I. PENDAHULUAN Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
HIV/AIDS. Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH

Berusaha Tenang Mampu mengendalikan emosi, jangan memojokan si-anak atau merasa tak berguna.

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang mengakibatkan

WALIKOTA DENPASAR PERATURAN WALIKOTA DENPASAR NOMOR 21 TAHUN 2011 T E N T A N G PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS DI KOTA DENPASAR WALIKOTA DENPASAR,

Virus tersebut bernama HIV (Human Immunodeficiency Virus).

BAB 1 PENDAHULUAN. seksual. Kondisi yang paling sering ditemukan adalah infeksi gonorrhea,

BAB 1 PENDAHULUAN. sistem kekebalan tubuh yang terjadi karena seseorang terinfeksi

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, PERILAKU, DAN LINGKUNGAN SISWI SMU SANTA ANGELA TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI

3740 kasus AIDS. Dari jumlah kasus ini proporsi terbesar yaitu 40% kasus dialami oleh golongan usia muda yaitu tahun (Depkes RI 2006).

LEMBAR PERSETUJUAN PENGISIAN KUESIONER. kesukarelaan dan bersedia mengisi kuesioner ini dengan sebaik-baiknya.

2013 GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG HIV/AIDS DI KELAS XI SMA YADIKA CICALENGKA

TINJAUAN PUSTAKA BAB II 2.1. HIV/AIDS Pengertian HIV/AIDS. Menurut Departemen Kesehatan (2014), HIV atau

BAB I PENDAHULUAN. sistem imun dan menghancurkannya (Kurniawati, 2007). Acquired

BAB 1 PENDAHULUAN. Immunodeficiency Virus (HIV) semakin mengkhawatirkan secara kuantitatif dan

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Angka morbiditas dan angka mortalitas yang disebabkan oleh infeksi Human

BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrome,

Peran Psikologi dalam layanan HIV-AIDS. Astrid Wiratna

BAB I PENDAHULUAN. Sebaliknya dengan yang negatif remaja dengan mudah terbawa ke hal yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus yang menginfeksi

HIV/AIDS (Human Immunodeficiency/Acquired Immune Deficiency. Syndrome) merupakan isu sensitive dibidang kesehatan. HIV juga menjadi isu

BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) berarti kumpulan gejala dan

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh manusia. 1 HIV yang tidak. terkendali akan menyebabkan AIDS atau Acquired Immune Deficiency

A. Landasan Teori. 1. Pengetahuan. a. Definisi BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu

BAB I PENDAHULUAN. Immuno Deficiency Syndrom) merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia

BAB 1 PENDAHULUAN. menjalankan kebijakan dan program pembangunan kesehatan perlu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

WALIKOTA GORONTALO PERATURAN DAERAH KOTA GORONTALO NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Terdapat hampir di semua negara di dunia tanpa kecuali Indonesia. Sejak

BAB I PENDAHULUAN. dibandingkan dengan remaja di perkotaan. Dimana wanita dengan pendidikan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Pandemi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), saat ini merupakan

BAB 1 PENDAHULUAN. sosial yang utuh bukan hanya bebas penyakit atau kelemahan dalam segala aspek

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGASEM NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARANGASEM,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN SIKAP BAGI WANITA PENGHUNI PANTI KARYA WANITA WANITA UTAMA SURAKARTA TENTANG PENCEGAHAN HIV/AIDS

BAB 1 PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV), merupakan suatu virus yang

BAB I PENDAHULUAN UKDW. tubuh manusia dan akan menyerang sel-sel yang bekerja sebagai sistem kekebalan

BAB I PENDAHULUAN. AIDS (Aquired Immuno Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan

2015 INTERAKSI SOSIAL ORANG D ENGAN HIV/AID S (OD HA) D ALAM PEMUD ARAN STIGMA

BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang

Faktor-faktor resiko yang Mempengaruhi Penyakit Menular Seksual

2016 GAMBARAN MOTIVASI HIDUP PADA ORANG DENGAN HIV/AIDS DI RUMAH CEMARA GEGER KALONG BANDUNG

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, PERILAKU MENGENAI HIV / AIDS PADA SISWA SISWI KELAS DUA DAN TIGA SALAH SATU SMA SWASTA DI KOTA BANDUNG TAHUN 2006

