10Pilihan Stategi Industrialisasi

dokumen-dokumen yang mirip
BAGIAN KEEMPAT MEMBANGUN AGRIBISNIS MEMBANGUN EKONOMI RAKYAT

Barat yang Integratif Melalui Pegembangan Agribisnis

19Pengembangan Agribisnis

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

14Pengembangan Agribisnis

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan Jangka Panjang tahun merupakan kelanjutan

BAB 25 Tahap -Tahap Pembangunan Cluster Industri Agribisnis

Peranan Pertanian di Dalam Pembangunan Ekonomi. Perekonomian Indonesia

untuk Mendukung Pengembangan Agribisnis dan Ekonomi Pedesaan

BAB I PENDAHULUAN. pertukaran barang dan jasa antara penduduk dari negara yang berbeda dengan

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya pembangunan ekonomi nasional bertujuan untuk. membangun manusia Indonesia seutuhnya, dan pembangunan tersebut harus

PROSPEK AGRIBISNIS 2001 DAN EVALUASI PEMBANGUNAN PERTANIAN 2000

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. mampu bertahan dan terus berkembang di tengah krisis, karena pada umumnya

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. Agribisnis kelapa sawit mempunyai peranan yang sangat besar dalam

I. PENDAHULUAN. Distribusi Persentase PDRB Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun

BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR

Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan

BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR

PEREKONOMIAN INDONESIA TAHUN 2007: PROSPEK DAN KEBIJAKAN

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan dari pembangunan ekonomi di antaranya adalah untuk. meningkatkan pertumbuhan ekonomi, disamping dua tujuan lainnya yaitu

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah

VIII. KESIMPULAN, IMPLIKASI KEBIJAKAN DAN SARAN. produktivitas tenaga kerja di semua sektor.

I. PENDAHULUAN. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Tahun

AGRIBISNIS BERBASIS PETERNAKAN MENGHADAPI ERA PERDAGANGAN BEBAS

Mendukung terciptanya kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Meningkatnya jumlah minat investor untuk melakukan investasi di Indonesia

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengembangan Wilayah

I. PENDAHULUAN. masyarakat adil dan makmur. Dengan demikian segala upaya pelaksanaan

II. ARAH, MASA DEPAN PERTANIAN, PERIKANAN, DAN KEHUTANAN INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat. (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia. Dalam konteks bernegara, pembangunan diartikan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan ekonomi ialah untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan

BAB I PENDAHULUAN. suatu negara yang sudah menjadi agenda setiap tahunnya dan dilakukan oleh

Membangun Pertanian dalam Perspektif Agribisnis

I. PENDAHULUAN. Komoditas hortikultura yang terdiri dari tanaman buah-buahan dan sayuran,

I. PENDAHULUAN. kantong-kantong kemiskinan sebagian besar berada di sektor pertanian.

BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENATAAN WILAYAH PERTANIAN INDUSTRIAL Kawasan Pertanian Industrial unggul berkelanjutan

2 masing-masing negara masih berhak untuk menentukan sendiri hambatan bagi negara non anggota. 1 Sebagai negara dalam kawasan Asia Tenggara tentunya p

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten

BAB I PENDAHULUAN. bentuk kenaikan pendapatan nasional. Cara mengukur pertumbuhan ekonomi

I. PENDAHULUAN. Keberhasilan perekonomian suatu negara dapat diukur melalui berbagai indikator

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka,

I. PENDAHUL'CJAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. (agribisnis) terdiri dari kelompok kegiatan usahatani pertanian yang disebut

BAB IV Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Strategi dan Arah Kebijakan

IV. GAMBARAN UMUM INDIKATOR FUNDAMENTAL MAKRO EKONOMI NEGARA ASEAN+3

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT

VII. SIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. berbagai masalah yang sedang dihadapi (Sandika, 2014). Salah satu usaha untuk

DAFTAR ISI... HALAMAN DAFTAR TABEL... DAFTAR GRAFIK... DAFTAR BOKS... KATA PENGANTAR...

