BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. diminati oleh mayoritas masyarakat Indonesia, karena rasanya yang gurih dan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh sodium tripoliphosphat (STPP) terhadap sifat karak (kerupuk gendar) Noor Ernawati H UNIVERSITAS SEBELAS MARET I.

INTISARI ANALISA KUALITATIF FORMALIN PADA IKAN ASIN BAWAL DAN EBI DENGAN METODE ASAM KROMATOFAT DI PASAR INDRA SARI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. ilmu pengetahuan terpenuhi. Menurut UU No.7 tahun 1996 menyebutkan bahwa

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Balai Laboratorium Dinas Kesehatan Daerah Provinsi Sumatera Utara yang

BAB I PENDAHULUAN. Kerupuk karak merupakan produk kering dari proses penggorengan,

Universitas Sumatera Utara

Total. Warung/ Kios. Pedagang Kaki Lima

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan

ANALISIS KUALITATIF FORMALIN PADA IKAN ASIN YANG DIJUAL DI UNIT PASAR SEKTOR II KECAMATAN BANJARMASIN SELATAN

BAB I PENDAHULUAN. beberapa jenis makan yang kita konsumsi, boraks sering digunakan dalam campuran

BAB 1 PENDAHULUAN. ikan laut yang dicampur dengan bahan-bahan, seperti cabe kering yang dihaluskan

BAB I PENDAHULUAN. yang tidak memenuhi syarat keamanan dan dapat membahayakan kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. dan merata. Maksudnya bahwa dalam pembangunan kesehatan setiap orang

BAB 2 DATA & ANALISA

CONTOH KARYA TULIS ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN. murah akan mendorong meningkatnya pemakaian bahan tambahan pangan yang

PROSIDING SEMINAR HASIL PENELITIAN/PENGKAJIAN BPTP KARANGPLOSO

I. PENDAHULUAN. Perkembangan dunia usaha di Indonesia pada saat ini kian pesat, terutama di

Zat Kimia Berbahaya Pada Makanan

BAB I PENDAHULUAN. penjual makanan di tempat penjualan dan disajikan sebagai makanan siap santap untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. sedang istirahat di sekolah. Hal tersebut terjadi karena jarangnya orang tua

BAB I PENDAHULUAN. berbagai bahan makanan. Zat gizi yaitu zat-zat yang diperoleh dari bahan makanan

PERAN CHITOSAN SEBAGAI PENGAWET ALAMI DAN PENGARUHNYA TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN DAN ORGANOLEPTIK BAKSO AYAM SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. Anak merupakan generasi penerus bangsa. Kualitas anak-anak akan

BAB 1 PENDAHULUAN. yang tidak bermotif ekonomi, artinya kegiatan yang dilakukan didasarkan profit

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bahan pengawet umumnya digunakan untuk mengawetkan pangan yang

INTISARI. ANALISIS KUALITATIF FORMALIN PADA EBI dan IKAN TERI MEDAN DI UNIT PASAR SEKTOR II KECAMATAN BANJARMASIN SELATAN

PEMBERIAN CHITOSAN SEBAGAI BAHAN PENGAWET ALAMI DAN PENGARUHNYA TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN DAN ORGANOLEPTIK PADA BAKSO UDANG

BAB I PENDAHULUAN. Makanan atau minuman adalah salah satu kebutuhan dasar manusia.

BAB I PENDAHULUAN. Pola hidup sehat masyarakat sangat terdukung oleh adanya makanan dan

SMP/Mts PT (Sarjana) 3. Jenis Kelamin Balita : Laki laki Perempuan 4. Umur Balita :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. secara alami, bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi

Kuesioner Penelitian

I. PENDAHULUAN. additive dalam produknya. Zat tambahan makanan adalah suatu senyawa. memperbaiki karakter pangan agar mutunya meningkat.

