BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu hutan mangrove yang berada di perairan pesisir Jawa Barat terletak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu :

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Plankton merupakan organisme renik yang hidup melayang-layang di air dan

2.2. Struktur Komunitas

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Kehidupan bergantung kepada air dalam berbagai bentuk. Air merupakan

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang dua per tiga luasnya ditutupi oleh laut

EKOSISTEM LAUT DANGKAL EKOSISTEM LAUT DANGKAL

Potensi Terumbu Karang Luwu Timur

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

6 STATUS PEMANFAATAN SUMBER DAYA IKAN DI WILAYAH PESISIR DAN LAUT CIREBON

5 PEMBAHASAN 5.1 Sebaran SPL Secara Temporal dan Spasial

BAB I PENDAHULUAN. di danau dan lautan, air sungai yang bermuara di lautan akan mengalami

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KOMPOSISI, ASPEK BIOLOGI DAN KEPADATAN STOK IKAN PARI DI LAUT ARAFURA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai. Secara ekologis sungai

Migrasi Ikan Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

IDENTIFIKASI JENIS PLANKTON DI PERAIRAN MUARA BADAK, KALIMANTAN TIMUR

PENDAHULUAN. terluas di dunia. Hutan mangrove umumnya terdapat di seluruh pantai Indonesia

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Umum Selat Bali Bagian Selatan

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. terletak pada lintang LS LS dan BT. Wilayah tersebut

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Distribusi Klorofil-a secara Temporal dan Spasial. Secara keseluruhan konsentrasi klorofil-a cenderung menurun dan

BAB I PENDAHULUAN. yaitu mendapatkan makanan, suhu yang tepat untuk hidup, atau mendapatkan

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

ANALISIS HASIL TANGKAPAN ARAD MODIFIKASI (MODIFIED SMALL BOTTOM TRAWL) DI PERAIRAN PPP TAWANG KENDAL JAWA TENGAH

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2012 TENTANG REHABILITASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL

BAB III BAHAN DAN METODE

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai. (Sosrodarsono et al., 1994 ; Dhahiyat, 2013).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam

BAB III BAHAN DAN METODE

6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

memiliki kemampuan untuk berpindah tempat secara cepat (motil), sehingga pelecypoda sangat mudah untuk ditangkap (Mason, 1993).

BAB I PENDAHULUAN. Jenis kerang yang banyak terdapat di wilayah Kabupaten Cilacap yaitu jenis

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

5 KEADAAN PERIKANAN TANGKAP KECAMATAN MUNDU KABUPATEN CIREBON

AGROBISNIS BUDI DAYA PERIKANAN KABUPATEN CILACAP

TINJAUAN PUSTAKA. tahapan dalam stadia hidupnya (larva, juwana, dewasa). Estuari merupakan

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 33 ayat (2)

I. Pengantar. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. Berikut ini letak batas dari Desa Ponelo: : Pulau Saronde, Mohinggito, dan Pulau Lampu

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. stabil terhadap morfologi (fenotip) organisme. Dan faktor luar (faktor yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah

Berikut obyek wisata yang bisa kita nikmati:

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PROPORSI DAN KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN JARING TIGA LAPIS (TRAMMEL NET) DI PELABUHAN RATU

BAB I PENDAHULUAN UMUM

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULU 1.1. Latar Belakang Masalah

KAJIAN MATA PENCAHARIAN ALTERNATIF MASYARAKAT NELAYAN KECAMATAN KAMPUNG LAUT KABUPATEN CILACAP TUGAS AKHIR

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SUMBER DAYA RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN TANGERANG

I. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

KANDUNGAN ZAT PADAT TERSUSPENSI (TOTAL SUSPENDED SOLID) DI PERAIRAN KABUPATEN BANGKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Potensi Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan 2.2 Komoditas Hasil Tangkapan Unggulan

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia perkiraan luas mangrove sangat beragam, dengan luas

BAB I PENDAHULUAN. muka bumi ini oleh karena itu di dalam Al-Qur an menyebutkan bukan hanya

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN UMUM 1.1. Latar belakang

2.2. Parameter Fisika dan Kimia Tempat Hidup Kualitas air terdiri dari keseluruhan faktor fisika, kimia, dan biologi yang mempengaruhi pemanfaatan

BAB I PENDAHULUAN. antara dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik mempunyai

BAB III BAHAN DAN METODE

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Modul 1 : Ruang Lingkup dan Perkembangan Ekologi Laut Modul 2 : Lautan sebagai Habitat Organisme Laut Modul 3 : Faktor Fisika dan Kimia Lautan