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perdagangan internasional berawal dari adanya perbedaan

BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH. 2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya;

BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD)

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI. pertemuan kedua (matrikulasi) 1

BAB I PENDAHULUAN. Dalam era perdagangan bebas saat ini, telah terjadi perubahan secara

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENGEMBANGAN AGRIBISNIS BERBASIS PETERNAKAN YANG TERINTEGRASI DE-NGAN PEMBANGUNAN WILAYAH (KASUS JAWA BARAT)

Pertumbuhan PDB atas dasar harga konstan tahun 1983

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia, yang

BAB IV STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan

BAB I PENDAHULUAN. pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Dalam era globalisasi peran transportasi

BAB I PENDAHULUAN. penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini dan (4) menjadi basis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. perkembangannya apabila tingkat kegiatan ekonomi lebih tinggi daripada yang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PEMETAAN DAYA SAING PERTANIAN INDONESIA. Saktyanu K. Dermoredjo

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan

I. PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang

Ringkasan. Kebijakan Pembangunan Industri Nasional

BAB I PENDAHULUAN. suatu negara. Begitu juga dengan investasi yang merupakan langkah awal

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia.

I. PENDAHULUAN. terjadinya krisis moneter, yaitu tahun 1996, sumbangan industri non-migas

BAB I PENDAHULUAN. Sektor industri merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang berperan

I. PENDAHULUAN Industri Pengolahan

Transkripsi:

10Pilihan Stategi Industrialisasi Memasuki Milenium Ketiga yang Berpihak pada Penguatan Ekonomi Rakyat Pendahuluan Sebenarnya judul makalah yang diminta panitia kepada saya adalah Peluang Rakyat Dalam Pembangunan Ekonomi Mewujudkan Pemerataan dan Kemakmuran Bangsa Memasuki Milenium Ketiga. Menurut saya, persoalan pokok bangsa kita bukan lagi masalah apakah ada tidaknya peluang rakyat, tetapi yang terpenting, bahkan menjadi tantangan, adalah bagaimana pembangunan dilaksanakan agar memberi peluang sebesar-besarnya bagi penguatan ekonomi rakyat. Atas pemikiran yang demikian, maka saya memilih judul di atas untuk saya sampaikan dan untuk kita diskusikan bersama. Memasuki milenium ketiga (abad ke-21), pembangunan nasional sedang memasuki era industrialisasi, menyusul negara-negara lain yang telah lebih dulu memasuki industrialisasi. Bertepatan dengan era industrialisasi yang akan kita laksanakan, globalisasi perekonomian telah dan akan mengalami penguatan, terutama didorong oleh upaya liberalisasi perdagangan internasional dan integrasi ekonomi kawasan. Dalam memasuki era yang demikian, bagi kita sebagai bangsa Indonesia, masalah pilihan strategi industrialisasi, termasuk di dalamnya tahapan industrialisasi dan industri unggulan setiap tahapan, adalah sangat penting. Pertama, strategi industrialisasi yang kita pilih harus merupakan cara yang kita tempuh untuk membangun bangsa. Hal ini berarti, yang menjadi tolok ukur bagi ketepatan pilihan strategi industrialisasi adalah manfaatnya bagi rakyat dan bukan dari segi kepentingan bisnis (pengusaha) semata. Kedua, pilihan strategi industrialisasi yang akan kita tempuh akan menentukan posisi bangsa Indonesia dalam perekonomian dunia; apakah sebagai aktor penting atau aktor pembantu (bagian dari strategi industrialisasi negara lain). Hal ini penting karena dewasa ini cukup kuat godaan untuk masuk dalam perangkap skenario industrialisasi negara lain yang belum tentu bermanfaat bagi kita. Ketiga, strategi industrialisasi yang menjadi pilihan dan keputusan pemerintah akan mengarahkan investasi dan anggaran pemerintah, alokasi