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Menurut (Nugroho. T, 2010: 94) Aquired Immune Deficiency Syndrome

BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrome atau yang lebih dikenal dengan

TINGKAT PENGETAHUAN SISWA SMA TENTANG HIV/AIDS DAN PENCEGAHANNYA

BAB 1 PENDAHULUAN. Data kasus HIV/AIDS mengalami peningkatan dari tahun Menurut

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG PENANGGULANGAN HIV/AIDS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,

LAPORAN PENGABDIAN MASYARAKAT

b/c f/c Info Seputar AIDS HIV IMS Informasi di dalam buku saku ini dipersembahkan oleh: T A T

SKRIPSI. Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat. Disusun Oleh :

BAB I PENDAHULUAN. Human Immunodefficiency Virus (HIV) merupakan virus penyebab

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

I. Identitas Informan No. Responden : Umur : tahun

BAB I PENDAHULUAN. HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus ialah virus yang

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN SUMBER INFORMASI DENGAN UPAYA PENCEGAHAN HIV/AIDS PADA REMAJA KOMUNITAS ANAK JALANAN DI BANJARMASIN TAHUN 2016

BAB 1 PENDAHULUAN. bisa sembuh, menimbulkan kecacatan dan juga bisa mengakibatkan kematian.

Oleh: Logan Cochrane

KUESIONER KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA PONDOK PESANTREN GEDONGAN KABUPATEN CIREBON

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Orang dengan HIV membutuhkan pengobatan dengan Antiretroviral atau

2015 KAJIAN TENTANG SIKAP EMPATI WARGA PEDULI AIDS DALAM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN HIV/AIDS SEBAGAI WARGA NEGARA YANG BAIK

BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG

PENJABAT BUPATI SEMARANG AMANAT PENJABAT BUPATI SEMARANG SELAKU KETUA KPA KABUPATEN SEMARANG DALAM RANGKA PERINGATAN HARI AIDS SEDUNIA TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN. Tri Lestari Octavianti,2013 GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG SEKS BEBAS DI SMA NEGERI 1 KADIPATEN KABUPATEN MAJALENGKA

KUESIONER PENELITIAN

PENJABAT BUPATI SEMARANG AMANAT PENJABAT BUPATI SEMARANG SELAKU KETUA KPA KABUPATEN SEMARANG DALAM RANGKA PERINGATAN HARI AIDS SEDUNIA TAHUN 2015

2015 GAMBARAN PENGETAHUAN SISWA SISWI KELAS XI TENTANG PENYAKIT MENULAR SEKSUAL DI SMA NEGERI 24 BANDUNG

BAB 1 PENDAHULUAN. Jumlah keseluruhan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau orang

BAB I PENDAHULUAN. yang dahulu kala lebih menitik beratkan kepada upaya kuratif, sekarang sudah

BAB I PENDAHULUAN. narkoba ataupun seks bebas di kalangan remaja. Pergaulan bebas ini akan

INFORMASI TENTANG HIV/ AIDS. Divisi Tropik Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK USU

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS

Menggunakan alat-alat tradisional yang tidak steril seperti alat tumpul. Makan nanas dan minum sprite secara berlebihan

PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN HIV / AIDS DAN IMS DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU

BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BULUKUMBA TAHUN 2008

PENANGGULANGAN HIV / AIDS

BAB I PENDAHULUAN. kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus HIV (Human. Immunodeficiency Virus) (WHO, 2007) yang ditemukan dalam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2008

Jurnal Keperawatan, Volume X, No. 2, Oktober 2014 ISSN KONSEP DIRI PADA WANITA PEKERJA SEKSUAL YANG MENGALAMI PENYAKIT MENULAR SEKSUAL

LAMPIRAN-LAMPIRAN. Perilaku seksual..., Yusi Mutia A., FKMUI, 2008

BAB I PENDAHULUAN. macam pekerjaan rumah tangga. Sedangkan HIV (Human Immuno Virus)

