blok silinder yang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Dengan semakin majunya teknologi sekarang ini, tuntutan

TUGAS PENGETAHUAN BAHAN TEKNIK II CETAKAN PERMANEN

STUDI PENGARUH TEMPERATUR DAN GETARAN MEKANIK VERTIKAL TERHADAP PEMBENTUKAN SEGREGASI MAKRO PADA PADUAN EUTEKTIK Sn Bi

STUDI EKSPERIMEN PENGARUH VARIASI DIMENSI CIL DALAM (INTERNAL CHILL) TERHADAP CACAT PENYUSUTAN (SHRINKAGE) PADA PENGECORAN ALUMINIUM 6061

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 2, (2014) ISSN: ( Print) F-266

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. industri terus berkembang dan di era modernisasi yang terjadi saat. ini, menuntut manusia untuk melaksanakan rekayasa guna

BAB IV SIMULASI DAN ANALISIS CETAKAN RING, CONE DAN BLADE

XI. KEGIATAN BELAJAR 11 CACAT CORAN DAN PENCEGAHANNYA. Cacat coran dan pencegahannya dapat dijelaskan dengan benar

BAB V PROSES PENGECORAN BAB V PROSES PENGECORAN

STUDI SIMULASI DAN EKSPERIMEN PENGARUH KETEBALAN DINDING EXOTHERMIC RISER TERHADAP CACAT SHRINKAGE PADA PENGECORAN ALUMINIUM 6061 METODE SAND CASTING

BESI COR. 4.1 Struktur besi cor

ANALISA PERBANDINGAN PEMAKAIAN RISER RING DAN CROWN PADA PENGECORAN VELG TIPE MS 366 DENGAN UJI SIMULASI MENGGUNAKAN CAE ADSTEFAN

MODUL 7 PROSES PENGECORAN LOGAM

Metal Casting Processes. Teknik Pembentukan Material

BAB III PROSES PENGECORAN LOGAM

Pengaruh Kuat Medan Magnet Terhadap Shrinkage dalam Pengecoran Besi Cor Kelabu (Gray Cast Iron)

PENGARUH JUMLAH SALURAN MASUK TERHADAP CACAT CORAN PADA PEMBUATAN POROS ENGKOL (CRANKSHAFT) FCD 600 MENGGUNAKAN PENGECORAN PASIR

ANALISIS SIFAT FISIS DAN MEKANIS ALUMUNIUM PADUAN Al, Si, Cu DENGAN CETAKAN PASIR

BAB 3. PENGECORAN LOGAM

Jurnal Flywheel, Volume 1, Nomor 2, Desember 2008 ISSN :

FISIKA TERMAL Bagian I

FISIKA TERMAL(1) Yusron Sugiarto

Merencanakan Pembuatan Pola

PEMBUATAN POLA dan CETAKAN HOLDER MESIN UJI IMPAK CHARPY TYPE Hung Ta 8041A MENGGUNAKAN METODE SAND CASTING

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Logam Cair & Saluran dalam Pengecoran

TUGAS AKHIR PENELITIAN SIFAT FISIS DAN MEKANIS BESI COR KELABU DENGAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR DARI KOKAS LOKAL DENGAN PEREKAT TETES TEBU DAN ASPAL

Penyaringan (Filtration)

7. Pertumbuhan Kristal (Growth of Crystal)

Studi Eksperimen Pengaruh Variasi Dimensi Cil dalam (Internal Chill) terhadap Cacat Penyusutan (Shrinkage) pada Pengecoran Aluminium 6061

III. KEGIATAN BELAJAR 3 PEMBUATAN POLA DAN INTI. Setelah pembelajaran ini mahasiswa mampu menjelaskan pembuatan pola dan inti pada proses pengecoran.