investasi swasta dan sumber daya yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, pilihan tersebut hendaknya mampu sebagai sektor pemimpin (leading sector) bagi perekonomian rakyat. Keempat, era industrialisasi harus merupakan kelanjutan pembangunan sebelumnya. Hal ini penting, agar investasi yang telah kita lakukan pada PJP-I (yang sebagian dibiayai oleh utang luar negeri) tidak menjadi mubazir. Dalam hal ini, saya tidak percaya pada isu lompatan pembangunan. Disamping akan membuat mubazir investasi sebelumnya, juga dapat menciptakan kondisi gamang bagi masyarakat dan pemerintah. Dengan keempat pertimbangan pemikiran di atas, makalah ini selanjutnya akan menguraikan dimana perekonomian kita saat ini, yang dilanjutkan dengan pilihan dan tahapan industrialisasi. Kemudian, bagian terakhir akan menguraikan bagaimana memperkuat ekonomi rakyat dalam strategi industrialisasi yang menjadi pilihan. Perubahan Struktur Perekonomian Nasional Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama (PJP-I) telah mengubah struktur perekonomian nasional. Bila pada tahun 1969 pangsa sektor pertanian primer dalam PDB masih sekitar 40 persen, maka pada tahun 1995 pangsanya hanya 16 persen. Sementara itu, pangsa sektor industri dalam PDB telah meningkat dari sekitar 10 persen pada tahun 1969 menjadi sekitar 23 persen pada tahun 1995. Perubahan struktur perekonomian nasional yang demikian, telah memungkinkan meningkatnya pendapatan penduduk Indonesia. Ratarata pertumbuhan ekonomi sekitar 7,2 persen per tahun selama PJP-I telah meningkatkan pendapatan per kapita dari US$ 70 pada tahun 1969, menjadi US$ 1,023 pada tahun 1996. Seiring dengan peningkatan pendapatan tersebut, telah terjadi penurunan persentase penduduk miskin dari sekitar 54 persen pada awal PJP-I menjadi 15 persen pada akhir PJP-I. Namun demikian, di balik prestasi pembangunan tersebut perekonomian Indonesia ternyata masih menampilkan sisi yang kurang menggembirakan dan kondisi yang perlu menjadi pertimbangan utama dalam memilih strategi industrialisasi. Pertama, perubahan struktur perekonomian (pangsa sektor) ternyata tidak di ikuti oleh perubahan penyerapan tenaga kerja yang seimbang. Sektor pertanian primer yang pangsanya dalam PDB telah turun menjadi 16 persen 136

masih menyerap sekitar 50 persen angkatan kerja nasional. Hal ini berarti sekitar 50 persen (± 50 juta orang) angkatan kerja nasional hanya menerima 16 persen pendapatan (PDB) nasional. Kedua, secara nasional maupun regional, kita masih berhadapan dengan kesenjangan pembangunan dan pendapatan yaitu antara Kawasan Barat Indonesia dan Kawasan Timur Indonesia, serta antara wilayah perkotaan (urban area) dan wilayah pedesaan (rural area). Bahkan ada kecenderungan terjadi pelepasan kaitan (decoupling) antara perkembangan sektor perkotaan dengan sektor pedesaan. Ketimpangan tersebut bukan karena miskin sumber daya, akan tetapi lebih disebabkan oleh sumber daya yang justru melimpah namun belum termanfaatkan dan nilai tambah yang tercipta belum dinikmati oleh masyarakat pedesaan. Ketiga, bila ditelusuri lebih lanjut, ternyata meningkatnya pangsa sektor industri dalam PDB disebabkan oleh semakin besarnya kontribusi industri non-migas, dimana industri non-migas tersebut didominasi oleh industri pengolahan hasil pertanian (agroindustri). Sebagian besar nilai tambah, nilai ekspor, penyerapan tenaga kerja dari industri nonmigas berasal dari agroindustri. Selain itu, angka pengganda nilai tambah agroindustri masih meningkat, yang berarti belum mencapai tingkat pertumbuhan kapasitas yang menurun (levelling-off). Ketiga kondisi obyektif perekonomian Indonesia tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar angkatan kerja dan penduduk masih menggantungkan hidupnya pada kegiatan ekonomi yang berbasis pertanian, Kemudian, sebagian besar ekspor industri non-migas (ekspor utama Indonesia) juga berasal dari agroindustri. Hal ini berarti bahwa perekonomian nasional secara keseluruhan masih berada pada kegiatan ekonomi yang berbasis pertanian. Pilihan dan Tahapan Industrialisasi Dengan struktur perekonomian nasional, baik dari segi PDB maupun penyerapan tenaga kerja, yang masih berada pada kegiatan ekonomi yang berbasis pertanian mempunyai implikasi dalam pilihan industrialisasi. Untuk meningkatkan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan, dan memperbesar ekspor tanpa harus berkonsekuensi pada peningkatan impor, maka pilihan strategi industrialisasi yang tepat adalah industrialisasi pertanian atau sering juga kita sebut dengan istilah membangun pertanian dengan pendekatan sistem agribisnis. Artinya, kita sekaligus membangun industri hulu pertanian (industri pembibitan, industri alsin, industri agrokimia, dan 137