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Transkripsi:

I. PENDAHULUAN Latar Belakang Menyadarkan para wanita tuna susila tentang bahaya HIV/AIDS itu perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan masyarakat. Hal ini penting karena para wanita tuna susila itu dapat berperan sebagai penular yang sangat potensial untuk menyebarkan kuman penyakit tersebut kepada orang-orang yang belum terinfeksi. Wanita tuna susila yang sadar akan bahaya HIV/AIDS hendaknya melakukan beberapa tindakan untuk mencegah penularan penyakit tersebut. Pertama, menjaga dirinya agar tidak tertular kuman HIV/AIDS. Tindakan seperti ini dapat dilakukan antara lain dengan hanya melayani pelanggan yang menggunakan kondom pada saat mengadakan hubungan seksual. Melayani pelanggan yang menggunakan kondom selama hubungan seksual, akan meminimalkan kemungkinan wanita tuna susila tertular HIV/AIDS. Penggunaan kondom juga dilakukan agar pelanggan yang belum terinfeksi kuman-kuman HIV tidak tertular oleh kuman-kuman tersebut dan kuman penyakit menular seksual lainnya yang mungkin telah ada pada diri wanita tuna susila itu. Kedua, tindakan preventif lain yang perlu dilakukan wanita tuna susila, baik yang merasa atau diduga telah terinfeksi virus ini adalah memeriksakan dirinya kepada dokter atau petugas kesehatan secara berkala dengan melakukan tes darah, urine atau sel pipi untuk mengecek adanya antibodi HIV/AIDS dan menentukan gejala, apakah dirinya telah tertular kuman tersebut atau tidak. Jika ternyata hasil tes tersebut menunjukan HIV positif, artinya telah terinfeksi. Upaya tindak lanjut yang penting dilakukan oleh wanita tuna susila yang sudah terinfeksi virus, adalah memberitahukannya kepada orang lain terutama orang-orang yang dekat dengannya. Upaya ini dilakukan guna mencegah penularan HIV/AIDS lebih luas. Demikian pula seandainya mereka telah terjangkit penyakit kelamin lain seperti genital warts atau chlamidia, seharusnya untuk sementara tidak melakukan hubungan seksual dengan siapapun, sampai penyakitnya dinyatakan sembuh oleh dokter atau petugas kesehatan. Hal ini perlu dilakukan karena penyakit kelamin lain yang diderita oleh wanita tuna susila itu

2 akan memperbesar kemungkinan tertular kuman-kuman HIV/AIDS jika melakukan hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS. Kesadaran ini sangat penting dimiliki oleh para wanita tuna susila, baik yang sudah terinfeksi HIV maupun belum. Mereka perlu berkonsultasi secara berkala dengan petugas kesehatan, melaporkan gejala-gejala penyakit tersebut dan mendapatkan nasihat (conselling) dari dokter atau petugas kesehatan itu. Dengan demikian mereka dapat menjaga kesehatan dirinya, dan mencegah penularan HIV/AIDS lebih lanjut. Tindakan paling baik dilakukan oleh wanita tuna susila yang tahu tentang kesehatan alat reproduksi (kespro), penyakit menular seksual (PMS), dan bahaya penyakit HIV/AIDS adalah berhenti melakukan praktek hubungan seksual diluar pernikahan (ekstramarital) dan meninggalkan pekerjaan sebagai wanita tuna susila. Namun maukah mereka melakukan hal tersebut, dan mampukah mereka melakukannya dengan mengisolasi diri terhadap penularan HIV/AIDS? Maukah para wanita Tuna Susila itu melaksanakan tanggung jawab sosial pada tindakan mereka yang berdampak buruk pada masyarakat luas? Pertanyaan-pertanyaan dan pertimbangan-pertimbangan semacam inilah yang memiliki dampak yang luas pada kesehatan masyarakat, yang mendorong dilakukannya penelitian ini. 1.2. Masalah Penelitian Terdapat beberapa faktor kerawanan dalam penularan HIV/AIDS di kalangan wanita tuna susila, antara lain pengetahuan dan sikap mereka tentang HIV/AIDS dan bahayanya pada kesehatan manusia. Perlu adanya upaya untuk mengubah perilaku mereka dari perilaku yang buruk menuju kepada perilaku yang semestinya dilakukan wanita. Hubungan karakteristik individu yang dimiliki akan berkaitan dengan pengetahuan para wanita tuna susila dalam upaya melakukan pencegahan terhadap HIV/AIDS. Dengan demikian peranan pendidikan dan latihan sangat menentukan dalam menghentikan penyebaran HIV/AIDS di kalangan wanita tuna susila,

