JURNAL ILMU TERNAK, JUNI 2016, VOL.16, NO.1

dokumen-dokumen yang mirip
PENGARUH WAKTU PRESERVASI OVARIUM TERHADAP DIAMETER FOLIKEL DAN OOSIT DOMBA LOKAL

Pengaruh Waktu dan Suhu Media Penyimpanan Terhadap Kualitas Oosit Hasil Koleksi Ovarium Sapi Betina Yang Dipotong Di TPH

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Objek penelitian ini berupa ovarium domba lokal umur <1 tahun 3 tahun

PENDAHULUAN. 25,346 ton dari tahun 2015 yang hanya 22,668 ton. Tingkat konsumsi daging

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Perubahan Diameter Folikel Hasil pengamatan Tabel 3 menunjukkan bahwa

PENGARUH UMUR TERHADAP BOBOT DAN DIAMETER OVARIUM SERTA KUALITAS OOSIT PADA DOMBA LOKAL

PENDAHULUAN. pemotongan hewan (TPH) adalah domba betina umur produktif, sedangkan untuk

Tingkat Kematangan Inti Oosit Sapi Setelah 24 Jam Presevasi Ovarium

TINJAUAN PUSTAKA Domba Ovarium Oogenesis dan Folikulogenesis

Pengaruh Pemberian Susu Skim dengan Pengencer Tris Kuning Telur terhadap Daya Tahan Hidup Spermatozoa Sapi pada Suhu Penyimpanan 5ºC

PENGARUH LAMA THAWING DALAM AIR ES (3 C) TERHADAP PERSENTASE HIDUP DAN MOTILITAS SPERMATOZOA SAPI BALI (Bos sondaicus)

PENGARUH TINGKAT PENGENCERAN TERHADAP KUALITAS SPERMATOZOA KAMBING PE SETELAH PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR

PRODUKSI EMBRIO IN VITRO DARI OOSIT HASIL AUTOTRANSPLANTASI HETEROTOPIK OVARIUM MENCIT NURBARIAH

SUPLEMENTASI FETAL BOVINE SERUM (FBS) TERHADAP PERTUMBUHAN IN VITRO SEL FOLIKEL KAMBING PE

I. PENDAHULUAN. memproduksi dan meningkatkan produktivitas peternakan. Terkandung di

KARAKTERISTIK OOSIT DOMBA DARI OVARIUM YANG DISIMPAN PADA SUHU DAN PERIODE WAKTU YANG BERBEDA DHIA MARDHIA ENGCONG

PENGARUH KONSENTRASI SPERMATOZOA PASCA KAPASITASI TERHADAP TINGKAT FERTILISASI IN VITRO

Pengaruh Jenis Otot dan Lama Penyimpanan terhadap Kualitas Daging Sapi

TINGKAT PEMATANGAN OOSIT KAMBING YANG DIKULTUR SECARA IN VITRO SELAMA 26 JAM ABSTRAK

Perlakuan Superovulasi Sebelum Pemotongan Ternak (Treatment Superovulation Before Animal Sloughter)

Korelasi antara Oosit Domba yang Dikoleksi dari Rumah Pemotongan Hewan dengan Tingkat Fertilitasnya setelah Fertilisasi in vitro

DAFTAR ISI. BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN Kerangka Berpikir Konsep Hipotesis...

KAJIAN KEPUSTAKAAN. susu untuk peternak di Eropa bagian Tenggara dan Asia Barat (Ensminger, 2002). : Artiodactyla

FERTILISASI DAN PERKEMBANGAN OOSIT SAPI HASIL IVF DENGAN SPERMA HASIL PEMISAHAN

PENGGUNAAN TELUR ITIK SEBAGAI PENGENCER SEMEN KAMBING. Moh.Nur Ihsan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang ABSTRAK

DAYA HIDUP SPERMATOZOA EPIDIDIMIS KAMBING DIPRESERVASI PADA SUHU 5 C

Penggunaan Pregnant Mare's Serum Gonadotropin (PMSG) dalam Pematangan In Vitro Oosit Sapi

PENGARUH LEVEL GLISEROL DALAM PENGENCER TRIS- KUNING TELUR TERHADAP MEMBRAN PLASMA UTUH DAN RECOVERY RATE SPERMA KAMBING PERANAKAN ETAWAH POST THAWING

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Umur terhadap Bobot Ovarium. Hasil penelitian mengenai pengaruh umur terhadap bobot ovarium domba

BAB I. PENDAHULUAN A.