KUESIONER PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. tambahan pangan, bahan baku dan bahan lain yang digunakan dalam proses pengolahan

FORMULIR DAYA TERIMA (UJI KESUKAAN) MIE BASAH JAMUR TIRAM

PEMERIKSAAN BORAKS PADA BAKSO BAKAR KELILING SECARA KUALITATIF

Analisis Korelasi Harga dan Mutu Kimiawi Kerupuk di Pasar Tradisional Cinde Palembang

Jurnal Kajian Veteriner Volume 3 Nomor 1: ISSN:

ANALISIS KANDUNGAN BORAKS PADA PANGAN JAJANAN ANAK DI SDN KOMPLEKS LARIANGBANGI KOTA MAKASSAR

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Menurut WHO, makanan adalah : Food include all substances, whether in a

ANALISIS KANDUNGAN ZAT PENGAWET BORAKS PADA JAJANAN BAKSO DI SDN KOMPLEKS MANGKURA KOTA MAKASSAR

ANALISIS KUALITATIF FORMALIN PADA TAHU MENTAH YANG DIJUAL DI PASAR KALINDO, TELUK TIRAM DAN TELAWANG BANJARMASIN

PENERAPAN PENGETAHUAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN PADA PEMILIHAN MAKANAN JAJANAN MAHASISWA PENDIDIKAN TATA BOGA UPI

BAB I PENDAHULUAN. Bakso merupakan makanan jajanan yang paling populer di Indonesia.

STUDI DESKRIPTIF BAHAN TAMBAHAN KIMIA BERBAHAYA PADA JAJANAN ANAK SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN PEDURUNGAN KOTA SEMARANG

PEMANFAATAN SARI UMBI WORTEL (Daucus carota L.) SEBAGAI BAHAN PENGAWET ALAMI PANGAN

Lampiran 1. Hasil Identifikasi Tumbuhan

pengolahan pangan (Hardiansyah dan Sumali, 2001)

MENGENAL BAHAYA FORMALIN, BORAK DAN PEWARNA BERBAHAYA DALAM MAKANAN

KAJIAN KANDUNGAN FORMALIN PADA BAKSO TUSUK YANG DI JUAL DI SD NEGERI WILAYAH KECAMATAN DEPOK SLEMAN YOGYAKARTA

KAJIAN KANDUNGAN FORMALIN PADA BAKSO TUSUK YANG DI JUAL DI SD NEGERI WILAYAH KECAMATAN DEPOK SLEMAN YOGYAKARTA

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan rancangan cross

BAB I PENDAHULUAN. Warna merupakan salah satu sifat yang penting dari makanan, di samping juga

Prosiding Seminar Nasional Biotik 2017 ISBN: UJI KANDUNGAN FORMALIN PADA IKAN ASIN DI PASAR TRADISIONAL KOTA BANDA ACEH ABSTRAK

TES KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA (Soal Posttest) Mata Pelajaran : IPA Kelas/Semester : VIII/2 Materi Pokok : Makanan

BAB I PENDAHULUAN. Zat gizi dalam makanan yang telah dikenal adalah karbohidrat, lemak,

memerlukan makanan yang harus dikonsumsi setiap hari, karena makanan merupakan sumber energi dan berbagai zat bergizi untuk mendukung hidup

BAB 1 PENDAHULUAN. perubahan beberapa faktor atau pun kondisi setempat antara lain faktor

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Budaya jajan menjadi bagian dari keseharian hampir semua

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium kimia Analis Kesehatan,

BAB 1 : PENDAHULUAN. sanitasi. Banyaknya lingkungan kita yang secara langsung maupun tidak lansung. merugikan dan membahayakan kesehatan manusia.

BAB I PENDAHULUAN. sendiri. Faktor-faktor yang menentukan kualitas makanan baik, dapat ditinjau dari

Analisis Kandungan Zat Pengawet Boraks Pada Sampel Jajanan Bakso di Desa Jatipurno Kabupaten Wonogiri

INTISARI ANALISIS KUALITATIF FORMALIN DALAM TAHU MENTAH DI PASAR ANTASARI KECAMATAN BANJARMASIN TENGAH

TES KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA (Soal Pretest) Mata Pelajaran : IPA Kelas/Semester : VIII/2 Materi Pokok : Makanan

Lampiran 1. Surat Keterangan Determinasi Tanaman Ceplukan (Physalis angulata L).