1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Lovejoy (1980). Pada awalnya istilah ini digunakan untuk menyebutkan jumlah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

b) Bentuk Muara Sungai Cimandiri Tahun 2009

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sedangkan secara geografis Indonesia terletak di antara benua Asia dan Benua

4 KERAGAAN PERIKANAN DAN STOK SUMBER DAYA IKAN

BAB I PENDAHULUAN. ekonomis, ekologis, maupun biologis. Fungsi fisiknya yaitu sistem perakaran

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Lokasi Penelitian Cirebon merupakan daerah yang terletak di tepi pantai utara Jawa Barat tepatnya diperbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Lokasi penelitian terletak di desa Gebang Mekar yang merupakan bagian dari Cirebon. Jarak Gebang Mekar dari kota Cirebon kurang lebih 20 kilometer dan dapat ditempuh selama setengah jam perjalanan dengan menggunakan angkutan umum. Sarana dan prasarana di Gebang Mekar cukup baik lengkap dengan tersedianya kapal penangkapan karena hampir 90% dari penduduknya berprofesi sebagai nelayan tradisional. Tempat pemberhentian kapal berada di pinggiran sungai Ciberes yang bermuara ke laut sehingga kapal yang ingin melaut akan melalui sungai tersebut. Pinggiran sungai Ciberes merupakan pangkalan pendaratan ikan (PPI) yang berfungsi sebagai tempat penimbangan ikan hasil tangkapan, mendata hasil tangkapan dan menjualnya langsung ke pengumpul. Lokasi penelitian mudah dijangkau karena merupakan desa nelayan, sehingga tidak memerlukan waktu yang lama untuk mencapai lokasi penelitian dari penginapan. Perairan di lokasi penelitian memiliki substrat berupa pasir berlumpur yang merupakan daerah yang cocok untuk alat tangkap seperti jaring arad disebabkan oleh tidak akan rusaknya lingkungan karena tidak terdapat terumbu karang sama sekali. 4.2 Komposisi Jenis dan Jumlah Hasil Tangkapan Jaring Arad Penelitian ini dilakukan sebanyak 20 kali setting dan 20 kali hauling pada masing-masing kedalaman dalam 10 trip dimulai dari tanggal 13 Maret 2013 sampai 28 Maret 2013 di Pesisir Utara, Kota Cirebon. Total hasil tangkapan yang teridentifikasi sebanyak 14 spesies yang terbagi dalam tiga kelompok organisme yaitu ikan sebanyak 8 spesies, lalu moluska sebanyak 3 spesies, dan krustasea sebanyak 3 spesies. Hasil tangkapan jaring arad cenderung bersifat demersal. 20

21 Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dari semua spesies yang tertangkap di daerah penelitian yang paling banyak tertangkap adalah ikan pepetek (Leiognathus sp.) dan rajungan kecil (Portunus pelagicus) (Tabel 1, Lampiran 11, dan Lampiran 12). Tabel 1. Jumlah Hasil Tangkapan pada Kedalaman yang Berbeda Jumlah (individu) No Spesies Kedalaman 5 9 m Kedalaman 10 14 Total 1 Pepetek 97.430 50.233 147.663 2 Rajungan 2.339 1.255 3.594 3 Sotong 48 58 106 4 Cumi-cumi 115 17 132 5 Gurita 9 5 14 6 Bawal putih 51 8 59 7 Udang ronggeng 16 0 16 8 Udang windu 4 7 11 9 Barakuda 7 3 10 10 Tenggiri 80 25 105 11 Pari 0 10 10 12 Kakap putih 3 2 5 13 Kembung 38 33 71 14 Kiper 55 12 69 Total Keseluruhan 100.195 51.668 151.863 Jumlah keseluruhan hasil tangkapan jaring arad yang tertangkap selama penelitian sebanyak 151.863 individu, yang terdiri dari pepetek sebanyak 147.663 individu (97%), rajungan sebanyak 3.594 individu (2%), dan lain-lainnya sebanyak 608 individu (1%) sehingga dari hasil tangkapan sebanyak 151.863 individu, pada kedalaman 5 9 m didapatkan ikan sebanyak 100.195 individu atau sebanyak 66% dari hasil tangkapan total selama 10 kali trip. Sedangkan pada kedalaman 10 14 m didapatkan ikan sebanyak 51.668 individu atau sebanyak 34% dari hasil tangkapan total selama 10 kali trip (20 kali setting dan 20 kali hauling). Hanya ada satu perbedaaan spesies yang tertangkap pada masing-masing kedalaman. Pada kedalaman 5 9 m tidak tertangkap ikan pari, sedangkan pada kedalaman 10 14 m tidak tertangkap udang ronggeng. Hal ini diduga karena ikan pari dan udang ronggeng tidak dapat bertoleransi pada perubahan tekanan