Pengaruh Campuran Feses Sapi Potong dan Feses Kuda Pada Proses Pengomposan Terhadap Kualitas Kompos

TINGKAT FERTILISASI OOSIT DOMBA DARI OVARIUM YANG DISIMPAN PADA SUHU DAN WAKTU YANG BERBEDA SECARA IN VITRO

I PENDAHULUAN. berasal dari daerah Gangga, Jumna, dan Cambal di India. Pemeliharaan ternak

Jurnal Pertanian ISSN Volume 2 Nomor 1, April PENGARUH VITAMIN B 2 (Riboflavin) TERHADAP DAYA TAHAN SPERMATOZOA DOMBA PADA SUHU KAMAR

PENDAHULUAN. Latar Belakang. setiap tahunnya, namun permintaan konsumsi daging sapi tersebut sulit dipenuhi.

Z. Udin, Jaswandi, dan M. Hiliyati Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang ABSTRAK

Kualitas Daging Sapi Wagyu dan Daging Sapi Bali yang Disimpan pada Suhu 4 o C

Kualitas semen sapi Madura setelah pengenceran dengan tris aminomethane kuning telur yang disuplementasi α-tocopherol pada penyimpanan suhu ruang

PENGARUH UKURAN DAN JUMLAH FOLIKEL PER OVARI TERHADAP KUALITAS OOSIT KAMBING LOKAL

Perbedaan Aktivitas Ovarium Sapi Bali Kanan dan Kiri serta Morfologi Oosit yang Dikoleksi Menggunakan Metode Slicing

Embrio ternak - Bagian 1: Sapi

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL

Afriansyah Nugraha*, Yuli Andriani**, Yuniar Mulyani**

ABSTRAK. Kata Kunci : Jarak Tempuh; Waktu Tempuh; PTM; Abnormalitas; Semen ABSTRACT

Endah Subekti Pengaruh Jenis Kelamin.., PENGARUH JENIS KELAMIN DAN BOBOT POTONG TERHADAP KINERJA PRODUKSI DAGING DOMBA LOKAL

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan protein hewani di Indonesia semakin meningkat seiring dengan

PENDAHULUAN. Domba merupakan salah satu ternak penghasil daging yang banyak diminati

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kambing Kacang yang lebih banyak sehingga ciri-ciri kambing ini lebih menyerupai

Pengaruh Tiga Jenis Pupuk Kotoran Ternak (Sapi, Ayam, dan Kambing) Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Rumput Brachiaria Humidicola

PENDAHULUAN. masyarakat Pesisir Selatan. Namun, populasi sapi pesisir mengalami penurunan,

Pengaruh Fluktuasi Suhu Air Terhadap Daya Tetas Telur dan Kelulushidupan Larva Gurami (Osphronemus goramy)

PENDAHULUAN. kambing Peranakan Etawah (PE). Kambing PE merupakan hasil persilangan dari

Hubungan Antara Umur dan Bobot Badan...Firdha Cryptana Morga

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Klorofil Daun Susut Bobot Laju Respirasi (O2 dan CO2)

HATCH PERIOD AND WEIGHT AT HATCH OF LOCAL DUCK (Anas sp.) BASED ON DIFFERENCE OF INCUBATOR HUMIDITY SETTING AT HATCHER PERIOD

PENDAHULUAN. sehingga dapat memudahkan dalam pemeliharaannya. Kurangnya minat terhadap

Jurnal Kajian Veteriner Volume 3 Nomor 1 : ISSN:

PENDAHULUAN. Seiring bertambahnya jumlah penduduk tiap tahunnya diikuti dengan

KUALITAS SPERMATOZOA EPIDIDIMIS SAPI PERANAKAN ONGOLE (PO) YANG DISIMPAN PADA SUHU 3-5 o C

IDENTIFIKASI PROFIL PROTEIN OOSIT KAMBING PADA LAMA MATURASI IN VITRO YANG BERBEDA DENGAN SDS-PAGE. Nurul Isnaini. Abstrak

KUALITAS FISIK TELUR PUYUH YANG DIRENDAM DALAM LARUTAN GELATIN TULANG KAKI AYAM DENGAN LAMA PENYIMPANAN YANG BERBEDA

I. PENDAHULUAN. Daging merupakan makanan yang kaya akan protein, mineral, vitamin, lemak

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 5. Grafik Pertambahan Bobot Rata-rata Benih Lele Dumbo pada Setiap Periode Pengamatan

PENDAHULUAN Latar Belakang

KORELASI GENETIK DAN FENOTIPIK ANTARA BERAT LAHIR DENGAN BERAT SAPIH PADA SAPI MADURA Karnaen Fakultas peternakan Universitas padjadjaran, Bandung

PEMANFAATAN TEKNOLOGI KULTUR OVARI SEBAGAI SUMBER OOSIT UNTUK PRODUKSI HEWAN DAN BANTUAN KLINIK BAGI WANITA YANG GAGAL FUNGSI OVARI