3 sebelum jumlah wabah penyakit ini semakin membesar yang pada akhirnya semakin sulit ditangani. Oleh karena itulah penelitian diarahkan untuk membuktikan secara empirik tentang hubungan karakteristik wanita tuna susila di panti rehabilitasi sosial wanita di Jawa Barat dengan pengetahuan mereka tentang HIV/AIDS Adapun masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : 1. Apa karakteristik individu para wanita tuna susila yang sedang direhabilitasi di Panti Rehabilitasi Sosial Wanita Jawa Barat? 2. Seberapa jauh para wanita tuna susila itu mengetahui HIV/AIDS dan bahayanya pada kesehatan manusia? 3. Seberapa jauh tingkat keeratan hubungan antara karakteristik para wanita tuna susila itu dengan pengetahuan mereka tentang HIV/AIDS dan bahayanya pada kesehatan manusia? 1.3. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui karakteristik wanita tuna susila di panti rehabilitasi sosial Bina Sosial Wanita (BSW) Jawa Barat dengan pengetahuan mereka tentang HIV/AIDS, maka dirumuskan tujuan dalam penelitian ini sebagai berikut : 1. Untuk mengidentifikasi karakteristik individu para wanita tuna susila yang sedang direhabilitasi di Panti Rehabilitasi Sosial Wanita Jawa Barat. 2. Untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan para wanita tuna susila itu tentang HIV/AIDS dan bahayanya pada kesehatan manusia. 3. Untuk menghitung tingkat keeratan hubungan antara karakteristik para wanita tuna susila itu dengan pengetahuan mereka tentang HIV/AIDS dan bahayanya pada kesehatan manusia. 1.4. Kegunaan Penelitian Hasil temuan yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan akan mempunyai manfaat dan dapat memberikan kegunaan sebagai berikut :

4 (1) Bahan masukan untuk penelitian selanjutnya di bidang yang sama atau yang ada kaitannya. (2) Memberikan kontribusi informasi bagi ilmuwan penyuluhan mengenai hubungan karakteristik wanita tuna susila dengan pengetahuan mereka tentang HIV/AIDS. (3) Sebagai bahan masukan bagi para pengelola diklat dan penyuluh dalam memberikan penyuluhan kepada para pesertanya, khususnya yang terkait dengan program penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS, serta untuk dapat melihat beberapa karakteristik yang berhubungan dengan pelaksanaan pemberian informasi dan kompetensi kognitif kepada para peserta diklat tentang HIV/AIDS melalui pendidikan dan latihan tersebut. 1.5. Definisi Istilah Untuk memberikan batasan yang jelas dan memudahkan pengukuran, terlebih dulu dibuat definisi istilah yang akan dipergunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini. Definisi dan istilah yang dipergunakan tersebut, adalah sebagai berikut : I. Responden, adalah wanita tuna susila yang terpilih untuk dijadikan sebagai sampel dalam penelitian ini. II. Wanita Tuna Susila, adalah wanita yang tercatat sebagai kelayan pada pendidikan dan latihan di Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Kecamatan Nagrak Kabupaten Sukabumi dan Balai Pemulihan Sosial Wanita Tuna Susila (BPSWTS) Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon Jawa Barat. III. Karakteristik Wanita Tuna Susila, adalah ciri-ciri yang melekat pada diri wanita tuna susila yang diduga berhubungan dengan pengetahuan tentang Human Immunodeficiency Virus dan Aquaired Immunodeficiency Virus (HIV/AIDS) yaitu: Umur, status perkawinan, pendidikan formal, tingkat pendapatan, motivasi menjadi WTS, persepsi untuk hidup yang ideal, lamanya menjadi WTS, mendapat perlakuan kekerasan, keadaan ekonomi keluarga, kepatuhan terhadap norma susila, pengaruh lingkungan sosial daerah asal, jarak tempat menjadi WTS, intensitas hubungan dengan WTS lain, yang