lain-lain), pertanian primer (usahatani), industri hilir pertanian (agroindustri) beserta kegiatan perdagangannya, dan mengembangkan industri jasa yang menunjang industrialisasi pertanian. Bukan seperti pada PJP-I yang lalu, dimana pembangunan pertanian yang kita laksanakan hanya terfokus pada pembangunan pertanian primer. Untuk mengefektifkan sekaligus mempercepat industrialisasi pertanian, kita perlu menjadikan agroindustri sebagai sektor pemimpin (the leading sector). Mempercepat pengembangan agroindustri akan secara otomatis menarik pertumbuhan pertanian primer sebagai penyedia bahan baku dan pertumbuhan pertanian primer ini akan menarik pertumbuhan industri hulu pertanian. Industrialisasi pertanian dengan agroindustri sebagai sektor pemimpin di Indonesia masih mampu bertumbuh dan bahkan dapat menempatkan Indonesia sebagai aktor penting dalam era perdagangan bebas. Dari sisi penawaran (supply side), kita memiliki sumber daya yang melimpah (baru termanfaatkan sekitar 40 persen), dan pendalaman struktur agroindustri ke lebih hilir juga masih terbuka luas. Selain itu, kita telah memiliki infrastruktur, fasilitas, kelembagaan (yang kita bangun pada PJP-I lalu) yang diperlukan untuk mendukung industrialisasi pertanian. Kemudian dari sisi permintaan (demand side), produk agroindustri memiliki potensi dan prospek pasar yang cukup besar di masa yang akan datang. Keberhasilan industrialisasi di negara lain dan liberalisasi perdagangan secara internasional akan meningkatkan pendapatan masyarakat dunia. Meningkatnya pendapatan tersebut akan meningkatkan permintaan produk yang bersifat memiliki elastisitas permintaan terhadap peru bahan pendapatan yang tinggi (income elastic demand), seperti produk agroindustri. Sementara itu, dengan intensifnya industrialisasi (bukan berbasis pertanian) pada hampir setiap negara, akan mengalihkan sumber daya mereka dari kegiatan ekonomi berbasis pertanian ke industri yang bersangkutan, sehingga produksi industri-industri pertanian akan menurun atau tidak kompetitif lagi. Hal ini akan membuka peluang bagi Indonesia untuk memperbesar pangsa pasar pada pasar produk pertanian dan agroindustri internasional. Percepatan industrialisasi pertanian selama 25 tahun ke depan (PJP- II) akan memperkuat landasan bagi industrialisasi tahap ketiga (PJP-III), yang mungkin tidak harus lagi berbasis pertanian sebagai prioritas utama. Percepatan pengembangan agroindustri akan menarik pertumbuhan kegiatan pertanian yang tersebar luas di seluruh penjuru tanah air sedemikian rupa, 138

sehingga dapat meningkatkan pendapatan penduduk secara lebih merata. Peningkatan pendapatan yang disertai dengan pemerataan pendapatan merupakan landasan penting bagi industrialisasi tahap kedua. Selain itu, pengembangan agroindustri dapat menjadi landasan yang kokoh bagi era. industrialisasi berikutnya. Bila selama PJP-II kita berhasil mengembangkan agroindustri perkaretan, seperti industri ban otomotif dan barang-barang karet kebutuhan otomotif lainnya; mengembangkan agroindustri minyak sawit yang dapat menghasilkan minyak pelumas dan bahan bakar otomotif; maka tidak mustahil Indonesia dapat menguasai pasar ban otomotif dan minyak pelumas internasional. Dan kalaupun kita memasuki era kedua industrialisasi, yang mengunggulkan industri otomotif, kita tetap akan mampu berkompetisi karena ban dan komponen karet lainnya telah kita kuasai. Dengan pemikiran di atas, hendaknya selama PJP-II ini kita perlu memprioritaskan agroindustri sebagai sektor pemimpin, Baru setelah itu, kita memprioritaskan industri-industri unggulan berikutnya, yang mungkin tidak lagi berbasis pertanian. Hal ini bukan berarti pengembangan basis industri yang tidak berbasis pertanian tidak perlu dilakukan selama PJP-II. Bahkan harus. Sementara kita mempercepat industrialisasi pertanian, kita juga harus mempersiapkan basis industri berikutnya melalui penelitian dan pengembangan untuk menemukan teknologi yang lebih efisien dan kalau boleh melampaui apa yang telah dicapai negara lain. Sehingga pada saat memasuki komersialisasi (PJP-IH), kita mampu bersaing dan berakar di dalam negeri. dalam Industrialisasi Pertanian Di masa lalu (PJP-I), sebagian besar rakyat kita hanya berada pada mata rantai yang memberikan nilai tambah terkecil (pertanian primer) dalam keseluruhan kegiatan ekonomi yang berbasis pertanian, mulai dari industri hulu hingga ke hilir; sehingga wajar saja kalau pendapatan petard kita tetap terendah. Sementara, mereka yang menguasai mata rantai kegiatan ekonomi yang memberikan nilai tambah terbesar seperti industri hulu dan hilir pertanian beserta kegiatan perdagangannya, mampu berkembang dan menjadi konglomerat yang kita kenal dewasa ini. Oleh sebab itu, kita perlu memperkuat ekonomi rakyat agar mampu merebut nilai tambah yang besar. Dalam upaya penguatan ekonomi rakyat industrialisasi pertanian merupakan syarat keharusan (necessary condition), yang menjamin iklim makro yang kondusif bagi pengembangan ekonomi rakyat yang sebagian besar masih 139