STUDI KOMPARATIF METABOLISME NITROGEN ANTARA DOMBA DAN KAMBING LOKAL

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Fekunditas Pemijahan

GAMBARAN AKTIVITAS OVARIUM SAPI BALI BETINA YANG DIPOTONG PADA RUMAH PEMOTONGAN HEWAN (RPH) KENDARI BERDASARKAN FOLIKEL DOMINAN DAN CORPUS LUTEUM

Dosis Glukosa Ideal pada Pengencer Kuning Telur Fosfat Dalam Mempertahankan Kualitas Semen Kalkun pada Suhu 5 C

KOMPETENSI PERKEMBANGAN OOSIT DOMBA PADA SUHU DAN WAKTU PENYIMPANAN OVARIUM YANG BERBEDA ARIE FEBRETRISIANA

Pengaruh Penggunaan Tris Dalam Pengencer Susu Skim Terhadap Resistensi Spermatozoa Sapi Simmental Pasca Pembekuan

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan Data Statistik 2013 jumlah penduduk Indonesia mencapai jiwa yang akan bertambah sebesar 1,49% setiap tahunnya

KAJIAN KEPUSTAKAAN. anjing, hal ini ditemukan pada situs arkeologi di Persia (Iran), Jericho (Tepi Barat),

Pengaruh Pengencer Kombinasi Sari Kedelai dan Tris terhadap Kualitas Mikroskopis Spermatozoa Pejantan Sapi PO Kebumen

3.1 Membran Sel (Book 1A, p. 3-3)

Analisis Hubungan Fungsi Pemasaran.Rika Destriany

Minggu Topik Sub Topik Metode Pembelajaran

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH KUALITAS PAKAN TERHADAP KEEMPUKAN DAGING PADA KAMBING KACANG JANTAN. (The Effect of Diet Quality on Meat Tenderness in Kacang Goats)

TUGAS AKHIR - SB Oleh: ARSETYO RAHARDHIANTO NRP DOSEN PEMBIMBING : Dra. Nurlita Abdulgani, M.Si Ir. Ninis Trisyani, MP.

BAB V INDUKSI KELAHIRAN

Pengaruh Pemberian Cendawan Mikoriza Arbuskula terhadap Pertumbuhan dan Produksi Rumput Setaria splendida Stapf yang Mengalami Cekaman Kekeringan

PENGARUH BERBAGAI METODE THAWING TERHADAP KUALITAS SEMEN BEKU SAPI

Pengaruh metode gliserolisasi terhadap kualitas semen domba postthawing... Labib abdillah

Penambahan Bovine Serum Albumin pada Pengencer Kuning Telur terhadap Motilitas dan Daya Hidup Spermatozoa Anjing

Water Quality Black Water River Pekanbaru in terms of Physics-Chemistry and Phytoplankton Communities.

KUALITAS SEMEN SAPI BALI SEBELUM DAN SESUDAH PEMBEKUAN MENGGUNAKAN PENGENCER SARI WORTEL

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. pisang nangka diperoleh dari Pasar Induk Caringin, Pasar Induk Gedebage, dan

SERVICE PER CONCEPTION (S/C) DAN CONCEPTION RATE (CR) SAPI PERANAKAN SIMMENTAL PADA PARITAS YANG BERBEDA DI KECAMATAN SANANKULON KABUPATEN BLITAR

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. dan sekresi kelenjar pelengkap saluran reproduksi jantan. Bagian cairan dari

HASIL DAN PEMBAHASAN. Evaluasi Semen Segar

Lampiran 1. Jumlah Zigot yang Membelah >2 Sel pada Hari Kedua

I. PENDAHULUAN. jika ditinjau dari program swasembada daging sapi dengan target tahun 2009 dan

ABSTRAK KUALITAS DAN PROFIL MIKROBA DAGING SAPI LOKAL DAN IMPOR DI DILI-TIMOR LESTE

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL LUAR HALAMAN SAMPUL DALAM LEMBAR PENGESAHAN

Transkripsi:

JURNAL ILMU TERNAK, JUNI 2016, VOL.16, NO.1 Perubahan Ukuran Folikel Ovarium dan Kualitas Oosit pada Ovarium Domba Lokal Pasca Preservasi dengan Waktu yang Berbeda. (The Changes of Ovarian Follicles Size and Oocytes Quality from Local Sheeps Ovarium after Preservation with Different Time) Nurul Ikhwan 1, Nurcholidah Solihati 2, Siti Darodjah Rasad 2, Rini Widyastuti 2 Alumni Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Tahun 2015 1 Laboratorum Reproduksi Ternak dan Insemianasi Buatan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran 2 e-mail: ikhwanspt@gmail.com Abstract Preservasi merupakan salah satu upaya penanganan ovarium untuk mempertahankan kualitas oosit yang telah diambil dari tubuh ternak agar dapat dimanfaatkan untuk Fertilisasi In Vitro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu preservasi ovarium domba lokal terhadap ukuran folikel dan kualitas oosit. Sampel yang digunakan adalah ovarium domba lokal yang diperoleh dari tempat pemotongan hewan setempat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental, dengan pemberian tiga perlakuan dan enam kali ulangan yaitu: P1= preservasi ovarium pada suhu 37 o -38 o C selama 2 jam, P2= preservasi ovarium pada suhu 4 o -5 o C selama 11-12 jam, dan P3= preservasi ovarium pada suhu 4 o -5 o C selama 24-25 jam. Hasil penelitian menunjukan waktu preservasi ovarium memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap ukuran folikel kualitas oosit. Kata kunci: domba lokal, folikel, oosit, preservasi Abstract Preservation is one of method for handling ovaries to maintain the quality of oocytes that had been taken from cattle that can be used for In Vitro Fertilization. The aims of this study is to determine the effect of a local sheep ovarian preservation to the follicle size and oocyte quality. The sample used is a local sheep ovaries were obtained from a local slaughterhouse. This research was conducted by using experimental methods with three treatment and six replications i.e: P 1= ovaries preservation temperature of 37 o -38 o C for 2 hours, P2= ovaries preservation in temperature 4 o -5 C for 11-12 hours, and P3= ovaries preservation at a temperature of 4 o -5 C for 24-25 hours. The results showed that the times of preservationhave significantly different to the size of the follicle and oocyte quality. Keyword: local sheeps, follicle, oocyte, preservation Pendahuluan Pemotongan domba tahun 2013 di Provinsi Jawa Barat telah mengalami peningkatan sebanyak 0,25% dibandingkan dengan tahun 2012 (Dinas Peternakan Jawa Barat, 2013). Upaya untuk memenuhi permintaan konsumsi daging domba bagi masyarakat diperlukan suatu cara agar jumlah populasi dan produksi ternak terus meningkat. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu melalui penerapan teknologi In Vitro Fertilization (IVF). Teknologi IVF memerlukan ketersediaan gamet jantan maupun gamet betina. Salah satu sumber gamet betina yang cukup potensial adalah ovarium yang berasal dari Tempat Pemotongan Hewan (TPH). Pemanfaatan ovarium dari TPH merupakan cara yang ekonomis, namun lokasi TPH yang jauh dengan laboratorium kemungkinan akan menyebabkan penurunan kualitas oosit pada saat transportasi ovarium dari TPH ke laboratorium. Preservasi merupakan salah satu upaya penanganan ovarium agar dapat mempertahankan kualitas oosit selama transportasi. Salah satu perubahan yang terjadi pada ovarium selama proses preservasi adalah perubahan ukuran folikel dan kualitas oosit. Ukuran folikel dapat mengalami peningkatan maupun penyusutan ukurannya dan terjadi kerusakan sel yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah dan kekurangan oksigen (hypoxia). Salah satu upaya untuk meminimalisir efek tersebut adalah dengan pengaturan waktu dan 36