5 melatih/mengajari seks, intensitas hubungan dengan pelanggan, dan persepsi hedonisme. (1) Umur, yaitu usia wanita tuna susila yang dihitung sejak lahir sampai saat menjadi responden dalam penelitian, diukur dalam tahun. Muda, sedang, dan tua. (2) Status perkawinan, adalah status marital yang disandang oleh responden yaitu: belum menikah, menikah, dan pernah menikah (janda cerai atau janda ditinggal mati). (3) Pendidikan Formal, yaitu lamanya responden duduk di bangku sekolah formal yang telah diselesaikan sebelum menjadi responden, pendidikan formal itu berupa: (1) SD, (2) SMP, (3) SMA, dan (4) Perguruan Tinggi. (4) Tingkat Pendapatan, Adalah ukuran besarnya pendapatan yang diperoleh responden dari usaha yang dilakukan, dan anggota keluarga lainnya dari berbagai sumber penghasilan dalam waktu satu bulan, yang dihitung dengan rupiah. (5) Motivasi instrinsik, yaitu dorongan yang berasal dari dalam diri responden sehingga menjadi wanita tuna susila. (6) Motivasi ekstrinsik, yaitu dorongan yang berasal dari luar diri responden sehingga menjadi wanita tuna susila. (7) Persepsi untuk hidup yang ideal, yaitu persepsi hidup ideal wanita umumnya, bahwa wanita harus bisa mengatur lima hal 1) mengatur suami, 2) mengatur anak, 3) mengatur rumah, memasak, membersihkan rumah, 4) mengatur kekayaan atau ekonomi rumah tangga, 5) mengatur hubungan dengan tetangga. (8) Lamanya menjadi WTS, yaitu lamanya hari, bulan dan tahun responden menyandang atau terjun sebagai Wanita Tuna Susila sampai penelitian ini dilakukan. (9) Mendapatkan perlakuan kekerasan, responden mendapatkan perlakuan kekerasan, berupa kekerasan seksual maupun kekerasan lainnya, yang berasal dari pelanggan. (10) Keadaan Ekonomi Keluarga, yaitu keadaan ekonomi keluarga responden dalam hal sandang, pangan, papan dan faktor pendidikan

6 (11) Kepatuhan Terhadap Norma, yaitu kesungguhan responden untuk menjalankan atau mematuhi kebiasaan-kebiasaan (norma-norma) yang telah diakui dan dijalankan dalam kehidupan di masyarakat. (12) Pengaruh Lingkungan Sosial Daerah Asal, yaitu pengaruh lingkungan sosial asal tempat lahir, dibesarkan dan bergaul, yang mempengaruhi perilaku sehingga menjadi WTS. (13) Jarak tempat menjadi WTS, yaitu jauhnya jarak tempuh dari tempat tinggal ke lokasi responden menjadi WTS. (14) Intensitas Hubungan dengan WTS lain, frekuensi responden berhubungan dengan WTS yang lain dalam kurun waktu satu minggu. (15) Yang melatih / mengajari tentang seks, yaitu informasi dan pengetahuan tentang seks yang dimiliki responden dari orang yang mengajari/melatih tentang seks tersebut. (16) Intensitas hubungan dengan Pelanggan, yaitu frekuensi hubungan responden dengan pria pelanggan (tamu) dalam kurun waktu satu minggu. (17) Persepsi hedonisme, yaitu tanggapan responden bahwa melakukan seks hanya untuk pemuasan kesenangan, atau melakukan hubungan seks hanya untuk mendapatkan kepuasan seksual. IV Pengetahuan Wanita Tuna Susila Tentang HIV/AIDS, yaitu tingkat kemampuan kognitif responden tentang penyakit HIV/AIDS yang terdiri atas pengertian, penyebab AIDS dan infeksi sekunder sebagai akibat AIDS, cara penularan, cara pencegahan, pengetahuan kesehatan reproduksi seksual yang sehat (kespro), bahaya HIV/AIDS bagi kesehatan manusia, akibat HIV/AIDS, hubungan sosial dengan penderita AIDS, dampak sosial ekonomi AIDS, dan hubungan narkoba dengan HIV/AIDS, dengan uraian sebagai berikut: (1) Pengertian HIV/AIDS, Human Immunodeficiency Virus (HIV) yaitu virus penyebab sindroma AIDS, Acquired Immuno Deficiency Syndrome (sekumpulan gejala penyakit, yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh) (2) Penyebab AIDS dan Infeksi Sekunder sebagai Akibat AIDS, Human Immunodeficiency Virus (HIV) yaitu virus penyebab terjangkitnya HIV, yang menghancurkan sistem kekebalan tubuh penderita dan dapat