berada pada kegiatan ekonomi berbasis pertanian, Untuk penguatan ekonomi rakyat secara riil, diperlukan syarat kecukupan (sufficient condition) berupa pengembangan organisasi bisnis petani yang dapat merebut nilai tambah yang tercipta pada setiap mata rantai ekonomi dalam industrialisasi pertanian. Pengembangan organisasi bisnis petani yang dimaksudkan adalah pengembangan koperasi agribisnis dan pengembangan jaringan bisnis (business network) koperasi. Pengembangan koperasi agribisnis ini bukan hanya pengembangan koperasi pada mata rantai pertanian primer (sebagaimana KUD selama ini), tetapi lebih di utamakan agar koperasi mampu menjadi aktor utama, baik pada industri hulu pertanian, industri hilir (agroindustri) pertanian maupun kegiatan perdagangannya. Kita berharap, melalui pengembangan koperasi agribisnis selama PJP-II, industri hulu pertanian, agroindustri, dan perdagangan produknya secara bertahap dapat dikuasai oleh petani melalui koperasi, baik melalui aliansi pemilikan antar koperasi, aliansi koperasi dengan BUMN maupun aliansi koperasi dengan perusahaan swasta. Dengan pengembangan koperasi agribisnis dan jaringan bisnis yang demikian, diharapkan nilai tambah yang tercipta dalam kegiatan ekonomi berbasis pertanian mulai dari hulu hingga ke hilir, dapat di nikmati oleh petani. Demikian juga manfaat peningkatan permintaan produk agroindustri dan manfaat teknologi baru, sebagian besar dapat jatuh ke tangan petani. Dengan keadaan yang demikian, secara bertahap petani dan organisasi lainnya akan mampu membiayai sendiri pengembangan bisnisnya, karena disamping mereka telah memiliki dana yang cukup untuk kegiatan penelitian dan pengembangan, juga sadar bahwa manfaatnya juga dinikmati oleh para petani itu sendiri. Kesimpulan Sampai saat ini dan diperkirakan sampai akhir PJP-II, sebagian besar rakyat Indonesia masih berada dan hidup dari kegiatan ekonomi yang berbasis pertanian (agribisnis). Oleh karena itu, untuk mengembangkan perekonomian rakyat dalam memasuki era industrialisasi maka industrialisasi pertanian yang menjadikan agroindustri sebagai sektor pemimpin menjadi pilihan yang paling efektif dan efisien. Untuk memperkuat ekonomi rakyat, industrialisasi pertanian tersebut merupakan syarat keharusan (necessary condition). Artinya, pilihan industrialisasi pertanian sebagai strategi industrialisasi baru menjamin bahwa sumber daya akan mengalir kepada sektor ekonomi yang berbasis pertanian dan belum menjamin bahwa manfaat 140

ekonomi dari industrialisasi akan dinikmati oleh para petani. Oleh karena itu, diperlukan syarat kecukupan (sufficient condition) berupa pengembangan organisasi bisnis petani yaitu koperasi dan jaringan koperasi agribisnis. Visi pengembangan koperasi agribisnis ini adalah menjadikan koperasi agribisnis menjadi aktor utama, baik pada industri hulu maupun pada industri hilir pertanian (agroindustri). Percepatan industrialisasi pertanian dan diikuti dengan pengembangan koperasi agribisnis selama PJP-II diharapkan mampu mempersiapkan kita untuk memasuki industrialisasi tahap kedua dengan memberi prioritas pada industri yang mungkin tidak lagi harus berbasis pertanian. 141