BAB III PROSEDUR PENELITIAN

MODUL PDTM PENGECORAN LOGAM

MATERIAL TEKNIK LOGAM

BAB I PENDAHULUAN. Aluminium merupakan logam ringan yang mempunyai sifat ketahanan

III. METODE PENELITIAN. waktu pada bulan September 2015 hingga bulan November Adapun material yang digunakan pada penelitian ini adalah:

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH TEKNIK PENGECORAN KODE / SKS : KK / 2 SKS. Sub Pokok Bahasan dan Sasaran Belajar

K. Roziqin H. Purwanto I. Syafa at. Kata kunci: Pengecoran Cetakan Pasir, Aluminium Daur Ulang, Struktur Mikro, Kekerasan.

PENENTUAN TEMPERATUR OPTIMUM PADA PENGECORAN INVESTMENT CASTING DENGAN MENGGUNAKAN CETAKAN TANAH LIAT

PENGECORAN SUDU TURBIN AIR AKSIAL KAPASITAS DAYA 102 kw DENGAN BAHAN PADUAN TEMBAGA ALLOY 8A

I. PENDAHULUAN. dengan semakin banyaknya permintaan aluminium dikalangan konsumen.

II. KEGIATAN BELAJAR 2 DASAR DASAR PENGECORAN LOGAM. Dasar-dasar pengecoran logam dapat dijelaskan dengan benar

PENGARUH MEDIA PENDINGIN TERHADAP BEBAN IMPAK MATERIAL ALUMINIUM CORAN

ANALISA PENGARUH AGING 400 ºC PADA ALUMINIUM PADUAN DENGAN WAKTU TAHAN 30 DAN 90 MENIT TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS

12/3/2013 FISIKA THERMAL I

Pengaruh kadar air pasir cetak terhadap kualitas coran paduan Aluminium

Redesain Dapur Krusibel Dan Penggunaannya Untuk Mengetahui Pengaruh Pemakaian Pasir Resin Pada Cetakan Centrifugal Casting

Proses Manufaktur (TIN 105) M. Derajat A

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Diagram Alir Diagram alir penelitian selama proses penelitian dapat diperlihatkan pada Gambar 3.1 dibawah ini : Mulai

PENGARUH PENAMBAHAN TEMBAGA (Cu) TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO PADA PADUAN ALUMINIUM-SILIKON (Al-Si) MELALUI PROSES PENGECORAN

TUGAS AKHIR POLA DAN PENGECORAN BODY RUBBER ROLL UNTUK SELEP PADI

BAB II LANDASAN TEORI

PERANCANGAN PENGECORAN KONSTRUKSI CORAN DAN PERANCANGAN POLA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. dimana logam dicairkan dalam tungku peleburan kemudian. dituangkan kedalam rongga cetakan yang serupa dengan bentuk asli

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENGOLAHAN LIMBAH TEMBAGA DAN TIMAH SEBAGAI BAHAN KOMPONEN RADIATOR

PENGARUH PENGGUNAAN PASIR GUNUNG TERHADAP KUALITAS DAN FLUIDITAS HASIL PENGECORAN LOGAM PADUAN Al-Si

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2012) ISSN:

ANALISIS PERBANDINGAN MODEL CACAT CORAN PADA BAHAN BESI COR DAN ALUMINIUM DENGAN VARIASI TEMPERATUR TUANG SISTEM CETAKAN PASIR

PENGARUH PENGGUNAAN PASIR GUNUNG TERHADAP KUALITAS DAN FLUIDITAS HASIL PENGECORAN LOGAM PADUAN Al-Si

Proses Pengecoran Hingga Proses Heat Treatment Piston Di PT. Federal Izumi Manufacturing NAMA : MUHAMMAD FAISAL NPM : KELAS : 4IC04

EKSPERIMEN 1 FISIKA SIFAT TERMAL ZAT OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2006 Waktu 1,5 jam

PENGUKURAN KONDUKTIVITAS TERMAL

ANALISA PENGARUH PENAMBAHAN ABU SERBUK KAYU TERHADAP KARAKTERISTIK PASIR CETAK DAN CACAT POROSITAS HASIL PENGECORAN ALUMINIUM 6061 SIDANG TUGAS AKHIR