22 akibat perbedaan kedalaman. Effendi (2002) mengatakan bahwa distribusi ikan demersal sangat dibatasi oleh kedalaman perairan, karena tiap jenis ikan hanya mampu bertoleransi terhadap kedalaman tertentu sebagai akibat perbedaan tekanan air, karena semakin dalam suatu perairan akan semakin besar tekanan yang diterima. Dari data yang dikumpulkan rata-rata jumlah hasil tangkapan jaring arad selama penelitian pada kedalaman 5 9 m menunjukkan rata-rata hasil tangkapan yang lebih banyak dari pada kedalaman 10 14 m (Lampiran 13). Analisis t-student menunjukkan perbedaan yang nyata / signifikan antara kedalaman 5 9 m dan kedalaman 10 14 m. (Lampiran 14). Banyaknya ikan yang tertangkap pada kedalaman 5 9 m diduga karena pada kedalaman tersebut terdapat sumber makanan yang melimpah dan tingkat kesuburan fitoplankton yang tinggi. Hal ini diperjelas oleh Odum (1996) yang menyatakan bahwa perairan dangkal adalah daerah yang terpengaruh pasang surut, dimana air tawar bercampur air laut dan daerah yang subur oleh biota air. Budiman (2006) ikut menambahkan bahwa perairan yang subur dimanfaatkan oleh organisme mikroskopis untuk melakukan fotosintesa dimana saat perairan panas, penetrasi sinar matahari optimal dapat menjangkau dasar perairan dangkal (5 9 m) sehingga hal ini membuktikan bahwa kedalaman mempengaruhi banyak atau tidaknya hasil tangkapan akibat sumber makanan. Tingginya hasil tangkapan ikan pepetek pada kedalaman 5 9 meter dan 10 14 meter disebabkan oleh dominasi ikan pepetek pada perairan dasar pantai. Penelitian yang dilakukan oleh Ernawati (2007) di Semarang Tegal telah membuktikan bahwa ikan pepetek mendominasi jenis ikan di perairan dasar pantai. Ikan pepetek termasuk dalam golongan ikan demersal yang bersifat membentuk gerombolan besar, dan memiliki habitat di perairan pantai (Direktorat Jendral Perikanan Jakarta 1998). Garces et al. (2006) juga menerangkan hal yang serupa bahwa pepetek mendominasi di perairan dasar pantai. Hal ini diduga karena ikan pepetek telah berkembang biak dan menguasai daerah pantai Cirebon, seperti yang dijelaskan Wiyono (2010) bahwa ekosistem perairan pantai utara Cirebon pada kedalaman 0 30 m dan suhu tropis merupakan daerah yang cocok

23 untuk berkembangnya pepetek. Sjafei dan Saadah (2001) mengatakan bahwa tingginya dominansi pepetek juga disebabkan oleh faktor biologi ikan pepetek itu sendiri. Pepetek cenderung mengeluarkan telur sedikit demi sedikit dan mempunyai dua musim pemijahan dalam satu tahun, sehingga secara alami ikan pepetek mengalami tingkat pertumbuhan dan rekruitmen yang relatif tinggi. Ikan tenggiri yang tertangkap lebih banyak pada kedalaman 5 9 m dikarenakan lokasi makanannya berada pada perairan dangkal. Sudariastuty (2011) yang mengatakan bahwa ikan tenggiri tergolong dalam ikan laut yang menyukai daerah laut dangkal. Ia juga mengatakan bahwa ikan tenggiri memiliki sifat rakus ketika makan. Jenis makanannya adalah ikan-ikan kecil, cumi-cumi, dan udang karena ikan tenggiri tergolong dalam ikan karnivora, hal ini membuktikan bahwa makanan tenggiri yang berada di perairan dangkal menjadi salah satu penyebab banyaknya ikan tenggiri yang tertangkap. Perairan yang memiliki salinitas rendah dan kekeruhan tinggi disukai oleh ikan tenggiri yang berhubungan dengan substrat perairan Cirebon yang berupa pasir berlumpur dengan turbiditas (kekeruhan) yang tinggi. Banyaknya hasil tangkapan pada kedalaman 5 9 juga dikarenakan dominasi rajungan yang berukuran kecil. Hal ini diduga karena rajungan kecil secara alami hidup pada perairan yang lebih dangkal. Menurut Rounsefell (1975) bahwa pada saat burayak (juvenil), rajungan mendiami daerah muara sungai yang dangkal dengan salinitas yang rendah. Setelah melakukan perkawinan antara jantan dengan betina maka rajungan betina bergerak ke perairan lepas pantai yang lebih dalam dengan salinitas tinggi. Selain itu, moluska seperti cumi-cumi banyak tertangkap pada kedalaman 5 9 m dikarenakan cumi-cumi menyukai tempat yang lebih dangkal. Roper et al. (1984) menginformasikan bahwa cumi-cumi merupakan hewan neritik yang senang hidup bergerombol dan terkonsentrasi pada perairan dangkal. Cumi-cumi pada siang hari berada di dasar perairan, pada malam hari cumi-cumi bergerak ke permukaan air. Jaring arad bergerak menyapu lumpur (dasar perairan) pada siang hari sehingga cumi-cumi yang sedang berada di dasar perairan ikut tertangkap oleh jaring arad. Brodziak dan Hendrickson