Nurul Ikhwan, dkk. Perubahan Ukuran suhu dan media preservasi yang tepat selama proses preservasi. Kualitas oosit dapat dipertahankan dengan mengatur waktu dan suhu yang tepat selama proses preservasi, sehingga cara tersebut dapat mendukung teknologi IVF. Sejauh ini preservasi ovary telah dilakukan kambing (Silva et al., 2003), anjing (Lopes, 2008) dan sapi (Ackay et al., 2008, Widyastuti dan Rasad, 2015) Namun demikian, penelitian tentang perubahan ukuran folikel dan kualitas oosit pada domba lokal pasca preservasi dengan berbagai waktu belum banyak dilakukan.penelitian ini bermaksud untuk mengetahui pengaruh waktu preservasi ovarium terhadap perubahan ukuran folikel dan kualitas oosit domba lokal paska preservasi. Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi ilmiah bagi para peneliti maupun akademisi sebelum melakukan penelitian IVF. Materi dan Metode Pengambilan Ovarium Ovarium diambil dari domba lokal betina di TPH. Ovarium dibersihkan dengan media NaCl 0.9% yang telah ditambahkan dengan antibiotik penicillin 100 IU/ml dan streptomycin 0,1 mg/ml kemudian memasukan media beserta ovarium ke dalam wadah lalu wadah tersebut disimpan di dalam termos. Preservasi Ovarium Preservasi ovarium dilakukan di dalam termos dengan suhu 37 o -38 o C selama 2 jam dan di dalam lemari pendingin dengan suhu 4 o -5 o C selama 11-12 jam dan 24-25 jam. Pengamatan Perubahan Ukuran Folikel Ovarium Pasca Preservasi Folikel diukur menggunakan jangka sorong. Pengukuran dilakukan dua kali yaitu sebelum preservasi (awal) dan setelah preservasi (akhir). Folikel difoto dengan kamera yang berguna untuk identifikasi perubahan ukuran diameter. Koleksi dan Evaluasi Oosit Oosit dikoleksi dengan metode slicing menggunakan pisau dan pinset (Engcong dan Karja, 2013). Oosit yang telah dikoleksi, kemudian dievaluasi menjadi 4 kelompok kriteria kualitas yaitu A, B, C, dan D berdasarkan lapisan sel kumulus dan gambaran sitoplasma (Gordon, 2003). Oosit yang dikelompokan ke dalam: 1. Kualitas A jika oosit memiliki lima lapis atau lebih sel kumulus dengan sitoplasma yang homogen dan berwarna hitam. 2. Kualitas B adalah oosit yang memiliki kurang dari lima lapisan sel kumulus dengan sitoplasma yang homogen dan berwarna hitam. 3. Kualitas C adalah oosit yang terlihat masih sedikit lapisan sel kumulus, zona pellucida yang terlihat dan sitoplasma yang tidak homogen. 4. Kualitas D adalah oosit yang memiliki sitoplasma transparan, zona pellucida terlihat atau bahkan tidak ada sama sekali dan lapisan sel kumulus hampir hilang bahkan hilang seluruhnya. Analisis Data Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pengulangan dilakukan sebanyak 6 kali dengan 3 perlakuan preservasi ovarium yaitu P 1 = suhu 37 o -38 o C selama 2 jam (kontrol), P 2 = suhu 4 o -5 o C selama 11-12 jam, dan P 3 = suhu 4 o -5 o C selama 24-25 jam. Diameter folikel yang dikelompokan berdasarkan kriteria ukuran kemudian dihitung nilai perubahan diameter sebelum dan sesudah preservasi ovarium, kemudian analisis statistik menggunakan tabel analisis ragam (uji F). Oosit yang telah dikelompokan berdasarkan nilai persentase kriteria kualitasnya kemudian tranformasi data ke dalam bentuk Akar Kuadrat untuk dilakukan analisis ragam (Gaspersz, 1995). Hasil dan Pembahasan Ukuran folikel dan kualitas oosit pasca preservasi menunjukkan hasil yang berbeda di setisp perlakuan. Hasil penelitian pada Tabel 1 mengenai pengaruh waktu preservasi ovarium terhadap diameter folikel domba lokal bahwa preservasi ovarium berdampak pada rataan perubahan diameter folikel yang mengakibatkan penyusutan ukuran. Rataan penyusutan diameter folikel yang tertinggi yaitu pada P1 sebesar 0,217 mm, selanjutnya pada P2 sebesar 0,168 mm, dan penyusutan terkecil pada P3 sebesar 0,152 mm. 37

JURNAL ILMU TERNAK, JUNI 2016, VOL.16, NO.1 Tabel 1. Rataan Perubahan Diameter Folikel Setelah Preservasi Ovarium Ulangan Perlakuan P3... mm... 1 0,230 0,194 0,151 2 0,188 0,188 0,118 3 0,194 0,148 0,181 4 0,186 0,175 0,179 5 0,222 0,101 0,151 6 0,280 0,199 0,131 Total 1,300 1,005 0,911 Rata-rata 0,217 0,168 0,152 Keterangan : P1 : Preservasi ovarium pada suhu 37 o -38 o C selama 2 jam (kontrol). P2 : Preservasi ovarium pada suhu 4 o -5 o C selama 11-12 jam. P3 : Preservasi ovarium pada suhu 4 o -5 o C selama 24-25 jam. Hasil analisis statistik dari ketiga perlakuan tersebut menunjukan bahwa preservasi ovarium berbeda nyata terhadap diameter folikel, maka terima H 1. Hasil berbeda nyata ini perlu dilakukan uji lanjut Duncan yang hasilnya bahwa P1 berbeda nyata terhadap P2 dan P3, sedangkan P2 tidak berbeda nyata terhadap P3. Hasil berbeda nyata menunjukan pada P1 telah memberikan pengaruh terhadap penyusutan ukuran diameter folikel tertinggi dikarenakan folikel tidak lagi mendapatkan suplai darah seperti kondisi di dalam tubuh. Hal ini dikarenakan darah memiliki fungsi membawa nutrisi bagi jaringan maupun organ di dalam tubuh. Kondisi tersebut diduga menjadi faktor terjadi penyusutan atau mengecilnya ukuran pada jaringan folikel. Kondisi ini disebut atrofi. Hal ini sependapat dengan Kumar dkk (2013), atrofi merupakan kondisi pengecilan ukuran pada jaringan maupun organ. Berbeda dengan P2 maupun P3 yang mengalami penyusutan ukuran folikel lebih rendah dibandingkan dengan P1 pada suhu 37 o - 38 o C. Hal ini dikarenakan preservasi ovarium yang telah dilakukan pada P2 maupun P3 suhu 4 o -5 o C dapat menekan angka penyusutan ukuran diameter folikel. Kondisi ini diduga bahwa suhu 4 o -5 o C dapat memperlambat aktifitas metabolisme sel di dalam folikel sehingga ukuran diameter tidak menyusut terlalu tinggi. Dugaan ini sejalan dengan Petrucci dkk (2010), manfaat preservasi pada suhu dingin yaitu 4 o C untuk memperlambat kerja metabolisme sel sehingga akumulasi asam dapat dihambat sampai waktu tertentu. A B C D 38