BAB 2 PROSES PENGECORAN

RANCANG BANGUN LENGAN AYUN MOTOR LISTRIK GANESHA 1.0 MENGGUNAKAN LIMBAH ALUMUNIUM DENGAN METODE PENGECORAN

PENGARUH VOLUME EXOTHERMIC RISER TERHADAP CACAT SHRINKAGE PADA PENGECORAN ALUMINIUM 6061 DENGAN METODE SAND CASTING

Pengaruh Temperatur Bahan Terhadap Struktur Mikro

REDESAIN DAN PENGGUNAAN MESIN CENTRIFUGAL CASTING

BAB VI L O G A M 6.1. PRODUKSI LOGAM

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan menggunakan kamera yang dihubungkan dengan komputer.

RANCANG BANGUN DAN ANALISA SISTEM SALURAN TERHADAP CACAT PENGECORAN PADA BLOK SILINDER (CYLINDER BLOCK) FCD 450 DENGAN MENGGUNAKAN PASIR CETAK KERING

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. menunjukan bahwa material rockwool yang berbahan dasar batuan vulkanik

6. Besi Cor. Besi Cor Kelabu : : : : : : : Singkatan Berat jenis Titik cair Temperatur cor Kekuatan tarik Kemuluran Penyusutan

Analisa Pengaruh Variasi Temperatur Tuang Pada Pengecoran...

ANALISIS HASIL PENGECORAN SENTRIFUGAL DENGAN MENGGUNAKAN MATERIAL ALUMINIUM

TUGAS SARJANA. ANALISA PENGARUH BAHAN CETAKAN PADA PENGECORAN PADUAN Al- Cu TERHADAP WAKTU PENDINGINAN DAN SIFAT MEKANIS CORAN

BAB 2 PROSES-PROSES DASAR PEMBENTUKAN LOGAM

BAB I PENDAHULUAN. melakukan rekayasa guna memenuhi kebutuhan yang semakin kompleks, tak terkecuali dalam hal teknologi yang berperan penting akan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERANCANGAN POROS DIGESTER UNTUK PABRIK KELAPA SAWIT DENGAN KAPASITAS OLAH 12 TON TBS/JAM DENGAN PROSES PENGECORAN LOGAM

I. PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi zaman sekarang berkembang sangat cepat dan pesat,

PENGARUH Cu PADA PADUAN Al-Si-Cu TERHADAP PEMBENTUKAN STRUKTUR KOLUMNAR PADA PEMBEKUAN SEARAH

PROSES DASAR PEMBENTUKAN LOGAM

L.H. Ashar, H. Purwanto, S.M.B. Respati. produk puli pada pengecoran evoporatif (lost foam casting) dengan berbagai sistem saluran.

Diagram TEKNIK MESIN ITS

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Diagram Alir Penelitian Pada penelitian ini langkah-langkah pengujian mengacu pada diagram alir pada Gambar 3.1.

Transkripsi:

Dasar pengecoran logam Kelompok 2 Wanda Saputra Yoes Firman

Sejarah pengecoran Mencairkan logam coran dibuat dari logam yang di cairkan, di tuang kedalam cetakan, kemudian dibiarkan mendingin dan membeku. sejarah pengecoran dimulai ketika orang mengetahui bagaimana mencairkan logam dan bagaimana membuat cetakan. Hal itu terjadi kira kira tahun 4.000 sebelum masehi, sedangkan tahun yang lebih tepat tidak diketahui orang. Awal penggunaan logam oleh orang ialah ketika orang membuat perhiasan dari emas dan perak tempaan, dan kemudian membuat senjata atau mata bajak dengan menempa, hal itu dimungkinkan karena logam terdapat di alam dalam keadaan murni, sehingga dengan mudah orang menempanya.