24 (1999) juga menjelaskan bahwa kedalaman perairan berpengaruh terhadap keberadaan cumi-cumi. Cumi-cumi sangat berasosiasi dengan faktor lingkungan seperti salinitas, suhu, dan kedalaman perairan. 4.3 Bobot dan Ukuran Hasil Tangkapan Jaring Arad Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot hasil tangkapan jaring arad berhubungan langsung dengan jumlah hasil tangkapan jaring arad. Makin besar jumlah hasil tangkapan maka bobot hasil tangkapan juga berpengaruh sehingga dari semua spesies yang tertangkap di daerah penelitian yang paling besar jumlah bobot keseluruhannya adalah ikan pepetek (Leiognathus sp.) dan rajungan kecil (Portunus pelagicus) (Tabel 2, Lampiran 15, dan Lampiran 16). Tabel 2. Bobot Total Hasil Tangkapan Selama Penelitian Bobot (g) No Spesies Kedalaman 5 9 m Kedalaman 10 14 m Total (g) 1 Pepetek 618.300 327.670 945.970 2 Rajungan 41.982 24.733 66.715 3 Sotong 6.932 21.483 28.415 4 Cumi-cumi 6.404 1.653 8.057 5 Gurita 271 402 673 6 Bawal putih 5.837 5.424 11.261 7 Udang ronggeng 404 0 404 8 Udang windu 222 466 688 9 Barakuda 835 699 1.534 10 Tenggiri 6.117 7.747 13.864 11 Pari 0 4.500 4.500 12 Kakap putih 344 664 1.008 13 Kembung 4.003 3.497 7.500 14 Kiper 5.517 1.200 6.717 Total Keseluruhan 697.168 400.138 1.097.306 Bobot keseluruhan hasil tangkapan jaring arad yang tertangkap selama penelitian sebanyak 1.097.306 g atau hampir sebanyak 1,1 ton, yang terdiri dari pepetek sebanyak 944.000 g (86%), rajungan kecil sebanyak 63.900 g (6%), sotong sebanyak 28.415 g (2,5%), tenggiri sebanyak 13.864 g (1,2%), bawal putih sebanyak 11.261 g (1%) dan lain-lainnya sebanyak 35.866 g (3,3%) sehingga dari