1. Berikut ini disajikan pernyataan dengan lima kemungkinan pilihan:

BAB I PENDAHULUAN. melakukan berbagai upaya sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang

INTISARI IDENTIFIKASI METHANYL YELLOW PADA MANISAN BUAH NANAS

BAB 1 PENDAHULUAN. kedelai yang tinggi protein, sedikit karbohidrat, mempunyai nilai gizi dan

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Bahan pangan adalah bahan yang memungkinkan manusia tumbuh dan

INSTRUMEN PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan uji laboratorium yang dilakukan di Laboratorium

SUKOHARJO. Oleh : Kesehatan Bidang J NIM FAKULTAS

STUDI KASUS KADAR FORMALIN PADA TAHU DAN KADAR PROTEIN TERLARUT TAHU DI SENTRA INDUSTRI TAHU DUKUH PURWOGONDO KECAMATAN KARTASURA

BAB 1 PENDAHULUAN. menjadi masalah adalah kebiasaan jajan dikantin atau warung di sekitar

ANGKET PENELITIAN. EFEKTIVITAS PEMBIAYAAN KELOMPOK DENGAN POLA TANGGUNG RENTENG PADA USAHA MIKRO PEREMPUAN ( Studi kasus BMT KUBE Sejahtera Sleman )

KUESIONER PENELITIAN PENGETAHUAN IBU RUMAH TANGGA DI PASEBAN BARAT JAKARTA PUSAT TENTANG DEMAM BERDARAH DENGUE DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Boraks telah dilarang penggunaannya dalam Keputusan Menteri Kesehatan

Lampiran 1. A. Karakteristik Responden 1. Nama Responden : 2. Usia : 3. Pendidikan :

IDENTIFIKASI KANDUNGAN FORMALIN PADA TAHU YANG DIJUAL DI PASAR SENTRAL KOTA GORONTALO. Sriyanti Dunggio, Herlina Jusuf, Ekawaty Prasetya 1

INTISARI ANALISIS KUALITATIF FORMALIN PADA IKAN ASINTELANG DARI PRODUSEN DI DESA SIMPANG EMPAT SUNGAI BARU KECAMATAN JORONG KABUPATEN TANAH LAUT

ABSTRAK ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF KANDUNGAN FORMALIN PADA BEBERAPA BAHAN MAKANAN YANG BEREDAR DI PASAR RAYA PADANG DAN SEKITARNYA

KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG ANEMIA PADA IBU HAMIL DENGAN KEPATUHAN IBU HAMIL DALAM

Universitas Sumatera Utara

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Peneliti melakukan pengambilan sampel di 10 Sekolah Dasar(SD) negeri di wilayah perkotaan dan 10 SD negeri di wilayah pinggiran kota pada bulan Desember 2014. Dari setiap SD diambil 2 sampai 3 sampel untuk kemudian diteliti kandungan boraks dan formalinnya. Data yang diperoleh dipaparkan sebagai berikut: Tabel 1 Nama SD, jenis makanan, dan jumlah sampel yang diambil di wilayah perkotaan: No Nama SD Jenis makanan Jumlah 1 SDN Pondok 01 Pempek, Mie 3 2 SDN Manang 01 Cireng, Cilok 3 3 SDN Telukan 01 Baso bakar, Cimol 2 4 SDN Cemani 02 Cilok, Tahu baso 2 5 SDN Banaran 02 Cimol, Tahu baso 2 6 SDN Pucangan 03 Cilok, Pempek 2 7 SDN Kartasura 04 Pempek, cimol 3 8 SDN Ngemplak 01 Batagor, cireng 3 9 SDN Singopuran 01 Cimol, batagor 2 10 SDN Gumpang 01 Mie, Batagor 2 Total sampel 24 Sumber: Data Primer

Tabel 2 Nama SD, jenis makanan, dan jumlah sampel yang diambil di wilayah pinggiran kota: No Nama SD Jenis makanan Jumlah 1 SDN Bekonang 02 Mie, Cilok 3 2 SDN Joho 01 Cilok, Tahu baso 2 3 SDN Palur 02 Cimol, Mie 2 4 SDN Wirun 01 Cireng, Cilok 3 5 SDN Plumbon 03 Batagor, Pempek 2 6 SDN Gentan 01 Mie, Cireng 2 7 SDN Waru 01 Batagor, Pempek 2 8 SDN Jetis 02 Cilok, Cireng 3 9 SDN Gentan 01 Tahu, Cilok 2 10 SDN Purbayan 02 Tahu baso, Batagor 3 Total sampel 24 Sumber: Data Primer Dari tabel 1 dan 2 jumlah sampel yang didapatkan sebanyak 24 untuk masing-masing wilayah. 5 SD berasal dari kecamatan Grogol, 5 SD berasal dari kecamatan Kartasura, 5 SD berasal dari kecamatan Baki, dan 5 SD berasal dari kecamatan Mojolaban. Dari kedua wilayah tersebut jenis makanan jajanan yang dijual di SD tidak terlalu berbeda. Pengambilan sampel sedikit lebih banyak pada beberapa SD disesuaikan dengan banyaknya pedagang makanan jajanan yang terdapat di sekolah tersebut. Di setiap SD ada 3 sampai 7 penjual makanan jajanan. Sampel diambil sesuai kriteria restriksi yang sudah ditentukan dan yang paling banyak dibeli oleh siswa.