Pengecoran perunggu di lakukan pertama di Mesopotamia kira kira 3.000 tahun sebelum masehi, teknik ini diteruskan ke asia tengah, India dan cina. Penerusan ke cina kira kira 2.000 tahun sebelum masehi, dan dalam zaman cina kuno semasa yin, yaitu kira kira tahun 1.500 1.000 tahun sebelum masehi. Pada masa itu tangki tangki besar yang halus buatannya dibuat dengan jalan pegecoran.

Teknik pengecoran perunggu di india dan cina diteruskan ke jepang dan asia tenggara, sehingga di jepang banyak arca arca Budha dibuat antara tahun 600 dan 800. penggunaan besi dimulai dengan penempaan, sama halnya dengan tembaga. orang orang Asria dan Mesir Mempergunakan perkakas besi dalam tahun 2.800 2.700 sebelum masehi. Kemudian, di cina dalam tahun 800 700 sebelum masehi, ditemukan cara membuat coran dari besi kasar yang mempunyai titik cair rendah dan mengandung fosfor tinggi dengan mempergunakan tanur beralas datar.

Sementara itu teknik pengecoran Mesopotamia diteruskan juga ke eropa, dan dalam tahun 1.500 1.000 tahun sebelum masehi, barang barang seperti mata bajak, pedang, mata tombak, perhiasan, tangki, dan perhiasan makam dibuat di spanyol, swis, jerman, ustria, norwegia, Denmark, swedia, inggris dan prancis. Teknik produksi ini kemudian diteruskan ke Negara Negara disekitar laut tengah. Di yunani, 600 tahun sebelum masehi, arca arca raksasa Epaminodas atau Hercules, berbagai senjata, dan perkakas dibuat dengan jalan pengecoran.

Di india di zaman itu, pengecoran besi kasar dilakukan dan diekspor ke mesir dan eropa. Walaupun demikian baru abad ke 14 saja pegecoran besi kasar dilakukan secara besar besaran, yaitu ketika jerman dan itali meningkatkan tanur yang bealas datar yang primitip itu menjadi tanur tiup yang berbentuk silinder, dimana pencairan dilakukan dengan jalan meletakkan bijih besi dan arang batu berselan seling. Produk produk yang dihasilkan pada waktu itu ialah: meriam, tungku, pipa dan lain lain.

Cara pengecoran pada zaman itu ialah menuangkan secara langsung logam cair yang didapat dari bijih besi, kedalam cetakan, jadi tidak dengan jalan mencairkan kembali besi kasar seperti kita sekarang. Walaupun sejak masa kuno baja dipakai dalam bentuk tempaan, namun hanyalah sejak H. Bessemer atau W. Siemens sajalah telah diusahakan untuk membuat baja dari besi kasar, dan coran baja produksi pada akhir pertengahan abad 19. Coran paduan aluminium dibuat pada akhir abad 19 setelah cara pemurnian dengan elektrolisa ditemukan.

Cetakan Telah dikatakan bahwa ketika pengecoran tembaga pertama kali ditemukan di mesopotamia, logam cair dituang ke dalam pasir, kemudian seperti halnya cara baru, di cara akal untuk menuang logam cair ke dalam rongga kedalam batu. Bahan batu tersebut adalah pasir, batu gamping atau serpetin yang mau diolah, kadang dipergunakan tanah liat untuk menguatkan. Dan selanjutnya dicari cara agar mebuat coran berongga dengan mempergunakan inti dibuat dari tanah lempung, bubuk arang batu.

Selain mengukir batu atau membuat cetakan dari tanah, di kembangkan juga cara cara membuat cetakan dengan pola lilin dan kayu. pola lilin ditutup oleh campuran tanah pasir dan tanah liat yang kemudian dipanaskan agar lilin mencair dan terbuang, maka terbentuklah rongga cetakan. Cara tersebut merupakan dasar dari pengecoran pasir dan lilin seperti cara yang kita sekarang, dan dikatakan bahwa cara itu dikembangkan lama sekali, kira kira 2.000 tahun sebelum masehi atau lebih. Walaupun demikian teknik yang dipakai sekarang untuk membuat cetakan pasir dengan pola kayu telah disempurnakan di eropa setelah abad ke 18, demikian juga halnya dengan teknik pencairan besi.