7 menyebabkan penyakit AIDS. AIDS merupakan suatu kumpulan gejala berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus yang mempengaruhi sistem kekebalan. Sistem kekebalan menjadi tidak mampu memerangi infeksi. (3) Cara penularan, HIV bisa menular lewat 3 cara, (1) melalui hubungan seksual dengan seseorang yang sudah terinfeksi HIV tanpa memakai kondom, (2) melalui transfusi darah, transplantasi organ tubuh, pemakaian alat-alat yang telah tercemar HIV, (3) melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada janin yang dikandungnya atau kepada bayi yang disusuinya. (4) Cara Pencegahan, Tindakan yang harus dilakukan untuk mencegah penularan HIV adalah : (1) tidak melakukan hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS atau orang yang termasuk kelompok perilaku resiko tinggi, (2) tidak melakukan hubungan seks dengan banyak pasangan, (3) menggunakan kondom dari awal sampai selesai, apabila melakukan hubungan seksual dengan pasangan baru atau anggota kelompok beresiko tinggi, (4) mengobati penyakit kelamin secara tuntas. (5) Pengetahuan Kesehatan Reproduksi (Kespro), yaitu pengetahuan kesehatan seksual, organ reproduksi dan fungsinya, penyakit menular seksual (PMS), perilaku seksual yang menyebabkan kehamilan, aborsi, dan penyakit kelamin. (6) Bahaya HIV/AIDS bagi Kesehatan manusia, adalah bahaya yang mengancam pada kesehatan jasmani penderita HIV/AIDS dan menimbulkan masalah-masalah psikologis (kecemasan, depresi, rasa bersalah, dan timbulnya dorongan untuk bunuh diri) sehingga dapat menyebabkan kematian. (7) Akibat HIV/AIDS, Akibat sekunder dari penderita HIV/AIDS adalah dikucilkan oleh rekan-rekan/masyarakat, diskriminasi, dirumah diusir dan dikantor diberhentikan dari pekerjaan (8) Hubungan Sosial dengan Penderita AIDS yaitu Kontak sosial dengan penderita HIV/AIDS, misalnya berbagi (memakai) baju, handuk dan toilet, penggunaan peralatan yang sama (misalnya telepon), makan dari perkakas yang sama, kolam renang bersama-sama pengidap HIV dalam satu tempat,

8 merawat orang yang terinfeksi HIV, mencuci kloset, sprei dan lainnya yang digunakan pengidap HIV. (9) Dampak Sosial Ekonomi AIDS yaitu, Dampak Sosial Ekonomi HIV/AIDS adalah kemiskinan. Karena mahalnya biaya perawatan, berkurangnya usia produktif, kehilangan sumber daya manusia yang pada akhirnya dapat menjadi faktor penyebab kemiskinan (10) Hubungan Narkoba dengan AIDS, yaitu Bahaya penggunaan narkoba dalam menyebarkan penyakit HIV/AIDS, bila narkobais tidak peduli terhadap penggunaan jarum suntik yang berisiko menyebarluaskan virus HIV/AIDS.