Tabel 3 Hasil Uji Boraks dan Formalin pada Sampel No Nama Jumlah BTM positif BTM negatif 1 Mie 5 4 1 2 Cilok 10 7 3 3 Tahu baso 5 5 0 4 Cimol 5 5 0 5 Cireng 7 5 0 6 Batagor 7 4 3 7 Pempek 7 5 2 8 Tahu 1 1 0 9 Baso bakar 1 1 0 TOTAL 48 39 9 Pada tabel 3 didapatkan hasil bahwa sebagian sampel mie, cilok, batagor dan pempek tidak menggunakan BTM berisiko. Sedangkan sampel tahu baso, cimol, cireng, tahu, dan baso bakar semuanya mengandung BTM berisiko. Tabel 4 Hasil Uji Formalin pada Sampel Wilayah Formalin negatif Formalin positif Angka % Angka % Perkotaan 7 29,2 17 70,8 Pinggiran kota 3 12,5 21 87,5 Dari tabel 4 didapatkan dari seluruh sampel yang berasal dari wilayah perkotaan (kecamatan Grogol dan Kartasura) terdapat 17 sampel mengandung formalin. Sedangkan dari seluruh sampel yang berasal dari wilayah pinggiran kota (kecamatan Baki dan Mojolaban) terdapat 21 sampel mengandung formalin.

Tabel 5 Hasil Uji Boraks pada Sampel Wilayah Boraks negatif Boraks positif Angka % Angka % Perkotaan 16 66.7 8 33,3 Pinggiran kota 13 54,2 11 45,8 Dari tabel 5 didapatkan dari seluruh sampel yang berasal dari wilayah perkotaan (kecamatan Grogol dan Kartasura) terdapat 8 sampel mengandung boraks. Sedangkan dari seluruh sampel yang berasal dari wilayah pinggiran kota (kecamatan Baki dan Mojolaban) terdapat 11 sampel mengandung boraks. Tabel 6 Hasil Uji BTM pada Sampel Secara Keseluruhan Wilayah BTM negatif BTM positif Angka % Angka % Perkotaan 6 25 18 75 Pinggiran kota 3 12,5 21 87,5 Dari keseluruhan sampel yang diuji didapatkan hasil bahwa 75% sampel makanan jajanan di perkotaan mengandung pengawet berisiko, dan 87,5% sampel makanan jajanan di pinggiran kota mengandung pengawet berisiko. Tabel 7 Hasil Uji Laboratorium pada Sampel Wilayah Kandungan BTM Berisiko Total Tidak ada Mengandung 1 BTM Mengandung 2 BTM Perkotaan 6 11 7 24 Pinggiran kota 3 10 11 24 Banyak didapatkan kandungan boraks dan formalin dalam 1 makanan sampel. Pada tabel 7 dipaparkan hasil uji laboratorium pada semua sampel dan didapatkan hasil yang berbeda untuk masing-masing wilayah dalam