Definisi Pengecoran Proses pengecoran logam (casting) adalah salah satu teknik pembuatan produk dimana logam dicairkan dalam tungku peleburan kemudian dituangkan ke dalam rongga cetakan yang serupa dengan bentuk asli dari produk cor yang akan dibuat. Sebagai suatu proses manufaktur yang menggunakan logam cair dan cetakan, pengecoran digunakan untuk menghasilkan bentuk asli produk jadi. Dalam proses pengecoran, ada empat faktor yang berpengaruh atau merupakan ciri dari proses pengecoran, yaitu : 1. Adanya aliran logam cair ke dalam rongga cetak. 2. Terjadi perpindahan panas selama pembekuan dan pendinginan dari logam dalam cetakan. 3. Pengaruh material cetakan. 4. Pembekuan logam dari kondisi cair.

Keuntungan penggunaan coran 1. Dapat mencetak bentuk kompleks, baik bentuk bagian luar maupun bentuk bagian dalam; 2. Beberapa proses dapat membuat bagian (part) dalam bentuk jaringan; 3. Dapat mencetak produk yang sangat besar, lebih berat dari 100 ton; 4. Dapat digunakan untuk berbagai macam logam; 5. Beberapa metode pencetakan sangat sesuai untuk keperluan produksi massal.

Pembekuan (solidification) Pembekuan (solidifikasi) adalah transformasi logam cair kembali ke bentuk padatnya. Bagi mayoritas bahan-bahan logam, pembekuan adalah langkah awal dalam manufaktur dan pembekuan juga merupakan sebuah proses dasar dalam beberapa teknik penyambungan. a. Logam murni Kita dapat mengamati pembekuan logam murni dengan memasukkan sebuah termokopel ke dalam larutan cair atau leburan yang diisikan ke dalam sebuah krus (crucible) dan merekam perubahan suhu dari waktu ke waktu. Jika tidak ada panas yang diberikan, larutan cair lambat laun akan mendingin dengan melepaskan kalor sensible atau energy internal hingga pada suhu T m bodi Kristal terkecil, inti (nuclei), terbentuk pada beberapa titik dalam larutan cair.

Dalam kondisi cair, dengan jarak acak, atom-atom yang terganggu akan menempati banyak ruang, akibatnya volume spesifik (volume per satuan massa) menjadi besar. Selama pendinginan larutan cair, rangsangan termal mejadi melemah, dan volume spesifik berangsur turun sampai titik cair tercapai. Atom-atom menempati lokasi kisi-kisi yang jaraknya lebih dekat dan volume spesifik turun secara substansial; penyusutan selama pembekuan (solidification shrinkage) umumnya 2,5-6,5%. Ini berarti jika suatu coran akan dihasilkan bebas dari cacat-cacat rongga, maka harus ada tambahan larutan cair yang mengganti penyusutan selama pembekuan. Biasanya logam menyusut sekitar 1% setiap ada penurunan suhu sebesar 1000 0 C.

Solidifikasi logam paduan (alloy); logam paduan umumnya membeku pada daerah temperatur tertentu, seperti ditunjukkan dalam gambar dibawh ini:

b. Larutan Padat Secara teknis logam yang paling penting bukanlah logam murni, melainkan terdiri atas sejumlah unsur logam dan non logam lainnya yang ditambahkan dengan sengaja (unsur-unsur) paduan. Dalam kondisi yang baik, unsur paduan dapat terdistribusi secara seragam dalam logam dasar, membentuk sebuah larutan padat. c. Sistem Euteknik Suatu paduan yang memiliki komposisi tertentu (komposisi eutektik) bila mengalami pendinginan sangat lambat, maka pembekuan akan berlangsung pada temperatur konstan (sama seperti logam murni).