Nurul Ikhwan, dkk. Perubahan Ukuran Gambar 1. Kriteria Kualitas Oosit Domba Lokal (Pengamatan dengan Microscope Inverted Software DP-2 BSW Pembesaran 20 x 10) Penyusutan ukuran diameter folikel pada kondisi P2 maupun P3 tidak hanya diakibatkan oleh melambatnya aktifitas metabolisme sel namun diduga pula telah terjadi kerusakan dinding membran folikel saat ovarium dipisahkan dari tubuh ternak dan suplai darah yang terhenti dapat juga menyebabkan iskemia. Iskemia diduga dapat mengakibatkan perubahan metabolisme sel dari aerob menjadi anaerob. Menurut Wongsrikeao et al (2005), kondisi anaerob menunjukan metabolisme sel-sel ovarium akan menghasilkan asam laktat dan asam fosfat sehingga meningkatkan jumlah ion H+ yang mudah masuk ke dalam pori-pori membran plasma. Zat cair yang mudah masuk ke dalam membran akan mengakibatkan mekanisme fisiko kimia. Mekanisme fisiko kimia yaitu perpindahan larutan NaCl sebagai media preservasi menuju cairan yang berada di dalam folikel mengakibatkan ukuran folikel membesar yang dikenal dengan hipotonis. Dugaan tersebut sejalan dengan Carvalho et al (2001), akumulasi asam dan peningkatan ion-ion akan menyebabkan perubahan ph dan osmolalitas membran selular menjadi permeable, sehingga larutan masuk ke intrasel yang menyebabkan degenerasi sel. Menurut Bone (1988), penggunaan NaCl fisiologis yang merupakan larutan elektrolit dapat mengakibatkan mekanisme osmosis terhadap folikel maupun oosit di dalamnya. Oleh karena itu, semakin lama preservasi berlangsung maka perpindahan volume suatu zat cair dari media preservasi akan semakin banyak menuju suatu jaringan maupun organ. Hal ini bahwa pada P3 menunjukan penyusutan ukuran diameter folikel lebih kecil dibandingkan dengan P2. Artinya pada P3 telah terjadi masuknya larutan NaCl ke dalam folikel lebih banyak dibandingkan dengan P2 walaupun secara statistika tidak berbeda nyata diantara kedua perlakuan tersebut. Rataan persentase jumlah kualitas oosit A dan B menunjukan angka tertinggi terdapat pada P1 yaitu 75,50% diikuti pada perlakuan P2 telah menunjukan adanya penurunan rataan persentase jumlah kualitas oosit A dan B yaitu 57,83%, dan selanjutnya rataan persentase jumlah kualitas oosit A dan B terus menurun pada P3 yaitu berjumlah 13,00%. Hasil uji lanjut menunjukan kualitas oosit A maupun oosit B baik P1 atau P2 memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap P3, namun P1 tidak berbeda nyata terhadap P2. Secara lebih rinci, kualitas oosit pasca preservasi dapat diamati pada Tabel 2. Menurut Gordon (2003), kualitas oosit A dan B dapat digunakan sebagai bahan dasar dalam penerapan teknologi IVF untuk memproduksi embrio. Hasil berbeda nyata P1 waktu preservasi ovarium saat transportasi dengan lama perjalanan 2 jam pada suhu 37 o - 38 o C menunjukan rataan jumlah persentase kualitas oosit A dan B yang paling tinggi dibandingkan dengan P2 maupun P3. Hal ini menguatkan penelitian yang telah dilakukan Engcong dan Karja (2013), preservasi pada suhu 37 o -38 o C selama 2 jam menghasilkan jumlah kualitas oosit A paling tinggi dibandingkan selama 5-7 jam maupun 8-10 jam dan suhu media yang diatur mendekati kondisi yang hampir sama dengan suhu di dalam tubuh ternak kisaran 37 o -38 o C. Lokasi antara TPH dengan laboratorium yang merupakan tempat untuk mengoleksi oosit memiliki jarak yang perlu ditempuh, hal ini mengakibatkan ovarium perlu dipreservasi terlebih dahulu. Perlakuan P1 yang diberikan merupakan upaya untuk mempertahankan kualitas oosit pada keadaan ovarium masih segar (fresh) selama 2 jam pada suhu 37 o -38 o C. Hal ini sependapat dengan Choi et al (2004); Engcong dan Karja (2013); Tellado et al (2014), melakukan preservasi ovarium karena adanya jarak yang perlu ditempuh antara TPH dengan laboratorium sehingga perlu diatur suhu tertentu selama perjalanan (transportasi) guna kualitas oosit agar dapat dipertahankan. 39