25 hasil tangkapan sebanyak 1.097.306 g, pada kedalaman 5 9 m didapatkan ikan sebanyak 697.168 g atau sebanyak 64% dari hasil tangkapan total selama 10 kali trip. Sedangkan pada kedalaman 10 14 didapatkan ikan sebanyak 400.138 g atau sebanyak 36% dari hasil tangkapan total selama 10 kali trip (20 kali setting dan 20 kali hauling). Dari data yang dikumpulkan rata-rata bobot hasil tangkapan jaring arad selama penelitian pada kedalaman 5 9 m menunjukkan rata-rata hasil tangkapan yang lebih banyak dari pada kedalaman 10 14 m (Lampiran 17). Analisis t- student menunjukkan perbedaan yang nyata / signifikan antara kedalaman 5 9 m dan kedalaman 10 14 m. (Lampiran 18). Tingginya bobot hasil tangkapan pada kedalaman 5 9 m dikarenakan oleh dominansi ikan pepetek dan rajungan kecil yang tertangkap. Untuk satu individu ikan pepetek, beratnya sekitar 6 g sedangkan rajungan kecil satu individu beratnya sekitar 16 g. Hasil tangkapan ikan pepetek dan rajungan kecil yang melimpah mengakibatkan tingginya bobot keseluruhan hasil tangkapan. Tabel 3. Perbandingan Ukuran Hasil Tangkapan Jaring Arad Kedalaman 5 9 m Kedalaman 10 14 m Ukuran (mm) Ukuran (mm) No Jenis Standar Standar Rataratrata Rata- Min Maks deviasi Min Maks deviasi 1 Pepetek 50 60 55-50 100 75-2 Rajungan 50 75 62,5-50 146 100-3 Sotong 90 160 107 18,33 190 210 202,14 4,46 4 Cumi-cumi 95 150 102,2 18,39 160 170 165,7 4,5 5 Gurita 50 60 52,2 3,63 120 130 125 5 6 Bawal Putih 110 150 133 16,71 170 230 218,75 20,31 7 Udang Ronggeng 130 150 138,75 8,85 - - - - 8 Udang Windu 80 90 82,5 5 100 110 105,7 5,35 9 Barakuda 150 180 162,86 13,8 300 340 326,67 23,1 10 Tenggiri 120 160 137,31 14,9 180 230 207,8 15,88 11 Pari - - - - 230 250 239 9,94 12 Kakap Putih 150 160 153,33 5,77 220 220 220 0 13 Kembung 130 140 135,14 4,42 130 140 135,3 4,5 14 Kiper 100 130 121,27 10,55 125 130 128,33 2,46

26 Ukuran maksimal tiap spesies hasil tangkapan jaring arad pada umumnya memiliki perbedaan pada tiap kedalaman. Hampir semua ukuran spesies pada kedalaman 10 14 m cenderung lebih besar dibandingkan dengan kedalaman 5 9 m (Tabel 3). Hal ini diduga disebabkan oleh faktor biologis biota itu sendiri, dimana biota yang sudah dewasa akan mencari makan di tempat yang lebih dalam karena makanan pada daerah dangkal sudah tidak cukup lagi untuknya. Sesuai dengan pernyataan Nontji (1993) yang mengatakan bahwa ikan atau udang-udang pada masa muda dan remaja bergerak ke arah pantai atau perairan dangkal mencari makan untuk berkembang atau tumbuh dan berlindung dari hewan pemangsa, setelah dewasa udang atau ikan bergerak ke perairan yang lebih dalam. Ditambah lagi dengan pernyataannya, bahwa rajungan akan melakukan migrasi ke perairan yang lebih dalam setelah umur rajungan cukup untuk menyesuaikan diri pada kondisi suhu dan salinitas perairan. Selain itu diduga karena rajungan yang berukuran besar (dewasa) akan bergerak ke arah perairan yang lebih dalam untuk melakukan perkawinan. Hal ini dijelaskan oleh Effendy dkk (2006), bahwa rajungan hidup di daerah estuaria kemudian bermigrasi ke perairan yang mempunyai salinitas yang lebih tinggi. Saat telah dewasa, rajungan yang siap memasuki masa perkawinan akan bermigrasi ke daerah pantai. Setelah melakukan perkawinan, rajungan akan kembali ke laut untuk menetaskan telurnya. Ikan yang berukuran lebih besar, namun jumlah yang tertangkap lebih sedikit pada kedalaman 10 14 m disebabkan oleh sifat biologi ikan demersal itu sendiri. Ikan demersal yang berukuran lebih besar cenderung menyebar ke kolom perairan yang lebih dalam (10 14 m) karena didorong oleh naluri memperoleh kesesuaian suhu yang salah satunya menentukan kebiasaan makan dari ikan (Anggoro 1984, dalam Suhariyono 2004). Ikan yang berukuran lebih besar akan menyesuaikan diri terhadap tekanan, maka dari itu distribusi atau sebaran ikan demersal sangat dibatasi oleh kedalaman perairan, karena tiap jenis ikan hanya mampu bertoleransi terhadap kedalaman tertentu sebagai akibat perbedaan tekanan air, karena semakin dalam suatu perairan akan semakin besar tekanan yang diterima (Effendi 2002). Pada akhirnya, fenomena pertambahan ukuran

27 seiring dengan meningkatnya kedalaman memang benar-benar kompleks dan mungkin saja berhubungan dengan siklus reproduksi dan migrasi musiman (Gordon 1979).