Beberapa istilah penting dalam proses solidifikasi : - Shrinkage adalah penyusutan pada daerah tertentu yang dapat menimbulkan cacat coran berupa rongga-rongga atau retak. Tahapan terjadinya rongga-rongga akibat penyusutan (shrinkage cavity) ditunjukkan dalam gambar berikut ini. (0) Level awal logam cair sesaat setelah dituangkan; (1) Penyusutan yang terjadi selama pendinginan fase cair (sebelum terjadi solidifikasi); (2) Penyusutan yang terjadi pada saat perubahan fase cair ke fase padat; (3) Penyusutan yang terjadi selama pendinginan fase padat sampai temperatur kamar.

Solidifikasi terarah : Untuk mengurangi pengaruh shrinkage dapat dilakukan dengan mengarahkan proses solidifikasi pada daerah tertentu, dengan cara : (a) Memasang riser (lihat gambar) Riser (penambah) merupakan cadangan logam cair pada cetakan yang berfungsi untuk mengimbangi penyusutan (shrinkage) dalam pembekuan coran. Dengan memasang riser, maka daerah yang mengalami solidifikasi awal berada jauh dari sumber logam cair, sehingga shrinkage yang mungkin terjadi berada pada riser itu sendiri.

Menurut hukum Chvorinov, riser harus diletakkan pada bagian/daerah yang memiliki rasio volume terhadap luas rendah, karena pada daerah tersebut akan mengalami solidifikasi paling cepat. Dengan menambahkan riser pada daerah tersebut, maka solidifikasi dapat diperlambat sehingga cacat coran akibat terjadinya shrinkage pada benda cor dapat dihindarkan.

(b) Memasang cil (chill) Cil adalah benda (terutama logam) yang diletakkan pada bagian cetakan untuk mencegah shrinkage dengan mempercepat pendinginan dan pembekuan dari bagian yang mendapatkan panas paling tinggi sehingga bagian tersebut akan membeku pada waktu yang sama dengan bagian lainnya. Panas tertinggi dapat terjadi pada bagian tebal atau pada bagian-bagian yang mengalami konsentrasi aliran panas yang paling tinggi. Dalam gambar (a) ditunjukkan contoh pemasangan cil pada Dalam gambar (a) ditunjukkan contoh pemasangan cil pada daerah yang mengalami konsentrasi panas tertinggi, sehingga terjadinya cacat akibat shrinkage dapat dihindarkan, sedang dalam gambar (b) dapat dilihat adanya cacat (rongga) akibat pengecoran dilakukan tanpa pemasangan cil.

HEAT TRANSFER (Pemindahan panas) Apabila material dipanaskan dengan laju pemanasan tetap,terjadi perubahan kimia, seperti oksidasi dan degradasi, dan/ atau perubahan fisika. Dalam operasi pengecoran, logam harus dipanaskan sampai temperatur tertentu di atas titik leburnya dan kemudian dituangkan ke dalam rongga cetakan hingga menjadi beku. Pemanasan logam : Logam dipanaskan di dalam tungku peleburan hingga mencapai temperatur lebur yang cukup untuk penuangan. Energi panas yang dibutuhkan adalah jumlah dari : panas untuk mencapai titik lebur (logam masih dalam keadaan padat), panas untuk merubah dari padat menjadi cair, panas untuk mencapai temperatur penuangan yang diinginkan.