penggunaan BTM berisikonya. Pada wilayah perkotaan terdapat 6 sampel yang tidak mengandung formalin dan boraks, sedangkan pada daerah pinggiran kota terdapat 3 sampel yang tidak mengandung formalin dan boraks. Penggunaan salah satu BTM berisiko hampir sama di kedua wilayah. Pada wilayah perkotaan terdapat 11 sampel yang mengandung 1 jenis BTM berisiko, sedangkan wilayah pinggiran kota terdapat 10 sampel yang mengandung 1 jenis BTM berisiko. Pada wilayah perkotaan terdapat 7 sampel yang mengandung formalin dan boraks, sedangkan pada pinggiran kota terdapat 11 sampel yang mengandung formalin dan boraks. Tabel 8 Hasil analisis Chi-Square Wilayah Kandungan BTM Berisiko P Tidak ada Salah satu BTM Kedua BTM Angka % Angka % Angka % 1.937 0.380 Perkotaan 6 25 11 45,8 7 29,2 Pinggiran kota 3 12,5 10 41,7 11 45,8 Tabel 8 menunjukkan hasil analisis Chi-Square, dengan nilai Significancy sebesar 0,380. Karena nilainya >0,05 artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada penggunaan bahan pengawet berisiko pada jajanan anak sekolah di perkotaan dengan pinggiran kota. Nilai Chi-Square (X 2 ) sebesar 1,937. Lalu nilai likehood ratio sebesar 0,375. Dikarenakan ada yang nilai expected-nya tidak memenuhi maka dilakukan analisis data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Tabel 9 Hasil analisis Kolmogorov-Smirnov Kandungan BTM Berisiko Most Extreme Differences Absolute 0.167 Positive 0.167 Negative 0.000 Kolmogorov-Smirnov Z 0.577 Asymp. Sig. (2-tailed) 0.893

Tabel 9 menunjukkan hasil analisis Kolmogorov-Smirnov, dengan nilai Significancy sebesar 0,893. Karena nilainya >0,05 artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada penggunaan bahan pengawet berisiko pada jajanan anak sekolah di perkotaan dengan pinggiran kota. B. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan antara pemakaian bahan pengawet berisiko pada jajanan anak sekolah di perkotaan dan pinggiran kota di kabupaten Sukoharjo. Pada penelitian ini setiap kelompok berisi 24 sampel dilakukan uji kandungan formalin dan boraks. Sampel yang diambil seluruhnya berasal dari sekolah dasar negeri. Pengujian kandungan formalin dan boraks dilakukan di laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian oleh Punvanti (2007) di sekolah-sekolah di Surakarta yang menunjukkan hasil bahwa dari 57 sampel yang diambil, sebanyak 28 (49%) positif mengandung formalin. Pada penelitian ini sampel diambil dari 4 SD, 4 Sekolah Menengah Pertama(SMP), 3 Sekolah Menengah Atas(SMA), dan 1 Sekolah Menengah Kejuruan(SMK). Jenis makanan jajanan yang diambil yaitu gorengan, batagor, kue, dim sum, dan pasta. Kondisi georafi, sosial dan ekonomi yang tidak terlalu berbeda antara Surakarta dan Sukoharjo diduga menyebabkan kesamaan hasil penelitian ini. Penelitian oleh Maskar (2004) di beberapa sekolah di Jakarta menunjukkan bahwa dari 10 sampel terdapat 4 sampel (4 0%) mengandung boraks. Pada pengujian formalin dari 5 sampel terdapat 3 sampel (60%) yang positif formalin. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa semakin tinggi uang saku juga berperan signifikan dalam meningkatnya konsumsi formalin dan boraks. Jika dilihat dari faktor ekonomi, maka uang saku untuk anak sekolah pada wilayah perkotaan cenderung lebih lebih tinggi daripada anak sekolah pada wilayah pinggiran kota.