JURNAL ILMU TERNAK, JUNI 2016, VOL.16, NO.1 Tabel 2. Rataan Persentase Jumlah Oosit Berdasarkan Kriteria Kualitas Oosit Setelah Preservasi Ovarium Jumlah Perlakuan Oosit Rataan Jumlah Oosit A B C D... %... P1 86 32,67 42,83 21,67 2,83 P2 95 28,33 29,50 19,00 23,67 P3 73 0,00 13,00 47,50 39,50 Keterangan : P1 : Preservasi ovarium pada suhu 37 o -38 o C selama 2 jam. P2 : Preservasi ovarium pada suhu 4 o -5 o C selama 11-12 jam. P3 : Preservasi ovarium pada suhu 4 o -5 o C selama 24-25 jam Preservasi ovarium P2 dengan waktu preservasi 11-12 jam pada suhu 4 o -5 o C kualitas oosit A dan B dari jumlah rataan keduanya yaitu 57,83%, data tersebut menunjukan bahwa perlakuan pada P2 telah terjadi penurunan rataan jumlah persentase kualitas oosit dibandingkan dengan P1 yaitu 75,50%. Kondisi ini diduga karena adanya pengaruh lama preservasi ovarium maupun suhu yang diberikan terhadap kualitas oosit. Dugaan ini sejalan dengan Klumpp (2001) dan Gordon (2003), faktor seperti waktu dan suhu penyimpanan ovarium sangat mempengaruhi kualitas oosit. Umumnya pada P2 rataan jumlah persentase kualitas oosit A dan B masih dapat dikatakan baik karena jumlahnya lebih tinggi dibandingkan dengan rataan jumlah persentase kualitas oosit C dan D (42,67%). Hasil ini menguatkan pendapat Engcong dan Karja (2013), preservasi ovarium pada suhu 4 o C selama 8-10 jam menunjukan persentase kualitas oosit A dan B masih dapat dipertahankan, hal ini pun sesuai dengan dugaan sementara bahwa preservasi ovarium yang dilakukan pada suhu 4 o - 5 o C selama 11-12 jam diduga masih mampu mempertahankan tingkat kriteria kualitas oosit A dan B yang dapat dijadikan sebagai sumber genetik potensial teknologi IVF. Preservasi ovarium P3 selama 24-25 jam pada 4 o -5 o C (suhu dingin) menunjukan penurunan rataan jumlah persentase kualitas oosit A dan B yakni 13,00%. Hal ini diduga akibat preservasi suhu dingin apabila dilakukan semakin lama akan menyebabkan rataan jumlah persentase kualitas oosit A dan B terus menurun. Hasil ini sependapat dengan Carvalho et al (2001), oosit domba lebih rentan terhadap suhu dingin karena membran lipid pada oosit tidak mampu bertahan pada suhu dingin. Suhu dingin dapat menyebabkan hilangnya integritas dari membran oosit (Wongsrikeao et al., 2005). Seiring lama preservasi berlangsung seperti pada P3 tanpa adanya penambahan jenis zat apapun ke dalam media preservasi mengakibatkan persentase jumlah kualitas oosit A dan B yang didapat terjadi penurunan secara drastis. Oleh karena itu, kondisi tersebut akan menyebabkan lamanya iskemia. Sebaliknya apabila terdapat penambahan zat yang dapat memberikan nutrisi maka kualitas oosit dapat dipertahankan walaupun preservasi selama 24 jam. Dugaan ini sependapat dengan Khillare (2008), penambahan zat seperti serum sebanyak 15% ke dalam media preservasi pada suhu 5 o C (dingin) akan mempertahankan kualitas oosit selama 24 jam. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat diambil simpulan sebagai berikut ini: Waktu preservasi ovarium memberikan pengaruh yang nyata terhadap ukuran folikel dan kualitas oosit. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Tim Dosen di Laboratorium Reproduksi Ternak dan Inseminasi Buatan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Daftar Pustaka Akcay.E., Oysal, O., Yavas, I & U. An., 2008.The effects of serum, steroid and gonadorophins on in vitro maturation and fertilization of bovine oocytes. J. Anim. And Vet. Advances 7: 178-183. Bone, J.F. 1988. Animal Anatomy and Physiology. 3 th ed. Prentice-Hall, Inc. A Division of Simon & Schuster Englewood Cliffs. New Jersey USA. 19, 368, 412. 40