Energi panas dapat ditunjukkan dengan persamaan berikut ini : H = V {C s (T m T o ) + H f + C l (T p T m )} dimana : H = jumlah panas yang dibutuhkan untuk mencapai temperatur penuangan; Btu (J) C s = weight specific heat untuk logam padat; Btu/lbm O F (J/g - O C) T m = temperatur lebur logam; O F ( O C)

T o = temperatur awal, biasanya temperatur ruang; O F ( O C) H f = panas fusi/lebur; Btu/lbm (J/g) C l = weight specific heat untuk logam cair; Btu/lbm O F (J/g - O C) T p = temperatur penuangan; O F ( O C) V = volume logam yang dipanaskan; in 3 (cm 3 ) = densitas logam; lbm/in 3 (g/cm 3 )

Pouring (Penuangan logam cair ) Setelah pemanasan, logam siap untuk dituangkan melalui sistem saluran masuk ke dalam rongga cetakan. Hal ini merupakan suatu tahapan yang keritis dalam proses penuangan. Agar tahapan ini berhasil, logam cair harus mengalir ke semua bagian dari rongga cetakan. Pada tahap penuangan suhu perlu diatur yang terakhir kalinya. Unsur-unsur paduan yang sangat mudah menguap karena tekanannya uapnya yang tinggi akan hilang selama peleburan, sehingga perlu dikenali. Unsur-unsur untuk deoksidasi juga dapat ditambahkan. Pada umumnya, tujuannya adalah untuk mempertahankan aliran logam bebas dari turbulensi yang menyebabkan oksida dan terak.

Beberapa faktor yang berpengaruh dalam operasi penuangan adalah : (1) Temperatur penuangan (pouring temperatur) adalah temperatur logam cair pada saat dituangkan ke dalam cetakan. Hal penting yang perlu diperhatikan disini adalah perbedaan temperatur antara temperatur penuangan dengan temperatur pada saat logam cair mulai membeku (titik lebur untuk logam murni dan temperatur liquidus untuk logam paduan/alloy). Perbedaan temperatur tersebut dikenal dengan istilah superheat. Istilah superheat juga digunakan untuk menyatakan jumlah panas yang harus dihilangkan dari logam cair antara penuangan hingga pembekuan mulai terjadi.

(2) Laju penuangan (pouring rate) adalah volume logam yang dituangkan ke dalam cetakan dalam waktu tertentu. Bila laju penuangan terlalu rendah maka logam akan menjadi dingin dan membeku sebelum pengisian seluruh rongga cetak selesai; dan sebaliknya bila laju penuangan terlalu tinggi maka akan terjadi turbulensi. (3) Turbulensi dalam aliran cairan adalah kecepatan aliran cairan yang tidak menentu arah dan besar (magnitude)-nya. Turbukensi harus dihindarkan karena : 1. Dapat mempercepat pembentukan oksida logam, yang dapat mengganggu proses pembekuan sehingga kualitas coran kurang baik; 2. Dapat menyebabkan terjadinya pengikisan pada cetakan karena adanya benturan aliran logam cair, sehingga hasil coran kurang baik.

Fluid flow ( zat alir) h Analisa dalam Proses Penuangan ; untuk menganalisa logam cair yang mengalir melalui sistem saluran masuk menuju cetakan digunakan teori Bernoilli. Teori Bernoulli menyatakan bahwa jumlah energi pada dua titik dalam cairan adalah sama. P v 2 P v 2 1 1 F h 2 2 F 1 1 2 2 ρ 2g ρ 2g

Dimana : h = ketinggian, cm (in) P = tekanan pada cairan, N/cm 2 (lb/in 2 ) = berat jenis, g/cm 3 (lbm/in 3 ) v = kecepatan aliran, cm/sec (in/sec) g = konstante percepatan gravitasi = 981 cm/sec 2 (386 in/sec 2 ) F = kehilangan ketinggian akibat gesekan, cm (in).

Faktor-faktor yang mempengaruhi fluiditas : - temperatur penuangan, - komposisi logam (mempengaruhi panas lebur/heat of fusion dari logam), - viskositas logam cair, - panas yang diserap oleh lingkungan disekitarnya. Catatan : yang dimaksud dengan heat of fusion adalah jumlah Catatan : yang dimaksud dengan heat of fusion adalah jumlah panas yang dibutuhkan untuk mengubah logam cair menjadi padat.