Penelitian sebelumnya oleh Pujiastuti (2002) pada produk kerupuk di kecamatan Kaliwungu, Kendal dengan jumlah sampel 44 mendapatkan hasil bahwa 33 sampel (75%) mengandung boraks. Metode uji pada penelitian tersebut adalah dengan HCl, CaCl 2, dan reagen PP. Pada penelitian ini juga ditemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat ekonomi, pendidikan, dan pengetahuan produsen dan pemakaian BTM berisiko. Penelitian sebelumnya oleh Sugiyatmi (2006) pada makanan jajanan di pasar tradisional di kota Semarang dengan jumlah sampel sebesar 48 buah mendapatkan hasil yaitu 14 sampel (29%) m engandung boraks. Pada penelitian ini metode uji kandungan boraks menggunakan ekstak kurkumin. Perbedaan hasil ini diduga karena jenis jajanan yang berbeda antara jajanan anak sekolah dengan jajanan pasar, sehingga juga mempengaruhi penggunaan BTM berisiko. Penelitian oleh Sultan (2013) di SD negeri Mangkura Makassar dengan menggunakan 3 buah sampel dan metode accidental sampling mendapatkan hasil bahwa tidak ada sampel yang menggunakan boraks. Metode uji boraks yang digunakan menggunakan uji nyala api. Perbedaan hasil ini diduga karena perbedaan jumlah sampel dan tempat pengambilan sampel. Penelitian sebelumnya dengan metode uji kualitatif dan kuantitatif sebelumnya oleh Hastuti (2010) di Madura menunjukkan kadar formalin ratarata sebanyak 38,28 mg/kg dan Suwahono (2009) di Kendal menunjukkan rata-rata sebanyak 29,22 mg/kg. Penelitian oleh Hastuti menggunakan metode uji asam kromatofat, sedangkan Suwahono menggunakan metode uji FeCl 3 0,5% yang dialiri H 2 SO 4 pekat. Lalu keduanya dilakukan uji kuantitatif menggunakan alat spektofotometri. Penelitian sebelumya oleh Cuprasitrut (2011) di Bangkok, Thailand terhadap 92 sampel menunjukkan 6 sampel (3,3%) mengandung boraks dan tidak ada sampel mengandung formalin. Penelitian tersebut menggunakan uji analisis Chi-Square. Pada penelitian tersebut mendapatkan hasil bahwa

pengetahuan, sikap, perilaku, dan kebersihan diri berpengaruh signifikan terhadap penggunaan BTM berisiko. Formalin akan menyebabkan iritasi dan rasa terbakar pada mukosa kavum nasi, mulut dan saluran nafas bagian atas jika masuk secara inhalasi. Pada konsentrasi lebih tinggi mampu mencapai bronkiolus dan alveoli lalu menginduksi edema paru dan pneumonia. Sedangkan bila tertelan dalam konsentrasi tinggi menimbulkan gejala akut berupa iritasi di mulut, kerongkongan, ulkus di saluran pencernaan, nyeri dada dan perut, mual, muntah, diare, perdarahan gastrointestinal, asidosis metabolik, gagal ginjal bahkan kematian (Hearn, 2007). Sedangkan boraks dapat menyebabkan gangguan otak, hati, dan ginjal. Dalam jumlah banyak boraks menyebabkan demam, anuria, koma, kerusakan sistem saraf pusat, sianosis, kerusakan ginjal, anemia, muntah, diare, pingsan, bahkan kematian (Widyaningsih dan Murtini, 2006). Peraturan mengenai pelarangan penggunaan formalin dan boraks sudah diterbitkan sejak 1998, akan tetapi pengetahuan masyarakat, serta pengawasan dan penindakan yang kurang membuatnya masih banyak digunakan masyarakat luas. Boraks biasa disebut garam bleng dan bisa dibeli di pasar tradisional. Formalin dan boraks biasanya ditemukan pada mie, bakso, krupuk, lontong, gendar, batagor, cimol, cilok, dan pempek (Maskar, 2004). Masalah penggunaan formalin dan boraks pada makanan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi banyak negara berkembang yang juga mengalami masalah krusial yang sama. Pasar secara terbuka menjual makanan olahan, jajanan, daging, ikan, buah, dan sayur yang menggunakan formalin dan boraks untuk menjaga kesegarannya. Kurangnya pengetahuan, kesadaran hidup sehat, dan kurangnya kontrol dari pemerintah menjadi penyebab utama masalah ini (Ali, 2013). Beberapa bahan pengawet yang aman antara lain ascorbic acid, citric acid, sodium benzoat, sorbates, Chitosan, dan asam sorbat. Bahan pengawet

ini sudah dinyatakan aman oleh Food and Drug Administration(FDA). Bahan pengawet ini tidak memiliki risiko sampai tingkat risiko rendah (Ali, 2013). Kekurangan dari penelitian ini adalah metode uji yang hanya secara kualitatif saja, sehingga tidak bisa menentukan jumlah kandungan BTM berisiko secara lebih akurat. Kelebihan dari penelitian ini adalah jenis makanan jajanan yang beragam, semua sekolah merupakan SD negeri, dan sampel yang jumlahnya cukup banyak.