Nurul Ikhwan, dkk. Perubahan Ukuran Carvalho F.C., C.M. Lucci, J.R. Silva, E.R. Andrade, S.N. Báo, and J.R. Figueiredo. 2001. Effect of Braun-Collin and Saline Solution at The Different Temperature and Incubation Time on The Quality of Goat Preantral Follicles Preserved in Situ. Animal Reproduction Science 66: 195-200. Choi, Y.H., L.M. Roasa, C.C. Love, S.P. Brinsko, and K. Hinrichs. 2004. Blastocyts Formation Rates In Vitro and In Vitro Maturation Equine Oocyts Fertilized Intracytoplasmic Sperm Injection. Biology Reproduction 70: 1231-1238. Dinas Peternakan Jawa Barat. 2013. Statistik Pemotongan Ternak Tahun 2012-2013. Available at : http://disnak.jabarprov.go.id (diakses 17 April 2015, jam 14:06 WIB). Engcong, D.M. dan N.W. Karja. 2013. Kualitas Oosit Domba dari Ovarium Setelah Penyimpanan pada Suhu dan Periode Waktu yang Berbeda. Acta Veterinaria Indonesiana 1(2): 44-49. Gaspersz, V. 1995. Teknik Analisis dalam Penelitian Percobaan, Jilid 1. Tarsito. Bandung. 123-131, 198-204. Gordon, I. 2003. Laboratory of Production Cattle Embryo. 2 nd ed. CABI Publishing. Wallingford. Kumar, V., A.K. Abbas., and J.C. Aster. 2013. Cell Injury, Cell Death, and Adaptations. In: Robbins. Basic Pathology. 9 th ed. Elsevier Inc. Canada. 5-17. Khillare, K.P. 2008. Recovery and Preservation of Goat Follicular Oocytes. Veterinary World, Vol.1 (3). Departement of Gynecology and Obstetrics, Collage of Veterinary and Animal Science. Parbhani. 73-74. Klumpp, A. M. 2001. The Effect of Holding Bovine Oocytes in Follicular Fluid on Subsequent Fertilization and Embryonic Development. Thesis. Loumurna State University. California. 20. Lopez, A.P., R.R. Santo., J.J. Holland. C.M,. Aline. P.M.Robert., N.C. Claudio., C.Campello., J. Roberto,,V.V Sonia., N.B.K. Jewgenew.. J.R. Figuerido., 2008. Short-Term Preservation of Canine Preantral Follicles: Effects of Temperature, Medium and Time. Animal Reproduction Science. 114:201-214. Petrucci, R.H., F.G. Herring, and J.D. Madura. 2010. General Chemistry Prinsiple and Modern Application. 10 th ed. Prentice- Hall Inc. Silva, J.R.V., Alline,. Regiane R.D.S., Sonia H.F.C., Ana, P.R.R., Marcos, A..L.F., Vanessa, P.M., Jose, R.F., 2003. Degeneration rate of goat primordial follicles maintained in TCM 199 or PBS at different temperatures and incubation times. Ciência Rural, Santa Maria.33:913-919. Tellado, M.N., G.M. Alvarez., G.C. Dalvit., and P.D. Cetica. 2014. The Conditions of Ovary Storage Affect The Quality of Porcine Oocytes. Advances in Reproductive Sciences (2). School of Veterinary Sciences, University of Buenos Aires. Argentina. 57-67. Widyastuti, R., Rasad, S.D. 2015.Tingkat Kematangan Inti Oosit Sapi Setelah 24 Jam Preservasi Ovarium. Agripet. 15 (2) : 72-78 Wongsrikeao, P., T. Otoi, N.W. Karja, B. Agung, M. Nii, and T. Nagai. 2005. Effect of Ovary Storage Time and Temperature on DNA Fragmentation and Development of Porcine Oocytes. Jurnal of Reproduction and Development 51: 87-97. 41